Haloh para pembaca sekalian~

Maaf buanget ane ga update selama berbulan-bulan OTL

Banyak tugas membanjiri :'3

Okeh! Berikut chapter dua!


"Hah?! Siapa?!" teriak Rin kaget, ia segera beranjak dari meja belajarnya untuk melihat ke luar jendela,

"Ugh, ternyata Len…" pikir Rin, ia pun membalikkan tubuhnya dan berjalan kembali ke meja belajarnya tanpa mempedulikan sahutan Len, beberapa saat kemudian Rin pun mendapat BBM :

Len : Cih, gw diabaikan

Rin : Gw lagi males liat lu :U

Len : Ngeliat cowo guanteng gini kok males?

Rin : Typo kok jauh banget =w="

Len : Beheheheh~ Itu udah sebuah fakta~ :3

Rin : Fakta darimana coba? ==

Len : Buktinya selama bulan ini gw udah ditembak cewe 10 kali ;3

Rin : Terus kenapa lu ga mati mati? =v=

Len : Gadong~ Nyawa gw kan banyak ;p

Rin : Udah udah udah, katanya lu mau ke sekolah, gimana sih?

Len : Kan layaknya seorang pria yang baik, kalo ngelintasin rumah cewe harus diganggu dulu :3

Rin : Apapulaitu =3=

Len : Yaudah gw pergi dulu, cepet sono kelarin PR lu

Rin : Males desu

Len : Sok Jepang :p

Rin : Biarin =n=

Len : Wah batere gw lowbat

Rin : Derita lu, lagian lu males ngecharge

Len : Ngecharge pada hakikatnya menghamburkan listrik untuk sesuatu yang tidak terlalu berguna

Rin : Lu terlalu jadul sih =^=

Len : Biasa, orang pinter ya gini :3

Rin : Sumpeh lu demen banget sama emot ":3"

Len : Kan unyu :3

Rin : Seunyu-unyunya sebuah emot, kalo orang yang make tuh emot jelek, emotnya jadi kaga unyu lagi

Len : Yap, emot 'sama dengan' mu itu benar-benar menggambarkan dirimu.. ==

Rin : Hus! =3= Udah deh, entar BB lu mati loh, udah pergi sono ke sekolah

Len : Gw udah jalan ke sekolah loh padahal :3

Rin : Wut?

Rin segera beranjak dari kursi belajarnya dan melihat ke luar jendela, dan benar saja, Len sudah tak terlihat lagi,

Len : …Dan gw yakin lu langsung ngeliat ke luar jendela nyariin seorang pemuda ganteng

Rin : Kalo gw bilang ga gimana?

Len : Peduli amat, yang pasti sih lu ngelakuin itu

Rin : =A= …

Rin : Udah! Gw mau belajar =3=

Len : Oke oke, silahkan~

Setelah itu Rin segera mengunci BBnya dan kembali ke meja belajarnya, ia langsung membuka-buka buku cetak dan catatan IPSnya dan mulai mengerjakan bahan-bahan yang harus dipelajari untuk ulangan besok, yang berjumlah 65 nomor.

Layaknya seorang murid pemalas, Rin terbaring lesu di mejanya sambil bermain-main dengan halaman-halaman buku catatannya itu,

"Ahhh… Gue bosen…" keluh Rin, ia pun tiba-tiba teringat oleh perkataan Len kalau dia mau ke sekolah, maka ia pun memutuskan—

"YAP! Daripada gue bengong kayak orang gila disini, mending gue ngestalk si Len!" pikirnya bahagia, ia pun segera mengganti bajunya ke sesuatu yang lebih layak dipakai untuk jalan-jalan dan segera berjalan ke TKP, tak lupa mengupdate status BBnya, "OTW Sekolah".

Setelah beberapa menit berjalan + lari dikejar anjing sampe manjat tembok orang segala, sampailah juga ia di sekolah dengan ngos-ngosan,

"Yosh… Akhirnya… Setelah penderitaan gue… Sampe juga gue di sekolah…" gumamnya, ia lalu segera mengambil kamera stalkingnya dan mulai berkeliling mencari Len,

"Mana sih tuh anak, batang hidungnya kaga keliatan daritadi," pikir Rin kesal, ia sudah mencara sampai ke belakang halaman, dan Len masih belum tertemukan—tentu saja Rin tidak mencari ke dalam sekolah karena pintunya sudah terkunci; atau setidaknya itu yang ia pikir.

Rin pun kembali lagi ke depan pintu masuk sekolah, karena kepasrahannya, ia membuka BBnya dengan niat mau nge-BM si Len tentang dimana keberadaannya. Selayaknya anak malas, ia bersender di pintu sekolah,

"BRAAAAKKK!" Rin terjatuh masuk ke dalam sekolah,

"Aduuuuuh ni pintu kok kebuka sendiri sih?!" seru Rin kesal,

"Yaweslah, gapapa, yang penting to sekarang gue nyampe dalem sekolah," kata Rin dengan logat Jawa, maklum, Rin kalo kejedok kadang-kadang jadi error sendiri.

Rin segera masuk menjelajahi sekolah mencari Len, di kelas, di teras, di toilet, di ruang audio visual, lantai satu, lantai dua, lantai tiga… Len tak terlihat dimana pun, tentu saja, karena ini sudah terlalu sore, murid-murid sudah tidak ada yang terlihat, ditambah lagi, karena ini hari Sabtu, ekstrakulikuler hanya diadakan pada pagi hari dan selesai pada siang hari.

"Kayaknya gue ditipu deh…" pikir Rin greget, lalu ia pun segera teringat oleh satu tempat lagi yang belum ia kunjungi,

"Jangan-jangan dia di atap… eh, tapi ga mungkin sih, tangga naik ke atapnya aja ditutup gini kok," pikir Rin sambil memperhatikan tangga naik ke atap sekolah itu yang tertutup oleh gerbang jadi-jadian berwarna hijau yang cetar membahana menusuk mata, tiba-tiba ada suara teriakan,

"HOI! SIAPA DISITU?!"

"HEEEEH!" teriak Rin kaget, ia segera melemparkan pandangannya ke arah asal suara teriakan tersebut, dan dilihatnyalah… Pak Gaku… Guru yang paling ditakuti seluruh siswa setelah Ibu Mayu, Rin langsung panik dan tanpa pikir panjang lagi, Rin langsung berlari masuk ke arah kelas 12 C yang tepat berada di sebelah tangga ke atap itu,

"AAAAAAAAHHH!" teriak Rin histeris sambil bersembunyi di sebuah lemari tempat menyimpan sapu dan pengki di kelas itu, Pak Gaku dengan sigap menyusul masuk ke ruang kelas itu,

"DIMANA KAMU HEH?! SINI BIAR SAYA MINUS NILAI MATEMATIKAMU!" teriak Pak Gaku kejam; yap, sebenarnya Pak Gaku hanya ditakuti karena suka me-minus nilai para murid, Rin hanya terduduk terdiam di dalam lemari takut ketahuan, dan entah kenapa, Pak Gaku segera membuka pintu lemari tempat Rin bersembunyi dan menyeret Rin keluar,

"Hueee… Maafkan saya, Pak…" kata Rin memelas,

"NGAPAIN KAMU DI SEKOLAH SORE BOLONG BEGINI, HAH?!" teriak Pak Gaku menggelegar,

"Eeeh… Anu, Pak… Buku catatan matematika saya ketinggalan, Pak… Karena saya sangat mencintai pelajaran mat, saya datang lagi ke sekolah untuk mengambilnya…" balas Rin beralasan tak masuk akal,

"Ya saya hargai perbuatanmu itu, tapi kenapa catatanmu bisa ketinggalan di sekolah?!" tanya Pak Gaku,

"Eh... Itu… Itu…" Rin tak bisa menjawab, Pak Gaku segera memelototi Rin,

"Oke, kamu saya maafkan… Siapa namamu?" tanya Pak Gaku lagi,

"Anu… Rin, Pak…" jawab Rin setengah lega,

"Hmm… Kagamine Rin?" tanya Pak Gaku lagi untuk memastikan,

"Iya, Pak!" sahut Rin semangat,

"Oke, nilaimu saya minus tiga, ya! Sekarang pulang sana, cepat!" perintah Pak Gaku, Rin langsung loyo, ia pun mengikuti Pak Gaku yang keluar dari kelas, namun Pak Gaku tiba-tiba saja terhenti oleh sesuatu,

"Kenapa, Pak?" tanya Rin bingung,

"Ini kenapa terkunci ini?" tanya Pak Gaku sambil menunjuk gerbang hijau yang menghalangi tangga ke atap itu,

"Hah? Mana saya tahu, Pak… Memang seharusnya tidak terkunci?" balas Rin,

"Perasaan tadi saya terakhir buka…" kata Pak Gaku sambil merogoh-rogoh sakunya,

"He?" gumam Rin bingung,

"Wah! Benar tidak ada! Kamu coba cepat cari kunci gerbang ini di meja saya, cepat!" perintah Pak Gaku,

"O…Oke, Pak!" kata Rin sambil berlari menuju ruang guru di lantai dua.

Sesampainya Rin di ruang guru, ia langsung dengan sigap mendatangi meja pak Gaku dan mengobrak-abrik mejanya, ia pun menemukan serantaian kunci dan segera berlari hendak keluar dari ruang guru, namun ia diberhentikan oleh Bu Mayu,

"Eeeei~ Rin-san~" panggil Bu Mayu dengan suara imut beraura gelap seperti biasanya,

"E…E…Eh?" gumam Rin takut,

"Hnn~ Baru saja kamu menerobos masuk ke ruangan ini… Tapi menyapa saja belum, kok sudah mau pergi lagi?~" tanya Bu Mayu,

"I…Iya, Bu… Selamat sore… Lagi buru-buru… Hehe…" jawab Rin gugup,

"Ngg… Kamu mau apakan kunci itu?" tanya Bu Mayu lagi,

"Eh, ini, Bu… Tadi saya bertemu dengan Pak Gaku di lantai tiga, dan Pak Gaku menyuruh saya mengambilkan kunci gerbang ke atap…" jawab Rin,

"Ah~ Begitu rupanya~ Ya sudah, lain kali kalau bertemu guru harus menyapa, ya! Jangan sampai gunting kesayanganku melayang memotong rambutmu itu hingga gundul~" balas Bu Mayu dengan senyum manisnya,

"Iya… Bu…" jawab Rin sambil merinding memikirkan hal itu, setelah itu ia pun segera berlari menuju lantai tiga,

"Pak Gakuuuu! Ini kuncinya, Pak!" seru Rin,

"HEH! KECILKAN SUARAMU ITU!" teriak Pak Gaku,

"M-Maaf, Pak…" balas Rin lesu, ia lalu memberikan kunci atap itu ke Pak Gaku,

"Oke, sekarang coba kamu naik ke atas, ya! Dan lihat jika ada geng beranda—Kaito dkk di atas," perintah Pak Gaku,

"Lho, Bapak tidak ikut?" tanya Rin,

"Oh, tidak usah… Saya kurang suka dengan angin yang berhembus sepoi-sepoi di atap…" jawab Pak Gaku,

"Lah, bisa gitu?" tanya Rin,

"Sudah, cepat kamu naik ke atas!" perintah Pak Gaku lagi,

"Siap, Pak!" sahut Rin, ia pun lalu membuka gerbang hijau tersebut dan mulai menaiki tangga menuju atap secara diam-diam, dan yang mengagetkannya; pintu atap terbuka lebar,

"Hah? Jangan-jangan ada orang disini…" pikir Rin gugup, lalu dengan perlahan ia mengintip masuk ke dalam atap,

"L-Len?!"