Chapther 2

Disclaimer : Yana Toboso

Pairing : Sebastian X Ciel

Genre : Humor & Parody

Rated : T

Warning : yang pastinya gaje, typo (mudah-mudahan aja gak ada), humor garing, OOC, shounen-ai, don't like don't read

A/N : heeiiii!, Ferl disini!, duh senangnya sudah bisa ngepublish fic multichap, oh ya Ferl mau ucapin terima kasih kepada :

Fell inferios

Hoshi Rei

Kuronekoru

Sora'Chii-Ciel'Funtom

Lacie Fraij

qisty phantomhive evilLenoir

sasutennaru

terima kasih buat keritik dan sarannya, ya:3

Oke cekkidot aja dah!

Romeo and Juliet versi kuroshitsuji

"Hah… se… sebas… hah… tian… hah…" desah Ciel dengan nafas yang memburu dan panas yang menjalari seluruh tubuhnya membuatnya tidak mampu mengatur nafasnya dengan benar.

"Tenang..lah Boc..chan, a..anda cu..kup rileks sa..jah.."

"Mhh… cepatlah… sebas..tian akh..aku su…dah capek dengahn… posisi sepertih…ini.."

"…"

"Ahn!... sebas…tian bi..sakah kau… perlembut sedikit… mhh… i..ini ter..lalu kencang…"

"Ma..maaf Boc..chan…"

"Ahhnn…" Ciel mendesah tertahan akibat perbuatan Sebastian kepadanya, nafasnya terasa tercekat seperti terikat dengan kuat.

"Ci, Ciel… " lirih Lizzy syok saat mendengar suara 'ah-uh' dari balik kamar ganti dan dipikirannya mulai terbesit yang tidak-tidak, oh my mungkinkah Ciel dan Sebastian sekarang sedang… tiba-tiba saja Lizzy merasa kepalanya sedikit pusing.

"Hee~, sepertinya Ciel sedang 'dihajar' habis-habisan sama si tuan butler itu," kata Alois seraya merapatkan telinganya ke daun pintu.

"Iih~ si Sebby, kenapa nggak aku aja sih, aku kan juga mau," rajuk Grell yang ikut-ikutan nguping.(1)

"Oi! Ngapain kalian disitu? cepat siap-siap, bentar lagi pentasnya akan dimulai," teriak Bard memperingatkan.

"Ah, baik."

"Cih! Iya, iya."

"Huhuhu~ Sebas-chan jahat~" tangis Grell sambil ngacir kedalam kamar rias.

"Huh? Ada apa dengan orang itu?" kata Bard bingung melihat kelakuan si shinigami merah itu.

"Nah sudah selesai, Bocchan." kata Sebastian seraya mundur beberapa langkah menjauhi punggung Ciel yang penuh keringat dan tubuh yang agak terbungkuk dengan tangannya yang menempel di dinding sebagai penyangga tubuh.

"Hah… sudah… hah… kudugah aku… benci memakai korset" kata Ciel sambil berusaha mengatur nafasnya, dia baru saja dipakaikan korset oleh Sebastian, yah seperti yang pertama kali ia memakainya butuh perjuangan yang sangat besar untuk memakai benda itu ke tubuh kecilnya.

"Hhh…, saya rasa tubuh anda lebih gemuk dari pada waktu anda memakai korset ini untuk pertama kali."

"Diamlah! hhh… aku berharap pertunjukan ini cepat selesai, korset ini membuatku merasa risih."

"Nah Bocchan, saatnya anda memakai kostumnya."

"WHAT THE HELL!"

"Hm? Ada apa Bocchan."

"Kau gila! Masa aku harus memakai kostum itu."

"Memangnya ada yang salah dengan kostum ini?"

"Tentu saja! Apa kau buta? Mana mungkin aku memakai kostum aneh seperti itu."

"Tapi Bocchan, kostum yang disediakan cuman ini."

"Cih! Ya sudah, cepat pakaikan kostum itu padaku!" pinta Ciel gusar, dia berani bersumpah setelah permainan drama teater ini berakhir dia pasti tidak akan mempunyai muka lagi bertemu dengan orang lain hanya karena mengenakan kostum yang dianggapnya aneh ini.

"Yes, my lord," kata Sebastian seraya membungkuk hormat pada Ciel dan tersenyum aneh.

Sementara itu…

"Anda kenapa nona?" tanya pelayan setianya Lizzy(2).

"Eem, tidak ada apa-apa kok! jangan khawatir," kata Lizzy sambil tersenyum ceria seperti biasa, tapi di dalam hatinya ia sedang memikirkan keadaan Ciel yang dari tadi tidak kunjung keluar dari kamar ganti.

"Nah, nah, si Ciel kenapa ya? Kok belum keluar-keluar juga, atau jangan-jangan mereka…" gumam Alois yang sedang duduk di kursi sebelah LIzzy sambil menumpukan dagunya ketangannya di sisi meja rias, matanya juga tak lepas dari kamar ganti yang di tempati oleh Ciel dan Sebastian.

"Itu tidak benar Earl Trancy! Aku yakin kalau Ciel itu…"

"Kalau aku apa, Lizzy?" potong seseorang dari belakangnya Lizzy , semua orang yang ada di situ pun reflex menoleh keasal suara dan langsung tercengang melihat sosok Ciel yang sudah berubah menjadi seorang lady. Berbagai ekspresi pun muncul dari tiap wajah semua orang yang ada di situ, seperti Bard, Finian, dan Maylene yang tadinya hanya memandangi tamu-tamu yang berdatangan kini terpaku dengan wajah melongo ketika melihat sang majikan yang berdiri tak jauh dari mereka, Alois dan Lizzy pun hanya ber-cengo-ria, bahkan Claude yang biasanya stay cool dengan wajah stoic-nya dan Lau pun langsung melotot dengan mulut terbuka lebar yang mungkin udah bisa dimasukan sarang lebah kedalamnya. Sungguh pemandangan yang aneh sekaligus indah bagi mereka, bagaimana tidak? Dihadapan mereka tengah berdiri sesosok mungil dengan balutan dress yang tingginya 15 cm diatas lutut berwarna putih dengan renda hitam yang menghiasi bagian dada dan rok yang berlapis, dan ada pita hitam dibagian pinggangnya, jepit rambut berbentuk mawar hitam terselip di rambut kelabunya yang ikal tergerai menutupi sebagian bahunya yang terekspos, poni kelabunya yang panjang dibiarkan menutupi mata sebelah kanannya, ada seutas pita hitam berenda putih dengan bandul hati yang melekat manis dileher jenjangnya, di kedua lengannya terbalut sarung tangan hitam setinggi siku, ia memakai sepatu kulit hitam berhak tinggi dengan lilitan tali dikaki rampingnya berhiaskan mawar hitam.

"Ci…el…" lirih Lizzy dengan suara yang tercekat.

"Hm?"

"KYYAAA! MANISNYA!" teriak Lizzy sambil memeluk Ciel dengan erat

"Ugh! Lizzy pelukanmu terlalu erat," keluh Ciel

"Ahahaha… maaf ya Ciel soalnya kamu imut banget dengan pakaian begini jadi gak tahan pengen meluk kamu," jelas Lizzy sambil tertawa gemas.

"Wahh…~ kau benar-benar mirip seorang lady loh Earl, hampir aja aku jatuh cinta padamu," komentar Lau

"Jangan bicara yang tidak-tidak Lau! Aku bukan seorang lady jadi aku tidak mungkin senang mendengar pujianmu itu."

"Loh kok marah, aku kan cuma bermaksud untuk memuji."

"Ghh! Aku mau keluar dulu," kata Ciel kesal seraya melangkah kearah balkom.

"Bocchan…" lirih Maylene.

"Sepertinya Ciel lagi bad mood ya" kata Lizzy.

"Hee~ jangan-jangan karena habis dihajar si tuan butler Ciel jadi bad mood kayak gitu" tanggap Alois.

"Hentikan Earl!" bentak Lizzy yang telinganya mulai panas gara-gara ocehan Alois tentang Ciel.

.

.

.

"Maylene," panggil Sebastian pada Maylene.

"I-iya Sebastian-san, a-ada apa?"

"Apa kau melihat Bocchan? Dari tadi aku tidak melihatnya."

"Oh, Bocchan sedang ada di balkom sedang menyendiri."

"Begitu, ya sudah terima kasih ya, Maylene."

"oh, sama-sama Sebastian-san," kata Maylene sambil bungkuk-bungkuk hormat pada Sebastian yang sudah beranjak menjauh.

"Bocchan, ternyata anda di sini, apa yang sedang anda lakukan?" tanya Sebastian sesaat setelah ia menemukan Ciel di atas balkom.

"Aku sedang menghafal dialog."

"Hm? Begitu, memangnya di bagian dialog yang mana anda belum hafal."

"Di bagian ini."

"Hm? Inikan cuma percakapan singkat tuan, masa percakapan sesingkat ini saja anda tidak bisa menghafalnya."

"Bukannya aku gak hafal, aku cuman kurang hafal, soalnya pada saat bagian itu biasanya langsung aku lewati."

"Loh? Kenapa tuan."

"Soalnya aku agak kurang suka dengan adegan setelah dialog itu," jawab Ciel dengan wajah yang merona merah.

"Memangnya ada apa dengan adegan setelah dialog itu."

"Sepertinya aku tidak perlu menjelaskannya lagi padamu karena kau pasti sudah tahu apa yang aku maksud."

"…Bocchan, sebegitu tidak inginnya'kah anda berciuman dengan saya."

"Hhh… tentu saja bodoh!, mana mungkin aku suka bercium dengan sesama lelaki."

"Jangan begitu Bocchan, nanti juga pada akhirnya anda akan merasakan ciuman saya," kata Sebastian sambil tersenyum jahil plus mesum.

"Huh? Apa maksudmu?" tanya Ciel bingung.

"Tidak apa lupakan saja, ayo kita kedalam Bocchan, pentasnya akan dimulai sebentar lagi," ajak Sebastian sambil mengulurkan tangannya ke arah Ciel.

"Tidak usah dituntun aku bisa jalan sendiri" kata Ciel seraya beranjak meninggalkan Sebastian, Sebastian pun hanya tersenyum maklum dan lalu beranjak mengikuti Ciel dari belakang.

TBC

Nyaaa… akhirnya selesai juga chapter 2 na, kok perasaan tambah gaje aja yah hihihi… XP.

Tolong jangan dihiraukan ketiga orang ini ya.

Please tolongin Ferl dong, ada yang tau gak nama pelayan pribadinya Lizzy, soalnya Ferl gak tau namanya.

Oya, tanggal 14 ini Ferl ulang tahun loh! Bagaimana kalau Ferl request fic ber-genre humor atau angst sebagai hadiah ulang tahun, mau ya? Pleaseee….

Oh iya, mohon kritik dan saran ya!

'kay Ferl undur diri dulu, bye~ see you to the next chapie

Review please? :3