Masashi Kishimoto

Yukori Kazaqi (No Copast)

SasuHina

T

Misteri, Sci-fi, Romance and Family (maybe)

No Like, No Read

No Like, No Read

No Like, No Read

.

.

.

.

.

Hinata dan Sasuke sudah berada dirumah Prof. Nara. Awalnya Sasuke ingin segera menuntaskan kasus ini dengan menangkap orang yang tadi pagi mereka curigai, namun Hinata menahan nya dengan alasan bahwa mereka harus menyelidiki hal dari yang terkecil dulu, Sasuke pun akhirnya menurut dan ikut bersama Hinata kerumah Prof. Nara.

"Sungguh, aku tidak menyangka bahwa aku akan kedatangan dua orang dari keluarga hebat. Alexandre Hinata dan Uchiha Sasuke. " Nara Shikaku berbicara dengan nada yang terdengar riang. Jelas saja riang, siapa yang tidak riang jika rumahmu kedatangan seorang tamu yang berasal dari keluarga penting hingga pelosok negara. Uchiha Sasuke, putra dari Uchiha Fugaku yang menguasai bisnis hingga mancanegara, sedangkah Alexandre Hinata, putri dari Alexandre Haruna yang menjabat sebagai Ratu di Rusia.

Shikaku langsung menyuruh kedua tamunya masuk kedalam rumahnya yang bahkan tidak memiliki seni keindahan dalam interiornya. Hanya dinding bercat putih, dan empat buah sofa, dan satu meja rumahan sederhana, tidak ada yang harus dibanggakan dari ruang tamu sederhana dalam rumah profesor muda ini.

"Kami kesini hanya untuk menanyakan sesuatu. " Hinata langsung berbicara tanpa basa-basi terlebih dahulu pada Shikaku yang kini sedang menyediakan minuman diatas meja yang dilapisi dengan kaca biasa yang bahkan tidak berharga apa-apa.

"Apa? " Tanya Shikaku mengernyitkan alisnya dan duduk didepan Hinata dan Sasuke yang kini sedang duduk dengan posisi selidik.

"Apakah sepercik kalung milik Mariam Dufn yang kau ambil untuk diteliti ada padamu sekarang? " Tanya Hinata cepat pada Shikaku.

"Tentu, aku masih menyimpan nya. Selain karena itu masuk dalam sejarah, kalung itu juga kusimpan untuk penelitian lebih lanjut. " Jawabnya dengan nada yang bisa dibilang sedikit gugup.

"Bagus, bisa kau kemarikan kalung itu? " Bukan pertanyaan melainkan perintah dipendengaran Shikaku

"Ya. " Shikaku langsung mengambil sepercik kalung yang diperintahkan oleh putri Alexandre itu.

Hinata menunggunya dengan mengetuk-ngetukan jarinya pada meja yang ada didepan nya. Berbeda dengan Sasuke yang hanya menopangkan tangan nya bosan dengan sesekali memutarkan bola matanya.

Tidak lama kemudian, Shikaku datang dengan membawa sebuah pipa kaca dengan cairan hitam yang ada didalamnya. Pria itu duduk didepan mereka berdua dengan gugup.

Hinata menghentikan ketukan tangan nya, matanya membelalak. Tidak berbeda jauh dengan Hinata, Sasuke juga ikut terperangah, ia tahu apa yang ada didalam pipa itu, tapi ia tidak menduga bahwa kalung berlian milik Mariam Dufn sekarang sedang ada didalam tabung pipa kaca. Apakah demi penelitian, profesor muda itu sampai melarutkan sepercik batu berlian yang bahkan sangat keras tersebut.

Shikaku dengan gemetar menyerahkan larutan yang ada ditangan nya itu kepada Sasuke yang kini sedang diam melongo dengan memegang sebuah pipa kaca yang didalamnya di isi dengan berlian yang sudah dilarutkan

"I-ini-, " mata Sasuke melotot menatap tabung yang ada didepan nya. Ia tidak yakin bahwa yang sedang ia pegang ini adalah percikan dari batu berlian hitam yang bahkan sudah mengendap di lava vulkanik yang keluar dari perut bumi di bagian barat Romawi hingga membuatnya sangat keras, tapi kenapa yang dipegangnya ini cair seperti ini.

"Sebelumnya aku minta maaf, tapi demi penelitian, aku terpaksa mencairkan nya. " Shikaku berkata dengan nada menyesal dan menundukan wajahnya menatap lantai yang sedang di injaknya.

"Bagaimana bisa? bukankah itu berlian? Kenapa bisa cair? " Tanya Sasuke beruntun dengan nada yang sedikit keras. Tangan nya masih memegang cairan yang diberikan oleh Profesor yang ada didepan nya itu.

Hinata terlihat mengamati tabung pipa yang ada ditangan Sasuke. Tangan nya mengetuk-ngetuk dagunya yang lancip itu. Mata Lavendernya memandang Shikaku dengan tajam.

"Berlian bisa mencair hanya dengan satu tetes Sup Quark-gluon yang terbuat dari atom emas, bukankah begitu Prof? Tapi yang menjadi pertanyaan nya adalah jika itu adalah Quark-gluon yang panasnya 4 triliun atau 250.000 lebih panas daripada bagian terdalam matahari, darimana kau mendapatkan tempat untuk menyimpan nya? jika ini hanya tabung reaksi kimia biasa, ini tidak akan bisa menampung nya lebih dari dua detik karena pastinya akan meleleh. Lalu kau mendapatkan darimana tempatnya? " Ucap Hinata panjang lebar diselingi dengan penjelasan disetiap kalimatnya. Matanya masih memandang Shikaku tajam.

"Kurasa anda sudah tau darimana aku mendapatkan nya, Hinata-sama. " Shikaku berbicara masih dengan nada tenang dan mengambil secangkir teh yang ada didepan nya.

"Otonom Atom emas sendiri, eh? Bukankah kau tau kalau atom emas dilarang diproduksikan, kecuali hanya untuk orang bagian militer, tapi kurasa militerpun hanya menggunakan granat untuk menghancurkan satu desa, jadi kau mendapatkan nya darimana Nara Shikaku? " Hinata berucap dengan serius kepada pria muda yang ada didepan nya.

"Baiklah, ayahku adalah mantan Militer, dia masih menyimpan nya, dan aku menggunakan nya untuk wadah ini. " Jawab Shikaku dengan meletakan kembali cangkir teh yang sudah tandas sedikit keatas meja.

"Lalu bagaimana cara membekukan nya kembali? " Tanya Sasuke masih dengan memandang tabung yang ada didepan nya.

"Aku bisa mengembangkan nanorod Diamond agar berlian yang cair dapat padat kembali. " Jawaban Shikaku yang terdengar sangat enteng membuat Hinata menatapnya semakin tajam.

"Ya, dan berarti kau mencampurkan bahan yang asli dengan bahan kimia yang menjadi pembentuknya. " Sindirnya dengan nada sarkatis yang membuat Sasuke menolehkan pandangan nya pada gadis yang sedang duduk tenang disebelahnya.

"Hinata, kenapa rasanya kau tau semua tentang kimia-kimia? " Tanya Sasuke heran dan mengerutkan alisnya mendengar ucapan Hinata yang terdengar seolah gadis itu tahu semua mengenai bahan kimia.

"Semua kasus teroris yang kutangani biasanya selalu berhubungan dengan bahan kimia, jadi aku tau mengenainya. "Jawab Hinata mengalihkan pandangan nya menatap Sasuke dan tersenyum.

"Prof. Nara, sekarang jawab pertanyaanku. Apakah kau tau mengenai ruang kerjamu yang diacak-acak demi mencari sepercik batu itu? " Tanya Sasuke menatap Shikaku dengan tajam. Shikaku tampak tenang-tenang saja, bahkan ia meminum tehnya dengan tenang.

"Ruang kerjaku? Tidak. Tadi pagi ketika aku pergi ke ruanganku, aku tidak menemukan kejanggalan apapun. " Jawabnya dengan tersenyum.

Hinata mengerutkan keningnya mendengar nada suara Shikaku yang terdengar tenang-tenang saja. Bahkan ia ragu kalau Shikaku curiga dengan apa yang Sasuke tanyakan. Terlihat bahwa Shikaku tenang-tenang saja, apakah berarti kalau Shikaku menyembunyikan sesuatu atau yang lebih parah tau mengenai hal ini?

"Apakah seseorang memasuki ruang kerjamu kemarin? " Tanya Sasuke lagi. Kali ini ia menajamkan tatapan nya pada Shikaku yang kini sedang mengerutkan keningnya bingung.

"Tidak. Ruangan nya aku kunci kemarin, dan seseorang pasti akan meminta kuncinya padaku jika memang dia ingin memasukinya. " Jawabnya masih dengan nada tenangnya.

"Ruang kerjamu diamankan dengan bantuan pemindai suara sebagai kunci dari ruangmu yang terbuka, bukankah begitu, Prof? " Kali ini yang bertanya adalah Hinata. Gadis itu bertanya dengan mengernyitkan alisnya binggung. Kenapa Profesor itu menjawab dengan tenang-tenang saja, kenapa tidak ada reaksi panik yang umumnya diekspresikan oleh orang yang memang mengalami kasus seperti ini. Apakah memang Shikaku tau mengenai hal ini? Atau ia sendirikah dalang dibalik pencurian kalung itu? Entahlah, Hinata tidak berani menyimpulkan hal seperti itu.

"Ya. " Shikaku menjawab masih dengan nada tenang nya. Profesor muda itu kali ini menatap kedua orang dengan gender berbeda didepan nya.

Sasuke termenung mendengarnya. Jika memang ruangan itu sudah diamankan dengan kunci suara, kenapa orang Amerika yang kemari Hinata tampilkan bisa masuk? Apakah Profesor yang ada didepan nya ini ada hubungan nya dengan orang itu? Atau mungkin dialah dalang dibalik semua data negara penting yang hilang? Atau pencurian dibalik kalung milik Mariam Dufn yang hilang?

Sebagai Detektif, ia mempunyai intunsi yang tajam mengenai prilaku seseorang, tapi ia tidak mau menyeimpulkan terlebih dahulu bahwa Shikaku lah dalang dibaling hilangnya semua data Negara dan kalung yang hilang.

"Dan jika memang ruang kerjanya kemari diacak-acak, pastinya alarm peringatan dan darurat akan menyala, tapi kenapa kemarin tidak. Aku merasakan kejanggalan atas ini. " Hinata bergumam lirih dengan tangan yang mengusap wajahnya. Ini sungguh membingungkan untuknya. Memang benar, jika memang ada orang yang berhasil membobol pemindai suara itu, alarm peringatan akan berbunyi, namun kenapa kemarin ia tidak mendengarnya, kemarin hanyalah kilasan antara ruang Shikaku yang diacak-acak, namun yang menjadi kejanggalan nya, kenapa tidak ada suara mengenai hal itu.

"Memangnya apa yang terjadi? " Tanya Shikaku binggung menanggapi gumaman Hinata yang menurutnya sangat aneh itu. Tangan nya kembali mengambil teh yang tersaji diatas meja sebelum menenggaknya hingga cairan kecoklatan itu tandas.

"Kalung milik Mariam Dufn dicuri, dan kemarin seseorang mengacak-acak ruang kerjamu, dan pastinya untuk mencari sepercik dari kalung itu yang hilang, atau bisa dibilang dibawa olehmu. " Sasuke menjawab pertanyaan yang dikeluarkan oleh Shikaku. Sebenarnya ia tidak mengerti, kenapa Shikaku mengambil percikan batu itu, memang nya apa yang harus diteliti dari percikan batu berlian hitam itu selain harganya yang berkisar dan dari tahun berapa ia tercipta.

"Aku tidak tau mengenai hal itu, dan kemarin aku tidak menemukan suatu hal yang janggal mengenai ruang kerjaku. " Jawaban Shikaku membuat Hinata memejamkan matanya. Memikirkan bagaimana bisa ini terjadi. Memikirkan bagaimana logikanya penjelasan Shikaku dan perekaman Video yang sudah ia tunjukan pada Sasuke.

"Kalau begitu terima kasih atas informasinya, kami harus pergi. terima kasih, ayo Uchiha. " Hinata langsung menarik tangan Sasuke keluar dari rumah Shikaku. Keluar tanpa menunggu sang tuan rumah mengantarkan nya sampai didepan pintu.

.

.

.

.

.

Saat ini mereka berdua sedang ada didalam mobil Sasuke. Setelah mengunjungi rumah prof. Nara, Hinata langsung pergi kedalam mobil Sasuke, dan Sasuke juga terpaksa mengikuti Hinata yang tadi menyeretnya dengan kasar.

Sebenarnya ia tidak mengerti apa maksud Hinata menariknya seperti itu, menurutnya penyelidikan seperti itu belum selesai, tapi kenapa Hinata sudah menariknya dan mengajaknya pulang. Apalagi mereka belum berpamitan terlebih dahulu dengan profesor Nara sang tuan rumah. Bisa jadi kelakuan mereka seperti itu dibilang tidak sopan, namun mau bagaimana lagi, putri Alexandre itu sudah menariknya dan mengajaknya pulang tanpa menyelesaikan penyelidikan mereka terlebih dahulu.

"Kalau memang prof itu tidak menemui kejanggalan atas hal ini, apakah Prof Nara terlibat dalam salah satunya? " Hinata yang menyandarkan kepalanya dikaca jendela mobil bergumam dengan lirih dan dengan pandangan menerawang. Mungkin memikirkan logika dari penjelasan dan bukti yang ada, atau menyusun rangkaian peristiwa yang sudah ia dapatkan dengan hasil prediksi nalarnya.

"Jangan menuduh orang sembarangan. " Sasuke berkata dengan nada datar seperti biasa. Uchiha muda itu bahkan tidak menoleh hanya untuk sekedar menatap gadis yang kini masih sedang menatap dengan ekspresi menerawang. Sesaat pandangan nya berisi lalu menoleh dengan cepat kearah Sasuke yang kini sedang tenang mengemudikan mobil Ferarri nya yang bisa dibilang berharga wah.

"Tapi lihatlah, kau pasti melihat bagaimana ekspresinya kan? Dia tenang-tenang saja, bahkan aku yakin kalau dia sempat gugup meski dapat mengembalikan raut tenang nya beberapa saat. " Hinata membela pendapatnya dengan perkataan nya yang jelas memiliki bukti karena memang benar apa adanya.

"Dengar Hinata. Jangan menuduh orang sembarangan sebelum ada bukti, lagipula mungkin ia gugup karena suatu hal. " Sasuke mencoba membela pendapatnya sendiri. Lagipula untuk apa Shikaku mencuri data Negara dan juga kalung itu? Apa gunanya? Gajinya saja satu bulan jika dihitung-hitung bisa membeli Sebuah mobil mewah Buggati Veyron super sport yang dibandrol dengan harga $2,6 million.

"Ya, suatu hal yang berhubungan dengan pencurian kalung itu. " Hinata kembali menyuarakan pendapatnya dengan nada sarkatis yang membuat Sasuke jengah. Lagipula untuk apa Shikaku mencurinya jika ia bisa mendapatkan berlian itu dengan mengumpulkan uang selama tiga bulan atau lebih.

"Tch, terserahlah. " Jawaban final yang membuat Hinata mendengus kesal akan sikap Sasuke yang terkesan acuh akan keadaan penyelidikan ini. Padahal menurutnya penyelidikan ini berhubungan penting dengan kasus yang akan mereka tangani.

.

.

.

.

.

Hinata berjalan mendekati ranjangnya yang berukuran Queen Size. Blazernya yang berwarna hitam ia buka hingga ia hanya mengenakan tank top berwarna ungu.

Gadis itu menduduki ranjang berseprai ungu yang menjadi warna favorite nya selain Lavender. Ia membaringkan tubuhnya diatas ranjang itu dengan kaki yang masih menjuntai kebawah dan High Heels berwarna hitam yang masih menempel erat dikakinya. Celana Jeans nya yang terasa ketat sangat membuatnya teras sesak meski dipakai dibagian bawah.

Sebenarnya tadi ia memakai rok rumahan selutut dengan baju bermotif bunga-bunga ketika dipanti asuhan, namun ia menggantinya ketika ia akan pergi kerumah profesor Nara. Awalnya ia tidak menyangka bahwa jeans yang ia kenakan sangat ketat sehingga rasanya seperti ini.

Gadis itu menghela nafas, memikirkan lagi informasi yang ia dapatkan dari prof. Nara yang menurutnya berperilaku sangat aneh itu. Apalagi dengan tindak tanduk dan pribahasa tubuh yang kelewat tenang seakan pria itu sudah mengetahui hal ini sebelumnya, tapi kenapa kalau ia mengetahuinya ia berkata tidak tau?

Hinata lagi-lagi menghembuskan nafas lelah. Ia mengeluarkan Android dari saku celana nya dan mencari kotak nama yang bertuliskan 'Momi'. Setelah menemukan nya ia memencet layar yang bertuliskan dial, setelah itu tidak lama, terdengar bunyi sambungan yang membuat Hinata mendekatkan Android nya ke telinga.

"Hello."terdengar suara dari ujung sana yang berarti sudah ada yang mengangkatnya. Hinata tersenyum sejenak sebelum mengambil nafas dalam dan menghembuskan nya. Baru tiga hari saja ia disini rasanya ia sudah merindukan ibunya kembali, sungguh, ia sangat rindu dengan suara ibunya yang lembut dan penuh perhatian itu, apalagi belaian halus dari tangan nya ketika ia terlelap dipangkuan nya.

"Mom. " masih dengan posisi berbaring, Hinata mencoba mengatur nada suaranya agar tidak terdengar semanja mungkin ditelinga ibunya yang sangat sensitive terhadap suara sekecil apapun itu.

"Hinata? Kau kenapa?"Tuhkah! ia sudah tahu, nada suaranya pasti akan terkenali oleh ibunya yang mempunyai mendengaran setajam silet atau lebih tajam itu.

"Semuanya membuatnya makin rumit. " Hinata mengeluarkan nada suara manjanya dan berbalik tengkurap agar mencari posisi nyaman dari acara pembicaraan nya bersama sang bunda yang tidak bertemu dalam waktu tiga hari itu.

"Apa maksudmu?"Dari seberang sana Haruna berkata dengan alis berkerut meski tau bahwa anaknya itu tidak mengetahuinya.

"Aku awalnya menduga kalau Prof Nara terlibat dalam kejanggalan ini, tapi Sasuke menyanggahnya dan malah berbalik menuduhku kalau aku berprasangka buruk pada pada Profesor nanas itu. " Hinata berkata dengan nada kesal yang ketara sekali hanya dikeluarkan untuk orang yang sudah akrab dengan kehidupan nya selama tujuh belas tahun ini.

"Profesor nanas?"Ratu Alexandre tergelak mendengar putrinya yang terlihat selalu berekspresi anggun itu berbicara dengan nada kesal kepadanya. Wanita berambut Indigo sama seperti Hinata itu tidak bisa membayangkan jika ia melihat ekspresi putrinya, mungkin ia akan langsung mencubit pipinya yang chuby itu.

"Hinata-Hinata, suaramu terdengar kesal ketika mengucapkan itu. Lalu sebenarnya apa yang kau inginkan dari menelponku ini? Hn?"Haruna memperbaiki nada bicaranya setelah mendehem sejanak. Wanita dengan usia tiga puluh delapan tahun itu terkikik kecil membayangkan bahwa ada hal yang harus ia lakukan ketika Hinata menelphone nya.

"Err...Aku ingin meminta bantuanmu dan aku juga merindukanmu. " Suara Hinata mengecil dibagian akhir. Gadis yang berusia tujuh belas tahun ketika bulan desember itu kembali mengubah posisi tidurnya hingga terlentang kembali.

"Bantuan apa?"diseberang sana Haruna sedang merapikan berkas-berkas milik perusahaan yang khusus didirikan untuk menunjang dana Finansial dari Rusia yang semuanya tidak bisa ditanggung oleh kerajaan nya saja.

"Cari semua informasi mengenai Nara Shikaku, aku masih penasaran dengan nya." Hinata berbicara dengan alis berkerut karena memikirkan tentang Shikaku yang tadi menurutnya terasa sangat aneh.

"Bukankah ada Konan? Lagipula kurasa kau bisa mencarinya sendiri."Haruna berbicara dengan nada malas yang sangat ketara, dan itu cukup untuk membuat Hinata mengembungkan pipinya kesal, mulutnya dikerucutkan sehingga tampak sangat imut, belum lagi pipinya yang sedikit kemerahan membuatnya selain imut juga tampak sangat manis.

"Konan sedang sibuk untuk memeriksa data Negara yang kemarin diduga dicuri." Hinata mencoba menjelaskan nya dan bergulingkan tubuhnya kembali hingga tengkurap.

"Lalu kau? Kurasa itu hal mudah untuk seorang detektif berpangkat komandan sepertimu."Jelas sekali Haruna berkata dengan nada yang terkesan menyindir pada anak sekaligus bawahan nya dibidang akademis militer itu.

"Aku sibuk, Mom. Aku sedang memeriksa mengenai data mengenai dugaan pencurian kalung dengan data negara yang mereka curi, mom. Ayolah, kaukan mentornya, pasti ikut dalam pertanggung jawaban atas misi ini, kan?" Hinata mengeluarkan nada manjanya kembali. Ia tahu ibunya tidak akan tega mendengar ucapan manjanya itu.

"Baiklah, jadi, kirimkan semua data mengenai Shikaku itu, akan kucari informasi mengenainya."Benarkan, dugaan nya terbukti benar. Ia terkikik kecil dan menjauhkan Androidnya sebelum menjawab sambungan dari Haruna.

"Thanks mom."Hinata berkata dengan riang dan tersenyum lebar membalas ucapan Haruna.

"Aaa"setelah itu tidak ada percakapan lagi karena sambungan telah terputus dan diganti dengan Hinata yang mengutak-atik Androidnya untuk mencari data milik Nara Shikaku yang ia curigai berkomplot dengan tiga orang yang kemarin sudah ia curigai. Namun yang menjadi pertanyaan nya adalah, jika memang Shikaku mencuri data negara, untuk apa? Itu yang menjadi pertanyaan yang berseliwiran dikepala Hinata.

.

.

.

.

.

Waktu sudah menunjukan pukul 23.25, hampir tengah malam memang, namun Sasuke masih belum bisa tidur karena banyak pertanyaan yang masih berbayang dengan kasus negara. Lagipula jika memang Shikaku mencuri data negara, lalu apa hubungan nya dengan kalung Mariam Dufn yang dicuri. Jika memang kalung itu dijual, uangnyapun akan digunakan oleh Shikaku untuk apa. Gaji dari pemerintah sudah sangat besar, apalagi jika ditambah dengan penjualan dari kalung itu.

Sasuke menggeleng-gelengkan kepalanya. Rasanya kepalanya akan pecah memikirkan kejanggalan ini. Tidak seperti misi sebelumnya, dimana ia hanya akan menyelidiki kasus yang berhubungan dengan korupsi, rakyak maupun teroris, bukan urusan data negara atau kejanggalan seperti kalung atau data negara yang dicuri, yang lebih parahnya lagi, kenapa Hinata –rekan- tidak langsung menangkap dalang yang kemarin sudah dicurigai. Kenapa menyelidikinya satu persatu, dan itu membuat kepalanya makin sakit saat memikirkan nya.

Sasuke mendudukan tubuhnya diranjang yang sempat ditidurinya. Helaian rambut Raven nya berantakan. Tangan nya meremas sisi seprai ranjang nya, memikirkan bagaimana dan apa motif dibalik kejanggalan ini.

Satu hembusan nafas panjang keluar dari hidung Sasuke karena lelah. Pemuda itu merasa bahwa tugas yang diemban nya cukup berat dibandingkan dengan tugas-tugas yang ia laksanakan sebelum nya.

Drrtt drrtt drrtt

Smartphone nya bergetar diatas nakas menandakan bahwa ada panggilan masuk atau pesan yang disampaikan di smartphone nya.

Sasuke mengernyitkan kening nya. Bertanya dalam hati kenapa malam-malam begini Smartphone nya bergetar. Kakinya menginjak sandal rumahan sederhana yang dibuat khusus untuk piyamanya. Tidak jauh dari tempat tidur, tangan Sasuke yang putih mengambil smartphone itu. Melihat nama yang terpampang jelas layarnya dengan panggilan Baka Aniki.

Ia dan kakaknya memang tidak terlalu akrab karena baru bertemu setahun yang lalu. Kakaknya yang sedari kecil tinggal bersama paman nya di Amerika, dan ketika umur kakaknya menginjak umur lima belas tahun yang artinya umurnya masih delapan tahun, kakaknya pindak ke Sidney untuk melanjutkan studynya, dan ia baru dipertemukan ketika tahun lalu diacara ulang tahun nya. Dan saat itu ia sangat kaget kalau ternyata ia mempunyai kakak.

Dengan cepat jarinya menyentuh layar smartphone nya dan mendekatkan nya ketelinga nya. Kakinya melangkah kembali ke ranjang nya semula, melepaskan sandalnya dan berbaring kembali ke ranjang nya yang nyaman itu.

"Moshi-moshi. " Suara Sasuke yang berat namun sopran terdengar merdu ditelinga siapapun yang mendengarnya, termasuk Itachi yang berada diseberang sana.

"Baka Otouto!" Itachi yang memang dari awalnya merindukan Sasuke langsung saja menyerukan tanpa memanggil nama Sasuke lagi. Pria yang berstatus sebagai direktur Uchiha Corp itu sedang cengengesan diseberang sana tanpa memperdulikan Sasuke yang diseberangnya merasa tuli karena suara Itachi yang lebih terdengar nyaring daripada sebelumnya.

Sasuke tersenyum samar. Walaupun baru bertemu setahun lalu, ia dan Itachi sudah akrab layaknya kakak dan adik. Itachi yang memang orang nya selalu semangat dan ceria membuatnya mudah bergaul dengan pria yang menyandang status sebagai kakaknya itu. Ia juga mengakui bahwa ia merindukan kakaknya yang sudah empat minggu tidak bertemu karena kakaknya dipindah tugaskan ke London untuk membuka cabang baru disana.

"Tch, baka aniki. " Sasuke masih berkata dengan senyum samar dibibirnya. Ia tidak akan secara terang-terangan mengakui bahwa ia merindukan orang yang sedang ada diseberang sana. Harga dirinya terlalu tinggi untuk mengakui itu.

"Kudengar kau sedang menyelidiki kasus tentang pembobolan data negara itu, hn?" Sasuke mengerutkan kening mendengarnya. Darimana kakaknya tau mengenai hal itu? Apakah ada mata-mata yang dikirim Itachi untuk memantau dirinya? Sasuke menggeleng, tidak mungkin kakaknya melakukan itu, mungkin Kakashi yang memberitahukan nya.

"Ya."

"Siapa yang menjadi partnermu kali ini?" Sasuke mengerutkan kening kembali, darimana kakaknya tau mengenai hal partner-pertneran dalam menjalankan misi? Ia rasa ia harus bertanya pada Kakashi jika memang Kakashi yang membicarakan hal ini bersama Itachi, namun sekarang pertanyaan kembali membubuhi kepalanya. Benarkah Kakashi kenal dengan Itachi? Itu yang menjadi pertanyaan yang sekarang hinggap dikepalanya

"Hinata Alexandre. " Jawabnya singkat, jelas dan benar+akurat. Dapat Sasuke dengar pecahan kaca diseberang sana, entah kenapa Sasuke marasakan firasat buruk tentang hal ini.

"APA! Bagaimana wajahnya?! Apakah cantik?! Bagaimana tubuhnya, apakah sexy?! " Sasuke menjauhkan smartphone nya dari telinganya. Tuli mendadak ia mendengar kakaknya berteriak seperti itu padanya.

"Singkirkan dulu fikiran mesum mu itu, baka. " Sasuke berdesis kesal atas pemikiran kakaknya yang menjerumus ke hal yang pastinya akan ada diatas 18+

"Hei! Wajar sajakan, aku laki-laki normal, tidak sepertimu yang menyukai sesama." Sasuke melotot tajam mendengar apa yang dikatakan oleh kakanya diseberang sana. Jika kakaknya berada disini bersamanya, sudah dipastikan bahwa ia akan langsung membungkam mulut kakaknya itu dengan tangan nya sendiri.

"Berani kau berbicara seperti itu lagi, kubungkam mulutmu langsung dengan tanganku. " Sasuke berdesis kesal kepada Itachi yang terdengar sedang terkekeh atas apa yang didesiskan oleh adiknya itu.

"Baiklah, aku rasa sekarang sudah malam, aku mengantuk, jaa."Setelah mengatakan itu Itachi langsung menutup sambungan. Sasuke melihat layar yang menampilkan sambungan kembali menjadi wallpaper foto ibunya yang sedang memeluknya.

Sasuke meletakan smartphone nya disamping nya. Ia memejamkan matanya, berharap kantuk akan datang menyergapnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Maaf buat yang mengharapkan cerita ini cepat update, Yuko minta maaf. Bukan karena apa-apa tapi Yuko udah disibukan dengan tugas sekolah Yuko yang bejibun banyak.

Sekolah aja pulang jam empat, dua jam kemudian kalo emang lagi mood, palingan ngetik, terus abis maghrib ngaji, abis ngaji ngerjain tugas yang anehnya setiap hari selalu ada. Dan abis itu tidur, makanya Yuko minta maaf kalo fic-fic Yuko nggak bisa Update cepet.

Guest : Ini udah lanjutkan?

Ao Yuki Neko : Yup, Yuko termasuk SHI, SasuHina Indonesia. Err... sebenernya sih Yuko bukan Cuma SH, tapi Yuko suka semua pair yang Hinata menjadi peran wanita utamanya, yang artinya Yuko Hinata Lovers.

HinataUchiha69 : Err.. Gomen, Yuko nggak bisa ngecepetin jadwal updatenya, itu tergantung dengan mood Yuko menulis.

Bluerose : Hinata? Keren? Menurut Yuko Hinata emang selalu keren.

Bee Hachi : Benarkah? Kalah pinter sama Hinata? Itu emang niat awalnya Yuko bikin fic ini.

Pingki954 : Ini udah lanjut. Makasih atas pujian nya, Yuko tersanjung.

Cecil Hime : Jangan panggil Kazaqi, cukup Yuko.

.

.

.

.

.

Untuk semua, makasih buat Reviewnya. Meski Cuma sedikit, Yuko berterima kasih banget buat Reader yang udah baca maupun Silder. Makasih banyak buat sebelum nya.

Arigatou-

Yukori kazaqi