.:oOo:.
Naruto (c) Masashi Kishimoto.
Uchiha Yuki-chan (not so) proudly presents...
Still Innocently Innocent (c) Uchiha Yuki-chan
Rate: T.
Genre: Drama / Romance / Humor
Warning: What do you expect from my fics? Of course, OOC-ness here and there. Include the using of Bahasa anak gaoehl. Plot kurang ngena. Romance minim. And lebayisme here and there.
I ain't gaining any commercial advantage by publishing this fic. Thank You.
.:oOo:.
Aku semakin mempercepat langkah kakiku. Sesekali kulirik arloji berwarna merah muda yang ada di pergelangan tangan kiriku. Dan aku menghembuskan nafas frustasi kala melihat kedua jarum utamanya menunjukkan pukul empat sore.
Ah! Kuharap aku tidak membuatnya menunggu terlalu lama! Sebaik apapun dia, toh cowokku itu juga manusia. Ada beberapa hal yang bisa membuat mood-nya berubah menjadi jelek. Dan salah satu dari beberapa hal tersebut adalah jika ia harus dibuat menunggu.
Dan tentu saja, aku akan bisa sampai di pertigaan tempat kami janjian bertemu satu jam lebih awal, jika saja para gadis yang mengaku sebagai fansgirl-nya itu tidak membuatku kerepotan untuk bahkan mencapai gerbang sekolah dengan selamat.
Aku semakin berlari kuat saat kedua mataku menatap pertigaan tempat kami bertemu beberapa meter di depan sana. Dan dari arah sini, sudah terlihat jelas warna merah menyala yang ada di sekitar situ.
Warna merah yang membuat jantungku berdetak cepat. Entah oleh rasa senang karena akhirnya bertemu dengannya, atau karena perasaan cemas jika telah mengesalkannya.
Sesampai di sana dan berhenti di sampingnya, aku membungkuk sembari memegangi kedua kakiku. Nafasku terdengar sangat memburu, efek dari lari marathon yang seharian kulakukan di sekolah. Keringat dingin juga kurasakan membasahi tubuhku.
Ya Tuhan, sampai kapan sih, aku akan seperti ini?
Setelah merasa cukup aku 'beristirahat' sejenak, aku segera kembali berdiri tegap sambil tangan kananku menyingkap tudung jumperku dari kepalaku. Kacamata hitam yang akhir-akhir ini menjadi mata ketiga dan keempatku, kini kulepas dan kumasukkan ke saku kemeja, berikut ikat rambut yang tadi kupakai, membuat helai merah mudaku kembali menjuntai.
"Hah, Sasori-kun, maaf. Aku terlambat," ucapku mengawali pengakuan dosa. Memang, ini semua bukan salahku jika fansgirl-nya begitu kalap dan kehilangan kesadaran seperti itu jika bertemu denganku. Tapi tetap saja, aku merasa bersalah membiarkannya menunggu selama satu jam di musim panas yang menyengat begini, "Apa kau sudah lama?"
Semenjak tadi, ini pertama kalinya aku mengalihkan pandanganku dan menatap wajahnya. Ekspresi kesal dan cemberut yang semula kubayangkan, tak dapat kulihat.
Karena aku melihat wajah itu menunduk malu-malu, menyembunyikan rona merah yang menghiasi kedua pipinya yang putih.
"A-ap –Oh, Tidak, kok! Tak apa. Yah...," ia menjawabku dengan agak cepat-cepat, sembari sesekali melirik ke arahku, namun kemudian ia akan menunduk lagi.
Aku mengangkat alisku melihat wajahnya yang semakin memerah. Kami-sama, aku pasti telah membuatnya menunggu lama hingga kulitnya merona tersengat matahari.
Dasar aku kejam!
Aku segera membuka tas ranselku dan mengeluarkan topi berwarna hitam yang selalu kubawa, sebagai cadangan jika aku lupa memakai jumper-ku di sekolah. Lalu aku berjinjit sedikit, berusaha mencapai kepala Sasori, untuk kemudian perlahan kupakaikan topi hitam itu di kepalanya, menutupi helai kemerahan yang tumbuh lebat dan berantakan di sana.
Dan kurasakan ia sedikit kaget oleh tingkahku, bisa kusimpulkan demikian karena ia sempat mundur satu langkah saat aku mendekatinya tadi.
"Ah?" itu yang ia ucapkan dengan raut heran, sembari kedua matanya melirik ke atas dan tangan kirinya memegang ujung topi berwarna hitam itu.
Aku tersenyum, "Maaf, kau pasti kepanasan, 'kan? Sekarang kau sudah merasa teduh."
Ia kembali melihatku sembari tersenyum.
Satu detik, aku masih membalas senyumnya.
Tiga detik, senyumku mulai meluntur sedikit.
Enam detik, ekspresi heran menggantikan senyumku yang sempat mengembang.
Sepuluh detik, "Hei, kau lihat apa? Apa ada yang aneh dengan diriku?" tanyaku dengan nada sedikit membentak sekalipun aku belum mendengar jawabannya.
Jujur saja, tatapannya itu membuatku merasa tak nyaman.
Ia hanya tertawa kecil sembari menundukkan kepala dan menggaruk belakang kepalanya. Ia terlihat sangat kikuk saat berkata, "Sakura, kau cantik."
BLESH!
Wajahku langsung saja terasa panas. Jika sekarang aku berdiri di depan kaca, maka aku pasti akan melihat pantulan wajahku yang kini pasti menyaingi terangnya merah helai Sasori.
Aku ternganga kecil, merasakan detak jantungku terasa lebih kuat ketimbang saat telah kupakai lari marathon sehari penuh di sekolah. Tubuhku membeku di tempat dan nuraniku sibuk memperdebatkan apakah yang barusan kudengar itu benar-benar nyata atau tidak.
Karena... Hello? Akasuna no Sasori nge-gombal?
Jeez, meskipun ucapannya tadi hanya sekedar pujian sederhana, namun efeknya lebih dahsyat dari gombalan seorang playboy kelas kakap lengkap dengan rayuan ala Andre Taulani OVJ (?).
Dengan gugup dan terbata, aku pun membalas dengan nada sedikit membentak, berusaha menutupi kegugupan yang kurasa, "Baru nyadar, kau?! Huh! Padahal sudah kenal lama, kan?!"
Tak kuat lama-lama menatap wajahnya yang memandang heran dan tak mengerti padaku, aku segera melangkah pergi dari sana. Jika tadi aku datang dengan berlari, maka aku kini pergi dengan jalan cepat.
I was blushing madly!
"Eh? Kenapa? Apakah kau marah?" tanyanya saat ia berhasil menyusulku dan kini menyejajari langkahku. Wajahnya ia tolehkan kepadaku sembari kembali berkata, "Ah, maaf. Mungkin karena sekarang kita pacaran, jadi aku lebih bisa melihat jelas. Hahaha. Tapi percayalah, kini kau terlihat cantik, Sakura."
'Oh! Jadi sebelum kita pacaran aku tidak terlihat menarik?!' umpatku dalam hati dengan mood swing layaknya ibu-ibu hamil.
Hah, sudahlah. Yang penting aku mendapat pujian darinya.
-oOo-
"Kau tahu, aku akhir-akhir ini merasa tidak nyaman jika pergi ke sekolah," ucapku saat kami sudah mencapai separuh perjalanan dan kami menghabiskannya hanya dengan diam.
Diam dengan aku yang menunduk dan masih blushing layaknya remaja labil yang baru saja salaman dengan Justin Bieber, dan dengan dia, Sasori, cowokku, yang jalan dengan santainya sambil sesekali mengatakan suatu hal konyol dan nonsense macam, "Eh, awannya di atas sana membentuk layang-layang," atau "Kau tahu, Sakura? Aku baru saja tadi mendapat pengetahuan bahwasanya di angkasa terdapat dimensi waktu yang bisa menyebabkan hukum relativitas blablabla," atau "Hm. Tadi Shion-chan memberiku coklat. Rasanya enak. Ah, aku lupa menyisakannya untukmu. Tak apa, 'kan? Haha."
Aku menghembuskan nafas keras hingga meniup poni di dekat dahiku, sembari memutas bola mataku dengan kesal.
Sepertinya satu-satunya yang nervous karena pujiannya tadi di sini hanya aku, deh. Lihatlah dia. Hidup dengan ceria seolah tanpa teringat bahwa ia baru saja mengatakan sesuatu yang membuat perasaanku meledak-ledak.
Dan apa? Dia bahkan berani mengatakan sesuatu tentang salah satu fansgirl fanatiknya itu? Hah!
"Ya, kau memang punya banyak penggemar," ujarku pelan dengan nada kesal dan menyindir.
"Ah, ya. Itu berarti aku akan mendapatkan coklat seenak itu setiap hari, 'kan?" dan sayangnya sindiranku harus mental jatuh ke tanah saat tak bisa mencapai hati dan pikirannya.
Aku menghela nafas lelah, "Kau tahu, Sasori? Mereka sangat keterlaluan," ujarku lirih sembari menundukkan kepala, berusaha agar dia tidak melihat kedua mataku yang mungkin sekarang tengah menyiratkan sorot sendu.
"Siapa?" responnya segera.
"Mereka, cewek yang begitu memuja-mujamu dan memberimu coklat itu!" jawabku sedikit keras, berusaha untuk mendapatkan pembelaan dan penenangan dari kekasihku.
Dan yang kudapat sebagai balasan adalah, "Oh. Memangnya kenapa?"
Aku menggeram lirih sebelum berkata dengan masih tidak menatap wajahnya, "Kita begitu berbeda. Mereka begitu memujamu dan di saat yang sama, mereka begitu membenciku hingga rasanya bahkan di sekolah pun, aku bisa merasakan aura membunuh yang menguar dari tatapan dan ucapan mereka. Mereka begitu tidak menyukai hubungan kita ini. Kau pangeran, aku budak belia. Kau elang, aku cacing tanah. Kau Kakashi-sensei dan aku Orochimaru-sensei!" sambungku dengan makin ngelantur. Aku sadar itu. Tapi amarahku kini berhasil menguasai diriku. Di satu sisi marah karena ulah gadis binal itu, dan di sisi yang lain, kecewa karena bahkan sumber dari semua ini bahkan merasa bahwa tak ada yang salah dengan kehidupanku dan hubunganku dengannya, "Apakah kau tahu semua itu?"
Langkahku semakin memelan, seolah aku ingin memanfaatkan jarak yang masih tersisa dengan mencurahkan keluh kesahku pada orang yang paling kupercaya. Karena jujur saja, rasanya aku sudah tidak kuat lagi dengan semua ini.
Aku semakin menatap sayu tanah di bawahku saat tak mendengar balasan darinya. Kesepuluh jemariku meremas ujung kemeja seragam yang kupakai, berusaha menahan rasa jengkel dan capek atas semua ini.
"Kau tidak tahu, kan, jika aku setiap hari harus berlari-lari ke sekeliling sekolah untuk menghindari mereka?" lanjutku dengan intonasi yang memelan, "Apakah kau tahu juga, bahwa dua hari yang lalu mereka menjatuhkan air comberan bau banget dari atas kamar toilet cewek? Apakah kau juga tahu bahwa setiap hari aku selalu menemukan setumpuk surat ancaman agar berpisah denganmu, di lokerku? Danapakahkautahubahwaakuseka rangtengahdikejarOrochimaru-senseikarenasuratcintakonyolyangme rekaberikanatasnamaku?!"
Suasana hening kemudian.
Aku menghirup dan menghela nafas dalam-dalam, merasa sesak di dalam sini oleh semua emosi yang terasa. Namun aku juga belum berani untuk menatap wajahnya.
Ya, karena aku mulai merasa bersalah karena menimpakan semua kepenatan dan kemarahan ini pada Sasori, meski ini semua bukan salahnya.
Apakah keinginannya memiliki fansgirl brutal dan abnormal demikian? Tidak, kan?
"Lalu, katakan...," kudengar suaranya, namun aku belum berani berpaling padanya, "Katakan.. Apa yang harus kulakukan?"
Hatiku mencelos mendengar suaranya yang terdengar lirih itu.
Ah, bego! Kenapa aku jadi emosional begini? Demi Tuhan, semua ini tidak akan terjadi jika para gadis itu menerima dengan ikhlas dan lapang dada akan fakta bahwa Sasori sekarang sudah berpacaran denganku, lanjutkan kehidupan mereka masing-masing dan carilah cowok baru dan single untuk dijadiin idola mereka!
"Ya mana kutahu," ucapku ketus yang kontras dengan rasa bersalah yang menyelinap di hatiku, "Kenapa kau begitu populer sekali? Hah... Bahkan saat aku berpacaran dengan Sasuke-kun juga tidak begini-begini amat, kok."
Aku tahu, mulutku telah berucap kata-kata setingkat lebih kejam.
Dasaaaarrrr! Kenapa harus membanding-bandingkan Sasori-kun dengan si ayam itu, sih?!
Sejenak, hanya kesenyian yang lagi-lagi mengisi suasana. Aku masih berjalan dengan menunduk, tanpa menoleh ke arah Sasori semenjak perbincangan panas ini dimulai. Sesekali hasrat untuk meminta maaf timbul di hati, namun saat itu juga terkubur saat mengingat semua rutinitas berat yang harus kualami di sekolah karena semua hal ini.
Namun, kesunyian itu terpecah saat aku memekik pelan dan kaget, ketika tubuhku tertarik mendekat ke arahnya.
Dan dia memelukku dengan hangat dan erat.
"..."
Aku sedikit menganga merasakan tubuhku didekap olehnya. Satu tangannya melingkari pinggangku, dan satu tangannya menempelkan kepalaku dengan lembut ke arah dadanya.
Dan dari sini, di balik dada tempatku bersandar ini, aku bisa mendengar dengan telingaku suara detakan yang kencang dan cepat.
"Tenanglah, Sakura. Mulai sekarang, aku akan melindungimu," bisiknya lirih, "Janji."
Satu tetes air mata luruh dari mataku saat mendengar kalimatnya tersebut.
Sekarang aku tahu, mengapa kau begitu berharga bagi mereka. Begitu berhaganya hingga mereka tak merelakanmu untuk dimiliki oleh satu gadis saja.
-oOo-
Ini adalah awal kebangkitan revolusi dari Haruno Sakura!
Aku melangkahkan kaki dengan semangat. Langkah lebar, senyum senantiasa tergelar. Mataku menatap mantap ke depan, tangan terkepal kuat.
Ya! Inilah aku yang sesungguhnya.
Haruno Sakura yang ceria. Haruno Sakura yang semangat dan tak kenal rasa gentar! Haha!
Selamat tinggal jumper dengan tudungnya yang menutupi wajah ceriaku. Selamat tinggal kacamata yang menyembunyikan sinar mataku. Dan ucapkan kata perpisahan pada ikat rambut dengan helai merah mudaku yang kini kembali menjuntai.
Apa? Apakah aku tidak takut pada grup norak dan abnormal yang menamai diri mereka dengan Sasori fansgirl itu?
Jawabannya, tidak lagi! Aku bukan lagi Sakura yang pengecut. Aku bukan lagi Haruno yang bisa mereka teror dan hanya bisa menyembunyikan diri. Aku bukan lagi Haruno Sakura yang akan pontang panting begitu melihat wajah sangar mereka.
"Hah! Kalian dengar? Aku mencintai Sasori-kun dan Sasori-kun mencintaiku!" kataku sedikit keras ketika akan melewati gerbang sekolah, "Jangankan satu sekolah, seandainya dunia menentang kami pun, akan kami hadapi selama kami saling mencintai! Sasori-kun akan melindungiku! Hahaha."
Sigh. Aku tampak dan terdengar seperti orang gila berbicara dan bertingkah seperti itu.
Aku melanjutkan langkahku dengan semangat. Sesekali lagu-lagu perjuangan cinta yang tertentang macam Ours-nya Taylor Swift, kulantunkan kecil dari mulutku.
Ya. Love prevails! Go girl!
Aku tak akan lari lag-
DEG!
Mataku melotot horor ke depan dan langkahku terhenti seketika.
"Itu Sakura, kan?!"
"Benar! Hah, ketemu juga kau, ya, akhirnya!"
"Awas kau!"
Satu.
Dua.
Tiga.
"GYAAAAAAAAAAAAA!"
Revolusi Haruno Sakura: Gugur sebelum berjuang.
-oOo-
Hari kedua revolusi Haruno Sakura.
Nafasku terengah-engah menahan rasa capek dan deg-degan. Jam di arlojiku menunjukkan pukul tujuh lewat empat menit di waktu pagi.
Dan sekarang aku masih berada di pagar luar sekolah, dammit!
Revolusi Sakura apanya, orang begitu ngelihat fansgirl itu dari jarak satu kilometer saja aku sudah ngibrit duluan.
Dan beginilah, aku berdiri dengan terengah-engah di luar sekolah. Tepatnya, di pagar beton yang mengelilingi dan membatasi sekolah dengan wilayah sekitarnya. Aku berdiri, menempelkan rapat-rapat tubuhku di tembok, seolah takut terlihat oleh salah seorang fansgirl Sasori yang mungkin saja ada masih ada di luar.
Sigh. Andai saja sekarang tidak ada ulangan dari Kakashi sensei, maka aku pasti akan langsung pulang saja, toh udah telat.
Lebih baik tidak sama sekali daripada terlambat.
Aku menelan ludah dengan sulit dan menatap mantap ke arah pagar beton yang menjulang. Permukaan tembok itu tidak rata oleh tonjolan-tonjolan batu yang membentuknya. Jadi mungkin aku bisa... memanjatnya? Jangan tanya kenapa tidak lewat gerbang saja. Cih, mana mau aku menghabiskan separuh waktu belajarku dengan mencabuti rumput halaman sekolah jika ketahuan satpam!
Aku mulai menaikkan sebelah kakiku di pagar, memijakkannya pada salah satu tonjolan batu. Kedua tanganku berpegangan erat pada tonjolan batu yang lain.
Aku menelan ludah.
Satu langkah.
Tiga langkah.
Empat langk-
"Hei! Apa yang kaulakukan?!"
BRUKH!
"Hehehe... Ah, cuacanya sangat cerah, ya, Pak Ibiki?" ujarku ngeles dengan payah, pada satpam yang berkacakpinggang di depanku sana.
-oOo-
Hari ketiga revolusi Haruno Sakura.
Celingak-celinguk.
Aku tampak begitu aneh dengan sikapku ini. Bagaimana tidak, aku berjalan melewati halaman sekolah pagi itu dengan sikap bagai bagai buronan kelas kakap yang identitasnya takut terungkap di depan publik.
Hah... Kupikir hari-hari penyamaranku sudah kandas. Nyatanya...
DUKH!
"Aww..." keluhku lirih dan pelan sembari memejamkan mata dan tangan kananku yang mengelus lirih pelipisku yang terasa habis membentur sesuatu.
Mungkin karena aku terlalu fokus melihat kesana-kemari, aku tak menyadari apapun yang ada di depanku.
Aku mendongak, ingin mengetahui apa yang baru saja kutabrak.
Dan seketika aku menelan ludah dengan sulitnya.
"Grrrr... Haruno! Mati kau di tanganku!"
Shion-chan, Ketua grup nyentrik yang menamakan diri mereka Sasori Fansgirl.
Terang saja, suara merduku terdengar lagi menggema di seantero sekolah.
"GYAAAAA!"
Langkah seribu no jutsu bahkan sudah kupraktekkan di pagi hari buta begini.
Karena takut dicampur gugup ditambah kepepet, aku langsung masuk saja ke ruangan yang pertama kali kulihat saat aku berlari dikejar Shion-chan.
BLAK!
Pintu ruangan itu kubanting dengan keras.
...
...
...
"GYAAAAAAAAAA!" teriakanku terdengar semakin keras bersamaan dengan suara bantingan pintu ruangan itu yang kubuka kembali, berikut kemudian aku berlari dengan muka merah yang kututupi kedua telapak tanganku.
Siapa yang iseng meletakkan toilet cowok disituuuuuuuuuuuuuu (?) ?!
-oOo-
Hari keempat kalinya.
Langkah lariku terhenti otomatis saat aku telah mencapai nyaris tepi kolam dari klub renang.
Mataku menatap horor pada ke permukaan air, dan menoleh ke belakang saat kudengar suara-suara cekikikan kepuasan dari umat-umat laknat yang tak habis-habisnya mengejarku sampai tamat (?).
"Fufufu.. Kemana lagi kau, heh?"
"Mati kau, sekarang."
"Tak ada jalan menghindari, Sakura?"
Belum sempat aku berbicara, mereka semua dengan wajah kalap seperti serigala lapar, segera berlari ke depan dan bermaksud untuk menerjang dan mencengkeramku.
Karena instingku masih bekerja, aku otomatis menggeser posisi berdiriku ke samping.
Dan otomatis pula,
BYUR!
Lunturlah make-up berlebihan mereka saat tubuh mereka terendam dalam air.
Aku, tak dapat menahan rasa senang dan girangku, segera meloncat sembari mengacungkan dua jariku membentuk tanda peace dan berteriak pada mereka yang kini memelototiku, "YES! LOVE PREVAILS!"
Dan aku kabur lagi.
-oOo-
Hari kelima revolusi Haruno Sakura.
Aku berlari kuat-kuat di halaman sekolah saat istirahat pertama siang itu. Di belakangku, terdapat sekumpulan manusia yang juga melakukan hal yang sama denganku.
Dalam hati aku mengumpat, sampai kapan mereka berniat main kucing dan anjing denganku begini?!
Saat aku berlari, tak sengaja aku menoleh ke samping dan melihat Sasori tengah duduk di bawah pohon maple yang tak jauh dari tempatku 'berjuang' sekarang.
Aku tersenyum dan segera berteriak, sambil tetap berlari, "Sasoriiiiiii-kuuuuuuuuuuuuunnn! Tolooooonggg!"
"Awas kau Sakuraaaaaa!" orang-orang yang mengejarku berteriak bagai regu koor.
Namun sayang, Sasori tidak mendengar dan tampak masih sibuk dengan orang-orang yang mengerubunginya. Pasti belajar bersama. Terlihat dari beberapa di antara mereka –termasuk Sasori- memegangi buku.
Aku kembali melintas di depan Sasori, kali ini dari arah kiri ke kanan.
"Sasori-kuuuuuuuunnn!"
"Hei kauuuuu! Berhentiiiiiiii!"
Tetap nihil.
Kali ini aku datang lagi dari arah kanan ke kiri.
"Dasar bodohh! Kau mendengarku tidakkk?!"
Kulihat, Sasori-kun sempat nyaris menoleh ke arahku. Tapi salah seorang cewek di dekatnya menundukkan kembali kepalanya, sedikit memaksanya untuk kembali menatap buku yang dipegangnya dan mengacuhkanku.
Dan kulihat, setelah itu cewek itu menjulurkan lidahnya ke arahku.
"Pink jeleeek! Kesini kauuuuuu!" regu koor di belakangku masih bersuara.
Alhasil,
Masih nihil
-oOo-
Hari keenam kalinya revolusi Haruno Sakura.
Aku mengendap-endap di antara rak-rak buku yang menjulang tinggi di perpustakaan itu. Aku baru saja menjadikan perpustakaan ini sebagai tempat tujuanku untuk meloloskan diri dari kejaran fansgirl yang oh Tuhan, aku tak tahu sampai kapan mereka akan menaruh dendam kesumat kepadaku.
Aku berjalan pelan-pelan, dengan kedua tanganku yang memegang sebuah buku yang asal kucomot dari salah satu rak, dan membentangkan buku itu di depan mukaku, berusaha menyembunyikan wajahku dari fansgirl Sasori yang mungkin saja ada di perpustakaan ini. Heh! Jaringan mereka kan luas. Bisa saja mereka tersebar di mana-mana.
Langkahku terhenti saat tanpa sengaja aku menatap ke suatu arah.
Di sana, di salah satu ruang baca di perpustakaan.
Sasori duduk dengan seorang gadis manis nan cantik di sampingnya. Sebuah laptop berwarna merah muda, terbuka di depan mereka. Sasori mengatakan sesuatu pada si gadis dengan telunjuk tangan kanannya yang menunjuk sesuatu di layar laptop itu. Sedangkan kedua mata mereka menatap layar laptop dengan serius.
Selang beberapa saat, si gadis tersenyum. Ia menoleh ke Sasori dan menepukkan sekali kedua tangannya, mungkin ia tengah mengumbar kekaguman dan pujaan kepada cowokku? Tapi bukan itu yang membuatku merasa gerah saat itu juga. Melainkan karena setelah itu, cewek itu dengan seenaknya mencubit gemas kedua pipi cowokku dan mengacak kecil rambut merahnya.
Dan sialnya, cowok yang kusebut cowokku itu terlihat santai saja dan menerima semua perlakuan manis itu.
Heh.
Bahkan aku yang pacarnya saja belum pernah mengacak rambutnya seperti itu.
Aku perlahan menunduk, tatapan mataku berubah sayu. Otakku kembali memikirkan semua hal ini. Penolakan fansgirl Sasori, sikap Sasori yang terlalu ramah untuk membentak dan mengasari gadis itu, dan juga hal yang kini terpampang di depanku.
Aku cemburu?
Jelas.
Pikiranku buyar saat aku merasakan sesuatu menepukku pelan dari belakang. Aku otomatis menoleh, dan langsung menelan ludah begitu melihat dua orang cewek tersenyum sinis dan menatap sangar ke arah.
"Hallo, Sakura," bisik mereka dengan nada menyeramkan.
Tak peduli sekalipun ini perpustakaan, teriakanku kembali terdengar bersamaan dengan jurus langkah seribu yang kembali kupraktekkan.
-oOo-
Hari kesekian kalinya revolusi Haruno Sakura.
Aku merapikan kemeja seragamku begitu aku keluar dari toilet cewek saat siang itu. Aku menghela nafas berat. Sejauh ini, belum ada satupun fansgirl Sasori yang mengejarku. Heh. Bukannya aku mengharap dikejar atau apa, hanya saja aku heran, mengapa? Apakah mereka pada akhirnya sadar bahwa mereka harus pasrah dan mencari objek lain untuk dipuja?
Baguslah kalau begitu.
Aku melangkah menjauh dari toilet cewek. Dan seperti deja vu, langkahku terhenti begitu aku melihat apa yang terpampang tak jauh dari tempatku berdiri.
Sasori, dan lagi-lagi, dengan seorang cewek.
Mereka duduk di bangku dekat lapangan basket. Si cewek menunduk, sesekali mengusapkan sesuatu berwarna putih –sepertinya tisu- ke mukanya. Bahunya terlihat naik turun dan bergetar, sesekali ia meremas ujung rok seragamnya. Dan Sasori duduk dengan menghadap ke arahnya. Terdiam, seperti mendengarkan dengan seksama apapun yang diucapkan cewek itu kepadanya.
Lalu, yang paling menyakitkan bagiku, adalah ketika Sasori mengangkat wajah cewek yang tertunduk itu, untuk kemudian menghapus sesuatu dari kedua pipinya dengan ibu jarinya. Mungkin cewek itu tengah menangis, aku tidak peduli.
Yang aku pedulikan sekarang adalah rasa sakit ini.
Sakit saat Sasori menatap cewek itu dengan pandangan lembut.
Perih saat melihat Sasori menyingkap helai yang jatuh di dahi cewek itu.
Dan cemburu saat melihat cowokku mendekap cewek lain di dadanya.
Aku mengalihkan pandanganku dan menghela nafas berat.
Seingatku, hanya satu kali Sasori menyatakan cintanya padaku. Itupun secara tak lisan, lewat selembar bungkus coklat di hari valentine waktu itu (1).
Dan sampai sekarang, tak pernah kudengar kalimat yang sama terucap dari mulutnya.
Satu pertanyaan besar muncul di benakku.
Apakah cintanya kepadaku setulus hati dan kepribadiannya terhadap orang lain?
belcambung
(1) Ini salah satu adegan di Oneshot Innocently Innocent, fic SasoSaku saya yang lain :D
Seperti yang mungkin kalian sadari, saya ubah judul dan genre fic ini :) Biar lebih pas (?) dengan alur ceritanya.
Terimakasih sebelumnya.
Critics and comments are whole-heartedly appreciated. I highly appreciate and thank more to those who minds giving their thoughts. So please, no silent readers!
January, 2013
Uchiha Yukeh-chan
