Disclaimer : Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi

Warning: Rate M (untuk amannya)Semi-Canon,typo, OOC, & OC.

Inspired by Sakurasou no Pet na Kanojo(Anime)

Pair : Midorima Shintarou x Tanaka Rei(OC)

Midorima memandang Rei yang berkata lirih. Pandangan nanar gadis itu tertuju pada pria berambut cokelat di depannya, sedangkan si pria yang dipandangi seperti itu hanya membalas dengan tersenyum lembut.

"Ah, kau sedang bersama temanmu ya?"

Rei mengalihkan pandangannya dengan kaku. Midorima yang merasa bahwa Rei sedang dalam tidak keadaan baik mencoba menyelamatkannya. "Midorima Shintarou."

"Takahashi Naoki." Katanya. Ia lalu beralih pada Rei lagi. "Kudengar kau pindah sekolah, kenapa tidak memberitahuku?"

Rei makin mencengkeram erat lengan Midorima, sampai pemuda itu merasakan sakit. Menyadari Rei yang tak segera menjawab pemuda itu melepaskan cengkeraman kuat Rei dan berganti merangkul bahu gadis itu.

"Dia sedang tidak enak badan." Dustanya, sekalian untuk menyelamatkan keadaan yang tak menyenangkan ini.

"Benarkah? Kalau begitu biar aku yang memeriksanya. Aku seorang dokter."

Midorima kini mengumpat dalam hati. Niatnya untuk menyelamatkan Rei malah membuat gadis itu semakin terpojok. "Tidak perlu." Midorima menaikkan kacamatanya dengan tangan satunya. "Aku yang akan mengantarkannya ke klinik."

"Hee? Begitu?" katanya dengan nada geli. Bagi Takahashi, Midorima terdengar begitu posesif pada Rei. "Senang bertemu denganmu lagi, Rei. Aku harap aku bisa bertemu denganmu lagi dan mengobrol banyak seperti waktu itu."

"Oh… ya Sensei." kata Rei dengan lemah.

"Kami permisi." Kata Midorima sambil menarik Rei dalam rangkulannya.

Rei terdiam. Ia tak mengeluarkan sepatah kata pun sampai mereka keluar dari taman bermain. Sikap Rei yang berubah begitu bertemu dengan pria itu membuat Midorima mau tak mau berusaha menenangkan gadis itu yang gemetaran menahan tangisnya. Tak ada pilihan lain, akhirnya pemuda itu mencari taman terdekat dan duduk di salah satu bangku, ia terus berada di sana bersama Rei yang mencengkeram jaketnya dan menangis di dada pemuda itu.

Midorima hanya menghela napas dan menepuk kepala gadis itu dengan pelan. Ia tak tahu apa masalah Rei dengan pria tadi, tapi melihat Rei yang seperti ini membuatnya yakin bahwa itu bukanlah masalah yang mudah.

...

Sejak bertemu pria bernama Takahashi hari Sabtu lalu, tidak ada kemajuan yang berarti untuk Rei. Bahkan gadis itu lebih parah dari sebelumnya. Midorima yang awalnya hanya membangunkan gadis itu saja, kini harus menekan rasa malunya ketika ia membantu gadis itu mandi dan memakaikannya pakaian.

Selain sikap Rei yang seperti itu di pagi hari, di sekolah Rei menjadi lebih pendiam dari biasanya. Bahkan sebagian besar waktu yang dihabiskannya selama di sekolah ia gunakan untuk melamun. Teman-temannya pun mulai mengabaikan Rei yang berubah, dan memilih tidak mengacuhkannya.

"Shin-chan," panggil Takao.

Midorima memandang pemuda berambut hitam itu. "Ada apa?"

"Kau tahu ada apa dengan Rei-chan?"

"Kenapa aku harus tahu?" balas Midorima dengan kesal. Tidak, ia bukan kesal pada Rei. Tapi, ia kesal pada pertanyaan yang diajukan Takao padanya.

Takao melirik Rei yang tengah memandang ke luar jendela dengan wajah mengantuk. "Aku jadi merasa bersalah karena membatalkan janji kencan dengannya. Apa dia seperti itu karena aku membatalkannya?"

Midorima memandang ke arah Rei lalu menaikkan letak kacamatanya. "Untuk sikap Tanaka yang sekarang, itu tidak ada hubungannya denganmu-nanodayo."

"Benarkah? Apa terjadi sesuatu saat kalian berkencan? Kulihat dia masih tersenyum begitu pergi denganmu."

"Tentu saja tidak-" Midorima lalu memandang Takao dengan tajam. Takao yang dipandangi seperti itu menelan ludahnya, menyadari bahwa ia telah kelepasan bicara. "bagaimana kau tahu saat itu Rei pergi bersamaku?"

"He he he…" Takao tertawa dengan canggung. "habisnya, waktu aku ingin menjemput Rei-chan di apartemennya aku lihat kau juga ada di sana. Jadi, yah kupikir lebih baik untuk tidak pergi berkencan dengannya."

Midorima menggeram mendengar jawaban Takao. "Aku hanya kebetulan lewat sana-nanodayo."

"Kau yakin? Tapi kulihat kau berdiri tepat di depan pintu apartemennya. Sepertinya ajakan kencanku membuatmu terganggu." Kata Takao masih dengan cengirannya.

Midorima terdiam. Ia tak bisa lagi menyanggah Takao.

"Jadi Shin-chan, maukah kau memberitahuku tentang hubunganmu dengan Rei-chan?"

...

"Tanaka," panggil Midorima begitu membuka pintu apartemen gadis itu.

Tak ada jawaban. Hari ini gadis itu tiba-tiba meminta izin pada wali kelas mereka untuk pulang lebih cepat. Midorima yang merasa khawatir bergegas ke apartemen gadis itu untuk memastikan gadis itu baik-baik saja.

Midorima menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan dan mendapati gadis itu tertidur pulas di depan televisi yang menyala dan beberapa kemasan makanan ringan dan minuman kaleng kacang hijau yang kosong.

"Tanaka," panggil Midorima berusaha membangunkan gadis itu.

Baru saja ia akan mengguncangkan bahu gadis itu, Midorima mengurungkan niatnya begitu dilihatnya jejak air mata gadis itu yang mengering di pipinya. Apa yang terjadi dengan Rei? Pertanyaan itu berputar-putar di kepalanya.

"Uhm…" Rei menggeliat.

Midorima sedikit kaget. Ia bertanya-tanya dalam hati, sejak kapan ia menyentuh pipi Rei?

"Shin," suara lirih dan parau itu membuat Midorima menarik tangannya.

"Tidak baik tidur di sini, nanti kau sakit-nanodayo."

"Hm…" Rei bergumam tidak jelas. Ia bangun dari posisinya dan menguap di telapak tangannya. "apa ini sudah pagi?"

"Ini masih sore, di hari yang sama saat kau izin pulang terlebih dahulu." Jawab Midorima sambil membereskan kemasan makanan ringan yang berserakan itu.

"Jadi, mengapa Shin di sini?"

Midorima terdiam. Ia memutar otaknya untuk memberikan alasan yang logis untuk menjawab pertanyaan itu. "Aku hanya ingin memberikan tugas dari sekolah-nanodayo."

"Oh." Kata Rei dengan pelan. "Kau baik sekali."

Wajah Midorima menghangat mendengarnya. "A-aku hanya melakukan tugasku-nanodayo."

Rei tersenyum. Entah mengapa tiba-tiba matanya berair, dan ia kembali menangis. "Terima kasih, Shin."

Midorima terkejut melihat air mata Rei. "Berhentilah menangis." Ucapnya tanpa sadar.

Rei mencoba menghapus air mata dengan kedua tangannya. "A-aku ingin… tapi, kenapa air mataku terus keluar? Kenapa?"

Midorima memandang Rei lembut. Entah mengapa ia merasa hatinya begitu sakit melihat Rei menangis. Diraihnya kepala gadis itu, dan disandarkannya ke dadanya sendiri, lalu kemudian ditepuk lagi kepala itu dengan pelan.

...

Mengunjungi Rei sepulang latihan basket, entah mengapa sudah menjadi rutinitas yang dilalui Midorima sehari-hari. Sedangkan di lain hari, ia akan mengantar gadis itu ke apartemennya dan tinggal di sana selama beberapa saat. Dan kali ini didapatinya gadis itu tengah duduk sambil memeluk gitar akustik dan memandangi metronome dengan melamun.

"Tanaka," Midorima mencoba memanggilnya lagi.

Tak ada respon. Suara yang dihasilkan metronome tetap menghipnotis gadis itu. Midorima menghela napas dan menghentikan pendulum yang bergerak.

Rei lalu memandang Midorima. "Shin,"

"Apa yang sedang kau lakukan?"

"Oh. Ini…" katanya sambil tersenyum kecil. "Aku berniat untuk latihan, tapi ternyata pikiranku pergi ke tempat lain begitu mendengar suara ketukkannya."

"Kalau begitu, lanjutkan latihanmu. Aku ingin melihatnya."

"Eh?" Rei sedikit heran mendengarnya namun ia kembali mengatur tempo pada metronome dan mulai memetik gitar akustiknya dan menyanyikan sebuah lagu berbahasa Inggris. Setelah menyelesaikan lagu itu, ia pun menghentikan gerak pendulum metronome dan bertanya, "Bagaimana? Bagus bukan?"

Midorima menelan ludah. Itu bukan lagi bagus, tapi sempurna. Namun, karena gengsinya yang tinggi ia hanya mengangkat kacamatanya dan berucap, "Tidak terlalu buruk-nanodayo." Katanya. "Apa judul lagu itu?"

"Especially for you. Lain kali akan kunyanyikan lagu yang lain untukmu." Katanya sambil tersenyum.

Midorima tak menanggapi. Ia memang pernah menggunakan metronome saat bermain piano, tapi bukan metronome analog seperti yang dimiliki Rei.

"Ngomong-ngomong soal metronome aku jadi teringat akan judul lagu yang sama dengan namanya. Ternyata lagu itu bertemakan hubungan sepasang kekasih yang tidak stabil. Jadi, harus menggunakan metronome agar hubungan berjalan lancar dengan tempo yang sesuai." Ujar Rei sambil tersenyum.

"Kau pernah mengalaminya?"

"Eh?"

"Hubungan yang tidak stabil itu?"

Rei menggeleng. "Tidak pernah."

Midorima terdiam. Di kepalanya berbagai pemikiran terus berputar. Ia ingin Rei menjadi lebih baik. Pemuda itu tidak ingin gadis itu terus-terusan seperti ini.

"Lalu, ada hubungan apa kau dengan Takahashi-san?"

Rei terperanjat mendengarnya. "Kenapa kau menanyakan itu?"

Midorima menaikkan letak kacamatanya. "Yang menyebabkanmu seperti ini sudah pasti pria bernama Takahashi itu, kan?"

"Sensei tidak ada hubungan apa-apa denganku."

"Lalu kenapa kau begitu terpengaruh dengan kehadirannya?"

"Aku… hanya…" mata Rei mulai kembali berkaca-kaca. "aku…"

"Tanaka,"

Midorima baru akan meraih gadis itu ke dalam pelukannya seperti sebelumnya, namun Rei berdiri dan berteriak dengan keras. "Jangan memanggilku seperti itu!"

Midorima menahan napas terkejut. Rei lalu berlari ke kamarnya dan menutup pintu dengan keras. Midorima menghela napas. Ia akhirnya memutuskan pergi ketika didengarnya tangisan Rei. Gadis itu perlu sendiri.

...

"Shintarou-kun, maaf membuatmu harus menemuiku ketika kau berlatih basket." Kata wanita berambut hitam itu dengan nada menyesal.

"Tak apa Asumi-san," jawabnya. Midorima yang tengah berlatih basket terpaksa meninggalkan jadwalnya untuk menemui wanita yang sangat sibuk itu.

"Apa Rei-chan menyusahkanmu?" tanyanya.

"Sama sekali tidak."

Wanita itu tersenyum. "Begitu ya?" katanya dengan pelan. "Sebetulnya, sebelum kupindahkan dia ke Shuutoku, dia seharusnya sudah memulai debutnya sebagai penyanyi."

Midorima memandang Asumi dengan pandangan terkejut. Melihat mata Midorima yang melebar Asumi hanya tersenyum sendu. "Di sekolah lamanya, Rei-chan memiliki beberapa masalah. Aku yang dipanggil saat itu pun tak percaya bahwa Rei terlibat skandal semacam itu dengan gurunya. Tapi, Rei hanya diam saja dan tak mau menjelaskan apa pun padaku."

Midorima mengernyit. Ia lalu mulai berpikir. Jika ia ingin menolong Rei, ia harus memulainya dari sekolah lamanya. "Asumi-san, dimana Rei bersekolah sebelum ia dipindahkan ke Shuutoku?"

"Dia bersekolah di Kanagawa. Kaijou Koukou."

Mata Midorima melebar. Saat mendengar nama sekolah itu, yang terlintas di kepalanya adalah mantan anggota Kiseki no Sedai yang paling berisik itu. Kise Ryouta.

...

Bruk.

Midorima mengernyit begitu melihat tubuh kecil gadis itu termundur ke belakang sehingga buku catatan kecil dan pensi mekaniknya terjatuh ke tanah. Midorima tak habis pikir, kenapa gadis itu berjalan-jalan sambil menulis seperti itu? Bukankah itu cukup berbahaya jika dia menghadapi tangga yang menurun?

Gadis berambut merah yang baru saja menabraknya itu mengambil barangnya yang terjatuh lalu memandang Midorima dengan mata sayunya. "Maaf." katanya.

Midorima menaikkan kacamatanya. "Kau tidak apa-apa?" Tanyanya. Gadis itu menggeleng. "Lain kali hati-hatilah-nanodayo."

Gadis itu lalu memiringkan kepalanya dan memandang Midorima dengan penasaran. "Apa itu '-nanodayo'?" tanyanya yang terdengar seperti anak kecil.

"Midorima-cchi," sapa Kise yang muncul di belakang gadis berambut merah itu. Tangan kanan Kise merangkul bahu si gadis sedangkan telapak tangan kanannya menyentuh dahi gadis itu.

"Kise," balas Midorima.

"Kise?" ulang gadis itu.

Kise yang mendengar itu menghadapkan si gadis padanya dengan perlahan dan menunduk untuk memandang gadis itu. "Bukan Kise, Haruna." Katanya dengan lembut. "Panggil aku Ryouta."

"Ryouta." ulangnya dengan pelan seakan-akan mengeja nama Kise.

"Gadis pintar." Katanya sambil mengusap helaian merah itu dengan sayang. "Oya, jangan pergi lagi seperti tadi. Kau mengerti?"

"Hm." Haruna mengangguk.

"Yakusoku?" Kise menyodorkan jari kelingkingnya.

Haruna lalu mengaitkan kelingkingnya dengan milik Kise. "Hm, yakusoku."

"Bagus. Nah, kembalilah ke lapangan basket dan tunggu aku di bench, oke?"

Gadis itu mengangguk lalu pergi meninggalkan kedua pemuda itu. Midorima speechless selama beberapa saat melihat kejadian tadi. Ia tak pernah melihat Kise seperti itu sebelumnya.

"Hisashiburi-ssu," sapa Kise. Tak lama kemudian pemuda itu lalu mengajaknya menuju kafetaria sekolah yang sepi, lalu duduk berhadapan di salah satu meja. "Ada apa, Midorima-cchi? Kau tiba-tiba menelepon dan bilang ingin menemuiku. Apa ada suatu hal yang penting?"

"Ada sesuatu yang ingin kutanyakan. Apa kau mengenal Tanaka Rei, siswi yang pindah awal musim panas lalu?" Tanya Midorima.

Kise yang mendengar nama itu tersentak. "Tanaka-cchi? Dia teman sekelasku dulu. Kenapa kau menanyakannya?"

"Tanaka pindah ke Shuutoku awal musim panas lalu. Aku ingin mengetahui alasan kepindahannya."

"Itu bukan sesuatu yang bagus untuk dibicarakan-ssu." Kata Kise dengan wajah sedikit murung.

"Ada apa?"

Kise mengubah posisi duduknya. Kedua tangannya yang terlipat di atas meja ditekannya dan berbisik, "Yang kudengar dari rumor yang beredar Tanaka-cchi tidur dengan seorang guru."

Mata Midorima melebar. "Itu tidak mungkin!" serunya tiba-tiba.

Kise terlonjak mendengarnya. Midorima yang menyadari ia telah lepas kendali cepat-cepat menarik napas dan berusaha tenang. Tak berapa lama kemudian ia lalu menyuruh Kise melanjutkannya.

"Aku tidak tahu detailnya bagaimana, tapi setelah itu Tanaka-cchi dikeluarkan dari sekolah, dan itu membuat rumor yang beredar itu terlihat seperti benar-benar terjadi-ssu." Katanya. "Jujur saja, aku cukup terkejut mendengar rumor jelek seperti itu tentang Tanaka-cchi. Tapi, aku masih tak bisa mempercayainya. Terlebih lagi, Haruna begitu menghormati Tanaka-cchi seperti kakaknya sendiri."

"Apa guru yang terlibat skandal dengannya itu bernama Takahashi?"

"Ya," Kise mengangguk. "tak lama lagi kudengar ia akan menikah dengan putri pemilik sekolah ini."

Midorima mengangguk. Informasi yang didapatnya dari Asumi tidak begitu jelas, namun kini ia bisa memahami semuanya. Hanya saja, ia ingin mendengar kebenarannya dari Rei sendiri.

"Terima kasih, Kise."

...

"Hen-ti… kan," suara rintihan itu membuat Midorima mengepalkan tangannya dengan geram. Lorong apartemen itu sepi, dan ada sedikit nuansa gelap karena lampunya yang remang. Dapat dilihatnya dengan mata kepalanya sendiri, Takahashi mendorong gadis itu ke pintu apartemennya dan menciumnya dengan paksa. Dalam cahaya lampu lorong yang tak terlalu terang, Midorima dapat melihat kilatan jejak air mata di pipi Rei dan juga usaha gadis itu memberontak untuk melepaskan diri.

Suara Rei yang terisak membuat Midorima tidak tahan. Ditariknya kerah pria itu, dan dihantamkannya tepat ke wajahnya. Pria itu tersungkur di lantai dan mengerang kesakitan. Takahashi bangkit dan memandang Midorima dengan tajam.

"Midorima," geramnya.

Midorima membuka mulut untuk menyebut marga Rei, namun ia ingat betapa Rei benci mendengar panggilan itu untuknya. Panggilan itu bukan karena gadis itu membenci marganya. Tetapi, karena Takahashi selalu memanggilnya seperti itu. Begitulah yang disadari Midorima beberapa hari yang lalu.

"Masuk, Rei!" perintah Midorima.

Rei yang tersadar dari keterkejutannya memutar kunci yang sudah terpasang di pintu lalu menghambur masuk. Setelah pintu tertutup, Midorima memandang Takahashi dengan waspada.

"Aku minta padamu untuk tidak mengganggu kehidupan Rei lagi." Katanya dengan nada mengancam. "Untuk sekarang dan seterusnya, akulah yang akan melindungi Rei. Tak akan kubiarkan kau mengusiknya lagi."

Tsuzuku

Er… yah, er… beginilah chapter ke-2 dari Metronome. Terima kasih untuk yang sudah read, review, foloow & fave (Brownchoco-san, Kaito Akahime-san, sherrysakura99-san) cerita ini. Semoga tidak begitu mengecewakan. Sekali lagi, terima kasih.