Do You Love Me?
Author: Lynhart Lanscard
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Rated: T
Genre: Romance/Drama
Pairing: NaruHina
Chapter 2
"Huaaaam!"
Lagi-lagi aku gagal menahan kuapanku, aku benar-benar masih mengantuk. Wajar saja, kemarin aku lembur semalaman demi proyek yang sedang kukerjakan. Aku baru bisa tidur pukul 4 pagi, dan ternyata tidur selama 3 jam itu masih belum membuatku bugar. Kalau aku berkaca pasti aku bisa melihat kantung mataku yang hitam dan berlipat-lipat.
"Pagi Naruto-kun."
Blush! Hinata hanya menyapaku seperti biasa, tapi entah kenapa wajahku jadi memerah begini. Akhir-akhir ini aku jadi sering salah tingkah jika di depannya.
"Pa-Pa-Pagi!" jawabku tergagap karena aku menguap lagi.
"Kalau masih mengantuk tidur saja lagi, ini hari libur kan?"
"Tidak, bukankah aku sudah janji akan menemanimu pergi berbelanja hari ini? Aku hanya butuh secangkir kopi untuk bugar lagi kok," kataku berpura-pura kuat.
"Baiklah, kalau begitu aku akan buatkan," ujarnya sambil tersenyum.
Hinata masuk ke dapur dan beberapa menit kemudian keluar dengan membawa secangkir kopi buatannya.
"Kamu tidak usah memaksakan diri begitu, aku tidak apa-apa kok pergi sendiri," katanya sembari meletakkan kopi buatannya di meja.
"Aku tidak memaksakan diri kok. Aku ini suamimu, wajar kalau aku ingin memanjakanmu sesekali."
"A-Ah...Te-Terimakasih kalau begitu," wajahnya langsung merona merah, aku bertaruh dia pasti merasa malu sekaligus senang setengah mati.
"Ka-Kalau begitu a-aku akan ganti baju dulu," dia segera berlari menuju kamar untuk berganti baju dengan menutupi pipinya yang memerah, sementara aku hanya tersenyum melihat tingkahnya yang lucu itu.
Tak butuh waktu lama bagi Hinata untuk bersiap, karena dia sama sekali bukan tipe wanita merepotkan yang menghabiskan waktu berjam-jam di depan meja rias untuk bermake-up dan memandangi pakaian-pakaian yang hendak dikenakannya. Walaupun begitu, Hinata bukan wanita yang tidak mengenal fashion, hanya saja dia tidak terlalu suka menghabiskan waktunya untuk sekedar memilih baju atau berias. Hinata lebih suka bertanya padaku mengenai pakaian yang akan digunakannya untuk keluar dan dia lebih suka menggunakan riasan yang sederhana.
Meski tanpa riasan tebal dan pakaian yang mewah, Hinata tetap tampil cantik seperti biasa. Dia mengenakan sebuah gaun berwarna merah muda dan dipadukan dengan jaket berwarna coklat muda.
"Ba-Bagaimana Naruto-kun? Pantas?" tanyanya malu-malu.
"Pantas kok, kau cocok mengenakan pakaian apapun. Lagipula Hinata, kau tidak harus selalu bertanya padaku mengenai pakaian yang akan kau kenakan kan?"
"Tidak apa kan? Mengenakan pakaian yang Naruto-kun puji itu sudah cukup membuat aku percaya diri dan terlihat cantik, jadi tidak apa kan kalau aku selalu meminta komentarmu?"
Senyumannya yang menggoda langsung membuat wajahku memerah. Sial! Kenapa istriku bisa semanis ini?!
"Te-Terserah padamu sajalah!" kataku dengan tergagap. "Ki-Kita berangkat sekarang?" sambungku.
"Tunggu sebentar, aku lupa mengenakan kalungku."
Dia merujuk pada kalung bermotifkan bunga yang kuberikan padanya beberapa minggu yang lalu, aku rasa Hinata menyukainya. Dia selalu mengenakannya hampir di setiap kesempatan, bahkan saat di rumah sekalipun. Padahal, itu bukan termasuk barang mahal, walau aku menghabiskan hampir separuh gajiku saat aku membelinya.
"Kau benar-benar menyukai kalung itu, Hinata?"
"Kalung ini hadiah pertama yang aku terima dari Naruto-kun kan? Tentu saja aku menyukainya."
"Haha, aku senang kau menyukainya Hinata. Lain kali aku akan membelikanmu yang lain, jadi kita pergi sekarang?"
"Ok," jawabnya santai.
Kriing, suara telpon yang berdering menunda kembali kepergian kami berdua. Hinata segera berlari mengangkat telponnya, sementara aku hanya mendengus kesal. Wajah Hinata perlahan berubah pucat ketika mendengar suara di telpon, sepertinya bukan kabar baik yang menghampiri kami berdua. Aku segera bertanya padanya mengenai isi pembicaraan ketika dia sudah selesai berbicara.
"Ada apa Hinata, wajahmu terlihat pucat? Memangnya siapa yang menelpon?"
"Ha-Hanabi...ka-katanya...Okaa-san jatuh sakit dan sekarang sedang diopname, kondisinya darurat. Na...Naruto-kun, aku harus bagaimana?" dia menangis, panik dan takut. Mungkin dua hal itu yang dirasakan oleh Hinata sekarang.
"Tentu saja kita akan menjenguknya, dia itu juga ibuku kan? Perginya bisa ditunda nanti, lagipula hal ini lebih penting."
"Ta-Tapi...aku..."
Sejenak aku bisa melihat kebimbangan di matanya, aku merasa Hinata sedang cemas dan kebingungan. Entahlah, mungkin ini hanya firasatku saja.
"Tidak usah bimbang begitu, aku bersamamu kok. Kau jangan cemas," ujarku menenangkan.
~Do You Love Me?~
Hanabi memberikan nama dan alamat rumah sakitnya pada kami sehingga tak butuh waktu lama bagi kami berdua untuk sampai di sana. Setelah menanyakan kamar dimana ibu Hinata dirawat pada resepsionis, kami segera kesana. Disana sudah berdiri Neji, kakak sepupu Hinata, wajahnya terlihat kaget saat melihat kedatangan kami berdua.
"Neji Nii-san, bagaimana keadaan Okaa-san ?" tanya Hinata cemas.
"Beliau sudah melewati masa kritisnya dan sekarang tengah tertidur, kau sendiri kenapa ada di sini Hinata? Kau tahu apa yang terjadi padamu nanti kan?"
"Aku sudah siap apapun yang terjadi padaku, aku tidak bisa mengabaikan Okaa-san . Biar bagaimanapun, dia itu tetap orangtuaku, dia yang melahirkan dan membesarkanku Nii-san!"
"Baiklah kalau begitu, aku tidak bisa lagi menghalangimu. Sebaiknya kau persiapkan dirimu, perkataan Oji-san akan sangat keras nanti."
"Baik!"
Setelah mengatakan itu Hinata akhirnya masuk ke kamar rawat, aku sama sekali tidak mengerti tentang maksud pembicaraan mereka. Kenapa Neji harus melarang Hinata menemui ibunya? Aku ingin menyusulnya masuk ke dalam, namun Neji menahanku.
"Neji-san, ada apa ini sebenarnya?"
"Naruto, sebaiknya kau tidak usah masuk ke dalam. Suasananya akan semakin memburuk nanti, lagipula...kau adalah akar dari semua permasalahan ini semua."
Perkataan Neji barusan malah membuatku bertambah bingung dan tidak mengerti. Bertambah buruk? Akar masalah? Aku baru mengerti dan mencerna apa yang terjadi ketika mendengar teriakan Hiashi-san dari kamar perawatan. Aku segera masuk ke dalam untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga Hinata.
"Hanabi...kau yang memberitahunya?" tanya Hiashi-san pada Hanabi yang ditanggapi dengan anggukan pelan.
"Me-Menurutku Onee-chan harus tahu, bagaimanapun juga dia..."
"Dia sudah bukan kakakmu dan bagian keluarga ini lagi, kau tak perlu menghubunginya!"
"Otou-san..." Hinata memanggil ayahnya dengan nada memohon.
"Jangan panggil aku begitu, aku sudah bukan ayahmu lagi! Semenjak kau merusak nama baik keluarga kita dan menikah dengan pria itu, kau sudah bukan bagian dari keluarga ini lagi! Bukankah aku sudah mengatakannya dengan jelas saat pernikahanmu Hinata?" katanya sambil memandang Hinata dengan jijik.
"Hiashi-san, bagaimanapun Hinata itu tetap anak Anda! Anda tidak bisa mengatakan hal sekejam itu padanya!" ujarku membela.
"Diam! Kau yang membuatnya jadi begini, semuanya itu salahmu! Kalau saja kau tidak melakukan hal kotor itu, maka tidak akan ada hal buruk yang menimpa keluarga kami! Penyakit istriku dan semua masalah yang terjadi karena kalian berdua, semuanya salahmu dan perempuan jalang itu!"
Aku sudah tidak tahan lagi mendengar makian Hiashi-san, kini aku mengerti alasan mengapa Hinata bimbang saat kemari dan juga apa yang terjadi di keluarga ini sebenarnya. Memang benar kalau aku yang sudah merusak masa depan Hinata, tapi bukankah terlalu kejam menghukumnya dengan tidak mengakuinya sebagai keluarga. Aku memang tidak mempunyai keluarga, itu karena aku kehilangan mereka. Tapi Hinata berbeda, dia sendirian karena dibuang oleh keluarganya. Perasaan kehilangannya pasti lebih besar daripada yang pernah aku rasakan.
Aku memang bodoh saat mengatakan dia boleh kembali ke keluarganya, Hinata sejak awal tidak mempunyai tempat kembali. Aku memang bodoh, membiarkan wanita ini menampung semua kesedihanku, menjadikannya sandaranku tanpa memperdulikan kesedihannya. Aku memang bodoh, aku memang suami yang bodoh! Aku terlambat menyadari kalau aku mencintai gadis ini, membuatnya menderita selama ini. Tapi aku tidak akan membiarkan itu terjadi lagi, aku tidak akan membiarkan satu hal burukpun terjadi pada Hinata!
"Cukup Hiashi-san! Anda boleh berkata buruk tentangku, tapi aku tidak akan pernah memaafkan Anda jika berkata hal buruk tentang istriku!"
"Bicara apa kau ini? Bukankah kau menikahinya karena terpaksa, jangan membicarakan hal yang munafik disini!"
"Aku memang menikahinya terpaksa, tapi aku tidak menyesal atas keputusan yang kubuat! Aku bangga memiliki istri seperti Hinata! Hinata bukan wanita kotor dan menjijikkan seperti yang Anda ucapkan barusan! Sekali lagi Anda berkata buruk tentang Hinata, aku tidak akan tinggal diam! Hinata, kita pergi dari sini. Kita adalah orang asing yang tidak ada hubungannya dengan mereka!"
Aku menarik tangan Hinata dan segera meninggalkan rumah sakit, aku bisa melihat air mata yang mengalir di wajahnya. Aku memang bodoh dan tidak peka, seandainya saja aku tidak menyemangatinya tadi untuk pergi ke sini. Selama perjalanan pulang Hinata selalu diam saja, dia hanya memandangi jendela mobil dengan tatapan yang kosong. Aku mungkin tidak tahu sebesar besar rasa sakit yang dirasakannya saat ini, tapi aku ingin berbagi rasa itu dengannya. Aku tidak ingin Hinata menanggung itu semua, bukankah Hinata juga pernah melakukan hal yang sama padaku dulu.
"Hinata, maaf...maaf karena membuatmu pergi sana. Aku memang bodoh dan tidak peka, aku..."
"Naruto-kun tidak salah, aku yang salah karena tidak menceritakannya padamu. Harusnya aku membicarakannya padamu terlebih dahulu mengenai statusku, maaf sudah membuatmu malu di hadapan keluargaku."
"Aku tidak malu, justru aku kesal terhadap perlakuan ayahmu! Bukankah kalian itu keluarga, ayah dan anak yang terikat oleh hubungan darah? Kenapa dia tega memperlakukanmu seperti itu?!" aku memaki kesal.
"Bukan salah Otou-san, Otou-san hanya melindungi nama baik keluarga dari aku yang telah merusaknya. Bukankah hal itu wajar kalau mereka sangat marah padaku?"
"Hinata...aku tahu kau itu wanita yang baik dan selalu memikirkan orang lain, tapi kau juga harus memikirkan dirimu sendiri. Kau jangan selalu menyalahkan dirimu begini, Hinata. Kau pernah mengatakan bahwa kau akan selalu bersamaku dan berbagi kesedihan dan kebahagiaan bersamaku kan? Kau telah berkorban begitu banyak hanya demi laki-laki tidak berguna sepertiku, karena itu aku juga akan melakukan hal yang sama!"
"Ma-Maksudmu?"
"Aku juga ingin berdiri disampingmu, melindungimu, tertawa dan menangis bersamamu, aku melakukan itu semua karena aku mencintaimu. Maaf karena butuh waktu lama untuk menyadarinya..."
"Naruto-kun..." Hinata menutupi wajahnya dan terisak pelan, aku tahu dia menyembunyikan tangisnya di balik tangannya yang mungil itu.
"Hinata jangan menangis begitu, nanti orang-orang berpikir kalau aku melakukan kekerasan dalam rumah tangga," ujarku setengah bercanda.
Dia menggeleng pelan dan berkata, "Aku menangis bukan karena sedih, tapi karena bahagia. Aku sudah lama menunggu saat Naruto-kun mengatakan hal itu, impianku sudah tercapai. Karena itu aku menangis."
"Bodoh, harusnya kau tertawa kan? Aku berjanji kalau aku akan selalu membuatmu bahagia, karena itu jangan menanggung kesedihanmu seorang diri lagi, Hinata. Tersenyumlah, karena senyuman indahmu itulah yang menyelamatkanku dan membuatku jatuh cinta padamu."
"I-Iya, terimakasih Naruto-kun. Aku sangat senang sekali. Oh iya, aku punya satu permintaan kecil, boleh kan?"
"Boleh, katakan saja."
"Aku ingin kau bilang 'aku mencintaimu' sekali lagi, boleh kan?"
"Hee, ha-haruskah? Ra-Rasanya sedikit memalukan kalau mengatakannya lagi," kataku jujur, sungguh wajahku benar-benar akan terbakar kalau aku mengatakannya sekali lagi.
"Tidak apa kan? Ayolah, aku ingin mendengarnya sekali lagi," pintanya sambil mengguncang lenganku pelan.
"Hei, aku sedang menyetir Hinata. Kau tidak ingin kita kecelakaan karena hal konyol kan?"
"Ya sudah kalau tidak mau mengatakannya lagi, aku juga tidak apa-apa kok!" dia berkata dengan nada yang lebih tinggi daripada biasanya dan memalingkan mukanya yang merah, aku berani bertaruh kalau itu adalah ekspresi yang dibuatnya saat marah.
"Baik, baik, aku akan mengatakannya sepuasmu saat kita di rumah nanti!" kataku padanya agar dia menyudahi marahnya.
"Benarkah?"
"Iya, sungguh. Aku tidak pernah berbohong padamu kan?"
"Baik kalau begitu...Ad-Aduh!" Hinata tiba-tiba saja berteriak kesakitan sambil memegangi perutnya.
"Kau tidak apa-apa Hinata?"
"I-Iya, hanya saja perutku sakit sedikit, se-sepertinya kram."
"Sial, kita sudah terlalu jauh untuk memutar balik ke rumah sakit."
"Naruto-kun, tidak apa-apa kok. Aku hanya kram perut, bukan masalah besar."
"Tidak bisa begitu, bagaimana kalau ini gejala penyakit berat? Hinata, kau bisa tahan sebentar kan? Aku akan membawamu ke dokter kenalanku."
~Do You Love Me?~
Aku membawanya ke klinik Tsunade Baa-chan, beliau adalah satu-satunya dokter yang aku percayai seumur hidupku. Aku sudah mengenalnya dengan baik, jadi tidak ada salahnya kalau aku mempercayakan Hinata padanya.
"Baa-chan bagaimana keadaannya? Apa dia menderita suatu penyakit?" kataku cemas menunggu diagnosanya.
"Penyakit?" Tsunade Baa-chan mengerutkan dahinya dan kemudian memukul kepalaku pelan.
"Kau harusnya lebih perhatian dengan keadaan istrimu sendiri Naruto!" sambungnya lagi.
"Hah, maksudnya?" aku bertanya tak mengerti.
"Hinata itu tidak sakit, dia hamil dua minggu. Kau harus lebih memperhatikan kondisi istrimu benar-benar dan jangan membuatnya terlalu stres!"
Nasehat Baa-chan tak terlalu kudengar dengan baik, aku hanya fokus mendengar kata hamil. Hinata hamil, berarti dia sedang mengandung anakku kan? Kepalaku hanya dipenuhi kata-kata itu.
"Be-Benarkah itu?! Baa-chan tidak bohong kan?"
"Tentu saja, mana mungkin seorang dokter berbohong mengenai kondisi pasiennya!"
"Kenapa kau tidak menceritakannya padaku, Hinata?"
"Tadinya aku mau memberi kejutan padamu malam ini, tapi ternyata sudah keduluan. Maaf ya, Naruto-kun."
"Kenapa minta maaf? Kau tidak melakukan kesalahan kan? Justru aku senang mendengar kabar gembira ini! Harusnya kau memberitahuku lebih cepat!"
Aku memeluk Hinata dengan erat untuk mengekspresikan rasa bahagiaku ini, Tsunade Baa-chan hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum melihat tingkah kami berdua. Jiraiya Jii-chan pun ikut senang mendengar kabar gembira ini dan berharap bisa segera melihat kelahiran anak pertama kami. Mungkin hari ini diawali dengan hal yang kurang menyenangkan, tapi ternyata Tuhan memberikan kabar gembira ini untukku sebagai gantinya. Aku benar-benar merasa beryukur bisa hidup sampai saat ini.
Chapter 2 EnD
Author Note
Wah, maaf ya minna-san! Ternyata ga cukup 2 chapter, terpaksa deh nambah satu chapter lagi m(_)m
Maaf apabila chapter ini mengecewakan, kurang baik dan ada kesalahan kata. Sampai jumpa di chapter berikutnya dan jangan lupa reviewnya *(^o^)*
