"Tiga ratus enam puluh enam…" Ino terus melanjutkan hitungannya.
"Tiga ratus enam puluh tujuh…" Kini giliran Sakura melanjutkan hitungan mereka berdua.
"Tiga ratus enam puluh delapan… shit! Mana dia?" tanya Ino tak sanggup lagi menunggu. Sudah 368 detik dia menunggu bersama Sakura, dan sampai sekarang orang yang ditunggunya belum juga datang. Dia sudah lelah berdiri di depan asrama putra dengan banyak barang bawaan.
Sebenarnya bukan hanya Ino yang lelah menunggu, Sakura juga merasakan hal yang sama. Bedanya, Sakura hanya membawa satu koper ukuran sedang jadi tidak begitu membebaninya, sementara sahabatnya itu membawa satu koper ukuran besar, satu tas yang ukurannya tak jauh beda dari kopernya, dan satu tas sekolah yang sama penuhnya.
"Maaf membuat kalian menunggu," kata Karin dengan cengiran ala Uzumaki perempuan ini. Penampilannya cukup keren, celana pendek tiga perempat dengan kaos longgar untuk menutupi dadanya. Mungkin, jika Ino dan Sakura tidak tahu bahwa di hadapan mereka sekarang adalah sosok perempuan yang menyamar, mereka berdua sudah jatuh hati dengannya.
"Sensei ke mana saja? Aku sudah bosan menunggu di depan asrama ini," keluh Ino sambil merapikan anak rambutnya yang keluar dari pelukan topi kesayangannya. Kali ini Ino memutuskan untuk tidak memakai wig, tetapi menyembunyikan rambut panjangnya dengan topi paruh berwarna hitam-ungu.
"Mencari kamar untuk tidur, dan sayangnya kita harus berpisah." Pernyataan Karin tadi sukses membuat duo pink-pirang ini kaget dan membulatkan masing-masing kedua bola mata mereka.
.
Disclaimer Masashi Kishimoto
Pairing : NaruSaku, ShikaIno, and the others pairing.
[Gak suka sama pairings-nya? Jangan protes, gak ada yang maksa buat baca ini kok]
Warning : Standard Applied-Oocness, Typo everywhere, rush, etc-, AU.
Rated : T+
.
Don't Like? Easy guys! Just don't read ;)
.
.
.
.
.
Tangan Sakura langsung mengambil kertas yang sejak tadi dibawa oleh guru bahasa Inggrisnya ini. Di kertas itu tertera nama mereka bertiga serta kamar yang digunakan untuk mereka nanti.
Haruno Sakumo—22—Nara Shikamaru
Yamanaka Inojin—23—Namikaze/Uzumaki Naruto
Uzumaki Kalvin—24
"HEH? SENSEI SENDIRI?" protes Sakura begitu membaca isi kertas itu keseluruhan. Dan lagi, dia membaca nama pencuri first kiss-nya itu. Namikaze/Uzumaki Naruto. Eh? Uzumaki? "Baka—Naruto itu sepupunya sensei?" tanya Sakura menahan emosinya. Dia masih belum terima first kiss-nya itu dicuri pemuda baka itu.
Karin tersenyum geli. "Jangan bilang bahwa Naruto lah yang mencuri first kiss-mu, Sakura?" goda Karin. "Dia memang benar-benar nekat, dasar otak mesum!" kata Karin membeberkan suatu rahasia keramat Naruto pada Sakura.
Sakura terdiam. Ternyata dia adalah korban dari kemesuman saudara sensei -nya sendiri. Benar-benar mengecewakan.
Ino membaca kertas yang masih berada dalam genggaman Sakura. Mata aquamarine-nya langsung tertuju pada teman sekamar Sakura—Nara Shikamaru. "Shikamaru? Dia satu kamar dengan Sakura?" Begitulah kalimat yang terlontar dari bibir Ino.
"Jadi, si jenius itu yang menepuk bokongmu, Yamanaka Ino? Aku tak menyangka dia berani melakukannya." Tidak ada respon dari Ino, dia malah mengenang kembali waktu bokongnya ditepuk oleh si Kepala Nanas itu.
Karin sendiri tidak menyangka bahwa dua muridnya ini berhasil jadi bahan kemesuman dua laki-laki yang sudah lama dia kenal. Apalagi Namikaze Naruto, yang notabane adalah sepupunya, anak dari adik perempuan ayahnya. Karin sangat mengenal sikap Naruto, dan banyak tahu tentang Nara Shikamaru. Apalagi Nara Shikamaru merupakan pemenang olimpiade fisika sewaktu mereka bertiga—Naruto, Shikamaru, dan Karin—berada di bangku junior high school.
"Karin-sensei, jika Naruto itu adalah sepupunya sensei, berarti…" Sakura mengantungkan kalimatnya.
"… umur sensei tak jauh dari umur kita." Ino melanjutkan kalimat Sakura yang menggantung tadi.
Untuk yang kesekian kalinya, Karin terkekeh geli melihat tingkah dua siswi yang diajarnya ini. "Umur kita sama, Sakura, Ino." Jawaban Karin barusan membuat kening Sakura dan Ino berkerut, mereka sama sekali tidak bisa mengerti maksud dari ucapan guru bahasa Inggrisnya ini.
"Gurumu ini sudah sepuluh tahun tinggal di Amerika, dan membuat KGGS meminta bantuanku untuk mengajar bahasa Inggris di sekolah kalian. Lagipula, aku ini hanya guru pengganti kalian saja kok, guru bahasa Inggris kalian yang asli masih berada di Belanda sekarang," jelas Karin.
Ino dan Sakura sweatdrop di tempat. Mereka memang salah sudah menyetujui permainan gurunya ini. Permainan yang bodoh yang membawa Sakura dan Ino stress mendadak, atau mungkin, bisa saja mendapatkan serangan jantung mendadak.
"Shitsureishimasu!" sapa seseorang dengan seragam hitam-putih yang tiba-tiba saja membukakan pintu asrama. Rambutnya coklat dan tersenyum hangat ke arah Sakura, Ino, dan Karin. "Kalian penghuni baru asrama ini, kan? Silahkan masuk!" katanya membukakan pintu asrama.
Ino mendahului Sakura dan Karin masuk ke dalam asrama itu. Dia sudah lelah berdiri dengan banyak pikiran serta banyak barang bawaan. Tubuhnya menimpa sofa berwarna coklat kayu yang empuk, 'akhirnya bisa mendapatkan tempat yang empuk,' kata Ino dalam hatinya.
"Terima kasih, Yamato," kata Karin tersenyum kepada Yamato.
"Sama-sama, Karin-sama," balas Yamato sopan. Untuk yang kesekian kalinya, jidat lebar Sakura berkerut ulah guru bahasa Inggrisnya ini. Banyak rahasia yang tidak diketahui Sakura dari sosok Karin.
Karin mendekati Sakura dan berbisik. "Aku tidur sendiri, karena pemilik asrama tahu aku ini perempuan yang sedang menyamar. Jadi, nikmati saja malam kalian bersama laki-laki itu," bisik Karin dengan sebuah seringaian di wajahnya.
"INI TIDAK ADIL!" teriak Sakura, membuat orang yang berada di ruang tamu asrama itu menoleh ke arahnya. Termasuk Ino yang tidak tahu penyebab setan kecil dalam diri Sakura itu bangkit. "Gomen!" kata Sakura dengan wajah merona di pipinya karena menahan malu.
"Kalian bisa langsung ke kamar masing-masing," jelas Yamato memberikan informasi. Sakura, Ino, dan Karin mengangguk bersamaan. Saat inilah, permainan mereka—permainan Karin—mulai berlangsung. START!
o.o.o.o.o.o.o.o.o.o.o.o.o.o.o.o.o.o
Barang bawaan Ino diletakan di dekat sebuah kasur yang berada tak jauh dari pintu masuk. Ino mengamati semua benda yang berada di kamar barunya ini, yang tentu saja berbeda dengan kamar asramanya di KGGS. Di dalam kamar itu ada dua single bed dengan seprei berwarna biru langit. Namun, yang membuat Ino shock melihat kamar barunya adalah…
"This is my room? Lebih tepat dikatakan kapal pecah dibandingkan kamar," keluh Ino.
Semua barang yang berada di kamar itu terletak bukan pada tempatnya. Kaos kaki yang kehilangan pasangannya berada di atas lampu tidur. Bahkan, sepatu sekolah digantung di dekat jendela, bagaikan daging yang dijual di pasar.
Satu-satunya tempat yang rapi hanyalah kasur yang berada menghadap pintu masuk, dan berdekatan dengan dinding, serta jauh dari jendela. Ino memilih untuk beristirahat di atas kasur itu, dan menikmati suasana barunya. Dipeluknya guling oranye dan menimpa tubuhnya.
Bodoh. Ino merasa bodoh karena mau mengikuti permainan gurunya ini. Apalagi, permainan ini ditujukan untuk memecahkan sebuah misi yang terlampau bodoh dan tidak masuk akal. Salah insting perempuannya juga sih, mana bisa Ino menolak ajakan seseorang yang akan membawanya ke surga duniawi, di mana ada banyak laki-laki tampan sebagai penduduk surga itu.
'Beres-beresnya nanti saja, aku lelah dan butuh istirahat!' pikir Ino langsung memejamkan mata aquamarine warisan ayahnya ini.
Baru tiga detik Ino memejamkan mata, tiba-tiba saja ada laki-laki berambut pirang mencolok mendobrak pintu kamarnya. Ino yang baru ancang-ancang terbang ke alam mimpi, terpaksa bangun dan langsung memposisikan tubuhnya duduk dengan tegap.
"KENAPA KAU DI SITU? ITU KASURKU –TTEBAYO!" teriak Namikaze Naruto ini. Laki-laki yang memiliki tiga garis seperti kucing di masing-masing pipinya mendengus sebal.
Ino melempar guling oranye yang tadi dia gunakan untuk menimpa tubuhnya. "BERISIK!" jawab Ino tak kalah hebohnya. Untungnya topi yang dikenakan Ino belum dilepas, membuat identitas menyamarnya tidak ketahuan.
Naruto menangkap guling oranye-nya dan melepaskan handuk yang membalut bagian perut sampai lututnya itu. Handuk putih itu jatuh mencium lantai dengan sekali sentakan.
Kedua telapak tangan Ino digunakan untuk menutupi wajahnya, terutama pandangannya. Kejadian tadi bukanlah kejadian yang pantas ditonton oleh seorang gadis seperti Ino. "PAKAI HANDUKMU PIRANG!" teriak Ino lebih keras dibanding yang tadi.
"Heh?" Naruto sendiri belum sadar maksud dari orang yang menduduki kasurnya itu. Blue shappire eyes-nya melihat ke bawah dan mendapati handuknya membungkus telapak kakinya. Tapi tak ada gerakan yang dilakukan Naruto, selain melihat Ino dengan tatapan aneh. "Memangnya kenapa sih? Tidak ada yang aneh." Begitulah jawaban yang keluar dari mulut Naruto.
"TIDAK ADA YANG ANEH? HANDUKMU TERJATUH DAN MASIH BILANG TIDAK—"
"BUKA MATAMU PIRANG!" Naruto memotong teriakan Ino. Duo blonde ini sebenarnya hobi sekali berteriak-teriak. Walaupun langit sudah berubah menjadi oranye dan merah, itu bukan tanda bahwa mereka diharuskan berhenti berteriak seperti ini.
"TIDAK AKAN! AKU TIDAK MAU DIANGGAP HENTAI! DASAR PIRANG SIALAN!" balas Ino masih menutup matanya. Suara teriakannya tak gentar melawan suara baritone Naruto.
Begitu pula Naruto, dia tidak mau rekor teriakan paling memecahkan telinganya diambil oleh anak baru ini. "KAU HENTAI! MASUK KE KAMARKU SEMBARANGAN! KAU INI PRIA ATAU WANITA SIH?"
Ino terdiam. Dia baru sadar, tindakannya seperti ini hanya akan membuka kedoknya sebagai perempuan yang nyasar ke asrama putra. Dengan nyali yang hanya empat puluh persen, Ino membuka matanya dan membiarkan telapak tangannya tak menyentuh permukaan wajahnya lagi.
Naruto berdiri tak jauh dari pintu. Tangannya masih setia memegang guling yang dilemparkan Ino barusan. Dan… boxer hitam bermotif bintang menutupi daerah yang sama sekali tidak ingin Ino lihat. Ino merutuki dirinya sendiri dalam hati, 'baka! baka! baka!'
"PERGI KAU DARI KASURKU!" Perang teriak-teriakan yang terjadi antara Naruto dan Ino ini kembali terjadi, dan Naruto sebagai pihak yang mengibarkan bendera perangnya.
Yang tadinya ingin berhenti perang, Ino kembali adu teriakan dengan Naruto. Untungnya dinding di kamar ini benar-benar kuat, jika tidak, bisa dipastikan perlahan dinding ini akan retak akibat teriakan kedua makhluk pirang ini.
"KAU TIDUR DI BAWAH PAKAI ITU!" teriak Ino menunjuk fuuton yang berada di dekat jendela.
"KAU ANAK BARU, TIDAK BERHAK MENGATUR –TTEBAYO!"
"SIAPA CEPAT DIA DAPAT!"
Begitulah perkelahian keduanya. Perang mulut yang tidak ada habisnya. Tidak ada yang mau menyerah. Mungkin saja perang akan berakhir ketika mereka kehilangan suaranya. Dasar duo pirang!
o.o.o.o.o.o.o.o.o.o.o.o.o.o.o.o.o.o
Di tempat yang berbeda, Sakura menatap rekan sekamarnya dengan tatapan horor. Mata hijau emerald-nya tak berhenti untuk menatap Nara Shikamaru yang sedang berbaring di kasurnya. Penghuni baru kamar ini pun hanya bisa duduk di pojok kamar, dengan tongkat baseball di tangannya. Ketakutan? Mungkin saja.
Orang yang sejak tadi diperhatikan sebenarnya risih, pertama kalinya dia diperhatikan seperti itu. Tapi, Shikamaru menyembunyikan rasa risihnya itu dengan wajah tenang dan malasnya.
"Mau sampai kapan kau berada di situ?" Akhirnya Shikamaru membuka suara terlebih dahulu. Laki-laki berkepala nanas ini pun masih bisa-bisanya menguap saat bertanya demikian.
"Tanganmu berbahaya! Jangan sentuh barang-barangku!" perintah Sakura semakin mengeratkan genggamannya pada tongkat baseball yang sebenarnya milik Shikamaru.
Sudah cukup Ino yang menjadi korban keusilan tangannya, Sakura tidak ingin hal itu terjadi padanya. Apalagi mendengar cerita Ino tentang Shikamaru yang sangat mesum ini membuat bulu kuduk Sakura merinding.
"Memangnya tanganku ada masalah apa?" Pertanyaan itu terlontar dari mulut Shikamaru. Shikamaru sendiri masih asik bergelut di atas kasurnya.
"Tanganmu sudah menodai bokong sahabatku! Benar-benar laki-laki yang tidak sopan!" sindir Sakura.
Shikamaru yang tadi hendak menguap kembali membatalkan kegiatannya itu. Keningnya berkerut dengan mata yang disipitkan menatap laki-laki dengan rambut merah muda. "Memang apa salahnya? Bukannya kita sering melakukannya? Mendokusai~" kata Shikamaru. Tentu saja kita yang dimaksud Shikamaru adalah para kaum Adam. Bukannya hanya Shikamaru dan Sakura saja.
"Sering melakukannya? Kau menodai namamu sebagai kaum pria!" ledek Sakura. Dia benar-benar di luar kontrol menyindir Shikamaru seperti itu.
"Merendahkanku sebagai pria? Lalu, kau sendiri bagaimana? Menyukai sesama jenis, um?" SKAK MAT! Sakura tidak tahu bahwa Shikamaru tahu kejadiannya bersama Baka Pirang itu.
"A-apa maksudmu?" tanya Sakura gugup. Rasa gugup, khawatir, dan takut semuanya bercampur menjadi satu di hati Sakura, ah… jangan lupakan dendamnya pada Baka Pirang itu.
Shikamaru terlihat menyeringai. "Kau berciuman dengan Naruto, kan? Kalian sudah tidak normal." Shikamaru mengatakannya dengan lancar tanpa ada hambatan, dia sendiri tak memikirkan perasaan Sakura begitu Shikamaru mengucapkan kalimat itu.
"Tentu saja aku masih normal!" kata Sakura menyangkal kalimat Shikamaru barusan.
"Berciuman selama dua menit dengan orang yang satu jenis dengan kita, itu normal?" tanya Shikamaru membuat Sakura diam di tempat. Sakura bingung apa yang harus dia katakan pada laki-laki nanas ini. "Tidak punya alasan untuk mengelak, Haruno Sakumo?" tanya Shikamaru lagi dengan memanggil nama lengkap Sakura selama berada di asrama ini.
Tiba-tiba saja Sakura punya ide. "Menjilat bibir secara eksotis untuk menggoda orang sesama jenis itu, apakah wajar? Jawab aku!" Berbeda dengan Shikamaru, Sakura memaksa Shikamaru untuk menjawab pertanyaannya.
Sebenarnya Shikamaru sedikit terkejut dengan ucapan Sakura barusan. Namun dia berusaha untuk tetap tenang, semakin kacau balau pikirannya, maka dia akan kesulitan memojokkan Sakura, begitulah prinsip Shikamaru.
"Setidaknya sebagai laki-laki dia seharusnya sadar bahwa itu hanya sebuah gurauan saja. Di sekolah kalian dulu tidak ada acara 'tepuk bokong' seperti itu ya?" tanya Shikamaru lagi. Dia sendiri hanya mengarang acara 'tepuk bokong' itu. Tapi, dengan wajah serius ala Shikamaru, dia yakin lawan bicaranya akan percaya.
"A-ano… um… TETAP SAJA TIDAK MASUK AKAL!" protes Sakura lagi. Sakura kehabisan kata-kata untuk membalas ucapan Shikamaru.
Sebuah seringaian kembali muncul. Shikamaru merasa menang sekarang. "Lebih tidak masuk akal mana, dengan mencium sesama jenis bahkan tak ada penolakan saat itu?" tanya Shikamaru masih santai.
Santai-santai mematikan, begitulah yang dapat Sakura simpulkan dari pembicaraan yang memojokkan dirinya ini. Rasanya Sakura ingin membongkar identitasnya sebagai perempuan agar dia tidak dianggap punya kelainan. Tapi, jika hal itu Sakura lakukan, sama saja dia menyerah dalam permainan gurunya itu. Walau sebenarnya Sakura tidak tertarik dengan rencana gila gurunya, tapi, bagi Sakura, jika sudah terlanjur maka harus dipertanggungjawabkan.
"NEKO PIRANG!"
"BANCI PIRANG! KAU TIDUR DI SANA ATAU AKU TIDAK AKAN MEMBERIMU RUANG UNTUK TIDUR!"
Sakura dan Shikamaru saling bertatap-tatapan, mereka bingung suara gaduh apa itu. Shikamaru bangkit dari tidurnya dan juga Sakura keluar dari tempat pojokannya itu. Suaranya berasal dari depan kamar mereka, tepatnya kamar nomor 23 yang dihuni oleh Ino dan juga Naruto.
"BERHENTI! KALIAN BERDUA BERHENTI!" teriak Yamato membuat dua manusia berambut pirang itu diam. Rupanya suara teriakan Yamato lebih keras dan tegas dibandingkan mereka.
Shikamaru dan Sakura hanya menunggu kejadian selanjutnya. Mereka merasa itu bukan urusan mereka, jadi, kali ini mereka hanya sebagai penonton saja. Lagipula, dua manusia pirang itu memang sering merepotkan Shikamaru dan Sakura, jadi mereka lebih baik menghindar dari kerepotan baru.
"Ini asrama, bisakah tidak membuat kegaduhan?" tanya Yamato dengan tegas, membuat dua orang yang menjadi sasaran teriakan Yamato tadi diam seribu bahasa. Baru kali ini duo pirang yang sama-sama bawel ini bisa diam seperti domba yang mau dicukur bulunya.
Mata aqumarine Ino melirik Naruto yang berdiri di sebelah kirinya. "Dia merebut kasurku!" katanya sambil menujuk subjek yang tadi dia panggil 'Neko Pirang' karena tiga garis di masing-masing pipinya yang membuatnya seperti seekor kucing.
"Apa? Dari awal kasur itu miliku, jadi, harusnya kau yang pindah!" Naruto melontarkan pembelaannya.
"Siapa cepat dia dapat, Neko Pirang!" ledek Ino sambil melipat tangannya di depan dada.
"Banci pirang seharusnya mengalah!" balas Naruto. Alasan Naruto meledek Ino banci pirang karena bentuk tubuh Ino yang seksi, seperti perempuan. Sementara Naruto sendiri tidak tahu bahwa Ino itu benar-benar perempuan.
"DIAM!" Yamato membentak mereka berdua dengan tegas.
Duo S—Shikamaru dan Sakura—hanya bisa menghela napas karena tingkah sahabat mereka masing-masing. Mereka sama-sama tahu, masing-masing sahabat pirang mereka memang keras kepala. Beginilah jadinya apabila batu melawan batu, sama-sama keras dan tidak ada yang mau mengalah.
"Ada apa ini?" Karin datang dengan handuk hijau yang membungkus rambut merahnya. Dia habis membersihkan dirinya, dan segera datang menuju tempat di mana dia mendengar begitu banyak teriakan.
"Ano.. Karin-sama, jika penampilanmu seperti itu mereka akan menyadari bahwa—"
"KARIN?" Naruto menatap Karin dengan ekspresi kaget naturalnya. Matanya membulat sempurna dengan mulut yang menganga karena kaget melihat sepupunya sendiri.
Karin tak mempedulikan Naruto yang memanggil namanya. "Ada keributan apa?" tanya Karin lagi pada Yamato.
"Naruto dengan laki-laki baru ini memperebutkan kasur," jelas Yamato pada Karin.
"Hanya itu?" Karin tampak kecewa begitu mendengar penjelasan Yamato. Rasanya Karin menganggap masalah itu adalah masalah yang sepele. "Tukarkan saja salah satu di antara dua pirang itu dengan mereka." Karin menunjuk Shikamaru dan Sakura yang sedang menatapnya horor—Ah, hanya Sakura yang menatapnya horor, sementara Shikamaru menatap Karin tajam, seolah-olah matanya berbicara bahwa dia menolak rencananya.
Yamato tersenyum karena menemukan jalan keluar dari masalahnya. "Si Pink ini tidur dengan Naruto, dan Shikamaru dengan si Pirang ini."
TAADAAA! Keputusan Yamato dianggap tidak adil oleh empat orang yang bersangkutan. "Mengapa tidak aku saja yang tidur dengan Inojin?" tanya Sakura berharap keputusan Yamato berubah.
"Aku lebih baik satu kamar dengan Shikamaru!" protes Naruto.
"Tidak bisa. Sesama anak baru tidak boleh satu kamar." Tegas dan mantap. Keputusan Yamato tidak bisa diganggu gugat. Karin terkekeh geli melihat ekspresi empat orang yang dikenalnya ini. Begitu merasakan hawa-hawa yang tidak nyaman, akhirnya Karin memilih melarikan diri sebelum keempat orang itu menyerang si pencetus ide.
"Mendokusai~" keluh Shikamaru langsung kembali ke kamarnya.
"Aku rasa, aku tidak bisa tidur malam ini," bisik Ino pada Sakura. Sakura mengangguk menyetujui pernyataan Ino barusan.
Yamato masih berdiri di depan kamar Naruto, mengawasi kepindahan dadakan Ino dan Sakura. Begitu Ino sudah masuk ke kamar barunya, dan begitu pula Sakura, Yamato baru bisa tenang.
Kamar yang lebih besar dengan isi yang sederhana. Kamar baru Ino ini cukup rapi, tak seperti kamar pertamanya tadi. Hanya saja ada satu kendala. Di kamar itu hanya ada satu kasur ukuran king size yang sudah terlebih dahulu Shikamaru gunakan berbaring di sisi kanannya, sementara di sebelah kirinya sepertinya sengaja dia sisakan untuk rekan sekamar barunya.
"Kami-sama, protect me please!" Sabar ya Ino!
Tak jauh berbeda dari Ino, Sakura juga mengucapkan kalimat yang serupa dengan tempat yang berbeda. Hanya saja bukan perkara kasur, ini perkara mengenai kegiatan Naruto yang baru saja dilihat Sakura. Begitu Sakura masuk ke kamar barunya, Naruto sibuk mengelus bibirnya dengan jari telunjuknya, tentu saja itu mengingatkan kejadian pencurian first kiss-nya tadi.
'Jangan-jangan benar adanya ucapan Karin-sensei mengenai kemesuman si baka satu ini? Tidak! Aku tidak ingin satu kamar dengan seorang rubah mesum seperti dia' Sakura berteriak-teriak sendiri di dalam hati sembari menatap ngeri Naruto yang masih mengelus bibirnya dengan sesekali melirik ke arah orang yang ia tahu bernama Sakumo itu-ah lebih tepatnya memerhatikan bibir mungil Sakura-.
"Kau kenapa, Sakumo?" Dengan tampang tanpa dosanya Naruto bertanya pada Sakura. Tak lupa sebelah alisnya yang terangkat juga langkahnya yang semakin memperpendek jarak antara mereka. 'MAU APA DIA?' Pikir Sakura shock dengan melangkah mundur perlahan. Tidak! Jangan harap ia akan memberikan ciumannya lagi!
"Stop! Jangan melangkah lagi baka!" Sakura berteriak kalap dengan iris emeraldnya yang sudah melotot seperti akan keluar. Selain berkata seperti itu Sakura tak tahu lagi cara untuk menghentikan baka pirang satu ini. Di belakangnya sudah hampir mendekati tembok jadi sungguh ia tak mau berada di posisi terapit seperti ini. Tunggu! Bukan berarti Sakura tak normal hanya saja bisa tidak ia menawar sedikit saja? Tolong yang mengapitnya jangan pemuda dengan otak mesum dan baka seperti dia?
"Hah~ baiklah-baiklah. Kau tak usah takut seperti itu! Tidur sana di atas kasur."
Apa? Apa? Siapapun apa Sakura tak salah mendengar? Si baka ini menawarinya untuk tidur di atas kasur padahal baru saja beberapa menit yang lalu ia ribut dengan sahabatnya-Ino- mengenai hak kasur itu. Ada apa ini? Jangan-jangan harus ada imbalan dari kebaikannya! Oh tidak! Sakura tak sebodoh itu untuk tertipu.
"Tidak perlu Naruto-san, aku bisa tidur di bawah," tukas Sakura dengan senyum tipisnya, berharap Naruto tak tersinggung dengan penolakannya barusan. Sebenarnya Sakura juga tak mau ambil pusing kalau-kalau Naruto sedikit tersinggung dengan penolakannya itu. Hanya saja sopan-santun sedikit tak apa, kan? Lagipula ini masih hari pertamanya.
"Panggil aku Naruto saja atau perlu Naruto-kun, ah Naruto-chan juga tak masalah. Oke, Sakumo-chan?" Naruto mengedipkan sebelah matanya membuat Sakura melongo dan sedetik kemudian bergidik ngeri melihatnya. "Jangan memanggilku seperti itu baka!" hardik Sakura dan langsung mengambil sebuah futton dekat jendela.
"Hahahahaha. Kau ini jangan aneh seperti itu, Sakumo. Aku masih normal 'mungkin'. Kejadian tadi hanya kecelakaan saja kok." 'Ya, meski aku memang menikmatinya.'
"Terserah. Aku mau tidur dan jangan macam-macam! Ingat! Jangan macam-macam." Sakura melempar deathglare ke arah Naruto berharap ia mengerti bahwa yang diucapkannya bukanlah hal main-main dan itu sebuah ancaman garis keras.
"Ya ya ya. Kau bicara seperti itu seolah kau perempuan yang akan aku perkosa saja," timpal Naruto santai sambil mengorek kuping kanannya.
'Kau saja yang tidak tahu aku ini perempuan cantik' Sakura membatin dengan PD-nya. Tak lupa manik emeraldnya yang ia putar.
Setelah futton tergelar dengan sempurna Sakura langsung mendekati kasur dan mengambil satu buah bantal dengan cepat. Bukan apa-apa, ia hanya takut si baka ini melakukan hal yang tidak-tidak lagi.
Belum sempat berbalik, tangannya sudah tercekal kuat oleh pemuda yang sudah rebahan di atas kasur itu, menggeretnya kembali untuk mendekat. Astaga! Mau apa lagi sebenarnya si baka ini! Apa ciuman selama dua menit itu belum cukup untuk hari ini ya?
"Mau apa lagi sih?" Sakura menghela napas, dia lelah untuk berteriak-teriak pada Naruto. Tenaganya sudah cukup terkuras habis.
"Kau yakin tidak mau tidur di atas kasur ini? Kasur ini besar dan cukup untuk tidur berdua?"
"Kau bercanda? Aku tidak sudi satu kasur denganmu!"
"Hah~ kalau begitu biarkan aku yang tidur di bawah."
Naruto berdiri dari rebahannya dan merebut bantal di tangan Sakura. Ia mendekati futton di bawah dan menidurkan diri dengan posisi miring ke arah yang berlawanan dimana Sakura berdiri. Sakura yang masih belum percaya dengan apa yang terjadi masih berdiri linglung, irisnya masih terus menangkap sosok Naruto yang sedang berbaring membelakanginya.
Tunggu! Kenapa pemuda ini tiba-tiba baik seperti malaikat seperti ini? Bukankah tadi bilang ia masih normal? Kenapa dia baik kepadanya yang dia ketahui sebagai kaum laki-laki. Oh Sakura berhentilah berpikir aneh-aneh! Tubuhmu lelah jadi sebaiknya cepat-cepat saja tidur.
Karena memang tak mau ambil pusing dengan semuanya. Sakura menggelengkan kepala dan duduk di tepi kasur. Perlahan ia sudah tidur di atas kasur empuk itu dan membalikan badan ke belakang berlawanan dengan arah Naruto tidur. Sakura terus berusaha memejamkan mata. Entah kenapa rasanya detak jantungnya terasa berdebar. Pipinya pun entah kenapa terasa memanas tak menentu. Oh Kami-sama! Jangan sampai ia mulai tertarik pada pemuda ini hanya karena kebaikan kecilnya itu! Ingat Sakura! Apapun yang dia lakukan dia adalah otak mesum yang sudah mencuri first-kissmu!
o.o.o.o.o.o.o.o.o.o.o.o.o.o.o.o.o
"Aku kira kau tidak sebodoh sahabat pinkmu itu, mendokusai na." Shikamaru menguap kecil sembari menatap sayu Ino yang sedang berdiri mondar-mandir di balik pintu. Entah karena sial atau apa, kenapa di kamar ini tidak ada fuuton seperti di kamar Naruto tadi?
"Hei, pirang. Sampai kapan kau akan mondar-mandir seperti itu?"
Ino masih belum menyahut. Hatinya merutuk kenapa juga ia harus bertakdir untuk tidur satu kasur dengan makhluk nanas di hadapannya ini. Dan astaga! Apa itu pertanyaan darinya? Dia tidak pernah mengerti konflik batin yang sedang mendera Ino sekarang.
Oke aku memang ingin melihat cowok-cowok keren di asrama ini. Tapi bisakah aku tidak sekamar dengan orang yang sudah jelas-jelas melecehkanku ini!
Ino semakin menggelengkan kepalanya keras-keras. Kenapa dari tadi ia tidak menemukan jalan keluar dari masalahnya ini? Rasanya ia ingin pergi ke kamar Sakura dan meminta ia tidur di sini dan Si Nanas ini akan ia tendang keluar. Biarkan saja ia dan Si Naruto tidur sekamar di sana. Asal tidak ketahuan oleh pihak asrama tidak masalah, kan?!
Arrggghhh~
Ino menggeram kesal. Bodohnya ia baru menyadarinya sekarang, tapi bagaimana kalau kedua laki-laki ini malah menolaknya dan akan menimbulkan keributan baru? Semuanya 'rese benar-benar 'rese.
"Pria cerewet kau membuatku tidak bisa tidur! Berhentilah bertingkah bodoh dan cepat tidur aku tau kau lelah."
Ino menoleh dan menatap sengit ke arah pemuda itu. "Aku tidak sudi satu kasur denganmu nanas!"
"Kau masih marah gara-gara kejadian tadi siang, mendokusai? I'm sorry, okey? Sure, that's just kidding." Shikamaru mengendikan bahunya pelan seolah semua yang terjadi tadi siang bukanlah hal yang fatal.
"Becandaanmu itu benar-benar keterlaluan, nanas!" Ino masih menggunakan intonasi naik darahnya. Oke, pemuda nanas ini memang tidak tahu kalau dirinya perempuan tapi tetap saja harga dirinya merasa terluka.
"Sudah kubilang maafkan tadi? Apa salahnya memaafkan seseorang, pria merepotkan?"
Ino masih tak bergeming. Ia enggan menyahut dan memaafkan pemuda ini. Rasa egois dan gengsinya itu masih menguasai. Shikamaru kembali menghela napas dari seberang sana. Kenapa sih ia harus menemui orang merepotkan seperti ibunya? Tunggu! Kenapa ada pria merepotkan seperti ini? Bahkan Naruto pun tak separah ini bila ingin merepotkan dirinya.
"Kau ini kenapa harus keras kepala sekali sih Inojin! Cepat tidur, trust me aku tidak akan melakukan apapun. I'm normal!"
Ino masih menatap curiga Shikamaru. Netranya memicing tajam. Haruskah ia mempercayainya? Memang tidak ada jalan keluar lagi selain ia harus tidur di samping pemuda ini. Dan, apa yang perlu ia takutkan memang? Bukankah sudah jelas-jelas cowok nanas ini bilang ia normal? Ia sendiri sekarang sedang menyamar menjadi laki-laki. Jadi, tidak ada yang perlu ia takutkan, kan?
"Baiklah. Kau janji 'kan tidak akan melakukan apapun?" pasrah Ino dengan penuh penekanan di setiap kata-katanya itu.
Shikamaru tersenyum kecil. Sepertinya pemuda ini benar-benar takut sekali ia akan berbuat apa-apa padanya. "Jangan berkata seolah aku akan memperkosamu, Inojin! Aku normal, kecuali kalau kau perempuan?" Shikamaru tiba-tiba menatap menyelidik ke arah Ino membuatnya tergugup.
Apa dia terlalu berlebihan ya bersikap seperti itu sampai-sampai pemuda ini untuk yang kedua kalinya hampir saja mencurigainya.
"Just kidding. Mendokusai." Shikamaru menyeringai dan tertawa kecil sembari menggelengkan kepala nanasnya itu. Ino menghirup napas lega, hampir saja jantungnya copot kalau-kalau penyamarannya ini terbongkar.
"Hahahaha." Ino tertawa kikuk mencoba mencairkan suasana agar laki-laki di hadapannya ini tidak kembali pura-pura mencurigainya.
"Sudah cepat tidur Ino-chan," godaan Shikamaru kembali terdengar membuat Ino memanyunkan bibirnya yang seksi itu. Shikamaru sedikit tergelak melihat tingkah pemuda ini yang menurutnya hampir mirip perempuan.
"Janji dulu kau tidak akan melakukan apa-apa?" Ino menyodorkan jari kelingking kanannya. Kelakuan kekanak-kanakannya malah keluar di saat yang tidak tepat.
Shikamaru terpaku sebentar. Kekanak-kanakan sekali pemuda di hadapannya ini? Memangnya ia berumur berapa? Delapan tahun? Tapi, mau tak mau ia menautkan kelingking kirinya di kelingking kanan Ino. "Janji, mendokusai."
Ino tersenyum semanis-manisnya lupa sebentar akan penyamarannya sebagai lelaki. Shikamaru yang melihat senyum di bibir Ino yang mulai mengembang ikut melengkungkan bibirnya juga. Aneh sekali, bukan? Baru beberapa menit yang lalu mereka tidak akur, sekarang malah jari mereka saling tertaut seperti ini? Mungkin setelah ini akan terjalin persahabatan di antara mereka? Atau bahkan lebih dari itu? Tanyakan saja pada takdir, karena takdirlah yang bisa menjawabnya.
.
.
To Be Continued
Mau balesin review yang gak login dulu ya,
NamikazeARES: Teman tapi mesra, friendzone gitu ya? Guest(1): Pertengkaran rusa dan kucing wkwk :p Guest(2): Ini lanjutannya ya! Sika-chan: Mungkin efek kepala sekolahnya jones, makanya ada larangan pacaran(?) Ini dia chapter 2-nya! :D xoxo: ini lanjutannya! Hihi~ de-chan: Semoga ini gak berantakan dibanding yang sebelumnya ya! Aizen: Udah lanjut kok :p Ren: Semoga bukan awal aja yang menarik, semakin ke sini semakin menarik juga :D Guest(3): Sudah dilanjut yaaa! :3 renji drganell: Naruto plus Shikamaru tambah mesum? Nanti mereka ngalahin Jiraya-sama dong? Wkwk :3 ji: Ini sudah ada lanjutannya. Walau pemales, Shikamaru masih naksir Inojin kok *eh* Ino maksudnya.
- by Noshi
A/N :
Semoga ini tidak terlalu cepat ya, terutama soal chemistry-nya! Haha...
Noshi : Neechan... /sweatdrop/
Nara : Apa? /innocent/
Noshi : Masa mereka jadi tidur bareng gini? Nanti kalau Inojin sama Sakumo-nya hamil gi mana?
Nara : /smirk/ Bukannya malah bagus ya?
Noshi : NEECHAN NO ECCHI! /jitak/
Nara : /elus-elus kepalanya/ Mendokusei na~
Noshi : Jadi, apa ada banyak hal yang bin ajaib di fanfic ini? Maklumlah, kita sendiri gak tahu gi mana takdir fanfic ini kedepannya(?) Takdir sama pasangan masing-masing aja gak jelas gini /lirik neechan/ Semoga gak merasa kebingungan sama cerita ini ya! /ojigi/
Concrit? Saran? Kritik? bahkan flame kami terima-terima saja asal TIDAK SOAL PAIR! Menyukai pair hak dari seseorang kan? :) Sampai jumpa di chap ke-3 nanti! Dont forget to..
.
Review! ^^
