Trouble (The Sequel)

Shinngeki No Kyojin (c) Hajime Ishiyama

Rate T+

Warnings: BL, fantasy, OOC, n Typos RivaEren

Jika anda bukan penggemar yaoi, jangan dibaca ya? tanggung sendiri apa yang akan terjadi kedepannya,,,

Tes!

Cairan berbau amis menetes satu-satu pada bebatuan kering nan hitam dibawah sana. Sumbernya dari sebuah gumpalan raksasa yang tengah mengepul, beroksidasi dengan udara sebagai hasil dari reaksinya dengan energi matahari. Sang manusia terkuat dalam sejarah, Corporal Rivaille berdiri gagah menatap tanpa ekspresi hasil kerja tangannya, memotong-motong tubuh titan, spesifiknya, mencincangnya hingga tidak terbentuk.

Ekspedisi ke wilayah Shingashima semakin membuahkan hasil. Hanya empat atau lima wilayah hutan yang perlu di tempuh untuk sampai ke sana, sekitar 8 kilometer lebih. Dan jika misi ini berhasil, maka alasan keberadaan titan yang menjadi sumber hancurnya peradaban manusia akan terkuak.

Grisha Jeager, pemegang kunci atas rahasia ini, sampai saat ini masih dinyatakan hilang tak berjejak. Kerajaan Sina bahkan telah mencoret namanya dari daftar kependudukan setempat. Dengan status: meninggal dunia.

"Heichou!"

Suara panggilan feminim mengalun, diikuti dengan munculnya serombongan tentara dengan lambang sayap kebebasan, pasukan khusus. Diantaranya, hanya ada seorang perempuan berambut pirang emas yang cantik dan memiliki karisma tersendiri. Petra Ral. Dialah yang memanggil Rivaille tadi. Wanita yang satu-satunya bisa bertahan dalam pasukan elit tersebut. Mengesampingkan Hanji Zoe yang jenis kelaminnya masih tanda tanya.

"Kita mundur! Sudah hampir malam. Hutan tidak berpihak pada kita jika malam hari"

Semua pasukan bersiaga, hormat dan tunduk pada perintah.

"Hai!"

...

Pasukan pengintai yang dikirim Komandan Erwin Smith untuk memperluas wilayah ekspedisi ke Shingashima dan menganalisa wilayah titan kembali sesaat setalah matahari terbenam. Tidak ada korban meninggal dunia, tidak ada. Hanya saja, setiap pertempuran pasti ada luka, sekecil apa pun itu. Karenanya, melihat salah satu senior bernama Erd dipapah oleh kawannya dengan kondisi mengenaskan cukuplah menjadi salah satu bukti bahwa titan bukanlah lawan yang mudah, meskipun dengan tim terkuat sekalipun.

Meskipun wajah mereka suram ketika datang, dan wajah-wajah yang lain yang menunggu di kastil perisritirahatan mereka khawatir, Eren tetap memandang mereka dengan mata yang berbinar penuh tekad dan semangat. Membuat kilatan aneh terpancar dari mata Rivaille. Seolah mengatakan 'Kau mau mencobanya bocah?'.

"Silahkan beristirahat dan membersihkan diri! jangan lupa hadir saat makan malam"

"Hai"

Sertelah memberikan perintah, Rivaille bergegas memasukkan kudanya pada kandang. Makhluk gagah itu mengusapkan hidungnya pada telapak tangan Rivaille, seolah-olah itu adalah ucapan selamat malam. Memunculkan senyum teduh pada wajah Rivaille. Eren yang curi-curi pandang dari pintu masuk menundukkan wajahnya, tersenyum bodoh.

"Bocah,..."

Eren terlonjak, friksi aneh itu langsung mengirim impuls ke otaknya dan menghasilkan detak jantung yang meningkat dua kali lipat.

"Ya?" Eren mengangkat wajahnya, tidak sadar Rivaille telah berdiri dihadapannya.

"Ikut denganku"

Eren mengangkat alis, tidak paham. Namun langkahnya tegap mengekor pada kapten yang terkenal sadis itu, tanpa keraguan. Memang, Rivaille itu absolut dengan semua kata yang keluar dari mulutnya.

"Kau sudah membersihkan diri?"

"A-ah. Sudah Heichou!"

Eren ragu-ragu menjawab. Berharap saja Rivaille tidak menyuruhnya membersihkan toilet itu lagi. Demi titan-titan rakus diluar sana! Tadi pagi baru saja Eren gosok sampai mengkilat.

"Keberatan menghangatkan bak mandiku?" Rivaille membuka pintu kamar pribadinya yang luas dan tentunya bersih tanpa ada noda atau bau yang tidak sedap. Kamar Rivaille berada di lantai dasar memang, bersebelahan langsung dengan tangga menuju ruang bawah tanah. Spesifiknya, kamar Eren sendiri.

Tidak, tidak. Kamar Eren dikastil ini bukanlah penjara bawah tanah seperti pada markas Recon Corps umumnya. Kamar Eren lebih manusiawi dengan ranjang kasur yang berselimut tebal, meja nakas, kamar mandi dalam, serta lampu gantung mewah ditengah-tengah ruangan. Hanya saja, permodelan kamar Eren dibuat berbentuk silinder menajam kebawah, mirip dengan sumur gali. Untuk mengantisipasi ketika Eren mengamuk. Untuk sampai ke kamar Eren, dibuat 10 anak tangga untuk turun ke bawahnya.

"Siap sir!" Eren mengangguk hormat dan segera menuju kamar mandi Rivaille. Sedang empunya sendiri tengah melucuti pakaiannya, bersiap untuk memulai ritual yang paling disenanginya selain membayangkan bocah hijau itu.

Eren bernyanyi-nyanyi kecil saat menuang batu mandi panas dalam bak mandi Rivaille. Bunyi cess dan gelembung air yang muncul dipermukaan membuat Eren tertawa kecil seperti bocah. Kemejanya digulung sampai siku begitupula dengan celana coklatnya. Segala artibut tentara yang melekat pada tubuhnya telah teronggok diatas meja batu disudut ruangan.

Puk,

Eren menjatuhkan satu batu lagi ketika dirasanya air mandi pada bak belum hangat. Ujung pengait besi yang dipegangnya untuk mengambil batu dari tungku pembakaran ditaruhnya dilantai bersama sarung tangan anti panasnya. Eren akan mengecek suhu air kembali ketika gorden tersibak terbuka.

Disana, Rivaille berdiri menantang dengan handuk menutupi area pribadinya, menatap Eren tajam.

"Sir"

Rivaille mendekat, tanpa melepaskan kontak mata mereka. Eren menahan napas gugup.

"Berapa banyak yang kau masukkan?" Rivaille melirik bak mandi yang beruap dan beriak kecil. Ada sekitar tujuh batu dalam bak tersebut. Eren menoleh dan memekik pelan. Air mandi yang disiapkannya mendidih sekarang! Ada gelembung-gelembung yang meletup-letup dipermukaannya.

"Waah. Sir, maafkan saya!" Eren buru-buru membungkuk dalam-dalam.

Rivaille mendengus,

"Bocah. Itu bukan batu biasa. Satu atau dua batu saja cukup. Seharusnya kau membiarkannya lima menit terlebih dahulu baru mengecek airnya"

Rivaille dengan telaten menggunakan sarung tangan dan mengambil batu-batu itu dengan pengait yang sebelumnya diletakkan Eren. Menyisakan satu buah batu saja. Setelahnya, ia mengalirkan kembali airnya sampai tumpah ruah. Eren berjengit saat merasakan air yang tumpah ruah itu begitu panas.

"Buka penghalang airnya bocah. Atau kau mau kamarmu mendidih malam ini"

Eren terburu-buru melaksanakan perintah Rivaille. Tak lama setelahnya, air panas tersebut perlahan-lahan menyusut dan mengering. Rivaille mengecek kembali air pada bak mandinya dan sesaat setelahnya ia mematikan kran air.

"Maaf Sir!"

"Tak apa"

Hening.

"Kau tidak mau keluar bocah? Aku ingin berendam"

"Eh?"

Eren mendongak lalu mengangguk hormat, bersiap keluar dari kamar mandi.

"Tunggu"

Eren tidak jadi melangkah, berbalik kembali pada Rivaille yang kini tengah berendam dibak penuh busa beraroma citrus, Eren suka baunya.

"Tunggu 30 menit dikamarku. Jangan coba-coba kabur nak"

Eren mengangguk tegang dan bergegas keluar dari tempat itu.

Eren tidak tau berapa lama ia tertidur ketika tepukan pada kepalanya membuat ia sadar. Rivaille tengah menatapnya datar dengan handuk dikepala. Eren terlonjak kaget dan segera berdiri dari kursi dan membungkuk hormat.

"Heichou"

"Baru tigapuluh menit kau sudah tertidur? Dan Eren, kita tidak sedang bertugas jadi panggil namaku" Rivaille melepas handuknya sembari mendorong Eren jatuh ke tempat tidur disampingnya. Derit ranjang terdengar saat Rivaille ikut naik. Eren tergugu.

"S-sir..." Eren menutup mata saat pria diatasnya menginvasi tengkuknya. Rivaille menghirup aroma bocah titan itu, sebuah candu baginya yang telah ia impikan dalam 72 purnama belakangan ini. Katakan ia pria pedofil, Rivaille tidak peduli jika itu menyangkut bocah bermata hijau yang ingin Rivaille congkel dan taruh dimeja kerjanya, untuk dilihatnya sehari-hari.

"Bagaimana bokongmu Eren? Aku lepas kendali begitu tau kau bocah masokis yang hobi mengiris tubuhmu sendiri sembari membayangkan diriku"

"Ah, Hei—mhh.."

Rivaille memasukkan dua jarinya kedalam mulut Eren, pemuda itu sontak menatap Rivaille tepat dimata. Sekelebat seks panas beberapa hari lalu diingat Eren. Sejujurnya, bukan kemauan Eren melakukan hobinya itu pada barak utama tempat prajurit beristirahat. Naas malam itu kamarnya sedang direnovasi lantainya, sehingga ia kepergok Rivaille dengan keadaan mengenaskan. Berlumuran darah dan spermanya sendiri dengan kemeja Rivaille yang ia endus baunya. Rivaille menyeretnya kasar menuju kamar pribadinya dan semuanya terjadi. Eren berkali-kali digagahi sampai pagi, Rivaille menunjukkan kekuatannya dikasur malam itu.

"Katakan Eren, sejak kapan?"

Eren terengah-engah saat Rivaille menarik lidahnya, saliva membekas pada bibirnya yang merah dan terbuka, Rivaille melirik sebelum ia kembali fokus pada bola mata Eren yang menantang.

"Sejak—, sejak Heichou menyiksaku pada markas Recon Corp"

"Oh, saat itu. Jadi kau bocah masokis yang hobi disiksa eh?"

"Bukan Heichou!" Eren bangkit dan sedetik kemudian menyesali tindakannya itu. Lututnya menyenggol benda keras diselangkangan Rivaille. Demi titan! Rasanya pasti tidak enak disundul jika dalam keadaan ereksi. Rivaille berjengit.

"Ma-maaf"

Eren kembali rebahan dalam kungkungan lengan kekar Rivaille.

"Ne, Eren. Keberatan kita melakukannya?"

Eren merah padam sampai telinga. Pasalnya, bukan hanya ajakan verbal saja yang dilakukan Rivaille, tangannya pun tengah bergerilya pada paha bocah itu.

"Mau tidak?" Rivaille menyesap leher coklat Eren sembari berbisik mengoda. Sialan, heichou benar-benar tau cara membangkitkan gairah Eren. Leher dan tengkuk adalah kelemahannya.

Ragu-ragu Eren mengangguk. Rivaille menyeringai senang.

Woaaaahhh,,,,NANI-KORE? HE-HENTAI? Kenapa akhir-akhir ini ane jadi bejat sekali ya?

Well, lupakan. Jadi intinya, ini hanya cerita pendek bagaimana kelanjutan Trouble. Rivaille yang terjerat pesona iris Eren dan Eren masokis dengan caranya sendiri. Penyakit menyiksa diri sendiri ketika berada dalam girah seksual. Yah, Eren mengiris nadinya sendiri tanpa takut mati. Well, dia Manusia-titan right? Dan ketika Rivaille mendapatinya dalam kondisi seperti itu, ia menyeret Eren, menggagahinya sampai pada limit keduanya bisa melakukan hal itu.

Dan, yang penasaran apa Rivaille dan Eren berstatus pacaran? Well, mereka tidak perlu kata cinta. Rivaille terobsesi sampai seperti overdose, dan Eren akan terus menyiksa dirinya jika Rivaille tidak memperhatikannya. Jadi keduanya membutuhkan satu sama lain, dan itu adalah alasan yang cukup untuk mereka.

So, Review? Kritik? Saran?

See u next time!

Kitsune Kyuubi