Disclamer: Masashi kisimoto.

Warning: Gaje. Tidak bermutu. Dll.

Rated: M. Untuk jaga-jaga

Present By: Choco Momo.

Pairing: SasuSaku.

Gendre: Romance. Family.

.

Chapter 2: Introduction.

"Aku tidak sangka kau akan datang." Cibir Sasuke sambil menyamankan dirinya di kursi bersandaran tinggi. Sekarang masih pukul 5 pagi, tapi rupanya pemuda bergaya rambut tidak biasa itu sudah bangun untuk melakukan olah raga pagi. Jangan ditanya bagaimana Sasuke bisa mendapatkan bentuk otot di tubuhnya kalau pemuda itu hanya diam sambil bermalas-malasan saja. Lain lagi ceritanya dengan Shikamaru yang walau pun sering tidur tapi juga selalu menghabiskan separuh dari jam tidur delapan belas jamnya dengan berada di dalam ruang fitness di rumahnya.

"Aku bukan tipe orang yang suka ingkar janji."

.

.

.

"Kenapa aku harus memakai pakaian seperti ini." Protes gadis berambut pink itu saat menyadari penampilannya yang berkesan sangat mengundang. Jemari-jemari panjangnya dengan gemas meremas ujung roknya yang diberi renda.

Sasuke tersenyum kecil mendengar penuturan gadis yang sedang berdiri di hadapannya dengan canggung, lihat saja penampilan Sakura sekarang. Gadis itu mengenakan seragam pelayan berwarna hitam dengan banyak renda yang menghiasi rok-nya yang 15 centi di atas lutut.

Sudah bisa dipastikan, hanya dengan menunduk sedikit saja, maka apa yang tersembunyi dibaliknya akan terlihat. Gadis itu juga mengenakan pita hitam yang menghiasi kepalanya, hingga membuat penampilan gadis itu menjadi semakin menggoda.

"Kau terlihat bagus." Komentar Sasuke seadanya. Padahal dalam hati, pemuda itu sudah siap meledakkan tawa sekencang-kencangnya.

"Apanya yang bagus. Dasar ayam mesum sialan." Teriak Sakura frustasi. Wajahnya memerah menahan marah dan juga malu karena merasa dirinya telah dilecehkan. Dalam hati dia bersumpah akan membalas pemuda itu bagaimana pun caranya.

Tugas pertama. Kebun!

"Yang benar saja. Apa kau sudah tidak waras." Sakura menatap Sasuke dengan pandangan skeptis yang menusuk.

"Kenapa kau harus cerewet sekali? Tidak bisakah kau diam dan lakukan saja!" Gerutu Sasuke sambil duduk dibangku santai dan meneruskan kembali kegiatan membacanya yang tertunda.

Dengan tidak ikhlas dan sambil menghentak-hentakan kakinya dengan kesal, Sakura mengambil peralatan berkebun yang telah disiapkan dan mulai menaiki tangga yang diletakkan persis di depan sebuah pohon cemara. Dan tugas pertamanya adalah memangkas ujung-ujung pohon yang tidak teratur agar terlihat sempurna.

Gadis itu tetap menggerutu sambil memotong-motong pohon cemara dengan asal. Ditempat lain, seekor kucing melenggang dengan santainya di depan seekor anjing penjaga yang sedang tertidur. Tapi rupanya anjing itu menyadari kehadiran sang musuh bebuyutan sehingga membuat kedua mata binatang berindera penciuman tajam itu menjadi waspada. Sejurus kemudian terdengar suara anjing dan kucing yang saling bersahutan.

Kedua makhul berbulu itu saling mengejar, si anjing sepertinya sama sekali tidak memperdulikan kondisinya yang masih terikat pada rantai penjaga. Berlari persis di bawah tangga yang Sakura jadikan penyangga untuk memotong ujung-ujung pohon. Sakura maupun Sasuke sama sekali tidak menyadari rantai anjing yang melilit kaki tangga hingga kemudian keseimbangan tangga menjadi goyah dan membuat gunting rumput yang sedari tadi berada di cengkraman tangan nya terlempar ke udara dan melayang persis beberapa centi dari kepala Sasuke yang duduk di beranda mengawasi cara kerja Sakura.

"Gyaaaa….." tubuh Sakura terlempar dan jatuh persis di atas semak-semak bunga.

Belum berakhir sampai di situ, gunting rumput yang dengan tragisnya hampir mendarat di kepala Sasuke itu sekarang melayang menebus kaca ruangan hingga menyebabkan pecahan kaca berhamburan dilantai, melesat melewati sebuah lampu hias hingga tali yang menyangga lampu itu putus dan menghantam lantai dengan suara pecahan mengerikan, lalu kemudian berhenti persis di atas sebuah hiasan lilin aroma terapi yang digantung di dinding hingga terjatuh ke lantai dan menyebabkan percikan api.

Pemuda itu sontak membeku, kalau ujung gunting rumput itu menancap di kepalanya, habis lah sudah riwayatnya. Asap yang mengambang di udara terdeteksi oleh fire sprinkle system yang di pasang dilangit-langit ruangan, alarm tanda bahaya berbunyi dan segera saja menyebabkan kepanikan diseluruh manshion Uchiha. Seluruh tubuhnya basah kuyup karena air yang mengguyur dari kepala sprinkle saat menyerap adanya kalor yang terbakar..

Sasuke menatap Sakura dengan pandangan nyalang yang menusuk. Gadis itu sekarang sedang duduk di atas semak-semak bunga sambil meringis memegangi pantatnya yang terasa gepeng setelah mendarat di tanah dengan tidak elit nya, sadar tengah diperhatikan, gadis itu malah balas menatap Sasuke dengan tampang dipenuhi cengiran tidak bersalah.

Hari pertama dinyatakan gagal!

Tugas kedua. Dapur!

"Ini." Seorang wanita paruh baya yang juga bekerja sebagai pelayan di keluarga Uchiha menyerahkan setumpuk pakaian kotor ke tangan Sakura. "kau harus mencuci semua pakaian ini sampai benar-benar bersih. Masukan ke dalam sana." Wanita itu menunjuk sebuah mesin cuci di pojok ruangan.

Gadis itu hanya menatap kepergian wanita tua itu dengan bahu yang terangkat heran. Di masukan nya semua pakaian kotor itu ke dalam mesin cuci dan kemudian menumpahkan semua deterjen kedalamanya. Awalanya gadis itu hanya memasukkan sedikit saja, tetapi kemudian Sakura melongokan kepalanya ke dalam mesin cuci dan berpikir sepertinya deterjen segitu tidak akan cukup untuk membersihkan semua tumpukan pakaian kotor itu. Jadi dia masukan semua deterjen yang tersisa.

"Beres." Gadis itu menepuk-nepukan kedua telapak tangannya.

Dan sekarang disini lah ia, Sakura menatap tumpukan gelas dan piring yang diletakkan di atas konter bak cuci piring dengan tampang sumringah, sama sekali bukan tumpukan piring yang menggunung itu yang membuat wajah Sakura menjadi cerah. Melainkan adanya pisang utuh yang tergeletak begitu saja di dekat tumpukan piring itu.

Sambil menggosokan busa pada piring, gadis itu dengan santainya mengunyah pisang yang tersedia di depan matanya. Lalu kemudian melemparkan kulit pisang itu begitu saja ke lantai tanpa menyadari adanya seseorang yang sedang melintas persis di belakangnya sambil membawa tumpukan pirang juga gelas. Sejurus kemudian terdengar suara pecahan kaca dibarengi dengan suara orang meringis kesakitan. Semua barang yang ia bawa hancur berantakan menjadi serpihan dilantai.

Gadis itu menoleh dan terkejut saat mendapati seorang pelayan wanita sedang merintih kesakitan sambil memegangi pantatnya yang terasa sakit.

"Ya ampun. Apa yang kau lakukan? Apa yang terjadi padamu?" tanyanya polos, sama sekali tidak sadar bahwa dirinya-lah yang telah menyebabkan semua kekacauan ini.

Belum habis satu masalah, tiba-tiba saja terdengar suara orang-orang yang berteriak panic sambil berlari keluar dari dalam dapur dan disusul kemudian terdengar seura ledakan mengerikan dari arah belakang. Usut punya usut, ternyata suara ledakan mengerikan itu berasal dari mesin cuci yang beberapa saat yang lalu baru saja Sakura tinggalkan. Hal itu terjadi karena mesin cuci itu tidak kuat menahan beban cucian hingga menyebabkan semua pakaian kotor yang menggunung tumpah ruang kesegala arah.

Hari kedua. Gagal!

.

.

.

Menilik kegagalan yang telah terjadi di-dua tempat sekaligus, Sasuke memijat pelipisnya yang terasa berdenyut setelah menyaksikan sepak terjang gadis itu, yang hanya kurang dari 48 jam setelah bekerja telah sanggup memporak-porandakan separuh dari isi rumahnya, membuat pemuda itu harus berpikir ekstra hati-hati untuk menempatkan Sakura ditempat yang tidak membahayakan. Mengingat gadis itu pernah nyaris sekali hampir membuat nyawanya melayang. Dan juga telah sepakat pada dirinya sendiri untuk menjauhkan Sakura dari kedua tempat itu.

Kali ini Sakura ditempatkan khusus untuk bertugas di koridor, membersihkan semua tempat yang dirasa cukup aman, jauh dari api, benda tajam yang berbahaya dan dari sesuatu yang bisa meledak.

Mata gadis itu melotot maksimal saat menyaksikan betapa panjang lorong-lorong dirumah utama Uchiha itu, dan juga banyaknya lukisan terpajang di dinding yang harus ia bersihkan.

Yang paling membuat frustasi adalah fakta bahwa Sasuke ternyata adalah tipikal pemuda yang menderita obesif-kompulsip akut. Pemuda berambut raven itu akan berkomentar dengan pedas saat mendapati tumpukan debu meskipun hanya seinci melekat dibagian dalam rumahnya dan kembali memerintahkan Sakura untuk membersihkan tempat yang sama berulang-ulang kali. Membuat gadis berambut soft-pink itu mengerang frustasi.

"Apa ini, masih ada debunya. Bersihkan lagi." Ucap pemuda itu tajam sambil kedua matanya memperhatikan pekerjaan yang Sakura lakukan.

Belum lagi habis siksaan yang Sasuke berikan pada Sakura, tubuh gadis itu kembali diseret ke sebuah tempat dimana semua barang yang tidak terpakai diletakkan dan ditumpukkan menjadi gunungan debu yang sangat tebal. Gudang.

"Aku tidak mau. Aku akan mati karena sesak nafas." Sakura menjerit kesal melihat tupumkan debu menggunung yang harus ia bersihkan.

Gadis bermata emerald itu melempari semua barang-barang yang berada dalam jarak jangkauannya karena kesal, sama sekali tidak berniat merapikan tempat itu seperti yang Sasuke perintahkan. Matanya menangkap siluet sebuah benda menarik yang teronggok begitu saja dipojok ruangan. Sepatu roda. Segera saja wajah gadis itu dipenuhi cengiran, meskipun sempat bersin-bersin beberapa kali.

"Awas…minggir..minggir.!" gadis itu berteriak histeris saat tubuhnya melesat dengan cepatnya di lorong manshion keluarga Uchiha tanpa bisa dikendalikan.

Tadinya gadis itu sempat berpikir untuk mengetes sepatu roda yang secara tidak sengaja telah dia temukan di gudang, dan ternyata roda roller-skate itu macet dan tidak bisa dikendalikan lajunya saat dipakai. Jadilah sekarang gadis itu melaju dengan kecepatan mengerikan dan nyaris saja menabrak seorang pelayan yang sedang membawa hidangan makan malam untuk disajikan. Untunglah sang pelayan pria itu berhasil mengendalikan keseimbangan tubuhnya dengan baik.

Sial bagi Sakura, tepat pada saat itu, tepat saat itu seorang pelayan membuka sebuah pintu besar yang berada persis di tengah ruangan dan langsung tersentak kaget saat Sakura melesat ke arahnya. Dengan panik pelayan pria itu menyingkir dari depan pintu dan menyebabkan Sakura meluncur dengan bebas masuk ke dalam ruangan tanpa bisa dicegah, dan baru berhenti setelah dengan sukses menabrak sebuah patung.

"Aduuhhh…" gadis itu meringis sambil memegangi sikutnya yang lecet karena menabrak patung.

"Sakura." Sasuke berteriak dengan panik saat menyaksikan Sakura menabrak sebuah patung hingga menyebabkan lengannya cidera.

Selang berapa lama, patung dewa Helios yang Sakura tabrak beberapa saat lalu, tiba-tiba saja bergoyang dan kemudian jatuh menimpa patung yang ada disebelahnya. Kejatuhan secara beruntun itu menyebabkan semua patung yang disusun berurutan itu jatuh hingga benar-benar tidak ada lagi patung yang dalam kondisi utuh tanpa menjadi puing-puing tidak berguna.

"Aku bisa menjelaskan semuanya."

Hari ketiga. Gagal total.

Dan ternyata kebar-baran Sakura tidak berhenti sampai di situ saja. Pernah Sasuke membawa seorang gadis yang dia kencani ke dalam manshion Uchiha dan dengan tanpa dosa Sakura meletakkan ular karet yang entah dia dari mana ke dalam bak mandi berisi air hingga membuat teman kencangnya itu menjadi sangat ketakutan. Bukannya merasa bersalah, Sakura malah dengan terang-terangan mentertawakan kepanikan gadis itu.

Gadis berkebangsaan ganda itu mengumpat dengan bahasa jerman kasar sambil jari jenjangnya menuding ke arah Sakura yang semakin mengeraskan suara tertawanya saat mendengar kata-kata yang tidak pantas didengar telinga itu. Malah Sakura sudah nyaris berguling-guling dilantai saking gelinya sambil mengetatkan cengkramannya pada perutnya yang sekarang mulai terasa sakit.

"Bagaimana bisa kau bahkan tidur dengan wanita murahan yang rela menjual diri dan kehormatannya demi uang."

Sasuke melirik ke arah Sakura yang sekarang sedang bersandar dipintu dengan tampang pura-pura prihatin. "Sayangnya itu sama sekali bukan urusanmu." Sasuke tahu kalau Sakura memang berada satu ruangan dengan dirinya saat dia dan teman kencan nya sedang makan malam berdua, tapi dia tidak tahu kalau gadis itu mengerti kata-kata yang diucapkan teman kencan nya yang memang besar di Negara asalnya, yakni jerman.

"Sepertinya kau bahkan sudah kekurangan stok gadis untuk dikencani. Dia sama sekali tidak ada harganya."

Sasuke diam tidak menjawab, Sakura terdiam saat menyadari kesalahan yang dia buat. Sasuke baru saja berbicara dengan menggunakan bahasa Jerman padanya, dan sialnya, secara tidak sengaja ia telah berbicara dengan bahasa yang sama karena terpancing pernyataan Sasuke.

"Huh, aku tidak tahu kau bisa bicara bahasa jerman." ucap Sasuke datar.

Sudah terlambat, Sasuke berhasil menangkap kegelisahan yang coba Sakura tutupi melalui ekor matanya. Tapi kemudian gadis itu bisa mengendalikan emosinya kembali.

"Aku ini pada dasarnya cerdas. Jadi kau jangan meremehkan aku." Setelahnya gadis itu berlalu begitu saja dari hadapan Sasuke.

Sasuke memperhatikan pintu tempat yang dilewati Sakura beberapa saat yang lalu, sejak awal Sakura memang tidak menunjukan adanya tanda-tanda orang kalangan kelas menengah ke bawah. Gadis itu terlalu cerdas untuk ukuran orang yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal sama sekali. Dan sekarang kecurigaan pemuda itu semakin menguata dengan adanya pembuktian kalau gadis itu ternyata bisa berbicara dalam banyak bahasa sekaligus.

Bukannya Sasuke tidakmendengar saat Sakura mengumpat, mengutuki dirinya menggunakan makian kasar sambil melemparkan batu ke sebuah pohon Sakura yang tumbuh di halaman belakang dengan beringas dalam bahasa Francis, dan kemudian disusul gerutuan jangka pendek dalam bahasa korea saat gadis itu dipanggil masuk ke dalam ruangan untuk meneruskan pekerjaannya.

.

.

.

"Aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan padamu. Kau sudah menghancurkan rumahku. Pertama, kau nyaris membunuhku dan kemudian kau meledakkan dapur ku dan seperti itu bahkan belum cukup, kau menghancurkan semua koleksi patung dewa matahari di ruangan kesayangan kakakku." Sasuke berteriak persis di depan wajah Sakura. Ibu jarinya menunjuk ke arah pintu, Sakura dan kemudian kembali ke-dirinya sendiri

"Kenapa kau jadi marah-marah padaku. Aku kan sama sekali tidak sengaja." Sakura mendengus membuang muka, kesal karena terus disalahkan. Lagi pula, bukankan sejak awal dia sudah pernah mengatakan kalau ia tidak bisa melakukan perkerjaan rumah sama sekali. Jadi seharusnya sekarang Sasuke tidak menyalahkan Sakura kalau semua ini justru malah merugikannya.

Sasuke menghela nafas panjang. Urat saraf di otaknya sudah terlalu tegang untuk sekadar berdebat dengan gadis itu. Dia harus mencari cara untuk memetieskan kerusakan yang di akibatkan oleh gadis itu. Seakan-akan Sakura akan menghancurkan semua yang berada dijarak jangkauannya dengan hanya sekali sentuh.

"Kalau saja kita bisa membotolkan kesialanmu. Aku pasti sudah memiliki senjata pemusnah masal di tanganku." Sasuke berkomentar skeptis, mengutip kata-kata yang pernah diucapkan Edward Cullen dibuku Twilight-Saga karya Stepeni Meyer.

"Ooh…jadi kau ingin berkata bahwa aku ini membawa sial. Begitu maksudmu." Sakura berseru kesal, sambil menatap Sasuke dengan sengit.

"Aku tidak pernah berkata seperti." Pemuda itu sudah benar-benar lelah sekarang. Dia bosan dengan pertengkaran mereka yang seperti tidak ada habisnya.

"Iya kau berkata seperti itu, seakan-akan akulah yang berkeras untuk mengerjakan semua hal konyol itu. Dasar menyebalkan." Teriakan Sakura sudah nyaris mendekati kalap.

"Kau itu bisa diam tidak. Aku sedang berpikir." Ucap Sasuke tidak kalah sengit.

Sakura mendengus membuang muka dan kemudian memutar bola matanya dengan lagak dramatis.

.

.

.

Besoknya Sakura terbangun secara tiba-tiba karena dikejutkan oleh suara teriakan yang mengerikan persis dicuping telinganya. Gadis itu mengelus dada sambil berusaha mengumpulkan kembali nyawanya yang sempat tercecer.

Seorang wanita paruh baya yang bahkan masih kelihatan berwibawa diusianya yang telah menginjak kepala tujuh, berdiri menjulang dengan angkuhnya di hadapan Sakura dan dengan tegas memerintahkan gadis itu untuk segera berada di kamar Sasuke untuk menyiapkan segala keperluan tuan muda yang satu itu sebelum berangkat ke sekolah.

Suara rendah bernada otoriter tegas itu membuat semua nyali Sakura ciut entah ke mana. Dengan pasrah, gadis itu menyeret langkahnya untuk pergi ke kamar Sasuke, menyiapkan air panas dan segala perlengkapan ke sekolah sebelum membangunkan pria muda berkuasa itu untuk mandi dan sarapan.

Sasuke yang telah merasa sangat frustasi terhadap huru-hara yang Sakura akhirnya memutuskan untuk meminta secara khusus pada nenek Kaede yang merupakan kepala pelayan kepercayaan keluarga Uchiha untuk turun tangan dan mengandaskan harapan wanita tua itu untuk menikmati masa tuanya dimasa pensiun.

Walaupun Sasuke tidak mengatakan secara langsung, tapi wanita yang telah merawat Sasuke seumur hidupnya itu mengerti kalau tuan muda kesayangannya itu sedang memiliki masalah yang cukup serius hingga memutuskan untuk menunda masa pensiunnya hingga masalah Sasuke benar-benar selesai.

Gadis itu melirik kearah jam dinding mewah yang baru menunjukan jam 5 pagi dan kemudian kembali lagi ke arah Sasuke yang masih bergelung pulas di bawah selimut tebal. Apa si pantat ayam ini tidak bisa membangunkan dirinya sendiri sehingga harus ia yang melakukannya. "Pantat ayam. Ayo bangun!" Sakura menarik paksa selimut yang menutupi tubuh pemuda itu dengan kasar.

Mata Sakura melotong nyalang saat ternyata Sasuke justru malah balik menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya. Tidak berapa lama terjadilah adegan tarik-menarik diantara mereka berdua, yakin tidak akan memenangkan pertempuran, akhirnya Sakura hanya duduk diam di samping tempat tidur Sasuke sambil menatap wajah damai pemuda berambut raven itu.

Kalau dia tidak segera membangunkan pemuda di hadapannya ini, kemungkinan besar, dia akan kena damprat oleh nenek tua yang mengerikan itu. "Sasuke. Ayo bangun." Sakura menguncang-guncangkan tubuh Sasuke denga keras. "Kau akan membuatku dalam masalah kalau kau tidak segera bangun, pantat ayam!"

Tiba-tiba saja Sasuke menarik Sakura hingga terjatuh ditas tubuhnya dan kemudian berputar menindih gadis itu dibawah tubuhnya. Sasuke mengunci gerakan Sakura hingga tidak bisa bergerak. Onyx bertemu emerald.

"Sekali lagi kau menyebutku pantat ayam, kau akan rasakan sendiri akibatnya."

Bukannya takut, Sakura justru malah dengan lancang menetang sepasang mata elang yang menyipit tajam dihadapannya. "Huh.. Kau pikir aku takut padamu!" gadis itu mendengus meremehkan.

Sasuke menyeringai, jenis seringai nakal yang sanggup membuat para gadis yang melihat pingsan seketika. "Kalau begitu ini pernyataan perang. Deal, kau memang gadis yang menarik."

Sasuke menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka yang saling mendempet dengan selimut saat mendengar suara langkah kaki yang mendekat. Dan kemudian melongokan kepalannya keluar selimut saat mendapati seorang wanita tua berdiri disamping tempat tidurnya. Sakura berontak dibawah tubuh Sasuke yang mmenghimpit tubuhnya hingga tidak bisa kalau dia ketahuan, mungkin saja dia akan menerima hukuman dari wanita tua yang menegrikan itu.

Wanita paruh baya itu membungkuk hormat pada Sasuke yang sengaja memasang tampang baru bangun tidurnya. "Selamat pagi tuan muda."

"Hn, kenapa nenek bisa ada disini? Bukankah nenek seharusnya mengurus pelayan baru itu untuk dijadikan asisten pribadiku."

"karena itulah saya kemari, untuk memastikan apakah gadis itu melaksanakan tugasnya dengan baik atau tidak."

Sakura melotot dibawah tubuh Sasuke. Jadi itu alasan Sasuke mendatangkan wanita tua itu, untuk menyiksanya seperti ini. Keterlaluan. Sakura menggeram sambil mencubit lengan Sasuke hingga membuat pemuda itu mengaduh kesakitan.

"Aduuh." Sasuke meringis sakit saat merasakan tangan berkuku panjang dikulitnya. Segera saja tangannya bertindak untuk menghentikan penganiyaan tangan Sakura pada kulitnya dan menyingkirkan kedua tangan yang sedari tadi diletakan didadanya hingga dada mereka sekarang bebas saling menempel satu sama lain. Sasuke menepis pikiran-pikiran kotor dikepalanya saat merasakan benda asing menempel didadanya yang telanjang.

"Ada apa Sasuke-Sama?"

"tidak apa-apa, nenek boleh pergi sekarang. Aku akan bersiap-siap."

Begitu kepala pelayan senior itu sudah berlalu dari hadapan Sasuke, pemuda berambut raven itu segera kembali memasukan kepalanya kedalam selimut dan menatap wajah Sakura yang memerah menahan kesal.

Sakura meletakan kedua tangannya didepan dada Sasuke, berusaha mendorong pemuda itu menjauh dari tubuhnya. Tapi Sasuke bergeming dan tetap mempertahankan posisi awal mereka.

"Menjauhlah dariku, pantat ayam." Seru Sakura sengit.

"Coba saja kalau kau bisa mendorongku." Sasuke malah membalas Sakura dengan memberikan tantangan.

Mata mereka saling bersirobok, wajah Sasuke semakin dekat dengan wajahnya. Kurang dari beberapa centi lagi maka kedua bibir mereka akan bersentuhan, Sakura bahkan bisa merasakan hembusan nafas pelan pemuda raven itu diwajahnya. Kedua tangannya yang sedari tadi berada di depan kedua dada Sasuke sekarang telah berpindah di atas kedua kepalanya

Sakura secara refleks menelengkan wajahnya kesamping saat Sasuke mulai menjilati permukaan lehernya yang sensitive. "Apa yang kau lakukan, ayam mesum." Sakura berteriak sejadi-jadinya didepan wajah Sasuke. Tapi pemuda itu malah semakin mengembangkan senyumanya.

"Hmmp…!" Sasuke membungkam mulut Sakura dengan bibirnya, membuat gadis itu semkin berontak di bawah tindihan tubuhnya. Digigitnya permukaan bibir Sakura dengan kasar hingga gadis itu refleks membuka mulutnya, tidak disia-siakannya kesempatan itu, segera dimasukannya lidahnya untuk menjelajahi bagian dalam mulut Sakura.

Sasuke melepaskan lumatannya pda bibir gadis itu dengan nafas yang memburu, wajah keduanya sekarang benar-benar sangat merah. Tangan Sasuke meraih dasi sekolahnya yang tergelatak begitu saja diatas meja dan kemudian mengikat tangan Sakura di kepala tempat tidur.

"Mau apa kau?"

Sasuke menyeringai. "Menurutmu."

Keringat dingin mengalir dipelipis Sakura. Sebisa mungkin dia berusaha menepis pikiran buruk tentang apa saja yang akan Sasuke lakukan padanya.

"Kau pernah menuduhku mencoba memperkosamu kan? Kurasa tidak ada salahnya kalau tuduhan itu kita jadikan kenyataan." Wajah Sakura langsung berubah warna menjadi hijau, gadis itu memucat karena ketakutan. Detak jantungnya segera saja berpacu menjadi semakin cepat.

Demi Kami-Sama, dia tidak akan pernah mau merendahkan harga dirnya untuk memohon pada pemuda pantat ayam yang sok kuasa itu.

Posisi Sasuke yang sekarang duduk diatas perut Sakura, memudahkan pemuda itu untuk meneliti perubahan wajah Sakura yang tertangkap jelas oleh kedua mata tajamnya. Kedua tangan besar Sasuke bergerak untuk merobek bagian atas pakaian Sakura hingga apa yang tersembunyi dibaliknya terlihat dengan sangat jelas, menampakan kedua gundukan payudara gadis itu yang masih tertutupi bra hitam.

"Arrrggghhhh…" Sakura sudah seperti orang kesetanan, gadis itu memberontak sekuat-kuatanya, tapi rupanya dasi yang digunakan Sasuke untuk mengikat tangannya jauh lebih kuat. Dan sialnya sekarang kedua pergelangan tangannya mulai terasa sakit.

"Lepaskan aku." Teriak Sakura tajam.

"Tidak akan pernah. Kecuali kau memohon padaku."

"Kau boleh bermimpi, Uchiha." Sakura mendengus membuang muka dengan lagak sombong.

Ck ck ck… betina satu ini sepertinya memang pantas diberi pelajaran. Sasuke tersenyum, lalu kemudian kembali merrobek pakain bagian atas Sakura hingga benar-benar tidak bisa diselamatkan lagi.

"Hentikan. Baik, aku menyerah." Segera saja Sakura mengibarkan bendera putih sebelum Sasuke benar-benar menelanjanginya.

Sasuke menurunkan tubuhnya dari atas tubuh Sakura dan duduk disamping tempat tidur sambil menatap keadaan tubuh Sakura yang cukup mengenaskan. Karya yang sempurna, akan lebih sempurna lagi kalau tadi gadis itu tetap berkeras untuk menentangnya.

"Katakan dulu! 'Saya minta maaf Sasuke-Sama. Dan saya berjanji tidak akan bersikap kurang ajar pada anda lagi."

Sakura memelingkan wajahnya kesamping, terlihat semburat merah diwajahnya yang seputih porselen. "Saya minta maaf Sasuke-Sama. Dan saya berjanji tidak akan bersikap kurang ajar pada anda lagi."

"Anak baik." Ucap Sasuke sambil mengelus lembut pipi pucat Sakura, dan kemudian melepaskan ikatannya pada tangan gadis itu.

Sasuke melangkahkan kakinya pada lemari pakaian yang ada dipojok kamar dan mengambil jaket berwana biru muda dari dalam lemari, pemuda itu melemparkan jaket kesayangannya itu pada Sakura yang memegangi kedua lengannya yang memerah.

"Pakai itu." Perintah Sasuke.

"Untuk apa?" Wajah Sakura berkerut bingung. Bodoh, seharusnya gadis itu tidak bertanya lagi setelah melihat keadaan dirinya sekrang ini.

.

.

.

"Ayo cepat." Sasuke berteriak pada Sakura yang sudah tertinggal jauh darinya seperti seorang jenral lalim yang menyiksa bawahannya yang tidak berdaya. "Kau itu lambat sekali."

"Kita berhenti dulu Sasuke, aku sudah tidak kuat!" Sakura hamping saja membaringkan tubuhnya diaspal kalau pemuda itu tidak segera menghampirinya dan menggenggam tangannya erat, memaksanya kemabali berlari. Sama sekali tidak menghiraukan kata protes yang meluncur dari mulut gadis itu, ataupun penampilan Sakura yang hanya menggunakan jaket biru kesayangan Sasuke ditubuh Sakura yang mungil.

Setelah insiden hampir telanjang yang terjadi dikamar pribadi Sasuke, entah bagaimana ceritanya Sasuke berhasil memaksa gadis berambut soft-pink itu untuk menemaninya melakukan aktifitas pagi. Yakni keliling disekita manshion uchiha yang, astaga! Tidak bisa diremehkan luasnya.

Nama lainnya. Wajib militer!

"Tidak ada alasan." Sasuke kembali menarik Sakura kembali ke lintasan dan memaksanya meneruskan jogging, sambil tetap menggenggam erat tangannya.

"Sebentar saja Sasuke, aku serius." Sakura melambaikan tangannya pada seorang pelayan yang sedari tadi berdiri untuk melakukan tugas hariannya, yakni mengawasi Sasuke saat pemuda itu melakukan rutinitas paginya. "Kojiro-kun. Minta air! Setengah gelas aja juga tidak apa."

"Tidak ada air." Tolak Sasuke tegas. Memasuki putaran kelima, Sakura sepertinya sudah lari dalam keadaan pingsan.

Didetik-detik terakhir selagi sang pelayang yang sepetinya terlihat amat tampan di mata Sakura masih kelihatan berdiri ditempatnya yang sama menunggu Sasuke, sekali lagi Sakura menjeritkan permohonannya.

"Air kojiro-kun. Sungguh!"

Sang pelayan hanya bisa menatap bingung. Diambilkan atau tidak, pasalnya Sasuke lah yang memiliki kuasa dan dia tidak mungkin menentang kata-kata majikannya itu. Lima belas menit kemudia sang pemesan muncul kembali, dengan kondisi yang semakin mengenaskan dan tetap memesan segelas air dengan suara yang terputus-putus.

"A..air…Kojiro-kun…tolong…!"

Kojiro hanya bisa berdiri diam ditempatnya. Minta tolong apa minta minum.

Setelah lima belas putaran hampir mencabut nyawa, Sakura benar-benar tidak habis pikir bagaimana Sasuke masih memiliki tenaga untuk berniat menyeret tubuhnya keputaran selanjutnya. Otak Sakura segera saja berputar dengn cepat.

Tubuh gadis itu terjatuh dan kemudian tergeletak begitu saja ditanah, membuat Sasuke menjadi agak panic. Disangganya tubuh gadis itu didadanya.

"Sakura. Sakura. " tidak ada jawaba, kedua mata gadis itu tetep terpejam.

Segera saja Sasuke menggendong tubuh Sakura ala bridal-style dan membawa tubuh gadis itu kembali menuju ke manshion uchiha.

"Aku tidak tahu kalau kau ternyata gampang tertipu." Sindir Sakura yang membuka matanya saat pemuda itu menggendongnya masuk kedalam manshion. Menatap dalam wajah Sasuke yang berada persis diatas wajahnya, mulai dari rahagnya yang tegas, tulang pipinya yang tinggi, bibirnya yang tipis dan merah menggoda, hidungnya yang mancung hingga kedua mata hitamnya yang selalu menyorot tajam hingga mampu membuat kaum hawa bertekuk lutut.

Sasuke hanya diam tidak menjawab dan pemandanggan yanga da dihdapan Sakura sekarang mampu membuat gadis itu terdiam seketika. Ternyata Sasuke membawanya menuju ke kolam berenang in-door yang ada di manshion uchiha dan sudah bersiap di pinggir kolam untuk melemparkan tubuh gadis yang berada di gendongannya itu kedalam air.

"Turunkan aku." Teriak Sakura saat gadis itu menyadari gelagat Sasuke yang akan melemparkannya kedalam kolam.

"Kau ingin air kan. Sekarang akan kuberikan padamu." Komnter Sasuke.

Sakura berontak, tapi tentu saja sekali lagi Sasuke memang jauh lebih unggul dari dirinya dari segi kekuatan. "Tidak…Jangan…" Sakura menutup matanya saat merasakan tubuhnya melayang diudara dan mendart di air kolam yang tidak terlalu dingin karen ini masih musim panas.

Sakura segera bergerak kebibir kolam dan ganti menarik kaki Sasuke hingga pemuda itu kehilangan keseimbangan dan merasakan bagaimana sakitanya saat permukaan air kolam menampar wajah dan seluruh tubuhnya karena Sasuke masuk kedalam air dengan posis permukaan wajah lebih dahulu seteleah tubuh pemuda itu sempat berputar sekali di udara sebagai tindakan refleks.

"Apa yang kau lakukan. Kau berniat membunuhku ya."

"Iya." Tegas Sakura lantang. "kau memang pantas untuk mati. Dasar ayam mesum sialan." Sakura memercikan air kearah Sasuke hingga mata Sasuke menjadi terasa perih.

"Hentikan, hentikan kataku." Sasuke mencengkram erat kedua pergelangan tangan Sakura hingga kegiatan gadis itu terhenti seketika.

Saat itu-lah pandangan mereka saling bertemu. Wajah mereka sangat dekat. Entah siapa yang memulai lebih dulu, ketika bibir mereka sekrang justru saling menempel. Sakura memejamkan matanya saat merasakan lidah Sasuke yang bergerinjal menjilati permukaan bibirnya dengan lembut meminta akses masuk, sangat berbeda saat mereka melakukannya dikamara pemuda itu, saat itu Sasuke terkesan kasar dan mendominasi.

Lidah mereka saling membelit satu sama lain, berusaha untuk saling menginvasi pertahanan masing-masing. Tapi Sakura kalah cepat, Sasuke jauh lebih berpengalaman hingga akhirnya lidah Sasuke menerobos masuk dan menjelajahi bagian dalam mulutnya. Membuat Sakura mengerang dalam pelukan Sasuke. Entah apa yang ada dipikiran mereka saat itu, Sakura merasa semuanya kabur sekarang, yang ada dipikirannya hanyalah pemuda raven yang sedang mendekapnya erat. Sesuatu berdesir di dada mereka. Benang saliva menghubungkan keduanya ketika ciuman itu berakhir.

Kedua anak manusia itu terdiam, ada hal ganjil yang tertangkap otak mereka. Kalau memang mereka sama sekali tidak memiliki rasa satu sama lain, lantas kenapa mereka melakukan ciumanan itu.

Sakura tersenyum, mengabaikan sesuatu yang berkecamuk di dadanya. "Mau balapan denganku?" gadis itu melepaskan jaket yang menyelebungi tubuhnya beserta sepatu ketsnya, menyisakan bra hitam dan celana pendek yang membalut tubuhnya dengan senmpurna.

Seulas senyuman menawan tersungging diwajah Sasuke. "Boleh saja."

Sebelum Sasuke berhasil melepaskan kaos yang menempel pada tubuhnya, Sakura sudah lebih dulu menggerakan tubuhnya untuk berenang ke ujung kolam yang satunya. Tapi sebelum Sakura sampai menyentuh permukaan bibir kolam, permuda itu ternyata jauh lebih cepat daripada perkiraan. Sekarang gadis itu justru malah terkurung direntangan kedua lengan kokohnya dan tersudut dipojokan kolam. Tubuh mereka saling menempel erat.

To be continued.

R

E

V

I

E

W

If you don't mine.

Special thanks:

Chini VAN. Rievectha Herbst. Kristal. Namina88. Uchiha Hime Is Poetry Celemoet. CyeDessy-Uchiha'chan. Ayhank-chan UchihaArlinz. Misterious Me. Laura Pyordova. UzUchiHaru Michiyo. Sweet KireIcha. Pinkybunny. Sesuatu.

Dan juga tentu pada semua silent reader yang telah bersedia meluangkan waktunya membaca karya tidak bermutu ini.