Disclaimer : Sunrize. Bandai.

Infantrum Black & White Challenge. Check it on : .nr/

Set for White. AsuCaga on AU. Warning for OOC.


second

for secret joy


Waktu menunjukkan dalam satu menit ke depan, bel sekolah akan berbunyi.

Di Archangel High, ada sebuah organisasi kecil untuk memantau kedisiplinan para siswa yang bernama komite disiplin. Secara berkala, pengurus OSIS bergantian menjadi anggota komite itu. Mereka membantu para guru untuk mengoperasi kalau-kalau ada pelanggaran tata tertib sekolah. Hal ini tentu saja hal yang baru bagi seorang Athrun Zala, karena teman-temannya terdahulu tidak perlu diperintah bahkan untuk mengerjakan seratus tata tertib sekolah. Mereka bahkan menyamai robot.

Athrun dalam seragam lengkap Archangel High, setelan jas putih dengan kemeja hitam, mengenakan badge khusus OSIS. Hari ini tugasnya untuk menjadi petugas bersama seorang temannya. Pemuda berambut cokelat yang juga sekaligus pemegang peringkat dua ujian masuk, Kira Yamato. Mereka berjaga di gerbang untuk memeriksa setiap murid.

Sepagi ini, banyak sekali murid –atau tepatnya siswi yang melakukan pelanggaran ketertiban. Alih-alih agar bisa berbicara dengan dua pemuda tampan yang menjadi komite, mereka sengaja melakukan pelanggaran. Seperti sengaja memakai sepatu warna-warni, mengecat rambut, dan lainnya. Peraturan di Archangel memang tidak seketat jika dibandingkan dengan sekolah Athrun dulu, tapi setidaknya para siswanya harus rapi. Beberapa di antara mereka juga berprestasi. Walau jumlahnya tidak ada sepersepuluh teman-temannya dulu.

Athrun menghela nafas dan menatap langit. Ia melewatkan saja beberapa siswi yang tidak sesuai aturan. Biarlah ia berurusan dengan BP nanti.

"Kau terlihat tidak sehat," tegur Kira sambil menghampiri Athrun yang tengah berteduh di bawah pohon di samping gerbang.

"Yah, kau tahu kan? Ayahku," Athrun menjawab dengan kalimat sederhana. Ia tak ingin berbicara banyak hari ini. Moodnya melayang. Lagipula Kira pasti tahu yang ia maksud. Mereka sudah berteman sejak lama. Kira masuk ke SMP yang sama dengannya dengan jalur beasiswa. Mereka sekelas tiga tahun jadi sedikit banyak Kira tahu masalah Athrun dengan ayahnya.

"Kau harus belajar membuka hati, Athrun," kata Kira beberapa detik sebelum bel sekolah berdering. "Tunggu sebentar!" seketika Kira terperanjat dan berdiri. Kemudian meninggalkan Athrun.

Kira ternyata menghampiri seorang gadis yang baru masuk gerbang ketika bel berbunnyi. Gadis itu berambut pirang yang menjuntai sebahu. Ia mengenakan seragam Archangel High, kemeja hitam dengan jas putih dan rok berwarna serupa. Ia pasti seorang murid sekolah itu. Dari tempat Athrun, ia bisa menangkap bahwa Kira tengah berseru dengan ekspresi tidak enak pada gadis itu, jadilah ia menghampiri kawannya. Biasanya komite disiplin hanya mencatat nama para murid, dan bukan memarahinya.

"Ada apa?" tanya Athrun kepada Kira.

"Tidak. Aku hanya memberitahu nona ini jika sekolah kita punya aturan tentang waktu masuk," kata Kira yang masih menatap gadis itu dengan pandangan yang agak tajam.

"Oh please, Kira! Jangan berlebihan! Dan lagi, aku datang persis saat bel jadi secara teknis aku tidak terlambat bukan?" tukas gadis itu ringan serambi memutar bola matanya ke atas.

Gadis ini cerdaa, kata Athrun dalam hati. "Well, aku rasa dia benar kawan?" timpal Athrun sambil menyeringai kecil kemudian menepuk bahu Kira.

Athrun kemudian melempar pandangan ke gadis itu untuk mengamatinya dengan lebih seksama. Gadis itu agak tampak seperti anak laki-laki. Tatapannya tegas. Caranya berdiri sama sekali tidak feminin dan ia memanggul tasnya di sebelah bahu. Tapi jika diperhatikan lagi, gadis itu punya sepasang mata yang indah. -Tunggu, rasanya ia mengenali mata itu!

Athrun kemudian berpikir keras untuk mengingat.

Ya. Ia ingat sekarang. Ia adalah gadis yang sama dengan gadis yang ia lihat di upacara pembukaan tahun ajaran.

"Terserah kau sajalah!" kata Kira pada Athrun, "Dan kau! Aku tidak mau menipu catatan pelanggaran lagi, tahu!" lanjut Kira berseru pada siswi itu. Pemuda berambut cokelat itu meninggalkan mereka berdua. Namun setelah beberapa langkah, ia berbalik.

"Hei, apa kalian tidak mau masuk kelas?!"

"Ah, iya!" Athrun menyahut dan bergegas melangkah. Sementara itu, gadis tadi masih berjalan santai di belakang mereka.

"Cagalli!"

Athrun bisa mendengar gadis itu berteriak dari belakang. Kontan ia menoleh.

"Aku Cagalli, kau?!"

"Athrun. Athrun Zala!"

"Baiklah. Terima kasih ya, Athrun!" gadis yang menyebut dirinya Cagalli mengangkat tangannya tinggi untuk melambai, setelah itu berlari kecil menuju gedung sebelah utara.

-

-

Cagalli, ya?


Pertemuan hari itu ternyata tak berakhir pagi tadi.

Setiap bulan Archangel High mengadakan program rutin diskusi untuk para siswa. Satu angkatan akan dibagi menjadi tim proposisi dan oposisi sesuai pilihan mereka untuk memperdebatkan satu tema.

Hari ini giliran angkatan mereka dengan topik penghapusan seragam sekolah. Awalnya acara diskusi itu mati, tak ada yang berkomentar setelah narasi di berikan. Athrun kemudian memberikan pendapat setelah moderator mengerling padanya, mengharap bantuannya.

"Alasan mendasar yang menjadi pertimbangan dihapusnya seragam sekolah adalah pemenuhan hak asasi manusia pada seluruh murid. Bukankah hak asasi merupakan hak mendasar setiap yang wajib untuk dipenuhi? Dan dengan menyeragamkan pakaian, itu berarti membatasi ruang gerak seseorang untuk berekspresi melalui penampilan," ujar Athrun. Beberapa orang bertepuk tangan ketika ia kembali duduk.

Tak lama setelah itu ada seseorang berseru, "Keberatan!" yang ternyata adalah seorang gadis berambut pirang yang duduk di tim oposisi. Gadis itu, yang baru Athrun kenal tadi pagi, berdiri dan berkata,

"Itulah pemikiran dangkal orang-orang yang tidak paham mengenai hak asasi manusia itu sendiri. Karena apa? Dengan menyeragamkan pakaian, itu berarti menyeragamkan status sosial bukan? Itu merupakan tanda bahwa murid dari seluruh kelas ekonomi adalah sama. Hak asasi untuk mendapat pendidikan adalah sama dan terjamin untuk disetarakan. Terima kasih." Tepuk tangan lebih riuh untuk Cagalli.

Mendengar pidato singkat Cagalli yang lumayan berapi-api, agaknya Athrun menjadi sedikit tertantang, "Banyak negara yang pendidikannya maju tidak memiliki seragam namun terjamin penyetaraannya. Apakah seragam menjadi jaminan valid untuk seseorang mendapat pendidikan yang layak?"

Suasana tambah panas ketika Cagalli kembali menanggapi, "Dan coba jelaskan, bagaimana penghapusan seragam bisa mengindahkan sektor ekonomi-sosial? Dengan penghapusan seragam, kesenjangan sosial mudah saja terjadi. Logika mudahnya, yang miskin akan malu karena tampilan mereka sederhana."

Begitu seterusnya.

Waktu seolah berlalu sangat cepat dan bagai tersedot ke dalam dunia lain dimana hanya ada mereka. Mereka berdua bahkan tidak menyadari jika waktu sudah habis sehingga moderator menghentikan acara dan menutup acara.

Di luar aula, banyak sekali yang menyalami Cagalli maupun Athrun, bersimpati telah memberikan opini-opini cerdas mereka. Setelah kerumunan itu berlalu, kini giliran mereka yang saling menghampiri.

"Ehm, maaf. Rasanya aku tadi agak terlalu bersemangat." Kata Cagalli yang wajahnya memancar semburat berwarna merah muda.

Ujung bibir pemuda itu tertarik ke atas, "Tidak, tadi itu sangat menarik."

"Benarkah? Aku senang sekali ada yang bisa mengimbangiku. Biasanya orang tak akan betah beradu argumen lama-lama. Mereka sangat membosankan!" kata gadis itu girang. "Baiklah Athrun Zala, aku memutuskan kalau kau adalah orang baik!!!" Cagalli menggenggam kedua tangan Athrun dengan kedua tangannya kemudian menggoncangnya ke atas dan ke bawah berulang kali.

"Ya sudah, aku pergi dulu, bye!" seketika Cagalli meninggalkan pemuda itu.

Athrun masih terdiam menatap gadis itu berlalu. Sedetik kemudian tawanya pecah.

Gadis itu menarik.

Sangat menarik.


BRAK!

Athrun membanting pintu rumahnya keras-keras untuk mengakhiri pertengkaran tak jelas antara ia dan ayahnya yang baru saja terjadi. Kepalanya berdenyut. Tampaknya pertengkaran itu benar-benar menghabiskan energi yang ekstra. Sekarang barulah ia menyesal untuk melakukan hal yang sia-sia seperti itu. Mereka adalah ayah dan anak yang terlalu keras untuk saling berbicara. Sekalinya mereka berhadapan, pasti yang ada hanya perdebatan tiada henti. Melelahkan, secara fisik juga mental.

Athrun memijit perlahan pelipisnya sambil terus berjalan menyusur kota yang masih dihiasi hiruk pikuk kehidupan walau mentari sudah lama berlalu. Waktu baginya juga berlalu semakin cepat dari hari ke hari tanpa sesuatu yang benar-benar berarti sejak satu setengah tahun yang lalu. Tepatnya sejak hari kepergian ibunya, Lenore Zala, untuk selamanya. Mungkin sejak itu juga hubungan Athrun dengan ayahnya menjadi buruk.

Mereka telah kehilangan poros mereka.

"Kau mau kemana?"

Athrun menoleh mendengar suara yang sangat dikenalnya. Didapatinya Kira tengah berdiri di depan pemuda berambut biru itu.

"Aa, Kira." ujar Athrun, "Aku hanya sedang mencari makan malam." Lanjutnya seraya mengangkat bahunya. Kemudian ia memperhatikan kaos yang dikenakan Kira, bertuliskan Hibiki Terrace. Lalu ia memandang bangunan di sampingnya yang bertuliskan serupa.

"Kau kerja di sini?" tanya Athrun sambil menunjuk restoran itu dengan ibu jarinya.

"Begitulah," jawab pemuda berambut cokelat itu, "Hei bagaimana kalau kutraktir kau makan di sini? Kami punya banyak menu yang enak,"

"Mm, baiklah..." sahut Athrun.

Dua pemuda itu pun melangkahkan kakinya ke dalam Hibiki Terrace. Restoran bergaya barat itu tidak begitu luas namun elegan. Baik tirai dan taplak meja berwarna putih dengan sedikit hiasan daun pada sisinya. Lantainya dari marmer dengan warna hijau lumut.

Athrun menganggukkan kepala sekali pada seorang wanita yang tengah berada di balik kasir, kemudian ia duduk di meja persegi untuk dua orang yang berada dekat jendela.

"Temanmu?" wanita itu bertanya pada Kira.

"Benar, bi." jawab Kira pada bibinya, lantas ia memberikan daftar menu kepada Athrun. "Ini dia."

"Aku minta nomor 8 saja," kata Athrun setelah memilih dari daftar menu itu.

"Kiiraa..!"

"Pesananmu akan datang sebentar lagi. Maaf ya, aku harus pergi mengantar barang."

Athrun mengangguk kecil sementara Kira meninggalkannya.

Athrun menatap ke luar jendela. Pemandangan kota malam ternyata lumayan indah sementara lagu You`ve got a Friend mengalun di kafe itu. Mungkin ia harus sering-sering ke sini untuk melepas lelah.

"Silahkan,"

Tiga porsi nasi goreng diletakkan di meja Athrun. Pemuda itu memandang piring-piring itu dengan heran.

"Tapi aku tidak memesan sebanyak ini..." Athrun memprotes seraya memalingkan wajahnya kepada pelayan yang mengantarkan pesanannya. Sesaat kemudian ia terkejut.

"Enak saja, ini untukku!" seorang gadis berambut pirang yang memakai kaos Hibiki Terrace berkata kemudian duduk di kursi yang lainnya.

"Kau juga bekerja di sini?!" tanya Athrun yang masih sedikit terkejut dengan kehadiran gadis itu.

"Sudahlah, ayo kita makan. Aku sangat lapar tahu!" Cagalli berkata sambil menata semuanya di meja, kemudian menyuapnya cepat ke dalam mulut.

"Dan piring satunya?" tanya Athrun merujuk pada piring ketiga yang ada di meja itu. Yang mana dijawab Cagalli dengan menepuk-nepuk dadanya.

Kontan pemuda itu menahan tawa.

"Oh baiklah," Athrun mulai menyendok makanannya, namun lebih perlahan.

-

"Jadi kau juga bekerja di sini?" Athrun kembali mengulang pertanyaan itu setelah mereka selesai dengan makan malam mereka.

"Begitulah. Ini restoran keluarga kami," jawab Cagalli yang kemudian menyeruput lemon squashnya.

"Kami?"

"Aku dan Kira."

"Kau dan Kira bersaudara?!" Athrun berseru setengah tidak percaya.

"Kami saudara kembar." Tegas Cagalli.

"Apa?!!" Kali ini pemuda itu benar-benar terperanjat.

"Berhentilah berteriak karena aku belum tuli." Kata Cagalli santai sambil mengaduk-aduk minumannya dengan sedotan.

"Tapi... aku kenal Kira lumayan lama. Aku tidak pernah mendengar soal ini," kata Athrun kemudian.

"Orangtua kami meninggal saat kami kecil, kemudian kami diasuh keluarga yang berbeda. Sudah lama juga kami tidak bertemu. Tapi setahun lalu kami memutuskan untuk masuk ke SMA yang sama dan bekerja di restoran milik orang tua kami ini." Terang Cagalli.

Athrun menatapnya takjub.

"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan." Kata gadis itu sementara Athrun masih menatap lekat wajahnya. Mata zamrud pemuda itu masih terarah padanya. "Kau sedang melihat apa sih?!" seru Cagalli yang wajahnya bersemu merah karena terus ditatap seperti itu.

"Meneliti kemiripanmu dengan Kira." jawab Athrun, "Hei, berhenti berpaling! Aku hampir menemukannya tahu!" Athrun kemudian memegangi wajah Cagalli dengan kedua tangannya.

Cagalli menyerah. Ia lantas menyodorkan wajahnya, "Nih! Teliti sesukamu, puas?!" gadis itu membelalakkan mata sambil mengerutkan bibir.

"Tunggu sebentar," Athrun yang masih memegangi pipi Cagalli menjulurkan lehernya agar lebih jelas melihat gadis itu. Pandangan mereka kemudian bertemu dalam satu garis lurus.

Waktu seakan berhenti.

Dunia menjauh dari tempat mereka berada.

Kedua insan ini bahkan tidak menyadari beberapa detik telah berlalu.

Pluk!

Sebuah garpu jatuh, membawa mereka kembali pada realita. Keduanya lantas membenahi posisi duduk mereka sambil memalingkan wajah merah masing-masing ke arah berlainan. Tak ada satu pun dari mereka yang sanggup untuk bersuara.

"Hai, bagaimana makan malamnya?" Kira yang baru saja datang berkata sambil menghampiri mereka.

"Ah iya, enak." jawab Athrun yang dengan cepat menguasai dirinya.

Cagalli kemudian berdiri dari kursinya dan berlari kecil meninggalkan mereka untuk ke dapur.

"Kenapa dia?" tanya Kira serambi mengedikkan kepala ke arah Cagalli.

"Tidak ada apa-apa," sahut Athrun yang kemudian memalingkan wajah ke arah jendela.

"Kau agak aneh, Athrun!" selidik pemuda berambut cokelat itu.

Athrun tidak menjawab apa pun. Ia menerawang jauh melewati kerlap-kerlip kota dengan senyuman yang tanpa ia sadari sudah terkembang di wajahnya.


TBC


AUTHOR`S NOTE :

Ngoceh bentar ah.

Maaf untuk chapter kacau sebelumnya ya. Aku meng-upload tanpa melalui proses editing, begitulah hasilnya. Seperti kata imouto-chan, banyak frase yang monoton juga pemenggalan yang tidak pas mengakibatkan chapter lalu sangat membosankan. Begitulah. Itu akan diurus nanti. Kalau sempat.

Dan untuk karakter-karakter di sini, aku mengesetnya sesuai di Gundam SEED karena di Destiny karakternya terlalu lembek. Payah deh. Dan juga untuk alasan plot, di Gundam SEED lebih kerasa sense romance-nya. *Ngelirik mesum phase 48* Tapi chapter ini kayaknya nyaris nggak ada fluff-nya. –nangis- Untuk pair sentral adalah AsuCaga, tapi tokoh utamanya Athrun.

Terima kasih untuk para reviewer; Niero, Hanabi, Ardhan dan Dillia. Juga untuk para pembaca yang berminat untuk mengikuti fic ini *emang ada?* Niero-san, kayaknya aku tertarik gabung dengan aliansi aneh-mu nih, hahaha.

Akhir kata, selamat membaca! Sampai jumpa di chapter depan.