Chapter Two:


REUNION


Kediaman Hyuuga

Minggu, 16 Oktober 2011. Pukul 08.16

"Kau yakin kau tak mau ikut, Neji?" tanya Tenten ulang. Ia sudah menanyakan pertanyaan itu kira-kira dua kali sebelumnya.

"Aku tidak mau. Aku ingin di rumah saja, masih banyak pekerjaan yang harus kulakukan," jawab Neji datar sambil menuangkan ocha panas di cangkir Tenten. "Kalau hanya itu yang ingin kau katakan, cepat habiskan ocha mu dan bergegaslah pulang. Tidak baik jika seorang gadis menghabiskan waktu terlalu lama di kediaman orang lain," ucapnya sambil menyeruput ocha miliknya.

Tenten terdiam. Ia ingin sekali mengajak Neji pergi berjalan-jalan—atau yang disebutnya sebagai kencan. Tapi Neji tak mau pergi.

Tak pernah.

"Kau yakin?" Tanya gadis itu lagi sambil memandang mata Neji. Sungguh indah, mata kelabu itu.

"Aku yakin." Jawab Neji singkat, padat, dan jelas.

Tenten pun menghela nafas dan menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan kekecewaan. "Baiklah… kalau begitu, sebaiknya aku pulang sekarang saja." Ia meraih tasnya dan berjalan menuju pintu keluar.

"Kau yakin kau tak mau menghabiskan ochamu, Tenten?"

Tenten menggeleng, "Tidak usah… maaf sudah merepotkan." Ia membungkukkan badannya dan membuka pintu. Tepat saat pintu terbuka, sudah ada orang lain yang berdiri di depannya—seorang gadis berambut azura panjang.

"Lho? Hinata?" Tanya Tenten kaget.

"Ohayou, Tenten-san… lama tidak bertemu," sapa Hinata sambil membungkukkan badan. "Sudah mau pergi?"

Tenten melirik ke tempat Neji duduk. "Iya… sepertinya Neji masih sibuk." Tenten tersenyum getir. "Mungkin lain kali aku akan kemari lagi. Aku duluan ya, Hinata." Tenten melambaikan tangannya dan pergi. Sedangkan itu, Hinata masih membatu di depan pintu. Ia takut sepupunya curiga karena ia tidak pulang semalam. Namun setelah memberanikan diri, Hinata menarik nafas sedalam-dalamnya dan menapakkan kaki kecilnya di dalam rumah.

"A-aku pulang…"

Neji yang duduk di sofa melirik ke arah pintu saat menyadari kepulangan sepupunya. Namun selang beberapa detik, ia kembali sibuk dengan ochanya.

Lega karena tak ada respon dari sepupunya itu, Hinata lalu berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Namun sesaat sebelum membuka pintu, suara Neji tiba-tiba menghentikannya.

"Darimana saja kau?" tanyanya dingin tanpa mengalihkan pandangan dari cangkirnya.

Hinata membalikkan badan, "Itu…"

"Kenapa kau tidak pulang semalam?" Matanya pun akhirnya menatap Hinata. "Apa yang kau lakukan?"

Hinata mulai panik. Ia tidak bisa berpikir dengan tenang. Ia tak mungkin menjawab bahwa semalam ia kehilangan keperawanannya pada Uchiha Sasuke. Jadi, ia hanya mengatakan apapun itu yang terlintas di kepalanya, "Aku… me-mengerjakan skripsi di rumah guru Kurenai," jawabnya begitu saja.

Mendengar itu, Neji mengernyitkan alisnya. Matanya mengobservasi Hinata dari atas ke bawah dalam upaya untuk mencari kejanggalan. "Jadi… semalam kau ada di rumahnya?" tanyanya lagi.

Hinata hanya mengangguk. Dalam beberapa saat, hening pun menyelimuti.

"… Oh." Dan dengan satu kata itu, Neji mengambil kembali cangkirnya dan membawanya ke dapur.

Setelah sosok Neji tak terlihat lagi, Hinata menghela nafasnya dan segera masuk ke dalam kamar mandi. Dibukanya satu demi satu pakaian yang ia kenakan. Dan dengan hati-hati, ia melihat bayangannya di cermin.

Leher dan dadanya dipenuhi tanda kemerahan—yang menurut asumsi Hinata adalah bekas kiss-mark Sasuke. Bibirnya pucat, mungkin karena darah di dalamnya sudah banyak terkuras. Dan yang satu hal yang membuat Hinata mengernyit jijik: darah yang mengucur dari daerah kewanitaannya. Ya, tanda itu kini sudah agak mengering. Tapi tetap saja, sangat… tidak enak dipandang.

Hinata menghela nafas. Ia sudah tidak perawan lagi. Ia merasa sungguh bodoh; bodoh karena mencari masalah dengan rasa patah hatinya, dan bodoh karena telah kalah dari rasa itu.

Bodoh. Bodoh sekali.

…****…

Distrik Perbelanjaan Konoha

Minggu, 16 Oktober 2011. Pukul 08.30

Lelaki itu berjalan sendirian di tengah kerumunan orang yang memadati Distrik Perbelanjaan kota Konoha. Awalnya, ia hanya mengunjungi tempat itu untuk melepas penat saja. Namun karena ia sama sekali belum sarapan—terutama setelah terbangun dengan gadis itu di ranjangnya, ia memutuskan untuk memanjakan perutnya sejenak. Namun tepat di saat yang tidak terduga itu, ia mendengar seseorang memanggil namanya. "Uchiha? Uchiha Sasuke?"

Mendengar namanya dipanggil, Sasuke segera menoleh dan melihat seseorang yang sudah lama ia tak jumpai berlari ke arahnya. "Ten…ten?" gumam Sasuke setelah lama memikirkan nama gadis itu. Terkadang Uchiha Sasuke juga bisa melupakan nama, eh?

Tenten terlihat sangat terkejut saat mengetahui bahwa tebakannya benar. Apa daya, Sasuke memang tiba-tiba menghilang tanpa kabar dari Konoha sejak tiga tahun yang lalu. Dan tak satupun orang—bahkan mantannya, Ino sekalipun—tahu dimana ia berada. "A-apa yang kau lakukan di Konoha? Darimana saja kau selama ini?"

Sasuke baru ingat bahwa ia pergi tanpa memberi kabar. "Oh, itu. Aku belajar di Kanada selama tiga tahun terakhir ini. Baru saja minggu kemarin kembali ke Konoha." Jelasnya datar.

"Wah, pantas saja. Selamat ya, atas kelulusannya." Tenten menjabat tangan Sasuke sambil tersenyum, Sasuke juga menjabat tangannya balik.

"Ngomong-ngomong, mana anak Konoha lainnya?" Tanya Sasuke.

"Entahlah… tadinya aku mau mengajak Neji berjalan-jalan di sekitar sini. Tapi, ia menolak." Jelas Tenten sambil menerawang ke arah langit.

Sasuke yang mendengar nama Neji malah teringat dengan Hinata yang notabene adalah anggota keluarganya. Ia penasaran bagaimana reaksi Neji kalau tahu ia telah meniduri sepupu kesayangannya itu. Besar kemungkinan Sasuke akan pulang ke rumah dalam keadaan babak belur.

Tenten kemudian lanjut bercerita, "Neji melanjutkan usaha pamannya. Lee pergi ke China untuk melanjutkan pendidikannya, sama sepertimu. Lalu, Shikamaru bekerja sebagai pelayan di Ichiraku. Ino, Chouji, Hinata, dan Kiba masih kuliah." Ia kemudian berhenti sebentar sambil berpikir, "Hmm… aku penasaran kemana perginya Shino dan Sai. Mereka juga tidak pernah terdengar kabarnya." Lanjutnya.

Sasuke hanya mengangguk saja meskipun ia tak begitu mendengarkan. Tapi kalimat lain yang diucapkan Tenten telah berhasil menarik perhatiannya.

"Oh iya! Kau sudah dengar, belum? Naruto dan Sakura menikah lho! Baru saja beberapa hari sebelum kau sampai di Konoha." Jelas Tenten yang sama sekali tidak menyadari perasaan Sasuke. "Benar-benar, deh. Aku tidak pernah menyangka mereka akan menikah. Benar-benar pasangan yang lucu!" Lanjutnya lagi sambil tertawa.

Sasuke hanya bisa terdiam. Bodoh sekali kalau ia harus marah-marah di depan Tenten. Jadi, ia lebih memilih untuk meletakkan kembali kedua tangannya di dalam saku dan mengalihkan pembicaraan, "Oh… baguslah kalau begitu. Ngomong-ngomong, aku lapar. Mau ke Ichiraku?"

Tenten tentu saja tidak menyadari pergantian topik itu. Jadi ia hanya mengangguk setuju dan berjalan mengikuti Sasuke.

…****…

Restoran Ichiraku

Minggu, 16 Oktober 2011. Pukul 08.46

Ino memandang keluar jendela, memutuskan untuk membiarkan kedua sahabatnya berbincang sesuka hati mereka. Sudah lama sekali sejak ia, Shikamaru, dan Chouji pergi bersama seperti ini. Entahlah… sejak Ino dan kawan-kawannya sibuk kuliah, mungkin? Atau sejak ia berpacaran dengan Sasuke? Mungkin keduanya, ia tak tahu pasti.

Yang jelas, karena ia memiliki waktu luang, tak ada salahnya menghabiskan waktu itu bersama kedua sahabat yang paling ia sayangi ini. Tapi yang namanya rencana itu tak selalu berjalan sesuai keinginan kita. Apalagi jika kau melihat mantanmu berjalan di antara kerumunan di luar jendela.

Ino mengusap matanya untuk memastikan bahwa apa yang ia lihat adalah benar.

Dan ternyata, memang benar. Uchiha Sasuke dan Tenten kini berada di depan pintu masuk restoran Ichiraku.

Criingg…

Bel berbunyi saat Sasuke mendorong pintu restoran itu. Dan dalam sepersekian detik, kedua mata mereka bertemu.

Ino tak mempercayai apa yang ia lihat. Lelaki yang dulu ia cintai itu, yang tiba-tiba memutuskan hubungan mereka dan menghilang, kini sudah ada di depan matanya. "Sa-sasuke?" hanya itulah kata yang dapat terucap dari bibir Ino. Kedua sahabat Ino—Chouji dan Shikamaru—yang mendengar nama Sasuke pun secara refleks menoleh dan menemukan si penerus keluarga Uchiha di pintu masuk Ichiraku.

Sasuke dan Tenten kemudian berjalan ke arah meja tiga sekawan itu.

"Uchiha?" Tanya Shikamaru heran.

Tenten kemudian maju selangkah, menggantikan Sasuke untuk menjelaskan kepulangannya ke Konoha, "Hei, Uchiha baru saja lulus kuliah, lho. Jadi minggu lalu ia kembali ke Konoha untuk bertemu kita semua." Jelas Tenten tanpa melepas senyumnya.

Chouji yang dari tadi menyantap makanannya pun akhirnya berseru, "Wow, kalau begitu selamat ya, Uchiha-san! Jangan lupa traktirannya!" serunya sambil menyengir lebar. Lalu entah darimana, sebuah ide tiba-tiba muncul di otak Chouji, "Hei, bagaimana kalau kita merayakan kelulusannya?"

Shikamaru mencubit pipi Chouji, "Dasar, kau ini. Kau kan yang penting bisa makan terus-terusan…" tutur Shikamaru. Toh memang benar, kok. Chouji ingin merayakan kelulusan Sasuke agar bisa makan-makan.

"Aku setuju! Ayo kita makan-makan dan pergi ke karaoke!" semangat Tenten tiba-tiba berapi-api.

"Iya juga, sih… aku rasa itu bukan hal yang buruk asalkan kita tidak pulang terlalu malam." Ucap Shikamaru yang teringat dengan nasihat ibunya. Sedangkan, Ino dan Sasuke tetap bungkam.

Dan entah bagaimana semua itu bermula, lima orang itupun menghabiskan hampir 10 jam untuk merayakan kembalinya Sasuke. Dari makan-makan, main game arcade, sampai karaoke malam-malam.

Tak terasa, waktu berjalan begitu cepat. Kira-kira, sekarang waktu sudah menunjukkan pukul sembilan tiga puluh tepat. Bahkan, Shikamaru yang awalnya hendak pulang lebih cepat, malah keasyikan hingga lupa waktu. Akhirnya, berkat telepon dari Yoshino Nara yang murka, acara itu pun disudahi.

Kelima sekawan itu akhirnya saling mengucapkan salam perpisahan dan berjalan ke kediaman masing-masing. Namun saat Sasuke hendak berjalan kembali pulang, seseorang menarik lengan bajunya.

"Ano… Sasuke-kun?"

Sasuke memutar badannya dan mendapati Ino berdiri tepat dibelakangnya. "Hn?"

Gadis pirang itu melepaskan lengan baju Sasuke, "Kita… sudah lama tak bertemu, ya?" Ucapnya setengah berbisik.

"Ya. Aku rasa begitu…" jawab Sasuke setengah hati.

Kemudian hening seketika. Suasana pun tiba-tiba menjadi janggal. Tak ada yang mengatakan sepatah katapun dalam beberapa menit.

"Anu… apakah kau keberatan jika aku menemanimu sampai ke apartemen?" Tanya Ino.

Sasuke kemudian berpikir sejenak, "Bukannya rumahmu di arah sebaliknya?"

"I-itu tidak masalah!" Ino memotong dengan cepat—terlalu cepat malah. "Ma-maksudku, aku bisa pulang naik taksi, kok." Lanjutnya lagi.

"Oh. Tapi…" ragu pun melanda Sasuke. Ia menatap mata Ino lekat-lekat.

Dengan gemetar, Ino memegang tangan Sasuke. "Sasuke-kun… aku ingin bersamamu lebih lama lagi malam ini," pipi Ino pun memerah. "Kalau boleh, aku ingin menemanimu. Kau tahu? Kita sudah lama tak pernah berbicara lagi. Aku bahkan tak tahu kalau kau sudah kembali. Aku ingin kita merayakan kepulanganmu berdua saja," Ino pun memandang kedua bola mata Sasuke dengan penuh harap. Pipi lembutnya yang tadi memerah kini sudah seperti kepiting rebus. "Kau… tahu maksudku, kan?"

Saat melihat reaksi Ino, Sasuke baru mengerti apa yang diinginkan mantannya itu. Dan itu lebih dari sekedar 'menemani di apartemen'.

Ya, ia memang sebenarnya sudah tidak punya perasaan lagi terhadap gadis itu. Perasaan itu telah lama hilang, dan kini rasanya sudah tak mungkin muncul lagi. Tapi jujur, bukannya ia tak mau melakukan itu bersama Ino, hanya saja… yang muncul di benaknya hanya si gadis Hyuuga.

Hanya Hinata. Dan rasanya sangat salah kalau ia malah juga melakukan hubungan intim bersama Ino. Jadi…

"Maaf…" Sasuke berusaha untuk mencari kata yang tepat, "Aku rasa hari ini bukan saat yang tepat." Jawabnya tegas.

Ino terkejut mendengar jawaban itu. "Kau… sudah punya kekasih lain, ya?"

Sasuke menggeleng, "Tidak." Jawabnya mantap.

Ino menatap kembali mata Sasuke dalam diam. Sesungguhnya sejak detik pertama mata mereka bertemu, ada berjuta kata yang muncul di otak Ino. Namun tak satupun dari berjuta kata itu yang berhasil tersampaikan dengan benar. Dan meskipun tersampaikan, Ino tak yakin Sasuke akan menjawab seperti apa yang ia inginkan.

Lalu dengan perasaan kecewa, dituntunnya kedua kakinya ke pinggir jalan untuk memanggil taksi. Tepat sebelum masuk ke dalam, Ino melambaikan tangannya pada Sasuke. "Sampai jumpa lagi, Sasuke-kun. Aku harap kita bisa bertemu lagi." Serunya dari kejauhan. Aku harap kita bisa bertemu lagi… dengan dirimu dan perasaanmu yang sama saat kita dulu bersama.

Taksi itu pun melaju dengan cepat—meninggalkan Sasuke yang berdiri di tengah hening malam sendirian. Dan di saat itulah pertanyaan Ino kembali muncul di pikirnya.

"Kau… sudah punya kekasih lain, ya?"

Kekasih? Ia bahkan tak tahu hubungannya dengan si gadis Hyuuga dapat dikatakan sebagai apa. Kekasih? Tentunya bukan. Teman? Mereka saja tidak pernah berkenalan secara resmi sebelumnya.

Selain si gadis Hyuuga, mungkin bisa dibilang ia tak sedang dekat dengan wanita lain. Ino? Kali ini ia hanya sebatas teman—tak lebih tak kurang. Namun, nama seorang gadis lainnya terlintas dalam benak Sasuke begitu saja.

Bagaimana dengan Sakura?

Sasuke tak tahu harus berpikir apa. Gadis itu kini sudah menikah dengan Naruto. Tak ada alasannya untuk tetap memikirkan si gadis. Tapi kenapa begitu susah melupakannya? Memikirkan itu, otak Sasuke malah semakin runyam. Dan masih ada satu pertanyaan yang mengganggu dirinya.

Kalau ia memang masih mencintai Sakura, kenapa ia meminta Hinata untuk bertemu lagi dengannya?

"Aku sungguh bodoh…" keluh Sasuke, memijat keningnya. Sesungguhnya, ia heran kenapa ia malah memikirkan soal wanita. Bukankah masih ada hal yang lebih penting lagi? Sejak kembali ke Konoha, ia belum sempat mencari pekerjaan. Apa gunanya mendapat pendidikan setinggi-tingginya namun tak bisa dioptimalkan dengan baik?

Sasuke hanya bisa menggerutu. Terlalu banyak hal yang harus dipikirkan. Dan satu-satunya jalan untuk semuanya saat ini hanyalah dengan tidur dengan tenang di apartemennya. Ya, dia benar-benar membutuhkan tidur.

Sasuke pun berjalan ke arah apartemennya sendirian—ditemani desiran angin malam dan cahaya rembulan.

.

.

To be continued…


A/N (Read at your own risks):


Di fic ini, gak semua chapter bakal ada lemonnya (contoh: chapter ini). Tapi Ego usahakan untuk memberikan yang terbaik. Lalu, terima kasih banyak untuk reviewers yang sudah memberikan saran dan kritik di chapter sebelumnya. Chapter satu kemarin jadi banyak yang Ego edit—dari typo, judul, warning, bahkan sampai lemonnya ._. jadi mungkin bagi yang baca ulang jadi terlihat berbeda. Semoga aja yang versi ini lebih baik.

Sekali lagi, terima kasih banyak bagi para readers yang sudah mereview, fave, ataupun alert fic ini: daisuke, Lhyn hatake, payung biru, suka snsd, Hyou Hyouichiffer, little-tigress, Animea Lover Ya-ha, Yuri, Jen Hollyhock, Lollytha-chan, Sasuhina-caem, Sabaku no ligaara, SuHi-18, akira, RK-Hime, Yukio Hisa, Lambd, Amai Yuki, Okamoto, Mrs. Tweety, Kurosaki Kuchiki, Coretan Merah, cherrysakusasu, auricavip, Ichikawa Hikaru, Hana 'Reira' Misaki, Botol Pasir, Amucchi, dan Agusthya ThytwoFy. Yang cuma ngintip sekalipun, ngeludahin sekalipun, berkat kalian, Ego jadi semangat menulis chapter dua.

Bisa dibilang, chapter ini sangat gak maksimal. Karena Ego menulis ini sambil kena WB ringan dan dalam pencarian beta-reader, jadi banyak kesalahan disana-sini yang Ego sendiri masih belum bisa identifikasi. Jadi dengan memberikan kritik, saran, dan flame yang membangun, tentu akan sangat membantu. Jadi, mohon review nya yaa :) Arigatou!


FAQ (Read at your own risks):


Q: Sasuke dan Hinata sudah saling kenal atau belum?

A: Di chapter satu, ada tulisan begini: 'Bukan. Bukan lelaki tak dikenal. Lebih tepatnya, lelaki yang ia lupa pernah kenal.' Jadi, sebenernya dulu mereka saling kenal karena sama-sama temennya Naruto (jadi secara tidak langsung, yang membuat mereka saling kenal itu adalah Naruto). Tapi karena udah lama banget gak ketemu sama Sasuke (karena Sasuke yang kuliah di Kanada seperti yang dijelaskan di atas [bahkan Tenten dll juga gak pernah denger kabar dari Sasuke]), Hinata udah agak lupa sama Sasuke.

Q: Kenapa Sasuke ngelakuin itu ke Hinata?

A: Kalau kenapa Sasuke melakukan hubungan intim dengan Hinata, alasannya sama dengan milik Hinata (untuk melupakan seseorang). Tapi kalau kenapa Sasuke malah jadinya half-nge-rape si Hinata, itu karena Sasuke gak bisa mengontrol emosinya ('Namun mendengar nama Naruto yang disebut, amarah Sasuke kini mulai memuncak.')

Q: Ada BDSM atau nggak?

A: Tadinya Ego mau masukin sedikit. Tapi setelah dipikir dengan matang-matang, lebih baik nggak (nantinya malah jadi makin abal nih fic =_=)