Ketika yang datang kembali berulang.

Akan kah yang pergi bisa kembali bersama hati.

Berbagi sembari menilik kasih.

Ada kalanya waktu seakan terbekukan, menampakkan fraksi-fraksi tak terbaca tapi samar terlihat. Semua aliansi itu melihat, bagaimana wajah yang terlihat ceria itu meredup. Jatuh bagai diderak ombak besar meruntuhkan. Semuanya berlalu cepat, hingga akhirnya melambat ketika tubuh itu tak mampu lagi menopang berat tubuhnya sendiri.

Tubuh itu tak lagi berpendar, kehilangan cahaya kuningnya. Begitu pula semua raut wajah para shinobi.

"NARUTOOOOOO!" Teriakan itu bergaung menyabet sang malam.

Tak tahu siapa yang pertama berteriak, tapi hampir seluruh shinobi Konoha menyerukan nama yang sama ketika dengan begitu saja, tubuh itu jatuh linglung, dengan darah mengalir di luka tusukan.

Sebagian besar lainnya hanya bisa membelalakkan mata, saat salah satu pahlawan terkuat aliansi shinobi tumbang, menghantam tubuh seorang ninja pelarian di depannya.

.

.

.

Disclaimer Naruto belongs to Masashi Kishimoto

NATE ALERTS!

Abal, BL [Boys Love], failed genres, violence, bad behaviour, all the amateur warnings applied. Please note it! This is modified-canon of SASUNARU!

"..." Talk

'...' Mind.

[Pernahkah kau bertanya, adakah yang tulus menganggapmu? Adakah sosok itu?

Aku masih bertanya, ketika semua terlihat buram dimataku.] .Nate Xavela.

?

?

Semua mata tak bisa teralihkan melihat apa yang tengah terjadi dihadapan mereka. Tidak dengan semua kehancuran yang telah terjadi. Jalinan api hitam dan petir saling membelit membentuk pola tak terdefinisikan, bergerak lincah menghabisi semua musuh yang tersisa.

Bunyi ledakan beruntun menjadi pemecah malam yang sunyi. Bau hangus membakar indra penciuman, mengantarkan pada jajaran tubuh putih zetsu yang tergeletak di setiap sudut. Terbakar oleh api yang masih belum padam hingga saat ini.

Sudah selesai. Semua kembali berlalu cepat. Menampilkan fragmen-fragmen kilat, ketika semua terbakar hangus. Diiringi gelegar petir saling menyambar. Menyisakan seorang pemuda Uchiha yang terdiam kaku, menampakkan punggungnya, tertunduk kaku.

"Kau tahu, Madara... Uchiha itu bodoh. Kau dan aku."

Malam itu angin dingin berbisik lirih, menemani malam yang ditinggal sang rembulan. Pekat, dingin, gelap. Semua sudah selesai. Harusnya semua orang bersorak, berteriak penuh suka cita, saling memeluk teman seperjuangan mereka. Merayakan kemenangan mereka, menyerukan rasa haru kebahagiaan setelah semua yang mereka perjuangkan, berhasil mencapai tujuan kemenangan. Tapi tidak, seluruh shinobi hanya diam,

"Sasuke-kun..." Sakura tak kuasa untuk membendung gumaman lirihnya, ingin menggapai pemuda itu. Tangannya tak bisa berhenti bergetar, ia nyaris tak mengenali Sasuke yang berada di hadapannya. Ini bukan Sasuke yang ia kenal.

Sakura memang sebelumnya bertemu dengan Sasuke yang tak segan membunuhnya, siap menghunuskan kusanagi miliknya pada Sakura, sembari menyeringai angkuh. Bahkan tak peduli nyaris membunuh Karin, rekannya sendiri. Sasuke yang saat itu memang Sasuke yang tak melihat siapun selain dirinya. Membunuh siapapun yang menghalangi dan tak berguna bagi dirinya. Tapi Sakura saat itu setidaknya masih bisa melihat secercah cahaya milik Sasuke, menandakan dirinya masih sadar, masih tersisa rasa kemanusiaannya. Dan untuk kali ini, bias matanya mati, kosong tak bernyawa. Bergerak membabi buta menghancurkan apa yang ia anggap lawan. Tak ada suara keluar dari bibir tipis itu. Mengatup layaknya besi di timbun tanah.

Suara hantaman tak berhenti sejak beberapa waktu lalu, membentuk irama monoton yang terus berulang.

Bugh!

Pemuda itu tak mau berhenti. Menyisakan lubang besar di rongga dada musuh mereka yang sudah hancur tak bersisa. Ia hanya menunduk sambil terus menghantamkan kepalan tangannya. Tangannya memerah, antara hancur tapi masih tetap dipaksa untuk menghancurkan. Meremat kuat gumpalan merah yang ia tarik dari dalam tubuh itu. Tak tahu, Sasuke tak tahu apa yang ia lakukan. Ia hanya ingin mencabik tubuh itu hingga tak bersisa. Mana musuh kuat yang tadi melawannya? Kenapa ia tak bergerak sekarang?

Mengamati gumpalan merah yang seharusnya berdetak itu, namun sekarang hanya diam dalam genggamannya. Mengamatinya lalu ia lemparkan tak tentu arah. Api hitam menyambar, merebakkan bau hangus baru.

Kekkai pelindung yang tadinya membatasi pertarungan sudah menguap sejak tadi. Meninggalkan bekas melintang, tapi masih belum ada yang mendekat menuju pusat pertempuran itu sekalipun semua sudah selesai. Jalinan api hitam dan kilatan biru tak mengizinkan shinobi manapun untuk mendekat, sekalipun mereka kawan.

Sasuke terdiam beberapa detik, diambilnya kusanagi yang tergeletak tak jauh dari tempatnya berada. Menegakkan diri, memutar senjata miliknya sembari menghunuskan bilah tajam tersebut tak beraturan. Perut, dada, tangan, kaki. Bunyi daging teriris bergaung dengan bunyi tulang berderak.

Menusuknya secara membabi buta. Menyeringai melihat luka mengagumkan yang ia buat, napasnya teratur, seolah apa yang dilakukannya adalah hal biasa. Sedetik kemudian seringainya hilang, pikirannya terbagi tak menentu. Ada rasa asing yang meminta di perhatikan, rasa perih yang terus mengerogotinya. Padahal tak ada yang menyentuhnya. Kenapa masih ada rasa perih. Dihujamkannya terus kusanagi itu pada seonggok daging tak berbentuk di hadapannya. Meluapkan segala rasa nyeri, yang entah mengapa seolah terus menusuk melewati rusuknya.

Darah berceceran, memercik telak pada tubuh Sasuke. Ia masih diam, tak berniat bersuara sedikitpun. Ia hanya terus menikam, menusuk tanpa gairah.

Kakinya melangkah menjauh dari seonggok daging dihadapannya, ketika sudah tak mengerti apa lagi yang harus ia lakukan pada gumpalan tak berbentuk di depannya. Ia lalu berjalan terhuyung menuju pendar keunguan yang tadinya berbentuk Susano'o pemanah. Bentuknya sekarang tak lebih dari gumpalan cakra ungu di selimuti api hitam. Bergerak kepusat dimana pemuda pirang terbaring lemah sendiri. Sasuke mendekat, menatapi wajah itu.

"Naruto.." Bisiknya parau, seakan ada yang mengambil suaranya.

Kelopak matanya menutup sekilas menahan semua rasa sakit disekujur tubuhnya yang mulai terasa mencabik, ia bisa merasakan rusuknya yang patah, merasakan perih di buku-buku jarinya, merasakan semua luka ditubuhnya. Yang terakhir adalah terasa sesak dan perih dalam tubuhnya, yang bahkan Sasuke sendiri tak tahu dimana letak luka fisiknya. Ketika kelopak mata pucat itu kembali terbuka, iris sekelam malam menyalami, menghapus jejak sharingan dan rinnegan yang sedari tadi menguasainya. Membaringkan tubuh didekat pemuda pirang itu. Matanya tak pernah lepas dari wajah damai di sebelahnya.

"Semuanya sudah selesai, Dobe?" Sasuke bertanya. 'Apa kita sudah bisa pulang?'

Sasuke mengehela napas berat, ketika seseorang yang ia ajak berbicara tak menjawab. Matanya terasa panas, ia hanya bisa mengerjap ketika butiran hangat turun dari pelupuk matanya. Bercampur dengan cairan amis yang juga ikut keluar. Ia tak tahu apa yang akan terjadi. Bibirnya sedari tadi hanya mengucap kata yang sama tanpa suara. Menggumamkan nama seseorang di dekatnya yang tak mau menoleh bahkan menanggapi.

"Kau ingin balas dendam, huh? Kau mau pergi juga seperti semua orang? Sama seperti Itachi?" Sasuke mendecih, mengumpat, melampiaskan apapun dibenaknya.

"…"

Harusnya ia bisa melawan Madara sendiri, tanpa bantuan si idiot di depannya. Seharusnya ia bisa menyelesaikan pertarungan ini sendiri sebelum Naruto dengan bodohnya langsung menerobos. Sasuke mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih. Sekarang apa?

Sasuke menghembuskan napas panjang, lelah. Matanya berat, tapi ia memcoba tetap terjaga. Sekedar untuk melihat sesosok pemuda pirang di sampingnya, berharap ia tak akan kemana-mana. Berharap pemuda pirang itu akan terus disana, tak akan meninggalkannya. Gumpalan cakra ungu yang melindungi Naruto menguap tak bersisa, diikuti dengan api yang padam.

Saat itulah Sasuke bisa mendengar suara langkah tergesa yang mengarah padanya dan Naruto. Sakura berlari paling depan. Diikuti dengan ninja medis dan shinobi Konoha. Mendekat kearah dua pemuda yang terbaring di tengah medan pertempuran, dengan tubuh penuh luka.

"Sasuke-kun..." Panggil Sakura pelan, ketika ia sampai di depan dua teman timnya.

Suara lemah tak berintonasi, menyapa pendengaran Sakura. "Naruto terluka."

Sakura terpaku menatap Sasuke yang tak menolehkan wajah barang semilipun. Meringis ketika melihat iris kelam milik Sasuke tak terbias cahaya sedikitpun, mati, tatapannya kosong, seolah pemiliknya entah berada dimana. Sakura ingin menolong Sasuke, tapi ada seseorang yang lebih membutuhkan pertolongannya "Hmm.." Kau juga

Sakura mendekat, memusatkan cakra penyembuhan pada telapak tangannya. Bibirnya tak berhenti ia gigit, ketika mendapati detak jantung itu terlalu lemah nyaris tak bertahan. "Naruto.." Bisiknya.

"Kapan dia akan bangun?"

Sakura menoleh sejenak, menutup mulutnya erat tak mau memberi harapan apapun, karena sejujurnya ia tahu, Sasuke tak membutuhkan jawabannya yang tak pasti.

Sakura tak sendirian, Tsunade datang, menyalurkan semua kekuatanya pada pemuda pirang tersebut. Mematikan semua indranya, tak mau menyadari ketika ketakutannya akan kehilangan sosok ceria itu membuncah. "Bocah idiot, tak pandai membaca situasi. Bisa-bisanya kau berlari menolong Uchiha keparat ini."

"Hn"

"Awas kau, Naruto." Tsunade terus memaki pemuda itu.

Sasuke akan menggumam menanggapi, menggantikan Naruto yang hanya diam.

Untuk malam itu semua melihatnya. Ketika Naruto diambang antara hidup dan mati. Berjuang hanya untuk menarik napas.

Dan Sasuke disana, mengenggam erat jemari Naruto. Memejamkan mata. Untuk pertama kalinya Sasuke merendahkan dirinya, seraya berdoa, mengharap sebuah pengasihan. Untuk kali ini saja, ia ingin percaya.

.

.

.Nate Xavela.

.

.

Suasana malam itu tak lebih baik. Sebagian dari para aliasi shinobi, mengukuhkan diri untuk tetap berdiri di tengah medan pertempuran, dimana dua pahlawan perang mereka terbaring. Mereka tak memedulikan luka mereka sendiri, membiarkan nyaris seluruh ninja medis untuk memulihkan pemuda pirang, yang sama sekali tak menunjukkan respon. Ia hanya terbaring pucat dibawah pertolongan Sakura dan Tsunade-ninja medis terkuat yang dimiliki aliansi shinobi.

Jaket orangenya dibuka memperlihatkan segel bijuu yang memerah seolah terbakar. Menorehkan luka yang seolah timbul berpola spiral nyaris acak. Tak ada respon berarti darinya.

Sebagian shinobi bergerak semampu mereka, untuk membantu apapun yang mereka bisa. Membuat posko darurat yang nantinya akan dijadikan ruangan khusus untuk Naruto yang terluka parah.

Memang apa lagi yang bisa mereka lakukan.

Sesekali Sakura melirikkan matanya pada pemuda raven yang berada tak jauh dihadapannya. Seorang yang sama sekali tak ingin disentuh siapapun. Ia ingin menyembuhkan luka di tubuh pemuda itu, memulihkannya. Tapi Naruto jauh lebih penting saat ini.

"Apa Naruto sudah bangun?" Tanya Sasuke. Kelopak matanya terpejam, tak menoleh semilipun.

"Kau juga butuh pertolongan, Sasuke." Ujar Tsuunade mengalihkan, sebisa mungkin terdengar biasa, sekalipun ia mulai terengah.

Sasuke menggeleng. Sudah sekian lama telinganya mendengar perkataan yang sama. Selama Naruto belum sadar atau setidaknya pulih, ia akan tetap diam disini menunggu. Menanggung semua rasa sakit, yang tak seberapa dibanding seorang di sebelahnya. Atau memang semua indranya telah mati, hanya untuk merasakan rasa sakit fisik. Manik matanya menerawang langit yang berkabut, tak menyisakan penerangan manis dari sang penghias malam, hanya ada bulan yang tampak.

Sakura hanya mampu memandangi Sasuke-pemuda yang begitu ia cintai- yang nyatanya terasa begitu jauh, walau sebenarnya hanya dipisahkan oleh jarak yang tak seberapa. Yang Sakura sekarang lihat bukan lagi Sasuke yang angkuh.

"Naruto akan segera bangun." Ujar Sakura sedikit menenangkan

Jemari tangan Sasuke mengeratkan genggaman pada jemari yang terasa dingin itu. Terus memfokuskan diri merasakan kalau Naruto masih ada disisinya. Mencari-cari jejak kehidupan disana.

"Ya." Balas Sasuke. Ia juga berharap begitu. Tapi rasanya waktu menghianati mereka.

"Setelah ini semua selesai, aku akan membuat perhitungan dengan kalian berdua. Khususnya kau Sasuke." Tsunade menimpali, meskipun ia tau tak akan ada balasan yang berarti.

Dipandanginya pemuda pirang yang masih ia obati, mengamati wajahnya diam tenang tanpa cengiran menyebalkan itu. Naruto sudah dewasa, menampilakan garis tegas diwajahnya. Tsunade tersenyum miris, bocah kesayagannya yang menyebalkan. Bersanding dengan bocah tampan yang jauh lebih menyebalkan di sebelahnya.

"Nee, Naruto. Kau tak mau bangun? Rival kesayanganmu hanya diam saja sedari tadi di sebelahmu. Kau hanya butuh bangun dan menyeretnya ke Konoha, tanpa perlu berlari mengejar." Cibir Tsunade.

"…"

Sakura nyaris tertawa mendengar sang hokage yang frustasi. Sungguh ajaib mereka bisa dalam satu tempat bersama tanpa baku hantam disini dengan adanya hokage, Naruto dan Sasuke. "Ba-kkka. Cepat bangun."

Suara rintihan lirih menarik perhatian Sasuke. Diikuti dengan deru napas putus-putus disebelahnya. Sasuke menoleh, mendapati Naruto yang bergerak gelisah. Ia bangkit mendekatkan diri, menatap Naruto yang bergetar, ada setetes air mata keluar dari kelopak yang menyembunyikan manik sappire itu.

"Bertahanlah sebentar, Naruto." Tsunade semakin meperkuat, mengalirkan cakra penyembuhannya. Berusaha memperbaiki sistem cakra Naruto yang seolah terus terbuka, sejak kyuubi dikeluarkan. Seorang ninja tak akan bisa bertahan jika sistem cakranya rusak, lebih buruk dari kehabisan darah.

Napas itu terus tersenggal, Sasuke measakan jemari Naruto meremas keras.

Tidak baik.. Tidak baik

"Penyegelan"

Tsunade menoleh kearah Sasuke, ketika mendengar kata itu keluar dari bibir tipis Sasuke. Mendapati bahwa Sasuke tak mengalihkan pandangan kosongnya "Apa maksudmu?" Meskipun Tsunade tau apa maksudnya, ia masih tak percaya dengan pendengarannya.

Sasuke tak menyahuti lebih lanjut. Yang ada hanya mata hitam kelam itu yang berubah, mengaktifkan mangekyou sharingannya kembali.

"Sasuke!" Sakura terpekik ketika melihatnya. "Kau tak benar-benar bermaksud menyegel kyuubi kembali pada Naruto kan?!"

"Jangan berani-beraninya kau berbuat sembarangan, Uchiha!" Tsunade mengeram.

"Kenapa tidak?" Balasnya. Wajahnya menoleh, untuk pertama kalinya meninggalkan pandangannya dari sang jinchuriki kyuubi. Mengarahkan pandangan datarnya pada seseorang yang berada tak jauh dibelakangnya. "Bukan begitu, Yondaime Hokage?"

Onyx itu bertumbukan dengan sapphire biru diantara hitam bola mata sang yondaime. Menatap manik bersinar yang begitu mirip dengan milik Naruto.

Keempat hokage terdahulu bergerak maju. Hokage keempat bersimpuh paling depan memandangi anak semata wayangnya. Mengelus surai pirang putra semata wayangnya yang mirip dengan miliknya. Memerhatikan bagaimana bibir pucat yang biasanya tersenyum itu melengkung tak teralakkan. "Naruto.."

"Sementara ini, kurasa kita bisa menyegel sebagian cakra kyuubi pada diriku untuk Naruto." Ujarnya tersenyum, lalu menoleh pada Sasuke, masih dengan senyumnya.

"Dia masih belum stabil, Minato."

"Aku percaya pada Sasuke-kun" Ucap Minato.

Sasuke hanya melirikkan matanya. Ketika terlalu lama aliran cakra Naruto akan semakin tak beraturan menghancurkan tubuhnya sendiri. Naruto masih bisa bertahan sampai esok hari pun masih diragukan, semuanya sudah kacau. Sasuke mengepalkan kedua telapak tangannya.

Penyegelan kembali. Dengan kondisi Naruto yang sekarang yang tak berdaya pun tak memberikan pilihan lain. "Naruto bukan orang yang lemah." Bisik Sasuke lirih, meyakinkan dirinya sendiri. Batinnya menjerit, mengalkulasi semua keburukan. Tapi semua itu ia tepis.

Dalam sekali tarikan napas, cakra biru berpijar mengelilingi tubuhnya.

Jangan berani-beraninya kau bertingkah lemah dan pergi, Dobe.

"JANGAN MACAM-MACAM KAU UCHIHA! NARUTO SEDANG SEKARAT" Tsunade berteriak frustasi. Ketika melihat semua perubahan yang dilakukan Sasuke.

Sasuke menyeringai, menyambut gelagar dari sang hokage, "Siapa yang peduli kalau si bodoh ini sekarat?"

"BEDEBAH!"

Dan tanpa persetujuan siapapun, Sasuke membuat persiapan penyegelan. Tanah pijakan di sekitarnya berpendar memunculkan lingkaran peyegelan dengan kanji melingkari si pirang dan dirinya. Membuat jarak dengan semua orang, termasuk para ninja medis.

"Tak apa. Ini akan selesai dengan cepat." Ujar Sasuke kalem pada pemuda yang terbaring tak bergerak. Mendekat ke arah mantan jinchuuriki tersebut. Mulutnya boleh hanya mengucap sebuah kalimat, namun benaknya akan terus memanggil satu nama, berharap sang pemilik nama akan bangun dan tertawa dengan bodohnya.

Karena sejujurnya Sasuke tak peduli lagi apapun kali ini. Cuma satu harapannya, tak ada lagi yang meninggalkannya. Tidak dengan seorang yang begitu teramat penting baginya, yang tak pernah sedikitpun ia lirik selama ini. Seorang yang baru ia sadari, selalu ada.

Semua orang mundur, ketika api amaterasu ikut muncul melingkari lingkaran penyegelan, kembali memberi penghalang. Raut muka Sasuke mengeras, ini semua sama seperti beberapa waktu lalu, seolah semua kembali terulang pada detik-detik pertarungan hebat. Memunculkan kembali sosok berdarah dingin dari pewaris tunggal clan Uchiha.

Sasuke menggigit ibu jarinya sehingga mengeluarkan darah pekat dan membuat segel penyegelan. Menempelkannya pada segel bijuu Naruto. Sasuke tak peduli.

Tsunade tak punya pilihan lain selain mengikuti alur yang Sasuke buat. "SEMUA PENYEGEL BERSIAP! KITA AKAN MULAI PENYEGELAN BIJUU PADA JINCHURIKI SEKARANG."

Para Hokage membentuk pola heksagonal mengelilingi Naruto. Ikut mangambil bagian dalam proses penyegelan jinchuriki. Setidaknya mereka akan membantu dan menstabilkan peyegelan ini. Karena mereka tahu cakra Naruto tak cukup kuat menahan cakra kyuubi.

Detik berikutnya hanya diisi oleh teriakan kesakitan yang menggema membelah gelapnya malam. Sasuke mematikan semua indranya, menulikan telingnya, membisikkan pada benaknya sendiri bahwa ia tak mendengar jeritan apapun. Tak melihat rontaan kesakitan apapun, atau bahkan mematikan rasa simpatinya terhadap semua bentuk penyiksaan yang telah ia lakukan. Biarlah ini segera berlalu, dan ketika semua ini usai ia akan patuh pada apapun itu.

.

.

Tubuh Naruto melengkung dengan kepala mendongak keatas. Rasa sakit mengalir menumbuk seluruh tubuhnya. Diantara deru napas berat sesekali erangan sakit akan keluar dari bibir itu. Rasanya lebih sakit dari hanya sekedar dibelah secara perlahan. Panas dan menyakitkan.

Sasuke merendahkan tubuhnya, mengecup kening Naruto. Berharap ia dapat menepis rasa sakit itu, "Maaf,"

Pola segel itu bergerak, makin menjalar. Berwarna kemerahan membakar diatas kulit tan Naruto. Ini tahap akhirnya, Sasuke ikut mengalir kan cakra miliknya dalam segel itu, sebelum mengunci rapat segel bijuu. Puncaknya sang jinchuriki itu tak mempu lagi menahan,

AAAAARGGGGHHHHHH!

Teriakan itu menggema memakakkan telinga, jeritan paling menyakitkan yang membelah malam. Sasuke tak mengubah posisinya, masih mengecup kening itu dengan mata terpejam. Menahan semua rontaan Naruto dengan tubuhnya. Sementara Naruto tak berhenti menjerit.

Taringnya memanjang, dengan tubuh meronta menyalurkan rasa sakit yang ia rasa,

Malam itu Naruto menangis dalam tidurnya. Memohon pada siapapun untuk menghentikan semua rasa sakit itu.

"Maafkan aku"

Hanya ini yang bisa Sasuke lakukan. Meskipun ia harus kembali menyakiti Naruto.

Meruntuki dirinya sendiri yang tak pernah bisa berbuat lebih baik dari menyiksa seseorang yang begitu penting bagi dirinya. Selalu seperti itu, Sasuke sadar, ia lah sumber sakit bagi Naruto.

Tubuh Naruto melemas, teriakannya berhenti tak berapa lama kemudian.

Sasuke tak lagi mampu menopang tubuhnya sendiri, menimpa sang sahabat. Iris onyx itu berusaha menatap Naruto yang masih terpejam. Tangannya mengusap air mata si pirang. Selesai, semuanya selesai.

Sasuke tak memiliki apa-apa lagi selain pasrah. Mencari tanda bahwa sang jinchuriki masih bertahan. Kesadarannya mulai menguap, hingga akhirnya ia jatuh tak sadarkan diri.

.

.

Puing-puing dan reruntuhan bangunan menjadi sebuah pemandangan yang normal, setidaknya lebih normal ketimbang medan perang shinobi-yang jauh dari kata hancur. Sudah seminggu semenjak perang dunia shinobi berakhir. Mereka kembali ke desa masing-masing. Mulai menata kembali apa yang tersisa. Menghapus bekas peperangan.

Para lelaki akan membenahi kota, sementara perempuan dan medis berusaha menyembuhkan siapa saja yang terluka. Rumah sakit menjadi tempat yang paling padat saat ini. Pemuda raven dengan hakama menatap lekat dari balik kaca sebuah kamar, menatap lurus pada pemuda pirang di dalam nya.

Sudah seminggu dan Naruto masih diam disana, dikelilingi berbagi alam medis di tubuhnya. Sasuke sempat tak sadarkan diri hingga tiga hari, mendapati dirinya juga terbaring, tapi sendirian. Hal pertama yang ada di pikiran Sasuke adalah jeritan Naruto. Membawanya berlari mencari si pirang, mengusir semua orang yang menghalangi jalannya.

Semua nya masih membekas, menimbulkan geteran was-was memenuhi batinnya.

Dan disinilah ia setiap harinya semenjak saat itu. Memandang dari balik kaca.

"Sasuke-kun.." Sebuah suara memanggilnya.

Meliriknya sekilas, mendapati Hyuuga Hinata berdiri tak jauh darinya.

"K-kau.. Ingin men..jenguk, Naruto-kun?" Ucap gadis itu pelan. "M-masuklah, Sasuke."

"Kapan dia akan bangun?" Tanyanya tak mengindahkan ucapan Hinata sebelumnya.

Hinata ikut memandang Naruto. Ia tahu Sasuke selama ini selalu menunggu Naruto, ia pun begitu. Sasuke tak banyak bicara selama ini, hanya diam menatap datar pada satu titik, Naruto. Tanpa masuk kedalam, hanya di luar memandang sang jinchuriki seolah ia tak berani menyentuh pemuda itu.

Hinata paham, bahkan semua penduduk desa juga tahu. Sasuke menyayangi Naruto lebih dari apapun, meski tak terucap. Mereka semua melihat disaat-saat terakhir, dimana Sasuke mengecup dalam si pirang yang kesakitan akibat penyegelan bijuu. Tak ada yang menyangkal lagi. Mereka melihat rasa sakit Sasuke untuk Naruto.

"Aku.. Tak tahu. Sistem tubuhnya masih kacau, Sasuke."

"Hn,"

"Kau mau masuk?"

Dan untuk pertama kalinya selama empat hari ini, Sasuke mengganguk "Ya,"

Hinata tersenyum manis, "Aku.. Akan memeriksa Naruto-kun. Setelah itu Sasuke-kun bisa berlama-lama dengan Naruto-kun."

Hinata bergegas memeriksa kondisi Naruto. Meninggalkan Sasuke sendiri untuk pertama kalinya menjenguk langsung Naruto. Setidaknya ini yang bisa Hinata lakukan.

Sasuke masih diam menjaga jarak, sekalipun Hinata sudah keluar sedari tadi. Tangannya mengepal erat. Memandangi kabel-kabel yang melekat di balik baju itu. Napas Naruto yang tenang, dan mata terpejam.

Sebenarnya berhasilkah ia menyelamatkan Naruto? Sasuke masih membatin. Harusnya tak memakan waktu selama ini.

Setelah penyegelan berhasil jinchuriki akan langsung tersadar, karena selnya direparasi oleh cakra bijuu, atau paling tidak membutuhkan waktu semalam. Sedangkan Naruto tak bergerak sedikitpun meski ini sudah seminggu. Kakinya melangkah mendekati Naruto. Memandangi si pirang dari dekat. "Kau benar-benar balas dendam padaku? Berniat meninggalkanku?" Desisnya pelan.

Tak mengharapkan jawaban keluar, karena Sasuke juga tak ingin pertanyaan ituterjawab dengan jawaban yang tak diinginkannya.

Sasuke membuang napasnya kasar, kembali menginggat bagaimana Naruto jatuh tak berdaya. Menghilangkan semua sinar yang ia punya hanya demi menjadi tameng untuknya. "Bodoh,"

Ia meraih jemari Naruto yang bebas, menggengamnya. Jemari itu cukup dingin. Berbeda dengan apa yang ia ingat. Sasuke naik keatas ranjang Naruto, membuat sedikit jarak agar mengusik atau menyakiti Naruto. Ia hanya ingin berada dekat, setidaknya merasakan Naruto masih disini, di sampingnya.

Cakra Naruto yang masih lemah, Sasuke bisa merasakannya. "Aku sudah pulang, Dobe. Kau harusnya bangun."

Seolah ingin membalas, jemari tan itu bergerak pelan. Balik menggenggam meski lemah.

Malam itu Sasuke diam disana. Menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Naruto. Menyesap dalam-dalam wangi tubuh Naruto. Menyalurkan kehangatan yang ia punya untuk Naruto.

Hari itu adalah hari terakhir Sasuke terlihat di Konoha. Karena setelah malam itu tak ada warga yang melihat ninja pelarian itu lagi. Sasuke menghilang kembali, entah kemana. Tapi satu yang pasti, ia selalu kembali pulang, pada Naruto.

.

.

.

TBC

Choto matte. Tunggu sebentar lagi, ini semua akan berakhir

Masih adakah yang berharap pada SasuNaru? I do.

[5310244]