~After 4 Years~
DASI SEQUEL
Pairing: Kim Mingyu X Jeon Wonwoo
MEANIE
Genre: Romance
Rated: M
Warning: BoyXBoy, YAOI, TYPO BERTEBARAN
ONESHOOT
.
HAPPY READING MY LOVEY READERS...
.
.
.
AUTHOR POV
Udara dingin mengiringi bulan penutupan tahun ini, pemandangan di luar terlihat putih karena tertutup salju. Jangan lupakan mantel mantel tebal dan sepatu boot yang belakangan ini menjadi fashion harian bagi semua orang, ya mereka melakukannya hanya sekedar untuk mencari kehangatan.
Pemuda itu, Jeon Wonwoo, sesekali menggosok ujung hidung mancungnya yang memerah karena udara yang sangat dingin. Duduk sendirian di halte menunggu bus yang akan membawanya pulang bukanlah perkara mudah mengingat suhu yang terus saja turun. Udara di Seoul saat ini memang berada di titik minus yang tidak terlalu dingin, tapi mampu membekukan tangan tangan telanjang tanpa sarung tangan.
Wonwoo sendiri terpaksa berada di luar selimut hangatnya karena ada beberapa urusan yang harus ia lakukan. Sebenarnya ia lebih suka bergelung di tempat tidur dengan suhu penghangat ruangan yang tinggi, namun pekerjaannya di kantor merengek manja untuk segera di selesaikan.
Selesaikan sekarang dan kau bisa mendapatkan liburan panjang akhir tahunmu. Yeah, hal itu lah yang membuat Wonwoo rela untuk lembur menyelesaikan sebanyak mungkin pekerjaannya. Saat ini masih awal bulan Desember, namun target Wonwoo adalah menyelesaikan semuanya di pertengahan bulan hingga ia selalu pulang selarut ini. Lagi pula ini juga tahun pertamanya sebagai seorang pegawai, jadi sebagai 'anak baru' Wonwoo harus bisa memanfaatkan waktunya seefisien mungkin.
Wonwoo merupakan seorang editor di PLEDIS MAGZ, majalah fashion dan bisnis mingguan yang sangat terkenal di Korea Selatan dan negara lainnya, tentu saja setelah menyelesaikan kuliahnya dengan nilai terbaik ia akan sangat mudah di terima ditempat itu.
.
Akhir tahun ini juga menjadi begitu berarti bagi Wonwoo, karena ini adalah tahun terakhir Mingyu berada di Jerman. Selama 4 tahun terakhir, mereka menjalani hubungan jarak jauh yang sangat menyiksa. Bayangkan saja, kalian menjalin sebuah hubungan, dan dalam kurun waktu 4 tahun sama sekali tidak bisa bertatap muka secara nyata.
Mingyu dan Wonwoo selama ini bertahan dengan mengandalkan teknologi komunikasi yang ada, meskipun sebenarnya sangat jarang bagi mereka berdua memiliki waktu untuk bisa sekedar menelepon atau video call. Perbedaan waktu yang lumayan jauh antara Seoul dan Berlin cukup membuat mereka kesulitan mendapatkan waktu yang tepat untuk sekedar melepas rindu.
TING...
Ponsel milik Wonwoo bergetar halus dan suara dentingannya terdengar cukup keras untuk memecah suasana malam yang hening di halte itu. Perlahan ia mengeluarkan ponsel hitamnya dari dalam saku mantel yang ia kenakan dan melihat sebuah pesan masuk dari seseorang yang sangat ia kenal. Pesan itu dari Mingyu, dan seketika senyuman merekah di bibir Wonwoo.
From : GyuKim (^v^)
Good night, go to sleep early
then meet me in your sweet dream baby~~~
Samar bibir plump Wonwoo menyuarakan kata 'gombal' namun senyuman masih betah merekah disana. Ya, Kim Mingyu memang selalu seperti itu. Bahkan mungkin Wonwoo heran darimana laki laki itu belajar kata kata 'Cheesy', dan jangan lupakan pesan yang selalu di kirim Mingyu setiap malam padanya. Mungkin saja Mingyu memiliki sebuah kamus gombalan tak bermutu dengan jutaan kata di dalamya, tapi tetap saja Wonwoo akan tersipu dengan gombalan tak bermutu itu.
Wonwoo mengecek jam di ponselnya setelah membalas pesan dari Mingyu, dan sudah pukul 22.30 waktu korea selatan. Wonwoo yakin saat ini Mingyu masih sibuk karena disana masih jam 3 sore, laki laki itu pasti sedang menyelesaikan semua urusannya untuk pulang ke Korea tahun depan.
Sebenarnya Mingyu sudah lulus kuliah setahun lalu, tapi ia diminta oleh ayahnya untuk magang sementara di salah satu perusahaan milik kolega sang ayah di Jerman. Jadi ia baru bisa kembali ke Seoul awal tahun depan, dan tentu saja bertemu dengan Wonwoo.
.
Wonwoo merasa ia sudah tidak sabar lagi bertemu dengan Mingyu, karena tinggal menghitung minggu saja sebenarnya. Ia mengingat bagaimana perpisahannya dengan Mingyu 4 tahun lalu, dengan masih memakai seragam kelulusan dari sekolahnya, ia mengantar Mingyu ke Bandara. Dan jangan lupakan saat ia tak berhenti menangis ketika Mingyu sudah pergi, bahkan membuat kedua orang tuanya khawatir karena ia pulang dalam keadaan berantakan.
Wonwoo tersenyum geli mengingat masa itu, ia terlihat seperti seorang gadis yang baru saja di putuskan pacarnya. Namun bulan berikutnya ia sudah ceria kembali, dan memantapkan hatinya untuk bertahan menunggu Mingyu pulang.
Lagi lagi ia tersenyum sembari menyentuh tali ransel yang ia pakai, ada sebuah benda yang terikat manis di sana. Itu dasi Mingyu, yang akan selalu ia bawa kemana pun ia pergi.
Tak lama sebuah bus datang dan Wonwoo segera beranjak menaiki bus tersebut, ia akan pulang, mandi, tidur dan bertemu Mingyu dalam mimpinya nanti. Wonwoo harap begitu.
.
.
Waktu berlalu sangat cepat, bahkan untuk saat ini tahun telah berganti menggeser satu angka ke angka lain yang berdigit lebih besar. Natal kemarin Wonwoo habiskan untuk berdoa di gereja dengan khidmat bersama keluarga besarnya, terselip ucapan syukur dalam tiap doa yang ia panjatkan. Dan tahun baru ini Wonwoo habiskan di dalam apartemen nya, bergelung di bawah hangatnya selimut biru muda yang halus dan nyaman.
Tak ada rencana apapun bagi Wonwoo, karena ia sudah menghabiskan libur natalnya bersama keluarga dan kini ia sudah kembali ke apartemennya sendiri. Pekerjaannya di kantor juga sudah selesai, dan yang saat ini ia lakukan hanya bermalas malasan sembari menunggu Mingyu pulang.
Ya, malam tahun baru pun tak akan berarti apa apa bagi Wonwoo selagi Mingyu belum ada di sisinya. Jadi jangan salahkan namja bermata rubah itu jika ia terlihat sangat malas dan sama sekali tak berniat pergi kemana pun di tahun baru ini.
Karena sebenarnya Wonwoo sudah memiliki banyak rencana yang akan ia lakukan saat (sekali lagi dan aku harus mengulangnya berkali kali) Mingyu nya pulang. Ia hanya tak sabar menunggu hari itu tiba, karena 4 tahun bukan lah waktu yang singkat untuk menjalani suatu hubungan jarak jauh. Dan sebentar lagi kekasih yang paling ia cintai itu akan pulang, bahkan pipi Wonwoo terus bersemu hangat jika mengingat hal ini.
Pesan terakhir yang Mingyu berikan dua hari yang lalu mengatakan jika laki laki itu akan berada di Seoul hari Minggu, ya, masih tiga hari lagi karena sekarang masih hari kamis, dan Wonwoo berjanji untuk menjemput Mingyu di bandara. Harus ku beritau jika Wonwoo sudah menyiapkan setelan khusus untuk pergi kebandara, bahkan ia sudah memilih sepatu mana yang akan ia pakai nanti. Wonwoo sudah mempersiapkan semuanya, mungkin ini terlihat begitu berlebihan dan Wonwoo juga terlihat seperti seorang gadis yang akan pergi kencan untuk pertama kalinya. Tapi siapa peduli, ia ingin semuanya yang terbaik untuk menyambut kedatangan pangerannya.
.
Masih dengan piyama tidur lengkap dengan sandal rumah berbulu miliknya, Wonwoo yang terlihat seperti anak usia belasan tahun itu beranjak dari kamarnya menuju pintu utama apartemennya karena sepertinya makanan yang ia pesan sudah datang. Dan ya benar saja, makanan yang ia pesan sudah datang.
Wonwoo tau jika si pengantar makanan itu menahan tawanya saat melihat wujud dirinya, namun ia tetap stay cool dan acuh, siapa peduli dengan tukang antar makanan itu. Setelah membayar Wonwoo bergegas masuk sembari bersenandung karena waktu makan sudah tiba, dan jangan lupakan fakta bahwa Wonwoo sudah memesan makanan kesukaannya ini selama tiga hari karena ia sangat malas beranjak dari apartemennya untuk makan di luar atau pun memasak sendiri.
Setelah meletakkan bungkusan itu di meja makan, Wonwoo menyiapkan teh hangat sebagai teman makannya. Namun sebelum namja manis itu benar benar duduk dan menikmati makanannya suara bel apartemnnya berbunyi lagi, seketika Wonwoo menghela nafas dan berat hati berjalan menuju pintu utama.
Wonwoo sudah siap untuk memaki manusia yang berani mengganggu waktu sarapan pagi menjelang siangnya yang berharga, sampai saat ia melihat seorang namja bertubuh tinggi dengan rambut hitam berponi jangan lupakan senyuman dengan gigi taring yang menawan itu. Wonwoo merasakan sekujur tubuhnya membeku, dan ia kehilangan dunianya untuk beberapa saat sebelum manusia yang berdiri di depannya itu bersuara.
"Hai!" Wonwoo masih saja diam terpaku.
"Wonu~~ Jeon Wonu..." laki laki itu Kim Mingyu, melambaikan sebelah tangannya di depan wajah 'mong' Wonwoo.
Karena tak direspon apa pun Mingyu dengan santainya masuk dan menutup pintu apartemen Wonwoo tak lupa menarik pelan tangan Wonwoo dan membawanya masuk.
.
.
Setelah menyelesaikan sarapan pagi menjelang siangnya yang harus di bagi dua dengan sang kekasih tercinta yang dengan kurang ajarnya datang lebih cepat tanpa memberikan kabar, Wonwoo langsung masuk ke dalam kamarnya dan merajuk.
Sungguh kekanakan memang, tapi siapa yang tidak kesal jika kau sudah mempersiapkan yang terbaik untuk bertemu kekasihmu setelah sekian lama, tapi berakhir dengan pertemuan di pagi menjelang siang di saat kau belum mandi, dan masih mengenakan piyama.
Mingyu sendiri hanya menggeleng maklum melihat tingkah kekasihnya itu, dan dengan langkah perlahan ia masuk ke kamar Wonwoo dan meletakan tasnya di atas meja nakas. Sedangkan Wonwoo sendiri duduk bersandar di ranjangnya dan sok tidak peduli pada eksistensi Mingyu dengan berpura pura fokus pada ponselnya.
"Kurasa cara menyambut kekasih yang baru datang setelah sekian lama pergi bukan dengan cara merajuk seperti ini sayang!" ucap Mingyu yang tengah memposisikan dirinya di sebelah Wonwoo.
Masih belum ada jawaban dari Wonwoo, bahkan Mingyu bisa melihat apa yang kekasihnya itu lakukan dengan ponselnya. Wonwoo hanya sedang membuka Instagram dan melihatnya tanpa minat.
"Sayang!" Wonwoo masih enggan menjawab.
Merasa gemas dengan tingkah sang kekasih, Mingyu pun menyeringai dengan ide jahil di otaknya lalu merapatkan tubuhnya pada Wonwoo. Satu tangannya ia gunakan untuk meraih bahu sempit sang kekasih dan membawa tubuh Wonwoo untuk bersandar padanya. Karena merasa tidak mendapatkan perlawanan, Mingyu pun melebarkan seringai dan mulai mendekatkan bibirnya ke leher mulus milik Wonwoo.
"Yak dasar mesum!" Wonwoo masih bertahan di posisinya hanya saja tangannya yang kini memeluk tubuh Mingyu dengan teganya mencubit perut kekasih tampannya itu.
"Aduh, galak sekali sih! Aku kan bosan kau diamkan terus!"
"Aku marah padamu tau!"
Mingyu terkikik geli, sungguh Wonwoo yang saat ini ia lihat sangat menggemaskan. Sungguh berbeda dan lebih manja dibandingkan dengan Wonwoo yang 4 tahun lalu ia temui. Ah, mungkin karena efek rindu.
"Ya ya, kalau begitu aku minta maaf karena datang terlalu cepat. Aku hanya ingin memberikanmu kejutan sayang..." Mingyu pun mencubit pelan hidung mancung Wonwoo.
"Di maafkan tapi hanya setengah, karena aku masih kesal. Kau tau aku bahkan belum mandi, dan kau berani beraninya muncul di depan pintu apartement tanpa mengabariku dulu! Setidaknya aku ingin menyambutmu dengan kondisi yang baik, bukan dengan piyama seperti ini! Huh, 4 tahun tidak bertemu dan kau masih saja menyebalkan! Aku benci Mingyu!"
Meskipun ucapan Wonwoo terdengar sinis dan penuh kekesalan, tapi tindakannya sungguh bertolak belakang dengan ucapannya. Lihat saja bagaimana orang yang mengatakan jika ia kesal dan benci malah memeluk dan menyembunyikan wajahnya di dada orang yang menjadi objek kekesalannya itu. Wonwoo memang kesal, tapi rasa rindunya pada sang kekasih tetap lebih besar dari apapun.
Perlahan Mingyu mengeratkan pelukannya pada Wonwoo dan mencium kepala namja yang lebih kecil darinya itu sembari tersenyum.
"Kau tetap saja harum meskipun tidak mandi, dan piyama itu membuat mu menjadi semakin terlihat imut! Ku pikir sambutan yang kau berikan itu adalah yang terbaik, setidaknya aku bisa melihat penampilanmu sehari hari yang akan terus aku lihat setelah kita menikah nanti!"
Pipi Wonwoo merona mendengar ucapan Mingyu, sungguh ide tentang pernikahan tidak pernah melintas di benaknya dan ketika Mingyu mengucapkannya membuat dadanya bergemuruh dan wajahnya jadi merona.
"Percaya diri sekali, memangnya siapa yang akan menikah denganmu!"
Dan hal berikutnya membuat Wonwoo menyesal telah mengatakan hal itu. Karena dengan cepat Mingyu merubah posisi mereka menjadi Wonwoo berada di bawah kungkungan kedua tangannya dan laki laki itu berada di atas Wonwoo, jangan lupakan seringaian mesum yang Mingyu berikan membuat tubuh Wonwoo bergetar.
"Kau! Yang akan menikah denganku itu kau! Meskipun kau menolak aku akan memaksa, ingat itu!"
Dan detik berikutnya sebuah kecupan hangat mendarat di bibir Wonwoo. Meskipun hanya sebuah kecupan namun Mingyu menahan bibirnya agak lama, hingga merasa tidak ada penolakan dan laki laki itu mulai melumat halus bibir ranum kekasihnya.
Perlakuan Mingyu sempat membuat Wonwoo terkejut, namun ia mencoba untuk tetap tenang. Meskipun ia merasa ragu karena tidak berpengalaman dalam hal berciuman intens seperti ini (kecuali ciuman perpisahannya dengan Mingyu 4 tahun lalu) , tapi perlahan Wonwoo mengalungkan kedua tangannya pada leher Mingyu.
.
.
Mingyu yang memulai semuanya, dengan perlahan ia melumat bibir Wonwoo dan memastikan tidak ada celah yang terlewati. Menyesap rasa manis yang memabukan dan mulai mengexlpore kedalam gua hangat milik kekasihnya itu.
"Nghhh.. Ah..."
Wonwoo mendesah pelan saat lidah kekasinya itu mulai menyentuh langit langit mulutnya pelan, kedua tangannya tidak hanya diam dan mulai meremas surai hitam Mingyu.
Puas dengan penjelajahan di gua hangat Wonwoo, Mingyu pun melepaskan tautan bibir mereka dan menyisakan pemandangan bibir Wonwoo yang merah itu semakin terlihat merekah dan bengkak akibat ulahnya.
Dan selanjutnya, bibir Mingyu beralih ke leher putih nan mulus milik kekasihnya itu. Menyesapnya dalam dalam tanpa peduli dengan erangan kesal Wonwoo, bahkan kini tangan kanannya sedang sibuk menyusup kedalam atasan piyama Wonwoo mencari kehalusan kulit sang kekasih.
"Gyu~~~ Je-jebal...
Ngh... A-aku belum nghhh..
YAK KIM MINGYU AKU BELUM MANDI!"
Dengan sekuat tenaga Wonwoo berusaha menyingkirkan tubuh Mingyu namun hasilnya nihil karena laki laki itu lebih kuat darinya.
"Mandinya nanti saja sayang, setelah kita selesai!"
Wonwoo menjerit saat tangan Mingyu berhasil mendapatkan nipple nya.
"YAK! Singkirkan tanganmu Gyu! Memangnya apa yang ingin kau lakukan?"
Wonwoo pun menjadi sangat panik karena perbuatan Mingyu, dan Mingyu sendiri hanya mendengus kesal karena kegiatannya di hentikan.
"Aku sangat merindukanmu sayang, lagi pula kita sudah legal kan melakukan itu!"
"Ta-tapi aku... Ya Tuhan aku belum siap Mingyu!"
"Kau sudah lebih dari siap sayang!"
"Aku tidak, argh, aku belum siap Kim Mingyu!"
Mingyu pun memutar bola matanya malas, huh, sudah tegang seperti itu dan dia mengatakan jika dia belum siap.
"Bagian selatanmu mengatakan jika kau sudah siap sayang, oh ayolah, aku janji tidak akan kasar, okkey!"
Wonwoo hanya melirik bagian bawahnya yang di himpit tubuh Mingyu, dan tentu saja dia sudah siap sejak Mingyu menciumnya tadi, namun ia merasa belum siap karena semuanya terasa tiba tiba.
"Mi-mingyu..."
"Sstt... Aku janji akan melakukannya dengan lembut sayang!"
Dan tanpa menunggu izin dari Wonwoo, Mingyu melanjutkan kegiatannya yang tertunda. Tentu saja Mingyu bisa gila jika kegiatannya ini di hentikan, 4 tahun menahan semuanya bukan lah hal mudah.
Katakan saja jika Mingyu itu sudah gila sekarang. Mingyu adalah laki laki dewasa yang harus menyalurkan gejolak hormon miliknya, dan 4 tahun ia melakukannya sendirian. Dan sekarang, disaat ia sudah kembali bertemu dengan kekasihnya dan berada di suasana yang tepat gejolak itu muncul dan tidak mungkin lagi ia tahan. Selain nafsu, Mingyu juga melakukannya karena sangat merindukan pada kekasihnya itu.
Wonwoo masih ingin menolak, tapi sebagian dari dirinya sudah menyerah dengan semua sentuhan Mingyu.
"Relax saja sayang!"
Hal yang berikutnya terjadi adalah Wonwoo sudah benar benar menyerah pada Mingyu, dan mulai mengikuti permainan yang Mingyu ciptakan.
Mingyu sendiri masih sibuk dengan leher putih nan mulus itu, dan jangan lupakan tangannya masih sibuk memanjakan nipple Wonwoo yang semakin mengeras karena terangsang atas perlakuannya. Sesekali tangan Mingyu turun untuk mengelus perut datar Wonwoo yang tak kalah halus dari leher yang sedang ia jamah.
Wonwoo sudah mulai terbiasa dan menikmati sentuhan yang diberikan oleh kekasihnya itu, dan kedua tangannya kini berada di punggung lebar Mingyu meremas sweater yang Mingyu kenakan.
Tak butuh waktu lama bagi Mingyu karena ia sudah berhasil melepas atasan piyama sang kekasih dan melemparnya kesisi ranjang, berikutnya sebuah sentakan halus melepaskan celana piyama Wonwoo.
Mingyu sempat terpaku melihat tubuh half naked kekasihnya, dan kini nafsunya sudah tak tertahankan lagi. Mingyu pun memberikan kesempatan Wonwoo untuk menormalkan nafasnya yang masih memburu, dan ia sibuk melepaskan pakaiannya sendiri.
Selanjutnya baik Mingyu maupun Wonwoo sudah benar benar tidak mengenakan sehelai benang pun, dan mereka melanjutkan kegiatan yang sempat tertunda.
.
Sesuai dengan janjinya, Mingyu melakukan semuanya dengan lembut. Meskipun nafsunya sudah tak tertahankan, tapi logika tetap memaksakan dirinya untuk sadar dan tidak menyakiti Wonwoo.
Suara desahan dan erangan Wonwoo bagai nyanyian malaikat, membuat Mingyu terbang dengan sebuah kepuasan yang selama ini ia damba. Wonwoo sendiri sudah larut terlalu dalam dengan Mingyu yang berada dalam dirinya, meskipun ingin menolak tapi Mingyu telah mengalahkannya.
Tak sampai disitu saja, Mingyu bahkan membuat mahakarya berupa kelopak bunga mawar ranum di setiap inchi kulit mulus Wonwoo. Tercetak posesif dan sangat jelas, Mingyu ingin menandai di setiap jengkal tubuh sang kekasih dengan dirinya.
Dan sebuah pelepasan terakhir membuat tubuh Wonwoo merosot lemas dan tersenyum saat melihat wajah tampan Mingyu yang masih betah berada di atasnya. Satu kecupan, dua, hingga berkali kali Mingyu berikan di wajah cantik sang kekasih. Dan menuai kikikan geli dari Wonwoo.
"Terimakasih sayang..." ucap Mingyu dengan sangat tulus.
Dan jawaban Wonwoo adalah sebuah kecupan hangat pada bibir Mingyu. Setelah itu Mingyu melepaskan dirinya dan berbaring di sebelah Wonwoo sembari memeluk rubahnya posesif.
"Kau harus mau menikah dengan ku ya..." meski samar namun Wonwoo masih bisa mendengarnya karena jarak mereka yang sangat dekat.
"Bagaimana bisa aku menolak, memang sudah seharusnya kita menikah kan, bahkan kau baru saja mengambil harta ku yang paling berharga. Kalau kau tidak menikahi ku maka aku akan membunuhmu!" Mingyu terkekeh pelan dan semakin mengeratkan pelukannya.
"Setelah ini apa yang ingin kau lakukan?" tanya Mingyu.
"Mmm, ada banyak hal. Mungkin hal pertama yang harus kita lakukan adalah berkencan seperti pasangan lainnya, aku serius tentang hal ini. Kita sudah berpacaran 4 tahun dan sekali pun belum pernah berkencan."
"Yap, kita bisa kencan sesering yang kau inginkan! Lalu?" Mingyu pun menautkan jemarinya dengan Wonwoo.
"Lalu? Entahlah, yang ku pikirkan hanya itu, hhe..." lagi lagi dengan gemas Mingyu mencubit hidung mancung kekasihnya itu.
"Ku pikir kau ingin kita bisa tinggal bersama, setidaknya kita akan lebih mudah bertemu dengan kesibukan kita!"
"Ah, tinggal berasama ya? Aku akan tanya Mama dulu!"
Jeon Wonwoo tetap lah seorang pemuda manis yang masih polos, yah meskipun usianya sudah menginjak kepala dua. Setidaknya Mingyu bisa mengimbanginya dengan kadar kedewasaan yang lebih tinggi dan jangan lupakan bahwa ia sangat mesum.
.
.
Setelah membersihkan diri dan juga membereskan kekacauan di tempat tidur Wonwoo yang ternyata menjadi sangat berantakan akibat ulah keduanya, mereka pun bersiap siap untuk memulai kencan pertama mereka di sebuah restoran malam ini.
Awalnya Wonwoo berniat memanggil taksi, namun Mingyu mengejutkannya dengan sebuah mobil mewah yang telah terparkir di basement apartementnya. Ya, katakan saja Mingyu datang dengan mobilnya sendiri.
Selama perjalanan menuju restoran, hari sudah mulai gelap. Wonwoo terus saja tersenyum sembari melihat kearah luar, senangnya ia pikir, ini adalah kencan pertamanya dengan Mingyu. Dan Wonwoo juga berpikir jika kekasihnya itu sangat keren, karena Wonwoo jadi merasa seperti sedang berada di dalam drama yang biasa ia lihat di TV. Kekasih yang tampan, bermobil mewah, ya, untuk kali ini saja Wonwoo ingin sombong.
"Tersenyum terus, kau tidak lelah?" goda Mingyu.
"Memangnya kenapa? Aku sedang senang, jadi bibirku terus saja tersenyum!"
Kalau saja saat ini ia sedang tidak dalam keadaan menyetir mungkin Mingyu sudah menerjang kekasih imutnya itu. Dan akhirnya yang Mingyu lakukan hanyalah ikut tersenyum dan mengusak pelan surai hitam Wonwoo.
.
.
Kencan yang sangat romantis itu berakhir pada pukul sebelas malam karena Wonwoo dengan sikap kekanakannya merengek untuk pulang karena ia sudah mengantuk.
"Sayang kau ingin pulang atau menginap?" tanya Wonwoo dengan nada manjanya.
Sejenak dahi Mingyu mengernyit heran, sejak kapan Wonwoo mau memanggilnya 'Sayang'. Meskipun selama ini Mingyu selalu memanggilnya begitu, tapi Wonwoo tidak pernah memanggil Mingyu dengan sebutan yang sama.
"Kau panggil aku apa?"
"Sayang, memangnya kenapa? Tidak boleh?" Mingyu masih belum percaya.
Namun detik berikutnya ia sadar dan langsung mengerti maksud pertanyaan Wonwoo tadi.
"Ah, tentu saja boleh, dan sangat di anjurkan! Kalau kau tidak keberatan aku akan menginap!" senyum Mingyu setengah menyeringai.
Dan Wonwoo yang sadar akan hal itu pun langsung menyadari sesuatu.
Gyut~
"Yak, kenapa kau suka sekali mencubit perutku sih?"
"Singkirkan otak mesum mu itu Kim Mingyu, hanya tidur bersama, ingat itu! Kau sudah mendapatkannya tadi kan, dan aku bersumpah akan benar benar membunuhmu jika kau melakukannya padaku lagi!"
Mingyu pun menghela nafas pelan.
"Baiklah, hanya tidur, aku janji sayang!"
Meskipun begitu, Mingyu tetap tidak bisa berjanji pada dirinya sendiri.
.
.
Namun yang terjadi setelah mereka sampai di kamar Wonwoo adalah sebuah ciuman beberapa menit hingga Wonwoo sedikit mendorong dada Mingyu karena mulai kehabisan nafas. Setelah melepas ciumannya, Mingyu dapat melihat wajah Wonwoo yang merona.
Mingyu masih saja betah dengan posisinya dan enggan untuk beranjak dari atas Wonwoo, sungguh wajah yang kini tengah ia tatap adalah wajah yang sangat ia rindukan selama tinggal di Jerman. Bukan lagi terhalang sebuah monitor PC atau layar ponsel, kini wajah Wonwoo lebih nyata bahkan ia baru saja mencium bibir merah itu. Bibir yang juga menjadi obsesinya selama ini.
Empat tahun nya terbayar sudah dengan apa yang ia dapat hari ini, Wonwoo, Jeon Wonwoo nya yang dulu sulit untuk ia raih kini berada sangat dekat bahkan terlalu dekat dengannya.
"Hmm, bibirmu sangat manis!"
Wonwoo tersenyum, kini ia sudah tidak gugup lagi meskipun jantungnya masih terus berdegup kencang. Dan perlahan jari jari lentiknya ia gunakan untuk menyentuh wajah Mingyu, wajahnya sedikit berubah meskipun keseluruhan wajah Mingyu tetap sesempurna dulu. Dahi yang mempesona, mata yang tajam, hidung yang mancung, bibir yang manis, dan rahangnya menjadi sangat tegas. Mingyu sudah berubah menjadi pria sekarang, bukan 'anak laki laki' lagi. dan Wonwoo bangga akan hal itu. Bahkan ia tak menyesal sudah melepaskan hal berharga miliknya untuk Mingyu.
"Wajahmu banyak berubah, jadi semakin dewasa dan benar benar menjadi pria. Huh, aku iri, wajahku masih sama saja tidak ada perubahan."
Mingyu tersenyum lalu mengecup sekilas bibir Wonwoo dan merubah posisinya menjadi di samping kekasihnya itu..
"Ya memang banyak yang berubah, tapi aku tetap menjadi pria-mu...
Dan kau semakin cantik sayang!" Wonwoo yang mendengarnya pun mendengus pelan.
"Aku ini tampan bukan cantik!"
"Yah, terserah kau saja! Tapi bagiku kau ini sangat cantik!"
"Yak KIM MINGYU!"
Dan hal berikutnya yang di lakukan oleh Wonwoo adalah 'Mari mencubit perut Mingyu' di atas ranjang yang membuat selimut serta sepreinya menjadi berantakan.
END
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Epilogue
Setelah pulang kerja kini Wonwoo tak harus repot repot menunggu bus di halte, karena Mingyu akan selalu menjemputnya. Dan malam ini sebelum pulang Mingyu mengajak Wonwoo untuk makan malam di sebuah cafe yang tak jauh dari kantor Wonwoo.
"Apa itu?" tanya Wonwoo setelah melihat Mingyu mengeluarkan sebuah kotak yang tidak terlalu besar.
"Untukmu sayang!" Wonwoo pun mengernyitkan dahinya heran.
"Ku rasa ini bukan hari ulang tahunku!"
"Memang bukan."
"Jadi... dalam rangka apa isi dalam box ini kau berikan padaku?"
"Buka saja dan kau akan tau nanti!"
Tanpa mau menjawab lagi Wonwoo pun membuka box tersebut dan mendapati sebuah benda yang langsung membuat senyumannya menjadi cerah..
"Dasi ku?" tanya Wonwoo, lebih tepatnya untuk meyakinkan dirinya sendiri.
"Ya, aku ingin mengembalikan tawananku. Dan sebagai bukti dari janji ku dulu, jadi apa kau masih punya dasi ku?"
Lagi lagi Wonwoo tersenyum, dan dengan itu ia mengangkat ransel yang ia letakan di bangku samping keatas meja dan menunjukannya pada Mingyu.
"Tentu saja masih, dan selalu ikut dengan ku kemanapun aku pergi!"
"Wah, ternyata kekasihku ini posesif sekali ya!"
"Huh, memangnya tidak boleh!"
"Boleh, tentu saja boleh."
Lalu hal selanjutnya yang dilakukan oleh Mingyu adalah membuka ikatan dasi dari ransel Wonwoo dan melepasnya dari sana. Setelah itu ia mengikat kedua dasi itu, miliknya dan milik Wonwoo.
"Nah sekarang sudah lengkap, aku akan menyimpan dasinya. Sebagai gantinya aku ingin kau menjaga ini!"
Perlahan Mingyu membuka sebuah kotak kecil berisi sebuah cincin perak, mengambilnya dan memasangkannya pada jari manis nan lentik milik Wonwoo. Mengecup punggung tangan Wonwoo perlahan, dan memantapkan dirinya sekali lagi bahwa Wonwoo lah tujuannya selama ini.
"Menikahlah denganku Jeon Wonwoo, dan jaga ini untukku, jangan pernah kau lepaskan. Jadilah milikku, jadilah teman untuk menjalani sisa umurku."
Tidak pernah seyakin ini bagi Wonwoo, bukan kata kata tapi sebuah anggukan kepalanya serta air mata yang tulus sebagai jawaban atas permintaan seorang Kim Mingyu padanya.
"Aku mencintaimu sayang..."
"Aku juga mencintaimu Kim Mingyu..."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Maaf karena butuh waktu yang lama buat saya bikin sequel ini, and finally it's done,, dengan perombakan berpuluh puluh kali karena saya merasa kurang sreg sama ffnya. Dan saya mencoba untuk buat sesuatu yang belum pernah saya buat disini, yap, ini ff NC pertama saya, jadi maaf kalau memang masih sangat kurang disana. I just wanna break ma comfort zone, hhe. Dan setelah ini sudah tidak ada sequel lagi ya. Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mau menyisakan waktu untuk membaca ff saya yang masih banyak kekurangan ini. Buat yang selanjutnya saya akan coba untuk membuat sesuatu yang lebih bagus. Once more, thanks alot for your kindness, I'm nothing without you all.
.
.
withloveJeonukim
