Chapter 2: OdaAngo


Bar Lupin di pukul sebelas malam adalah rutinitas untuk menghindarkan jenuh. Sepi yang semula mengakrabkan diri perlahan menjauh, sewaktu tiga pemuda itu duduk bercengkerama dan menikmati alkohol di gelas masing-masing. Rupa-rupa hal mereka katakan dengan tawa yang sesekali mengalun pelan. Tembok, lampu, meja, kursi, semua begitu tenang seakan menyimak keseruan yang tiada habis tersebut.

"Jadi, aku memasukkan serangga ke topinya dan Chuuya langsung panik. Ekspresinya tidak pernah membuatku bosan." Kedua lawan bicaranya tentu mengetahui subjek yang dimaksud. Siapa lagi kalau bukan Nakahara Chuuya–pemenang hati Dazai tiga hari belakangan.

"Pasti berat bagi Nakahara-san. Jangan terlalu menyusahkannya, Dazai," celetuk si mata empat memperbaiki posisi kacamata. Semakin Dazai membeberkan keisengannya, rasa kasihannya justru menjadi-jadi.

"Chuuya sebenarnya senang, kok. Ango tenang saja."

Ingat soal pemuda yang pulang usai meneguk jus tomat? Dialah Sakaguchi Ango, sahabat Dazai Osamu dan Oda Sakunosuke berkat kegigihan tak terduga–atau mungkin, begitulah niat semesta untuk menghubungkan mereka karena persamaan ... takdir?

"Jika Nakahara-san senang tidak mungkin lukamu bertambah." Barusan Dazai cerita, jika Chuuya menghajarnya setelah menukar kaleng bir dengan susu. Awal paragraf semua wajar bahkan tawar. Namun, mendekati akhir ketika Dazai menceletuk 'biar kamu tidak cebol lagi', mereka maklum jika sahabatnya kena gebuk.

"Sebenarnya Chuuya itu tsundere akut asal Ango tahu. Dan aku mendadak penasaran soal kisah cintamu~"

"Kenapa jadi ke situ? Aku sibuk bekerja dan tidak sempat memikirkannya."

"Heee ...~ Apa saat jadi mata-mata, Ango tidak menemukan wanita cantik? Mungkin kamu jatuh cinta pada pandangan pertama dan mata kalian tidak sengaja bertemu. Setelahnya kalian sering mengobrol di kafe, lalu ...", "Cukup sampai di situ. Aku jadi penasaran juga novel apa yang kamu baca," potong Ango terheran-heran. Sejak kapan eksekutif muda ini bak penulis handal usai pulang dari toko buku tadi sore?

"Aku tidak baca yang aneh-aneh, kok, iya, kan, Odasaku?" Hening. Mereka bertukar pandang sebelum Dazai memanggilnya lagi.

"Odasaku? Halooo ...~"

"A-ah. Maaf, aku sedang memikirkan sesuatu."

"Jangan terlalu memikirkannya. Dia juga menyayangimu, kok."

"Uhm. Kamu benar. Jadi kalian membicarakan apa tadi?"

"Tanyakan saja ke Ango. Aku kebelet soalnya. Kalian yang akrab, oke? Jangan kangen~"

Masih dengan tatapan heran yang meresahkan, Ango segera pindah di samping Oda. Mata-mata Port Mafia itu mencurigai interaksi mereka yang sedikit aneh–Dazai boleh jadi menutupinya dengan sempurna–atau begitulah sewajarnya remaja mabuk asmara, banyak bicara. Respons Oda selalu terlambat. Diamnya pun ganjil dan berhenti menenangkan pikir.

Ango hanya ingin Oda tahu, ia bisa khawatir.

"Wajahmu murung. Ada apa?"

"Hanya masalah kecil, kok," balasnya enteng menggidikkan bahu. Oda seakan bukan Oda karena galau oleh cinta–dia bukan remaja seumuran Dazai yang cocok untuk kasmaran.

"Kau bohong. Aku tahu itu."

"Ternyata memang mustahil, ya, mengelak dari negosiator profesional." Gerak tubuh, nada suara, gambar ekspresi, tidak sedikit pun ia melewatkan satu detail sejak pertemuan mereka. Dazai mungkin lebih tahu, karena Ango menduga eksekutif muda itu adalah pusat masalah.

"Ceritakan saja. Aku siap mendengarkan."

"Biar impas, bagaimana kalau kamu menceritakan kisah cintamu lebih dulu?" Rasa heran menghantam kepalanya sampai Ango merinding. Kenapa mendadak Oda ikut penasaran seperti Dazai?

"Ekhem! Sebenarnya aku sedang jatuh cinta dengan seseorang."

"Wanita seperti apa dia? Kurasa kamu suka yang anggun."

"Se-sebenarnya dia cowok. Kami sudah dekat cukup lama." Diam-diam melalui lensa, Ango mencuri pandang dari netra kebiruan yang mengerjap itu. Kagetnya memang tergambarkan begitu kentara. Namun, tidak dengan pemikiran Oda yang mengundang tanya.

"Menurutmu aneh?"

"Hanya terkejut. Jadi bagaimana hubungan kalian sekarang?"

"Bisa dikatakan baik. Meski dia sedang murung dan aku tidak tahu penyebabnya." Satu tegukan sebelum melanjutkan pembicaraan. Ango terus mencari tahu cara Oda bereaksi.

"Seharusnya kamu hibur daripada menemani kami di sini. Dazai bahkan belum balik dari toilet. Aku akan ..." GREP! Oda melampar tatapan heran sementara Ango menggeleng. Pegangan tersebut dilepas ketika yang bersangkutan kembali mendudukkan diri.

"Boleh aku tahu siapa orang itu? Nanti kuberitahu alasanku."

Mereka mempertemukan mata tanpa melanjutkan kata. Ango terlanjur betah dalam sunyi yang dirasainya begitu merdu–entah nyaman oleh waktu yang menitipkan dunia kepada mereka atau disebabkan mata yang enak dipandang itu–bahkan jika bisa, jam dinding berlalu saja dan membeku di kutub, ia ingin berlama-lama tanpa merasai waktu yang mencair dan membakar perasaannya.

"Dia duduk di sampingku sekarang." Bukan mengalah atau lelah, sekali ditenggelamkan maka arusnya akan membuatnya melupai realita dan Ango tidak ingin runtuh oleh kebodohan cinta.

"Dan orang yang kusuka sedang di toilet entah melakukan apa. Meski dia menolakku kemarin."

Itulah alasannya mengutuk jam dinding–agar kebenarannya belum terungkap secepat ini. Meskipun demikian, maka tidaklah berarti ia harus menyerah. Ketika sadar dan paham, kenapa Ango mesti meratapi kekalahan tersebut? Ango bukanlah si pecundang yang kabur begitu saja. Selama upayanya diizinkan berjuang demi keyakinan, merasa malu tidaklah memberi alasan apa pun.

"Jika dia menolakmu, selalu ada aku di sisimu." Oda boleh menengok barang sejenak. Mungkin, dalam waktu se-singkat itu ada keajaiban yang menyadarkannya bahwa Ango memang di sini.

"Menurutmu harapan terbuat dari apa?"

"Keyakinan dari kerja keras." Jawaban yang tangkas dan mantap itu mengembangkan seulas senyum di bibir Oda–memang seperti Ango yang dikenalnya berkompeten.

"Harapanku terbuat dari kaca meski awalnya aku berniat menggantinya dengan besi. Namun jika demikian, hatiku tidak akan tahu cara menjaga maupun memahami keindahannya."

"Jadi, kuputuskan untuk tidak menggantinya dengan besi. Meski harapanku kini hancur berkeping-keping, setidaknya kalau dari kaca masih bisa kususun kembali."

"Tetapi jika pecah lagi, harapanmu tidak akan bisa disusun kembali." Kaca begitu rapuh walau pesonanya menghipnotis. Ango gagal memahami kemana filosofi harapan ini akan berakhir.

"Namun, aku bisa terus memahami keindahannya dan tahu, jika aku pernah berjuang keras untuk membangunnya kembali." Tidakkah Oda sadar dirinya tertikam karena mengetahui semua itu sia-sia? Apa yang hendak diharapkan dari keinginan yang nantinya jatuh dan membaui kesedihan?

Pertanyaan-pertanyaan itu membuat Ango balik memikirkan harapannya sendiri. Apa terbalaskan dan memiliki memang yang terbaik di tengah permasalahan ini?

"Aku lebih ingin Dazai bahagia dengan pilihannya meski harus mengorbankan harapanku." Toh, asa tersebut diciptakan setitik egonya yang entah mengapa begitu keras kepala. Sudah tahu akan rusak lagi, tetapi belum jera untuk berjuang.

Mencintai dan mengesampingkan ego untuk memiliki adalah jawaban yang Oda berikan–prinsip orang dewasanya tidak membiarkan dia buta hati lebih-lebih hilang arah.

"Kapan kau bisa menyayangiku sampai sebegitunya, hn?"

Ango iri pada Dazai. Namun, prinsip orang dewasanya berkata untuk melepaskan dan mendukung apa pun yang memungkinkan kebahagiaan tiba–semua demi seseorang yang ia hadiahkan dengan cinta yang diamnya menyimpan

Jika Oda tulus akan keputusannya, Ango hanya perlu memastikan agar sahabatnya tidak melenceng dan ingat untuk bahagia. Sederhana saja bukan?


OdaAngo,

Tamat.


Balasan review:

Vira D Ace: cieee yang khilaf~ tobat emang susah ya wkwkw, aku aja gagal bae meski udah niat dari SMP. thx udah mampir sama review, semoga ga mengecewakan banget ya.

redarmour: aku kaget kamu punya ffn ternyata. dan maaf juga karena lupa ngasih tau aku lupa nulis di ffn. iya makanya, aku juga ngerasa interaksi soukoku tetep banyak meski chapter-nya berpusat ke OdaDaz, makanya aku pengen bikin yg pure OdaDaz ntah kapan, moga dalam waktu deket ini. kuharap aku bisa bikin lebih panjang dan ga cuma 1k :) menurutku kurang terekspos jadinya, tapi kalo panjang2 jadi hambar banget keknya. dazai jadi rebutan karena dia spesial kek martabak wkwkw. kamu juga semangat ya bikin cerita di wattpadnya~ maaf kalo aku blom mampir lagi, tiap mau buka wattpad pasti bawaan ke game.