Author's Note :

Ini dia...#jeng jeng jeng jeng~ chapter berikutnya! Chapter ini temanya diambil dari lagu 'Eyes On Fire' lagunya Blue Foundation, juga salah satu soundtrack film Twilight yang pertama (Kata sepupu aku, dia hobi banget nonton Twilight Saga...-_-;) yah, aku juga maniak lagu-lagu soundtracks film gitu. Tapi yah, yang terpenting, Selamat menikmati! Btw, ini link ke artwork yang aku sebut di chapter pertama : gallery/?q=harry%20potter&offset=24#/d2eadkr


======0======0======0======0======

The Dawn

Chapter Two : Eyes On Fire

======0======0======0======0======

~I'll seek you out, Flay you alive..~

Mentari mulai terbenam cakrawala saat mobil hitam memasuki pagar otomatis dari sebuah mansion besar bernomor dua-belas. Harry memasukan Hedwing ke sangkarnya kembali, burung hantu putih itu terus beruhu-uhu sambil mengepak-kepakan sayapnya, menyatakan ketidaksenangannya.

"Maaf, Cuma sebentar kok. Nanti akan kukeluarkan kau nanti didalam mansion." Janji Harry pada burung hantunya, sahabatnya satu-satunya yang mengerti dirinya. Sebut saja dia gila, berteman dan berbicara dengan burung hantu, tapi memang kenyataannya begitu. Hedwing adalah sahabatnya, Harry tidak memiliki teman seorangpun, burung hantunya ini walaupun hanyalah hewan peliharaan, tetapi ia paling mengerti perasaan Harry –Selain Sirius dan Remus.

Putus asa, Hedwing pun berhenti bersuara dan diam tak bergerak, berteger didalam sangkarnya. Sirius yang berada dibelakang-tepatnya dibagasi mobil-melirik tingkah laku majikan dan peliharaan itu,

"Aku heran, bagaimana caranya kau membuatnya bungkam seperti itu? Dia hanya patuh padamu ya?" Ujarnya sambil mengangkat koper-koper berisi barang-barang mereka.

Harry menaruh sangkar Hedwing didepan pintu besar masuk Grimmauld's Place nomor dua-belas dengan uhu-uhuan kecil penuh kekecewaan Hedwing, untuk membantu Sirius mengangkut koper-koper tersebut masuk. Sebelum Sirius dapat membuka pintu, kenopnya berputar cepat, membuka, dan menampakan sosok pria berambut cokelat madu penuh senyum.

"Harry! Sirius! Akhirnya kalian datang juga!" sahut pria tersebut dengan ramah, Remus Lupin. Ayah baptis Harry yang lain dan juga-

Seketika, Sirius menjatuhkan bawaannya, menerjang pria didepan mereka dengan kecepatan penuh, dan langsung memeluknya erat. "Remus! Love! Sudah lama sekali kita tidak bertemu, bagaimana kalau setelah ini kita 'berbincang' berdua saja di kamar?" sahut Sirius penuh semangat. –juga kekasih Sirius. Harry memutar bola matanya, tetapi ia tak bisa menghentikan senyum yang sudah terlanjur merekah lebar dibibirnya.

~One more word and You won't survive~

"Hi, Remus, Lama tidak berjumpa." Sahut Harry, Remus melepaskan pelukan Sirius (yang memanyunkan bibirnya penuh kekecewaan yang dibuat-buat), menghampiri Harry, dan memeluknya erat. "Aku juga rindu padamu, Prongslet kecil. Bagaimana kalau kita membawa barang-barang kalian, baru kita mulai berbicara ria?" ujar Remus, sambil mengangkat dua buah koper milik Harry dan Sirius. Harry menurut, membawa sangkar Hedwing, dan kopernya yang terakhir kedalam mansion.

Hedwing beruhu-uhu riang, melihat ruangan luas berlangit-langit tinggi. Harry, seakan membaca pikiran Hedwing, membuka sangkarnya, dan burung hantu putih itupun langsung terbang melesat keluar, terbang berputar-putar dilangit-langit dengan gembira. "Kurasa terperangkap didalam mobil dengan waktu yang lama membuatnya merasa gila, biarkan saja ia terbang sampai lelah, nanti juga ia akan berteger tenang dengan sendirinya." Sahut Harry saat melihat kedua ayah baptisnya memandang Hedwing yang terbang berputar-putar dengan amat cepat. Mereka berdua mengangkat bahu, dan mulai melakukan kegiatan mereka kembali.

"Ah, ya, Harry. Biolamu sudah kusimpan di kamarmu, diatas tempat tidur." Kata Remus, mendengar kata 'Biola' langsung membuat Harry menoleh dan menatap ayah baptisnya. Melihat senyuman cerah di wajah lelaki berambut cokelat madu itu, Harry langsung membalasnya dengan senyuman bahagia yang hanya sekilas, dan langsung berlari menaiki tangga menuju kamarnya sambil membawa sangkar Hedwing dan koper-kopernya bersamanya.

~And I'm not scared of your stolen power.~

Membuka kenop pintu dengan tergesa-gesa, memasuki kamarnya. Matanya langsung tertuju pada kotak penyimpan biola berwarna cokelat diatas kasur berserprai merah. Harry berusaha keras untuk tidak melemparkan barang bawaanya ke sisi ruangan, menyambar kotak diatas tempat tidurnya itu dengan kasar, dan langsung memainkan isinya seperti orang kesurupan. Ia masih memiliki akal sehat, Terima kasih.

Menaruh sangkar burung diatas bangku disudut ruangan, dan menyimpan koper-kopernya di samping lemari pakaian tak berpenghuni, Harry perlahan membuka isi kotak alat musiknya. Masih utuh dan bersih terawat, sebuah biola dari kayu Holly, dengan lambang burung Pheonix kecil keemasan disisi kanan bawahnya.

Sirius bilang, dulu biola ini milik ibunya, saat ibunya bermain biola, suaranya merdu nan bening bagai lantunan lagu burung Pheonix. Ayahnya begitu terpukau oleh suara itu, juga langsung jatuh cinta pada ibunya, dan saat itulah mereka mulai menjalin asmara bersama. Biola ini telah mempertemukan mereka berdua, bagaikan takdir didalam bentuk instrumen musik.

Jemarinya terulur, menelusuri tiap detail biolanya. Mengangkatnya perlahan, menaruhnya dengan aman diantara pundak dan dagunya, jemarinya menelusuri tiap senar diganggangnya. Lembut, namun tegas dan kuat. Pemuda bermata hijau itu menghela nafas penuh kelegaan, kebahagiaan, dan rindu. Rindu pada sebuah beban dibahunya, rindu pada sensasi getaran lembut saat ia menggesek melodi-melodi ditiap senarnya, rindu mendengar suara bening tanpa kata dari instrumen kesayangannya, rindu pada wangi khas ibunya yang terselip pada tiap serat kayu Holly biola ini. Mengangkat pengeseknya, memposisikannya pada senar, memilih melodi yang dikehendaki hatinya dan..

NGREEK!

Harry bergidik ngeri dan ngilu oleh suara pilu dari biolanya. Sial, ia lupa menyetel senarnya pada tempo yang benar. Ia menghembuskan nafas, menyetel biolanya, dan mulai menggesek perlahan.

Lantunan lagu merdu dan lembut tercipta dari tiap gesekan ringannya, nada-nada tinggi dan rendah, berat dan ringan, menyatu dalam simfoni yang serasi. Harry terus memejamkan matanya, membiarkan indera pendengarnya dibuai oleh ritme-ritme lembut penggoda. Sudah berapa lama ia bermain, ia tak tau, dan ia tak peduli, yang terpenting ia bisa memainkan memori ibunya dalam bentuk lantunan. Mengakhiri lagunya, ia menghembuskan nafas dengan lega dan lepas. Saat hendak menaruh instrumennya kembali, ia mendengar suara tepukan tangan yang lambat. Terdengar sinis dan arogan, dan ia kenal betul siapa yang membuat tepukan itu.

~See right through you any hour~

"Bravo, Harry. Bravo!" suara bariton menggema diruangan yang sebelumnya sunyi kembali. Harry mengadahkan kepalanya menuju pintu, mata zamrudnya berbentrokan dengan iris perak gelap pemuda dihadapannya. "Sejak kapan kau ada disana, Draco?" tanya sang pemilik biola. Pemuda berambut pirang platina itu hanya mengangkat kedua bahunya, "Dari saat kau lupa menyetel ritme senarnya." Jawabnya dengan cuek, Harry mengerlingkan bola matanya. "Itu sih, dari tadi. Kapan kau datang ke mansion?" Si pirang berwajah aristokrat itu mengangkat kedua sudut bibirnya, "Baru saja, waktu aku tanya kau ada dimana pada uncle Sirius, suara gesekan pilu kedengaran dari kamarmu, jadi jawabanku sudah dijawab olehmu sendiri. Aku, mum, dan dad datang kemari karena mendengar kabar dari uncle Remus, kalau kau akan kemari dan tinggal permanen disini." Jawab Draco. "Aunt Cissy dan uncle Lucius juga? Wah, ini kejutan. Remus pasti sedang memasak makan malam sekarang." ujar Harry,

Draco tersenyum, senyum murni tanpa dibuat-buat, yang khusus hanya ia berikan pada keluarganya. "Memang. Kau akan bersekolah di Hogwarts besok kan? Aku juga sekolah disana, jadi aku meminta mum untuk mengizinkanku menginap disini, sekalian untuk bisa mengantarmu." Harry mengangkat salah-satu alisnya, "Jarang-jarang kau mau berbaik hati. Ada apa ini? Kau terbentur sesuatu saat sedang menuju kesini?" Draco mengeleng, "Tidak, aku tidak terbentur apapun. Aku hanya takut sepupu baptisku diserang para cewek –dan kemungkinan juga, lelaki-disekolah saat ia melangkah masuk koridor nanti. Soalnya wajahmu itu bisa di kategorikan oleh mereka sebagai 'Manis-cantik-imut' yang memprovokasi mereka untuk mencubit pipimu." Jawab Draco dengan enteng tanpa rasa bersalah.

Pemuda beriris kelabu dan berambut pirang platina didepan Harry adalah Draco Malfoy, Sepupu baptis jauhnya. Ibu Draco, Narcissa, adalah sepupu jauh Sirius. Saat Harry berumur dua-belas tahun, ia dan Draco diperkenalkan, dan langsung akrab. Karena ibunya dan Sirius adalah saudara jauh, Draco memutuskan –dengan amat cepat- kalau mereka berdua adalah adik-kakak (Draco : kakak, Harry : adik). dan Harry tidak merasa keberatan sama sekali soal itu, rasanya menyenangkan memiliki seorang kakak. Juga karena ia adalah putra baptis Sirius, maka mereka secara teori adalah sepupu baptis jauh. Dan tak ada yang merasa keberatan soal itu, Narcissa dan Lucius juga menganggap Harry seperti putra bungsu mereka sendiri. Dan apa yang dimaksud Draco soal wajahnya yang 'Manis-cantik-imut' itu memang benar, tubuhnya lebih kecil dari remaja seumuranya, wajahnya 'Cantik-Manis' walaupun ia lelaki, itu adalah faktor-faktor mengapa ia diganggu oleh 'teman-teman'-nya. Bahkan saat ia dan Draco masih kecil, aunt Cissy selalu membawa gaun perempuan ala putri untuk Harry kenakan saat ia berkunjung ke Malfoy Manor atau datang ke Grimmauld Place saat liburan. Alasannya karena Narcissa selalu ingin memiliki seorang anak perempuan. Dan Harry tak bisa menolak, walau wajahnya semerah tomat dan dadanya tergelitik dengan perasaan malu oleh Draco yang jatuh tersungkur dilantai karena terlalu semangat tertawa.

~I won't soothe your pain..~

Harry memanyunkan bibirnya, "Aku ini lelaki! Aku bisa menjaga diriku sendiri!"

"Dan mengapa aku merasa tidak percaya atas pernyataan itu?" Draco mengangkat salah-satu alisnya, berpura-pura tidak percaya. Karena tak dapat berkata apa-apa lagi, Harry melempar bantalnya kearah Draco, yang mulus mengenai wajah tampannya yang ia banggakan. Dan berkat itu, perang bantal diantara merekapun dimulai, dan terhenti saat Narcissa memanggil mereka berdua untuk makan malam.


Setelah makan malam usai, Lucius dan Narcissa pamit untuk pulang. Dan karena Draco sudah membawa pakaian dan juga mobilnya sendiri, ia sudah bisa ditinggalkan dengan damai oleh kedua orang tuanya.

Harry menaruh Hedwing kedalam sangkarnya, membiarkannya berteger didalam. Kasurnya telah diseret kebawah lantai agar ia dan Draco bisa tidur bersama dibawah (Dikarenakan tak ada satupun dari mereka yang mau mengalah untuk tidur sendirian dikasur bawah, mereka setuju untuk tidur bersama dikasur yang sudah terhampar di lantai). Draco dan Harry sudah mandi dan mengganti baju menjadi baju tidur mereka.

Draco, yang sedang santai membaca sambil telentang dikasur, terganggu kedamaiannya oleh guncangan tiba-tiba dikasur yang berasal dari tubuh sepupunya yang dihempaskan oleh pemiliknya.

"Hey, Dragon. Seperti apa sih, Hogwarts itu? Apakah muridnya baik-baik? Pelajarannya susah gak?" Kata Harry dengan cepat, nyaris membuat Draco harus meminta sepupunya itu untuk mengulang perkataannya.

Si pirangpun menoleh kearah 'adik'-nya dengan malas."Hogwarts itu bangunan seperti istana kuno, tapi didalamnya biasa kok, tidak ketinggalan berapa abad, cukup moderen. Pelajarannya sih, susah-susah-gampang, tergantung otakmu bisa menampung berapa gigabytes memori. Kalau kau bertanya padaku soal murid-murid berotak seperempat itu, aku tidak peduli pada mereka. Tapi jika kau diganggu, lapor saja padaku, dan aku akan membuat mereka berharap tidak pernah dilahirkan." Oceh Draco.

Harry terkikik geli, "Memangnya kau bisa membuat mereka bungkam?"

"Aku tinggal menyuruh Crabbe dan Goyle untuk membantuku, Blaise dan Theo dengan senang hati akan membantai mereka, sementara Pansy...kita hanya bisa berdoa ada bagian tubuh mereka yang masih bisa dimakamkan." Lanjut pemuda beriris kelabu, membuat Harry tertawa lagi. "Ah, menyinggung soal mereka, bagaimana kabarnya?" tanya Harry. Draco mengangkat bahu,"Crabbe dan Goyle seperti biasa, selalu patuh padaku. Blaise baik-baik saja, ia sudah lama ingin berbicara lagi denganmu, Theo ingin mendengar permainan biolamu lagi, katanya lagumu menginspirasi dia untuk melukis lagi, Pansy masih seperti biasa, ratu tukang gosip, cerewet, over-protektif, dan mudah khawatir. Ia terus menanyakan padaku apakah kau bertambah berat badan selama beberapa tahun ini, atau apakah kau sudah mendapat asupan gizi yang cukup."

Harry tertawa lagi, "Aku sudah tidak sabar bertemu dengan mereka lagi, Pansy pasti mengomeliku soal tubuhku yang masih saja kurus." Ujarnya. Harry dekat dengan teman-teman Draco, mereka pernah bermain bersama saat masih berumur tiga-belas tahun.

~I won't ease your strain..~

Saat pertama kali bertemu, Pansy memekik kaget melihat tubuh Harry yang kurus seperti tulang dibalut kulit. Ia terus mengoceh tentang tingkah keluarga Dursley yang keterlaluan dan tak berperasaan, ia juga sering meminta (baca : Memaksa) Harry untuk makan lebih banyak. Crabbe dan Goyle cukup akrab dengannya. Blaise gemar berbicara padanya, ia sering bercerita tentang tempat-tempat yang pernah ia kunjungi, membuat Harry terpukau karena ia belum pernah sekalipun kesana, bahkan berjalan-jalan di daerah perumahan Privet Drive-pun juga tidak. Blaise dengan senang hati bercerita banyak padanya. Theodore, akrab dipanggil Theo, hobi melukis, saat Harry bermain biola, ia selalu terinspirasi untuk membuat sebuah karya baru, itulah mengapa ia gembira jika Harry datang membawa biolanya. Terkadang mereka saling bertukar pesan E-mail, kabarnya pertemanan Theo dan Blaise naik ke tinggat yang lebih tinggi, sebagai pasangan kekasih. Pansy menjadi sekertaris OSIS, Crabbe dan Goyle...masih terus mengekori Draco.

"Yeah, dan mereka juga rindu sekali padamu. Apalagi Theo, dia kangen pada biolamu. aku berani sumpah ia mengigau-ngigau meminta biola itu untuk menggesek dirinya sendiri." Mereka tertawa, berbincang-bincang sampai mereka kelelahan. Pada jam sembilan malam, penerangan dimatikan, kegelapan menyelubungi mereka, membawa jiwa mereka ke alam mimpi.

~You'll be waiting in vain.. ~


Fajar menyingsing, cahaya lembut keemasan menyusup melalui celah di tirai jendela, menyentuh kelopak mata pemuda berambut hitam malam. Harry perlahan membuka kedua matanya, perlahan membangunkan tubuhnya ke posisi duduk.

~I got nothing for you to gain..~

Draco masih berada di alam mimpi, Harry berdiri keluar dari kasur, memegang erat sisi kasur yang ditiduri sepupunya, dan menariknya keras dengan satu hentakan. Ia memang terlihat kurus, tapi ia kuat karena gesit melakukan pekerjaan berat di rumah Dursley dulu. Sentakan tiba-tiba itu membuat kasur tertarik dari tubuh Draco, membuat pemuda pirang platina itu terhempas jatuh ke lantai. Mata kelabu tebelalak kaget, membesar nyaris sebesar bola tenis. Sesaat melihat sekeliling, pandangannya langsung tertuju pada adiknya yang menyengir jahil. Seketika, ekspresi kagetnya berubah menjadi wajah pembunuh berdarah dingin, Harry melesat kabur, lari tunggang-langgang keluar dari kamarnya, sambil mengumandangkan doa-doa meminta pengampunan dan keselamatan nyawa ke yang maha besar didalam benaknya. Teriakan sinting penuh amarah terdengar dari kamarnya yang ia tinggalkan,

"HARRY!"

Sang pemilik nama berlari kencang menuju dapur, telinganya menangkap suara gemuruh dari tangga. sesampainya didapur, ia langsung bersembunyi dibalik perlindunga tubuh Remus yang sedang asyik menggoreng telur dan sosis.

Draco melesat masuk ke dapur, berlari menerjang sepupunya. tidak menghiraukan Remus yang sedang memasak. Harry terpaksa lari lagi, disusul oleh Draco yang mengamuk seperti naga yang dibangunkan dari tidurnya (emang kenyataanya begitu sih..). Sementara Remus hanya dapat menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah saudara itu yang seperti bocah berumur lima tahun.

Setelah mandi, sarapan, dan bersiap-siap, (Juga ekstra pertarungan kecil antara kedua sepupu), mereka sekarang sedang berpamitan pada Sirius dan Remus.

"Harry, hati-hatilah disekolah, aku akan datang pada jam pelajaran ketiga. Jangan khawatir, kau akan punya banyak teman, kok." Ujar Remus, sambil mengelus pipi Harry dengan lembut.

"Dan kalau ada yang menindasmu, langsung lapor padaku. akan kubunuh mereka. Draco, jaga Harry kecil kita baik-baik." lanjut Sirius, Draco langsung hormat siap-siaga seperti mensalute komandan tentara. Remus mengerlingkan matanya, "Kau harus lebih hati-hati terhadap hubungan percintaannya, bisa-bisa ada lelaki yang mengajaknya kencan." Sahut Remus,

"Akan kubantai." kata Sirius dan Draco bersamaan.

(Akhirnya) Harry dan Draco masuk kedalam mobil silver Draco. Melaju keluar pagar otomatis mansion, dan berderu menuju sekolah.

~I'm taking it slow, Feeding my flame~

Harry nyaris tak bisa mengeluarkan suara saat mereka tiba didepan sekolah mereka. Bangunan sekolah itu seperti kastil kuno bersejarah, tembok-tembok yang terbuat dari batu, jendela-jendela besar dan tinggi bermozaic. Seperti istana di negeri impian di buku cerita dongeng putri. Tunggu, pernyataan tadi terdengar aneh..

Seakan membaca pikiran Harry, Draco berjalan melewatinya sambil berkata, "Tenang saja, isinya sepeti sekolah biasa kok, tidak ketinggalan beberapa abad." Ujarnya. Harry berlari kecil mengikutinya yang sudah beberapa meter didepannya.

Mereka memasuki aula utama yang besar, dinding putih pualam, dengan atap kubah raksasa berwarna putih senada. Saat mereka berjalan sepanjang koridor, beberapa anak perempuan memandangi mereka, pandangan tertuju pada pemuda berkacamata, bahkan ada yang sampai menunjuk-nunjuknya. Kegugupan Harry meningkat drastis beberapa level.

~Shuffling the cards of your game..And just in time, In the right place,~

Setelah mengunjungi ruang kepala sekolah Albus Dumbledore, Harry berjalan berdampingan dengan Draco di koridor. "Jadi? Kau dapat kelas apa saja?" tanya Draco, Harry membaca jadwalnya yang ditulis disecarik kertas yang ia pegang, "Pelajaran pertama Bahasa Inggris dengan Prof. Minerva McGonnagal, Pelajaran kedua Sejarah dengan Prof. Binns, Pelajaran ketiga bimbingan konseling dengan Prof. Remus Lupin-YES! (sahutan Draco dan Harry bersamaan)-, Lalu makan siang, Pelajaran Biologi dengan Prof. Pomona Sprout, Pelajaran Kimia dengan Snape -Tunggu, apa? Kau tidak bilang Severus mengajar disini!" sahut Harry, Draco menyengir lebar. "Sebagai kejutan." Balas Draco penuh sengiran.

~Suddenly I will play my ace~

Severus Snape adalah sahabat dekat ibunya dan sekaligus ayah baptis Draco, lelaki berambut hitam berminyak dan kulit pucat pualam itu mirip vampire, apalagi ditambah sikapnya yang dingin dan sinis, Tapi mereka berdua dekat dengannya. mengetahui berita ini, hati Harry yang terus berdegup kencang karena gugup, sedikit melambat dan terasa lega.

"Tapi sayang ya...Kita hanya bisa seruangan pada kelas Bimbingan konseling dan Kimia saja.." ujar Draco. Bagus, jantung Harry mulai berdetak kencang tidak karuan lagi. "Tapi tenang saja, dipelajaran pertama, kau akan sekelas dengan Pansy. Jalan saja lurus ke koridor itu sampai kau menemukan pintu bertuliskan 'Kelas Bahasa Inggris.'" Sambung Draco, seakan mengetahui kegugupan Harry. Jari telunjuknya menunjuk koridor didepan mereka. Harry mengangguk, "Oke, Terima kasih, Dray." Pemuda berkacamata itu melambai pada 'kakak'nya. "Aku temui kau di kelas BK dan makan siang!" sahut Draco yang mulai berjalan kearah yang berlawanan dengan Harry.

Harry terus melangkah sepanjang koridor yang berjejeran disisinya, terdapat loker-loker siswa berwarna merah dengan garis emas, hijau dengan garis perak, biru dengan garis perunggu, dan kuning dengan garis hitam.

~I won't soothe you pain, I won't ease your strain..~

Ia mendapat loker merah bergaris emas. untuk apa mereka memberi warna berbeda pada loker-loker ini, Harry tidak tau, dan ia tau itu bukan urusannya. Membuka kode pada loker besi didepanya, ia mengecek tiap barangnya, menyimpan barang-barang yang tidak diperlukan, dan mengambil yang diperlukan. Setelah menaruh tas biolanya, ia menutup pintu lokernya, pandangannya bertemu dengan pemuda berambut merah yang juga sepertinya baru menutup pintu lokernya yang juga berwarna merah.

Setelah jeda hening yang canggung, si pemuda berambut merah menyapanya. "h-Hi.." ujarnya ragu-ragu, tidak nyaman. "Hi." Balas Harry, "Kau murid baru?" tanyanya lagi, Harry mengangguk.

"Aku Ron, Ron Weasley. Kau?" tangannya terulur meminta jabatan tangan. Harry menyambut uluran tangannya, "Harry, Harry James Potter. Senang berkenalan denganmu." Jawabnya,

"Likewise, Mate. Apa kelas pertamamu?"

"Bahasa Inggris."

"Wah, sama denganku. Kau tahu dimana kelasnya?" Harry mengangguk, "Kau pemalu ya? Ngomong-ngomong kau duluan saja, aku harus mengembalikan buku sebentar, sampai ketemu di kelas!" Ujarnya, sambil melambai dan berlari ke arah berlawanan dengan kelas mereka. Harry melambai rendah dengan ragu, dan mulai berjalan menuju kelasnya. Apa barusan ia sudah membuat pertemanan? rasanya singkat sekali..

~You'll be waiting in vain, I got nothing for you to gain..~

Berjalan dengan gugup, sambil merangkul buku yang cukup tebal berisi aransemen lagu biola yang dibuat olehnya dan Sirius, juga beberapa yang dulu dibuat oleh ibunya. Ia akhirnya memutuskan untuk melihat jadwalnya lagi disecarik kertas yang diberikan kepala sekolah Dumbledore padanya untuk menghindari tatapan beberapa anak perempuan (dan beberapa lelaki) yang memperhatikan gerak-geriknya. Terlalu sibuk membaca jadwalnya, ia tidak melihat seseorang berjalan didepannya, sampai semuanya terlambat.

BRUKK!

Harry terjatuh kebelakang, bukunya juga terjatuh terpental kedepan, dan beberapa kertas berisi aransemennya juga berserakan dilantai. Sementara orang yang tak sengaja ia tabrak hanya terdorong kebelakang sedikit oleh benturan itu. Syukurlah..Harry tidak mau mengundang musuh di hari pertamanya.

"AH! Maaf! Aku tidak sengaja! Aku tidak melihat kemana aku-" Kosa-kata pemuda berkacamata itu seketika terbius, saat melihat sosok yang berada didepannya..

~Eyes on fire, Your spine is ablaze.. Feeling any foe with my gaze..~

Sepasang mata hijau terang berkilat-kilat, Seolah-olah keduanya akan terbakar merah menyala, bagai tersulut api, menatapnya dalam ke jiwa. Harry memandang pemuda didepannya, Rambut cokelat muda tersisir rapi dikepalanya, kulit putih pualam, mata yang berkilat-kilat melebar sedikit karena terkejut, tetapi langsung kembali keukuran normal. Keheningan memanjang oleh tatapannya yang memperhatikan sekujur tubuh Harry yang terjatuh dilantai dengan posisi duduk telentang. Pemuda berkacamata itu terlalu kaget oleh sepasang bola kaca yang menghipnotisnya, sampai suaranya membisu sejenak.

Jantungnya yang berdebar-debar gugup, mempercepat lajunya, rona merah muda tercipta disekitar pipinya. Ia malu sekali...diperhatikan oleh orang yang tak sengaja kau tabrak dengan lekat, seakan berusaha membuka pakaiannya dengan tatapannya. Apakah hanya perasaannya atau mata lelaki didepannya menjadi lebih bercahaya saat menatapnya? Tidak, hanya persaannya saja. Mungkin..

~And just in time, In the right place..~

Mata berkilat-kilat itu mempertajam tatapannya pada Harry. Apakah ia marah? Tapi yang didapatkan oleh pemuda bermata zamrud itu adalah uluran tangan yang jelas ditunjukkan untuknya.

~Steadily emerging with grace.~


YEAAHH! SORI KEPANJANGAN! *Digebukin rame-rame* oke, oke, aku akui, ada sedikit Drarry disini, sama sedikit *SPOILER* Cedrry (Cedric Diggory dan Harry Potter, tentunya). Dan sekarang, kita main tebak-tebakan yuk! Siapa pemuda dengan mata berkilat-kilat itu? *jeng-jeng-jeng-JENGGGG* yang benar menjawab, dikasih martabak manis! Nanti berikutnya ada Point Of View (P.O.V)-nya orang ganteng ini. Oh, iya, biola Harry sengaja aku buat kayak tongkat sihirnya, terbuat dari kayu Holly, sama ada pheonix-nya gitu..Gak mungkinlah aku nulis 'biola diselimuti bulu burung' jadi aku buat aja lambang burung Pheonix kecil berwarna keemasan di biolanya. pinter kan? #digetok

Review Please! Suggestion and/or Advices always welcomed!