Bahkan menurut Sasuke yang notabene tidak suka wanita, Haruno Sakura adalah gadis yang menarik. Mata hijau emeraldnya berbinar-binar dan ia tipe yang tahu benar apa yang dia lakukan. Bukan tipe gadis manja yang hanya tahu bersenang-senang.
Naruto akhirnya mempertemukan Sasuke dengan Sakura di Sabtu siang ketika mereka tidak ada kuliah. Sakura tidak berada di departemen yang sama dengan Sasuke dan Naruto. Naruto bertemu dengannya di kelas Bahasa Inggris. Satu-satunya kelas yang Naruto dan Sasuke tidak bersama di tahun kedua ini. Kesan pertama Sasuke begitu ia mendengar itu adalah; ia merasa kecolongan.
"Jadi, kau sudah tahu kalau aku gay?" Sasuke tadinya berharap dengan membawa topik itu secara tiba-tiba saat makan siang akan membuat Sakura jengah, tapi harapannya sia-sia.
Sakura tersenyum. "Oh, ya. Tadinya aku malah berpikir kalau kau akan mengajak pacarmu bersamamu, Uchiha-san."
"Lupakan, Sakura," ucap Naruto sambil mengibas-ibaskan tangannya dengan gestur meremehkan.
'Mereka sudah saling memanggil dengan nama depan, huh?'
"Teme ini playboy sejati. Dia lebih sering menyebut partner-partnernya dengan sebutan 'teman dengan manfaat', kalau kau tahu maksudku."
Merasa tidak akan bisa mengatasi perasaannya lebih jauh, Sasuke bangkit berdiri.
"Eh? Mau kemana, Teme?"
"Aku baru ingat aku ada janji dengan Suigetsu," jawab Sasuke.
Sebelah alis Naruto terangkat. "Suigetsu itu bukannya yang dari tiga bulan lalu? Kau balikan dengannya?"
Sasuke hanya melempar senyum tipis yang bahkan mungkin tidak bisa dikategorikan sebagai senyuman bagi orang-orang yang tidak mengenalnya. "Aku akan menghubungimu nanti. Aku duluan."
Naruto menyerukan beberapa hal padanya ketika ia membuka pintu café, tapi ia mengabaikannya. Memilih untuk pura-pura tuli sementara. Sasuke sudah mengenal Naruto cukup lama. Ia benar-benar tahu gelagat Naruto ketika ia sedang menyukai seorang gadis. Walaupun seingat Sasuke, sebelum Sakura, Naruto hanya pernah menjalin hubungan dengan dua gadis, Sasuke ingat kalau Naruto selalu serius dalam menjalani hubungannya. Itu selalu berujung pada ia yang ditinggalkan, tapi Naruto tidak pernah kapok. Dan kilat bahagia yang terpancar di mata Naruto ketika ia memandang Sakura…
Sasuke menghela napas. Ia sudah bukan minor lagi di masyarakat. Harusnya pemikiran 'seandainya ia memandangku dengan cara yang sama' tidak muncul lagi di otaknya. Itu hanya pikiran remaja.
Prinsip Naruto yang tidak ingin menjalin hubungan apapun, entah teman atau kekasih, dengan orang yang tidak bisa menerima Sasuke sebenarnya membuat mereka berdua jarang punya teman lain. Biasanya hanya ada Sasuke dan Naruto. Dan kehadiran Sakura sekarang membuat Sasuke merasa dikhianati. Walaupun ia tahu itu hanya perasaan subjektifnya saja. Naruto berhak menjalin hubungan dengan siapapun. Dia hanya teman Sasuke. Ia tidak seharusnya melarang Naruto ini-itu.
Jenuh, Sasuke mengeluarkan ponselnya dan benar-benar menghubungi Suigetsu. Ketika yang dihubungi mengangkat panggilannya dengan nada ceria dan kaget, Sasuke hanya mengatakan mungkin ia akan mampir ke apartemen Suigetsu.
Ia butuh pengalih perhatian.
Sejak ia dipertemukan dengan Sakura, entah sudah berapa kali Sasuke berganti partner. Yang jelas, frekuensi pergantiannya jadi jauh lebih sering daripada saat sebelum Naruto dengan Sakura. Ia bahkan mengabaikan komentar pedas Naruto yang memang selalu kurang suka dengan gaya hidupnya itu.
Tak terasa, mereka sudah berada di tahun terakhir mereka di universitas. Hanya tinggal dua minggu lagi sebelum kelulusan. Saat itu seperti biasa, Sasuke, Naruto dan Sakura sedang makan siang bersama. Sasuke hanya bisa tersenyum getir tiap ia mengingat fakta bahwa mereka yang tadinya hanya berdua, ia dan Naruto, sekarang selalu jadi bertiga.
"Ah, sial!" keluh Naruto, mengubrak-abrik isi tasnya. "Kayaknya buku catatanku ketinggalan di perpustakaan."
"Dobe," gumam Sasuke dengan nada mengejek. Keteledoran Naruto ini memang sudah diambang batas.
Naruto mencibir ke arahnya. "Kalian makan duluan saja. Aku mau balik ke perpustakaan," dan ia langsung melesat pergi begitu saja, membuat Sasuke menghela napas.
Namun saat Sasuke menyadari saat ini ia hanya berdua saja dengan Sakura, Sasuke langsung merasa luar biasa tidak nyaman. Ia belum pernah berada dalam situasi seperti ini. Naruto selalu ada di antara mereka.
"Um, Sasuke…," panggil Sakura.
Sasuke menangkap nada ragu dalam suara gadis itu, tapi ia tetap menoleh memandangnya, tanda bahwa ia merespon Sakura.
"Aku…," ucap Sakura lagi. Gadis itu menggigit bibirnya sesaat sebelum akhirnya mengarahkan mata hijaunya ke arah Sasuke dengan ekspresi yang tak bisa Sasuke pahami.
"Aku minta maaf," ujar Sakura akhirnya. Ah, itu rupanya ekspresi penyesalan di wajah Sakura.
Kedua alis Sasuke bertaut, tak mengerti kenapa Sakura meminta maaf padanya. Jangan-jangan…, "Kau mau meninggalkan Naruto?" tanya Sasuke, memastikan. "Jadi kau merasa harus minta maaf padaku karena kau melukai hati sahabat baikku?"
Sakura terperanjat dan menggeleng mantab. "Tidak! Aku tidak akan meninggalkan Naruto!"
Sasuke mengernyit. "Lalu? Untuk apa kau minta maaf?"
Sakura tersenyum getir. "Maaf karena aku berani menyukai Naruto."
Sasuke mencelos.
"Aku tahu kau juga menyukainya. Bahkan mungkin jauh lama sebelum aku."
"Naruto memberitahumu?"
Sakura sedikit kaget mendengar pertanyaan Sasuke. "Eh, tidak. Aku hanya tahu itu dari sikapmu padanya," jawabnya. "Jadi… Naruto tahu kau menyukainya?"
Sasuke mengalihkan pandangannya dari Sakura. "Aku sudah pernah memberitahunya. Tapi aku tak pernah meminta jawabannya." 'Karena aku tidak ingin mendengar penolakan darinya.'
Sakura tidak merespon ucapan Sasuke selama beberapa saat, jadi Sasuke memutuskan untuk kembali memandangnya, dan yang ia dapati malah gadis itu sedang berkaca-kaca sambil menggigiti bibirnya. Tampaknya berusaha keras agar tidak menangis.
Sasuke membeku. Ia belum pernah membuat gadis menangis seumur hidupnya, dan sekarang ia benar-benar tak tahu apa yang harus dilakukannya kalau Sakura benar-benar menangis. Lebih lagi, apa yang harus dikatakannya pada Naruto?
Namun sepertinya Sakura cukup tahu diri. Ia menarik napas panjang, berusaha mengendalikan diri dan berkata lagi dengan suara bergetar, "Maaf. Aku benar-benar minta maaf. Kau pasti menganggapku jahat sekali. Muncul begitu saja di kehidupan Naruto. Apalagi dengan posisi seperti itu, Naruto yang sudah tahu kau menyukainya tapi diam saja."
Mau tak mau, Sasuke memberikan senyum tipis, berharap itu bisa sedikit melegakan Sakura. "Kami hanya berteman."
Sakura membalas senyum Sasuke, dan berkata sekali lagi, "Maaf."
Detik itu juga, Sasuke menyadari kalau perasaan gadis ini tulus pada Naruto.
Bersamaan dengan berakhirnya musim dingin, mereka semua lulus. Sasuke sudah akan langsung bekerja di bagian editorial sebuah perusahaan penerbitan terkenal, tapi ia belum tahu apa yang akan Naruto lakukan setelah lulus. Sampai saat itu, setelah upacara kelulusan berakhir dan ia serta Naruto sedang mendudukkan diri di bawah pohon maple favorit mereka di halaman kampus.
"Aku akan meminta Sakura menikah denganku malam ini."
Rasanya jantung Sasuke berhenti berdetak ketika kalimat itu terlontar dari bibir Naruto.
"Teme, aku minta maaf karena sudah mengecewakanmu. Aku… tidak seharusnya kau sebut teman."
"Bicara apa kau," tanggap Sasuke. Ia berusaha terdengar dingin dan kalem seperti biasa. Entah berhasil atau tidak.
Naruto tertawa getir. "Apa aku terlalu serakah?"
Sasuke memainkan sedikit salju yang tersisa di bawah pohon maple di dekatnya. "Kau melantur. Aku sudah pernah mengatakan padamu kalau aku tidak menunggumu. Rasa percaya dirimu itu kelewatan. Kau kira aku akan membuang waktuku sia-sia hanya demi kau?"
Sasuke pikir, dengan ia mengucapkan kata-kata itu, Naruto akan berhenti merasa bersalah dan kembali tertawa, menonjok bahunya main-main seperti biasa sambil mengatakan, "Sialan kau, Teme!"
Namun sekali lagi, dugaannya salah. Sasuke sudah bersiap menerima tinju Naruto, namun yang didapatnya justru sebuah pelukan.
Sasuke terhenyak. Sama sekali tidak mengantisipasi datangnya sebuah pelukan dari Naruto. Tapi ia tidak mengatakan apa-apa. Naruto hanya memeluknya dalam diam, dan ia tidak ingin memecah keheningan itu.
Mungkin sekarang saat yang tepat untuk berhenti menunggu.
-tbc-
Disclaimer: Masashi Kishimoto.
Chapter 3 publish tanggal 12 Januari 2014. Terimakasih banyak buat yang sudah membaca atau mereview!
