Judul : I LOVE U, PROFESSOR: Still Love You, Professor!
Disclaimer : JK Rowling
Chara : Severus Snape
Warning : OC-centric, setting setahun setelah chapter pertama.
Summary : "Aku belum pernah bertemu dengan orang yang lebih aneh dari pada sahabatku. Ketertarikannya pada Ramuan bukanlah pada subjeknya, melainkan… aku tak tega menyebutkannya."
.
.
Ujian NEWT semakin hari semakin mendekat, membawa aura sangat tidak menyenangkan yang bikin stress berat dan senewen di kalangan siswa Hogwarts kelas tujuh, termasuk aku. Tapi rupanya itu tidak terjadi pada sahabatku, Emily Dunn. Memang sih kadang-kadang dia tampak serius belajar dan marah kalau diganggu, tapi toh dia masih punya waktu untuk mengagumi Snape, mencari cara untuk mendapatkan perhatiannya.
Oh, tapi dia sudah meninggalkan cara lamanya dengan mengacaukan ramuannya di kelas Snape. "Aku akan menepati janjiku pada Profesor Snape, Arlene," kilahnya suatu hari.
Tapi Emily masih punya selusin cara lain untuk menarik perhatian guru tergalak di Hogwarts itu, khususnya di kelas ramuan. Alih-alih mengacaukan ramuannya, Emily menjatuhkan apa saja dengan sengaja ketika Snape melewati. Mulai dari pena bulu, buku teks, bahan ramuan, belati, tongkat sihir dan masih banyak lagi barang-barang yang jadi korbannya. Dia akan buru-buru menunduk di depan Snape untuk mengambil apa pun itu yang dijatuhkannya dan berkata riang, "Maaf, Sir!"—aku belum pernah mendengar ada anak lain yang berkata dengan nada seperti itu pada Snape. Bahkan anak Slytherin sekali pun.
Namun semakin dekat NEWT, Emily tampaknya jadi lupa menjatuhkan sesuatu saat pelajaran Ramuan. Karena Snape menugasi kami membuat ramuan yang semakin lama semakin sulit dan rumit, bahkan siswa terbaik seperti Emily pun harus ekstra berkonsentrasi untuk merebusnya.
Pernah satu kali terjadi kejadian—yang menurutku—lucu di kelas Ramuan. Saat itu Snape menugasi kami membuat ramuan yang paling sulit dan paling rumit yang pernah diberikannya di kelas Ramuan. Kukira saat itu Emily mulai melancarkan aksinya lagi. Selama hampir dua jam, kami berkutat di depan kuali-kuali kami yang menggelegak dan menguarkan aroma keras yang bikin pusing. Tiba-tiba saja…
DUG! Terdengar suara keras seperti benda berat yang terjatuh. Semua kepala menoleh ke sumber suara.
"Oh, tidak!" jerit Emily tertahan, wajahnya merah dan basah kena uap dari kualinya. "Sir, maafkan saya. Saya benar-benar tidak sengaja. Anda baik-baik saja, Sir?" Emily bergegas membungkuk untuk memapah apa yang kulihat sebagai gundukan hitam besar di sebelah mejanya.
"Lepaskan aku, Miss Dunn!" bentak suara keras dari arah gundukan. Rupanya gundukan itu adalah Snape yang sedang membungkuk.
"Tapi, Sir—" Emily tampak cemas.
"Kubilang lepaskan!" bentak Snape lagi. "Potong dua puluh angka dari Ravenclaw karena kecerobohanmu. Dan setelah ini kita akan membicarakan detensimu," dia bangkit berdiri dan berjalan dengan tertatih ke mejanya, wajahnya sedikit mengernyit, seperti kesakitan. Rupanya Emily tadi menjatuhkan alunya dan tepat mengenai kaki Snape. Semua anak yang melihat kejadian itu merah padam menahan tawa, termasuk aku.
Aku mengerling Emily yang masih terpaku di tempatnya, tampak shock.
"Em?" desisku ke meja sebelah.
Tapi tampaknya dia tidak mendengarkanku karena Emily terus saja memandangi Snape yang sekarang duduk di meja guru dan nyaris tidak memperhatikan ramuannya. Emily tersentak kaget ketika terdengar suara desis menyeramkan dari arah kualinya.
"Nah, selamat," kataku ketika kami berjalan meninggalkan ruang bawah tanah menuju Aula Besar untuk makan siang. Tadi aku sengaja menunggu Emily membicarakan dulu detensinya dengan Snape.
"Selamat apanya!" pekik Emily panik. "Aku tidak sengaja, tahu!"
"Lho, bukannya itu strategimu yang lain?" tanyaku heran.
"Aduh, jangan ngomongin itu dulu deh…" sahut Emily dengan tampang merana. "Oh tidak, Oh tidak, Oh tidak… Aku sudah menyakiti Profesor Snape! Aku tadi sudah mematahkan setidaknya satu jari kakinya…" sekarang matanya dipenuhi air mata.
"Kau sudah meremukkan semua jari-jari kakinya, Em," kataku menyeringai. Tapi Emily malah melolong lebih keras.
"Aku tidak sengaja, Arlene…" pekiknya. "Aku sedang berkonsentrasi dengan ramuanku, lalu tanpa sengaja menyenggol jatuh aluku…"
"Sudahlah, Em. Dia kan ahli ramuan, jadi pasti dia bisa merebus ramuan penyembuh untuk dirinya sendiri dalam sekejap. Alumu tidak akan membunuhnya kok, jangan cemas…" hiburku seraya merangkul sahabatku itu dan membelai punggungnya lembut. "Lihat positifnya saja deh. Kau kan dari dulu kepingin didetensi dengan Snape, sekarang kesampaian juga kan?"
Emily mengusap air matanya dan nyengir lebar menatapku, "Betul juga. Aku harus semangat!"
Dasar orang aneh, anak lain mana ada yang mau begitu saja didetensi, dengan Snape lagi! Batinku geli.
"Tapi, Arlene…" katanya lambat-lambat setelah kami sudah berada di Aula Besar, "Apa aku harus membawakannya sesuatu untuk permohonan maaf?"
"Membawakan apa? Kau mau meminta maaf sama siapa sih?" tanyaku setelah menelan potongan sandwich tunaku.
"Profesor Snape!" kata Emily tak sabar, "Aku benar-benar merasa tak enak. Lihat, mejanya saja kosong," dia menunjuk meja guru.
Aku ikut menoleh ke meja guru, benar saja, bangku Snape kosong. "Oh, yeah…" kataku seraya kembali menekuni makan siangku.
"Menurutmu aku harus memberi apa? Bagaimana kalau cokelat?"
Aku langsung tersedak. Dengan terbatuk-batuk aku buru-buru menuang jus labu ke pialaku dan menegaknya banyak-banyak. "Cokelat lagi? Kau ini tak ada bosan-bosannya ya memberi Snape cokelat? Lebih baik kau tidak memberi apa-apa deh. Lagi pula apa kau pernah melihat tanda-tanda Snape senang menerima cokelatmu? Tidak kan?"
Sejak Valentine tahun lalu, Emily memang jadi kerajingan memberi cokelat pada Snape. Tapi kami sama sekali tidak pernah melihat tanda-tanda Snape senang menerimanya, bahkan tanda-tanda kalau dia sudah menerimanya juga tidak pernah.
"Ya sudahlah. Kurasa Profesor Snape juga tidak terlalu suka cokelat," ujar Emily pelan sambil menusuk-nusuk pai dagingnya dengan garpu, tampak lesu.
Pukul setengah sembilan malam Emily akan melaksanakan detensinya bersama Snape di kantornya. Aku mengucapkan semoga sukses pada sobat karibku itu saat dia berangkat dari ruang rekreasi Ravenclaw pukul delapan lebih lima belas menit. Suasana hati Emily saat itu berubah-ubah, sesaat dia tampak gembira tapi di saat lain, dia tampak lesu dan aku paham betul kenapa. Emily senang karena dia akan melewatkan waktu beberapa jam bersama guru pujaannya itu, tapi di sisi lain dia masih merasa bersalah dan mengkhawatirkan Snape. Yah, meskipun menurutku kecemasannya itu agak terlalu berlebihan.
Sementara menunggu Emily kembali dari detensinya, aku mengerjakan PR-PR ku yang sudah menumpuk bersama Matthew Hoberman, ehm, pacarku. Aku dan Matt baru saja menyelesaikan esai panjang supersulit tentang Mantra Protean ketika Emily masuk lewat lubang lukisan. Ekspresinya sulit dijelaskan.
"Emily! Cepat sekali detensimu," kataku ketika Emily mengenyakkan tubuhnya ke kursi berlengan kosong.
Emily menghela napas panjang sebelum berkata pelan, "Terlalu cepat ya?"
"Ya…" kataku heran, "Waktu aku detensi dengan McGonagall beberapa tahun yang lalu rasanya lama sekali, mungkin seharian."
"Kau pernah detensi dengan McGonagall?" Matt menanyaiku, mengernyit.
"Yeah, waktu kelas tiga. Waktu itu aku kelupaan membawa PR ku. Masa sih kau tak tahu? Kita kan satu kelas," kataku balas mengernyit.
Matt nyengir menatapku, "Aku lupa,"
"Oh, untung sekali ya," tukasku dingin. Aku kembali menatap Emily, "Apa yang terjadi, Em?"
"Yah, dia memintaku menyortir cacing floober untuk digunakan di kelas ramuan. Tapi aku baru setengah mengerjakannya, dia sudah menyuruhku kembali ke asrama—"
"APA! BARU SETENGAH KERJA SUDAH DISURUH KEMBALI KE ASRAMA?" teriak Matt membuat aku dan Emily terlonjak kaget.
"Kenapa sih kau teriak-teriak?" tanyaku heran.
Wajah Matt merona merah, tampak malu sekaligus marah. "Dulu waktu aku detensi dengan Snape, dia menyuruhku menguliti katak bertanduk dua gentong penuh dan dia sama sekali tidak memberiku kesempatan istirahat sama sekali. Dan aku baru kembali ke asrama pukul satu pagi! Ditambah lagi si Filch menangkapku dan menuduhku berjalan-jalan tengah malam! Bandot tua itu memberiku detensi tambahan besoknya! Oh, ini namanya tidak adil!" kata Matt berang seraya membanting bukunya menutup. Dia melompat berdiri dan berjalan ke kamar anak laki-laki, menggerutu.
Aku dan Emily melongo menatap punggung Matt. Tidak biasanya dia marah-marah bukan karena Quidditch. Yeah, Matt anggota tim Quidditch Ravenclaw, Beater. Dan dia akan selalu marah-marah dan berteriak-teriak sampai bikin sakit kuping kalau tim kami kalah. Temperamen yang benar-benar manis.
"Kenapa sih dia?" tanya Emily keheranan setelah Matt membanting pintu kamar anak laki-laki di belakangnya. Aku mengangkat bahu, sama herannya dengan Emily.
"Hhhh… Arlene…" desah Emily setelah kami diam cukup lama. Aku yang sedang membaca kembali esay-ku mendongak memandangnya.
"Kenapa, Em? Ngantuk?" kataku, menyeringai.
"Bukan begitu…" jawabnya merengut. "Profesor Snape…"
"Ada apa dengan Snape, Em?" tanyaku. Esay-ku terlupakan.
"Oh, Arlene, kurasa dia membenciku…" ujar Emily merana.
"Dia kan membenci semua murid yang bukan anak Slytherin," kataku, mengangkat bahu.
Emily memelototiku, "Jangan ngomong seolah Profesor Snape orang jahat!" tukasnya. "Aku yakin seyakin yakinnya kalau profesorku itu adalah orang yang penuh cinta!"
Aku mendengus. Orang yang penuh cinta? Yang benar saja.
"Sori, Em," kataku buru-buru. Kurasa ini bukan saat yang tepat untuk mencandai Emily. "Jadi—apa yang membuatmu berpikir dia membencimu?"
"Oh, entahlah. Awalnya detensi kami berjalan biasa-biasa saja. Jujur saja aku senang bisa melihat wajahnya dari dekat sementara aku bekerja. Dia hanya membaca buku sambil mengawasiku, tapi entahlah—aku merasa dia menatapku beberapa lama saat aku baru menyortir separo cacing. Lalu tiba-tiba dia tampak marah dan menyuruhku keluar dari kantornya, padahal detensinya belum selesai. Menurutmu kenapa, Arlene?"
"Wah, aku tidak tahu…" jawabku mengangkat bahu sambil menggulung perkamen esay-ku dengah hati-hati dan memasukkannya ke dalam tas. Kalau aku di posisi Emily, aku pastinya akan bingung juga. Tapi aku akan senang tidak perlu berlama-lama bersama Snape alih-alih sedih seperti Emily.
"Sudahlah, Em…" kataku lagi setelah beberapa lama. "Mungkin Snape memang sedang senewen atau apa. Lebih baik sekarang kau tidur. Kau tampak capek,"
"Yeah, aku capek sekali…" Emily menguap lebar-lebar sebelum bangkit dari kursinya dan berjalan gontai menuju kamar anak perempuan. Aku bergegas menyusulnya setelah membereskan buku-bukuku.
Setelah hari itu, entah mengapa Emily tidak lagi menonjolkan diri di kelas Ramuan. Tidak juga menjatuhkan barang-barang atau apa pun. Dia bekerja dalam diam di mejanya. Snape setali tiga uang dengan Emily. Dia seperti menghindari mendekati meja Emily. Tidak ada cemoohan apalagi pujian.
Aku bingung melihat kedua orang itu. Mereka seperti orang pacaran yang sedang marahan saja. Tapi ambil saja positifnya. Sekarang ramuanku jadi jarang diberi komentar menyengat oleh Snape, karena aku duduk tepat di sebelah Emily.
Meskipun Emily masih seringkali memandangi Snape saat makan malam, tapi dia tidak lagi banyak bicara soal guru kami itu. Mungkin pada akhirnya Emily menyerah dan memutuskan untuk lebih berkonsentrasi pada NEWT yang sebentar lagi akan tiba, aku sama sekali tidak tahu.
Yang jelas sekarang Emily jadi sering sekali menghilang begitu saja. Suatu saat kami sedang belajar bersama di perpustakaan, beberapa menit kemudian dia sudah menghilang entah kemana dan baru muncul saat makan malam. Kebiasaan barunya ini membuatku bingung setengah mati. Setiap anak yang kutanya selalu menjawab tidak tahu. Aku bertanya-tanya sendiri kemana dia pergi. Apa mungkin Emily punya tempat rahasia yang digunakannya untuk menyepi? Apa dia sebegitu patah hatinya pada Snape sampai jadi bertingkah aneh seperti itu? Maksudku, lebih aneh dari biasanya.
Ya sudahlah. Lagi pula aku tidak punya banyak waktu untuk mencari-cari Emily. Toh pada akhirnya dia akan muncul sendiri—dengan ekspresi wajah yang tak dapat dijelaskan. Segunung PR sudah menunggu untuk dikerjakan!
.
.
Akhirnya, setelah satu bulan lebih, teka-teki tentang kemana perginya Emily terjawab. Saat itu aku baru saja menjenguk Matthew di rumah sakit—Matt mengalami cedera berat pada kepalanya setelah pertandingan Quidditch terakhir melawan Slytherin—dan melewati ruang guru saat akan kembali ke asrama.
Di sana, di sudut yang tak jauh dari ruang guru aku melihat ada anak perempuan bersandar di dinding. Wajahnya tertutup buku yang tengah dibacanya—atau pura-pura dibacanya. Tapi aku mengenali rambut merah gelapnya yang panjang dan syal birunya.
"Emily?" celetukku.
Anak perempuan itu terlonjak kaget sampai bukunya jatuh berdebam ke lantai. Benar saja, itu Emily. Sedang apa dia di sini?
"Arlene?" katanya, terkejut melihatku.
Aku bergegas menghampirinya. Emily buru-buru mengambil bukunya dari lantai.
"Ngapain kau di sini?" tanyaku. Aku heran sekali melihatnya menghindari tatapanku, tampak salah tingkah.
"Er… aku… um…" dia menggaruk kepalanya sebelum berkata cepat, "Ada perlu dengan Profesor Flitwick. Aku ingin menanyakan tentang PR kita yang… um… Efek Samping Jampi Memori Yang Kelewat Sering, kau tahu…"
Aku mengernyit memandang sahabatku itu. Ketara sekali kalau dia sedang berbohong. PR tentang efek samping jampi memori sudah seminggu yang lalu dikumpulkan dan kami juga sudah mendapatkan nilainya.
"Oh, jangan bohong padaku, Em. Kau tahu aku paling tidak suka dibohongi. Kau… Ah, apa ini tentang Snape lagi?" tebakku. Wajah Emily langsung merah padam.
"Bu—Bukan soal Profesor Snape!" kilahnya.
"Dengar, aku tahu kau pintar di kelas, Emily, tapi kau tidak pintar berbohong," kataku sambil membelalak.
Emily bimbang sejenak sampai akhirnya berkata, "Oh, baiklah. Yeah, aku… aku sedang menunggu Profesor Snape,"
Aku menghela napas, "Jadi selama ini kau nangkring di sini hanya untuk menunggu Snape?"
"Tidak juga… Kadang-kadang aku menunggunya di depan kantor pribadinya," ujar Emily. Tangannya memilin ujung rambutnya gelisah.
"Itu lebih parah," komentarku, nyengir. "Jadi… apa persisnya yang kau inginkan dengan menunggui Snape seperti ini?" aku menanyainya.
Emily terdiam sejenak, bersandar pada dinding dan memandangi pintu ruang guru dengan tatapan kosong. "Aku ingin bicara dengan Profesor Snape, Arlene," katanya pelan.
"Kau belum berhasil bicara padanya? Padahal kau sudah menungguinya begitu lama. Astaga Em…" kataku putus asa. "Tapi kau ingin bicara apa dengan Snape? Soal PR? Atau NEWT Ramuan?"
"Jangan pura-pura tidak tahu begitu, Arlene. Aku—aku hanya ingin memberitahunya tentang… tentang…" tapi tampaknya Emily tidak sanggup menyelesaikan kata-katanya dan aku mengerti sekarang. Rupanya Emily masih sangat menyukai Snape. Rupanya dugaanku kalau sahabatku itu sudah melupakan perasaannya pada Snape salah. Mau tak mau aku kasihan juga padanya. Pasti sulit sekali untuk bicara pada guru Ramuan itu. Yeah, dengan melihat tampangnya saja sudah sulit. Hihihi…
"Kalau begitu kau jangan berdiri saja di sini," kataku seraya menarik tangan Emily dan menyeretnya mendekati ruang guru. "Kau harus menemuinya sekarang dan bicara. Tidak ada gunanya berdiri terus di sudut. Kurasa kalaupun Snape keluar, kau hanya bisa memandanginya saja, tidak berani bicara. Ya kan?"
"Tapi…" Emily berusaha keras melepaskan cengkeramanku.
"Lebih baik kau cepat selesaikan ini. Sebentar lagi NEWT dan kau tidak boleh begini terus, Emily!"
"Arlene!" Emily akhirnya berhasil melepaskan peganganku tepat di depan pintu ruang guru. "Kau tidak mengerti…"
"Mengerti saja," kataku tak sabar. "Dengar, kalau kau menyukai seseorang, kau harus mengatakannya! Seperti yang selalu Keneth lakukan padamu, Em. Kalau kau suka pada Snape, kau—"
"Aku tahu itu, Arlene. Pelankan suaramu," sela Emily cemas. "Bagaimana kalau guru-guru yang lain tahu? Bisa heboh semuanya! Aku juga berniat seperti itu, tapi aku tak kunjung berani."
"Kau tinggal bilang padanya kalau dia keluar, 'Profesor, saya ingin Anda tahu kalau saya sangat menyukai Anda,'".
"Tidak semudah itu…" ujar Emily putus asa. "Aku memang menyukai Profesor Snape. Sangat suka malah—"
"Coba bilang sekali lagi," kata suara keras dari belakang kami, membuat kami terlonjak kaget. Kami serempak menoleh untuk melihat siapa yang bicara. Ternyata Claudine Stephenson, adik perempuan Keneth.
"Coba bilang sekali lagi," ulang Claudine, mengernyit memandang kami. Mata birunya berkilat-kilat. "Emily suka dengan Snape? Aku tidak salah dengar kan?"
"Claudine? Sejak kapan kau di sini?" tanya Emily salah tingkah.
"Kau sedang apa di sini?" Aku sama salah tingkahnya dengan Emily.
"Sejak tadi. Aku mau menemui Profesor Vector," jawab Claudine tak sabar. "Jadi… benar yang kudengar tadi?" matanya berkilat.
"Bukan begitu, Claudine…" kata Emily buru-buru.
"Bagaimana dengan kakakku? Bagaimana dengan Ken? Setahuku kalian masih jadian kan?" tuntut Claudine.
Tepat saat itu Snape keluar dari kantor guru. Matanya yang hitam memandang kami lewat hidung bengkoknya. "Lima angka dari Ravenclaw dan Gryffindor," katanya dingin. "Sepuluh kalau kalian masih membuat keributan di depan kantor guru."
"Tapi Profesor…" aku baru mau memprotes, tapi Snape menyelaku.
"Kenapa kalian tidak di luar saja menikmati sinar matahari?" katanya sedingin es sebelum kemudian berbalik pergi. Jubahnya yang hitam panjang melambai di belakangnya.
"Apa dia dengar?" desis Emily cemas di telingaku sementara Claudine nyelonong masuk ke ruang guru untuk menemui Profesor Vector. Aku mengangkat bahu, merasa sama cemasnya dengan Emily.
"Jadi bagaimana sekarang?" tanya Emily.
"Susul dia," aku menyarankan. Emily mengangguk singkat dan bergegas menyusul Snape.
"Mana Emily?" Claudine muncul lagi dari ruang guru.
"Ke kamar kecil," jawabku asal. "Cepat sekali?"
"Profesor Vector tidak ada. Ya sudahlah, lain kali saja aku menemuinya," kata Claudine sambil mengangkat bahu. "Ke Aula Besar yuk. Lapar nih,"
Aku mengangguk dan kami berjalan bersama ke Aula.
"Arlene, apa benar Emily menyukai Snape?" tanya Claudine setelah kami sampai di Aula Besar. Claudine terus saja menempelku, dia mengikutiku duduk di meja Ravenclaw.
"Menurutmu?" tanyaku sambil mengambil kentang panggang.
"Hmm… Sepertinya begitu. Kelihatannya…" gadis itu mengambil apel dari keranjang buah dan mengigitnya. Dia memandangku, nyengir. "Bagus juga kalau Em naksir Snape."
Aku yang sedang mengunyah kentang panggangku langsung tersedak. Mataku berair. Apa aku salah dengar? Bagus katanya?
"Bagaimana dengan Ken?" sengalku setelah menelan kentang di mulutku dengan susah payah.
Claudine mengangkat bahu, "Yah… Kakakku itu agak menyebalkan. Sikapnya sok dan terlalu percaya diri. Bagus juga kalau sekali-sekali dia diberi pelajaran sedikit," ujarnya sambil tertawa.
Aku ikut tertawa, "Yeah, kau benar sekali, Claudine. Tentu saja."
"Tapi aku tak sampai hati juga memberitahunya. Habis dia itu, walau pun sudah dewasa, tapi masih lugu seperti anak kecil," ujarnya lagi setelah tawa kami mereda. "Bisa-bisa nanti dia nangis. Apalagi yang sudah mencuri hati gadisnya adalah Profesor Snape kita yang sangar itu. Tapi bagaimana bisa Emily suka pada Snape? Dia bisa naksir siapa saja, tapi dia malah naksir Snape! Oh, astaga! Dia sudah gila barangkali…"
"Snape memiliki pesona yang hanya cewek seperti Emily yang bisa melihatnya," aku memutar bola mata.
Claudine tertawa lagi. Gadis itu berdiri, menyibak rambutnya yang pirang panjang. "Kembali ke habitat dulu. Bye…" dia beranjak ke meja Gryffindor.
Emily kembali tepat ketika Claudine baru saja menempelkan pantatnya ke bangku Gryffindor. Ekspresinya merana sekali.
"Bagaimana?" tanyaku penasaran.
Sahabatku itu menghenyakkan diri di sebelahku, menghela napas dan menggeleng suram. Dia mengambil pai ayam ke piringnya tanpa semangat dan mulai menusuk-nusuknya dengan garpu.
"Em?" pancingku lagi.
Sekali lagi Emily menghela napas berat. "Aku tidak sempat mengejarnya. Waktu aku sampai di depan kantornya, dia membanting pintu. Aku ketuk, tapi tidak ada jawaban."
"Oh, Em…" aku membelai punggungnya bersimpati. Sahabatku itu mulai berkaca-kaca. Dia mendorong piringnya menjauh, membenamkan wajahnya ke tangan dan mulai terisak-isak.
Aku tidak pernah melihat Emily seperti ini sebelumnya. Biasanya dia selalu ceria, apa lagi kalau ada Snape. Tapi sekarang justru Snape yang sudah membuatnya menangis seperti ini. Kurasa perasaannya pada guru kami itu sudah tak tertahankan lagi bagi sahabatku. Apa lagi ini tahun terakhir kami di Hogwarts.
Yah, tahun terakhir. NEWT sudah di depan mata. Emily tidak boleh begini terus. Dia harus belajar… belajar… belajar… sampai mabuk (kami kan Ravenclaw). Siapa tahu dengan begitu dia bisa melupakan Snape untuk sementara waktu.
Dan memang itu yang dilakukan sahabatku, aku lega sekali. Meskipun sesekali aku memergokinya mencuri-curi pandang pada Profesor Snape atau dengan tak sadar mencoretkan huruf 'SS' di perkamennya sementara dia membaca. Emily sudah jatuh cinta setengah mati pada Snape, jelas sekali.
Akhirnya ujian NEWT selesai juga. Kami para siswa Hogwarts tenggelam dalam euphoria paska ujian. Wajah-wajah cemas dan tegang sudah berganti ceria. Begitu juga denganku dan sahabatku, Emily. Dia sudah mendapatkan kembali semangatnya, termasuk semangatnya mengejar Snape (Oh, astaga!).
Upacara kelulusan dilaksanakan sehari sebelum kami meninggalkan Hogwarts. Emily Dunn diumumkan sebagai lulusan terbaik Ravenclaw. Dia lulus di semua mata pelajaran, dan tentu saja dia mendapatkan nilai Outstanding untuk NEWT Ramuannya—"Kupersembahkan nilai O-ku ini untuk profesorku!" serunya sambil mengecup perkamen ijazahnya—Setelah berpeluk-pelukan, bertangis-tangisan, dan berfoto-foto dengan semua teman-teman kami, Emily menarik tanganku.
"Mau kemana, Em?" tanyaku keheranan.
"Ke suatu tempat, mencari Profesor Sna—"
"Mau apa kau mencarinya?" seruku kaget.
Emily berhenti lalu menatapku seolah aku ini orang bodoh atau apa, "Melakukan sesuatu yang harus kulakukan sebelum meninggalkan tempat ini, Honey!" tukasnya seolah itu sudah jelas sekali. "Kalau aku tidak melakukannya sekarang, aku tak akan punya kesempatan lagi. Seperti katamu kan, tak ada gunanya berdiri saja di sudut. Kalau aku menyukainya, aku harus mengatakannya!" matanya berkilat. Dia kembali menarik tanganku, menuju kantor guru.
"Kau yakin dia di kantor guru?"
"Oh, entahlah," sahutnya ceria.
Namun sebelum kami memasuki koridor ruang guru, kami melihat Snape muncul di koridor yang berlawanan.
"Itu dia! Itu dia!" Emily memekik pelan. "Oh, jantungku berdebar-debar!"
Entah bagaimana, tapi jantungku serasa berdebar-debar juga. Dengan cemas, aku menoleh pada sahabatku. Aku takut sahabatku akan terluka lagi. Mungkin ini tidak akan berhasil, tapi Emily kelihatannya optimis sekali. Wajahnya berbinar.
"Tunggu di sini ya, Arlene," dia melepaskan tanganku dan berlari ke arah Snape. "Profesor Snape!" panggilnya berani.
Snape menoleh. Dia sudah melihat Emily, wajahnya tanpa ekspresi.
"Ada perlu apa, Miss Dunn?" tanyanya dengan nada sedingin es seperti biasa.
Aku lebih mendekat supaya bisa mendengar lebih jelas.
"Saya… saya ingin mengatakan sesuatu pada Anda, Prof—"
"Langsung saja kalau begitu," tukas Snape.
"Um… Anda tentu tahu kalau kami telah lulus sekarang…" kata Emily pelan. Dengan berani dia menatap langsung ke mata Snape.
"Ah," suara Snape mencemooh. Dia sudah melihat gulungan perkamen ijazah di tangan Emily. "Kulihat kau menjadi lulusan terbaik Ravenclaw. Apa kau ingin pamer?"
Wajah Emily langsung merah padam, tapi dia tetap menatap Snape dengan berani. "Bu—bukan begitu, Profesor…" desahnya.
"Lalu apa?" Snape menukas dingin. "Kenapa kau tidak ke Hogsmeade seperti anak-anak lain untuk merayakan kelulusan?"
"Setelah ini saya akan ke sana, prof—" sahut Emily cepat-cepat. "Tapi bukan itu yang ingin saya katakan. Saya…"
Aku menyilangkan jari, berharap kemujuran. Semoga kali ini Snape mau berbaik hati mendengarkan Emily, sebelum… eh… memakinya karena kurang ajar. Aku menunggu… Tapi entah kenapa aku hanya mendengar Emily menggumamkan 'Saya… Saya…' terus menerus sementara Snape memelototinya. Oh, tidak… Sepertinya sahabatku itu kehilangan keberanian, koreksi, kenekatannya.
"Sudah cukup, Miss Dunn!" bentak Snape keras sampai membuat Emily terlonjak kaget. "Kularang kau melanjutkan. Atau potong lima puluh angka dari Ravenclaw."
Ini benar-benar mengejutkan. Bahkan Emily belum berkata apa-apa! Kulihat sahabatku itu melongo tak mengerti selama beberapa saat.
"Tapi saya belum mengatakan apa-apa…" suara Emily tercekat.
"Kularang kau! Jangan sampai aku mendengarnya," dia berbalik pergi.
Emily terperanjat. Dia mengejar Snape, dengan nekat menangkap lengan guru kami itu.
"Saya menyukai Anda, Profesor Severus Snape!" Emily menjerit. Suaranya melengking tinggi. Aku menahan napas, jantungku serasa berhenti berdetak. Ini gila sekali.
Snape memelototi sahabatku. Kukira dia akan meledak marah, tapi dia diam saja, hanya membeliak pada Emily, seperti kehilangan kata-kata.
"Saya menyukai Anda sejak pertama kali saya melihat Anda. Mungkin Anda akan beranggapan saya kurang ajar, tapi inilah saya. Dan nilai Outstanding yang saya dapatkan untuk NEWT Ramuan adalah berkat bantuan Anda, Profesor," Emily melepaskan pegangannya pada lengan Snape, tersenyum. "Hanya itu yang ingin saya katakan pada Anda. Saya menyukai Anda dengan segenap hati saya. Selamat siang, Profesor." Emily mohon diri sebelum Snape sempat melontarkan makian atau apa.
Snape terpaku di sana beberapa saat sebelum akhirnya berbalik pergi, menuju kantor pribadinya.
Berseri-seri, Emily berlari ke arahku. Matanya berkaca-kaca. "Aku sudah melakukannya, Arlene! Aku melakukannya!" dia memelukku. Setengah tertawa, setengah menangis.
"Oh, yeah. Aku lihat, Em…" kataku sambil membelai rambut merah gelap Emily yang panjang. "Bagaimana perasaanmu?" tanyaku setelah Emily melepaskan pelukannya. Air mata kini membasahi wajahnya, namun dia tersenyum.
"Lega sekali…" ucapnya seraya mengusap air mata di wajahnya dengan tangan. Dia tertawa. Aku tertawa. Lega. Sekali lagi, aku memeluknya.
"Tadi kau benar-benar membuatku cemas setengah mati, Em…" kataku.
"Sori, Honey…" ujarnya sambil tertawa. "Yang penting sekarang dia sudah tahu… Dan aku senang sudah mengatakannya."
"Baguslah kalau begitu. Hmm… bagaimana kalau kita ke Hogsmeade untuk merayakannya?" kataku mengusulkan.
"Oh, kedengarannya asyik," sahutnya cerah.
Dan kami menghabiskan hari di Hogsmeade, di tempat biasa kami nongkrong, Three Broomsticks. Mengobrolkan banyak hal sambil minum bercangkir-cangkir munuman favorit kami, Butterbeer, sampai perut kami kembung. Emily terus berceloteh tentang masa depan. Kalau dia punya anak nanti, dia akan menamai anaknya Severus, seperti nama cinta pertamanya. Aku tertawa saja sambil memutar-mutar bola mataku mendengarkannya.
Keneth Stephenson melamar Emily beberapa bulan setelah kami meninggalkan Hogwarts. Emily menerimanya. Dia sangat bahagia dengan pernikahannya. Tapi rupanya bualannya soal memberi nama anaknya Severus tidak bisa terlaksana. Karena dia melahirkan anak perempuan setahun kemudian. Dan anak perempuan lagi sesudahya dan perempuan lagi setelah yang kedua. Singkatnya, semua anaknya perempuan dan tak ada yang dinamai Severus. Aku sering menertawainya soal itu setiap kali kami bertemu.
Biasanya dia akan tertawa dan berkata dengan lembut sesudahnya, "Bagaimana kabar Profesor Snape ya?"
Selalu ada ruang khusus di hati sahabatku untuk Profesor Snape. Selalu. Itu yang kurasakan…
.
.
Severus Snape membanting pintu kantornya. Dengan berang, diempaskannya tubuhnya ke kursi kerjanya.
Beraninya anak itu mengatakan hal seperti itu, batinnya kesal.
"Saya menyukai Anda dengan segenap hati saya." Kata-kata muridnya terngiang lagi. Snape mendengus.
Omong kosong! Mana mungkin ada seseorang yang menyukainya, terlebih gadis muda itu adalah muridnya yang kerap kali menerima perlakuan tidak menyenangkan darinya. Snape tidak habis pikir. Tapi…
Perlahan, dibukanya laci meja kerjanya. Tampak setumpuk cokelat yang masih terbungkus rapi dan kartu ucapan yang tak terhitung banyaknya di sana. Gadis itu… mungkinkah dia yang mengiriminya itu semua?
Ingatannya melayang saat pertama kali mengajar kelas ramuan. Gadis itu, hanya satu dari semua anak di kelasnya yang berhasil merebus ramuan dengan sempurna. Dan dia masih ingat betul, ketika anak perempuan itu mendekat ke mejanya saat kelas bubar, dengan ceria berkata, "Selamat bergabung di Hogwarts, Profesor Snape. Nama saya Emilia Dunn," sementara temannya yang sebelumnya kumarahi karena menumpahkan darah buaya menarik-narik ujung jubahnya.
Keceriaannya, bakat alaminya dalam merebus Ramuan… Mengingatkannya pada seseorang.
Snape mengambil sekotak cokelat kuali yang dibungkus kertas transparan hitam dengan pita putih. Membuka kartu yang tersemat di pitanya, membaca tulisan tangan rapi khas anak perempuan di sana,
Selamat Ulang tahun, Profesor Snape! Semoga tahun-tahun Anda menyenangkan.
Snape mendengus. Anak ini benar-benar lancang. Tapi mau tak mau dia menyadari bahwa tak ada seorang murid pun tahu tanggal ulang tahunnya, bahkan anak Slytherin. Mungkin dia sudah mengobrak-abrik catatan database guru Hogwarts untuk mencari tahu. Tapi buat apa? Menjilat supaya dapat nilai lebih seperti yang dilakukan murid-murid Slytherinnya? Dunn tidak perlu melakukan itu, anak itu sudah pintar.
Dia tak habis pikir.
Ingatannya melayang lagi. Dia terkejut sendiri ketika hari itu, seperti biasa dia berkeliling di kelasnya untuk memeriksa perkerjaan murid-muridnya yang payah, mencemooh hampir semua kuali yang dilewatinya. Saat ia berbalik untuk menuju mejanya sendiri, matanya tertumbuk pada punggung salah seorang muridnya yang menempati meja paling depan. Anak peremuan itu membungkuk di kualinya, asyik mengaduk. Di meja itu. Rambut merah gelap itu… Mungkinkah?
Sontak jantungnya berdegup cepat. Hampir-hampir dia berlari ke meja depan, menepuk pundak gadis itu dengan tangannya yang mendadak tremor. Namun ketika anak itu berbalik, tersenyum padanya, Snape tersadar. Itu bukan dia. Sama sekali bukan dia!
Bahkan fisiknya pun mengingatkannya pada orang itu. Snape tak habis pikir. Mereka mirip!
Snape mengambil lagi kartu-kartu yang lain. Dibukanya satu demi satu.
Selamat hari Valentine, Profesor Snape!
Selamat liburan musim panas, Profesor Snape!
Saya bangga menjadi murid Anda, Profesor Snape!
Anda hebat sekali, Profesor Snape!
Anda mengagumkan, Profesor Snape!
Tetap semangat, Profesor Snape!
Kalimat-kalimat semacam itu yang tertera di sana dan jumlahnya hampir lima puluh kartu. Snape tertawa suram. Anak ini pantas mendapat banyak potongan angka atas kelancangannya.
Dan detensi malam itu. Pertama kalinya Snape menembus pikiran anak itu, melihatnya dengan jelas. Anak itu—beraninya dia!—memendam cinta rahasia terhadapnya! Hal itu membuat Snape berang. Tidak ada yang boleh mencintainya! Tidak boleh! Terlebih setelah apa yang dilakukannya terhadap… orang itu.
Serta merta diusirnya gadis Ravenclaw itu dari kantornya.
Snape tidak mengerti. Bagaimana bisa…
Dan hari ini… Setelah dinyatakan lulus dengan nilai sangat memuaskan, gadis lancang itu menyatakan—lebih tepatnya, meneriakkan—perasaannya pada sang guru.
Beraninya, dia!
Apalagi Emilia Dunn begitu mengingatkannya pada… seseorang.
Snape membuka salah satu bungkus cokelatnya perlahan, tersenyum samar.
"Dua pulu angka untuk Ravenclaw," ujarnya pelan. Digigitnya ujung cokelat itu sedikit.
Manis. Tapi dalam waktu bersamaan, pahit.
Dia tenggelam dalam kenangan sekali lagi. Pedih…
.
.
~FIN~
.
.
