"Itachi sama!" seru seorang pemuda yang kini berdiri di depan Itachi. Salah satu pelayan kepercayaan di keluarga besar Uchiha yang telah merawat Yuki selama ini.

"Deidara sudah pulang?" Mata hitam itu menatap pintu di depannya.

Pemuda itu mengangguk, "tapi Deidara sama belum keluar kamar sedari ia pulang," pemuda itu menunduk, "tuan muda sedari tadi menunggu anda sampai tertidur."

Itachi hanya bisa tersenyum tipis, "Kau boleh pulang."

Pemuda itu pun membungkuk memberi hormat lalu beranjak pergi.

Itachi melangkah memasuki apartemennya. Sejenak ia menatap apartemennya yang nampak sepi. Dengan tubuh yang kelelahan itu ia melangkah ke kamarnya yang berada di lantai atas.

Itachi membuka pintu kamarnya dan menemukan tubuh Deidara tengah tertidur lelap di atas ranjang. Itachi menaruh jas dan tas kerjanya di atas sofa. Melepas dasinya sembari mendekati Deidara. Dengan pelan ia menaiki ranjang dan menemukan wajah lelah pria pirang itu.

Itachi menatap beberapa botol alkohol di atas meja dan beberapa putung rokok. Itachi tahu betapa Deidara nampak terpukul dengan kedatangan bocah yang entah dari mana itu. Tapi Itachi tidak pernah berharap jika Deidara sampai melukai tubuhnya sendiri tanpa sadar.

"Dei!" Dengan lembut Itachi memeluk tubuh ringkih itu. Itachi tahu jika ia telah begitu banyak melukai hati Deidara selama belasan tahun ia mengenal pria Namikaze itu.

.

.

.

Naruto fanfiction

Present:

Naruto © Masashi Kishimoto

In Our Time © Ran Hime

ItaDei, SasuNaru, Yuki N (OC).

Drama, Romance, Family

M rated

Sequel of Tears

AU, OOC, OC, Yaoi, Typo.

.

.

.

chapter 1

.

"Selamat pagi!" seru Itachi sembari memeluk tubuh setengah telanjang itu. Ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher suaminya yang tengah membelakanginya.

Tidak ada jawaban walau Itachi tahu jika Deidara sudah membuka matanya. Dua tahun berlalu dan hubungannya dengan Deidara tidak berubah sedikit pun. Masih dingin dan tetap sama seperti setelah bocah itu datang. Tidak ada lagi kebersamaan sehangat dulu. Tidak ada lagi tawa lepas dari wajah Deidara yang bisa ia nikmati. Walau Deidara tidak mengatakan apapun, namun Itachi tahu betapa terlukanya Deidara ketika harus menerima bocah itu.

"Hampir seminggu tidak pulang dan tidak ada ciuman untukku?"

Kali ini kalimat Uchiha itu mendapatkan respon ketika ada pergerakan tubuh di pelukannya. Deidara berbalik lalu menatap wajah Itachi. Deidara tersenyum lalu mendaratkan bibirnya di bibir Itachi. Itachi tersenyum di sela ciumannya. Ia meraih kepala Deidara dan menekannya. Memperdalam ciuman yang entah kapan terakhir kali ia dapatkan.

"Kupikir kau tidak merindakanku."

Itachi mengernyit mendengar kalimat dari suara serak itu. Tidak merindukan? Yang benar saja. Itachi merindukan Deidara. Merindukan pria itu menunggunya setiap kali pulang kerja seperti dulu. Merindukan tawa hangat pria itu. Merindukan waktu kebersamaan yang telah lama menghilang.

"Kau minum lagi?"

Deidara hanya tersenyum. Tanpa ia jawabpun Itachi pasti tahu itu. Akhir-akhir ini ia agak depresi. Dan alkohol adalah jawaban yang bisa memberinya ketenangannya. Jika ia ingat, ia tidak pernah minum lagi selama ini. Hingga dua tahun lalu ia mencoba kembali minuman itu untuk menghilangkan stress di kepalanya. Ia butuh pelarian!

Tiba-tiba Deidara merasakan sesak di dadanya. Ia pikir, rasa sesak itu datang karena ia ingat bocah itu. Namun rasa sakitnya berbeda. Ia mencengkeram dadanya dan mulai batuk.

"Dei!" seru Itachi khawatir.

"Aku tidak apa-apa."

Itachi meraih gelas di atas meja nakas dan membantu pria di sampingnya itu untuk minum. Seharusnya Deidara mulai mengurangi rokoknya, namun Itachi tidak bisa membuat Deidara melakukan itu.

.

.

In our Time

.

.

Pria pirang itu berjalan dengan semangat. Mata shapire nya menatap penuh bahagia. Hari yang indah, seindah ketika para gadis menatapnya terpesona. Dengan penuh percaya diri, pemuda itu memberikan senyum lebar kepada setiap orang yang menatapmya.

"Betapa indahnya hidup, bukan?" Ia kembali tersenyum lebar, menampakkan deretan gigi putihnya.

Ia menghela nafas. Rasanya begitu lega ketika ia bisa terbebas dari para Uchiha itu. Ia menatap ke kanan dan menemukan para gadis dengan pakaian pendek mereka hingga memperlihatkan paha mulus. Naruto makin bersemangat melangkah menuju ke kelasnya. Bagi Naruto, tidak ada yang lebih indah selain melihat para gadis di kampusnya. Cukup sudah ia melihat wajah datar di kediaman Uchiha.

Mungkin ia sudah menikah, tapi bukankah Naruto juga masih mempunyai perasaan terhadap wanita? Wajar jika ia begitu suka melihat para juniornya yang cantik-cantik itu.

"Rasanya seperti surga, bisa kembali ke sini lagi." Ia tertawa dengan mata berbinar.

Mungkin terdengar berlebihan. Namun tinggal di kediaman Uchiha yang semua penghuninya laki-laki membuat Naruto bosan. Sasuke bodoh itu menyuruh para pelayan perempuan untuk meninggalkan kediaman Utama dan menggantinya dengan pelayan laki-laki. Uchiha bungsu sialan itu pikir, Naruto akan tergoda dengan pelayan yang sudah tua.

Walau Naruto masih menyukai perempuan, bukan bearti Naruto akan jatuh cinta begitu saja dengan wanita bersuami.

"Pagi Shion chan!" sapa Naruto dengan senyum menawannya hingga membuat mahasiswa tingkat awal itu tersipu.

"Pa-pagi Naruto senpai!"

"Hari ini ada acara apa?"

Gadis itu menggeleng.

"Bagaimana jika kita melanjutkan kencan kemarin."

Gadis itu kembali merona. Mimpi apa ia semalam hingga senior yang paling populer itu mengajaknya kencan. Ia mengangguk, membuat Naruto makin bersemangat.

"Tunggu aku di depan gerbang sebelum makan siang," serunya lalu kembali mekangkah dengan senyum cerianya.

Pemuda dengan satu anak itu mau main-main dengan Uchiha Sasuke ternyata.

.

.

In Our Time

.

.

Perlahan Deidara membuka matanya. Rasa sakit di dadanya sedikit berkurang. Bagaimana bisa ia pingsan setelah semalaman tidur? Namun yang Deidara ingat, ia merasakan dadanya begitu sesak hingga ia sulit bernafas. Membuat Itachi cemas hingga kemudian ia kehilangan kesadarannya.

"Anda sudah siuman Deidara sama."

Tanpa membangunkan tubuhnya, Deidara menoleh ke arah sumber suara. Pemuda yang lama bekerja pada keluarga Uchiha itu tersenyum. Membawa sarapan pagi untuknya. Deidara menoleh ke arah jam di atas meja nakas. Nampak jarum pendek di sana berada di angka sepuluh. Ia memegang kepalanya yang agak pusing lalu mencoba untuk bangun.

"Hati-hati Deidara sama." Pemuda itu meletakkan sarapan Deidara di atas meja lalu mencoba membatu Deidara untuk bangun.

Deidara menatap meja yang kini telah bersih dari botol-botol bekas minumannya. Ia teringat sesuatu ketika tidak dilihatnya bungkus rokoknya yang ia taruh di samping botol-botol itu.

"Dimana rokokku?" serunya mencoba untuk turun dari ranjang, namun tidak bisa.

"Itachi sama meminta saya untuk membuangnya."

Deidara terdiam, "pergilah dan carikan aku rokok."

"Tapi Dedara sama, Itachi sama-"

"Menma!"

Pemuda bernama Menma itu hanya bisa menganguk lalu meninggalkan Deidara di kamarnya. Percuma membantah walau Itachi yang menyuruh. Deidara itu keras kepala dan hampir sepuluh tahun mengenal pria itu, harusnya Menma sedikit lebih peka.

Deidara kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia mengarahkan sebelah tangannya ke kepalanya. Menutupi ke dua matanya dari bias matahari yang memasuki kamarnya.

.

"Deidara san ... Aku tidak bisa mengurus Sawagi kun lebih dari ini."

Deidara menatap bingung gadis di depannya. Sawagi? Sawagi siapa? Dan bahkan Deidara tidak mengerti mengapa gadis itu membawa bocah di gendongannya kepada dirinya.

"Aku akan mengambil beasiswaku di luar negeri dan aku tidak mungkin membawa Sawagi bersamaku."

"Lalu kenapa kau membawanya ke sini? Aku bahkan tidak mengenalmu." Deidara membuka bibirnya, mengutarakan kebingungan dalam pikirannya.

"Nee chan sudah lama meninggal dan mungkin saatnya Sawagi ikut ayahnya."

"Apa?"

Deidara semakin tidak mengerti maksud perkataan gadis di depannya.

"Mungkin sudah saatnya Sawagi kun ikut bersama Itachi san."

"Apa maksudmu?"

"Sawagi kun adalah putra dari Itachi san."

Dan kalimat-kalimat setelahnya tidak mampu lagi terdengar oleh Deidara. Bagaimana bisa suaminya mempunyai anak sebesar itu selama ini tanpa ia tahu.

.

.

In Our Time

.

.

Yuki menghentikan langkahnya tanpa sadar, membuat Sasuke sedikit bingung dengan tingkah putra semata wayangnya. Tangan kecilnya ia lepaskan dari genggaman Sasuke.

"Ayah, aku seperti melihat papa!" seru Yuki lirih dengan pandangan tertuju ke arah dua orang yang tengah menikmati makan siang.

Sasuke menautkan kedua alisnya, tidak mengerti akan apa yang dimaksud bocah itu.

"Kau mungkin salah lihat, Yuki-chan!" seru Sasuke, "hari ini papamu banyak jadwal di kampus," lanjutnya mencoba meyakinkan putranya tersebut.

"Ayah ... Mereka berciuman." Tangan mungil itu terangkat dan jari telunjuknya mengarah kepada dua orang yang tengah berciuman.

Sasuke mendongak lalu menatap dua orang yang dimaksud anaknnya tersebut. Mata hitamnya mulai memicing, mempertajam penglihatannya. Kulit tan, rambut kuning dan ... Sasuke menggeram ketika orang yag dimaksud Yuki benar-benar adalah Naruto. Pemuda itu benar-benar Namikaze Naruto.

"Namikaze Naruto ... Berani-beraninya kau!"

Sasuke ingin marah, namun sebisa mungkin ia menahannya. Tidakkah marah di depan putranya dalah hal buruk? Ayahnya selalu mengajarkan hal itu.

Sasuke tersenyum menyeringai dengan tatapan yang masih mengarah kepada suaminya itu. Bisa-bisanya bocah itu melakukan hal seperti itu disaat dia sedang kerja. Seharusnya Sasuke tidak percaya begitu saja dengan jadwal kegiatan yang Naruto berikan minggu lalu. Ternyata bocah itu benar-benar ingin main-main dengan dirinya.

"Suigetsu, apa jadwalku selanjutnya?" tanya Sasuke kepada Sekretarisnya tersebut.

Pria di belakang Sasuke itu membuka buku catatannya lalu membaca sejenak apa yang telah ia tulis tentang kegiatan Sasuke sehai-hari selama di Kantor.

"Ada pertemuan dengan para Tetua Uchiha bersama tuan muda, Tuan Sasuke."

"Lagi?"

"Tapi kali ini tidak ada penjelasan untuk apa," lanjut Suigetsu lalu menutup buku kecilnya tersebut.

"Bawa Yuki ke sana. Katakan aku ada urusan mendadak."

Dan pria itu hanya mengangguk.

"Yuki-chan ... Kau mau adik, kan?"

"Tentu saja ayah." Jawabnya lalu berjalan meninggalkan ayahnya sendirian. Bocah itu mengerti apa yang ayahnya maksudkan. Dan lagi menjadi anak tunggal tidaklah enak. Andai saja adiknya dulu tidak meninggal sebelum dilahirkan, mungkin ia tidak akan kesepian seperti ini.

.

"Mati aku!" seru Naruto ketika melihat Sasuke berjalan ke arahnya. Dengan kebingungan ia mencoba mencari apapun yang bisa menyembunyikan dirinya dari Sasuke. Namun semua itu percuma. Manik hitam itu terlanjur menatapnya tajam.

"Shi-Shion-chan, bagaimana kalau kita segera pergi?" Naruto mencoba untuk terlihat wajar namun wajah kebingungannya itu tidak dapat menutupi rasa khawatirnya.

"Tapi kita belum selesai makan siang, Senpai."

"Pokoknya kita harus pergi. Sekarang!" Dengan tergesa Naruto mengeluarkan uang di sakunya lalu menaruh kertas tersebut di atas meja.

Namun belum sempat ia bangkit dari kursinya, pria Uchiha itu telah sampai lebih dulu di tempatnya duduk untuk makan siang.

"Jadi, ini yang kau maksud jadwal tambahan, hem!" ujar Sasuke membuat Naruto berkeringat dingin.

"Maaf, anda siapa?" tanya Shion sambil tersenyum. "Apa paman kenal satu di antara kami?"

Paman ... Tiba-tiba saja keluar tanda perempatan di kening Sasuke. Paman? Yang benar saja dia dipanggil paman. Walau dia sudah menikah dan punya anak sebesar Yuki, namun dia tetaplah masih mudah.

"Hai, Nona! Kau berkencan dengan dia?" tanya Sasuke sambil menunjuk ke arah Naruto yang masih komat-kamit tidak jelas.

"Kami..."

"Naroto-kun ... Anakmu menangis tapi kau malah bersenang-senang disini "

Hancur sudah reputasi yang telah Naruto bangun selama ini. Bisa jadi besok para gadis akan menjauhinya karena ucapan si brengsek Sasuke.

"Apa maksudmu, Paman?" Shion makin tidak mengerti akan perkataan pria yang tiba-tiba mendatangi dia dan Naruto itu.

"Teman kencanmu kan sudah punya anak." lanjutnya dengan senyum kemenangan lalu menyeringai ke Naruto.

"Ja-jangan dengarkan dia-"

"Paman ini siapa sih, jangan sok tahu!" dengan nada mulai jengah Shion mencoba membela Naruto.

"Tapi itu memang benar." Sasuke berjalan lebih mendekat ke arah Naruto. Ia memberikan seringaian yang membuat Naruto merinding. Sasuke berhenti tepat di depan Naruto lalu sebelah tangannya memeluk tubuh Naruto. Ia menatap Shion dan kembali menyeringai.

"Karena akulah yang membuat dia hamil," ucapnya sembari meremas bokong Naruto.

"SASUKE BRENGSEK!" teriak Naruto dengan wajah memerah karena malu.

Dan gadis di samping Naruto hanya bisa menganga terkejut akan apa yang dilihatnya itu.

.

.

In our Time

.

.

Itachi mengerjapkan matanya berulangkali sebelum akhirnya bangun sepenuhnya. Ia menggeliat dan menarik nafas panjang. Tersenyum ketika menemukan Deidara sudah berpakaian rapi dengan kemeja putihnya.

Itachi menarik tubuhnya dan beranjak dari tempat tidur. Tanpa memperdulikan tubuh telanjangnya, ia berjalan ke arah Deidara. Dengan lembuat pria itu memeluk Deidara dari belakang. Menaruh dagunya di atas pundak Deidara. Betapa Itachi sangat merindukan saat-saat bersama seperti ini. Tidakkah semua itu bisa dipertahankan lebih lama? Tidak bisakah Deidara tetap di rumah dan menunggunya pulang Kerja seperti tahun-tahun mereka yang telah berlalu.

"Kerja lagi?" Itachi semakin mengeratkan pelukannya. Berharap pria di pelukannya itu tidak pergi.

"Ada rapat dengan Kankuro-san." Deidara merapikan dasinya sembari melirik wajah Itachi lewat kaca di depannya, "kau bau, cepat mandi sana." lanjutnya berusaha melepaskan pelukan Itachi.

Tidak mempedulikan protes dari Deidara, Itachi semakin mengeratkan pelukannya dan mencoba mencium leher pria itu. Selalu seperti ini setiap kali Deidara pulang. Itachi ingin menahan agar pria itu tidak pergi lagi. Meski kenyataannya dalam seminggu Deidara akan pulang, namun tidak dapat dipungkiri jika Itachi takut akan kehilangan Deidara. Itachi takut jika suatu hari Deidara tidak akan kembali.

"Itachi..."

Itachi tersadar dari lamunannya ketika pria di dekapannya memanggilnya berulang kali, "Memangnya kenapa kalau aku bau, hem?" Itachi meraba tiap jengkal tubuh Deidara dan sengaja menelusupkan tangannya ke dalam kemeja pria yang sudah menemani dirinya selama belasan tahun itu, "kau tidak mengajakku mandi."

"Ayolah, jangan seperti ini!" seru Deidara sembari menahan suara desahan akibat tangan Itachi agar tidak keluar, "rapat ini penting."

"Tapi aku merindukanmu."

"Yak, apa yang kau lakukan!" teriak Deidara ketika suaminya malah mengangkat tubuhnya dan berjalan ke arah ranjang mereka. Melempar tubuh kurusnya begitu saja.

"Berapa lama lagi kita akan saling sibuk, Dei?"

Itachi naik ke atas ranjang lalu mengungkung tubuh Deidara di bawahnya. Menatap dalam pria yang sengaja memalingkan mukanya.

"Kau yang sibuk dan bukan aku." Deidara tersenyum lalu memberikam ciuman singkat hinggga membuat Itachi terpaku sejenak.

"Ah, itu bearti kau tak sibuk, bukan?" Itachi menyeringai sejenak dan menatap kancing kemeja Deidara, "kita bisa melanjutkan 'kegiatan' kita." lanjutnya dengan tatapan mesum.

"Yak, lepasakan brengsek!"

Tak peduli akan rontaan Deidara, Itachi mulai melucuti baju suaminya itu. Ia tidak akan membiarkan Deidara pergi lagi. Pria itu bukan Deidara tiga tahun lalu. Bukan Deidara-nya yang selalu menunggunya pulang kerja. Tapi .. pria itu adalah Deidara yang selalu membuatnya kelabakam setiap kali pria itu pergi.

"Itachi-sama ... Tuan muda sudah menunggu anda."

Itachi menghentikan 'kegiatan' yang bahkan baru dimulai itu. Ia menghela nafas ketika melihat wajah Deidara. Wajah yang diperlihatkan Deidara sejak dua tahun lalu.

"Dei-" ada rasa bersalah ketika kebersamaan itu terusik untuk kesekian kalinya. Dan Itachi tahu jika Deidara kecewa.

"Pergilah!" seru Deidara sembari mendorong tubuh Itachi dari atasnya. Dengan cepat ia melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya lagi.

Dan itachi hanya bisa kembali menarik nafas. Sampai kapan semua seperti ini?

.

Deidara membasuh mukanya. Mencoba membuat wajahnya kembali cerah. Ia ingin mengumpat namun tidak bisa. Lihatlah sekarang siapa yang sibuk dan Itachi pikir kenapa selama ini ia selalu pergi?

Selalu dan selalu berakhir seperti ini. Kebersamaan yang telah berlangsung lama kini mulai menghilang. Dan waktu kebersamaan itu masihkan bisa dipertahankan? Cepat atau lambat ia pasti akan tersingkir begitu saja. Cepat atau lambat jika bukan bocah itu pasti Deidara lah yang harus pergi.

Rasa sakit itu perlahan terasa lagi ketika mengingat bagaimana bocah itu datang dalam kehidupannya dua tahun lalu. Perlahan namun pasti tubuh Deidara bergetar bersamaan dengan isak tangis yang mulai terdengar.

.

.

.

To be Continue...