-oOoxXx-xXxoOo-

By : ren-chanz
Disclaimer : Kingdom Hearts II, Square Enix & Disney XD

Setting : AU
Rating : T
Warning : Shounen Ai, OOC


A/N : Sankyuu buat semua readers yang udah baca karya ini, love you all guys! XD terutama yang udah ngeripiu ^^

Nahh..sekarang mari kita balas ripiunya

, yuki-chan, Nophie-chan, Sunset Memories : sipp, selamat membaca chapie selanjutnya XD
Kamusuba42lova4eva : ruru-chii~~ mau usul VanVen nih? Hmm.. boleh aja, ntar aku pikirin mau muncul dimana mereka.. atau ruru-chii ada usul? XD
White-Black Scarlet Fragment :Nee-sannn... hueee, sankyuu buat dukungannya T.T iiah.. aku usahain sebisa mungkin mengumpulkan moodku deh.. :D Idenya keren! XD sankyuu buat masukannya.. hehe, aku masukin loh ide nee-san~ ^^
vanitas eve : di chapie ini bakal dijelasin.. XD
Ryouta : haha.. pelihat typo sejatiku :D
sankyuuu... bakal aku lebih perhatiin deh..
CFS : wahh.. udah terlanjur Sora yang jadi adiknya nih, Claire-san . hehe..
Esha Shalvovich : Riku bakal muncul koq~ tapi bukan di chapie ini, esa XD tunggu aja kehadiraannya iia, hohoho~
Vocallone : sankyuuu~ ^^ waahh.. ga suka pair siapa, Kina? :D

Ok, sekian buat balas ripiunya.. sekarang met baca all

hope you all like it


-xXx-

~A Shadow Of Nightmare~

_CHAPTER I_
_The Curse_

[Axel POV]

Setelah meninggalkan kakek tersebut, aku bergegas pergi menuju istana yang dibicarakan oleh sang kakek. Misi utamaku adalah mencari data mengenai ke-2 orang misterius yang mengaku sebagai pengikut "kegelapan".

Namun, melihat keyakinan dan harapan sang kakek yang begitu besar terhadap ke-2 pangeran, membuat hatiku tergerak untuk menolong keduanya.

Tak kusangka butuh waktu sekitar 3 hari untuk sampai di istana tersebut. Istana yang sangat megah dan bercorak bangunan kuno, terdapat ukiran-ukiran aneh yang tidak kuketahui.

Aku segera melihat keadaan, mencari jalan masuk. Nihil karena tidak menemukan apapun, akhirnya aku segera melompati pagar yang cukup tinggi karena tidak menemukan celah untuk masuk.

Ketika aku mendarat, aku bisa melihat rumput-rumput yang terpotong rapi. Pasti ada seseorang yang mengurus tempat ini. Tanaman didalam sinipun terias dengan baik.

Akhirnya aku berjalan menyelusuri taman tersebut. Hingga di tepi jalan sudut taman tersebut, aku sampai di jalan utama menuju pintu masuk ke istana ini.

Saat aku mendorong pintu yang lumayan besar dan segera memasukinya, pintu itu langsung tertutup sendiri setelah beberapa langkah aku melangkah kedepan.

Sebuah suasana kerajaan yang sudah lama tidak ditinggali dapat terhias melalui kasat mata. Lukisan kesunyian dapat terdengar dengan begitu jelas. Hanya angin yang melewati tempat ini, tak lebih.

Lantai kerajaan ini bercorak putih-hitam dengan gelaran karpet merah, khas bangsawan maupun kerajaan-kerajaan, pikirku.

Saat aku sedang menjelajahi tempat ini lebih jauh, tiba-tiba muncul sebuah heartless. Mereka datang dalam jumlah yang cukup banyak.

"Give me a break.." pikirku, sudah 3 hari ini menuju ke istana, para heartless datang menyerangku.

Aku segera melawan mereka tanpa aba-aba lagi. Saat heartless tersebut melompat tepat dibelakangku, aku segera menyemburkan api dari tanganku.

Aku tersenyum puas, walaupun dengan terpaksa aku harus mengeluarkan kekuatan magicku.

Setelah selesai, aku segera melanjutkan perjalanan. Saat aku berjalan, tiba-tiba feelingku mengatakan bahwa aku harus memasuki pintu di sudut ruangan tersebut.

Dengan penasaran aku buka pintu tersebut, dan ketika melangkah kedalam. Aku terdiam akan pemandangan yang baru kulihat.

Seorang pemuda berambut blond yang tampaknya berusian 16 tahun sedang duduk di sebuah kursi besar kerajaan. Ia memakai baju seperti seorang pangeran.

Di atas kepala bagian kanannya terdapat mahkota kecil. Dan yang membuatku curiga, ia membuka matanya tanpa ekspresi.

Tangan sebelah kirinya diikat oleh rantai yang panjang dan menyambungkannya ke tempat sebelah, yang tertutup oleh batas tembok.

Aneh, pikirku. Tak ada satupun pintu menuju ruang sebelah, lalu, kemanakah rantai yang menghubungkan tangannya itu tertuju?

Aku memperhatikan wajahnya yang memandang kedepan tanpa ekspresi apapun itu, 'sangat manis' pikirku.

[Roxas POV]

Suara hujan rintik-rintik dapat terdengar dari luar sana. Bumi sedang membasahi dirinya dengan air berlapis badai. Hawa dingin dapat kurasakan dari dalam.

Aku terbangun seperti hari-hari biasanya. angin berhembus dibelakang leherku, membuatku sedikit bergetar. Namun hal ini sudah biasa bagiku. Inderaku sudah mati rasa.

Aku menghela nafasku dengan pasrah. Hari ini akan sama membosankannya dengan hari-hari sebelumnya.

Aku terkurung dalam diriku sendiri. Aku bisa berbicara, aku bisa bergerak layaknya orang biasa dalam diriku sendiri saja, dalam monolog dengan jiwaku. Kenyataan bahwa tubuhku diluar sana tersegel akibat kutukan dari orang misterius tersebut tidak bisa dielakkan.

Sudah hampir 10 tahun aku terus berada dalam kondisi seperti ini.

Pandangan mataku kosong dan hampa, bagaikan sebuah boneka yang tidak bergerak dan berbicara barang sepatah katapun.

Aku tidak bisa menggerakan tubuhku sendiri. Sangat ironis. Bahkan aku tidak bisa melihat adik kembarku sendiri, Sora.

Ya, Sora. Satu-satunya saudara kembarku, adikku yang terakhir kali kulihat menangis sambil ketakutan. Aku sangat lemah, andai pada saat itu aku memiliki kekuatan, ayah tidak akan terbunuh, ibu tidak akan meninggal karena melindungi kami berdua.

Dan Sora, ia tidak perlu merasakan ketakutan yang membuat tubuhnya bergetar sangat kencang itu.

Ke-2 orang misterius itu kadang datang untuk menghampiriku dan Sora, namun semenjak 2 tahun lalu, aku dipisahkan oleh Sora.

Kami dijadikan sebuah 'alat' yang mereka latih untuk bertarung. Anehnya, tubuhku bergerak sendiri tanpa harus kuperintah.

Seakan mereka menguasai diri kami seutuhnya.

Aku menghela nafas pelan. Ketika kuputuskan untuk kembali tidur, ada sebuah suara dari luar sana.

"Damn.. hampir saja heartless sialan itu menjambak rambutku. Dan lagi dimana ini, aku—" tiba-tiba perkataannya terhenti ketika melihat kearahku.

Aku memperhatikan sejenak orang asing yang baru datang ini. Awalnya aku sempat khawatir, namun, setelah ia datang mendekat...

..aku terpana akan penampilannya.

Warna rambut merah spike yang jarang kulihat dengan mata kehijauan batu kelahiran emerald. Tubuhnya yang tinggi dengan kakinya yang panjang. Aku yakin ia sekitar berumur 21 tahun.

Aku melihat ia tersenyum padaku "well, you are the prince, right? Finally, i have found you"

Aku terdiam, siapakah dia?

Dia datang mendekat kearahku sambil menundukkan kepalanya.

"Namaku Axel, Nice to meet ya. Siapa namamu, Blondie?"

'Axel.. namaku Roxas' balasku, walaupun aku yakin dia tak akan pernah mendengarnya.

"Hello?" kulihat Axel mengayunkan tangannya keatas dan kebawah mukaku. Setelah agak lama tak mendapat reaksi apapun dariku, akhirnya ia menghela nafas.

"Jadi ini kutukannya ya? 'kesadaranmu' direbut oleh kedua orang sialan itu" Axel memandang kearahku sebelum akhirnya duduk di lantai depanku.

"Hey, blondie.. aku tidak tahu siapa namamu, jadi tidak apa-apa bila kupanggil kau blondie ya?" tanyanya padaku.

'Namaku Roxas.. huh.. apa boleh buat, aku tidak bisa berbicara padamu, terserah kau mau panggil aku apa saja'

"Ok, kalau begitu kau setuju ya?" katanya girang.

Aku kaget, apa dia bisa mendengar suaraku? Harapanku sedikit muncul karena ia sempat membalas jawabanku. Tapi harapan itu kembali padam 'bodoh, kalau dia bisa mendengarku, dia pasti sudah memanggil namaku'

"Hmm.. pertama-tama aku ingin memperkenalkan diri dulu, mungkin kau merasa asing padaku, aku tidak ingin hal itu terjadi. Well, namaku Axel, aku dari sebuah tempat yang jauh dari sini. Umurku 21 tahun, got it memorized?"

'Aneh' pikirku 'kau berbicara pada seseorang yang tidak akan bisa membalasmu.. mengapa kau terus melanjutkannya? Kau bisa disangka orang gila. Tapi.. Yah.. tak adil bila kau saja yang memperkenalkan diri, namaku Roxas. Umurku..16 tahun, bila aku tidak salah menghitung itu juga.'

"aku mempunyai tugas untuk menyelidiki dan mencari informasi tentang ke-2 orang berjubah hitam"

'DEG'

Pandangan mata Axel melihat pada pandangan mataku yang kosong.

"Kau tahu siapa yang kumaksud, bukan, blondie?"

'kedua orang sialan yang telah membunuh orangtuaku, memisahkanku dari Sora, dan membuatku jadi seperti ini, siapa yang bisa melupakan mereka!'

"sepertinya kau sangat familiar dengan ke-2 orang itu, bukan?"

'DEG'

'ada apa dengan dia.. seakan ia tahu perasaanku' aku sedikit merinding, apalagi ketika kulihat pancaran matanya, pandangan mata yang memantulkan sesuatu perasaan yang tidak bisa kudeskripsikan.

'Aku tahu orang itu, Axel..! dia yang membuatku jadi seperti ini! DAMN!'

Axel menutup matanya lalu berdiri menghampiriku. Ia memegang tangan kiriku, kemudian dia berlutut dan dengan segera ia mengecup punggung tanganku.

Aku terkejut, mungkin wajahku kini sudah merona karena tindakkannya, kemudian dia berdiri dan berbisik di telingaku dengan suara yang sangat pelan.

"aku akan menolongmu, Roxas" kemudian ia tersenyum dan pergi meninggalkanku.

'tu..tunggu! kau..kau bisa mendengar suaraku? Hei.. Axel!'

Namun yang selanjutnya kutemukan dia sudah menghilang dari pandangan mataku. Siapa orang itu? Aku yakin dia bukan orang biasa.

Suara gemuruh hujan bercampur petir masih terdengar ketika kubuka mataku lagi. Setelah Axel pergi, tak lama aku kembali tertidur. Dan tiba-tiba, kulihat seseorang kembali memasuki tempat ini.

"Blondie~ aku baru menjelajahi tempat ini dan menemukan beberapa alat bagus yang bisa kubawa untuk tidur malam ini"

'..hey, Axel! Jawab pertanyaanku, kau bisa mendengarku, khan?' tanyaku agak emosi padanya karena ia meninggalkanku sebelumnya tanpa menggubris jawabanku.

"well..yeah? jadi, kugelar di depanmu saja deh, biar aku bisa melihat perkembangan kondisi tubuhmu" Axel segera menggelar semacam kasur lipat di depanku.

'Huh.. bodoh, sepertinya ia memang tidak bisa mendengarku' kataku.

Axel menggelar kasur lipat tersebut lalu duduk di atas sambil melihat kearahku.

"aku bisa mendengarmu, blondie.."

Aku menatapnya 'kau..sungguh bisa mendengar suaraku?'

"Yeah.. lalu kenapa?"

'Bagaimana mungkin.. kau bukan penyihir atau semacamnya khan?'

Axel menghela nafas "harusnya kau senang ada seseorang yang bisa mendengar suaramu itu, Blondie. Dan, aku bukan penyihir. Tapi aku diwariskan sebuah kekuatan yang mirip seperti itu"

'... jadi, sejak awal kau sudah bisa mendengarku?'

"Yeah"

'Kenapa! kenapa kau tidak mengatakannya padaku! Kau membuatku seperti orang bodoh saja!' balasku kesal padanya.

Axel hanya tersenyum padaku "kau kan mengetahuinya nanti, sekarang, aku mau tidur. Night, Roxy!"

'Eh? Ha..? Ro..roxy..? hey, Axel! Namaku Roxas, bukan ROXY!'

Namun yang kulihat ia sudah tertidur.

'cepat sekali' aku melihat kewajah Axel yang tertidur

'sangat indah' pikirku spontan. aku tercengang 'tunggu.. apa yang barusan kupikirkan? Arghh! Tidak, tidak, tidak.. jangan berpikir macam-macam, Roxas. Aku tahu ini hanya pikiranku sepintas saja.. yeah, sepintas'

Aku menghela nafas sambil memperhatikan wajah Axel yang tertidur dengan tenang didepanku.

'Bila ke-2 orang yang kau maksud adalah ke-2 orang yang membuatku menjadi seperti ini, mungkin aku bisa membantumu, Axel. Aku ingin membalas dendamku pada mereka, pada mereka yang telah merebut semuanya.. aku tidak peduli seberapa banyak darah yang harus kurengut untuk melawan mereka. Aku pasti akan membalas dendam ayah dan ibuku pada mereka'

Seperti rasa kantuk mulai menghujatiku lagi 'ne, Axel.. maukah kau tinggal disini untuk beberapa waktu? Aku ingin berbicara banyak denganmu' konyol, pikirku. Ia sudah tertidur, mengapa aku masih berbicara sendiri.

"Tidak masalah, Roxy.."

Aku kembali terkejut ketika Axel membalas perkataanku. 'ka..kau belum tidur?'

Axel kini membuka matanya lagi dan memandang mataku

"hey..sebelum kesini aku bertemu dengan seorang kakek. Ia tampak dekat denganmu dan saudaramu, tapi ironisnya ia terbunuh akibat melanggar sesuatu dalam tempat ini. Sesuatu yang harusnya ia tidak beritahukan padaku"

'Kakek? Ojii-san?'

"tapi berkat dia aku bisa mengetahui keberadaanmu sekarang. Aku berjanji padanya untuk membebaskanmu. Dan aku adalah tipe orang yang selalu menepati janjiku"

'Ojii-san...terimakasih, meski kita sudah lama tidak bertemu..'

"Oh ya, aku ingin bertanya satu hal.. adikmu, dimana dia?"

aku menghela nafas kembali 'ia diruang sebelah. Tapi percuma karena tak ada jalan masuk menuju kesana dari istana ini'

"apa maksudmu, Roxy?"

Roxy..Blondie.. Oh, bisakah kau tidak memberi julukan aneh-aneh padaku?

'Dunia Kingdom hearts ini bisa dibilang terbagi menjadi 2, dan kau hidup dalam dunia yang satunya, Ax. Dan dunia satu lagi, itulah tempat Sora berada'

"aku baru mendengar dunia ini terbagi menjadi 2"

'ya..mungkin kau tidak menyadarinya, tapi inilah kenyataannya. Semenjak mereka merebut istana yang mengatur untuk menghubungkan ke-2 dunia, mereka memisahkannya kembali'

"lalu.. siapa yang menguasai tempat ini?"

'Xemnas..' kataku pelan padanya 'dan orang yang menguasai di dunia Sora itu adalah Ansem'

"Sudah kuduga.. aku juga memiliki urusan dengan mereka." katanya dengan serius.

"Nahhh, lebih baik kita tidur saja. Masih banyak hal yang harus dibicarakan besok" katanya sambil menguap lebar. Aku terkejut melihat perubahan ekspresi yang begitu cepat dari dirinya itu.

'baiklah.. lagipula kau pasti lelah karena suah melewati banyak hal hari ini, bukan? Night, Axel"

Axel berdiri dan mendekat kearahku, lalu dia mengusap kepalaku "Night, Roxas" kemudian ia kembali ke tempatnya dan tidur.

Dadaku berdebar kencang, aku tersenyum. Axel.. sepertinya kau telah merebut sesuatu dariku saat pertama kali kau datang kemari..

...kau telah merebut hatiku...

-TBC-


Akhirnyaaaa.. selesai juga XD hueee.. maaf kalau ada miss typo iia.. author pemalesan ini suka males nge-check 2x *plak*

Ohh iya, guys. Karena mulai tanggal 14 Maret author udah mulai UAS, mungkin ceritanya ga bisa author update secepatnya, tapi author usahakan pas liburan selama 1 minggu untuk nge-update

Buat yang mau kasih ide/saran/masukan/flame, silahkan beritahu author iia :D author sangat senang bisa menerima ide-ide kalian ^^

Sekali lagi, sankyuu buat perhatiannya. Sampai ketemu di next chapie.. XD