HARD WARNING:

Pair: Uchiha Sasuke x Hyuuga Hinata

Rate: T

Naruto milik Masashi Kishimoto-sensei dan FF ini punya saya ^o^v

Gaje, abal, ide pasaran, absurd, typo, EYD tidak sesuai, alur aneh, dan yang pasti ini SasuHina ngehehe jadi dimohon untuk tidak ricuh ._.

Dan sedikit pemberitahuan serta cuap cuap dari Jishin, dilihat dari review chap 1 kemarin, ada yg bilang SasuSaku disini canon, mohon maaf minna itu hanya chapter awal, jadi sebenarnya dichapter tersebut saya hanya menjelaskan awal mula konflik dari fict ini dan sepertinya banyak yang tidak mengerti ya? Gomen._. saya memang tidak begitu berpengalaman bikin tebak tebakan/? *doeng* tapi sekali lagi saya tegaskan ini SasuHina, hehe Sakura disana hanya pemain tambahan untuk mempertegas konflik yang terjadi. Dan soal judul fict saya, dengan genre family, ini akan menjelaskan kehidupan Sasuke dan Hinata bersama dengan keluarganya. Begitu, ya intinya itu saja dulu._.

Happy reading minna :3

.

.

.

.


.

.

.

Waktu memang cepat berlalu bagaikan kedipan mata, tidak terasa sudah empat belas tahun berlalu. Selama itu, Hinata menata kehidupan barunya di New York bersama puteranya. Ia sangat berterimakasih kepada Ino dan Sai yang sudah banyak membantu hidupnya selama ini. Dimulai dari meminjamkan modal untuk merintis usaha Kedai Es Krim kecil-kecilan milik Hinata, yang sekarang sudah membuka puluhan cabang diberbagai negara. Sampai meminjamkan apartemen milik Sai yang ada diNew York untuk ditinggali Hinata dan anaknya.

Sekarang, hutang modal untuk usaha Hinata sudah dibayar lunas dengan tambahan sewa apartemen kepada Sai yang sesungguhnya ditolak tegas oleh Sai maupun Ino. Sudah saatnya, ia kembali ke tanah kelahirannya, kembali ke Jepang, kembali ke Konoha, kembali ke kehidupan lamanya. Ia sudah sangat merindukan Jepang. Memang selama diNew York, tak pernah sekalipun Hinata bertandang ke Jepang, hanya keluarga kecil Ino yang sering berkunjung ke NY untuk berlibur bersama Hinata tentunya.

Maka dari itu, saat hari ini ia akan kembali tinggal diJepang, Hinata merasa gugup sekaligus bahagia luar biasa.

"Naruto-kun." Hinata melambaikan tangannya kearah seorang pria berambut blonde berwarna kuning cerah, ah tidak bukan seorang tapi dua orang. Ya, itu Uzumaki Naruto dan sang putra, Uzumaki Boruto.

"Ah, Hinata-chaaan, fyuh akhirnya ketemu juga. Bandara ini ramai sekali," Naruto menghela nafas lega setelah bertemu dengan Hinata. Suasana bandara saat itu memang sedang ramai.

"Good morning, teme, aunty Hina." Sapa Boruto cerah sembari tersenyum lima jari khas Ayahnya. Hinata tersenyum sedangkan remaja tamban berambut raven dan mata onyx disamping Hinata hanya menatap Boruto datar.

"Morning too, Boruto-kun."

"Yaya, selamat pagi tukang terlambat. Baka dobe, Boruto." Akhirnya setelah sedari tadi berdiam diri, anak laki-laki tampan disamping Hinata itu menyahut juga. Membuat Naruto dan Hinata terkekeh kecil mendengar panggilan sayang dari kedua anak lelaki tersebut.

Dimulailah perdebatan tidak pentingantara kedua anak lelaki tersebut yang memang tidak pernah akur setiap kali bertemu, sampai sebuah suara pengumuman keberangkatan menuju Jepang terdengar yang melerai perdebatan tidak penting tersebut.

Lihatlah Teme, mereka sangat mirip dengan kita…


.

.

.

Konoha Airport pukul 19.50

Ino, Sai, dan Inojin –anak mereka- menunggu dengan antusias. Sesuai janjinya pada Hinata, Ino akan menjemput Hinata dan putranya dibandara. Pesawat yang ditumpangi Hinata mendapatkan sedikit masalah sehingga ia baru sampai dibandara Konoha saat malam hari.

"Onii-saaaaaan." Inojin berlari lalu langsung saja memeluk bocah laki-laki berambut raven yang baru saja keluar. Ino dan Sai ikut menghampiri Hinata sembari tersenyum. Setelah sampai dihadapan Hinata, Ino langsung saja memeluk Hinata dengan rindu.

"Hey mayat hidup, bisakah kau melepaskan pelukanmu? Kau mau membuat ku mati ya?" Inojin merengut sembari melepaskan pelukannya pada sang "Onii-san" nya.

"Dasar pantat ayam! Begitukah caramu memperlakukan adikmu yang tampan ini, hah? Kau memang tak pernah berubah, selalu menyebalkan, Sanada-nii." Sedangkan anak lelaki yang dipanggil Sanada itu hanya menaikan sebelah alisnya kepada Inojin.

"Tampan katamu? Keh, berkacalah mumi! Kau bahkan lebih cantik dari Aunty Ino." Katanya pedas.

"Apa katamu? Dasar pantat ayam!"

"Mayat hidup!"

"Muka tembok!"

"Lelaki cantik!"

"Manusia tidak punya gairah hidup!"

"Kulit pucat!" Inojin dan Sanada saling menatap dengan aura membunuh. Begitulah kalau keduanya bertemu, selalu saja ada hal yang tidak penting untuk diperdebatkan. Seperti siapa yang lebih tampan, dan lainnya

"Oi,oi, sudahlah. Kalian berdua ini ribut sekali, jelas-jelas aku yang lebih tampan." Boruto menghampiri keduanya sembari tersenyum cerah.

"Urusai, Boruto no baka!" Desis keduanya bersamaan, Boru mengerjapkan matanya pelan lalu tertawa melihat kekompakan Inojin dan Sanada. Sedangkan keempat orang dewasa yang berdiri tak jauh dari ketiga bocah lelaki itupun ikut tertawa. Mereka sudah terbiasa dengan pemandangan seperti ini. Boruto adalah sahabat Sanada diNew York, dan kalau Inojin berkunjung kesana maka pemandangan ini sering terjadi.

"Kalian ini, selalu seperti itu. Baiklah, Bolt, kita harus segera pergi. Kaa-chan mu pasti sudah menunggu kita." Naruto menghampiri putranya sembari mengacak pelan rambut ketiga anak lelaki itu.

"Ah itu benar. Aku sudah merindukan masakan Kaa-chan, ayo Tou-chan."

"Baiklah. Hinata, Sai, Ino, aku pergi dulu ya. Dan kalian, Sanada-kun, Inojin-kun lanjutkan saja bertengkarnya dirumah." Naruto terkekeh pelan sembari menggandeng tangan Boruto meninggalkan kelima orang tersebut.

"Arigatou, Naruto-kun. Hati-hati dan sampaikan salamku untuk Shion-chan." Hinata melambaikan tangannya sambil tersenyum manis. Naruto adalah sahabat yang baik, selama diNY, keluarga Naruto lah yang selalu membantu Hinata dan Sanada. Istri Naruto, Uzumaki Shion juga adalah wanita yang sangat baik dan cantik. Shion sering membantu Hinata diKedai nya sambil menunggu Boruto pulang dari sekolahnya.

"Andai saja Naruto tidak punya Shion, mungkin aku akan menyuruhmu menikahinya, Hina. Dia sangat baik padamu dan juga Sanada-kun." Kata Ino tulus, Ino dapat melihat kebaikan Naruto hanya dari tatapan matanya yang hangat, senyum cerahnya yang tulus, serta keceriaan pria Uzumaki tersebut.

"Kau bergurau, Ino-chan. Naruto-kun sudah punya Shion-chan dan Boruto-kun. Mereka keluarga yang bahagia, aku sebagai sahabat mereka pun merasa bahagia melihatnya."

"Baiklah ladies, saatnya kita pulang 'kan?" Sai mengedipkan sebelah matanya kepada Hinata dan Ino, yang dijawab kekehan Hinata dan anggukan Ino.


.

.

.

.

Dilain tempat…

Seorang gadis berambut Hitam legam sebahu, menopang dagunya dikedua tangannya. Pikirannya melayang entah kemana, bahkan kehadiran Ayahnya pun tidak ia hiraukan. Ia masih saja terus memikirkan sebuah kalimat yang menganggu pikirannya.

"Apa yang kau pikirkan, hm?" Sasuke mengelus surai hitam milik anak gadisnya dengan lembut, ia menatap putrinya tersebut dengan tatapan sayang.

"Tidak ada. Hanya saja Tou-san, memangnya besok Tou-san tidak ada pekerjaan? Aku bisa ke sekolah baruku sendiri, aku tidak ingin merepotkan Tou-san." Sarada, nama gadis itu menatap Sasuke dengan pandangan bertanya, pasalnya baru kali ini Ayahnya mau repot-repot menemani Sarada untuk mengurus kepindahannya ke Sekolah barunya. Biasanya, sang Ayah hanya akan berkutat dengan puluhan dokumen penting seharga milyaran dikantornya.

"Tidak, Tou-san sudah menyerahkan sebagian pekerjaan Tou-san pada Kakashi. Jadi besok pagi, Tou-san bisa menemanimu ke sekolah barumu, Sarada. Ya mungkin memang tidak akan lama, paling tidak sampai jam makan siang, Tou-san bisa menemanimu." Sasuke tersenyum tipis sembari mengelus pipi Sarada pelan, sedangkan Sarada hanya membulatkan mulutnya sambil mengangguk kecil.

"Arigatou, Tou-san. Aku sangat menyayangi Tou-san." Sarada memeluk Sasuke erat, menghirup aroma musk yang menguar. Harum tubuh Ayahnya adalah obat penenang. Sarada selalu tenang hanya dengan menghirup aroma tersebut, sedangkan Sasuke hanya tersenyum tipis sambil balas memeluk Sarada.

Sakura, lihatlah.. Anak kita sudah besar..


.

.

.

.

Keesokan paginya…

Sarada melangkah pelan sambil mengandeng tangan Ayahnya. Hari ini adalah hari pertama ia memasuki bangku kelas delapan Junior. Ia bersekolah disekolah terbaik diKonoha, Konoha High School. Sekolah bergengsi yang berisi dengan anak-anak dari pengusaha-pengusaha besar, serta anak-anak beasiswa yang tingkat kecerdasan diatas rata-rata.

KHS sendiri didirikan oleh sebuah Yayasan besar dengan pemengang saham dari berbagai perusahaan ternama. Yayasan tersebut mendirikan dua bagian Departemen Pendidikan. Yaitu Konoha Junior High School dan Konoha Senior High School. Sehingga tidak heran kalau ada dua seragam berbeda setiap harinya. Ciri khas seragam KJHS adalah kemeja putih dengan kerah kotak-kotak berwarna biru serta rok dan celana kotak kotak berwarna senada dan jangan, sedangkan seragam khas KSHS adalah kemeja putih polos dengan rok hitam dengan dua garis putih dibagian bawah untuk perempuan, sementara celana hitam polos untuk laki-laki, dan jangan lupakan blazer hitam dengan logo KSHS dibagian dada sebelah kiri.

Sedari tadi pasangan Ayah dan anak itu hanya berkeliling tanpa tahu arah tujuan. KHS sungguh sangat besar, kalau saja Sarada hanya sendiri kesini mungkin ia akan tersesat entah sampai kapan. Pandangan Sarada menyapu sekelilingnya, suasana koridor sudah sepi, jam pelajaran sudah dimulai beberapa menit lalu, wajar saja kalau tidak ada satupun murid yang berlalu-lalang. KHS adalah sekolah dengan tingkat kedisiplinan tinggi.

"Aaa, Tou-san lihat. Disana ada seseorang, sepertinya dia senpai ku. Kita bisa bertanya padanya dimana ruangan kepala sekolah, 'kan? Aku sudah pusing dari tadi hanya berkeliling dikoridor tanpa tahu tujuan, sekolah ini sangat luas.." Sarada menggerutu sambil menunjuk anak laki-laki diujung koridor yang sedang fokus membaca sebuah buku ditangannya. Dilihat dari seragamnya, anak laki-laki tersebut adalah senpainya yang bersekolah diKSHS. Sasuke mengangguk saja menyetujui perkataan Sarada. Benar, dia juga sudah lelah berkeliling sekolah yang luasnya entah seberapa besar ini.

"A-ano, permisi senpai. Bolehkah aku bertanya?" Sarada menghampiri anak laki-laki diujung koridor tersebut sembari berharap semoga saja senpainya ini tidak marah karena Sarada mengganggu aktivitas membacanya. Anak laki-laki yang dipanggil 'senpai' tersebut mendongakan kepalanya menatap onyx Sarada yang tertutup kacamata berframe merahnya. Sarada dan 'senpai'nya bertatapan agak lama, onyx bertemu onyx, seakan mencari sesuatu yang entah apa didalam mata tersebut. Sampai, suara deheman Sasuke membuat Sarada tersadar dan merona tanpa diminta, malu karena ia sudah lancang menatap dalam sepasang onyx milik senpainya tersebut.

"Hn, ada apa?" Tanya sang senpai yang sudah bisa menguasai dirinya.

"Gomen aku mengganggumu, senpai. Tapi bisakah kau membantuku dan Ayahku menemukan Ruang Kepala Sekolah? Kami sedari tadi hanya berputar-putar tanpa tahu dimana ruangannya, aku murid baru disini, senpai." Sarada menjelaskan maksud dan tujuannya menghampiri sang senpai, ia sudah tidak tahu lagi harus meminta tolong pada siapa. Koridor ini benar-benar sepi.

"Kau dari Junior High School?" sang senpai berdiri sambil merapikan seragamnya yang sedikit kusut.

"Ya, senpai. Aku baru pindah hari ini. Namaku Uchiha Sarada, dan ini Ayahku. Uchiha Sasuke." Sarada memperkenalkan dirinya dan sang Ayah pada senpainya itu.

Uchiha Sasuke?

"Senpai?" Sarada menatap sang senpai yang nampak tidak merespon ucapannya, membuat anak laki-laki itu tersadar dari lamunannya.

"A-ah, gomen. Aku Sanada." Sanada membungkukan sekilas badannya kepada kedua orang dihadapannya sebagai tanda hormat.

"Sanada? Wah nama kita mirip, Sanada-senpai." Sarada berseru riang saat mengetahui nama senpainya ini, senpai beramut raven ah tidak, ada helaian indigo juga disana meskipun surai raven tetap mendominasi. Rambutnya yang mencuat kebelakang, dengan mata onyx yang tegas, serta wajah yang –ehm- sangat tampan. Kulitnya putih bersih, wajahnya seakan dipahat sempurna tanpa cacat. Dan oh, jangan lupakan hidung mancung serta bibir tipis yang begitu menggoda kaum hawa, dan tahi lalat kecil dihidungnya membuat wajah dihadapannya ini bagaikan Dewa Yunani.

"Emm, a-ano senpai, maaf. Margamu?" Sanada kembali terdiam, marga katanya?

"Hyuuga." Jelas Sanada dengan tegas, membuat Sasuke membelalakan matanya. Hyuuga katanya? Hei, Sasuke tahu betul kalau ciri khas Hyuuga adalah bola matanya yang berwarna putih keunguan, sedangkan anak laki-laki dihadapannya ini sama sekali tak terlihat sebagai seorang…Hyuuga?

Sasuke memandangi Sanada dengan intens, seakan tidak asing dengan tampilan anak laki-laki dihadapannya ini. Kemeja putihnya yang sedikit keluar dari tempatnya, surai raven yang dibiarkan tidak rapi, bentuk muka dan warna mata seperti itu, mengingatkannya akan…. Dirinya sewaktu remaja? Apa? Tidak mungkin!

"Aku juga anak baru disini, kebetulan sekali aku baru saja dari ruang kepala sekolah. Ruang guru disini memang disatukan, karena sensei-sensei disini pun sebagian adalah sama. Mari kuantar." Jelas Sanada sembari berjalan menuju ruang guru yang diikuti sepasang Ayah dan anak dibelakangnya.

"A-ano Sanada-senpai, kau sungguh-sungguh sudah memasuki bangku Senior? A-ah, maksudku itu.. wajahmu sepertinya.. itu.." Sanada terkekeh mendengar pertanyaan dari Sarada yang terbata-bata, ia jelas tahu maksud dari pertanyaan Sarada karena sebelumnya sudah banyak yang bertanya mengenai itu.

"Aku baru berusia tiga belas tahun, tapi aku memang sudah memasuki bangku Senior. Aku lulus Sekolah Dasar saat usiaku sepuluh tahun, dan lulus disekolah dasar diusia dua belas tahun. Sekarang aku duduk dibangku kelas dua Senior, jika itu maksud dari pertanyaanmu." Sasuke dan Sarada tentu terkejut, anak laki-laki didepan mereka ini….. anak yang sangat pintar, diusianya yang baru berumur tiga belas tahun, ia sudah duduk dibangku kelas dua Senior. Pantas saja, wajah Sanada tidak meyakinkan sama sekali kalau dirinya sudah SMA. Ia terlihat masih sangat remaja untuk ukuran anak SMA yang seharusnya sudah mulai memasuki masa menuju kedewasaan(?). Sanada mungkin memang lebih tinggi dari Sarada, tapi postur tubuhnya masih jauh dikatakan belum sempurna untuk ukuran anak SMA. Wajahnya memang tegas, tapi dengan ketegasan itu, Sarad menyimpulkan bahwa senpainya ini terlihat…. Imut.

"Su-sugoi.." Puji Sarada takjub.

"Kau pindahan dari mana?" Tanya Sasuke yang sedari tadi berdiam diri, sedikit banyak ia penasaran juga dengan anak dihadapannya ini.

"New York, uncle." Sanada tersenyum tipis menjawab pertanyaan Sasuke.

"Kau blasteran?" Tanyanya lagi.

"Iie, uncle. Ibuku asli orang Jepang, dan menurut Ibuku, Ayahku juga asli orang Jepang. Hanya aku yang lahir di New York, dan tinggal disana selama tiga belas tahun."

"Itu berarti Sanada-senpai lancar berbahasa Inggris? Tapi kenapa Sanada-senpai mahir berbahasa Jepang?"

"Hn, tentu saja Ibuku yang mengajarkannya. Meskipun diNew York sana aku memakai bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari, tapi Ibuku setiap saat selalu mengajariku bahasa Jepang."

"Lalu, kenapa kau pindah, Sanada-senpai?"

"Tentu saja ikut dengan Ibuku, memangnya apa lagi?"

"A-ano, Ayahmu?" Sanada membatu mendengar pertanyaan Sarada yang satu itu. Ia tidak tahu harus menjawab apa, lebih tepatnya tidak terpikirkan sama sekali jawaban dari pertanyaan tersebut. Sedangkan Sasuke sama penasarannya dengan Sarada, diam-diam ia bersyukur karena anaknya bertanya seperti itu. Karena yang ia tahu, tidak ada Hyuuga yang ciri fisiknya seperti Sanada.

"Hn, kita sudah sampai, Sarada-chan, uncle." Setidaknya saat ini Dewi Fortuna memihak pada sanada, ia jadi tidak perlu menjawab pertanyaan Sarada karena sudah sampai diRuangan Kepala Sekolah.

"A-ah, arigatou, Sanada-senpai." Sarada membungkuk sekilas kepada Sanada sebagai tanda hormat dan ucapan terimakasihnya, dalam hati ia merutuki dirinya sendiri yang tidak bisa menahan mulutnya untuk bertanya pertanyaan yang tentu saja sangat privasi. Sedangkan Sanada hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.

"Senang bertemu kalian, Sanada-chan, Uchiha-san. Aku permisi dulu." Sanada pamit undur diri dari hadapan Sasuke dan Sarada. Sasuke tertegun sejenak, kenapa ia jadi OOC begini hanya karena seorang anak laki-laki?

"Dia sangat mirip denganmu, Tou-san." Gumam Sarada tanpa sadar setelah kepergian senpainya itu. Membuat Sasuke lagi-lagi tertegun, mirip denganku?


.

.

.

Kediaman Hyuuga 20:00

Hinata menaikan sebelah alisnya bingung mendapati Sanada, putra kesayangannya sedang senyum-senyum sendiri. Bukan senyum lebar seperti milik Naruto memang, hanya senyum tipis. Hanya saja, sangat aneh. Anaknya yang biasanya sangat minim ekspresi bisa senyum-senyum aneh begitu. Kiamat masih jau ' kan?

"Sanada-kun, kau kenapa?" Hinata duduk disamping Sanada yang saat itu sedang senyum-senyum sendiri sambil menyentuh kening anaknya tersebut menggunakan telapak tangannya yang dingin.

"Daijoubu." Balas Sanada singkat sembari menyingkirkan telapak tangan Ibunya, lalu dengan semangat ia memeluk Ibunya dengan sayang.

"You okay? Kau terlihat… aneh, Sanada-kun."

"Aku baik-baik saja, Mom. Mommy tidak perlu khawatir," Sanada semakin mengeratkan pelukannya pada Mommynya, Sanada memang tidak memanggil Hinata dengan sebutan 'Kaa-san', itu permintaan Hinata sendiri. Ia lebih terbiasa dipanggil Mommy bahkan oleh Inojin sekalipun daripada dipanggil 'Kaa-san'. Lagipula, Sanada adalah orang asli NY, meskipun darah Jepang sangat kental mengalir ditubuhnya.

"Aaa, Mommy tahu sekarang, kau sedang jatuh cinta hm? Ne, ne, pada siapa? Anak perempuan mana yang bisa menarik perhatian anak Mommy yang seperti batu es ini, hm?" Hinata menggoda dengan nada jahil, Sanada mendengus pelan sembari memutar bola matanya malas.

"Fall in love? Kau terlalu sering menonton dorama, Mom."

"Loh memangnya kenapa? Bukankah wajar kalau kau jatuh cinta?"

"Hn, aku sibuk memikirkan masa depan daripada harus memikirkan perempuan-perempuan berisik itu. Dan, please, aku sungguh tidak punya waktu untuk urusan tidak penting seperti itu," Hinata tergelak mendengar penuturan anaknya itu, Sanada memang sangat benci pada gadis-gadis berisik yang selalu meneriakan namanya karena ketampanannya. Dan dia tidak terlalu memikirkan 'cinta' atau apalah itu namanya diusianya yang menginjak remaja ini. Ia lebih suka menghabiskan waktunya untuk membaca buku, belajar untuk masa depannya. Ia punya target, ingin lulus SMA diusia lima belas tahun, kemudian lulus kuliah sarjana 1 paling lama tiga tahun kemudian, dan mulai bekerja saat sudah lulus S1 sambil meneruskan kuliahnya di S2 dengan target kelulusan tiga tahun tentunya. Itulah yang selalu jadi motivasi Sanada untuk meraih mimpinya. Ia ingin sukses diusia muda dan membanggakan Ibunya tentu saja.

"Lalu, apa yang membuatmu tersenyum aneh seperi itu kalau bukan gadis-gadis cantik itu, Sanada-kun?"

"Ini memang soal gadis, tapi bukan gadis-gadis yang ada dipikiranmu, Mom. Bagaimana jika aku katakan, kalau aku sudah bertemu dengan dia, Mom?" Pertanyaan tersebut sukses membuat Hinata membatu. Dia? Maksudnya…

"Ti-tidak mungkin…"

"Hn, tapi itu kenyataannya. Aku sudah bertemu mereka."


.

.

.

.

"Dia sangat mirip denganmu, Tou-san." Pernyataan Sarada siang tadi terus terngiang ditelinga Sasuke. Pikirannya menerawang jauh kepada seorang anak laki-laki yang ditemuinya pagi tadi.

Mungkinkah? Sakura, aku harus bagaimana?


.

.

.

.

.

.

.

.

Okay minna, itu dia chapter 2 nya muehehe :3 pasti semakin absurd ya._. Maafkan saya *bungkuk-bungkuk*

Dan silahkan main tebak tebakan sendiri xoxo saya tidak melarang kalian berimajinasi *-*

Dan dimohon isi kotak review ya minna, kirimkan saran dan kritik huhu saya sangat membutuhkannya.

dan terimakasih untuk semua yang sudah mereview, salam kenal kembali. Sungguh saya sangat senang dengan respons kalian semua *-*

dan menjawab pertanyaan apakah saya pernah membaca fict bukan kisah cinta kita yang katanya mirip dengan fict ini, semalam saya searching langsung hehe dan ternyata mungkin memang ada kemiripan tapi jelas berbeda karena jujur minna, saya tidak pernah baca fict sasusaku._. Jadi maafkan, sedari awal saya sudah bilang kalau ide fict ini pasaran, so maafkan saya sekali lagi untuk pihak yang mungkin merasa dirugikan.

Arigatou, salam.

Hyuuga Jishin