Percayakah kalian mengenai jinx tentang pertemuan?
Pertemuan pertama...
Kedua...
Dan ketiga...
Yang berakhir dengan bersatunya kedua orang asing yang bisa bertemu untuk ketiga kalinya tersebut.
.
.
.
Laila-ela Shim MinKyu YeWook aka Ela-kyuhyunnie presents
"Rendezvous" ch 2
Pairing : YooMin ( Park Yoochun X Shim Changmin)
Rate : T
Desclaimer : They're belongs to GOD, Themselves and DBSK, but this story is 100% mine
Warn : YooMin crackpair, TYPO's, cerita abal pasaran yang oh-so-dramascene
Don't like this pair? Make it easy, guys, just click the back icon or the close icon, Ok?
Don't you ever dare to bash the chara or the pair!
If you want to flame or bash, just come to me, and I—with pleasure—will make you know what the Hell it is #evilsmirk
.
.
.
"Aku benar-benar heran dengan dirimu, Min-ah," ucap seorang namja tampan yang kini duduk santai di sebuah sofa. Ia kini menatap seorang namja manis yang tengah lahap memakan makanan delivery yang dipesan dari restaurant miliknya.
"Hmm? Waeho hung(waeyo hyung)?" tanya namja manis itu dengan mulut penuh dengan makanan.
"Aniya. Selesaikan dulu saja makanmu," ujarnya sambil menahan senyum ketika melihat mulut namja manis itu menggembung penuh dengan makanan yang dilahapnya sedari tadi.
"Ne," ucap namja manis berbadan tinggi itu sambil meneruskan makannya dengan lahap. Ini sudah menu makanan kelima yang ia habiskan, dan sekarang masih ada tiga jenis makanan lagi yang menunggu untuk ia lahap. Menyenangkan sekali~
Sementara itu, namja tampan yang kini terus mengulum senyumnya melihat tingkah namja manis kita itu kini mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Mata indahnya menelusuri tiap sudut apartement kecil yang merupakan tempat tinggal dari namja manis yang ia kenal secara tak sengaja di tengah keramaian kota.
Sepasang mata tajamnya menelisik setiap sudut apartement yang hanya memiliki berupa ruangan yang tak seberapa luas, dengan satu kamar tidur dan juga satu kamar mandi. Ruang tamu dan ruang dalam di buat sendiri dengan memberi batas berupa sekat kecil yang bermotif langit biru dengan awan putih berarak indah. Ruang tamunya pun hanya berisi satu meja dan tiga buah sofa tunggal. Sebuah kalender yang tergantung di dinding adalah satu-satunya penghias di ruang tamu kecil itu.
Sedangkan ruang dalam—tempatnya berada kini—hanya terdiri dari sebuah sofa panjang dengan sebuah televisi di depannya, yang tak jauh dari tempatnya terdapat sebuah meja dengan dua kursi yang berfungsi sebagai meja makan—tempat dimana namja manis berwajah tanpa dosa itu sedang melahap makanannya. Di samping meja makan itu terdapat dapur minimalis. Sesuai dengan namanya, dapur itu memang sangat minimalis. Hanya terdapat satu buah kompor gas dengan satu buah panci dan wajan saja yang ada di situ. Di dekat tempat cuci piring, hanya terlihat tiga buah piring, mangkuk dan gelas, serta beberapa sendok, garpu dan sumpit.
Yoochun tersenyum geli ketika sepasang manik matanya bergulir dan terhenti di sebuah kulkas yang terletak di samping tempat cuci itu. Sebenarnya tak ada yang aneh dari kulkas itu, namun sebuah tulisan yang tertempel dengan angkuh di depan kulkas itulah yang membuat senyum geli terpoles di wajah tampannya.
Don't touch and don't you dare to open, without my permission! All of the food inside this, is MINE!
.
"Haaah~ Mashita~!" seruan puas yang terlontar dari sosok lain di apartement ini membuat sang namja tampan mengalihkan perhatian, dan seulas senyum lembut langsung merekah di bibirnya ketika melihat tingkah namja manis itu.
"Minum dulu, Min-ah," ujar namja itu dengan lembut. Rasa-rasanya setiap melihat namja manis itu, ia selalu merasa ingin bersikap dengan penuh kelembutan. Tak sekalipun terbersit keinginan untuk bertindak dingin dan kasar pada namja manis berwajah polos, yang menurutnya terlihat rapuh itu.
"Ne, Yoochun-hyung," sahut namja manis yang dipanggil Min-ah itu. Dengan segera ia langsung meminum air untuk melancarkan kerongkongannya.
"Kau tinggal sendirian disini?" tanya namja tampan bernama Yoochun itu sambil tak melepaskan pandangannya dari namja manis itu.
"Ne. Waeyo, hyung?" tanyanya sambil membereskan bungkus-bungkus makanan yang bertuliskan 'Micky' itu.
"Aniya. Hanya saja, aku sungguh heran," gumamnya lirih, dan mengundang tanya bagi namja manis itu.
"Eh? Heran kenapa, hyung?" tanya namja itu dengan wajah innocentnya yang terlihat sangat imut bagi sepasang mata indah milik Yoochun.
"Shim Changmin, dengan nafsu makan yang tak bisa dibilang biasa itu hidup sendiri dengan kemampuan memasak yang nol besar. Aku hanya heran mengenai bagaimana caramu hidup selama ini," ucapnya dengan ketertarikan yang tak bisa di sembunyikan, meskipun pilihan katanya terdengar cukup menyindir itu.
Changmin, namja manis itu hanya menatap sang namja tampan itu dengan tatapan datar.
"Dan aku sendiri juga sebenarnya bertanya-tanya, mengapa seorang Park-Micky-Yoochun, pemilik Micky-restauant dengan puluhan cabang tersebar di seluruh korea ini mau mengantarkan sendiri pesanan delivery makanan dari seorang namja biasa sepertiku?" balas Changmin sambil berjalan menjauhi meja makan untuk membuang bungkus makanan itu ke tempat sampah.
"Nice question," puji Yoochun sambil mengangkat salah satu kakinya dan menyilangkannya di atas kaki satunya. "Tapi kau tahu, Min-ah, buatku, kau lebih dari sekedar seorang namja biasa," ucapnya dengan nada suara yang terdengar serius.
"Eh?" Changmin menolehkan pandang ke arah Yoochun yang kini menatapnya dengan intens, membuat Changmin langsung mengalihkan wajahnya. Entah bagaimana, ia sungguh tak sanggup menatap balik pada mata Yoochun saat ini. "A-apa maksud hyung?" tanyanya dengan agak tergagap.
"Maksudku itu tepat sesuai dengan apa yang kukatakan tadi," sahut Yoochun tak jelas. "By the way, apa kegiatanmu setelah ini?" tanya Yoochun mengalihkan pembicaraannya dengan santai, membuat Changmin kini menatapnya dengan tajam. Sungguh, bahkan hanya dengan tiga kali pertemuan sebelum ini, Changmin sudah bisa mengidentifikasi sifat yang paling menonjol dari namja di hadapannya ini adalah sifatnya yang suka seenaknya sendiri. Suka seenaknya sendiri mengalihkan pmbicaraan, dan suka seenaknya sendiri memaksakan kehendaknya pada orang lain.
Changmin ingat dengan pertemuan pertamanya dengan namja ini berakhir dengan drinya yang harus berlari menyusul Yoochun yang dengan seenaknya membawa stok makan siangnya menuju restaurant yang di kelolanya. Tak berakhir di situ, begitu sampai di Micky-Restaurant, ia langsung di bimbing ke ruang VIP disana, dan dengan santainya Yoochun menyuruh pekerjanya untuk membawakan menu-menu andalan di sana, dan menyuruhnya memakannya sampai kenyang. Baru setelah ia berkata kalau ia sudah kenyang, Yoochun mengembalikan kantung kertasnya—yang berisikan jatah makan siangnya—sambil berkata—
"Itu sebagai permintaan maafku padamu,"
.
Pertemuan keduanya dengan namja itu juga tak kalah aneh. Jika kalian tahu, setelah ia marah dan meninggalkan Yoochun, namja itu terus mengejarnya sambil meneriakkan kata maaf di sepanjang jalan—yang tentu saja ramai dengan orang yang beralu-lalang. Ia yang merasa malu dan risih dengan pandangan orang-orang di sekelilingnya akhirnya berhenti dan membalikkan tubuhnya. Bibirnya sudah akan melontarkan makian pada namja itu, namun sebelum sempat satu kata terucap, sebuah buket bunga mawar putih tersodor di depan wajahnya. Wajah tampan namja itu menyembul dari balik buket bunga itu. Bisa Changmin lihat adanya selapis keringat di dahinya, namun senyum namja itu merekah dan ia berucap—
"Mianhae, ne?"
.
Pada pertemuan ketiga, Changmin sedikit bisa mengenal namja itu, Ia tahu kalau namja itu adalah seorang casssanova yang memiliki magnet sendiri terhadap lawan jenisnya. Terbukti semenjak ia menemani namja itu—meski terpisah oleh meja bar karena jelas ia tetap harus menjalankan tugasnya sebagai bartender—sudah berkali-kali ia melihat yeoja-yeoja datang dilih berganti mengajak namja itu untuk melantai bersama. Dan yang lebih membuatnya heran adalah ketika Yoochun menolak mereka, namja tampan itu bisa membuat para yeoja itu tak marah karena merasa sudah di tolak!
Ketika setelah jam kerjanya habis, ia menghilang di ruang khusus karyawan dan meninggalkan Yoochun dengan harapan kalau namja itu benar-benar tak serius dengan ajakan pria itu untuk mengantarkannya pulang. Setelah berganti baju, ia mengedarkan pandangan ke sekeliling dan sungguh berlega hati ketika tak menemukan namja itu di manapun juga. Dengan langkah yang cukup gontai karena lelah, Changmin keluar dari bar itu dan berniat untuk berjalan pulang ke apartement sederhana miliknya.
Namun belum jauh Changmin melangkah, sebuah mobil mewah berwarna silver platina itu behenti di sampingnya, dan ketika kaca mobil di turunkan, Changmin bisa melihat dengan jelas kalau Yoochunlah yang berada di balik kemudi mobil itu.
"Masuklah dan akan kuantar kau pulang."
.
.
Changmin menghela nafas mengingat semua pengalamannya dengan namja tampan berpenampilan dandy itu. Satu lagi hal yang ia pelajari dari tiga hal tersebut adalah, selain suka seenaknya, namja itu juga sangat tak bisa di bantah dan juga di lawan.
"Setelah ini aku akan ke kampus untuk kuliah," sahut Changmin yang memilih untuk menuruti arah pembicaraan Yoochun.. "Aku ada kelas satu jam lagi," lanjutnya sambil meraih handuk dan berjalan menuju kamar mandi yang terletak di samping kamar tidur.
"Aku akan mengantarmu kuliah," ucap Yoochun santai sambil meraih I-phonenya dan mulai bermain-main dengan gadget mewah keluaran apple itu.
"ANIYA!" tolak Changmin dengan keras. Ia sungguh tak bisa membayangkan apa pendapat teman-temannya ketika melihatnya turun dari mobil mewah milik Yoochun itu! Masalahnya, semua teman-temannya tahu kalau ia ini termasuk jajaran namja yang sederhana—jika tak mau di sebut miskin—dan akan sangat aneh jika ia bisa turun dari dalam mobil mewah!
"Kupikir kau sudah tahu kalau kau ini tipe yang tak suka di bantah, apalagi di tolak kan, Min-ah?" ucap Yoochun dengan suara huskynya yang lembut, namun penuh penekanan tersirat.
"Aisshh! Daripada menyiakan waktu dengan mengantarku ke kampus, lebih baik hyung kembali saja ke restaurant dan mengelolanya dengan baik," ucap Changmin sambil memasuki kamar mandinya. Sungguh ia berdoa agar ketika ia keluar dari kamar mandi, Yoochun sudah taka ada di sana lagi.
.
.
.
Yang namanya kenyataan memang tak selalu seindah harapan.
Hal itu sungguh di rasakan Changmin yang kini duduk dengan canggung di dalam kursi penumpang, dengan Yoochun yang berada di belakang kemudi mobil. Yah, seperti yang bisa kalian lihat sendiri, harapan Changmin agar pria itu tak ada di dalam apartementa setelah ia seesai mandi hanyalah harapan semata. Karena kenyataannya, namja itu masih setia duduk disana, menunggunya bersiap kuliah, dan memaksanya untuk mengantarnya ke kampus.
"Lalu, dimana kampusmu itu?" tanya Yoochun ketika lampu lalu lintas menunjukkan warna merah. "Kalau kau tak mau bilang, kita akan terus berputar-putar, dan berakhir dengan terlambatnya kau di kelasmu nanti," ucap Yoochun karena sedari tadi Changmin tak mau menjawab pertanyaan krusialnya itu. "Aku sih tak keberatan jika harus menghabiskan waktu dengan berputar mengitari kota ini denganmu," lanjutnya dengan nada santai luar biasa.
Changmin hanya menatap datar ke arah depan. Batinnya kini bergolak antara menyahuti ucapan namja itu dengan hasil ia bisa sampai di kampusnya dengan tepat waktu—meski itu akan mengundang tanya dari teman-temannya, ataukah ia terus diam saja dan berakhir dengan berputar-putar tak jelas dengan namja di sampingnya dan melewatkan kelas penting hari ini?
Tapi kalau sampai ia melewatkan kelas kali ini, absensinya tak akan mencukupi, yang artinya ia akan harus mengulang semester ini sekali lagi. Mengulang itu berarti sama dengan menyiakan waktu dan juga biaya. Dan ia sangat menjauhi yang namanya penyia-nyiaan biaya.
"Toho University," ucap Changmin pada akhirnya. Bagaimanapun, kuliah hari ini lebih penting daripada egonya dan kekesalannya pada namja di sampingnya itu.
"Nah, got it," sahut namja tampan itu dengan senyum merekah. Dan bersamaan dengan lampu yang brubah warna menjadi hijau, Yoochun menekan pedal gasnya dengan kuat dan membuat mobilnya melesat dengan kecepatan tinggi membelah keramaian jalan hari itu.
.
.
.
"A-apa kau berniat membuatku mengalami serangan jantung?" seru Changmin dengan lemah karena kini ia tengah memegangi dadanya yang berdegup dengan keras. Jantungnya belum bisa berdetak secara normal meski sudah sekitar lima menit mobil yang mereka naiki itu berhenti di depan Toho university.
"Aniya. Tentu saja aku tak berniat seperti itu," sahut namja bersuara rendah itu.
"Kalau kau tak berniat begitu, kenapa tadi hyung mengebut gila-gilaan begitu?" tanya Changmin sedikit tak terima karena sepanjang perjalanan mereka tadi, ia dipaksa untuk sport jantung melihat cara mengemudi Yoochun yang bisa di bilang ugal-ugalan begitu.
"Masalahnya, jarak antara Toho dengan apartementmu itu jauh, Min-ah. Kalau aku tak mengebut, bagaimana bisa kita sampai tepat waktu?" bela Yoochun yang tak ingin melihat Changmin lebih marah lagi padanya. Kan bukan salahnya kalau apartement Changmin itu memang sangat jauh dari Toho University. Tak sengaja pandangan matanya menyapu jam digital kecil yang berada di dashboard mobilnya itu.
"Daripada kau marah-marah padaku, sepertinya lebih penting jika kau melihat jam berapa sekarang ini, Min-ah. Jika kau tak ingin telat sampai ke kelas, lebih baik kau bergegas masuk ke kempusmu sekarang," ucap Yoochun yang langsung membuat Changmin melihat ke jam tangan di pergelangan tangan kirinya. Kedua manik hazel indahnya itu membulat ketika melihat angka yang di tunjuk oleh jarum jam di pergelangan tangannya itu.
"OMO! Sudah jam segini!" serunya keras sambil membuka pintu mobil Yoochun. Ia segera turun dan langsung berlari masuk ke gedung kampusnya. Namun ketika belum terlalu jauh namja berwajah manis itu berlari, tiba-tiba saja namja itu berhenti dan malah berbalik lagi menuju mobil Yoochun.
Yoochun yang melihat tindakan aneh Changmin hanya mengerutkan alisnya tak mengerti.
"Sebenarnya aku tak mau mengatakan ini," ucap Changmin ragu-ragu ketika sudah berada di samping mobil Yoochun. "Gomawo sudah mengantarku," lanjut Changmin yang langsung berbalik dan berlari dengan cepat ke dalam gedung itu. Meninggalkan Yoochun yang kini tersenyum dengan penuh arti.
"Kau sungguh menarik, Shim Changmin." Gumam namja tampan itu sambil menutup kaca mobilnya, dan kembali menekan pedal gas mobilnya meninggalkan gerbang Toho University itu.
.
.
.
Di sisi lain, Changmin yang dengan sangat nyaris terlambat masuk ke kelas langsung mendapat tatapan tajam dari seorang namja yang sudah ia anggap seperti noona, hyung dan juga umma.
"Waeyo, Jae-hyung?" tanya Changmin setelah menghempaskan pantatnya ke kursi di sebelah namja yang memiliki wajah yang kecantikannya melebihi yeoja itu.
"Aku melihatnya, Shim Changmin," ucap namja cantik itu dengan intonasi yang aneh.
"Eh? Apa maksud hyung?" tanya Changmin dengan wajah innocent. Pasalnya, ia memang tak mengerti apa maksud dari kata-kata namja yang ia panggil Jae-hyung itu.
"Jangan berpura-pura tak mengerti Shim Changmin. Aku melihat sendiri kau turun dari mobil mewah yang berhenti di depan gerbang kampus kita," ucap namja cantik itu, yang membuat wajah Changmin sedikit panik. Hal ini lah yang membuat Changmin tadi begitu tak ingin di antar Yoochun ke kampusnya.
"Jelaskan padaku, Shim Changmin. Selama kita berteman, aku tak pernah tahu kalau kau punya teman yang punya mobil mewah seperti itu. Jadi, bagaimana bisa kau turun dari mobil mewah seperti itu?"
.
Ya Tuhan, apa yang harus kujelaskan pada Jae-hyung?
.
.
.
~TBC~
Annyyeeeooonggg~!
Author balik lagi bawa epep lanjutannya YooMin ini soalnya dari yang review, semuanya minta di lanjut aja sih~
So, karena author adalah author baik yang nurutin apa maunya readers(deep bow buat semua yang udah review, mian nggak di bales cz ini athor publishnya mepet , mau berangkat kerja soalnya), so, author lanjutin deh ni epep~
Dan karena pada minta di buat ampe YooMin jadian (omong2, perlu ampe NCan nggak nih?), jadi in baru tahap awal buat Yoochun deketin uri Minnie~
Nah, yang mau tau lanjutannya Yoochun ndeketin Minnie, ayo review lagi biar author semangat buat lanjutinnya~!
