Ia mengepakan sepasang sayap hitam besar di punggungnya. Terbang lebih rendah dan berhenti tepat di depan sebuah pintu. Sasuke tahu jika ini semua salah. Ia seorang malaikat, dan mencintai gadis yang ada di daftar kematian miliknya.


Anemone

Naruto © Masashi Kishimoto

Anemone © AkinaJung

Uchiha Sasuke & Haruno Sakura

"Jika ada satu hal di dunia yang mampu membuat kami bersama, maka aku akan mengorbankan apapun untuk mendapatkannya"


"Tidak biasanya kau memanggilku, Sasuke," Sepasang sayap putih bersih miliknya mengepak berantakan di belakang tubuhnya. Bulu-bulu berwarna putih lembut berterbangan di sekitar mereka. Neji turun, menapaki tanah yang sudah cukup lama tidak dijejakinya. Mungkin sudah hampir empat tahun ia tidak mengunjungi daerah manusia ini. Dia lebih menyukai pekerjaan barunya sebagai bawahan Dewa kematian di atas sana. Neji tahu, Sasuke bukanlah tipe malaikat yang akan bertanya jika mengalami kesulitan. Sasuke selalu mencari jalan keluar dari masalahnya seorang diri. Walaupun itu sangat jarang terjadi, karena Sasuke bukan pembuat masalah. Dan.. sekarang, Neji rela menunda pekerjaannya di atas sana karena rasa penasaran yang menggrogotinya. Dia sangat ingin tahu apa tujuan Sasuke memanggilnya.

"Apa ada alasan khusus saat waktu kematian seorang manusia dipercepat?" Beberapa detik berlalu dan Neji masih tidak percaya Sasuke menanyakan hal seperti itu. Tidak biasanya, karena Sasuke adalah malaikat pengawas berhati dingin yang tidak pernah peduli dengan manusia yang di awasinya. "Apa ada manusia yang membuatmu tertarik ?"

Neji balik melontarkan pertanyaan walaupun ia tahu jika Sasuke tidak akan menjawabnya. Dia melebarkan sayapnya, mengepak-ngepakannya perlahan. "Itu karena takdirnya di tulis ulang," Kedua mata hitam Sasuke menatap Neji yang terbang dengan sepasang sayap putihnya. Dia mungkin hanya bingung, karena untuk pertama kalinya mengawasi manusia yang masa hidupnya dipersingkat. Tinggal dua bulan lagi, gadis malang itu kehilangan waktu-waktu berharganya cukup banyak. Sebulan bukan waktu yang sedikit untuk seseorang yang akan kehilangan nyawanya dalam tiga bulan mendatang, dan dengan malangnya, gadis rapuh itu kehilangan waktunya.

Sasuke membuka sepasang sayap hitamnya. Dia terbang meninggalkan tempat itu. Ia bingung akan dirinya sendiri. Mengapa dia peduli? Hal yang bagus untuknya jika kematian gadis itu makin cepat. Karena dengan begitu, ia bisa dengan cepat meninggalkan tempat menjijikan ini.


Sasuke menghela napasnya, menarik napas banyak-banyak lantas menghembuskannya kasar. "Bagaimana bisa ada manusia bodoh dan ceroboh sepertimu?" desis Sasuke, bicara pada Sakura walau tahu gadis merah muda itu tidak akan bisa mendengarnya.

"Astaga, sialnya…" Sakura menggerutu sembari memungut kembali sampah-sampah yang berserakan karena ulahnya. Sasuke tak habis pikir bagaimana bisa gadis ini menabrakan dirinya ke tempat sampah hingga membuat sampah-sampah itu berserakan. "Mungkin aku terkena kutukan sampai selalu sial seperti ini," Sasuke mendengus, ternyata masih ada saja manusia dengan pemikiran primitif di jaman ini.

Sakura berdiri setelah selesai merapikan ulahnya. Dia menghembuskan napasnya kemudian mendongak ke atas. Sasuke melenyapkan sayapnya, ikut berdiri di samping Sakura walau tidak menunjukan kehadirannya. Sakura terlihat sangat polos di matanya. Berbeda dengan manusia-manusia yang selama ini di awasinya. Sasuke bahkan telah melupakan kapan terakhir ia mendapatkan manusia baik hati untuk diawasi.

"Aku harap hari ini terbebas dari segala kesialan. Kakak akan datang sore nanti, aku tidak ingin membuatnya khawatir," bisik Sakura pelan. Jadi dia punya kakak, batin Sasuke setelah mendengar doa Sakura. Selama lima hari ini sejak ia mengawasi Sakura, Sasuke tidak pernah melihat seorang pun di rumah gadis itu. Sakura tinggal sendiri, Sasuke tidak yakin kenapa, tapi orang tua Sakura tidak pernah terlihat berada di rumah.

Baru saja gadis itu melangkahkan kakinya, Sakura kembali terjatuh karena menginjak tali sepatunya sendiri. Menabrakan tubuhnya lagi ke tempat sampah hingga membuat sampah-sampah itu kembali berantakan. Sasuke tak bisa menahan dirinya untuk mendengus. Jujur saja, sempat Sasuke mengerjap takjub. Gadis merah muda itu mungkin manusia dengan tingkat kecerobohan maha tinggi yang pernah ada di dunia. "Bagaimana kau melewati hari-harimu selama enam belas tahun ini, hn?"

"Yaampun.. pakaianku kotor. Astaga.. sialnya," Sakura bangkit dari posisi jatuhnya, mengibas-ngibaskan tangannya pada baju yang dipakainya. Gadis itu kembali membungkuk untuk membersihkan kekacauan yang ia perbuat untuk kedua kalinya. Sasuke melipat kedua tangannya di depan dada, memandangi Sakura yang masih sibuk bersama sampah-sampahnya dengan pandangan datar yang dalam.

Sasuke tidak menyadari, jika kedua sudut bibirnya bereaksi membentuk lengkungan saat dirinya melihat tingkah gadis itu.


Benar-benar merepotkan. Baru pertama kalinya Sasuke merasakan kekhawatiran setiap manusia yang diawasinya melakukan sesuatu. Gadis ini.. dia benar-benar ceroboh. Semua yang dilakukannya pasti meninggalkan masalah baginya. Seperti saat ini, Sakura meninggalkan kompor yang masih menyala sedangkan ia pergi untuk mandi. Dua puluh menit yang lalu, piring-piring di meja makan tidak sengaja tersenggol oleh Sakura lalu jatuh pecah dan dengan bodohnya, gadis itu menginjaknya.

"Astaga! Aku lupa dengan kompornya!" Sasuke mendudukan dirinya saat suara teriakan Sakura terdengar. Jangan sampai teman-teman sebangsanya tahu jika ia mengawasi makhluk bodoh seperti gadis ini. Dia mungkin akan menjadi bahan ejekan selama beberapa tahun ke depan.

Sakura buru-buru mematikan kompornya, dengan bodohnya memindahkan panci panas di atasnya terburu-buru tanpa menggunakan apapun. "Panas!" Sakura memekik, melepaskan pegangannya pada pancinya. Sasuke berdecak kesal. Dia bergerak dengan cepat kehadapan Sakura kemudian mendorong gadis itu.

Ketika Sakura terhuyung ke belakang, air panas jatuh menyiram kakinya. Sasuke menghela napasnya, memerhatikan kakinya yang terhujam air panas. "Kau hebat karena membuatku melakukan ini," Sasuke berucap, terdengar seperti sindiran.

"Kenapa bisa? Apa Tuhan mendengar doaku sebelumnya dan mengirimkan malaikat penjaga untukku ?" Sasuke berdecak geli. Malaikat penjaga? Normalnya, manusia lainnya akan berspekulasi jika ia bergerak refleks menghindari bahaya saat tubuhnya bergerak tak wajar, bukan mengira ada malaikat penjaga di sampingnya.

Setelah membereskan kekacauan, Sakura mendudukan dirinya. Memandangi makanan buatannya yang mulai mendingin. Gadis polos itu berulang kali melihat ke arah ponselnya. Berharap akan ada panggilan telepon dari kakaknya atau sekedar pesan teks. "Apa kau begitu berharap kakakmu itu datang ?" Sasuke bertanya pada Sakura seperti orang bodoh. Dia tahu Sakura tidak mungkin menjawabnya tapi pertanyaan itu tidak bisa ditahannya saat sepasang matanya melihat tingkah Sakura.

"Apa kakak batal pulang ya?" Raut kecewa nampak di wajah cantik Sakura. Kedua netra hijau yang biasa berkilat ceria itu meredup. Beberapa hari bersama Sakura, Sasuke tidak pernah melihat gadis ini menampakan raut sedih. Sekalipun ia adalah objek penindasan, Sakura tetap tersenyum dan kedua bola mata hijaunya selalu berbinar cerah.

Waktu terus berlalu, Sasuke masih duduk diam memerhatikan Sakura yang ada di sampingnya. Gadis itu telah terlelap di tempat sejak beberapa menit yang lalu. Sasuke menggerakan tangannya ragu, mengusap jejak air mata di pipi Sakura. Gadis kikuk itu kini berkali-kali lipat nampak rapuh di mata Sasuke. Seakan ia mudah hancur dalam sekali sentuh. "Apa kau akan mati dalam kesendirian seperti ini?" gumam Sasuke lantas melebarkan sayap hitamnya selebar mungkin agar menjangkau seluruh tubuh Sakura. Sasuke menidurkan kepalanya di atas lipatan tangannya. Memerhatikan Sakura sepanjang malam yang tertidur diselimuti sayap miliknya.


Wajah cantik itu kembali menampilkan ekspresi cerianya. Dari ujung tiang listrik sana, Sasuke bisa melihat senyum di wajah Sakura. Gadis itu melemparkan senyumnya pada setiap orang yang ia temui, Sasuke yakin jika tidak semua orang yang menerima senyum Sakura mengenal gadis itu. Sayap hitam Sasuke kembali melebar. Dia terbang mengikuti Sakura. Turun dengan jarak lebih jauh beberapa meter dari Sakura. Sasuke melenyapkan sayapnya, dia berniat membuat dirinya terlihat oleh gadis merah muda itu.

Kedua mata hijau cerahnya melebar terkejut. Senyum lebar muncul sangat jelas ketika dirinya menangkap sosok penolongnya berdiri dekat di depannya. Sakura berlari, sontak berteriak memanggil nama laki-laki yang telah menolongnya saat itu. "Sasuke-san !"

Gadis ini.., Sasuke mendengus. Tak habis pikir mengapa Sakura sangat bersemangat saat melihatnya. Dia bergumam singkat sebagai jawaban. Sebenarnya, ia sendiri bertanya-tanya. Mengapa ia menampakan dirinya lagi di depan gadis ini? Namun, saat melihat bagaimana gadis itu tersenyum padanya, Sasuke memilih untuk memikirkan hal itu nanti.

"Kebetulan sekali! Terima kasih sekali lagi untuk bantuanmu saat itu," Sakura tak merasa canggung sedikit pun. Entah mungkin hanya perasaannya, ia merasa sudah sangat dekat dengan laki-laki di hadapannya ini. Di balik wajah datar dan tatapan acuhnya, Sakura meyakini jika Sasuke adalah orang baik. "Apa kau sedang sibuk?"

Sasuke menggeleng. Ia memang tidak sibuk. Beberapa manusia yang di awasinya tidak cukup menarik untuk ia ikuti kemana pun. Sebagian besar waktunya ia suguhkan untuk mengawasi Sakura, karena Sasuke tidak pernah setertarik ini dengan manusia.

"Apa kau mau ikut denganku? Ada satu tempat yang ingin ku kunjungi," ujar Sakura, seperti tak yakin namun ia tetap tersenyum. Sasuke tak banyak berpikir, mengawasi gadis ini dengan wujud yang terlihat tidak ada salahnya. "Hn," Dia mengangguk sekilas dan senyum gadis itu semakin merekah.

Mereka berjalan beriringan. Sasuke tidak bicara sedikit pun namun juga tidak mengacuhkan Sakura. Gadis itu bicara dengan cerianya, berceloteh tentang apapun yang terlihat oleh matanya. Diam-diam Sasuke mulai memikirkan Sakura. Terkadang Sakura nampak sangat kuat dan terkadang dia terlihat begitu rapuh. Gadis itu mungkin menyembunyikan sisi rapuhnya dengan tersenyum riang, menunjukan sisi tabahnya seakan berkata pada orang-orang jika ia baik-baik saja.

Mereka berdua berhenti di sebuah taman bermain. Sakura menoleh ke Sasuke sembari tersenyum riang. "Aku selalu ingin mengajak temanku pergi kemari, tapi sejak kecil aku tidak memiliki teman," suaranya terdengar lemah di akhir, namun dia tertawa kecil. Sakura mengulurkan tangannya pada Sasuke "Mungkin aneh karena kita baru bertemu dua kali, tapi aku yakin kau adalah orang yang baik. Maukah Sasuke-san menjadi teman pertamaku ?"

Sasuke menerima uluran tangan itu ragu. Tangan kecil itu terasa lembut saat menyentuh kulitnya. Sasuke bisa melihat rona merah tipis di kedua pipi Sakura. Gadis itu tersenyum dengan lebarnya saat melihat uluran tangannya ia terima. Tak pernah sekali pun Sasuke berpikir akan menjalin hubungan pertemanan dengan manusia.

Apalagi dengan manusia yang terdaftar di catatan kematiannya.

Bersambung.