Title: All About Us
Rating: T aja cukup. (tenang aja, saya ga berani bikin straight yang ampe M kok =3= *maksudnyaapaya*)
WARNING: kinda OOC, I guess. ==; typo (and please remind me if I have faults again!)
Summary: Ketika sebuah janji dengan cinta pertamanya membawa Karin ke dalam dunia American football yang keras dan membawanya kepada pertemuan dengan ace dari barat dan timur. Mana yang akan dia pilih? YamaKarinTaka (sekali lagi, bukan threesome! XD)
Author's Note:
Ya-ha! Finally, chapter 2 is up! :D Thanks for those who reviewed the previous chapter~ here is the answer!
Akari-chan males login -_- (*plak*) okee ini udah saya apdet XD saya juga suka cinta segitiga~ apalagi kalo salah satunya mesti menderita hohoho *gapenting* hoeeee tos! XD ujian memang mengerikan yap -_- makasih udah ripiu! XD
Rica Yukarin lagi males login (*plak lagi*) Yap, emang akhirnya mau YamaTaka kok XD *dibunuh* ehm, becanda, tapi saya memang paling suka pair itusih jadi gimana yaaa hohoho *dibunuh lagi* makasih banyak buat kritik dan pemberitahuannya! X) ummm, udah coba saya benerin, semoga gaada kesalahan lagi =w=;; sekali lagi, makasih atas saran dan ripiunya~ XDD
RisaLoveHiru Hmmm, kalo kukasitau sekarang ntar jadi spoiler dong XD gatau juga yaaa ntar Karin ama siapaaa hohohoho~ 9w9 terimakasih atas pemberitahuannya! Udah saya benerin, semoga kali ini udah cukup baik X) makasih reviewnya yaaaa~
Ciel aww makasiiih~ ini udah saya apdet XD makasih reviewnya~
Fitria –AlyssYouNightray- arigatou! Saya juga suka pair ini, triangle love yang manis~ XD Ini udah saya apdet huehehe :) arigatou for reviewing!
Maharu P Natsuzawa arigatou pujiannya X) ini udah saya apdet~ :p makasih buat ripiunya!
Wata-sensei he? Seragam American footballnya? Ah, emang item sih, tapi kan ada putihnya jugaaa XD *ngeles, dibunuh* ah, reviewnya nggak gamutu kok :D ini udah saya lanjutin X) Arigatou for reviewing!
Asuka Nakamura asukaaaaaaaaaaaaaa! ;w; *hagu* arigatou artemis sayaaang X) aku juga tetep bakal baca ficmu kok walopun udah ga ketemu lagi ;^; *nangis* gimana dengan fic Dear Godmu heh? -_- makasih udah ripiu yap~
Kazuazul yap, chapter 1 memang sengaja dibikin ke YamaKarin dulu, chapter ini.. kukuku *gajelas* aih, saya juga pengennya YamaTaka ;3; *dibuang* tapi berhubung ini fic straight jadi.. huehehe XP -gajelasparah ini udah saya apdet :) thanks for reviewing!
Fiuh, now, enjoy the next chapter and hope this is better than before! XD
Eyeshield 21 Fanfiction © AiNeko-chan
::
All About Us
::
CHAPTER 2
"Training, and The Charming Receiver"
One, Two Three..
"Karin, perhatikan langkahmu!"
"Ah, b-baik!"
One, Two, Three—
"Karin! Kau menginjak tengahnya lagi!"
"A-ah, iya! Maaf!"
One, Two, Th—
"..Karin.."
"M-maafkan aku, Heracles –senpai!"
Gadis berambut kuning dikepang itu terlihat gugup meminta maaf berkali-kali kepada sang senior, Hera Kureji (atau biasa dipanggil Heracles) yang sedang melatihnya tentang dasar langkah American football menggunakan alat berbentuk tangga yang diletakkan horizontal –yang belakangan ia ketahui bernama ladder drill.
Namun, entah sudah berapa kali gadis yang kini memakai seragam Alexanders bertuliskan angka enam itu melakukan kesalahan yang, jujur saja, membuat senior bermata sipit itu sedikit kesal.
"Harus berapa kali kukatakan, Karin.. Untuk latihan dengan ladder drill ini, usahakan jangan sampai kau menyentuh pijakan kayunya, dan ingatlah langkah-langkah dasar yang kuajarkan tadi padamu! Haruskah aku mengulanginya lagi?" ucap Heracles sambil menyeka keringat yang mulai menetes dari dahinya.
"Ng, t-tidak usah.. A-aku pasti tidak akan melakukan kesalahan lagi. Tolong, biarkan aku latihan sendiri untuk sementara!" pinta Karin, masih dengan wajah gugup.
Heracles menghela nafas, "Baiklah. Berlatihlah sampai kau bisa ya? Aku akan melihat latihan anggota yang lain."
"B-baik! Terima kasih banyak, Senpai!"
Saat lelaki dengan postur tubuh cukup gendut itu meninggalkannya dengan alat latihan berbentuk tangga yang bernama ladder drill itu, Karin menghela nafas lega, sekaligus lelah.
Sudah beberapa jam berlalu sejak dia berlatih latihan dasar Amefuto dengan alat itu, namun Ia belum juga menguasai bahkan langkah dasar yang harus dihafal seorang pemain Amefuto.
Karin menutup matanya seraya menjatuhkan tubuhnya ke atas tanah, terduduk menatap awan.
Jika saja Ia tidak menerima tawaran masuk klub American Football ini, mungkin saja Ia sedang bersantai di rumah dan menggambar doujinshi yang belum diselesaikannya, atau pergi shopping bersama teman-temannya, atau mengobrol dengan Yuki di restoran favorit mereka, atau apalah, yang setidaknya bukan latihan melangkah di atas tangga yang diletakkan horizontal di tengah cuaca yang terik seperti ini.
Belum lagi, setelah ini—menurut Heracles— masih banyak latihan yang akan dihadapinya karena Ia sangat diharapkan segera masuk ke tim 1 atau tim utama—dari tim 6 yang paling buntut.
Seandainya aku tidak mengingat Takeru-kun saat diminta masuk tim ini dan tidak menerimanya—
"Kau tidak meneruskan latihanmu?"
Sebuah suara menyadarkan Karin dari alam pikirannya.
Dengan wajah memerah karena malu dilihat seseorang saat sedang bengong sendirian—bukannya latihan, Ia menolehkan wajahnya, hanya untuk menemukan ace tim itu, Taka Honjo, sedang berdiri di sebelahnya sambil membawa bola Amefuto dengan sebelah tangan.
"H- Honjo san!" ucapnya gelagapan seraya berdiri.
"M-maafkan aku! Aku cuma istirahat sebentar kok! Aku baru saja ingin meneruskan latihanku lagi!"
Taka menghela nafas,
"Tidak apa-apa. Aku tahu Heracles sudah menyuruhmu latihan daritadi, padahal porsi latihanmu sebagai wanita harusnya tidak disamakan dengan kami, aku kurang setuju dengan keputusannya itu."
Karin merapatkan kakinya dan berusaha untuk tidak menatap teman satu timnya itu. Entah kenapa, walaupun memang benar dia cukup tampan, tapi Karin tetap.. merasa takut dengan tatapan stoic milik lelaki tersebut.
"Um, tidak apa-apa kok. Masuk ke tim ini juga keputusanku sendiri kan. Jadi aku harus menerima resikonya sendiri." ujarnya sambil tersenyum,
"Aku akan meneruskan latihanku. Terima kasih telah mengkhawatirkanku, Honjo- san."
Taka tampak sedikit terkejut saat gadis berambut kuning itu kembali meneruskan latihannya, melangkahi ladder drill dengan langkah yang diajarkan senior mereka tadi.
Tentu saja gadis itu masih sering melakukan kesalahan, yang membuat Taka yang tadinya hanya memperhatikan dengan wajah berharap, jadi turun tangan dengan didahului helaan nafas.
Karin sempat terkejut saat lelaki itu tiba-tiba sudah berada di sebelahnya, memberinya isyarat untuk minggir, supaya Ia bisa menjelaskannya lewat praktek langsung.
"Jangan langkahkan kakimu seperti biasa begitu," ucap sang ace sambil berdiri di atas ladder drill, sementara Karin tengah memperhatikannya di depan, dengan wajah yang sedikit memerah.
"Pertama, kaki kananmu dulu di lubang yang sebelah sini, lalu langkahkan kakimu yang sebelah lagi ke lubang sebelahnya." Taka mempraktekkan ajarannya dengan melangkahi lubang-lubang di ladder drill itu dengan langkah yang disebut langkah dasar amefuto, "Coba kau ikuti aku."
Dengan ragu-ragu, Karin berdiri di samping Taka, di atas salah satu lubang alat untuk latihan itu, mencoba menyamakan langkah kakinya dengan langkah Taka.
Awalnya mungkin Ia masih membuat kesalahan, namun lama-kelamaan, langkahnya semakin menyamai Taka, hampir sempurna, dan—
"Berhasil!" serunya senang saat Taka menyatakan langkahnya sudah sempurna. "Ini berkatmu, Honjo-san! Terimakasih banyak!"
Taka hanya memberikan senyuman kecil—yang lebih tepat kalau dikatakan bibirnya hanya membentuk sedikit lengkungan— sebagai jawaban, kemudian kembali pada latihannya, menangkap bola yang dilemparkan salah satu quarterback padanya.
Saat sosok lelaki berambut panjang itu kembali memunggunginya, dan tidak lagi menatapnya, kali ini justru Karin yang terus menatap lelaki tersebut. Entah kenapa, anggapannya terhadap Taka Honjo yang tadinya terlihat sangat dingin, tanpa emosi, dan sedikit tak berperasaan itu— mungkin jadi berubah.
"Dia orang yang baik.." bisiknya seraya menunjukkan sebuah senyuman manis.
-o-o-
One, Two, Three..
One, Two, Three..
One, Two, Three..
"Sempurna! Hebat, Karin!" puji Heracles saat sedang melihat latihan ladder drill Karin pada hari berikutnya. Sementara yang dipuji hanya menunjukkan senyum malu-malu yang membuat 90% dari anggota tim itu terpesona.
Well, Karin yang memang cantik itu sepertinya kini telah menjadi idola tetap dalam tim Teikoku Alexander, tanpa disadari orang yang bersangkutan.
"Baiklah, kau sudah bisa melanjutkan ke latihan berikutnya. Kali ini, coba kita tes lari 40 yard-mu." lanjut sang senior dengan senyum cemerlang sambil membawa stopwatch, entah Ia simpan dimana benda itu selama ini.
"E-eh? Apa yang harus kulakukan? Hanya lari dari… ng, sini .. sampai situ kan?" jawab sang calon quarterback sambil menunjuk daerah yang dibatasi dengan pembatas berwarna merah.
Setelah diberi anggukan tanda benar oleh Heracles, gadis itu segera memasang posisi pada tempat yang ditunjukkan oleh seorang anggota tim yang entah kenapa wajahnya memerah—salah satu fans Karin, sepertinya.
"Yak! Lari!"
Setelah diberi aba-aba oleh sang senior, Karin segera berlari sekuat yang Ia bisa sampai ke batas yang menunjukkan jarak 40 yard tersebut.
TIK
"—Oke!"
Dengan nafas terengah-engah, gadis itu menghampiri Heracles yang tampaknya sedikit sweatdrop melihat catatan waktunya.
"Um, berapa catatan waktuku, senpai?"
Tanpa menjawab pertanyaannya, sang senior hanya menunjukkan stopwatch di tangannya yang menunjukkan angka 05'20.
"…..… Eh, aku gagal ya?" tanya gadis itu ragu-ragu. Heracles menghela nafas,
"Kalau mau masuk tim 1, setidaknya kau harus melampaui batas 5 detik, Karin. Teruslah latih kecepatan larimu ya."
Hanya itu yang diucapkan lelaki berbadan cukup besar itu sebelum Ia pergi untuk melihat latihan anggota lainnya, meninggalkan Karin yang terpaku di tempatnya.
Ia harus lari lebih cepat dari larinya tadi? Tadi itu sudah kecepatan maksimumnya! Apa yang harus Ia lakukan untuk mempercepat lari yang jarang sekali dilatihnya sejak Ia lahir?
"Koizumi."
Lagi-lagi, saat pikirannya sedang melayang entah kemana, sebuah suara menyadarkannya kembali. Suara yang sama seperti kemarin, suara yang entah kenapa jadi membuatnya sedikit tenang,
"Honjo-san..!"
Taka Honjo melihat stopwatch milik Heracles yang sekarang ada di tangan Karin dan melihat angka 05'20 yang tersirat disana. Tentu saja sebagai seorang ace, Ia langsung mengerti masalah apa yang membuat Karin terlihat kebingungan seperti kemarin,
"Kau mau tahu caranya meningkatkan kecepatan larimu?"
Bagaikan bisa membaca pikiran Karin, Taka mengucapkan kalimat itu dengan wajah santai. Sebaliknya, Karin yang mendengar itu kini menatapnya penuh harapan bercampur cemas, "Bolehkah?"
Tanpa mengubah ekspresi wajahnya, lelaki berambut abu-abu itu membalik badannya dan mengisyaratkan Karin untuk mengikutinya.
Dan tanpa banyak bicara, gadis polos itu pun mengikutinya, sampai ke halaman belakang sekolah yang cukup luas, dan sepertinya cukup untuk latihan lari karena panjangnya kira-kira lebih dari 40 yard.
"Coba kau lari. Aku akan melihat dimana kesalahanmu."
Dan sesuai perintah sang ace, Karin berlari secepat yang Ia bisa dari tempat yang ditunjukkan oleh Taka sampai tempat lelaki tersebut kini berdiri.
"….."
"Ng, tidak ada bedanya ya?" Karin menghampiri Taka dan melihat ke stopwatch di tangannya, terketik angka 05'20 lagi. Artinya, tidak ada perubahan dari rekor awalnya. Gadis berambut kepang satu itu menghela nafas kecewa.
"Saat kau berlari.."
"Eh?"
"Saat kau berlari, kau tidak boleh hanya seolah menendang bumi memakai kekuatan pergelangan kakimu," Taka menyerahkan stopwatch itu kepada Karin dan mulai mempraktekkan perkataannya dengan menghentak-hentakkan kakinya ke tanah. "Bentuk pergelangan kakimu pada sudut yang tepat, yaitu 90°."
Karin masih bengong memperhatikan team-matenya, "Eh.. um.. 90°?" Ia mencoba membentuk pergelangan kakinya menjadi tegak lurus, seperti yang dikatakan Taka. "S-seperti ini? Eh?"
Taka memperhatikan gadis itu untuk beberapa saat—tepatnya, kakinya. Lalu, mengambil langkah lebih dekat dengan calon quarterback tersebut,
"Coba lengkungkan kakimu sedikit lagi." ucapnya sambil menahan kaki kanan Karin dengan satu tangan.
Karin menengok ke bawah hanya untuk menemukan wajah Taka yang tubuhnya sedang berjongkok—wajah lelaki tersebut jadi sangat dekat dengan wajahnya. Tanpa disadarinya, pipinya mulai merona merah. Untungnya, sepertinya Taka tidak menyadarinya.
"S-seperti ini?" Karin melengkungkan kakinya lagi sampai pemilik mata berwarna abu-abu itu mengangguk, dan akhirnya berdiri di samping Karin untuk mengajarkan langkah selanjutnya.
"Sekarang, cobalah maju sambil mendorong permukaan tanah dengan seluruh kakimu." perintahnya, yang segera dituruti oleh Karin.
Entah apa teknik itu benar-benar berhasil atau apa, saat berlari, Karin merasa badannya jadi terasa lebih ringan, dan entah kenapa Ia merasa kecepatannya benar-benar bertambah.
Taka mengangguk saat menghitung kecepatan lari gadis itu saat ini,
05'15.
"Teruslah berlatih dengan cara ini, dan hanya menunggu waktu sampai kau bisa memecahkan batas 5 detik." hanya itu kata-kata yang seorang Taka Honjo ucapkan sebelum Ia meletakkan stopwatch Heracles di sampingnya dan berjalan kembali ke lapangan.
Dan lagi-lagi, ucapan terimakasih dari Karin yang antusias tidak didengarkannya.
-o-o-
"05'10, kecepatanmu meningkat, Karin!"
Tiga minggu setelah latihan rutin dengan metode yang diajarkan Taka, akhirnya latihan itu membuahkan hasil, tentu saja. Walaupun hanya memendekkan 0,1 detik, entah kenapa rasanya seperti ia berhasil mengalahkan seekor cheetah dalam lomba lari, rasanya bangga sekali.
Dengan wajah antusias, ia melihat sekeliling dan akhirnya menemukan Taka yang sedang melempar- lempar bola di pojok lapangan— sepertinya Ia sudah selesai dengan latihannya, jadi Karin menghampirinya tanpa ragu,
"Honjo-san! Aku berhasil menaikkan kecepatan lariku!" serunya senang saat jaraknya dengan Taka tinggal kurang dari satu meter. Taka menolehkan kepalanya dan memperhatikan Karin saat gadis itu berdiri di depannya dengan nafas yang sedikit terengah- engah, dengan senyum manisnya.
" Ternyata metode yang diajarkan Honjo-san sangat efektif! Kata senior, dalam waktu beberapa minggu lagi mungkin aku sudah bisa menaikkan kecepatanku beberapa detik. Aku.. senang sekali. Terima kasih!"
Taka hanya mengangguk, dengan wajah stoic, seperti biasa. Karin sempat mengira lelaki itu menganggap cerita Karin tadi membosankan, dan dengan wajah panik, sempat berniat menundukkan kepala dan meminta maaf karena sudah bercerita seenaknya, namun—
Taka tersenyum.
Hanya senyum tipis, namun entah kenapa senyuman itu terlihat hangat, atau setidaknya di mata Karin, senyuman itu tampak— lembut.
"Kau sudah berusaha," ucapnya pelan dengan senyuman yang memudar, digantikan oleh wajah stoic-nya, seperti biasa, " Setelah ini, berjuanglah."
Dan dengan kata-kata itu, lelaki berambut panjang itu meninggalkan Karin dengan ekspresinya yang tampak terkejut dengan apa yang baru saja dialaminya.
Taka Honjo, yang baru beberapa minggu ini dikenalnya. Taka Honjo, yang selalu dilihatnya sibuk dengan buku dan bola. Taka Honjo, yang selalu bermuka datar, dan jarang sekali tersenyum, barusan..
—Barusan dilihatnya tersenyum. Senyuman yang berbeda dari yang selama ini pernah ia lihat. Senyuman lembut yang saat itu juga membuat jantung Karin berdetak lebih kencang dari biasanya.
-o-o-
"Kaaaaariiiiiinn~?"
"… Taktik no. 18— runnerback berlari dengan dikawal oleh 4 orang lineman, teknik ini disebut sweep."
"Kaaaaaaaaaaaaaaaaaariiiiiin~?"
"… Taktik no. 27— super long pass. Quarterback melemparkan bola super tinggi dan jauh untuk receiver sampai touch down."
"Hei, Kaaaaariiiiin, kau dengar aku?"
"… Taktik no. 69— Ah,hei..!"
Yuki memajukan bibir atasnya —tanda bahwa Ia kesal— sambil memegang buku tebal bersimbol Alexanders yang daritadi tampak sibuk dibaca Karin. Tampaknya Ia baru saja menyita buku itu dari sahabatnya. Wajahnya tampak puas.
"Yuki….! Kembalikan buku itu! Aku sedang menghafal!" seru Karin sambil mencoba mengambil buku berwarn biru itu dari tangan sahabatnya. Yuki yang lebih tinggi dari Karin segera mengangkat buku itu lebih tinggi lagi sambil tertawa puas, membuat Karin mengerutkan dahinya dan ikut memajukan bibir atasnya.
"Habisnya dari tadi kau tidak menjawab panggilanku karena terlalu asyik dengan buku ini! Memang buku ini sepenting apa sih?" cibir Yuki sambil membuka-buka halaman buku itu asal- asalan. Ia mengernyitkan alisnya saat mendapati buku itu penuh dengan gambar, tulisan, dan istilah yang tidak satupun ia mengerti.
"Apa ini?"
"Buku taktik Teikoku Alexanders. Aku harus menghafal semua isinya kalau ingin naik ke tim 2." Karin menghela nafas dan segera merebut buku itu dari tangan sahabatnya saat ia lengah. Yuki makin mencibir,
Sesaat suasana di antara mereka hening. Hanya ada suara detik jarum jam dinding satu-satunya di ruangan kelas yang tampak sepi setelah jam pulang sekolah tersebut. Yuki menghela nafas selagi menyandarkan tubuhnya pada salah satu kursi di sebelah meja yang sekarang diduduki Karin.
"Kau benar-benar ingin bermain serius sampai tim 1?" tanya Yuki akhirnya, memecah keheningan diantara kedua gadis tersebut.
"Pertanyaan macam apa itu? Bukannya kau sendiri yang memaksaku masuk Alexanders?" balas Karin dengan nada setengah kesal sambil melanjutkan membaca buku tersebut.
"Well, aku memang memaksamu masuk, tapi aku tidak memaksamu naik sampai tim 1 kan?"
Karin berhenti membaca.
Benar juga. Pada awalnya juga ia tidak berniat masuk sampai tim 1. Sebenarnya, tim 6 saja sudah cukup. Toh pada awalnya ia tidak serius masuk tim amefuto. Lantas, kenapa?
Kenapa tiba-tiba ia jadi sangat bersemangat untuk naik sampai tim inti?
Setelah terdiam sebentar, Karin segera menjawab alasan logis yang asal muncul di otaknya,
"Soalnya senpai bermata sipit itu memaksaku. Dan aku juga tidak enak kalau setengah-setengah masuk tim Alexanders yang hebat kan?"
Yuki tersenyum.
Senyum mencurigakan, menurut Karin.
"Benarkaaaaaaah cuma itu alasannyaaaa~?" ucapnya dengan nada iseng.
Karin mengernyitkan alisnya,
"Maksudmu?"
Gadis berambut hitam itu terkikik pelan, "Maksudku, apa benar cuma itu? Apa tidak ada alasan lain yang membuatmu ingin ikut bermain di tim inti?"
"Alasan lain? Tentu saja tidak a—"
"—seperti, karena kau ingin bermain bersama salah seorang dari anggota tim inti Teikoku Alexanders? Karena kau ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersamanya?"
"Apa maksud—"
"Karenaaa, kau jatuh cinta pada salah seorang dari mereka?"
Yuki tertawa, sementara Karin meletakkan bukunya, wajahnya tampak kesal saat akhirnya ia menyadari bahwa sahabatnya tengah menggodanya.
"Tidak ada orang seperti itu."
"Benarkaaaaaaaaaaaaah?"
"Benar! Oh, Yuki, berhenti menggodaku!"
Yuki lagi-lagi terkikik pelan, sepertinya ia puas dengan reaksi Karin. Sahabatnya itu memang mudah sekali dipancing.
"Oh ya? Sepertinya akhir-akhir ini aku sering melihatmu latihan, berduaan dengan seseorang~"
"..? Siapa? Hera-senpai? Wajarlah, dia kan membantuku latihan!"
Yuki mengeluarkan bunyi 'tsk tsk' sambil menggoyangkan jari telunjuk di depan bibirnya.
"Tentu saja bukan senior gendut itu. Yang kumaksud adalah lelaki paling tampan sejagat yang jadi ace Teikoku Alexanders saat ini—"
Gadis berambut raven itu kini mendekatan jari telunjuknya ke depan wajah Karin.
"— T-a-k-a H-o-n-j-o ~"
Dan Karin merasa kedua pipinya memanas saat Yuki menyinggung nama lelaki berambut panjang tersebut.
"D-dia tidak ada hubungannya! Lagipula kan Yuki-chan yang menyukai Honjo-san!"
"Ah, Karin~ Begini ya, aku memang anggota dari fans club Taka-kun, dan aku sangaaaaaaaat menyukai rambutnya yang indah, matanya yang tenang, wajahnya yang super tampan, tubuhnya yang bagus, dan— " Yuki berhenti mengkhayal saat Karin meliriknya dengan wajah ilfil. "—err, ta-tapi! Aku hanya mengaguminya, Karin! Ada perbedaan besar antara 'kagum' dengan 'suka', kau tahu itu!"
"…Um, ya.. lalu, apa hubungannya itu denganku sekarang?"
"Yang mau kukatakan adalah… Aku mungkin hanya mengaguminya sebagai ace dan idola berwajah tampan, tapiii~~ aku melihat sesuatu yang lain dari caramu menatapnya siang ini, setelah latihan~"
"… Se-sesuatu?"
"Yap!"
Gadis berambut hitam panjang tersebut tersenyum makin mencurigakan.
" C.i.n.t.a.~"
.
Wajah Karin memerah lagi, sekarang sudah jadi semerah tomat, mungkin.
.
"Jangan bercanda, Yuki! Mana mungkin aku—"
—Namun perkataan gadis itu berhenti sampai disana, saat keduanya mendengar suara pintu ruangan kelas yang mereka tempati sekarang terbuka.
Kedua gadis itu menolehkan wajah mereka seketika, hanya untuk menemukan seseorang— berambut abu-abu panjang, berwajah stoic, dan membawa buku kecil di tangan— menatap mereka dengan raut muka yang tetap datar.
Karin terkejut, "H-honjo-san?"
Dan senyum Yuki terkembang.
"Gerbang sekolah akan segera ditutup," ucap Taka, masih dengan wajah datar, "Sebaiknya kalian cepat keluar dari sini. Penjaga sekolah itu tidak akan berbaik hati, pada wanita sekalipun. Kalian bisa terjebak disini."
Masih terkejut, gadis berambut pirang tersebut menolehkan wajahnya, melihat ke arah jam dinding yang kini menunjukkan pukul 17:15.
Ia bahkan tidak menyadari hari sudah sesore ini! Sudah berapa lama ia dan Yuki berdebat di dalam sini, sebenarnya?
"Ah, I-iya. Terima kasih sudah mengingatkan, Honjo-san." Karin segera memasukkan buku taktik Alexanders-nya ke dalam tas, dan berdiri dari posisi duduknya di atas meja, bersiap untuk meninggalkan tempat tersebut. Ia tahu pasti penjaga sekolah sangar itu bisa dengan kejamnya tidak membukakan gerbang lagi untuk mereka jika mereka terlambat keluar saat gerbang sekolah tersebut ditutup.
"Yuki-chan, ayo pulang!"
Gadis bermata onyx itu ikut bangkit dari posisi duduknya, namun tidak berkata apa-apa untuk menyanggupi ajakan Karin. Ia hanya memperhatikan Taka, lalu Karin – dengan raut licik yang tergambar jelas di wajahnya, membuat Karin sedikit— curiga.
Yuki segera menolehkan wajahnya ke arah Karin kembali,
"Aaah~ Aku lupa memberitahumu, Karin~ Hari ini aku ada urusan di rumah saudaraku, jadi aku tidak bisa pulang bersamamu~" ucapnya sambil menunjukkan wajah bersalah palsu yang dapat segera disadari oleh Karin. Ia ingin protes, namun rupanya Yuki belum mau membiarkan gadis itu bicara.
"—Tapi! Aku tidak mungkin 'kan membiarkanmu pulang sendiri? Hari sudah mulai malam, dan jarak rumahmu kan cukup jauh dari sekolah, apalagi kau ini perempuan! Jadiiiii…." Yuki mengalihkan pandangannya dari sahabatnya, menuju Taka yang tampaknya ikut tertarik dengan pembicaraan dua gadis tersebut.
Karin merasakan firasat buruk, seolah sudah mengerti apa yang akan Yuki katakan pada Taka setelah ini.
"Taka-kun~ Kau mau kan menemani sahabatku yang lemah lembut tidak berdaya ini pulang ke rumahnya dengan selamat?"
Bingo.
"Y-yuki!" serunya panik sambil reflek menarik tangan gadis berambut hitam yang sekarang tersenyum puas dan tampak tidak mempedulikan protes dari Karin tersebut.
Sementara Taka, tetap terdiam di sana, di sebelah pintu— membuat Karin semakin panik memikirkan jika Taka terdiam karena menganggap ia dan sahabatnya aneh— mengajak orang yang bahkan belum terlalu dikenalnya untuk pulang bersama. Atau dia diam karena ingin menolak? Duh, dia akan malu seumur hidup! Apa yang sudah Yuki lakukan!
"M-maafkan dia, Honjo-san! Temanku ini memang suka ngelantur— err, ehm— soal yang tadi itu, tidak usah dianggap seri—"
"Boleh saja."
Karin terkesiap, dan senyum Yuki melebar.
"E-eh, ano— Honjo-san, barusan kau bilang a—"
"Aaaaaw! Sudah kuduga, Taka-kun memang baiiiiik sekaliii!" Yuki segera bangkit dan berlari kecil menuju pintu— tanpa membiarkan Karin mencegahnya.
"Nah, Karin, aku duluan ya! Sampai jumpa besook!" –dan dengan satu kedipan mata (yang Karin tahu persis apa maksudnya) , gadis berambut hitam itu berlari keluar dan membiarkan Karin hanya tinggal berdua saja dengan Taka dalam ruangan kelas yang sepi tersebut.
Karin terdiam di mejanya dengan wajah memerah saat menyadari fakta tersebut. Berbeda dengan Taka yang tampaknya tidak peduli sama sekali.
"Mau pulang sekarang?"
Dengan satu ucapan dari Taka tersebut, Karin tersadar dari alam pikirannya, dan segera menyadari ia tidak boleh membuat Taka— yang sudah berkata akan mengantarnya pulang— menunggu lebih lama lagi.
Waktu terus berjalan, dan sebentar lagi gerbang SMU Teikoku itu akan segera ditutup.
Karena itu, dengan satu anggukan kecil dari Karin, keduanya berjalan keluar dari ruangan tersebut tanpa berkata apapun.
-o-o-
"Bagaimana dengan latihanmu?"
Suara Taka memecah keheningan di antara kedua pemain amefuto itu saat mereka berjalan berdampingan menelusuri jalan yang sepi— mengingat hari sudah mulai gelap.
Karin yang tadinya sibuk menyembunyikan rona merah di wajahnya terlonjak kaget karena tiba-tiba Taka mengeluarkan suaranya.
"E-ehm.. umm, baik, berkat Honjo-san.." jawab gadis itu, sedikit gelagapan. "Aku tetap melatih cara lari yang diajarkan Honjo-san supaya bisa cepat memecahkan dinding 5 detik. A-aku tahu itu mustahil, tapi—"
Taka tersenyum, (bukan, bukan senyum lembut yang baru satu kali dilihat Karin— senyum ini lebih tepat kalau dikatakan—bibirnya hanya membentuk sedikit lengkungan)
"Itu niat yang bagus untuk seorang pemain amefuto. Kau tahu, tidak ada hal yang mustahil asal kau bekerja keras."
Karin membalas senyuman itu— dengan senyuman malu-malu, "B-benarkah? A-aku akan berusaha kalau begitu!"
Dan saat itu, perasaan aneh mulai menjalar dalam hati seorang Taka Honjo.
Perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Dan perasaan itu terus, dan terus bertambah kuat saat gadis di sebelahnya mulai (secara tiba-tiba) menceritakan tentang pengalamannya, tentang bagaimana Heracles melatihnya, dan bagaimana anggota-anggota tim lain yang ia tidak tahu mengapa sering melihatnya dengan tatapan aneh dan wajah yang memerah, tentang perasaannya selama bermain American football, tentang bagaimana Yuki dengan ide-ide anehnya, selalu menggodanya, dan—
Taka, yang biasanya menganggap cerita-cerita seperti itu membosankan, menemukan dirinya kembali tersenyum saat wajah manis di sebelahnya menunjukkan ekspresi yang berbeda-beda selagi menceritakan lebih jauh lagi tentang dirinya.
Dan Taka tidak bisa menghentikan dirinya dari berpikir bahwa gadis yang bercerita dengan antusias di sebelahnya ini,
sangat manis.
Namun gadis itu berhenti bercerita saat merasa Taka di sebelahnya memperhatikannya. Wajahnya berubah merah dalam sekejap saat menyadari bahwa lagi-lagi ia kelepasan bercerita macam-macam pada lelaki dengan wajah stoic itu.
"M-maaf.. a-aku keterusan bercerita! P-padahal semua itu tidak ada hubungannya dengan Honjo-san.. u-umm.. maafkan aku!" Karin reflek berhenti berjalan dan menundukkan kepalanya selagi mulutnya terus mengucapkan kata 'maaf' untuk Taka yang sekarang menatapnya dengan wajah terkejut.
"Tidak apa-apa, lanjutkan saja."
Karin terkejut.
Taka terdiam.
"Lanjutkan saja." ucap lelaki itu lagi, dengan wajah stoicnya— walaupun dalam hatinya ia bertanya-tanya mengapa gadis di depannya tampak sangat terkejut setelah ia mengatakan hal itu.
"B-benarkah, tidak apa-apa?" tanya Karin, ragu. Taka hanya mengangguk sebagai balasan, "Ceritamu menarik."
Dan dengan wajah cerah yang ditunjukkan gadis berkepang tersebut setelah Taka memujinya, lelaki berambut abu-abu itu menemukan kedua pipinya dihiasi rona merah yang bahkan tidak disadari oleh Karin pada malam yang kelam itu selagi ia melanjutkan ceritanya.
-o-o-
"Baiklah, rumahku tinggal beberapa belokan lagi kok. Terima kasih sudah mengantarku sampai sejauh ini, Honjo-san."
Taka mengangguk kecil saat Karin mengatakan hal itu sambil menundukkan kepalanya— tipikal Karin sekali, sedikit-sedikit menundukkan kepala. Wajahnya menunjukkan senyum pudar saat gadis berambut kepang itu mulai membalik badannya untuk berjalan ke arah yang berbeda dengan langkah lelaki tersebut sendiri.
Tunggu, ada hal lain yang harus ia lakukan, ia katakan.
"Tunggu, Koizumi."
Karin menghentikan langkahnya dan kembali menolehkan wajah polosnya untuk menatap Taka yang masih berada di belakangnya. Ekspresi lelaki itu tidak seperti biasanya.
"E-eto, ada apa, Honjo-san?" tanyanya polos.
"Aku, ada satu permintaan.." mulainya, tanpa melihat ke arah mata Karin. "Mulai saat ini, bisakah kau tidak memanggilku.. 'Honjo-san' lagi?"
Karin tampak terkejut, lalu gelagapan, "E-eh? M-maksudmu?"
".. Maksudku, aku tidak terlalu suka dipanggil dengan nama keluargaku, karena— nama itu selalu dikaitkan dengan Ayahku, bukan diriku."
Ah, ya— Ayah Honjo-san, seorang pemain baseball terkenal, dan pria yang dijuluki catcher legendaris itu ya? –seketika Karin teringat cerita Yuki padanya saat gadis itu menyuruhnya masuk tim yang sama dengan Taka.
"Emm, lalu aku harus memanggilmu apa?"
Taka terdiam sesaat, "Taka. Atau Taka-kun seperti temanmu itu, terserah kau saja." –lalu mulai membalik badannya dan berjalan menjauhi Karin, "Sampai jumpa besok di latihan pagi."
Dan Karin tidak pernah merasa jantungnya berdebar sekencang itu selain ketika cinta pertamanya pertama kali memeluknya, disertai perasaan aneh yang membuat kedua pipinya kembali bersemu merah.
Perasaan yang ia tahu akan membuat Yuki semakin menggodanya jika ia mengetahuinya.
Cinta.
-o-o-o-o-
To be Continued~
Yap, itudia chapter 2, kali ini dengan TaKarin :D semoga cukup memuaskan, soalnya saya sempet stuck gara-gara bingung kapan mau munculin Yamato ==;; mungkin dia bakal muncul di chapter berikutnya, atau mungkin berikutnya lagi, atau- *dibunuh fans yamato sejagat* ehm, chapter berikutnya kok, sepertinya X3
Beidewei, soal catatan waktu 40 yard Karin, 05'20 ke 05'15 itu masih diitung 5,2 detik loh ==;; dan Karin baru bisa naikin jadi 05'10 atau 5,1 detik dalam waktu tiga minggu karena, well, kan susah, Hiruma aja baru bisa naikin 0,1 detik dalam waktu satu tahun (baca pas pertandingan lawan Shinryuji, saya lupa vol berapa XD) tapi karena, anggap saja Karin sebenernya emang berbakat, dan dengan latihan dari Taka, dia bisa naikin 0,1 detik dalam waktu tiga minggu aja.
Catatan waktu asli Karin pas udah jadi quarterback Alexanders itu 4,9 detik btw, dan dia baru bisa naik ke tim 5 abis hafal semua isi buku taktik itu (*vol 31), selebihnya kenaikan Karin ke tim 4 sampe 1 mungkin bakal saya karang sedikit gara-gara kurang informasi dari officialnya ==;;
Anyway, Chapter 3 is up soon, review please? :D
