CAPTAIN TSUBASA : YOICHI TAKAHASHI
Mimpi dan Harapan: Ozora Haruka (R-OH)
Chapter : 2
.
.
.
.
Kau menunduk, berjalan dalam diam di tengah kebisingan Festival musim panas. Namun kadang kau menoleh pada sosok Tsubasa yang berjalan tak jauh darimu bersama teman-teman yang lain.
Bibirmu menyunggingkan seulas senyum saat menatapnya. Rasanya sudah lama sekali kau tak melihat sosoknya. Ia yang selalu bersemangat dengan apa pun yang berhubungan dengan bola, ia yang selalu ceria, ia yang selalu mewarnai hari-harimu.
Ah, jika boleh, kau ingin sekali lagi memeluknya erat seperti tadi siang. Tak akan pernah membiarkanya pergi meninggalkan mu hingga membuat mu hampir gila karna kehilanganya. Karna kau benar-benar sangat mencintainya.
Kau kembali menunduk. Kau berharap ini bukan mimpi seperti yang kau pikirkan. Kau berharap ini memang nyata. Karna jika ini mimpi, saat kau terbangun kau pasti akan kehilanganya lagi.
Tapi kau kembali ragu. Jika ini memang nyata kenapa kau merasa pernah melalui rutinitas yang sama sepanjang hari ini. Namun jika ini mimpi kenapa semuanya terasa begitu nyata, kau merasakan rasa sakit di tangan mu saat kau memuku Ishizaki tadi siang. Bukankah kata orang jika kau bermimpi, kau tidak akan merasak sakit. Dan kau merasa telah melupakan sesuatu yang begitu penting. Meskipun berkali-kali kau mencoba untuk mengingatnya. Yang kau ingat hanyalah sebelum semua hal aneh ini terjadi kau, talah kehilangn seseorang yang teramat kau cintai.
"Uuh!" Sekelebat ingatan tiba-tiba terlintas di pikiran mu. Kau lagi-lagi melihat sosoknya yang berlumuran darah serta teriakan-teriakan memilukan.
Kau menggelengkan kepalamu, berusaha menepis ingatan mengerikan itu. "Kami-sama, sebenarnya apa yang sedang terjadi? Di mana aku sekarang?"
Kau semakin tak bisa membedakan kenyataan dan mimpi. Kau merasa terjebak di dalam dimensi lain yang-
"Kau kenapa Sanae?"
Kau mendongakan wajahmu. Menemukan sosoknya yang telah berdiri di hadapan mu entah sejak kapan.
"Wajahmu pucat. Apa kau sakit?"
Rasa hangat menjalar di wajahmu saat telapak tanganya menyentuh keningmu. Entah ia sengaja atau tidak melakukan itu. Yang kau tau jantungmu berdebar tak karuan, dan entah kenapa kau semakin ingin memeluknya.
Namun kau takut ini hanya mimpi belaka. Kau takut saat kau memeluknya kau akan terbangun dan semakin tak bisa merelakan kepergianya. Kau takut luka mu semakin dalam.
"Tsubasa!" dan akhirnya kau hanya mampu menyebut namanya.
Tsubasa menarik lenganya dari keningmu, menatap mu, menunggu lanjutkan ucapan mu.
"Boleh aku menanyakan sesuatu?"
"Um, apa?"
"Jika... Jika kau kehilangan seseorang yang sangat berarti bagimu... lalu ia tiba-tiba saja muncul di hadapan mu, tapi-" kau menggigit bibir bawah mu, "Tapi kau tidak tau itu kenyataan atau mimpi, apa yang akan kau lakukan?" kau mengakhiri kata-katamu dan menunduk semakin dalam.
"Kehilangan seseorang yang sangat berarti ya!" Ia bergumam masih menatap wajahmu yang menunduk.
Lalu mengalihkan pandanganya menatap langit dan terdiam cukup lama. Berpikir mungkin.
"Aku pasti akan merasa sangat kehilangannya." Tsubasa mulai berbicara lagi, "Dan saat tiba-tiba saja ia muncul lagi-" namun entah kenapa kembali terdiam, "-Akan ku lakukan apapun untuknya dan akan ku katakan yang dulu tak bisa ku katakan padanya. Tidak perduli itu nyata atau hanya mimpi yang jelas aku tak akan membiarkan kesempatan itu hilang. Meskipun aku harus merasakan sakit untuk kedua kalinya."
Kau mendongakan wajahmu, terkejut dengan jawabanya. Dan kau, kau melihat ia tersenyum padamu.
Kata-kata itu seperti sebuah uluran tangan yang menarikmu dari jurang yang dalam dan gelap. Kau seolah terbebas dan seketika perasaan bimbang sirna dari hatimu.
Kau pun membalas senyumya. "Umm, arigatou!"
Ia hanya membalas dengan senyum dan mengulurkan tanganya, mengajakmu kembali berjalan. "Pegang tangan ku agar kau tak hilang karna kebanyakan melamun." ia mulai bergurau.
"Hahaha... Iya Kapten." dan kau menemukan tawamu bersamanya.
Kau tau Sanae!? Saat menatap langit tadi, wajah Tsubasa terlihat sangat sedih dan kecewa. Entah karna apa. Yang jelas hanya Kami-sama dan Tsubasa sendirilah yang tau, karna tak ada yang bisa membaca jalan pikiran pemuda Ozora itu.
.
.
.
Tanpa sadar ternyata kalian sudah terpisah dari yang lainya sejak tadi. Dan kau yakin teman-teman mu sengaja meninggalkan mu berdua saja dengan Tsubasa. Ah mereka benar-benar menyebalkan bukan. Tapi di lubuk hatimu kau sangat berterimakasih pada mereka.
Tangan kalian masih bertautan dan diam-diam kau menatap wajahnya. Sejak tadi Tsubasa terus membicarakan tentang sepak bola. Ah menyebalkan ya! Tapi dengan tanganya yang menggenggam erat tangan mu bukankah kau suka, em nona Nakazawa. Yah kau menyukainya! Wajah itu, suara itu dan semua tentang dirinya kau suka, sangat suka.
Seruan dari Paman pedagang menyadarkan mu dari lamunan tentangnya. Kau dan Tsubasa berhenti berjalan. Sang Paman mengatakan kalian adalah pasangan kekasih dan itu membuat semburat kemerahan terlihat di wajah kalian berdua yang tengah tertawa canggung.
"Haha benarkah terlihat seperti itu!"
Eeh apa? Barusan Tsubasa bilng apa? Kau sontak menoleh pada Tsubasa yang dengan entengnya menanggapi ucapan si Paman penjual. Kau bahkan hampir tak percaya Tsubasa mengatakan itu.
"Iya kalian terlihat sangat serasi anak muda hahaha."
Kali ini Tsubasa hanya ikut tertawa. Ah ternyata kau atau siapapun memang tak ada yang akan mengerti jalan pikiran Tsubasa yang sulit ditebak. Yah seperti yang sekarang ini. Tapi apa maksudnya yah!
Si Paman penjual terus saja menggoda kalian dan itu membuat mu salah tingkah. Lalu si Paman menawarkan mu sebuah gelang yang entah kenapa kau merasa sangat familiar melihatnya.
"Ini gelang dari Kuil Nikumo yang terkenal bisa mengabulkan semua ke inginan. Gelang ini pasti akan mengabulkan semua ke inginan mu."
Kau terdiam dengan gelang itu yang sudah ada di dalam genggaman tanganmu. Tiba-tiba sekelebat ingatan yang samar-samar berputar di pikiran mu.
"Bagaimana, apa nona tertarik?"
"Ah!" kau menatap paman penjual, "Terimakasih. Tapi maaf ya Paman, lain kali saja." kau memberikan gelang itu dan kembali berjalan.
Kau tak sadar bahwa Tsubasa masih diam di stan itu. Menatapmu dengan tatapan yang lagi-lagi terlihat sedih.
.
.
.
Tepat di pinggiran sungailah tempat yang kalian pilih untuk melihat pesta kembang api. Kau merentangkan tanganmu dan menghirup banyak udara lalu menghembuskanya perlahan.
"Sanae!"
Kau menoleh pada Tsubasa di sebelahmu.
"Pinjam tanganmu?" Ia menarik lengan kirimu dan terlihat mengambil sesuatu dari kantong jaketnya.
"Eh, ini?" wajahmu bersemu kemerah saat ia memakaikan sebuah gelang yang tadi tak jadi kau beli.
"Untuk mu!" Tsubasa berujar wajahnya- terlihat memerah.
"Eh, untuk ku!" ia mengangguk "Kenpa?"
Dimengangkat bahunya, seolah tak yakin. "Mungkin terdengar konyol jika aku yang mengatakanya. Tapi siapa tau kau benar-benar bisa memohon agar orang yang berarti untuk mu tidak pergi lagi." lalu ia tertawa. Menertawakan ucpanya sendiri.
Kau pun ikut tertawa mendengar ucapanya yang seperti gurauan itu.
"Haha itu memang konyol. Seperti bukan Tsubasa saja. Tapi terimakasih Tsubasa!" kau tersenyum padanya.
Tsubasa berhenti tertawa, kau pun juga. Lalu waktu seolah berhenti disekitar kalian yang hanya saling memandang dalam diam.
"Sanae, ada yang ingin ku katakan padamu." Tsubasa mengakhiri kesunyian di antara kalian.
Kau hanya menatapnya. Menunggu ia melanjutkan ucapanya. "Mungkin aku terlambat mengatakanya." Wajahnya memereh namun entah kenapa terlihat begitu serius.
Dan dengan tiba-tiba ia menggenggam kedua tanganmu. Jantung mu mulai berdebar tak karuan lagi.
"Aku-"
Kau masih menunggunya.
"Aku-"
"Cie cie cie Kapten dan Menejer sedang bermesraan."
Ah tampaknya keberuntungan belum berpihak pada kalian. Buktinya suara nyaring Ishizaki mengganggu suasana romantis mu dengan Tsubasa. Dan itu sangat menyebalkan buatmu.
"Ckk."
Rasanya barusan kau mendengar Tsubasa berdecak sebal. Mungkinkah ia meras kedatangan Ishizaki dan yang lainya mengganggu juga? Ah entahlah.
"Wah wah wah kalian sampai berpegangan tangan segala." timpal Taki.
Kau dan Tsubasa leflek melepaskan tangan dengan wajah yang lagi-lagi memerah.
"Jangan-jangan Kapten sedang menyatakan cinta pada Menejer ya."
Ah barusan mereka bilang apa?
" Wow romantinyaaa~"
Semburat di wajah kalian semakin memerah.
Dan teman-teman yang lainya mulai berdatangan lalu ikut menggoda kalian berdua.
Dalam hati kau mengutuk teman-temanmu yang usil itu. Jika saja kau bisa mentelepor mereka keduni lain dengan senang hati kau akan melakukanya. Padahal kau kan sangat penasaran dengan hal yang akan Tsubasa katakan. Wajah Tsubasa tadi terlihat begitu serius.
Kau ngalihkan pandangan mu pada Tsubasa. Dan kebetulan Tsubasa juga sedang melihat ke arahmu, ia tersenyum.
PIYUUUS!
DUAR!
Dan, suara gemuruk kembang api mulai terdengar di langit malam. Kau merasa ada getaran aneh di hatimu, getaran yang terasa begitu menyakitkan. Kau menoleh kearah langit.
Matamu terbelalak, kau merasa semua yang ada di sekitarmu perlahan mulai menjauh. Kau seperti tersedot ke sebuah pusaran waktu, terjebak di sebuah labiring yang menbingungkan.
"Apa ini? Apa yang terjadi."
Suara gemuruk kembang api masih dapat kau dengar dengan jelas. Dan itu semakin membuat mu masuk kedalam pusaran waktu.
.
.
.
TBC
Ini apa sih? aku buat apa sih? ah gak tau lah! kalau ada yang bingung sama ceritanya, jangan tanya. aku yang buat aja bingung.
tapi biarlah aku dengan cerita gak jelas ini dan kalian dengan komentar kalian masing-masing /apaancoba
