Sepenggal Kata dalam Lukisan
.
.
.
.
[Uchiha Sasuke, Haruno Sakura] [Yamanaka Ino, Shimura Sai]
.
.
.
©Aomine Sakura
.
.
.
.
Masashi Kishimoto
(jika tidak suka dengan cerita yang dibuat Author maupun adegan di dalamnya, silahkan klik tombol Back!)
.
.
.
Dilarang COPAS dalam bentuk APAPUN! DLDR!
Selamat Membaca!
Terkadang, apa yang diucapkan tak pernah sesuai dengan apa yang ada di hati. Tetapi lewat lukisan, kamu bisa melukiskan apa yang ada di hatimu. Saat kata-kata tak bisa mengungkapkannya.
oOo Lukisan dan Kata oOo
"Nii-chan?!" Sakura mendorong dada bidang Sasuke.
Sasuke melepaskan pagutannya dan memandang emerald Sakura. Ada suatu perasaan sesak ketika Sakura menolak ciumannya.
"Sakura-"
"Ini salah, nii-chan." Sakura menggelengkan kepalanya. "Kita kakak beradik."
Sasuke bangkit dari duduknya. Berjalan meninggalkan Sakura dengan rasa sesak yang menyeruak di dalam dadanya. Kenapa? Kenapa setelah dia bisa melupakan cinta pertamanya, dia malah jatuh cinta pada adiknya sendiri?
Onyxnya bisa menangkap sosok ayahnya yang sedang duduk di meja makan sembari meneguk ochanya. Dia sedang tidak ingin berbicara dengan siapapun sekarang.
"Sasuke." Fugaku menolehkan kepalanya. "Jangan lupa tentang persiapannya besok."
.
.
Sakura membuka matanya dan menatap sekelilingnya. Emeraldnya menatap lukisan kakaknya dalam posisi telanjang dada. Setelah ciuman mereka semalam, dia memutuskan untuk melukis Sasuke. Dan pukul tiga pagi dia baru selesai melukis dan sekarang dia harus bangun kesiangan.
"Ohayou, kaa-chan." Sakura mengucek matanya dan memandang ibunya yang sedang memasak sesuatu di dapur.
"Ohayou moo, Sakura-chan. Tumben sekali bangunmu siang." Mikoto tersenyum dan mencium pipi putrinya itu.
"Ada apa ini, kaa-chan? Kenapa ribut sekali?"
Mikoto tidak bisa menahan senyumnya dan mengelus rambut Sakura dengan lembut.
"Tebak, hari ini adalah hari pertunangan antara Sasuke dan Ino. Bulan depan mereka akan menikah."
"Menikah?"
Menikah?
Kakaknya akan menikah? Dengan sahabatnya?
Ini tidak mungkin terjadi.
.
Sakura memandang kanvas kosong dihadapannya. Biasanya tidak pernah dirinya membiarkan kanvas putih itu kosong tanpa lukisan apapun. Tangannya dengan otomatis akan menggambarkan apa saja yang ada di kepalanya. Sayangnya, dia sedang tidak memikirkan apapun sekarang.
Bukan tidak memikirkan apapun. Yang ada dipikirannya sekarang hanyalah pernikahan antara Sasuke dan Ino. Kakaknya dan juga sahabatnya.
Bukannya dia tidak tahu jika pernikahan antara kakaknya dan Ino adalah perjodohan. Perjodohan bisnis dan juga cinta pertama. Bukan rahasia lagi jika kakaknya dan sahabatnya pernah menjalin hubungan sebelum akhirnya hati Ino tertambat pada Sai. Dia semakin tidak menyangka jika orang tuanya malah akan menjodohkan keduanya.
"Sakura."
Sakura menolehkan kepalanya dan melihat Itachi berdiri di pintu kamarnya. Berjalan mendekat, tangan Itachi mengelus rambut adiknya dengan lembut.
"Sasuke terpaksa menerima perjodohan ini."
Sakura menatap Itachi dengan pandangan tidak mengerti.
"Maksud nii-chan?" tanya Sakura tidak mengerti.
"Cinta Sasuke kepada Ino sudah lama mati. Kisah cinta keduanya adalah masa lalu yang seharusnya sudah ditutup. Sasuke sudah membuka lembaran barunya dan kini dia harus membuka lembaran lamanya. Ibarat sebuah buku yang sudah penuh dengan coretan, dia harus membuat coretan lagi di buku itu." Itachi duduk di hadapan Sakura. "Ayah dan Ibu sudah menentang keputusan ini. Kakek yang menginginkan semua ini."
"Kalian tidak usah memikirkan perasaanku." Sakura tersenyum getir. "Aku adalah adik kalian, tidak pantas jika harus menikah dengan Sasuke-nii."
"Tapi Sakura, jika kamu menikah dengan Sasuke pun itu bukan sebuah dosa."
"Tidak Itachi-nii." Sakura memandang mata Itachi dalam-dalam. "Dari awal, kami-sama tidak pernah mentakdirkanku dan Sasuke-nii untuk bersama."
.
Ino keluar dari mobil mewahnya bersama ayah dan ibunya. Penampilannya malam ini begitu cantik dengan gaun berwarna kuning rancangan desainer ternama. Wajahnya yang cantik semakin cantik dengan polesan make up natural.
"Ino!" Mikoto menyambut calon menantunya dengan senyuman di wajahnya. "Selamat datang."
Ino tersenyum sopan dan membungkukan badannya dengan sopan. Madara yang mendengar kedatangan keluarga Yamanaka segera menyambut mereka dengan hangat.
"Silahkan masuk."
Sasuke duduk di sebelah Ino yang sedang menikmati makan malam. Mereka sedang berbincang-bincang tentang pernikahan atau apalah itu. Dia sendiri tidak mengerti dan tidak mau tahu, toh ini semua keinginan kakeknya. Onyxnya sedari tadi fokus pada kursi kosong disebelah ibunya. Kursi yang seharusnya ditempati oleh Sakura.
Ino sendiri melirik calon suaminya. Dia tahu jika Sasuke pasti memikirkan Sakura. Menghembuskan nafasnya, Ino meneguk limunnya. Tidak dia pungkiri jika Sasuke termasuk pemuda yang tampan. Dari dulu sampai sekarang, dia selalu mencintai pemuda itu, meski ada Sai di sisinya.
Semenjak pemuda itu memutuskan hubungan mereka dulu. Dia tidak bisa berhenti memikirkan Sasuke, hingga Sai muncul dalam hidupnya. Sai tidak ubahnya hanya sebuah obat penyembuh luka di hatinya. Dan ketika ayahnya mengatakan bahwa dirinya akan dijodohkan oleh Sasuke, siapa yang mau menolak? Hanya orang bodoh yang menolak perjodohan ini.
"Dimana Sakura, bibi?" tanya Ino basa-basi.
"Sakura bilang dia sedang tidak enak badan." Mikoto memandang kamar putrinya yang masih tertutup rapat. "Mungkin sebentar lagi dia akan muncul."
Ino menundkan kepalanya dan menyendokan spaghetti ke dalam mulutnya. Dia bukannya tidak tahu jika Sakura dan Sasuke saling mencintai. Dia tahu jika sahabatnya atau Sai akan membencinya setelah ini. Tetapi mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur, semua sudah terlanjur dan waktu tidak bisa kembali diputar. Jika dia membatalkan pernikahan ini, dia hanya akan membuat orang tuanya malu.
Detik berikutnya, pintu kamar Sakura terbuka. Gadis berambut pink itu muncul dengan gaun malam berwarna merah. Leher jenjangnya terekspos, tidak hanya itu, dadanya bahkan menyembul diantara belahan gaun malamnya. Malam ini Sakura bahkan menandingi Ino untuk menjadi ratu.
"Sakura-chan!" Mikoto tersenyum dan menarik Sakura untuk duduk di depannya. "Bagaimana, putriku cantik bukan?"
"Tentu saja, cantik sekali."
Sasuke melotot ketika Sakura duduk di hadapannya. Dada montok gadis itu sukses menyembul dan mencuri perhatiannya. Apa-apaan itu! Gaun merah dengan belahan dada yang rendah? Berani sekali adiknya mengenakan gaun seperti itu, meskipun hanya acara keluarga seperti ini.
Sakura sibuk dengan makanan dihadapannya dan mengacuhkan sekitarnya. Dia ingin cepat-cepat kembali ke kamarnya dan menuangkan isi kepalanya ke dalam lukisan. Dia bukannya tidak tahu jika sedari tadi kakaknya memandangnya dengan pandangan mengintimidasi. Dia sengaja memakai gaun yang lebih berani malam ini.
Dan Sasuke bukannya tidak bodoh untuk tidak mengetahui maksud adiknya mengenakan gaun itu malam ini. Sakura hanya ingin menunjukan padanya jika gadis itu baik-baik saja. Tetapi dia tahu, jika Sakura adalah orang yang paling rapuh malam ini.
"Baiklah, kesepakatannya pernikahan antara Sasuke dan Ino akan kita majukan menjadi dua minggu lagi!"
Sakura mengangkat kepalanya dan memandang kakeknya. Meletakan garpunya, Sakura bangkit dari duduknya.
"Permisi, aku lelah dan ingin kembali ke kamar."
Mikoto ingin mencegah putrinya, namun Sakura berlalu begitu saja. Fugaku memandang kepergian Sakura sebelum meminum anggurnya. Seharusnya dia memiliki keberanian untuk menolak perjodohan ini. Dia tahu, betapa sakitnya Sakura sekarang.
"Maafkan putriku, Inoichi." Fugaku meletakan gelasnya. "Akhir-akhir ini dia disibukan dengan kuliahnya."
"Tidak apa, Fugaku. Aku mengerti. Ino juga sibuk dengan urusan kuliahnya."
Mikoto tersenyum dan bangkit dari duduknya.
"Baiklah! Akan aku ambilkan makanan penutup."
Ino melirik Sasuke. Pemuda itu terlihat begitu tenang di kursinya, seolah ini bukanlah kejadian yang mengganggunya. Tetapi Ino tahu, jika di dalam hatinya, pemuda itu bergejolak.
Sakura duduk di kursinya dan mulai mengambil pensil. Tangannya bergerak membuat sketsa diatas kanvas yang putih. Kristal-kristal bening mulai mengalir turun, membasahi kedua pipi dan turun ke mulutnya. Mulut yang selalu melengkungkan senyuman yang menawan. Pipi yang selalu merona merah itu basah dengan butiran sungai kecil yang berasal dari emeraldnya yang selalu sejuk.
Malam ini Sakura benar-benar hancur.
"Kenapa.. kenapa rasanya sakit sekali.."
.
Ino duduk di kursi penumpang dengan tenang. Sesekali iris Aquamarinenya memandang jalanan Tokyo yang ramai dengan orang-orang yang berlalu lalang. Dia selalu bertanya-tanya, untuk apa orang-orang itu berkeliaran di malam hari seperti ini? Bukankah lebih nyaman jika mereka berada di rumah dan bersantai, dari pada melakukan kegiatan diluar rumah pada malam hari seperti ini.
"Ino." Ibunya memanggilnya. "Kamu menjadi pendiam sekali, apa ada yang mengganggumu?"
Menggelengkan kepalanya. Satu senyuman terukir di bibir Ino.
"Tidak ada, ibu."
Inoichi melirik putrinya dari kaca spionnya. Dia yakin jika sesuatu mengganggu putrinya.
"Apa kamu ingin membatalkan semua ini?"
Ino terdiam. Jika dia membatalkan semua ini, dia hanya akan merusak semuanya. Ayahnya adalah seorang pengusaha yang sedang naik daun, dan jika dia menikah dengan Sasuke, itu juga akan meuwujudkan mimpinya untuk menjadi pengusaha sukses. Jika dia membatalkan pernikahan ini, bukan hanya keluarganya saja yang malu, tetapi mimpi kedua orang tuanya juga akan hancur.
"Tidak ayah." Ino tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.
"Baiklah. Sampai di rumah nanti, segera beristirahatlah."
.
Sasuke melepas jasnya dan membuangnya begitu saja. Pikirannya melayang pada gadis yang telah mengambil hatinya. Gadis yang membuatnya mampu melupakan cinta pertamanya. Gadis yang selalu hadir dalam mimpinya. Adiknya.
Melepas dua kancing kemejanya. Langkah kakinya segera menuju kamar milik adiknya. Satu tangannya membuka pintu kamar Sakura dan melihat gadis itu tengah tidur pulas di ranjangnya. Onyxnya bisa melihat sebuah lukisan di sisi adiknya.
Lukisan yang membuat dadanya terasa sesak.
Lukisan potret adiknya yang separuh wajahnya sedang menangis, dan separuhnya lagi sedang tersenyum. Dan yang membuatnya semakin merasakan sesak di dadanya. Adalah tulisan yang ada di bawah lukisan itu.
Daijoubu. Aku baik-baik saja.
"Kau tidak pernah baik-baik saja dengan semua ini, Sakura."
.
.
Ino menghempaska tubuhnya diatas ranjang empuknya dan memejamkan matanya. Entah mengapa, wajah Sai yang selalu bersamanyalah yang terbayang dalam pikirannya. Bukan wajah Sasuke yang sebentar lagi akan menikah dengannya. Dan ketika membuka matanya, ponselnya bergetar. Satu pesan diterimanya dan langsung membuatnya terlonjak bangun.
Ino. Aku ada di depan rumahmu.
.
Sai merapatkan jaketnya ketika obsidiannya menangkap sosok wanita berambut pirang berjalan kearahnya. Musim dingin di bulan November memang membuatnya mati membeku. Jika Ino terlambat beberapa detik saja, mungkin dia bisa mati kedinginan.
"Sai-kun, apa yang kamu lakukan disini?" tanya Ino.
Aquamarine Ino membulat ketika Sai langsung memeluknya.
"Sai-kun."
"Katakan. Katakan kalau semuanya tidak benar."
Tubuh Ino menegang.
"Sayangnya itu benar, Sai-kun." Suara Ino bergetar, menahan segala emosi yang ada di dadanya. "Aku akan segera menikah dengan Sasuke-kun."
Sai melepaskan pelukannya. Menatap wajah Ino dalam-dalam.
"Kenapa, kenapa Ino?"
"Maafkan aku, Sai-kun."
Ino membalikan badannya dan berjalan menjauhi Sai. Dan satu persatu air mata mulai mengalir membasahi mata indah milik Ino. Dan tanpa Ino ketahui, Sai juga merasakan hal yang sama. Tubuh tegap itu bergetar, dan di pipinya terdapat sungai air mata yang mengalir.
"Katakan.. katakan kalau itu tidak benar, Ino."
.
.
.
.
.
.
.
Balasan Review :
Azizaanr : duh.. aku udah kebanyakan bikin fict RateM :3 gantian bikin yang RateT :3
: Udah ketahuan siapa yang dijodohin sama Sasuke.. :)
33 : dijodohin kok :)
Dianarndraha : Wah, liat nanti aja ya.. XD
Intannnsari : apa ini termasuk lama? :3 lama banget kayaknya XD
Guest : baca fictku yang My Lovely Cute Imouto itu Incest lho.. *plak
Lightflower22 : aku gak nyangka kalo kamu bakal nunggu aku lho.. hihihi.. makasih ya, senpai :3
Jamurlumutan462 : ini udah yang paling kilat..
De-chan : Douita :) udah dilanjut..
Bang Kise Ganteng : pssstt.. jangan keras-keras tereaknya *plak umur ya? Yang pasti bentar lagi masuk Universitas :3
Respitasari : sudaahh...
Annis874 : sudah..
Yanglinlin49 : makasih.. :)
Uchihaliaharuno : duh.. ini yang paling cepet.. :3
Thedarkests : Thank You.. umm.. this scene belongs SasuSaku :)
Sasusakulov1 : sudah :)
Aprianor007 : hhe.. makasih.. ini udah dilanjut :)
KhofitaRenaZafran : hehe.. iya makasih.. silahkan di Fav :3
Liana Zhafirna : iya.. makasih :3
PIYORIN : wah.. nanti bakal berhenti manggil "Nii-san" kok.. :3
Cherry480 : aku gak bisa jawab.. nanti kebongkar dong ceritanya ke depannya kayak gimana.. pokoknya pertanyaanmu bakalan dijawab di cerita di chap-chap depan.. jadi ditunggu aja ya..
Updatenya lama banget yaa.. mungkin liburan ini bisa update (agak) cepat, tapi gak janji juga. Soalnya di tengah-tengah liburan ini sekolah ngadain Try Out TTvTT
Pokoknya ditunggu aja yaaa..
Sampai ketemu di chap depan!
-Aomine Sakura-
