Title: Selamat Datang di Indonesia
Rate: K+
Genre: Humor
Disclaimer: Hetalia belongs to Hidekaz Himaruya, tapi England –di death glare- Iya iya, England bukan punya saya juga. Cih! =3=
Summary: Demi meningkatnya persentase kedatangan turis asing ke Indonesia, Boss Indonesia membuat suatu rencana untuk mengundang setiap negara satu-persatu untuk menikmati keindahan panorama Indonesia dan, tentunya dengan Indonesia sendiri. And now, It's England's turn
Request from Burning Eagle, Cute Hyukkie, dan Shiina Rika untuk nampilin England. Dan… atas saran Cute Hyukkie, kali ini giliran Bandung yang akan tampil! XD
Oh ya, saya mohon maaf kalau ada kesalahan informasi di fanfic ini. Cuma berbekal website wisata sih. =3=
Seorang pemuda berambut pirang sedang tertidur lelah di meja kerjanya. Wajahnya terlihat lelah, keringat membasahi dahi nya sekaligus alis tebalnya. Ia baru saja berdebat dengan America soal bagaimana caranya menanggulangi Global Warming yang dampaknya sangat dirasakan saat ini.
"Cih, America itu tidak pernah berubah. Hobinya bikin rencana hancur mulu." Gerutu England sambil mengelap keringatnya.
"Kok di sini jadi panas banget sih?" sambung England.
"Ya iyalah panas, bang. Saya kan lagi bikin Felix Felicis di sini!" teriak seseorang diseberang ruangan sana.
England membuka sebelah matanya, mencoba melihat seseorang tersebut.
"SEALAND, KALO MAU BIKIN RAMUAN JANGAN DI RUANGAN GUE! DI HORGWARTS AJA SONO!" teriak England sambil menendang Sealand keluar dari ruangannya.
Singkat cerita, setelah England menendang Sealand keluar, seseorang dengan pakaian hitam khas para Butler Inggris berlari masuk ke dalam ruangan England.
"Tuan England, ada surat dari seseorang." seru butler tersebut.
"Dari siapa?" tanya England singkat.
"Tidak tahu, di sini tidak tercantum namanya."
"Jangan bilang surat kaleng dari Sealand lagi, atau kiriman petasan dari Hong Kong."
"Yee... Petasan mana bisa dijadiin surat kali, tuan."
"Bisa saja, di selipin gitu." balas England tak mau kalah.
"Ah, sudahlah. Pokoknya ini ada surat, dan menurut asumsi saya... dari Indonesia." jelas butler-nya England tersebut.
"Indonesia?"
"Iya, tuan. Dari Indonesia."
"Indonesia?"
"IYA, TUAN. DIKASIH TAHU JUGA!" teriak butler-nya England tepat di telinga pemuda tersebut.
"Gak usah teriak nape sih? Gue gak budeg tauk! Nyolot amat sih lo, Sule aja gak nyolot-nyolot amat!" balas England.
"Sule itu siapa, tuan?"
"Ahh... sudahlah. Siniin tuh surat, cepetan!" perintah England.
Butler-nya England pun langsung menyerahkan surat tersebut dengan gaya khas Sebastian Michaelis yang mau nyiumin tangannya Ciel Phantomhive. Tunggu, nggak ada hubungannya kali!
"Thanks. Enyah lo, cepetan!" usir England sambil mengibas-ngibaskan tangannya. Gaya ngusir orang gitu.
"Lho, bayarannya mana?"
"Bayaran apaan?" tanya England, cengo.
"Bayaran saya sudah nganterin ini surat. Saya kan Butler, bukan tukang pos jadi harus ada bayar tambahan dong." ujar Butler-nya England, kukuh minta bayaran dari majikannya itu.
Pada akhirnya, England musti turun tangan buat nge-'enyahin' Butler-nya ini dengan menendangnya keluar ruangan saat itu juga.
Dan resmilah sang Butler menjadi orang kedua yang ditendang England keluar dari ruangan.
For: Mr. Arthur Kirkland
London, England.
Selamat Pagi, Siang, Malam. (Terserahlah kapan Anda membaca surat ini)
Saya Indonesia menjemput Anda kesebuah Tour yang mempersembahkan kepelbagaian Indonesia. Jika Anda menemui sebuah kupon emas didalam sampul surat ini, bererti Anda berhak melawat Indonesia dengan saya, Indonesia sendiri yang akan menjadi Tour Guide anda.
Kami mengharapkan kedatangan Anda di sini. Atas perhatiannya, terima kasih.
Indonesia
Sama seperti tamu kita yang sebelumnya, England hanya bisa cengo. Ini bahasa apa? Melayu? Jangan-jangan Indonesia salah kirim, dimana ia seharusnya mengirimkannya ke Malaysia atau Brunei malah terkirim ke England. Jauh sekali nyasarnya? Gue kan gak bersatu dengan Malaysia atau Brunei lagi, pikir England. Mana Bahasa Inggrisnya cuma yang 'for' doang lagi.
England pun mengobrak-abrik isi amplop tersebut. Ya, sama seperti sebelumnya. Mengharapkan sesuatu, minimal terjemahan Bahasa Inggrisnya deh. Inggris-nya Amerika ato Canada juga gapapa deh. Asal bukan bahasa Prancis saja. (lha?)
Namun apa yang ia temukan?
Sebuah kupon emas dengan lambang burung garuda ditengahnya. Dan (untunglah) dibelakang kupon tersebut ada sebuah kata-kata yang ditulis dengan Bahasa Inggris.
"Liburan di Indonesia, bahkan Indonesia sendiri yang jadi Tour Guide-nya?" kata England berbinar-binar. Sudah lama ia tidak mengunjungi salah satu rekan bisnisnya yang tinggal di daerah Khatulistiwa itu.
Dengan kecepatan kilat, England langsung berlari keluar menemui Butler-nya yang tadi ditendang nya keluar ruangan tersebut.
"Woi, bangun lo! Sekarang, siapin barang-barang gue. Gue mau ke Indonesia!"
"Ukkhhh... Bayarannya mana dulu, Tuan."
"Ntar gue transfer lewat ATM, udah buruan! Pack barang-barang gue, kalo nggak gue sihir lo!"
"Yes, my lord."
"Udah, gak usah pake acara niru-niru si Sebastian Michaelis deh. Lo gak sekeren dia kok." kritik England, pedas.
Indonesia, gadis berkulit sawo matang itu sedang menunggu di depan Bandara Husein Sastranegara sambil melambai-lambaikan kertas bertuliskan "Welcome to Indonesia, Mr. Arthur Kirkland." dengan malasnya.
Seminggu yang lalu ia baru saja mengantar Canada berkeliling pulau Jawa. Dan sekarang? Boss-nya meminta agar ia menemani England untuk keliling Bandung? Mana nggak dibayar lagi. Alasannya sih...
"Indonesia, ini demi popularitas mu sendiri. Memangnya kamu gak malu kalau seandainya nanti kamu gak terkenal di dunia Internasional? Atau parahnya, bagaimana kalau sampai Malaysia yang notabene sainganmu itu justru lebih dikenal di dunia internasional ketimbang kau?Dia sedang gencar-gencarnya mempopulerkan diri, kau juga harus begitu Indonesia!"
Kalimat itu terus terngiang dikepala Indonesia. Tapi bukan gini juga kali caranya, pikir cewek itu.
Sampai akhirnya, ia melihat siluet seorang lelaki mengenakan jas coklat dengan alis tebal yang terpisah-pisah menampakan diri di pintu keluar Bandara Husein Sastranegara. Indonesia langsung melambaikan kertas tersebut dengan nafsunya, sampai-sampai mengalahkan kekuatan Italy (North Italy sih) yang sedang melambaikan bendera putih.
"Ah, Indonesia. Lama tak jumpa!" seru England, mencoba bercipika-cipiki dahulu dengan salah satu teman Asia Tenggara-nya itu.
"Tunggu Inggris, biarkan saya menyebutkan salam saya dahulu." ujar Indonesia menolak pelukan England.
"Ah, baiklah."
"Uhum... tes...tes... satu dua tiga, baiklah. Selamat Datang di Indonesia, saya Indonesia akan menemani tour para nation dalam menjelajahi Indonesia. Selamat menikmati tour beberapa hari bersama saya di Indonesia." Ujar Indonesia, lancar.
Setidaknya tadi malam, cewek berambut panjang ini mencoba menghafal sekali lagi salam tersebut sebelum dihukum boss-nya mengepel Istana Bogor.
"Baiklah, biarkan saya mengantarkan Anda ke tempat Anda menginap dahulu. Dan tenang, bebas teroris kok. Sumpah! Canada aja adem-ayem tinggal disini kok!" sambung Indonesia sambil memberikan pose 'suer-bukan-saya-yang-ngamilin-kucing-anda'.
"Iya, saya percaya kok. Tidak usah segitunya kali." Jawab England.
"Takutnya Anda tidak percaya. Semenjak kejadian Bom itu..." Balas Indonesia.
"Sebenarnya, setengah percaya sih." Bisik England. Sedangkan Indonesia yang mendengar bisikan England barusan hanya mencoba untuk mengurungkan niatnya untuk menikam salah satu negara yang (bekas) adikuasa ini dengan keris-nya.
"Ya sudahlah, kita segera kepenginapan itu saja."
Disinilah England sekarang, di salah satu rumah yang dimiliki Indonesia dimana letaknya tidak jauh dari pusat kota Bandung. Hujan turun saat itu, sehingga England memilih untuk meminum teh hangat untuk menghangatkan badannya.
"Di-disini dingin." Kata England sambil meminum teh hangat.
"Tentu saja, sedang musim hujan." Jelas Indonesia sambil menaruh sepiring pisang goreng.
"Ini, makanan apa?" tanya England sambil menunjuk pisang goreng yang tadi dibawa Indonesia.
"Ini pisang goreng." Jawab Indonesia
"Boleh saya coba?"
"Silahkan saja, tapi pisangnya masih agak panas. Tunggu sampai agak hangat dulu." Saran Indonesia.
"Ah, baiklah."
"Saya masih ada beberapa masakan sih. Sedang saya buat, Inggris tunggu disini saja ya?" kata Indonesia dengan sopan santun.
"Ah, perlukah aku membantumu?" tawar England.
Indonesia bergidik. Diizinkan apa nggak yah? Kata America, masakannya England itu gak enak, sampai-sampai ngebuat Canada jadi invisible. (lho?) France sama Italy juga ngomong gitu. Ukkhhh... apa gue tolak aja yah tawarannya England? Tapi gue juga capek banget buat ngebuatnya sendirian, pikir Indonesia. Oh tidak! Negara kita terkena dilema.
Pada akhirnya, Indonesia memilih untuk tidak menerima tawaran England. Ntar bisa kacau masakan daerah gue gara-gara si maniak teh ini, pikirnya.
"Ah, Inggris istirahat saja. Anda pasti kelelehan setelah perjalanan dari London ke Bandung." Ujar Indonesia sambil tersenyum.
England tidak bisa menolak, ia hanya mengangguk kecil dan kembali meminum teh hangatnya.
"AMERIKA NO BAKA!"
"Ah, HP gue bunyi." Bisik England.
Sedangkan Indonesia di dapur sana terkikik. Ya ampun, ringtone England norak amat. Mana ada 'Amerika' nya pula. Teriakan sendiri lagi, dasar gila.
England pun meraih telepon genggamnya, sebuah sms kiriman dari private number (emang bisa?) baru saja masuk kedalam inbox-nya.
"Heh! Jangan gangguin masakan Indonesia gue yah, kalo nggak gue gantung lo di windmill!"
England hanya terbengong-bengong ria melihat sms barusan.
Dari Netherlands, pikirnya.
"Inggris, selamat pagi." Sapa Indonesia yang sudah mengenakan pakaian official-nya (Kaos putih dengan gambar Burung Garuda), bedanya saat ini ia juga mengenakan jaket juga syal berwarna merah-putih.
"Indonesia, kau tidak kepanasan memakai pakaian setebal itu?" tanya England.
"Tidak, karena hari ini kita akan ke Kawah Tangkuban Perahu yang dimana tempatnya bersuhu cukup dingin." Jelas Indonesia.
"Ah, tour kita dimulai hari ini ya?"
"Iya, masa tahun depan?" pikir Indonesia
"Iya, sekarang." Jawab Indonesia, singkat.
"Tunggu, saya bersiap-siap dahulu." Seru England sambil berlari masuk kedalam kamar mandi.
England dan Indonesia sedang duduk didalam satu mobil yang mengantarkan mereka menuju Tangkuban Perahu. Di dalam mobil, mereka berbincang soal keadaan negara masing-masing juga suka-duka mempunyai saudara yang banyak. Seperti England yang kerepotan soal Sealand dan Hong Kong, belum lagi Australia. Disambung dengan Indonesia yang curhat soal Malaysia.
Pembicaraan formal mereka yang awalnya berlangsung dengan kata-kata sopan mulai ternodai dengan kekesalan mereka terhadap saudara-saudara mereka. Menyebabkan kata-kata syurgawi nan tidak sopan keluar dari mulut England maupun Indonesia. Oke, kalau England sih wajar bicara seperti itu. Tapi, Indonesia? Mungkin ini semua karena ia sudah sangat kesal dengan Malaysia yang seenaknya meng-klaim budaya miliknya.
Tak lupa pula, mereka bergosip ria soal hubungan Norway dan Iceland yang katanya incest. Ditambah juga gosip dari Indonesia yang mengatakan kalau America yang sudah banyak gebetan itu masih juga mengincar kembarannya sendiri. Dasar, nggak orang nggak negara pasti kerjanya ngegosipin tetangga mulu.
"Neng, Indonesia. Kita sudah sampai." Seru sang supir yang daritadi hanya diam saja. Entah mungkin karena sedang konsentrasi menyetir, atau tidak mengerti sama sekali apa yang sedang dibicarakan negaranya dengan bule Inggris ini.
"Ah, terima kasih banyak, pak. Ini, bayarannya." Seru Indonesia sambil menyodorkan uang lima ribuan.
"Terima kasih banyak, neng." Jawab si supir. Sebenarnya dalam hati ngumpat, "Jah, kirain mau dikasih uang luar negeri gitu. Mana gue udah janji sama anak-anak gue kalau gue bakal ngasih mereka duit poundsterling (?) lagi."
"So, here we are. Kawah Tangkuban Perahu." Seru Indonesia sambil bergaya layaknya koki Prancis yang menghidangkan masakan terbaiknya.
"Disini dingin." Kata England.
"Tentu saja, Inggris-san. Suhu disini mencapai 7 derajat celcius lho. Dan, tentu saja dingin. Ini kan di tempat yang tinggi." Jelas Indonesia lagi.
Sedangkan England hanya mengangguk-angguk saja, ia terlalu sibuk memperhatikan sekeliling. Walaupun hari itu hujan, kawasan pariwisata Kawah Tangkuban Perahu terbilang cukup ramai. Tentu saja, tempat ini terkenal akan hubungannya dengan salah satu legenda yang sangat terkenal di Indonesia.
"Inggris, pernah dengar cerita dibalik Kawah Tangkuban Perahu?" sambung Indonesia.
"Ah, so... there's a story behind it?" tanya England, penasaran.
"Inggris mau dengar?"
"Tentu."
Dasar maniak dongeng, pikir Indonesia.
"Jadi, pada zaman dahulu kala hiduplah seorang anak, ibunya, dan seekor anjing yang merupakan anjing kesayangan ibunya. Tanpa diketahui sang anak, ternyata anjing tersebut adalah ayah kandungnya yang dikutuk. Suatu hari, ia dan si anjing pergi berburu. Secara tak sengaja, ia membunuh si anjing. Pada akhirnya, ibunya mengetahui anjing yang sekaligus adalah suaminya telah meninggal ditangan anaknya sendiri. Ia pun memukul si anak dengan sebuah sendok nasi. Si anak yang bernama Sangkuriang pun pergi dari rumah..."
"Wow... Di Indonesia ada juga ya yang berhubungan soal sihir." Tanya England lagi.
"Bukan hanya ada, Inggris-san. Tapi, banyak. Kalau Inggris mau, saya bisa mengambil nyawa Anda sekarang." Desis Indonesia sambil menyeringai.
England bergidik, ia sudah mengetahui 'sisi gelap' Indonesia dari Netherlands. Ketika Indonesia dengan liciknya mengambil dan membakar semua buku porno milik Netherlands tanpa ia ketahui. Juga bagaimana Indonesia 'mengerjai' Netherlands dengan menyebabkan si cowok lolikon ini muntah-muntah seharian (Bahkan hampir disangka hamil oleh para prajuritnya).
Penjelasan dari Indonesia hanya singkat, ia baru saja menyihir dirinya agar tidak kelihatan. Atau men-santet (ya, itu namanya!) Netherlands agar muntah-muntah seharian. Sungguh sisi yang mengerikan. Apalagi untuk para lelaki.
"Ti-tidak perlu. Jadi, ada lanjutannya tidak cerita tadi?"
"Ah, tanpa si anak sadari, ibunya ternyata adalah seorang yang awet muda dan kecantikannya tidak akan hilang oleh waktu. Singkat cerita, si anak yang sudah dewasa kembali bertemu dengan ibunya yang masih awet muda. Tidak mengenali itu ibunya, si anak pun jatuh cinta dan berusaha untuk mendapatkan wanita yang ternyata adalah ibunya itu. Ia pergi melamarnya, dan si wanita memberikannya syarat untuk membuat sebuah perahu sebesar gunung.
Ia menyanggupinya. Pada akhirnya, si wanita terkejut karena pemuda itu (yang juga adalah anaknya) berhasil. Ia katakan terus terang, bahwa ia adalah ibunya yang tidak bisa menua. Patah hati, si pemuda menendang perahu tersebut yang pada akhirnya berubah menjadi gunung. Gunung ini pun dikenal dengan nama Tangkuban Perahu. Hah...hah..." Jelas Indonesia panjang lebar sampai ngos-ngosan.
"Ah, begitu ceritanya. Menarik juga."
"Hosh...hosh..."
"Ah, saya ada minum? Indonesia mau?" tawar England sambil menyodorkan sebotol air mineral.
"Sa-sangat mau!" seru Indonesia sambil mengambil air mineral tersebut.
Kelihatannya ada seseorang yang terlalu bersemangat untuk bercerita disini, pikir England sambil melirik Indonesia yang langsung meneguk air tersebut.
"Ngomong-ngomong, apa yang menyihir suamimya si wanita awet muda itu adalah Pixie? Atau bagaimana dengan si suami? Apa dia ketemu Lord Voldemort lalu disihir jadi anjing?" tanya England.
Indonesia hanya bisa mengumpat dalam hati, ini bukan dongeng Inggris tauk! Dan ini bukan novel Harry Potter!
Setelah asyik melihat-lihat Kawah Tangkuban Perahu dan berbelanja souvenir, England dan Indonesia pun memutuskan untuk kembali kedalam mobil dan melanjutkan perjalanan.
"Indonesia, setelah ini kita akan kemana?" tanya England sambil menatap cewek berkulit sawo matang itu.
Indonesia yang sibuk merapikan diri (Baca: dandan) langsung mengalihkan pandangannya kearah England, "Ah, kita akan pergi ke Maribaya. Disana ada kolam-kolam pemandian air panas, Inggris bisa bersantai sejenak disana."
"Ah, seperti onsen di Japan eh?"
"Kurang lebihnya begitu lah, tapi Inggris akan masuk ke pemandiannya sendirian." Tambah Indonesia.
"Ah, iya. Tak apa-apa..."
Singkat cerita, mereka pun sampai ke pemandian air panas tersebut. England pun langsung menenggelamkan dirinya kedalam kolam air panas tersebut. Rasa penat di badan England serasa hilang setelah bersantai didalam kolam air panas ini. Sambil sedikit membasuh kepalanya, England melihat-lihat sekitar.
Sampai akhirnya, mata England menangkap sesosok manusia yang mengenakan pakaian putih panjang dengan rambut panjang berantakan. England menelan ludahnya, bukankah tempat ini hanya khusus lelaki? Atau...
Sosok itu mengalihkan pandangannya menjadi menghadap kearah England, terlihatlah wajah sosok itu yang sebenarnya. Dengan lingkaran hitam didekat mata, dan mulut pucat dengan hawa dingin.
England pun langsung ngibrit keluar dari kolam.
"Sebentar sekali mandinya?" tanya Indonesia yang sedang makan kue serabi.
"Ti-tidak, aku hanya sedang tidak mood untuk masuk kedalam onsen." Jawab England sambil mengatur nafasnya.
"Ini bukan di Jepang, Inggris-san."
"Sa-sama saja lah. Oh ya, kita akan kemana setelah ini?"
"Kita kembali ke rumah saya dulu, besok baru kita lanjutkan perjalanannya. Saya pikir, Inggris pasti kelelahan." Jelas Indonesia sambil memakan potongan terakhir kue serabi-nya.
"Baiklah." Jawab England singkat.
"Ngomong-ngomong, kenapa Anda ngos-ngosan?"
"Ti-tidak, suhu air panasnya agak panas tadi sampai-sampai aku ngos-ngosan." Jawab England ngasal.
Sedangkan Indonesia hanya tersenyum. Tunggu, bukan senyuman. Itu seringai!
Ia pasti melihat sesuatu, pikir Indonesia sambil terkikik.
Sebenarnya, sudah dari tadi malam England merasakan ini. Ya, ia merasakan kehadiran makhluk lain selain dirinya dan Indonesia dirumah ini.
Tadi malam, ia melihat sesosok bayangan sedang berjalan di ruang tengah. Ia juga sempat melihat seorang anak kecil botak sedang mengendap-endap layaknya ingin mengambil (maling tepatnya) sesuatu. Dan yang lebih mengerikan, ia juga melihat sesosok wanita yang terdapat bolongan di punggungnya.
Dan disini England sekarang, mencoba tidur dan mengabaikan segala hal tersebut dengan cara menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Ia tidak merasa kepanasan karena hujan sedang turun dengan derasnya di luar sana, namun telinga (sakti) nya masih saja menangkap suara-suara tak jelas dari luar.
Tempat ini jauh lebih mengerikan dibanding Japan, pikir England.
"Selamat pagi, Inggris. Tidur nyenyak semalam? Tadi malam sejuk sekali, sampai saya tidur dengan nyenyaknya, ehehe..." sapa Indonesia kepada England yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Ah, iya. Tadi malam sejuk sekali, ehehe... Jadi, hari ini kita akan kemana?" tanya England sambil memakan sepotong pisang goreng.
"Kita akan mengunjungi kebun strawberry hari ini." Jelas Indonesia sambil menghidupkan televisi.
"Ah, baiklah. Saya akan bersiap-siap dahulu."
England pun berniat untuk kembali kedalam kamarnya, namun niat itu di urungkannya. Kenapa?
"Indonesia, bisa temani aku mengambil barang-barangku?"
"Sejak kapan Anda jadi sepenakut Amerika, Inggris?"
England dan Indonesia sedang berjalan-jalan disekitar kebun strawberry yang terletak di daerah Ciwidey.
"Disini, Inggris bisa memetik langsung Strawberry-nya." Jelas Indonesia sambil mengambil sebuah strawberry.
"Mau coba?" tawar Indonesia kepada England yang masih sibuk melihat sekeliling.
"Ah, terima kasih." Jawab pemuda itu dan langsung memakannya.
"Enak, manis." Komentar England setelah memakannya.
"Tentu saja, strawberry disini dirawat dengan sangat baik. Strawberry sendiri merupakan produuk agrowisata unggulan dari Bandung, khususnya daerah Ciwidey ini."
"Hmm...hmm..." hanya itu suara yang dikeluarkan oleh England karena terlalu asyik memakan buah strawberry.
"Anu, Indonesia..."
"Ya?"
"Saya boleh bawa buah ini ke Inggris?"
"Boleh saja, tapi yang sudah kemasan yah?" jawab Indonesia sambil tersenyum.
Situ Cileunca, sebuah danau di daerah Pangalengan.
"Jadi, Inggris. Danau ini merupakan danau buatan yang luasnya mencapai 1.400 hektar. Daerah ini dikelilingi oleh bukit-bukit dan berlatar belakang pegunungan. Selain sebagai tempat wisata, Situ Cielunca juga juga berfungsi sebagai sumber air bagi pembangkit tenaga listrik. Air dari danau dialirkan melalui sungai Palayangan, yang juga sering digunakan sebagai arena rafting." Jelas Indonesia.
"Arena rafting?" tanya England.
"Ya, ada pertanyaan Inggris?" tawar Indonesia sambil memfoto beberapa keindahan di Situ Cileunca untuk dibawa oleh England nantinya.
"Ngomong-ngomong soal rafting, bagaimana kalau kita bermain rafting? Bukankah itu ide yang bagus?" kata England bersemangat.
"Ra-rafting?" tanya Indonesia sekali lagi.
"Iya, rafting. Jangan bilang kamu gak tahu, kan kamu sendiri yang tadi menjelaskan."
"Ehh... Ba-baiklah."
Semoga saja hal ini tidak seburuk sewaktu bersama Canada dulu, batin Indonesia.
"Menyenangkan sekali! Huuuaaa... benar-benar ekstrim! Saya tidak menyangka arusnya akan sekuat itu." Teriak England gembira.
Sedangkan Indonesia sedang mengeringkan rambut panjangnya dengan sebuah handuk. Ia sempat tersiram arus air yang begitu besar, sampai membasahi sedikit bajunya. Rambutnya yang sudah ia rias tadi pagi, benar-benar terlihat kacau akibat siraman air sungai.
Ia pun ingat bahwa tadi pagi ia mengenakan sebuah jepit rambut berbentuk bunga kamboja putih, namun sekarang? Jepit itu bahkan tidak ada lagi di rambutnya. Bahkan ia tak berhasil menemukan jepit itu.
"Setelah ini kita akan kemana Indonesia?" tanya England sambil mengeringkan rambutnya.
"Beberapa tempat yang belum kita kunjungi, seperti Perkebunan Teh Malabar dan Pemandian Air Panas Cibolang. Mengingat besok hari terakhir Anda di Indonesia, saya akan menemani Anda berbelanja souvenir dan oleh-oleh. Juga mengunjungi Paris van Java mall." Jelas Indonesia.
"Ah, kita akan ke pemandian air panas lagi?"
"Iya, memang kenapa Inggris-san?"
England terdiam, ia masih ingat ketika terakhir kali sedang berendam di pemandian air panas Maribaya. Sosok perempuan berbaju putih itu... Tunggu, perempuan bukan yah?
"Indonesia temani aku mandi yah?"
Indonesia menghela nafas, wajahnya memerah. Gila, ini bule yang benar saja. Ini Indonesia lho, INDONESIA! Bukannya di England atau di Amerika yang menjunjung tinggi hak asasi manusia itu.
"Tidak bisa begitu, Inggris. Indonesia tidak sama dengan di negara anda. Lagipula, saya juga tidak ingin menemani anda." Jawab Indonesia datar.
"Lho kenapa?"
Belum sempat Indonesia menjawab sebabnya, sebuah pesan singkat dari private number (lagi) masuk kedalam inbox telepon genggam milik England.
"Heh, mulai berani lo sekarang, alis tebal? Udah gue bilang, jangan gangguin Indonesia gue. Cuma gue yang boleh mandi bareng sama Indonesia!"
Dari Netherlands lagi, pikir England. Sial, kenapa juga cowok lolikon itu masih aja bersikap seolah-olah Indonesia masih menjadi miliknya? Udah jelas Indonesia itu sudah merdeka, sudah hampir 60 tahun pula.
"Biasalah, Inggris. Netherlands itu tidak bisa menerima kenyataan." Sambung Indonesia.
Sedangkan England langsung menjauhkan layar telepon genggamnya dari Indonesia. Jadi, Indonesia sudah tahu soal ini?
"Tentu saja, hampir semua negara yang mau dekat dengan saya dikirimi sms seperti itu. Sini, biar saya saja yang balas." Kata Indonesia seolah membaca pikiran England.
Seakan disihir, England pun hanya menuruti saja dan memberikan telepon genggamnya kepada Indonesia. Indonesia langsung menekan beberapa nomor, dan menaruh telepon genggam itu di telinga nya.
"Halo, Netherlands? Berhenti mengirim sms ke Inggris atau gue bakal ngebuat lo dikira MPREG lagi sama seluruh rakyat lo, paham? Oke, baguslah. Dan ingat? Gue bukan jajahan lo lagi, sudah lama gue merdeka dari lo. Lo kayaknya gak rela banget yah gue merdeka dari lo, eh? Padahal jajahan lo segitu banyak. Udah ah, capek ngebacot sama lo. Oh ya, dan GUE GAK BAKALAN PERNAH MAU MANDI BARENG SAMA LO, DASAR MESUM!"
Tut...tut...tut...
"Ini, Inggris. Saya jamin, Netherlands gak bakal meneror Anda lagi." Ujar Indonesia tersenyum, sembari mengembalikan telepon genggam itu ke England.
Tentu saja, orang lo sudah neror dia duluan, batin England.
Setelah pergi berjalan-jalan di Perkebunan Teh Malabar dan mandi di Pemandian Air Panas Cibolang (Dan England terus saja menahan rasa takutnya ketika mengetahui bahwa sosok itu masih mengejarnya hingga kemari) akhirnya England dan Indonesia pun pulang ke rumah. Rumahnya Indonesia sih.
"Inggris, tadi malam dengar suara ribut-ribut tidak?" tanya Indonesia sambil mengikat rambut panjangnya.
"Ah, iya. Saya dengar, Indonesia juga dengar kah?" seru England, akhirnya! Ternyata bukan gue sendirian yang dengar itu suara, batinnya.
"Hmm... Mungkin tetangga sebelah berantem lagi. Atau mungkin ada kucing berantem? Ah, sudahlah. Oh ya, selamat malam Inggris. Besok kita akan jalan-jalan di Paris van Java Mall." Jelas Indonesia sambil berlalu menuju kamarnya.
Dan tinggal lah England sendirian disana. Di ruang tengah! Tempat dimana semalam ia melihat sosok-sosok tidak jelas yang menghantuinya semenjak tiba di negara ber-iklim tropis ini.
"Me-mendingan gue ke kamar aja ah~" pikir England sambil berlalu ke kamarnya.
Hari terakhir England di Indonesia dihabisi dengan pergi berjalan-jalan di Paris van Java mall atau juga dikenal dengan nama Paris Van Java Resort Lifestyle Place.
Mall yang diresmikan pada Juli 2006 ini mengambil desain khas Eropa, juga dengan nuansa open air dan pemandangan burung-burung merpati hias yang bertebangan dengan bebas. Melihat pandangan seperti ini mengingatkan England ketika berada di London. Kira-kira, bagaimana kabar Sealand sekarang? Dan kekacauan apa saja yang sudah dilakukan Butler bodoh itu? Tunggu, kenapa England jadi memikirkan mereka?
"Nuansa Eropa disini kental sekali, serasa kembali ke London." Komentar England sambil tersenyum.
"Ah, Inggris... Bagaimana kalau sekarang kita membeli beberapa souvenir untuk Inggris bawa ke London?" usul Indonesia.
"Benar juga, saya juga sedang mencari alat-alat jahit. Tidak sempat membeli yang baru sewaktu di London. Disini ada jual alat-alat jahit kan?"
"Tentu saja ada. Mari, saya antarkan."
Ternyata Inggris menjahit, dasar uke, batin Indonesia.
Hawa dingin itu muncul lagi?
Sebenarnya dari rumah Indonesia tadi, England sudah merasakan hal ini. Seperti ada seseorang... atau sesuatu yang mengikutinya. Hawa-nya dingin, dan mengerikan. Apa perlu gue tanya Indonesia ya? Batin pemuda British itu.
Namun pada akhirnya, diurungkan nya juga niatnya itu. Gengsi gitu lho. (lha?)
"Inggris, saya lihat dari tadi Anda melamun... Tidak enak badan?" tanya Indonesia, cemas. Melihat tamu dari Inggris nya itu terlihat lain dari biasanya.
"Ti-tidak apa-apa kok, Indonesia. Mungkin saya hanya sedikit kelelahan." Jelas pemuda itu.
"Bagaimana kalau kita istirahat di Restaurant King Duck, sambil makan siang?" usul Indonesia.
"I-ide yang bagus juga."
Dan mereka pun memutuskan untuk beristirahat sejenak di restoran King Duck. Walaupun berada didekat Indonesia, hawa dingin itu masih terasa.
"Indonesia, saya pergi ke Toilet dahulu ya?"
"Ah, silahkan...silahkan... Toilet-nya disebelah sana." Jelas Indonesia sambil menunjuk arah Toilet.
England langsung berlari menuju Toilet tersebut, sampai Indonesia sempat ber-asumsi bahwa mungkin England sedang sakit perut atau sejenisnya.
Setibanya di Toilet, England langsung membasuh wajahnya dengan air dari wastafel. Hawa dingin itu masih ada. Mungkinkah ini cuma perasaannya saja? Ia ingin menanyakan hal ini pada Indonesia, tapi terlalu gengsi. Sampai akhirnya, ia menangkap sesosok manusia dengan baju putih dan rambut hitam berantakan.
"BLOODY MARRY!" teriak England.
Indonesia yang sedang makan terkejut mendengar teriakan pria bule tersebut. Dengan segera, wanita itu berlari menuju Toilet yang tadi dimasuki England. Tanpa peduli papan 'Male' yang digantung jelas di pintu Toilet.
"INGGRIS, ADA APA?"
"B-bloody Marry..."
"Bloody Marry?"
"Iya..." ujar England sambil menutup wajahnya.
"Di Indonesia tidak ada Bloody Marry, Inggris?" kata Indonesia, datar.
"A-apalah, pokoknya sosoknya mirip-mirip Bloody Marry gitu."
"Saya baru tahu Inggris takut hantu..."
"JADI ITU HANTU?" teriak England, tambah frustasi.
Ya iyalah hantu, emang saya? Batin Indonesia. Tunggu, penampilannya juga mirip hantu sih. In some point.
"Ya sudah, kan kita sudah dapat alat-alat jahitnya, bagaimana kalau kita pulang? Mungkin Anda terkena sindrom 'rindu Inggris'." Cetus Indonesia, asal.
Hari ini, England akan kembali ke London. Indonesia mengantarkan cowok British ini ke Airport sembari mengucapkan selamat tinggal kepada teman Eropa-nya itu.
"Indonesia, sebenarnya dari awal saya ke rumahmu ada yang ingin saya tanyakan." Bisik England. Pada akhirnya, ia tidak bisa menahan rasa penasarannya soal sosok mengerikan dirumah Indonesia itu.
"Apakah itu, Inggris?" tanya Indonesia.
"Apa kau memelihara sejenis hantu atau troll atau apalah dirumahmu?"
"Tidak. Saya tinggal sendirian."
Bagus! Sama seperti waktu ke Jepang, pikir England.
"Ah, begitu. Ya sudah, saya pulang dulu Indonesia. Bye bye~" seru England sambil melambaikan tangannya kearah Indonesia.
"Ah, sampai jumpa Inggris. Jangan lupa, promosiin negara saya sama orang British lain disana!" seru Indonesia sambil membalas lambaian England.
England pun masuk kedalam Pesawat British Airways yang akan mengantarkannya kembali ke London. Indonesia melambai sambil menyaksikan teman Eropa-nya itu lepas landas dan meninggalkan Indonesia.
Tiba-tiba, ia mengerti apa yang dimaksud oleh England tadi.
"Ja-jangan-jangan yang dilihat Inggris itu Kuntilanak dan geng-gengnya? Duh, mana gue belum sempat pasang jimat kemarin. Semoga aja, Inggris gak di grepe-grepe sama mereka." Bisik Indonesia sambil berjalan kembali ke mobilnya.
Saya merasa kalau chapter 2 ini agak gaje? Well, kalau seandainya ada yang kalian tidak mengerti dari fic ini jangan segan-segan bertanya pada saya. :D
Review masih sangat dibutuhkan, dan Request masih dibuka! XDD
Created on: Monday, 3rd May 2010. 20:05
Edited on: Saturday, 5th June 2010. 18:05
