-Lima Hari di Musim Panas-

.

.

.

A little Naruto FanFiction from me

Special present for : Four Guardians.

Rated T, Family and Drama

.

Naruto belongs to Masashi Kishimoto

.

No copycat, of stories and (maybe) my OCs, please!

.

AU, (maybe) OOC, multiple kind of pairing, an absurd story idea/theme, several characters' name changed, 2nd PoV used, etc.

.

DON'T LIKE? I BEG YOU DON'T READ, PLEASE.

.

Dua.

Datar. Selalu saja datar. Entah mengapa, meski disaat kau mengeluarkan senyum pun tawamu, mata birumu selalu kosong. Kehampaan yang nyata merasukinya, kau tahu?

Dan itu berlaku pula untuk sepanjang hari ini, pikirmu sempit. Tanpa kau tahu bahwa-

"Ohayou(1), Naruto-kun*." Sebuah sapaan menyapa gendang telinga, membuat sarafmu bekerja untuk mencerna siapakah gerangan pemilik suara barusan? Kau menoleh, mendapati tetangga barumu sedang berjalan dalam diam disampingmu.

Kau tersenyum –lagi-lagi sebuah kepalsuan, hei?- dan menyapanya, "Ohayou, Sasuke-kun!"

Ia melihatmu sejenak, mengamati sulur-sulur emosi yang berseliweran dalam mata biru langitmu. Mendengus pelan, membuatmu sedikit terheran akan sikap anehnya.

"Kenapa? Apa ada yang salah?" tanyamu sembari menaikkan sebelah alis pirang warisan ayahmu.

"Kau," jawabnya singkat.

"Hah?"

"..."

-dua tepukan ringan di bahumu mengakhiri konversasi kalian yang sulit dimengerti.

.

"Hei, Naruto-kun, nanti aku pinjam catatanmu ya? Aku tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Kakashi-sensei** tadi," pinta seorang pemuda seumurmu, ia memiliki alis tebal yang... sedikit aneh.

Kau hanya tersenyum kecil dan mengangguk. Sudah biasa bagi kawanmu yang satu ini untuk menyalin catatan-catatan pelajaranmu –terutama untuk mata pelajaran guru bermasker yang tadi ia sebut, bukan salahnya, sih, karena penjelasan gurumu yang satu itu memang sedikit sukar diterima oleh kebanyakan murid.

Setelah kata "Terimakasih." terucap dari bibir kawanmu dan ia beranjak pergi, kau menoleh pada jendela disampingmu untuk melihati gumpalan-gumpalan putih yang terlihat lembut dilangit. Awan-awan itu berserakan begitu saja, melayang-layang tak tentu arah, berubah-ubah bentuk beberapa waktu sekali –tergantung pada sang angin yang bersamanya.

Manik cerulean–mu terpancang pada salah satu awan berbentuk mangkuk –dan terbayanglah seporsi Ramen dengan banyak naruto(2) diatas helai-helai mienya. Saat itulah perutmu berbunyi pelan, dan tiga dering bel tanda dimulainya istirahat berbunyi.

-kantin sekolah, tujuanmu saat ini.

.

Bunyi mie diseruput dan dikunyah terdengar, beriring dengan teguk-teguk kuah Ramen yang melewati kerongkonganmu. Kau menyumpit berhelai-helai mie yang lezat itu dengan bersemangat dan tersenyum puas saat akhirnya satu lagi porsi makanan khas Jepang tersebut telah berhasil kau tandaskan. Jika saja ada orang lain yang duduk bersamamu, ia pasti sudah geleng-geleng kepala melihat tumpukan mangkuk Ramen didepanmu –kau memang lebih suka duduk dan menikmati makananmu sendirian semenjak saat itu.

Memang, kau akui, sejauh ini yang dapat membuatmu tersenyum dengan tulus dan sepenuh hati hanyalah Ramen. Kau begitu menyukai makanan satu itu, dalam kondisi apapun.

Lalu ponselmu berbunyi, menandakan sebuah pesan masuk. Kau membukanya, dan raut wajahmu langsung berubah menjadi sesuatu yang tidak enak untuk dilihat. Sekali lagi, matamu yang sewarna langit disaput oleh tebalnya awan kelabu. Lengkungan di bibirmu berbalik arah, dan posisi wajahmu tertekuk beberapa derajat seakan menuruti tarikan gravitasi secara instan.

Kau tak tahu, sepasang mata yang laiknya obsidian tengah menatapmu dengan sekelumit kekhawatiran disana. Pemilik manik gagak itu beranjak dari duduknya, mengambil sebuah tomat diatas piringnya sebelum menghampirimu.

Sebuah tepukan di pundak, satu tolehan teratas respon, dan sebuah sodoran merangkum benda bulat oranye kemerahan membuatmu memancangkan permata langit musim panasmu pada angkasa malam segelap arang miliknya.

Mulutmu yang sedikit terbuka –pernyataan tak langsung atas frasa bernama heran- langsung saja ia jejali dengan buah bulat yang ia bawa tadi. Alih-alih tersedak kau malah mulai menggigiti perlahan permukaan tomat dalam mulutmu, dan ia masih saja setia memegangi tomat yang tak masuk kedalam rongga mulutmu –serta mata kalian yang masih saja bertumbur satu dengan yang lain. Perlahan ia ikut menghenyakkan diri di bangku makan yang sama dengan yang kau duduki.

Sekitar kalian sepi, sehingga takkan ada yang tertawa melihatmu sedang berada dalam posisi yang aneh seperti ini dengan si murid baru sekaligus tetangga barumu ini.

Rasa asam-manis tomat yang kau kunyah seperti merilekskan seluruh sarafmu yang sebelumnya sempat menegang, memberikan sensasi lucu pada lidahmu. Saat persediaan tomat dalam mulutmu terasa menipis, kau mengambil alih sisa tomat yang ada dari tangan pucat Uchiha Sasuke –itulah namanya- dan menghentikan kegiatan makanmu sebentar.

"Kenapa?"

"Karena kau kelihatan sedih dan kesal," balasnya.

"Bagaimana-" belum selesai ia sudahlah memotong apa yang akan kau katakan.

"Terlihat dari air mukamu, Dobe(3)."

"Apa?! Dobe kau bilang! Kalau begitu kau adalah teme(4)! Dan lagi kenapa harus tomat?!" protesmu keras, alis-alismu menukik walau tak terlalu tajam, dan bibirmu sedikit mengerucut sebal.

Ia tersenyum tenang lalu menepuk kepalamu pelan. Kau hanya mampu tercengang akan perlakuan-perlakuan anehnya padamu seharian ini. "Nah, kan, tomat dan aku dapat membuatmu lebih rileks, benar?" ungkapnya –dan kau merasakan wajah dan lehermu memanas entah mengapa.

Senyum pemuda didepanmu masih bertahan, dan kau mengakui ia benar. Tomat yang ia berikan dan semua sikapnya padamu benar-benar membuatmu lupa dari polemik yang sempat mendera tadi. Kau menunduk, menyembunyikan wajahmu yang makin panas dan sebuah senyum tulus disana.

-dua hal, kau menyukai sifat Sasuke dan juga senyumnya.

.

Berjalan dibawah siraman cahaya matahari senja hari ini terasa lebih menyenangkan dibanding hari-hari sebelumnya. Karena hari ini, untuk pertama kalinya sejak dua tahun yang lalu kau memiliki teman jalan kala pulang seperti saat ini.

Siapa lagi kalau bukan Uchiha Sasuke yang misterius namun penuh perhatian.

Kau berjalan dengan seulas senyum tipis tersemat di wajah, kedua tanganmu kau masukkan kedalam saku celana sekolahmu. Ransel yang bertengger di punggungmu berayun pelan seiring langkah kaki menapaki trotoar. Matamu seperti tak bisa diam kali ini, sedikit-sedikit kau pasti akan melirikkan bola langitmu pada sosok disampingmu yang sedari tadi memandang jalanan dengan wajah datar.

Tak tahan, bibirmu berucap, "Hei."

"Hn?" balasnya singkat.

"Kau... suka tomat, ya?"

Mendengarmu, ia berhenti dan menoleh –membuatmu ikut berhenti berjalan dan balas melihatnya. Terlihat bahwa ia sedang berpikir sejenak sebelum akhirnya menjawab, "Aku mencintai tomat," dengan wajah kelewat polos.

Kalian melanjutkan kembali perjalanan yang sempat tertunda. Kau mengernyit heran mendengar jawabannya barusan, sedang dia sibuk menendangi sebuah kerikil kecil. "Naruto-kun."

"E-eh? Ah, ya?"

"Nanti malam boleh aku main? Sekaligus ingin bertanya tentang banyak hal yang ada di kota ini, dan kelihatannya mengerjakan tugas sekolah kita bersama-sama bukanlah hal yang buruk, 'kan?" tanyanya –atau mungkin lebih tepat, pintanya.

Kau menatapnya, mencoba menelusuri apakah ada maksud tersembunyi dari itu semua –dan nihil, sepertinya ia serius dengan setiap permintaannya.

"Baiklah." Kau mengangguk mantap menyanggupinya.

.

"Kakaaaaaaaaaaaakkkkkk!"

"Jangan teriak-teriak, baka(5) Sakura-chan!"

Adik perempuanmu itu mendobrak pintu kamarmu, menerobos masuk dan langsung saja menindihmu yang sedang berbaring telungkup diatas ranjang –oh, itu membuatmu merasa sesak.

"Kenapa kau, Nii-san(6), tak pernah memberitahuku kau memiliki teman yang luar biasa... tampan dan- dan, AWESOME!" teriaknya histeris, membuatmu merasa harus pergi ke klinik THT setelah ini.

Kau membalikkan badan dengan keras, hingga Sakura terjatuh dari ranjangmu. Kau memijat kening dan berkata, "Apa yang kau maksud adalah pemuda dengan rambut jigrak belakang warna hitam dengan kulit sepucat kertas?"

"Iiiiiiiiyaaaaaa! Kyaaaa!" ah, adikmu memang sedang dalam masa kelabilannya, jadi kau maklum jika ia berteriak-teriak seperti itu.

"Hhh. Mana dia? Sudah kau bukakan pintu 'kan?"

Lalu hening. Adikmu memasang satu cengiran lebar yang mencurigakan. Dan saat itu kau pun mengerti, kawanmu yang malang itu masih terdampar di teras rumah.

.

"Maafkan kebodohan adikku."

Ia menatapmu dengan pandangan heran, "Untuk tak membukakanku pintu, eh? Tak masalah. Toh aku bersyukur –dan lebih senang jika kau sendiri yang membukakan pintu itu untukku," katanya.

Kau menggaruk belakang kepalamu yang tak gatal, dan kembali meminta maaf padanya. Satu dari dua gelas teh melati yang kau sajikan telah berada di tangan pemuda didepanmu. Ia menyesap wanginya sebelum akhirnya meneguknya beberapa kali.

"Dobe, apa kau meracik dan menyeduh teh ini sendiri?"

"Tentu saja, teme. Kenapa?"

"... enak," ucapnya membuatmu tersipu.

"Hahaha, tentu saja 'kan! Pasti enak kalau aku yang membuatnya!" ah, kepalamu membesar karena pujian singkat Sasuke tadi.

Tanpa kau duga, ia menjitak kepalamu. "Hei!" protesmu yang hanya ditanggapinya dengan dengusan tak acuh.

"Naruto, apa di kompleks ini ada taman?"

"Hm? Ada sih."

.

Tak kau sangka, kalian akan beranjak dari kamarmu menuju taman perumahan ini. Sepi, dan udaranya hangat. Rumput-rumput dan semak-semak yang ada terkadang bergoyang lembut diterpa angin dan para serangga bernyanyi riang.

Pemuda di sampingmu hanya diam, mungkin ia meresapi suasana disini yang tenang. Kau merasa ringan, ada sesuatu disini yang membuatmu bisa tenang dan santai –seakan bebanmu diangkat dengan segera begitu kau tiba disini. Penerangan yang ada di taman ini tidaklah terlalu terang, redup namun cukup, tidak membuat mata sakit akan silau cahaya.

Kau melangkah sekali. Dua langkah, tiga langkah, empat... sampai akhirnya kau memutuskan untuk duduk disalah satu bangku panjang yang ada di taman tersebut. Kau sandarkan punggung lelahmu pada bangku itu, kepalamu kau tundukkan, melihati tanah dibawah kakimu. Terdengar beberapa langkah kaki mendekat, dan itu membuatmu mendongakkan kepala –hanya untuk mendapati bahwa kawanmu tengah menunduk menatapimu.

Ah, lagi-lagi langit cerah dan angkasa malam bertemu. Menciptakan sebuah friksi aneh yang menjalari keseluruhan tubuhmu, kau merasa seperti banyak sekali kupu-kupu yang mengibaskan sayap-sayap mereka di dasar lambungmu. Panas yang aneh menjalari wajahmu begitu kau menyadari intensnya tatapan matanya pada milikmu. Sebuah kilat emosi berkelebat di permata malam itu, bagaikan sebuah bintang jatuh yang melintasi langit tanpa rembulan.

-dan dalam dua detik itu kau paham, bahwa ada sesuatu yang aneh dalam tiap tatap mata Sasuke padamu.

.

.

.

To Be Continued

.

.

.

Footnote(s) :

*-kun : suffik yang diimbuhkan dibelakang nama seseorang. Biasanya digunakan untuk kaum lelaki, terlebih yang sudah akrab. Namun tidak menutup kemungkinan seorang perempuan dipanggil dengan embel-embel honorific ini.

**-sensei : bisa dikatakan sebagai suffik untuk menyebut 'guru' atau orang yang dianggap mumpuni dalam suatu bidang.

(1) Ohayou : selamat pagi (Japanese)

(2) naruto : setau saya naruto adalah rebung, biasanya dipakai dalam Ramen.

(3) Dobe, (4) teme, (5) baka : artinya sama semua, yaitu 'bodoh, konyol'

(6) Nii-san : kakak laki-laki (Japanese)

A/N : ternyata... capek juga ya ngoreksi apakah ada typo atau enggak itu ==

Yah, sudahlah, semoga kalian yang membaca chapter ini puas #eh

Dan... ini masih special present untuk Four Guardians , dan untuk Kai Shadowchrive Noisseggra yang sudah mensupport saya :D

Sampai bertemu di chapter depan ^^

Regards,

Chiko/Mmerl.