Langit tampak memerah walau matahari masih terlihat tinggi. Awan tipis pun menyelimuti langit sementara angin bertiup cukup kencang mendorong kapal kecil itu menjauh. Suara gempuran ombak terdengar keras saat keheningan yang tidak biasa terjadi. Ya, Saga kini sedang berdiri mematung menatap luasnya laut yang menghampar dihadapannya. Kedua tangannya terkepal erat sementara rambut keunguannya bebas berkibar diterpa angin. Pandangan matanya kosong dan pikirannya tak dapat lepas dari adiknya. Sungguh ia merasa sangat menyesal karena tak dapat menjaga keselamatan adiknya sendiri.

Setelah sekitar satu jam lamanya menempuh perjalanan laut, akhirnya Saga pun tiba di Pulau Kail. Sekilas, pulau ini tampak mengerikan dan sepertinya tidak berpenghuni.

Ia dengan segera menapakkan kakinya diatas daratan itu. Pasirnya tampak putih dan banyak pepohonan hijau yang tumbuh disekitar pantai. Namun bagaimanapun, ia tahu keindahan itu menyimpan sesuatu yang sangat berbahaya didalamnya.

Saga menutup matanya dan menghela napas, ia berusaha sebisa mungkin untuk menenangkan dirinya. Gemini itu tahu dengan jelas, bahwa bertempur dengan amarah adalah tindakan yang bodoh.

"Bagaimanapun, aku akan menyelamatkanmu, Kanon. Tunggu saja." ucap Saga dalam hati.

Saga pun berjalan memasuki pulau itu, pulau yang luas. Hawa kegelapan memancar kuat dari pusatnya sementara cosmo asing merangsang indranya. Setelah sekitar 30 menit melewati hutan rimba dan menyeberangi sebuah sungai, dari kejauhan Saga melihat sebuah bangunan dengan tiga lantai yang berada ditengah-tengah Pulau Kail.

Saga berhenti sejenak dan menatap bangunan itu penuh curiga. Cosmo yang mengintimidasi pun mulai terasa ketika ia mendekatinya.

"Sepertinya disitu." Kata Saga sambil meneruskan perjalanannya tanpa menoleh lagi.

.

.

Disclaimer: Saint Seiya - Masami Kurumada

Warning:
Terdapat karakter dari Mitologi Yunani, typo(s), EYD berantakan, dll.

.

My Brother, My Savior

Chapter 2: Phobos

.

.

Saga tiba di depan pintu masuk bangunan itu persis sebelum matahari terbenam. Tanpa pikir panjang, ia pun segera membuka pintu bangunan itu dengan kasar. Terdengar decitan yang memekakkan telinga ketika pintu itu dibuka.

Bangunan itu terlihat gelap di dalamnya. Hanya terlihat seberkas cahaya matahari senja yang masuk melalui celah-celah bangunan, sangat redup. Saga mulai melangkah memasuki bangunan itu.

Saat Saga berada disebuah ruangan pada lantai pertama, ia menemukan potongan-potongan rambut berwarna biru dan cipratan darah yang berceceran di lantai. Saga berlutut memandang rambut yang berlumuran darah itu lalu menggenggamnya. Seketika itu juga ia menghela napas sambil menutup matanya untuk mengendalikan amarah yang kian meledak dalam dirinya. Ia tahu, potongan-potongan rambut dan darah itu sengaja diletakkan disitu untuk mengacaukan emosinya. Saga segera bangkit dari posisinya dan melihat sekeliling, terlalu gelap disana. Saga pun sedikit membakar cosmo keemasannya untuk menerangi ruangan itu, dan ia melihat sebuah tangga berada di sudut ruangan itu.

"Disana..." Gumamnya pelan. Ia pun dengan segera berjalan kearah tangga itu dan menaikinya.

.

.

.

Saga pun tiba di lantai dua, terlihat sangat gelap disana. Saga merasakan sebuah cosmo yang mengintimidasi disekelilingnya, ia mengetahui bahwa disana ada seseorang yang menunggunya. Ya, seseorang yang berhubungan erat dengan penculikan adiknya.

Ketika Saga menginjakkan kaki memasuki sebuah ruangan, tiba-tiba ia mendengar jentikan jari dan seketika itu juga obor yang berada di dinding ruangan itu menyala dengan sendirinya, lalu terdengar sebuah suara serta terlihat siluet seseorang.

"Selamat datang di Pulau Kail, Gemini Saga." kata seseorang yang berada di ruangan itu.

Saga yang mendengar suara dan melihat siluet seseorang itu pun langsung berhenti. "Siapa kau?" Tanyanya.

Tak lama kemudian, orang itu pun muncul dan berjalan ke arah Saga. "Namaku Phobos." Jawabnya dengan seringaian penuh arti.

"Dimana Kanon?!" Tanya Saga dengan kedua tangan terkepal erat. Geraman meluncur tiba-tiba dari mulutnya sementara matanya menatap tajam Phobos.

"Adikmu bersama Tuanku." Jawab Phobos dengan santai.

"Apa yang kau lakukan?! Aku datang untuk menyelamatkan adikku!" Seru Saga yang hampir kehilangan emosi.

Laki-laki itu pun mengarahkan telapak tangannya ke bawah, dan dari lantai keluarlah sebuah tombak panjang. "Oh.. kalau begitu, aku akan membunuhmu disini." Katanya.

Phobos mengangkat tombak itu dan memutarnya, membuat sebuah perangkap api yang mengelilingi Saga.

"Sekarang kau tidak bisa kabur." Katanya dengan nada mengejek sambil mengarahkan tombaknya ke Saga.

"Kau pikir api ini bisa menahanku?" Saga menebas tangan kanannya di udara dan melenyapkan api yang mengelilinginya, lalu ia pun membakar cosmonya.

"ANOTHER DIMENSION." Tiba-tiba saja, seluruh ruangan tersebut berubah menjadi alam semesta.

Phobos mengangguk dan melihat sekeliling. "Ohohoho... Pantas saja kau disebut sebagai Gold Saint terkuat, aku cukup terkesan. Tapi..."

Phobos menghentakkan ujung tombaknya ke lantai dan saat itu juga ruang dimensi milik Saga pecah berkeping-keping.

Saga sedikit tersentak saat Another Dimension-nya dihancurkan semudah itu oleh orang yang ada dihadapannya, ia berpikir bahwa orang itu bukanlah orang biasa.

"... apakah dimensi buatanmu mampu menahanku, HAH?!" Kata Phobos sambil mengacungkan tombaknya ke arah Saga.

"Kau, yang menculik Kanon. Iya, kan?!" tanya Saga dengan nada tinggi.

Phobos yang mendengar itu pun terkekeh sambil menancapkan tombaknya kelantai. "Heh.. tak kusangka pertahanan di Sanctuary sangat lemah, sehingga aku bisa menerobos masuk."

"Bagaimana kau bisa memasuki Sanctuary?" Tanya Saga menyambung pertanyaannya.

Phobos pun menyeringai dan menaikkan salah satu alisnya. "Hermes."

Wajah Saga menunjukkan ekspresi bingung bercampur dengan terkejut. Ia tahu siapa 'Hermes' itu, namun ia tak pernah mengira bahwa Dewa pembawa pesan itu akan ikut campur dalam hal ini.

"Hermes?"

"Ya, Hermes. Dia yang membantuku. Tuanku membayarnya, kau tahu? Dewa licik itu selalu mengerjakan apa yang diminta jika bayarannya cukup." Kata Phobos sambil menarik tombaknya.

.

-FLASHBACK-

Seseorang yang misterius sedang duduk disebuah singgasana dan Phobos berlutut dihadapannya.

"Kau ingat misimu, Phobos?" Tanya orang itu.

"Ya Tuan, aku dan Hermes sudah bersiap-siap. Aku akan menyelesaikannya secepat mungkin." Jawab Phobos.

Orang itu mengeluarkan secarik kertas dari sakunya. "Letakkan kertas ini di kuil itu." Kata orang itu sambil menyerahkan kertas tersebut kepada Phobos.

"Baik Tuan." Phobos pun menerima kertas itu lalu berdiri.

"Dan ingat satu hal, jangan sampai ketahuan. Biar Gemini itu yang pertama kali mengetahuinya saat pagi nanti." Sambung orang itu.

Phobos pun mengangguk singkat sebelum meninggalkan tempat itu.

Di Sanctuary, ketika sebagian besar Gold Saint beserta sang Dewi Athena sedang tertidur, Phobos dengan bantuan Hermes menyelinap tanpa suara menuju ke kuil Gemini. Phobos yang berkemampuan 'melenyapkan' 100% cosmonya agar tidak terdeteksi, dengan segera masuk kedalam kamar para Gemini itu melalui jendela kamarnya yang tidak terkunci. Phobos melihat saudara kembar Gemini Saga itu sedang terlelap pulas, ia pun dengan cepat melompat ke sampingnya.

"Ini mangsanya.." Kata Phobos sambil menyeringai.

Kanon yang menyadari bahwa ada seseorang yang menyelinap ke kamarnya, langsung terbangun dan menatap tajam Phobos.

"Siapa kau?!" Kanon menunjuk Phobos dan membakar cosmonya.

"Heh.. kau tidak perlu tahu namaku." Jawab Phobos.

Ia pun melesat kearah Kanon untuk melancarkan pukulan, begitu pula Kanon yang melesat kearah Phobos. Namun naas, Kanon terkena pukulan Phobos tepat dibagian perutnya.

"Argh.." Kanon merasakan nyeri menjalar ke perutnya. Ia ingin membalas memukul Phobos, tapi Kanon kalah cepat. Phobos menepis tangan Kanon lalu menendang dagunya vertikal.

"Uagh!" Kanon mendongak paksa karena dagunya ditendang Phobos, dan mulutnya mengeluarkan cairan merah. Phobos pun menarik rambut Kanon dan membenturkan wajahnya ke dinding,

"Hanya seperti inikah tugasku? Lemah sekali" kata Phobos sambil menahan kepala Kanon di dinding.

Kanon mengerang dan memegang tangan Phobos yang menjambak rambutnya. Phobos pun melemparnya kearah pintu.

"Aku tak dapat melawannya, dia terlalu kuat." Kata Kanon dalam hati. Kanon mencoba berdiri dan membuka pintu kamarnya, lalu ia sedikit berlari oleng ke ruang tengah sambil memegang perutnya.

Phobos berjalan kearah sebuah kursi kayu, lalu melempar kursi itu tepat ke punggung Kanon hingga ia jatuh tersungkur dan membuat kursi itu patah seketika.

"Apa yang sebenarnya orang ini inginkan..." Tanya Kanon dalam hati, seluruh tubuhnya merasa sakit setelah punggungnya menjadi sasaran target sebuah kursi.

Kanon mencoba berdiri dan bersandar pada dinding. Ketika Phobos mendekatinya, ia mencoba melawan meski tahu itu tidak ada gunanya.

"HYAAH!" Kanon mengepalkan tangannya dan melancarkan pukulan ke arah wajah Phobos, namun Phobos menangkap tangannya dengan mudah lalu memelintirnya dan menjatuhkan tubuhnya ke lantai.

"Apa.. apa maumu..." Tanya Kanon sambil meringis kesakitan karena tangannya dipelintir.

"Aku tidak menginginkan apa-apa, hanya menjalankan tugas." Kata Phobos santai.

Kanon memberontak sekuat tenaga dari cengkraman Phobos, tapi tenaganya kalah jauh dari tenaga Phobos.

"Shh... diam..." Kata Phobos pelan sambil memelintir tangannya lebih keras hingga terdengar retakan tulang.

"Aaaagh!" Kanon mengerang keras saat tulang di lengannya retak akibat dipelintir Phobos.

"Diam atau kupatahkan lehermu." Kata Phobos yang kini menginjak leher Kanon dilantai.

"Hah... hah... hah..." Kanon tidak kuat melawan lagi, tubuhnya lemas, napasnya berat, pandangannya mengabur.

Phobos pun melepaskan Kanon dari cengkramannya, lalu memiting kepalanya dan memaparkan leher Kanon. Phobos pun mengeluarkan sebuah jarum suntik.

"Sekarang kau tidur." Kata Phobos sambil menyuntik Kanon, jarum tersebut menembus kulit leher Kanon dan cairan pun masuk ketubuhnya.

Kanon tidak dapat menggerakkan tubuhnya, lumpuh, kaku. Matanya semakin memburam, semakin menutup. Di ambang 'tidur'nya, mulutnya terbuka pelan.

"S-Saga... Saga..." Kanon pun tertidur pulas akibat efek dari cairan yang disuntikkan ke tubuhnya tadi.

"Heh.. menyusahkan saja. Setidaknya tidak ketahuan yang lain." Phobos pun menggerakkan bahunya untuk melemaskan ototnya.

"Oh iya, satu lagi. Aku hampir lupa." Phobos kembali ke kamar para Gemini itu dan mengeluarkan secarik kertas lalu menaruhnya diatas tempat tidur, lalu ia beranjak dari sana setelah mengambil kunci pintu kamar itu dan mengunci pintunya dari luar. Phobos pun menggotong Kanon keluar kuil Gemini.

"Hermes, aku sudah selesai." kata Phobos menghadap ke langit.

Dengan bantuan Hermes, pada detik berikutnya Phobos yang membawa Kanon pada bahu kanannya itu pun tiba di Pulau Kail, tepatnya di bangunan itu. Phobos pun menurunkan Kanon dari bahunya dan berlutut dihadapan tuannya.

"Aku sudah membawanya." Kata Phobos dengan wajah menunduk.

Orang misterius itu pun mendekati Kanon yang terbaring lemah di lantai, ia pun menendang pelan pipi Kanon.

"Dia belum sadar." Orang itu memotong sedikit rambut Kanon dan menyipratkan sedikit darah Kanon di rambut itu.

"Bawa ini dan letakkan di lantai pertama, sedangkan kau berjaga di lantai kedua. Gemini itu akan segera datang, kau harus menahannya, mengujinya. Biar aku yang akan mengurus orang ini, mengerti?" Sambung orang itu sambil menyerahkan rambut Kanon pada Phobos.

Phobos pun mengangguk, ia mengambil rambut Kanon dan membawanya. Ia menyeringai bangga karena ia pikir ia berhasil masuk ke Sanctuary dan menjalankan misinya tanpa ketahuan, tapi dia salah.

Di kuil Virgo, Gold Saint pirang yang sedang bermeditasi itu sempat membuka matanya sejenak. Ia menyadari bahwa terjadi pergolakan cosmo di kuil Gemini hingga cosmo penghuni kuil itu lenyap, namun tanpa melakukan apa pun ia kembali menutup matanya dan menghela napas.

"Dengan ini, kau akan mengetahui, seberapa besar cintanya padamu.. Kanon..." Ucap Shaka pelan dari tempatnya.

-FLASHBACK END-

.

"Bersiaplah, Gemini!"

Phobos melesat dengan cepat kearah Saga. Ia pun menebas Saga dengan tombaknya.

"Ugh.." Saga menahan tombak Phobos dengan armor lengannya. Dengan cepat, ia pun langsung menendang perut Phobos hingga terseret kebelakang.

"Heh! kau boleh juga. Sekarang coba kau tahan ini, DRAGON'S BREATH!"

Phobos mengayunkan tombaknya dan tercipta hujan api yang mengarah ke arah Saga. Saga dapat menghindari hujan api itu. Namun sayangnya, salah satu api itu menyerempet lengannya.

"Argh.." Saga mundur beberapa langkah sambil memegang lengannya yang berdarah, terlihat luka bakar disana. Dan dengan segera Saga mengarahkan kedua tangannya kedepan.

"GALAXIAN EXPLOSION!" Saga mengirimkan meteor tepat kearah Phobos.

"Cih!" Phobos mengarahkan tombaknya kedepan dan menciptakan bola-bola api hitam.

"TARTARUS FLAME!" Bola-bola api hitam itu bertabrakan dengan meteor dari Saga. Dari situ, tercipta sebuah ledakan.

Saga dan Phobos melompat mundur untuk menghindari tabrakan dua kekuatan mereka. Dengan cepat Phobos melesat ke arah Saga sambil mengarahkan tombaknya tepat ke dada Saga. Saga yang menyadari itu berputar 90 derajat untuk menghindari serangan Phobos. Phobos berhasil melihat celah diantara gerakan itu dan langsung mengalirkan cosmo ke tombaknya dan menebas pinggang Saga.

"Heh. Kau lengah, Gemini." Ejeknya sambil tertawa. Tombaknya pun sukses mengoyak Cloth Gemini dibagian pinggang dan melukai Saga.

"Arghh..." Saga jatuh berlutut sambil memegang pinggangnya yang terluka cukup dalam. Rasa sakit membuatnya mengerutkan wajah dan menutup matanya erat.

Phobos memandang Saga sinis. "Hanya seperti inikah kekuatan dari Gold Saint Athena? HAH! Lemah sekali. Aku butuh lawan yang kuat!" Katanya dengan nada mengejek.

"Baiklah, jika kau memaksa." Jawab Saga sambil kembali menyeimbangkan posisinya.

Dengan sedikit usaha, Saga pun berhasil berdiri dan mengeluarkan cosmonya yang keemasan. Ia terus menaikkan cosmonya sampai melewati batas, tubuhnya gemetar menahan gempuran cosmo yang luar biasa. Darah di pinggangnya mengalir deras akibat tekanan tinggi dari cosmonya. Namun, ia sama sekali tak mempedulikannya.

"MELEDAKLAH, COSMO KU!" Seru Saga sementara cahaya keemasan yang melingkupi tubuhnya semakin membesar.

Seketika itu juga, Sebuah cahaya emas yang menyilaukan mata muncul dari Gold Cloth itu.

"Ugh.. apa ini?!" Seru Phobos sambil menghalangi cahaya didepan matanya.

Cahaya itu menghilang tak lama kemudian. Phobos pun dengan segera membuka matanya. Dan dihadapannya, terlihatlah Saga yang tengah mengenakan God Cloth Gemini.

"Oh, God Cloth ya." Kata Phobos dengan nada sinis.

Tanpa berkata-kata lagi, Saga pun mengangkat tangannya dan mengarahkannya kedepan.

"GALAXIAN EXPLOSION!" Serunya.

Saga mengirimkan meteor dengan kekuatan berlipat ganda dari sebelumnya. Phobos pun mengarahkan tombaknya kedepan dan berseru, "Hah! Tak ada bedanya! TARTARUS FLAME!"

Cosmo berupa bola-bola api hitam pun segera melesat ke arah Saga dan tubrukan yang sama pun terulang kembali.

Tetapi, Galaxian Explosion dari Saga yang mengenakan God Cloth lebih kuat dari Tartarus Flame milik Phobos. Bola-bola api hitam itu sama sekali tak bersisa melawan kekuatan meteor dari Sang Gemini. Phobos memutar tombaknya untuk menangkis Galaxian Explosion, tetapi ia tidak sanggup menangkis kekuatan yang dikatakan mampu menghancurkan galaksi itu.

"AAAGHH!" Phobos terlempar sejauh beberapa meter setelah badannya terkena serangan dari Saga. Armornya pecah, mulutnya pun mengeluarkan banyak darah.

Tak lama kemudian, God Cloth Saga telah kembali menjadi Gold Cloth biasa. Ia pun melangkah mendatangi Phobos yang kini telah terbaring berlumuran darah. Phobos melihatnya dengan pandangannya yang sudah mengabur.

"Kau... berhasil... disana..." Phobos menunjuk ke sebuah tangga yang tak letaknya tak jauh dari mereka, dan seketika itu juga nyawanya pun berpisah dari tubuhnya.

Saga melihat sebuah tangga yang ditunjuk Phobos. Hatinya terusik rasa bersalah dan penyesalan hebat ketika memandangnya. Ia pun dengan segera berjalan menuju tangga itu tanpa menoleh lagi.

...OOO...

TO BE CONTINUED

Ceritanya absurd banget yak? Idenya lagi ngeblank :"v /
bukannya belajar untuk UTS malah bikin fic #anakteladan

Kritik dan Saran selalu ditunggu :3

Thanks for reading! ^_^