Shizuo Heiwajima adalah binatang dalam bentuk seorang manusia, monster penyakitan, penyenang kekerasan yang bertingkah seperti seorang warga beradab diantara hutan gedung yang disebut kota ini... ikebukuro.
Adalah bagaimana Izaya selalu menyebutnya. Bagaimana si kutu selalu menyebut-dia.
Dan Shizuo tau orang-orang yang ia barusan hajar—kiriman Izaya pastinya—yang tersungkur tidak-sadarkan diri di tanah itu, pasti lebih memercayai bahwa ia monster penyakitan lebih dari apapun sekarang. Monster penyuka kekerasan.
Yah, bukan berarti ia peduli apa yang mereka pikirkan.
Kepalanya terlalu pusing malam ini untuk bertingkah defensive; kemungkinan hasil dari sample sushi yang ia makan, Simon membagikannya pagi ini, ah pasti itu.. Shizuo tau si bangsat rusia itu diam-diam ingin membunuhnya dengan keji.
"Haaa.." Shizuo menghembuskan asap rokok dari paru-parunya, kertas kanker ini adalah satu-satunya benda yang bisa menenangkan pikirannya.
"Ah, kepalaku sakit.." Bisa jadi karena ia membenturkan kepala terlalu keras dengan salah satu pria besar yang ia hajar tadi, dan mungkin Simon tidak bersalah sama sekali..
Shizuo ingin lebih percaya bahwa Simon meracuninya daripada kemungkinan pertama, ia ingin setidaknya merasa apa yang membawa sakit pada kepalanya bukan hasil dari ulahnya sendiri, ia ingin memberitahu bahwa dia tidak bersalah saat dia mengeluh kepada Shinra tentang kepalanya.
Tunggu dulu, apa Shinra masih terbangun jam segini?
Shizuo mendongak ke atas langit, jamnya hilang terlepas saat dia menonjok orang, kemungkinan besar sekarang lebih dari jam 8 malam..
Dan saat itulah dimana dia barusan sadar langit mulai mendung, dan bintang mulai tertutup awan.
Titik-titik air mulai membasahi mukanya saat bata pinjakan taman yang ia tinjaki saat itu mulai terguyur air, lalu, kacamata Shizuo tiba-tiba terlepas dengan suara 'pluk'; gagangnya lepas dengan anggun.
Shizuo terdiam selagi hujan menghujam matanya.
Ia menyipitkan alis-alisnya.
Cocok.
Cocok sekali.
Apa yang lebih sempurna dari seorang Shizuo Heiwajima yang terdiam berdiri di tengah taman Ikebukuro pada malam hari, darah kering pada tangan-tangannya, orang-orang tidak sadarkan diri tergeletak di sekitar dia, dan penampilan preman dengan kemeja bolong dan celana robek, kehujanan?
Jika ada orang yang cukup berani untuk melakukannya, pasti dia sudah ditertawai saat ini. Tetapi Shizuo tau apa yang terjadi adalah kebalikannya; ikebukuro bukanlah kota yang cukup ramai untuk terasa begitu meriah saat malam senin, tetapi kota adalah kota, seharusnya taman malam ini lebih penuh daripada ini..
Ya, dia tau apa yang sedang terjadi.. Orang-orang sekitar sembunyi, menjauh, bertingkah tidak peduli dengan apa yang 5 menit barusan ia lakukan, mereka sudah terbiasa, tapi mereka takut.
Mereka cukup sadar dan tahu bahwa mendekati Shizuo Heiwajima berarti kehilangan gigi, sampai terancam koma, dan lebih buruk lagi, kehilangan nyawa.
Shizuo merasakan bisikan di belakangnya, mata disekitar dia, dan sindiran pedas berasal dari pejalan kaki yang melewati tempat kejadian perkara. Dia peka terhadap hal semacam itu, karena dia sangat ingat rutinitas yang ia jalani hampir seminggu dua kali akhir-akhir ini, dia ingat menerima begitu banyak hujatan lebih daripada ini.
Dan yang dia lakukan pada akhirnya selalu sama; dia mengambil kacamatanya yang terjatuh—memasukannya untuk nanti ia perbaiki—mengelap darah yang bisa ia bersihkan, membuang rokoknya, untuk akhirnya diinjak oleh sepatu hitamnya, lalu berlalu begitu saja dengan tangan terkepal di dalam kantung celananya, dan kepalanya yang tertunduk.
Lebih baik seperti ini, adalah apa yang selalu ia ulangi didalam kepalanya saat dia 'kabur' dari tempat yang dia sudah 'nodai' itu.
Lebih baik seperti ini karena dia tidak memiliki cukup kepekaan, dan stamina, untuk menjelaskan dan berduel ulang dengan polisi yang akan datang menginspeksi kejadian nanti, Shizuo yakin sirine akan segera datang, dan dia akan ada dirumah saat mereka mencoba untuk meneliti apa yang monster ikebukuro itu lakukan kali ini.
Selain itu, dia sangat ingin meminum susu vanilla hangat malam ini, entah angin darimana, tapi lidahnya meneriaki hal yang sama, kepalanya juga mungkin bisa lebih baik dengan bantuan balutan perban dan es..
Ah, dia ingin cepat pulang.
