Normal POV
Hinata terbangun dari tidur nyenyaknya. Dia meregangkan tubuhnya masih setengah sadar dengan keberadaannya saat itu.
"dimana ini ?" Hinata mengusap matanya untuk menghilangkan sisa air mata semalam.
Dia menemukan jubbah berwarna hitam menyelimuti tubuhnya.
Dan dia juga tersadar bahwa semalam dia tertidur di tepi sungai, di atas rumput tebal yang sekarang sudah basah oleh embun pagi.
Mata amethyst-nya melotot, seakan ingin menelan jubbah hitam itu, pikirannya diselimuti berjuta pertanyaan akan siapa ? mengapa ? kapan ? sang empunya jubbah menyelimuti tubuhnya.
Kepalanya terasa sangat sakit akibat tertidur di atas rumput tanpa beralaskan apapun. Dia berdiri dan mencoba mengumpulkan seluruh kekuatannya untuk berjalan, tak lupa dia juga membawa jubah itu pulang bersamanya.
"akan kupikirkan lagi nanti." Gumamnya pelan.
~o0o~
Matahari sudah tergelincir di barat, menyihir langit menjadi lembayung raksasa yang bergantung di atas kepala. Gadis lavender itu bersiap untuk keluar dari rumah menuju surga kecil di pinggir sungai. Jujur saja sebenarnya dia merasa takut setelah kejadian kemarin malam, saat dia tertidur disana seorang diri, lalu ketika dia bangun, dia mendapati dirinya sudah berselimut jubbah berwarna hitam.
Tapi, hari ini dia harus kembali kesana, karena dia harus mengembalikan jubah itu.
Alasan lain kenapa Hinata pergi kesana pada malam hari adalah, agar dia dapat merenung sendirian lagi. Saat ini, dia merasa tak ada seorangpun yang dapat menghibur dirinya. Dia hanya ingin sendirian disana, dengan ketenangan bersama semesta.
Akhirnya dia sampai di tepi sungai itu, irisnya menelanjangi segala Sesuatu yang dapat dia lihat. Mencoba menemukan orang yang telah menyelimuti tubuhnya saat dia tertidur disana.
Tak ada seorang pun.
Angin membelai lembut wajah serta rambutnya.
Hinata duduk di atas rumput yang kemarin dia tiduri.
Dia memeluk jubbah hitam itu, memeluknya tanpa bermaksud apapun. Karena memang, dia butuh sesuatu untuk dipeluk. Dia butuh sesuatu atau seseorang untuk berbagi rasa sakit ini. Rasa sakit yang sudah membayanginya selama dua tahun setelah pria blonde bermata biru itu menolak cintanya. Pria itu menganggapnya hanya sebagai adik kecil yang harus selalu dilindungi.
Byakugan no Hime itu sudah membenamkan wajahnya di atas jubbah hitam itu. Air mata terus mengalir tanpa bisa dicegahnya. Bahkan sekarang dia tak ingin lagi menahan tangisannya. Dia menangis dengan keras, dia berteriak menumpahkan segala yang menghimpit dadanya selama ini.
Dari atas pohon yang sama, keturunan terakhir Uchiha sedang memperhatikannya, wajahnya datar tanpa ekspresi. Tatapan matanya dingin. Cih. Dia sangat lemah. Dan Sasuke tau betul, bahwa dirinya membenci orang yang lemah.
"oy, jangan mengotori jubahku dengan airmata-mu itu"
Secepat kilat, tubuh tegap itu sudah berada tepat di sebelah Hinata Hyuuga. Tatapan matanya sangat menakutkan. Hinata mendongakkan kepalanya menuju asal suara itu. Dia sangat terkejut mendapati siapa yang berbicara. Satu detik kemudian, Hinata beranjak dari rumput dan berdiri. Gadis itu ketakutan setengah mati.
"su-sumimasen uchiha san." Hinata menundukkan kepalanya dan kalau dia tak salah dengar tadi, Sasuke mengatakan sesuatu tentang jubahnya ?
"ahh, ini adalah punyamu ?" Hinata melihat jubbah yang sekarang sudah basah oleh airmatanya. Itu berarti, orang yang menyelimutinya malam itu adalah Sasuke Uchiha. Hinata mematung, mencoba mencerna segalanya.
Dengan cepat Sasuke mengambil jubbahnya dari tangan sang Hime dan memakainya kembali. Lalu dia merebahkan tubuhnya di rumput dan menopang kepalanya dengan kedua tangannya. Dia memejamkan mata, tak menganggap Hinata ada disana (itu yang ada di pikiran Hinata).
"arigatou Uchiha-san, maaf jika aku merepotkanmu." Hinata sudah bersiap untuk membalikkan badan dan berlari secepat dia bisa untuk menuju rumahnya. Dia takut sesuatu yang buruk akan terjadi jika dia belama lama disana bersama si pembunuh itu.
"lupakan saja si bodoh itu." Sasuke membuka mulutnya.
Hinata menghentikan langkahnya dan terdiam. Sasuke sudah merubah posisinya menjadi duduk.
"sumiasen uchiha-san, aku tak mengerti apa yang kau bicarakan." Dengan takut Hinata menjawab.
"lupakan saja Naruto bodoh itu." Ada jeda "dia kan yang membuatmu menangis sepanjang malam disini ?" kalimat itu lebih tepat disebut pernyataan daripada pertanyaan.
Perut Hinata seakan bergejolak, seperti menerima ratusan chidori tepat di ulu hatinya. Ngilu, mendengar seorang Sasuke Uchiha berbicara seperti itu kepadanya.
"memangnya kau tau apa tentang perasaanku ? perasaan selama ini, yang tak pernah kukatakan kepada siapapun. Perasaan yang terus tumbuh tanpa bisa kuhentikan. Hanya karena kau melihatku menangis di malam pernikahan Naruto bukan berarti kau bisa dengan mudahnya mengeluarkan kata-kata bodoh seperti itu padaku."
Entah kerasukan setan atau apa, Hinata menjadi sangat emosi mendengar kalimat Sasuke. Dia tak dapat menghentikan mulutnya untuk terus bicara. Tangannya mengepal, matanya panas, sebentar lagi air mata itu akan kembali membasahi kedua pipinya.
Sasuke tetap diam. Dingin. Tanpa ekspresi.
"aku tau."
Angin menerpa wajah dan rambut keduanya. Hinata membalikkan badannya untuk melihat wajah pria bermata onyx itu.
"aku tau, karena aku juga merasakan hal yang sama denganmu."
~0o0~
Hinata POV
Ehhhh ! barusan dia bilang apa ? si Uchiha ini tadi bilang apa ? dia merasakan hal yang sama seperti apa yang kurasakan ? jangan-jangan dia…
"awalnya aku tak percaya kalau mereka akan menikah. Mereka mengirimiku surat saat aku sedang dalam misi penebusan dosaku, lalu aku pikir, tak ada salahnya membuktikan sendiri, lagipula sudah 2 tahun aku tidak pulang ke konoha." aku berani taruhan, itu adalah kalimat terpanjang yang keluar dari mulutnya semenjak dia menginjakkan kakinya di Konoha.
"apakah kau mencintai Sakura ?" kuberanikan diriku bertanya, meski resikonya aku bisa di chidori atau merasakan genjutsunya detik itu juga.
"cinta ya ? ternyata itu namanya…" wajahnya menengadah ke atas, melihat bulan itu lagi.
"sudahlah, mereka pantas mendapatkan satu sama lain. Maka dari itu, berhenti menangisi hal yang tak akan pernah kau dapatkan." Iris onyx-nya menatap kedua mataku. Mata itu, rinnegan dan onyx yang menyapu segala kekosongan hatiku. Kenapa aku merasa lega ? apakah aku lega karena aku tak sendirian merasakan sakit ini ? kalau memang iya, jahat sekali diriku.
Normal POV
Hinata membuka matanya, berusaha mengumpulkan seluruh kesadarannya dan melihat matahari yang menyembul dari balik jendela kamar.
"jam berapa ini…" dia menguap dan terduduk , matanya masih setengah terpejam. Iris amethyst itu mencoba mengingat kejadian semalam.
"ahh!" dia memekik karena telah mengingatnya. Semalam dia bertemu dengan Sasuke Uchiha, si mantan nuke nin paling berbahaya diseluruh desa. Bahkan, Sasuke berbicara padanya. Tentang perasaannya ?
Hinata mengusap wajahnya dan menampar pipinya cukup keras.
"sakk-it" berarti semalam itu bukan mimpi ?
Ini bukanlah hal yang baik.
Matahari sudah mulai naik, hari sudah siang saat dia terbangun. Dia mencoba memanggil Hanabi dan ayahnya, tak ada jawaban.
Kemana semua orang ?
"Hinata-sama, Hiashi sama dan Hanabi sama sedang menghadiri pertemuan para tetua klan Hyuuga. Saya tak boleh membangunkan Hinata-sama , karena Tuan Hiashi bilang, semalam anda pulang cukup larut. Beliau menginginkan anda untuk beristirahat." Seorang pelayan memberitahu keberadaan ayah dan Hanabi.
"oh, begitu.."
Hinata melangkahkan kaki ke dapur, dia ingin memasak sesuatu. Akhirnya dia memutuskan untuk membuat bento berisi nasi kepal dengan daging cincang sebagai isiannya, nasinya dia campur dengan irisan tomat yang sudah dikeringkan. Lalu, dia juga membuat tempura beserta saus sambal hasil racikannya sendiri.
Setelah selesai dia menatap bungkusan bekal itu dan merasa heran dengan dirinya sendiri.
"hah ? untuk apa aku membuat semua ini ?" dia mencoba berpikir keras.
Hinata POV
Ini tidak baik, ini benar-benar tidak baik.
Kau pasti sudah kehilangan akal sehatmu Hinata.
Tubuhku bergerak sendiri. Lalu saat menyadarinya, aku sudah berakhir di depan gerbang mansion Uchiha dengan bento di tanganku.
Tidak. Tidak. Aku tak akan melakukannya. Aku berbalik badan dan berjalan menjauh dari mansion itu. Tapi, bukankah aku membuat bento ini untuknya ? dia tinggal sendirian bukan ?
Kakiku berhenti dan memutar balik mendekati mansion itu lagi.
Ahh! Apa yang kau pikirkan Hinata ? kenapa sekarang kau jadi peduli bagaimana dia makan ? selama ini dia juga baik-baik saja dengan hidupnya yang sendirian.
Aku ingin berbalik lagi untuk meninggalkan mansion itu.
"oy, apa yang kau lakukan ?"
Aku sangat terkejut sampai berteriak saat mendengar suara Sasuke yang sudah berdiri di atas atap gerbang mansionnya. Aku tak dapat menyembunyikan perasaan malu yang teramat sangat.
"se-sejak kapan kau disana ?"
"baru saja." Jawab sasuke acuh.
"kau itu bodoh atau apa ? Jika ada seseorang yang melihatmu berkeliaran disni, kau sendiri yang akan dalam masalah." Mata rinnegan itu seolah menelanjangi semua kepercayaan diriku. Aku menjadi sangat panik jika ditatap seperti itu oleh seorang pria yang baru aku kenal 2 hari yang lalu.
"a-ano Uchiha san, aku kesini karena ingin memberikanmu ini, anggap saja ini sebagai ucapan terimakasihku karena telah menjagaku…. Tidur... malam itu…" ucapanku lirih, tanganku meremas ujung pakaianku, aku sangat gugup setengah mati.
Aku memberikan bento itu secepat yang aku bisa. Tau-tau bento itu sudah berpindah tangan kepada Sasuke. Tanpa memikirkan apakah si bontot Uchiha mau menerimanya atau tidak, aku sudah mengambil ancang-ancang untuk berlari secepat kilat.
"oy, tunggu…"
"kalau Uchiha-san tidak menginginkannya, buang saja." Aku memotong kalimatnya dan berlari meninggalkannya dibelakangku. Aku sudah tak sanggup menatapnya lagi. Ini sangat memalukan. Kenapa aku berbuat seperti ini ?
Tapi sejujurnya, aku adalah orang yang sangat egois. Aku hanya tak ingin memiliki 'hutang' padanya. Aku hanya tak ingin berhutang kepada orang seperti dirinya.
Normal POV
Sudah 3 hari sejak insiden bento di mansion Uchiha.
Sejak saat itu juga Hinata tak pernah keluar rumah. Yang dia lakukan hanya membaca buku di kamarnya, memasak, atau merajut. Iris amethyst itu berputar kesana dan kemari, mulai bosan dengan buku bacaan yang sudah dibacanya sejak 2 jam yang lalu.
Dia menutupi wajahnya dengan buku itu. Hinata merebahkan tubuhnya di atas ranjang , matanya menatap tepat ke atas langit-langit kamarnya. Wajah pria blonde bermata biru itu mulai merasuki pikirannya lagi, senyumannya, keceriannya, Matanya terasa panas.
"Naruto kun… apa yang sedang kau lakukan bersama sakura ?"
Lalu, suara seseorang berbisik di telinganya. Terdengar sangat jelas dan nyata.
"sudahlah, mereka pantas mendapatkan satu sama lain. Maka dari itu, berhenti menangisi hal yang tak akan pernah kau dapatkan"
Gadis Hyuuga itu mendengar suara kunai yang dilempar dan menancap tepat di depan kamarnya.
Hinata terkesiap, bukunya terjatuh ke lantai. Dia menyeret kakinya menuju jendela, benar saja, itu adalah pesan kunai. Di gagang kunai itu terdapat secarik kertas. Hinata mengambil dan melihat apa isi dari surat tersebut.
Terima kasih atas bento-nya
Hinata mengerjapkan matanya tak percaya.
Apakah ini, dari Sasuke ?
Hinata POV
Entah setan apa yang menggerakkan kakiku ke tempat ini lagi.
Saat aku sadari, aku telah duduk di atas rumput yang bergoyang tersapu angin sore.
Lembayung senja masih menggantung di ufuk barat. Benda bulat besar bercahaya itu mulai melepaskan partikel-partikelnya menjadi semburat orange di angkasa.
Tempat ini mulai menjadi candu buatku. Menyebalkan.
"Byakugan no hime sudah mulai pintar mencuri tempat bersantai seorang Uchiha rupanya."
Suara itu…
Iris rinnegan-nya memperhatikan Hinata yang memakai t-shirt berwarna pink yang dipadu dengan celana khaki selutut. Surai indigo yang dia ikat tinggi, memperlihatkan leher jenjangnya.
"su-sumimasen Uchiha-san. Tapi tempat ini kan bukan punyamu." Aku berbicara dengan sangat kurangajar kepada seorang pembunuh dihadapanku. Entah kenapa, aku sudah tak merasa takut padanya.
Sasuke hanya diam dan mengambil tempat di sebelahku, dia merebahkan tubuhnya dan menjadikan kedua tangannya sebagai bantal untuk kepalanya. Matanya terpejam. Jarak kami hanya tersisa satu meter.
Benar-benar situasi yang sangat canggung. Ternyata bukan aku satu-satunya yang ingin menikmati sore disini.
1 menit
2 menit
Sunyi menyelimuti kami berdua.
Tak ada diantara kami yang membuka mulut untuk memulai pembicaraan.
"yo Hinata, Sasuke, apa yang kalian lakukan disana ?"
Seperti disambar petir di siang bolong, kami terkejut bukan main mendengar suara itu. Dengan gerakan lambat kami menengok ke belakang dan mendapati disana sudah ada Shikamaru, Chouji, Lee, Kiba, Sai, Shino dan Naruto... Mereka sedang bersama-sama dan parahnya lagi, mereka menuju ke tempat kami berada saat ini.
Gawat , gawat. Situasi ini benar-benar gawat.
"Hallo, minna… apa yang kalian lakukan disini ?" aku berusaha bersikap biasa saja namun aku tau bahwa aku gagal. Apalagi disana ada Naruto-kun yang semakin membuat jantungku berdetak tak karuan. Aku dapat melihat wajah para pria itu dipenuhi pertanyaan.
"bukankah seharusnya kami yang bertanya itu pada kalian berdua ?" shikamaru menyeringai.
"so, so. Apa yang kalian lakukan disini ?" Lee tak mau kalah.
"hmmm… aku mencium sesutau yang sangat mencurigakan disini." Wajah sinisnya dia tujukkan kepada Sasuke.
"ahh! Teme apa yang kau lakukan pada Hinata di tempat seperti ini ?" Naruto menunjuk-nunjuk wajah Sasuke.
Aku gelapagapan. Tak tahu apa yang harus kukatakan. Apalagi kehadiran Naruto semakin membuatku tak dapat berpikir jernih. Kepalaku terasa berputar putar, ugh! Bodoh sekali aku, kebiasaan burukku muncul. Saat panic, aku sama sekali tak tau harus mengatakan apa. Aku hanya diam dan gelisah. Pasti wajahku sudah sangat merah sekarang ini.
Tatapan mata mereka mulai berpindah. Yang tadinya menatap penuh curiga ke arahku, mulai menatap Sasuke. Yang dimintai jawaban memasang tampang tenang dan tak bergeming, tetap pada posisi tidur di atas rumput. Sikapnya sangat berbeda denganku. Bagaimana bisa dia setenang itu dalam situasi ini. Menyebalkan.
"kami sedang kencan."
*hening*
…
…
…
"hmmm…" Naruto semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Sasuke.
"kencan ?" Kiba mengulangi kata kencan sambil melongo.
"Sasuke kencan dengan Hinata ? HAHAHAHA! Itu tidak mungkin" Naruto tertawa terbahak-bahak dan diikuti dengan yang lainnya.
Wajah Sasuke mulai terlihat kesal.
"oy, apanya yang lucu ?" tatapan itu lagi, tatapan membunuh yang sangat menakutkan.
Hiiihhhhh.. semuanya langsung diam. Hening kembali.
Aku semakin salah tingkah dibuatnya.
"ti-tidak… tidak seperti itu kok teman-teman…" aku tak tau harus melanjutkan kalimatku dengan apa lagi. Lalu hanya dapat tertunduk lemas.
Semuanya diam, dan terlihat berpikir keras. Mereka memegang dagu dan mengangguk-angguk.
"baiklah,ayo kita ke onsen Teme, Hinata juga." Shikamaru melihat Naruto dengan tatapan "seriously?" entah bodoh atau apa, disaat seperti ini dia malah mengajak Sasuke ke onsen.
"hn.."
"oy teme, aku bicara denganmu tauk!"
"kalian pergilah, nanti aku menyusul." Sasuke mengubah posisinya menjadi duduk.
"aahhh kau ini teme! Kenapa tidak sekarang saja kita pergi ke sana bersama ?"
"pergilah, atau kalian ingin aku antar dengan susannoo milikku ?" iris onyx-nya melotot, pertanda sasuke sudah sangat gusar.
Gerombolan pria itu begidik ngeri. Melihat wujud susanno saja sudah sangat menakutkan, apa kabar jika harus digendong oleh monster ungu milik Sasuke sampai ke onsen ?
Kiba dan Lee menggeleng gelengkan kepalanya karena mambayangkan digendong oleh susanno sampai ke onsen.
"ba-baiklah, kami akan pergi duluan. Jaa sasuke, Hinata." Lee menarik tangan Naruto agar dia segera menyingkir dari sana.
"hey jangan Tarik aku! Hinata, kalau sasuke berbuat jahat padamu beritahu aku yaa! Akan kuberi pelajaran pada si teme itu!" Naruto berteriak teriak, suaranya semakin tak terdengar karena mereka akhirnya pergi.
Aku menarik nafas lega.
"si dobe itu, benar-benar berisik!" Sasuke menghempaskan tubuhnya di atas rumput, matanya terpejam lagi.
"ano, U-uchiha san, kenapa kau mengatakan hal itu kepada mereka ?" kuberanikan diri untuk bertanya padanya.
"memangnya apa yang sedang kita lakukan sekarang kalau bukan berkencan ?" sasuke menjawab seenak jidatnya dengan tatapan acuh.
EEHHHH ? KENCAN ? AKU DAN SASUKE ?
