Originally made by Kajegaje.
Long time ago requested by Debby, sorry for the long long waiting, eh?
This is Starlight.
Story about Kyungsoo, that has been planned to be Jongin's one and only Starlight since long time ago.
"No matter how hard the path is, what is yours will be yours."
.
Starring EXO and other cast.
WARNING FOR GS AND MAINSTREAM STORY.
WARNING FOR HEARTBREAKING STORY.
WARNING FOR FLUFFY LOVEY-DOVEY.
Disarankan sekalian mendengarkan lagu yang digunakan sebagai BGM agar cerita lebih meresap.
Reviews are appreciated
.
PART: TALK LOVE - 1 ( Kwill )
Sejak kejadian hujan deras di halte bus, tepat hari ini adalah satu minggu setelahnya. Dalam satu minggu, entah Jongin harus senang karena ia tak lagi bertemu sang gadis pembawa nasib buruk itu atau ia harus rindu atau ia harus cemas karena jaketnya masih dibawa sang gadis. Sebenarnya, tanpa Jongin sadari, selama satu minggu ia selalu menyempatkan berkunjung ke beberapa tempat yang pernah ia ketahui sebagai tempat gadis itu bekerja. Tapi pencariannya berujung sia-sia karena gadis itu tak ada disana. Dua hari pertama, kepala Jongin serasa pecah karena hampir tiap jam, isi pikirannya hanyalah gadis itu. Entah bagaimana, Jongin merasa gadis itu ditargetkan Tuhan untuk melakukan sesuatu yang lebih baik dari sekedar membuat kakinya sakit atau bajunya penuh noda. Dua hari setelah dua hari pertama alias hari keempat, Jongin sedikit lupa karena tugas akhirnya sebagai mahasiswa angkatan menjelang tua sudah menunggu untuk dibuat, jadi ia pikir ia harus benar-benar fokus untuk akademisnya kali ini. Tapi ternyata, hingga hari ketujuh, tak ada satu pun kemajuan dari tugasnya itu. Dan jelas, hal ini membuat Jongin cukup pusing.
"Dimana aku bisa menemukan tempat yang enak, ya?"
Jongin terus menggumam dan menggumam. Kakinya melangkah menuju kantor ayahnya seperti biasa. Sesekali, kepala Jongin akan menoleh ke kanan dan ke kiri mencari cafe atau tempat nongkrong yang mungkin bisa membantunya mencari fokusnya yang tiiba-tiba hilang. Lalu, ia menemukannya.
"El Picaso?" eja Jongin pada sebuah nama cafe yang baru Jongin lihat. Tempatnya tidak jauh dari kantor ayahnya tapi karena jalan ini belum pernah ia lewati, jadi wajar jika ia tak tahu bahwa ada cafe seperti ini di daerah sini. "Sepertinya asik," pikirnya.
Jongin menatap interior cafe dari pedestrian tempatnya berdiri. Walau kaca yang jadi penghalang antara dirinya dan bagian dalam cafe tak terlalu transparan, tapi ia masih bisa melihat bagaimana nyamannya suasana di dalam sana. Sedang asik sendiri, Jongin tiba-tiba dikejutkan oleh sebuah panggilan yang akhirnya menghalanginya untuk menyadari bahwa ada kejutan yang menantinya di dalam El Picaso.
"Oppa!"
"Ah, Joy? Sedang apa disini?"
"Aku sedang cari cafe, oppa. Tadi aku ke perpustakaan kampus untuk mengerjakan tugas kuliah, tapi karena aku lapar, jadi aku akhirnya cari cafe deh. Oppa sendiri?"
"Sama, sih. Aku sedang cari tempat yang nyaman untuk mengerjakan tugas,"
Kampus Jongin dan Joy memang sama, dan kebetulan jarak kampus mereka ke daerah ini hanya lima belas menit naik bus.
"Mau coba disini? Kata teman-temanku, makanan disini enak. Aku belum pernah mencoba, sih."
Jongin menatap lagi cafe bernuansa Italia disampingnya itu. "Aku juga belum pernah. Kurasa bukan sebuah masalah besar kan jika aku tertangkap mata orang lain sedang bersama denganmu?"
Joy tertawa. Gadis cantik itu tahu betul maksud Jongin. Walau masih kuliah, Joy sudah menikah dengan pemuda yang ia pacari sejak SMA, namanya adalah Yook Sungjae.
"Aish, Sungjae kan kenal baik dengan oppa. Dia pasti tidak akan marah kalau tahu aku pergi dengan oppa," jawab Joy santai. "Lagipula, bukannya harusnya aku yang waspada? Fans oppa kan belakangan semakin banyak,"
Jongin menggelengkan kepalanya tidak setuju lalu membukakan pintu cafe untuk mempersilahkan Joy masuk duluan. Tanpa menatap bagian-bagian lain di cafe, Jongin langsung memilih tempat duduk yang dekat jendela.
"Itu hanya karena kerja media saja. Aslinya tidak begitu," balas Jongin sambil meletakkan tas punggungnya di dekat tempat duduknya dan menunggu pelayan cafe yang dipanggil Joy untuk datang mendekat.
"Silahkan menunya. Mau pesan apa?"
Jongin terdiam.
Suara ini. Kenapa dia merasa sangat deja vu? Tak mau lama-lama berfantasi, Jongin segera menolehkan kepalanya menuju sumber suara dan, ya, dia menemukan gadis yang ia cari sedang berdiri di sampingnya memegang sebuah tablet yang digunakan untuk mencatat pesanan pelanggan.
Jongin jelas terkejut, apalagi gadis itu. Dua manusia yang pertemuan terakhirnya terbilang sedikit lebih hangat daripada pertemuan-pertemuan mereka sebelumnya ini nampaknya cukup senang mengetahui akhirnya mereka bertemu lagi dengan suasana yang lebih baik.
"Kau bekerja disini?" tanya Jongin reflek tanpa mempedulikan pertanyaan Joy tentang menu apa yang ingin ia pesan.
Gadis yang diajak bicara Jongin hanya tersenyum kecil dan mengangguk cepat lalu mengulang pertanyaannya. "Tuan mau pesan apa?"
Jongin yang baru sadar sedang ada dimana dan dengan siapa pun segera membaca buku menu. "A-ah, pasta. Aku makan pasta saja."
"Pasta apa yang ingin Anda pesan, Tuan?"
"Apa saja, yang menurut cafe ini adalah menu terbaiknya." Final Jongin. Yang terjadi adalah efek karena fokus Jongin sedang hilang. Rasanya aneh sebenarnya, karena Jongin jadi merasa gugup tiba-tiba kalau ada gadis itu di sekitarnya.
"Oppa, apa kau demam?" tanya Joy khawatir.
"Hah? Tidak. Kenapa memangnya?"
"Wajahmu oppa, seperti orang demam. Tiba-tiba memerah, apa kau tadi makan sesuatu yang membuatmu alergi?"
Apa? Memerah? Wajahnya?
"M-mungkin. B-belakangan aku kurang tidur dan terlalu lelah, mungkin aku sedang gejala demam." Jawab Jongin cepat. "Aku akan ke toilet sebentar,"
Joy tentu paham apa yang terjadi karena setahunya, Jongin memang tipikal pemuda yang pekerja keras dan cerdas. Jadi kalau pada akhirnya pemuda itu bilang dia kelelahan karena banyak tugas, itu bukan hal aneh, kan?
"Astaga. Sialan. Kenapa wajahku terasa panas? Apa aku benar-benar demam?" tanya Jongin pada dirinya sendiri sambil menatap cermin toilet cafe. Tangan kanan Jongin menyentuh dahinya sendiri. "Tidak panas,"
Jongin membasuh wajahnya dengan air untuk kesekian kali dan menepuk-nepuk pipinya sendiri agak kasar. "Kau harus waras, Jongin. Waras!"
Sekembalinya Jongin dari toilet, gadis yang ia sebut-sebut sebagai troublemaker itu sedang menyajikan minuman pesanan Joy.
"Oppa tadi tidak pesan minum, ya?"
Jongin yang sedang merapikan bajunya sendiri dalam perjalanannya menuju ke mejanya, terkejut dengan pertanyaan Joy, begitu pula sang gadis mungil.
"Ah, iya. Aku belum pesan."
"Kalau begitu, oppa mau pesan apa?"
"Kopi, es. Kalau ada ice cappucino itu lebih baik."
Sang gadis tadi langsung mengangguk dan segera kembali ke kasir untuk mencatat pesanan baru dari meja empat belas, ice cappucino.
"Oh ya, oppa, kau kan pernah jadi asisten dosennya Tuan Hang, kan? Aku tidak mengerti inti dari tugas yang dia berikan, nih. Bisa kau ajari aku? Aku bawa lembar tugasnya, kok!"
Jongin mengangguk dan mempersilahkan Joy untuk mencari lembar tugas dari dosen cukup disiplin di fakultasnya itu. "Ah, tugas yang ini, ya? Apa kau bawa pensil? Aku malas mencari milikku di tas,"
Bersamaan dengan antusiasnya Jongin yang hendak mengajari Joy, gadis yang membuat Jongin panas dingin itu datang dengan membawa minuman milik Jongin. Kali ini, sebuah senggolan pelan dari siku Jongin membuat ice cappucino berharganya jatuh ke lantai dan membasahi sebagian celananya dari lutut hingga mata kaki. Joy yang tidak melihat dengan jelas kejadiannya, menganggap ini adalah kesalahan sang pelayan sehingga tanpa aba-aba, gadis cantik itu langsung memarahinya.
"Ya! Kau ini bisa hati-hati tidak? Kau lihat apa yang sudah kau perbuat?" pekik Joy.
Jongin yang merasa itu adalah murni kecerobohannya pun segera menenangkan Joy. "Joy, tenanglah. Ini salahku, sikuku tadi menyenggol nampan yang ia bawa, jadi minumanku tumpah."
"Tapi oppa, dia—"
"Joy, diamlah." Pinta Jongin. "Bisakah kau buatkan aku ice cappucino satu lagi? Hitung saja pesananku jadi dua ice cappucino. Maaf, ini salahku,"
Belum juga gadis pelayan itu pergi dari hadapan Jongin, seorang pemuda dengan setelan jasnya mendatangi Jongin dan menanyainya dengan bahasa formal. "Maaf Tuan atas kecerobohan karyawan kami. Apa ada yang—"
"Iya! Gadis itu perlu—"
"Joy!" pekik Jongin. "Tidak, tidak ada yang bermasalah. Aku baik-baik saja dan tadi murni kesalahanku karena aku tidak melihatnya datang untuk memberikan pesananku. Kau jangan lakukan apapun pada gadis itu, dia tidak salah apapun."
"Oppa, kau ini bagaimana sih?" protes Joy lagi.
"Kau itu tidak tahu apa-apa, diamlah Joy. Jangan memperkeruh suasana," tegas Jongin sembari berdiri kemudian jongkok dan membersihkan sisa ice cappucino di lantai dengan tisu.
"Tuan, Anda tidak perlu melakukannya. Karyawan kami akan membersihkannya,"
"Tidak masalah, aku yang salah." Jawab Jongin lagi. "Ingat, kau tak perlu lakukan apapun pada gadis itu. Jika kau nekat, kau tak akan senang dengan apa yang akan aku lakukan berikutnya,"
Pria yang sebenarnya lebih tua daripada Jongin ini tiba-tiba merasa ciut setelah merasakan adanya aura wibawa dan keras kepala yang muncul dari Jongin. Tidak ingin memancing keributan, pria yang ternyata adalah manajer cafe ini itu pun segera undur diri dan membiarkan Jongin membersihkan celananya di toilet.
"Apa yang kau lakukan, Jongin? Kenapa sial lagi?" gerutu Jongin pada dirinya sendiri. "Apa tidak bisa sekali saja nasib baik berpihak padaku saat dia ada disekitarku, huh?"
Jongin yang merasa celananya sudah bebas dari rasa lengket pun segera kembali ke mejanya dan menemukan ice cappucinonya yang baru sudah bertengger di atas meja. "Apa gadis itu yang mengantar?" tanya Jongin.
Joy menggeleng pelan. "Yang mengantar pemuda bermata sipit itu," tunjuk Joy pada seorang pemuda bermata sipit dengan surai hitam legamnya. Sosok yang sepertinya cukup familiar di mata Jongin.
"Park Jimin?" panggil Jongin pada sang pelayan laki-laki yang baru saja akan kembali menuju meja kasir dari meja pelanggan nomor enam belas.
"Hyung!"
"Kau—bekerja? Disini?"
Jimin memberi gestur diam pada Jongin. "Aku tidak bilang pada ayah dan ibu tentang ini. Aku hanya ingin merasakan rasanya mencari uang sendiri, hyung. Jadi aku iseng melamar kerja disini, jadi tolong bantu aku, ya?" pinta pemuda sipit itu dengan wajah memohonnya.
"You got me, bro."
Jimin tersenyum puas dan segera meninggalkan Jongin yang kembali sibuk pada urusannya dengan Joy.
"Oppa kenal banyak orang ya ternyata?"
"Silahkan Tuan, makanannya,"
Jongin mempersilahkan pelayan lain yang datang dengan membawa makanan untuk menyajikan pesanannya di meja.
"Terima kasih," ujarnya singkat. "Tidak banyak, hanya dua."
"Kok oppa bisa kenal pelayan, sih?"
"Memangnya aku hanya boleh kenal bos besar? Aku kan bukan appa,"
Joy tertawa kecil lalu mengangguk paham. "Memang beda sih ya, Tuan Besar Kim dan Tuan Muda Kim?" godanya. "Eh, oppa, belakangan aku dengar gosip tentangmu tahu."
"Ya? Apa?"
Jongin bertanya balik pada Joy sambil tetap fokus mengaduk pastanya dengan saus sambal dan bersiap untuk segera menyantap suapan pertamanya.
"Kau punya hubungan lebih ya dengan idol cantik itu? Ah, siapa ya namanya, itu loh yang kedua orangtuanya meninggal saat ada kecelakaan pesawat lima tahun silam!"
Jongin menelan pastanya dengan susah payah. Pasta itu sebenarnya rasanya luar biasa lezat, tapi pertanyaan Joy, membuat rasa pasta itu jadi hambar.
"Kau bicara tentang Krystal?"
"AH! Iya! Dia, oppa! Gadis cantik itu! Apa kau benar pacaran dengannya?" tanya Joy penuh ingin tahu.
"Kalau iya kenapa, kalau tidak juga kenapa?" tanya Jongin balik dengan santai. "Wah, pasta ini benar-benar lezat. Aku harus mengajak hyung kesini kapan-kapan," puji Jongin tiba-tiba.
"Ish, kalau benar, aku kan mau menyelamatimu, oppa! Kalau tidak, ya, kusuruh saja kau pacaran dengan dia! Lagipula, dia kan sangat cantik, oppa!"
Jongin tertawa kecil. "Aku tidak bilang dia jelek,"
"Nah! Berarti kau mengakui kan kalau kau menyukainya? Jadi kalian benar-benar pacaran ya?"
"Aku tidak bilang begitu,"
"Ish! Oppa, ih!"
"Aku hanya bilang bahwa Krystal tidak jelek, kenapa kesimpulanmu lain?"
"Kau harus tahu bagaimana rasanya jadi fans yang kepalang ingin tahu, oppa! Aku ini fans beratmu dan aku juga tahu bahwa gadis itu idol yang cukup cantik. Lagipula, dengan umur dan popularitas oppa sekarang, bukannya sudah pas, ya?"
Jongin melanjutkan acara makannya tanpa berhenti dan terpengaruh oleh Joy.
"Oppaaaa~"
"Berisik. Aku sedang menikmati makanan lezat, tahu." Balas Jongin cepat dan segera ia habiskan suapan terakhirnya. "Astaga, ini lezat!"
"Baiklah, sekarang jawab pertanyaanku oppa!"
Jongin membersihkan mulutnya dengan tisu kemudian menatap Joy dengan geli. "Krystal memang sudah punya pacar," gantung Jongin.
Joy mengangguk penuh harap sambil terus menatap Jongin dengan wajah sumringahnya.
"Tapi pacarnya itu jelas bukan aku." Final Jongin. "Lagipula, dia sudah bilang padaku bahwa dia tidak akan mau pacaran denganku, kok."
Joy yang tadinya berniat menimpuk Jongin dengan dompetnya, berakhir penasaran lagi dengan jawaban terakhir Jongin. "Jadi oppa pernah menembaknya, ya?"
"Tidak juga. Aku mengenalnya, kami berteman baik, tapi aku tak pernah menganggapnya lebih dari sekedar teman. Lagipula, dia sudah punya pacar. Jadi berhentilah menuduhku pacaran dengan orang yang tidak kucintai,"
Joy memberengut dan melanjutkan acara makannya. Tiba-tiba, ponselnya berbunyi dan menampakkan foto Sungjae disana. Iseng, Jongin pun mengambil alih ponsel Joy.
"Oh, yeoboseyo, Sungjae! Lama tak berjumpa,"
"Oh, hyung? Kau sedang bersama Joy?"
"Ya, kami kebetulan bertemu dan sekarang sedang makan bersama. Apa kau sedang tidak sibuk kerja?"
"Sebenarnya sih sedang jeda. Makanya aku menyempatkan menelfon istriku, ternyata kau sedang bersamanya,"
"Ei, jangan cemburu padaku, Sungjae. Gadis cerewet dan bawel seperti Joy ini jelas bukan tipeku, jadi kau tak perlu mencurigaiku." Bela Jongin pada dirinya sendiri yang kemudian ditertawai oleh Sungjae.
"Mana mungkin aku mencurigaimu, hyung. Kau ini ada-ada saja. Ah, apa dia sedang makan? Bisakah kau bilang padanya untuk membawakanku makanan juga? Sepertinya sebentar lagi syutingku selesai dan aku ingin makan bersamanya disini,"
"Katakanlah sendiri, dia sudah bawel meminta ponselnya kembali! Kalau begitu sudah ya, kau bekerjalah yang rajin dan cepat berikan keponakan untukku!"
"Oppa!" teriak Joy menahan malunya sambil menerima sodoran ponselnya dari Jongin.
Sembari melihat antusiasme Joy saat berbicara dengan suaminya, ekor mata Jongin menatap sosok yang baru saja berlutut untuk membantu seorang gadis kecil yang baru saja menumpahkan minumannya dan membasahi lantai. Tak jauh dari meja Jongin, gadis yang sampai saat ini tak ia ketahui siapa namanya itu sedang berlutut dan membereskan botol yang dijatuhkan sang gadis kecil yang saat ini sedang menangis karena merasa dimarahi Ibunya akibat ceroboh. Walau sesaat, Jongin bisa menangkap adegan dimana gadis itu dengan telaten menenangkan gadis kecil itu dan bahkan berusaha menghiburnya dengan senyum yang cukup manis. Tak sadar, sebuah senyum kecil juga muncul di sudut bibir Jongin sesaat setelah mata Jongin kembali menatap Joy.
"Jadi?"
"Sungjae memintaku segera ke tempatnya dan membawakan tteopokkie serta ramyun."
"Ya sudah, berangkatlah."
"Lalu oppa?"
"Memangnya aku anak kecil berumur lima tahun yang tidak tahu jalan pulang? Lagipula aku masih harus mengerjakan tugas, mungkin aku akan disini sampai malam."
Joy mengangguk paham dan segera membereskan barangnya. "Aku yang bayar, ya? Hitung-hitung sebagai hadiah atas bantuanmu beberapa minggu kemarin saat kami sedang pindah rumah!"
Jongin terkekeh sejenak. "Harusnya tadi aku pilih yang mahal sekalian, ya?" candanya. "Hati-hati, salam untuk Sungjae!"
Sepeninggal Joy dan setelah mejanya kembali bersih dari piring serta gelas kosong, Jongin segera mengeluarkan laptopnya dan memasang mimik serius saat jari jemarinya mulai membuka microsoft word, lalu google dan beberapa aplikasi yang ia pakai untuk keperluan tugas akhirnya sebagai mahasiswa .
Detik berganti menit dan menit berganti menjadi jam dengan begitu cepat. Tak terasa, sudah mendekati last order dan Jongin pun tetap tak bergeming dari posisinya sampai suara itu kembali menyapanya.
"P-permisi Tuan, kami sudah last order. Apa ada yang mau Tuan pesan lagi?"
"Ya, boleh. Kali ini cukup air putih dingin saja, terima kasih."
Gadis mungil itu mengangguk dan segera menuju kasir untuk memasukkan pesanan terakhir cafe sebelum tutup setengah jam lagi. Sekitar dua menit kemudian, pesanan Jongin pun tiba.
"Silahkan,"
"Ya, taruh saja disana. Terima kasih," sahut Jongin tanpa mengalihkan pandangannya dari laptopnya.
Tanpa Jongin sadari, tugas akhirnya yang tak bergerak maju sejak satu minggu belakangan itu kini sudah hampir selesai ia kerjakan. Seulas senyum ia ukir secara tak sadar di bibirnya.
"Hampir selesai,"
"Hyung? Kau tak pulang?"
Jimin mengingatkan Jongin terakhir kali karena saat ini cafe sudah sepi walau jam tutup masih sepuluh menit lagi.
"Oh, Ya Tuhan. Aku terlalu asik, jam berapa se—oh, mati aku. Aku tidak bilang akan terlambat pulang hari ini,"
Jimin tertawa kecil. "Kau serius sekali sejak tadi, makanya aku tak berani menegurmu. Jika bukan karena kami sudah mau tutup, pasti kau tak akan kuganggu sampai kau selesai, hyung!"
"Ei, tak masalah. Kau tidak siap-siap pulang?" tanya Jongin sambil membereskan peralatannya.
"Hari ini aku kebagian jatah untuk mengunci cafe jadi aku pulang terakhir."
"Ya sudah, kalau begitu aku duluan, ya? Sampai ketemu lagi, Jim. Jika aku mengajak Chanyeol hyung kemari, ia pasti akan terkejut!"
"Kupastikan aku tidak ada shift saat kau mengajak Chanyeol hyung kemari!" canda Jimin. "Hati-hati, hyung!"
Jongin mengeratkan genggamannya pada tali tas punggungnya dan menapaki pedestrian kota Seoul dengan santai. Angin malam hari ini cukup dingin dari biasanya dan dia cukup menyesal karena tadi siang ia hanya memakai kemeja tipis dan kaos dalaman sebagai atasan.
Jongin yang sudah berada beberapa meter dari cafe El Picaso tentu tidak menyadari bahwa gadis mungil yang bekerja disana sebenarnya sedang berupaya untuk bersiap-siap pulang dengan cepat agar tak ketinggalan jejak Jongin. Tapi sayang, begitu ia keluar, hanya ada Jimin disana.
"Oh, Jimin! Apa kau tahu kemana perginya pemuda yang tadi berkutat dengan laptopnya itu?"
Jimin mengerutkan dahinya heran. "Ya, dia sudah pergi sekitar lima menit lalu. Kenapa?"
"Aish! Kenapa kau tak mencegahnya pergi cepat? Ya sudah, deh! Bye Jimin!"
Dengan tergopoh-gopoh, gadis itu berlari keluar cafe dan menoleh ke kanan serta ke kiri untuk mencari sosok sang pemuda yang sudah ia tunggu kedatangannya sejak beberapa hari belakangan. Dan saat mata bulatnya sudah berhasil menemukan siluet sosok tersebut, kaki mungilnya pun dengan cekatan berlomba untuk menghampiri sang pemuda.
"Tuan tunggu!"
Sayup-sayup, Jongin mendengar teriakan seorang gadis yang menyuruh seorang pria untuk berhenti. Masalahnya, Jongin tidak tahu siapa yang sedang berbicara dan siapa yang sedang diajak bicara, jadi ia pun terus berjalan menuju halte bus yang sudah tinggal lima meter lagi itu.
"Ya! Tuan yang tadi main laptop di cafe! Berhenti dulu!"
Jongin menghentikan langkahnya. Bukan karena ia merasa ia terpanggil, tapi karena teriakan yang gadis itu sampaikan. Yang main laptop di cafe? Jongin sih memang sejak tadi ada di cafe dan berkutat dengan laptop, tapi dia tidak ber—
"Tuan! Haaaah~ akhirnya kau berhenti juga~" ujar sang gadis yang sejak tadi berteriak sambil berlari mengejar Jongin.
"Oh, kau? Kupikir tadi ada gadis aneh yang memanggil-manggil orang untuk berhenti."
"Ya! Memangnya aku ini aneh, apa? Ish,"protes sang gadis.
"Ada apa?" tanya Jongin tak acuh sambil melihat ke arah jalan dimana siluet busnya sudah terlihat dari kejauhan.
"Ini, punyamu." Sang gadis mungil terlihat mengeluarkan sebuah bungkusan warna cokelat yang diberi pita kertas bergambar penguin.
"Punyaku?"
"Iya, itu jaket yang tempo hari kau pinjamkan padaku. Terima kasih, ya, sudah meminjamkanku jaket waktu itu! Sudah ku cuci bersih dan sudah sangat wangi, kok! Aku membawanya tiap hari karena kupikir aku bisa saja tiba-tiba bertemu denganmu, dan sepertinya, dugaanku benar~" jelasnya riang.
Jongin menerima bungkusan itu dengan wajah datar dan kembali menatap ke jalan tanpa mengucapkan sepatah kata apapun pada sang gadis.
"Kau tak mau bilang terima kasih padaku, hei, Tuan?" protes sang gadis tiba-tiba.
Jongin menolehkan kepalanya dan menatap sang gadis dengan wajah herannya. "Aku hanya melakukan hal yang patut ku lakukan saat itu. Dan kau juga melakukan hal yang memang sudah seharusnya kau lakukan sebagai peminjam, kan? Jadi, kenapa aku harus berterimakasih padamu?" balas Jongin dingin sembari berdiri dan menunggu pintu busnya terbuka. Tapi, setelah naik, tepat sebelum sang sopir menutup pintu, Jongin berbalik dan menatap gadis yang masih menatapnya penuh tatapan kesal sejak tadi.
"Hei! Terima kasih jaketnya, ya!" teriak Jongin seraya memberikan senyuman terbaiknya sesaat sebelum pintu bus tertutup dan melanjutkan perjalanannya.
Jongin yang baru saja duduk, tak berhenti tersenyum dan bahkan kadang tertawa kecil saat kepalanya kembali mengingat bagaimana gadis mungil itu menampakkan raut wajah kesalnya.
"Imut sekali,"
Di lain pihak, sang gadis yang sebelumnya sangat kesal pada Jongin karena pemuda itu hampir saja ia cap sebagai pemuda yang tak tahu terima kasih itu pun kini juga sama saja gilanya. Sepeninggal Jongin dan busnya, gadis itu masih tersenyum-senyum bahkan sesekali berteriak.
"Ya Tuhan, kenapa dia tampan sekali kalau tersenyum!"
Dan kemudian, sebuah klakson bus terakhir pun akhirnya meruntuhkan lamunan gadis itu tentang Jongin, sang pemuda dingin yang tampan saat tersenyum.
.
.
"Selamat pagi, Nyonya Kim."
"Oh, selamat pagi, Chanyeol. Tumben kau datang pagi-pagi, tidak ke kantor?"
"Hari ini kan hari Minggu, Nyonya. Kantor libur," jawab Chanyeol sopan namun tetap setengah menahan tawanya.
"Oh ya ampun, maaf, Nak. Maklum, umurku sudah tidak muda, jadi aku sering sekali lupa." Sahut Nyonya Kim sambil tertawa karena ingatannya yang mulai buruk. "Mencari si besar Kim atau si muda Kim?" tanya sang nyonya rumah dengan nada bercandanya.
Chanyeol tertawa sejenak. "Saya mencari Tuan Muda, Nyonya."
"Ahh, kalau si muda Kim, jam segini, di hari Minggu pasti masih tidur. Kalau si besar Kim, dia sedang sibuk di taman belakang."
"Saya ke kamar Tuan Muda dulu, Nyonya. Permisi,"
"Silahkan, Nak. Sekalian jika kau berhasil membangunkannya, tolong ajak dia sarapan, ya?"
Chanyeol mengangguk patuh dan segera berlari kecil menuju kamar Jongin. Setibanya didepan kamar, Chanyeol mengetuk beberapa kali dan tidak ada jawaban.
"Hei bocah? Apa kau belum bangun?"
"Berisik," jawab Jongin seraya membuka pintu kamarnya dengan tangan kanan sembari tetap mengeringkan rambutnya dengan handuk di tangan kirinya.
"Sudah mandi, toh? Kata nyonya Kim, biasanya kau belum bangun."
"Ada apa? Tidak biasanya juga kau ke rumah, hyung."
Chanyeol terkekeh lalu tertawa beberapa menit sebelum akhirnya dia mengeluarkan sebuah kandang dari tas punggungnya.
"Wo-wow, apa itu?" tanya Jongin protektif. Pasalnya, dulu saat ia kecil, Chanyeol pernah membawa katak peliharaannya ke dalam kamarnya yang berakhir dengan teriakan menggelegar Jongin yang phobia.
"Tenang, ini marmut, kok."
"Marmut? Kau memelihara marmut?"
Chanyeol mengangguk sekali untuk menjawab pertanyaan pertama Jongin dan mengangguk berkali-kali untuk menjawab pertanyaan kedua Jongin. "Lucu, ya? Imut!"
Wajah Jongin dipenuhi raut heran. "Buat apa kau memeliharanya?" tanya Jongin sembari merebahkan dirinya di kasur setelah menghidupkan ipodnya yang sudah tersambung dengan speaker kecil di kamarnya. Jongin memang sangat suka mendengarkan musik, jadi tak heran jika tiap hari kamar Jongin tak pernah sepi kecuali jika sang penghuni sedang pergi.
Chanyeol, bukannya menjawab pertanyaan Jongin malah balik memberi pemuda dua puluh dua tahun itu pertanyaan baru. "Hei, Jong. Menurutmu, cinta itu bagaimana?"
Jongin yang masih sibuk berbaring, segera menoleh pada Chanyeol yang meringis tanpa dosa. "Cinta? Astaga. Kau kerasukan apa sih, hyung? Mengerikan!"
"Ei, jawab saja!"
Jongin menatap langit-langit kamarnya lalu bergumam. "Cinta ya?" ulangnya. "Cinta itu... random. Kita tak pernah tahu kapan dia datang dan dengan siapa cinta itu datang pada kita,"
Chanyeol terkekeh pelan lalu mengangguk cepat tanpa Jongin lihat. "Kau benar. Aku setuju." Ujar Chanyeol semangat. "Tadi kau tanya kan, untuk apa aku pelihara marmut ini?"
"Hm," gumam Jongin. "Aku tahu kau pasti akan memberiku jawaban konyol, jadi cepat berikan jawaban itu sebelum aku menendangmu keluar kamarku karena pembicaraan kita memuakkan."
"Cinta itu seperti marmut lucu warna merah jambu yang aku beli ini."
"Hah? Bagaimana bisa?"
Chanyeol mendekatkan kandang marmutnya pada Jongin lalu menunjuk pada bagian kandang berbentuk roda yang sedang dimainkan si marmut. "Kau lihat kan dia sedang asik berlari di rodanya?" tanya Chanyeol pada Jongin. "Dia merasa berjalan begitu jauh, padahal kita tahu bahwa faktanya dia tidak berpindah sedikitpun dari tempat awalnya."
Jongin hampir menanyakan seluruh kalimat berpotensi gombalan yang Chanyeol utarakan, tapi laki-laki yang lebih tua lebih dulu memulai pembicaraan lagi. "Tidakkah kau merasa marmut itu seperti kita yang sedang jatuh cinta? Kita merasa sedang dalam perjalanan jauh mencari cinta, mencari seseorang yang terasa begitu pas dengan kita. Padahal kita tidak kemana-mana, hanya berlari di tempat yang sama tanpa tahu kapan harus berhenti berlari."
Jongin menahan tawanya untuk satu menit, lalu dua menit kemudian pecah. Begitu lepas, begitu bebas. Seolah menertawai Chanyeol adalah hobi barunya.
"Kau kerasukan pujangga mana, sih, hyung? Kata-katamu, benar-benar memusingkan!"
Chanyeol tiba-tiba merubah mimiknya menjadi datar dan menyentil dahi Jongin dengan keras yang menyebabkan sang pemuda mengaduh keras.
"Hyung!"
"Kau belum pernah jatuh cinta, sih. Makanya sok tidak peduli, coba saja kalau kau sudah merasakan yang namanya jatuh cinta."
Jongin masih tertawa beberapa kali walaupun Chanyeol sudah kembali bersuara.
"Awas saja kalau kau jatuh cinta dan datang padaku untuk minta saran, kau akan ku tertawai lebih keras dari ini."
Jongin langsung menahan tawanya dengan cepat. "Woh, jangan marah begitu dong, hyung. Aku kan hanya bercanda. Habisnya, selama aku mengenalmu, kau tidak pernah tiba-tiba jadi kasmaran begini, lucu ternyata ya~" ujar Jongin sambil meneruskan tawanya yang tertunda. "Siapa sih yang membuatmu begini?"
Chanyeol tiba-tiba tertawa. "Kau masih ingat gadis yang kuceritakan waktu itu, kan?"
"Eung, yang kau tabrak di food fair?"
Chanyeol mengangguk cepat. "Iya! Dia!"
"Kau bertemu lagi dengannya?"
"Seminggu lalu, saat aku pulang dari minum bersama Sehun dan beberapa staf. Waktu aku sedang jalan menuju apartemen, aku melihat dia berjalan sendirian. Awalnya aku tidak tahu kalau itu dia, sampai ada beberapa anak ingusan yang menggodanya dan aku datang sebagai pahlawan kemalaman,"
"Klise sekali ceritamu. Lalu, bagaimana? Mabukmu parah tidak? Kau tidak me—hyung! Aku kan hanya bertanya!"
"Tapi arah pertanyaanmu itu mesum, dan aku tahu itu." jawab Chanyeol. "Tidak, aku tidak mabuk. Dan aku mengantarkannya pulang ke apartemennya setelah mengambil mobil di apartemenku. Katanya dia sebenarnya mau pulang naik bus, cuma aku melarangnya karena tidak ingin dia diganggu anak ingusan lagi."
Jongin mengangguk seolah paham. "Lalu?"
"Lalu setelahnya aku bertukar nomor dan ID sns. Dan—oh aku lapar!" suara perut Chanyeol yang berisik pun mengacaukan cerita serius yang Chanyeol siapkan.
"Ayo sarapan dulu kalau begitu. Lalu kita ke cafe dekat kantor yang waktu itu aku ceritakan! Pasta disana luar biasa!"
"Kau yang bayar, ya?"
"Iya-iya, aku yang bayar!"
Jongin mengambil jaketnya yang tergantung di balik lemari dan segera turun menuju meja makan untuk meminum susu buatan Ibunya dan mengambil beberapa potong roti bakar untuk ia makan di jalan bersama Chanyeol.
"Umma~ Aku pergi bersama Chanyeol hyung dulu yaaa~"
Jongin pamit setengah berteriak pada Ibunya. Chanyeol yang sudah duluan, pun segera menyalakan mesin mobilnya dan langsung tancap gas sesaat setelah Jongin menutup pintu mobil.
"Hei, hyung, kau tahu girlgroup yang baru itu tidak? Yang dulu pesertanya 101 orang itu, lho~"
"Ah, iya-iya aku tahu. I.O.I, ya? Kenapa memangnya?"
"Aku kenal salah satu member visualnya. Dia adik kelasku dulu saat SMP dan sempat jadi teman main karena ayahnya adalah rekan kerja appa,"
"Iya? Siapa?"
"Rahasia dong. Nanti kalau kau tahu, kau minta macam-macam lagi,"
Chanyeol meringis. "Kau tahu saja,"
"Aku mengenalmu sejak aku masih jadi embrio, hyung."
"Tua sekali aku ya jika dipikir-pikir,"
"Hah! Kau baru sadar? Harusnya, ya—eh, berhenti hyung!"
Jidat Jongin dengan ciamiknya mencium dashboard mobil Chanyeol saat sang pemilik kendaraan mendadak menekan rem.
"Kau mau kita mati, ya?!"
"Maaf, maaf. Aku lupa kalau sudah hampir sampai!"
Chanyeol segera keluar mobil setelah memastikan bahwa ia parkir di tempat yang diperbolehkan dan tidak ada korban atas peristiwa pengereman mendadaknya tadi.
"Selamat datang~"
"Wo! Ya! Park Jimin!"
Chanyeol berteriak keras-keras begitu melihat siapa sosok yang berteriak menyambut kedatangannya.
"H-hyung?"
Jongin tertawa sejenak. "Waah kalian sudah saling kenal, ya?" tanya Jongin dengan nada sarkasmenya.
Jimin menatap Jongin kesal. Dan Jongin hanya terkekeh membalas tatapan dongsaengnya itu. "Kan sudah ku bilang?"
Chanyeol menjitak kepala adik sepupu yang paling dekat dengannya itu. "Bocah nakal! Apa yang kau lakukan disini?"
"Tentu saja bekerja! Apa lagi?!" pekik Jimin tertahan karena hari ini ada manager galaknya yang datang untuk memantau kerja para pegawainya. Untungnya, orang tersebut sedang ada di gudang belakang tadi.
"Dia jadi pelayan disini, katanya mau belajar cari uang sendiri~" beber Jongin pada Chanyeol.
"Wah, benarkah?" raut wajah Chanyeol berubah jadi bangga. "Kalau begitu, bilang dong dari tadi. Ku kira kau mengacau disini,"
Jimin menatap kedua lelaki yang lebih tua darinya itu dengan tatapan malasnya. "Mau pesan apa, sudah?"
"Aku pasta yang biasa ya, Jim! Dan ice cappucino,"
"Yang biasa? Jadi kau sering kemari tanpa mengajakku?"
"Salah sendiri kerjamu itu hanya kunjungan kerja, rapat, kunjungan kerja, rapat. Kau pikir aku ini pacarmu yang bisa maklum dengan kerjamu? Enak saja. Perutku kan juga butuh asupan lezat!"
Chanyeol menatap Jongin kesal. "Samakan saja dengannya, deh!"
Jimin mengangguk paham lalu segera menuju meja kasir dan meninggalkan dua hyungnya untuk membiarkan mereka melanjutkan perdebatan.
"Lanjutkan ceritamu, hyung."
"Hm, sampai mana tadi?"
"Sampai Jeju,"
"Oh, Je—heeeeh?! Kok sampai Jeju?!"
Jongin tertawa puas. "Bodoh. Kau ini, hyung. Apa jatuh cinta membuatmu jadi bodoh begini? Kalau begitu sih, aku lebih memilih tidak pernah jatuh cinta, deh!" sombong Jongin.
"Kalau kata-katamu berbalik, aku bersumpah akan kulempar kau dengan bantal dan kursi apartemenku lalu aku akan tertawa sepuasnya."
"Lanjutkan ceritamu, sudah."
"Sampai mana tadi? Jangan bilang sampai Jeju lagi!"
"Sampai kalian bertukar sns."
"Ahh iya, sns. Jadi, setelah kami bertukar sns, aku dan dia sering ngobrol sampai malam. Dan kalau kau tahu yang satu ini, kau pasti akan kaget."
"Apa lagi?"
"Silahkan hyung,"
"O, terima kasih, Jim."
"Dia itu masih sekolah!" bisik Chanyeol penuh semangat.
Jongin yang baru saja meminum ice cappucinonya pun dengan sukses tersedak.
"PEDOPHIL!"
"Brengsek!" pekik Chanyeol sambil menjitak kepala Jongin tidak main-main. "Kau dan teriakan sialanmu. Untung masih sepi!"
"Habisnya! Masih banyak wanita cantik yang seumuranmu, tapi kau malah main-main dengan gadis sekolahan. Aku saja, masih pikir-pikir kalau disuruh pacaran dengan gadis sekolahan!"
"Coba sebutkan siapa wanita cantik seumuranku yang bisa aku jadikan calon istri?"
"Eung, Kahi noona? Eh dia sudah mau menikah, ya. Ah! Hyesun noona! Eh tapi dia sudah confirm dengan Jaehyun hyung ding,"
"Pilihanmu taken semua, kan?"
"Tapi kan tetap saja! Masak om-om sepertimu menikah dengan gadis sekolahan, sih?"
Satu jitakan lagi mampir ke kepala Jongin. "Aku bahkan baru punya keponakan satu!"
"Tuh, apalagi kau sudah punya keponakan! Gadis itu pasti lebih cocok dipanggil kakak oleh keponakanmu ketimbang aunty~"
"Kau benar-benar cerewet, Jongin."
"Kau benar-benar gila, Chanyeol hyung."
"Tapi aku gila karena jatuh cinta!"
"Aku—tidak jatuh cinta."
Perdebatan kedua pria itu lagi-lagi terinterupsi oleh datangnya pesanan mereka.
"Terima kasih ya, eum, Kyung...soo? Kyungsoo ya, namamu?"
Jongin yang sebelumnya asik mengecek ponselnya, langsung mendongakkan kepalanya dan menemukan gadis mungil itu lagi, sedang menyajikan pesanan miliknya.
"Jadi namanya Kyungsoo?"
"Silahkan dinikmati,"
Chanyeol mendekatkan wajahnya pada Jongin yang masih menatap Kyungsoo sejak tadi. "Heleh, kau bilang kau tidak jatuh cinta? Lalu kenapa kau menatapnya terus sejak tadi?"
Jongin yang salah tingkah pun hanya berhasil terbatuk-batuk sebagai pengalihan fokusnya. "Tidak, kok."
"Eiii, itu bukannya gadis troublemaker itu ya?"
Jongin mengangguk cepat sambil mulai menyantap pasta kesayangannya.
"Ohh, jadi kau sering kemari dan baru kali ini mengajakku supaya aku tidak memperhatikanmu saat kau menatap Kyungsoo diam-diam seperti tadi ya?"
Jongin membulatkan kedua bola matanya dan menggeleng cepat. Chanyeol tertawa puas dan melempar Jongin dengan kain penutup sendok garpunya. "Tingkahmu Jong, Jong. Menggelikan!"
"S-setidaknya kan aku tidak suka dengan gadis sekolahan!"
"Eiii, jadi kau mengakui kalau kau menyukai Kyungsoo?"
Jongin memejamkan matanya cepat seolah merutuki kesalahannya yang membongkar isi pikirannya dengan tidak sadar. "Siapa bilang?! Aku tidak suka padanya. Aku hanya bilang setidaknya, aku tidak suka dengan gadis sekolahan." Jawab Jongin cepat seraya membela diri.
Tatapan dari Chanyeol pada Jongin sebenarnya sangat penuh arti. Pria itu sudah lama yakin bahwa ada sesuatu yang dimiliki gadis tadi yang membuat Jongin tidak pernah marah padanya bahkan hanya untuk berkata kasar saja tidak. Padahal, dulu? Jongin hampir tidak pernah absen berkata kasar baik pada wanita maupun pria ketika mereka bermasalah dengan Jongin.
"Baiklah, baiklah. Dasar sok dingin,"
"Cerewet,"
"Sok cuek,"
"Om-om,"
"Sok —eh, sialan kau, ya."
Tawa Jongin dan Chanyeol pecah bersamaan. Keduanya tetap asik menyantap pasta lezat buatan koki El Picaso tanpa pernah lagi menyinggung tentang Kyungsoo maupun gadis yang dicintai Chanyeol. Yang Jongin tahu, pada akhir hari itu, Chanyeol mengungkapkan bahwa ia akan menyatakan cintanya pada gadis pujaannya itu secepatnya dan bahkan akan langsung menikahinya begitu gadisnya selesai kuliah. Ya, walau semua masih dalam taraf angan-angan bagi Chanyeol, tapi Jongin tahu bahwa Chanyeol akan mengusahakan apapun agar keinginannya bisa terwujud, meskipun ia harus menderita hingga jadi hampir mati karenanya. Sifat pekerja keras tak kenal lelah itulah yang Jongin tiru hingga ia dewasa sekarang ini. Sayangnya, ia tidak meniru keberanian Chanyeol untuk menyatakan cinta, jadi, ya, masa depan kehidupan cintanya pun masih abu-abu dengan Kyungsoo, gadis troublemaker yang kini membuat Jongin perlahan jatuh cinta.
.
.
.
Halo, lagi!
Part kedua lebih panjang, ya? Iya, soalnya nggak enak kalo dipotong ditengah.
Bagaimana kesan membaca part kali ini? Gemes, kah? Kesel, kah? Muntah, kah? Well, maafkeun Kaje kalo ceritanya diluar prakiraan. Maklum, imajinasi orang gila kadang juga gila.
Saya tunggu saran dan kritiknya. Jika ada yang ingin request cerita, dipersilahkan untuk PM.
Terima kasih, salam!
