Warning: amatiran.
Disclaimer: Naruto by Masashi Kishimoto.
Out Of Character / Alternative Universe
.
Scream High School
.
by nopi
.
.
.
Chapter 2
Bentuk Kasih Sayang Seorang Kakak
"Sou ka," Tenten mangut-mangut. "Memang sih, kelihatan dari wajah mereka bahwa mereka sangat menyayangimu."
Ino mengangguk setuju. "Oh Sakura, kau beruntung sekali mempunyai saudara seperti mereka. Terutama Shimura-kun." Matanya berbinar-binar.
"Y-ya begitulah." Sakura tidak bisa menyembunyikan rona merah di pipinya. Sekarang dia sudah tidak merasa canggung lagi terhadap Ino dan Tenten—walaupun cara berbicaranya masih sama. Bahkan dia sudah mulai berani untuk berbicara sedikit lebih banyak dari sebelumnya pada Ino dan Tenten saat mereka berdua menanyakan bagaimana sikap ketiga saudara Sakura pada gadis itu saat di rumah.
Ino menyesap jus jeruknya sebelum berkata, "Dari ceritamu tadi dan sikap mereka padamu, kurasa mereka bertiga mengidap sister-complex."
"Ya benar, tapi mereka menunjukkannya dengan cara yang berbeda-beda," timpal Tenten.
"Sister-complex? Ca-cara yang berbeda-beda?" tanya Sakura bingung. Dia masih terus menyuapkan strawberry shortcake ke mulutnya. "Ku-kurasa tidak deh."
"Tapi kurasa itu benar," kata Ino. "Itu sangat terlihat jelas, Sakura. Masa kau tidak menyadarinya sih?"
"Ku-kupikir sikap mereka itu wajar bagi seorang kakak kepada adiknya," jawab Sakura.
"Itu memang wajar, Sakura, hanya saja maksud Ino di sini adalah mereka bertiga yang terlihat terlalu menyayangimu secara berlebihan," jelas Tenten. "Seperti yang dilakukan Uchiha-kun tadi pagi, walaupun awalnya dia terlihat tak acuh namun tampak jelas dia sangat terusik pada pertanyaan Karin. Dan juga Shimura-kun yang awalnya melarangmu pergi bersama kami, dia terlihat sangat ingin menjagamu dengan cara terang-terangan."
"Dan juga Namikaze-kun yang dari ceritamu dapat kusimpulkan bahwa dia adalah orang yang menunjukkan rasa sayangnya padamu saat di rumah," tambah Ino.
"Be-begitu ya," akhirnya Sakura berkata dengan nada lugu. "Aku baru menyadarinya."
Ino dan Tenten berpandangan sebelum tersenyum pada Sakura. "Kau benar-benar beruntung."
Lalu tak lama setelahnya, ponsel Sakura berdering. Nama Sai tertera di sana.
"Moshi moshi? ... Ba-baiklah, aku akan segera keluar." Sakura menutup telpon. "A-ano, Ino, Tenten, maaf ya sepertinya aku sudah harus pulang. Sai sudah menunggu di luar," ucap Sakura, merasa bersalah.
Ino melihat ke arah jendela. Menemukan seorang lelaki pucat yang dia kenali sebagai Sai, sedang bersandar di sisi mobil mewah. "Baiklah, tidak apa-apa. Kau tidak boleh membuatnya menunggu 'kan?"
Sakura mengangguk, membereskan barang-barangnya lalu menyampirkan tas ranselnya di pundak. "Aku duluan..."
"Hati-hati ya!" seru Tenten. Sakura sekali lagi mengangguk, lalu segera berjalan ke arah pintu cafe.
Sai tersenyum saat menyadari Sakura sudah berada di hadapannya. Dia bergegas berjalan menuju arah sebaliknya untuk membukakan pintu mobil agar Sakura bisa masuk.
"Ja-jangan berlebihan..." lirih gadis itu, namun Sai hanya membalasnya dengan senyuman. Setelah Sakura naik, dia segera berlari pelan menuju pintu lainnya. Dan mobil mereka melaju meninggalkan lapangan parkir cafe.
"Awalnya aku sangat tidak setuju dengan Sasuke tadi," Sai yang pertama kali memulai pembicaraan. Sakura menoleh. "Aku sangat mengkhawatirkanmu. Tapi melihatmu masih baik-baik saja seperti tadi, kupikir tidak ada salahnya juga," lanjutnya lagi.
Sakura menunduk. "Y-ya." Dia meremas roknya. "Se-sepertinya a-aku harus membiasakan diri."
Sai memandang Sakura dengan tatapan prihatin. "Tidak usah memaksakan diri. Kalau kau tidak sanggup, segera katakan padaku. Aku akan segera mengajukan rasa keberatanku—"
"Tidak," potong Sakura cepat. "Ti-tidak perlu. La-lagipula aku belum mencoba se-sepenuhnya. K-kau harus membiarkanku me-mencoba terlebih dahulu..."
Sai tersenyum tipis. "Baiklah."
.
.
.
"Sebenarnya apa tujuanmu?"
Pria itu tersenyum tipis, walau posisi duduknya membelakangi pemuda itu, namun dia bisa merasakan tatapan tajam dan sepercik amarah tersirat di pertanyaan itu. "Tujuanku?" Jemarinya mengusap bingkai foto yang berada di pangkuannya. "Bukankah kau sudah tahu?" Jemarinya berhenti di wajah seorang gadis dalam bingkai foto itu. "Bukankah hanya kau yang tahu tentang hal ini, benar begitu 'kan?"
Si Pemuda berdecak.
"Ini baru hari pertama, jangan terlalu cepat mengeluh," kata si Pria lagi.
"Kalau begitu aku akan kembali lagi untuk mengeluh jika hal ini tidak kunjung selesai." Engsel pintu ditarik.
"Kau tidak boleh pergi saat lawan bicaramu belum selesai berbicara," ujar si Pria. "Itu tidak sopan. Pernahkah aku mengajarimu cara bersikap?"
Pintu kembali menutup. "Kau ingin mengatakan apa? Kau memanggilku ke sini dengan alasan tidak penting; hanya untuk menanyakan kabarku—"
"Kabar kalian. Dan itu penting buatku" koreksinya.
"Terserah," Dia mendengus. "Dan sekarang kau mau bertanya apa lagi?"
Pria itu membalikkan kursinya. Kini dia dapat melihat pemuda yang berada di hadapannya sedang memasang ekspresi tak sabaran. "Aku hanya ingin mengingatkan suatu hal yang harus selalu kau ingat dan lakukan." Dia tersenyum, meletakkan bingkai foto di atas mejanya. "Aku sudah sering mengatakan ini padamu, tapi aku tidak akan pernah bosan untuk mengatakannya lagi," lanjutnya.
Pemuda itu merotasikan bola matanya. "Cepat katakan saja."
"Kau harus terus berperan menjadi pemimpin; jaga mereka dan kontrol emosi mereka," katanya. "Kau selalu bisa melakukannya 'kan?"
Dia mendengus. "Kalau kau sudah tahu kenapa kau harus buang-buang energi untuk mengatakannya lagi?"
"Aku sudah bilang 'kan, aku selalu suka mengingatkan hal ini," Senyumnya memudar. "Lagipula keadaan kalian kini juga sedang berbeda. Kalian tidak lagi berada di dalam rumah 24 jam, dan di situlah peranmu dibutuhkan." Pria itu memandang serius pemuda di hadapannya. "Mengontrol emosi di depan umum termasuk hal sulit bagi mereka. Terutama Dia."
Bahunya menegang.
Pria itu kembali terkekeh. "Jangan tegang seperti itu. Bukankah mereka semua selalu menjadi anak penurut yang manis jika dihadapkan olehmu? Haaaa. Bahkan mereka terlihat lebih takut denganmu dari pada aku."
Pemuda itu tidak menanggapi ucapan yang bersifat canda disela-sela keseriusan mereka dalam membahas hal ini. "Hn, aku mengerti."
Engsel pintu ditarik lalu pintu dibanting pelan.
Meninggalkan Pria itu sendirian dalam ruangannya. Dia tersenyum lagi sambil memandang bingkai foto miliknya tadi. Ada lima sosok—berserta dirinya, berada di sana dengan ekspresi berbeda-beda.
"Aku mengandalkanmu... Sasuke."
.
.
.
"Sakura-chan? Sudah pulang?" Naruto yang baru saja keluar dari dapur segera berjalan cepat menuju Sakura yang baru memasuki ruang keluarga. "Bagaimana perasaanmu? Apa teman-temanmu tadi baik padamu? Kupikir kau akan pulang lebih lama lagi," oceh Naruto.
"Pulang lebih cepat itu lebih baik." Sai yang muncul dari belakang tiba-tiba menimpali. Dia menatap Naruto sejenak sebelum menaiki tangga.
"Sepertinya ada yang sedang badmood di hari pertama sekolah~~~" Naruto melirik Sai yang sudah menghilang di ujung tangga. Dia terkekeh lalu menoleh pada Sakura lagi. "Nah, Sakura-chan, kau sekarang juga harus bersih-bersih. Kau pasti capek 'kan di hari pertama sekolah, apalagi langsung pergi bersama temanmu ke cafe. Mau kusiapkan air panas untuk mandi?"
Sakura menggeleng. "Sepertinya aku akan mandi malam saja..."
Naruto berdecak sambil menggeleng. "Tidak, tidak. Kau harus mandi sekarang supaya nanti malam kau bisa segera tidur." Pemuda itu mendorong punggung Sakura, mengarahkan gadis itu ke arah tangga, menuju kamar Sakura. Sakura tidak punya pilihan lain selain menurut saja pada saudaranya ini.
"Oh ya ampun, Sakura-chan! Lihat!" Sakura yang baru saja ingin melangkah masuk ke kamarnya menoleh ke belakang. "Rambutmu terlihat berminyak! Kau benar-benar harus mandi sebersih mungkin, Gadis Kecil. Atau apa perlu aku yang memandikanmu, huh?" Naruto menunjuk rambut Sakura lalu bersedekap. Ekspresinya benar-benar mirip seperti seorang ibu yang marah pada anak perempuannya yang baru saja bermain lumpur.
Sakura hanya bisa tersenyum kecil saat melihat Naruto segera masuk ke kamar mandi yang berada di dalam kamarnya. Karena Sakura tahu, Naruto sangat benci jika Sakura terlihat kotor, walau sedikit saja. Pemuda itu akan segera menyuruh Sakura mandi dengan dirinya ikut serta di dalam kamar itu memastikan hal-hal apa saja yang sudah lengkap, sebelum Sakura mulai mandi.
Itu sebenarnya sudah berlangsung sejak lama, Naruto yang setiap harinya akan masuk ke kamar Sakura untuk menyiapkan segala hal agar Sakura bisa segera mandi dengan nyaman. Setelah itu, Naruto akan menyiapkan pakaian Sakura di atas ranjang, untuk dipakai seusai mandi. Bagi Sakura, kini hal itu tampak sangat berlebihan. Naruto benar-benar memperlakukannya seperti anak kecil yang belum bisa apa-apa. Namun Sakura tidak bisa menolak hal yang sudah menjadi kebiasaan ini.
Beberapa menit kemudian Naruto sudah keluar dari kamar mandi. "Aku sudah memastikan air panasnya tidak akan membakar kulitmu. Kau bisa mandi sekarang, Sakura-chan."
"A-ano, Naruto," panggil Sakura.
"Ya?"
"Kupikir, sepertinya kau tidak perlu repot-repot melakukan hal ini lagi," kata Sakura sambil menunduk. "Aku sudah berumur lima belas tahun. Aku bisa melakukannya sendiri. A-aku hanya merepotkanmu saja..."
Naruto terdiam, tak menyangka saudarinya akan berkata seperti ini secara tiba-tiba.
Sakura melirik Naruto yang tidak mengucapkan apa-apa. "Go-gomen! Aku ti-tidak bermaksud menyinggungmu. Ha-hanya saja a-aku tampak sangat merepotkanmu..." Sakura tidak ingin Naruto salah paham terhadap ini.
Naruto tiba-tiba melangkah maju. Memegang kedua bahu Sakura sambil tersenyum. "Tidak tidak. Harusnya aku yang minta maaf." Dia terkekeh. "Aku tidak bisa menghilangkan kebiasaan ini. Setiap aku bangun tidur di pagi hari, yang langsung aku pikirkan adalah Sakura-chan. Bagaimana jika Sakura-chan mandi dengan air terlalu panas atau dingin; bagaimana jika sabun yang digunakan tiba-tiba habis; atau bagaimana jika Sakura-chan memakai pakaian yang salah karena terburu-buru."
"Ini memang hal sepele, namun aku ingin melakukannya," lanjut Naruto. "Karena hanya itu yang bisa kulakukan sebagai bentuk kasih sayang seorang kakak, pada Sakura-chan."
Sakura tertegun.
Naruto berjalan menuju lemari, memilihkan satu setel piyama untuk Sakura lalu meletakkannya di atas kasur. "Baiklah, sekarang kau harus mandi, Gadis Kecil." Naruto membuka pintu kamar. "Aku janji tidak akan melakukannya lagi besok! Aku menunggumu di meja makan!" Dia terkekeh sambil menutup pintu.
"Tunggu!"
Langkah Naruto terhenti di tangga, menoleh ke belakang. "Ada apa Sakura-chan?"
Sakura menunduk. "A-aku ingin kau tetap melakukan kebiasaanmu ini." Dia mendongak, memejamkan mata sambil mengepal tangannya. "Onii-chan!"
Detik berikutnya pintu dibanting dengan keras.
"Membanting pintu dengan keras itu tidak sopan, Sakura-chan~" Naruto tersenyum geli sebelum kembali menuruni tangga.
.
.
.
"Itadikimasu!" Suara Naruto dan Sai terdengar kompak sebelum mereka memulai makan malam.
Sendok dan garpu yang saling bersentuhan di piring masing-masing segera mendominasi bunyi di dalam ruang makan itu. Mereka sudah terbiasa sejak kecil untuk tidak berbicara saat sedang makan. Tidak sopan, dan mereka dididik untuk tidak melakukan hal yang tidak sopan.
Namun malam ini Sasuke memilih untuk seperti itu. "Malam ini Dia tidak bisa bergabung makan malam dengan kita karena ada pekerjaan di luar kota," beritahunya tiba-tiba.
Tiga pasang mata segera beralih padanya. Mereka tahu pasti siapa gerangan yang Sasuke sebut tadi. Sosok pria yang selalu menghuni kursi meja makan paling sudut saat mereka makan bersama seperti ini.
"Begitu," Naruto yang pertama menimpali. "Kuharap pekerjaannya cepat selesai."
"Ya. Rasanya selalu ada yang kurang saat dia tidak ada di meja makan." Sai ikut menimpali dengan senyuman.
Sakura memilih kembali melahap makanannya.
Sasuke yang duduk berseberangan dengan gadis itu, memberi tatapan datar. "Kau tidak berkomentar apa-apa?"
Sakura mendongak. Sedikit terusik saat emeraldnya bersibobrok dengan onxy milik Sasuke. "Ka-katakan saja padanya agar tetap menjaga kesehatannya," ucap Sakura sambil memalingkan wajahnya. Tidak peduli Sasuke akan menanggapi seperti apa.
"Hn." Akhirnya dua huruf itu yang keluar dari mulut Sasuke.
Suasana kembali sunyi. Semuanya kembali memberikan perhatian lebih pada daging yang sudah dimasak lezat oleh Sai di piring mereka masing-masing. Walaupun mereka berempat diam-diam merasa tidak nyaman dengan kesunyian yang entah mengapa terasa sangat hampa ini. Mungkin karena Pria paruh baya yang biasanya duduk bersama-sama dengan mereka sedang tidak ada.
Lima belas menit berlalu, Sai segera membereskan piring-piring di meja makan untuk dibawa ke tempat pencucian di dapur. Sakura ikut membantunya. Sedangkan Sasuke dan Naruto tetap berada di meja makan; Sasuke hanya duduk diam sementara Naruto sibuk dengan ponselnya.
"Naruto," Sasuke membuka suaranya. "Sebaiknya kau tidak menjalin interaksi lebih dengan pemuda Nara itu."
Naruto menoleh. "Heh? Menjalin interaksi lebih?" Naruto berpikir sejenak lalu detik berikutnya dia memasang tampang syok. "Aku tidak suka pada lawan jenis!"
"Bukan itu maksudku." Sasuke menatap Naruto datar. "Kalian tidak boleh terlalu akrab. Kita belum tahu latar belakangnya bagaimana."
"Oh." Naruto akhirnya mengerti. "Kalau ngomong yang jelas dong!" Naruto terkekeh lalu kembali sibuk dengan ponselnya.
Kemudian Sai dan Sakura muncul kembali di ruang makan dengan nampan berisi makanan pencuci mulut untuk mereka berempat. Setelah menaruhnya di atas meja, Sai segera duduk di sebelah Sasuke dan Sakura duduk di sebelah Naruto.
Naruto dengan senang hati segera menyantap pai apel yang berada di hadapannya. "Ini enak!" komentarnya dengan mulut penuh. "Ini sangat enak, Sai!"
"Terimakasih," ucap Sai kalem. "Awalnya aku sedikit ragu untuk mencoba resepnya, namun saat mengingat bahwa Saku-chan pernah mengatakan pai apel adalah salah satu pai kesukaannya, itu membuatku menjadi semangat untuk membuat ini." Sai menatap Sakura.
Sakura tidak merespon perkataan Sai. Dia tetap fokus pada garpu yang membawa potongan kecil pai miliknya ke mulutnya.
"Apa aku boleh me-request hidangan penutup kesukaanku juga?" tanya Naruto yang masih larut dalam kenikmatan pai apel buatan Sai.
"Tentu saja boleh. Kalian selalu kuperbolehkan untuk me-request makanan apa saja," kata Sai.
"Sai," panggil Sasuke tiba-tiba. Suara berat khas remajanya yang kembali terdengar di meja makan, sekali lagi berhasil menyita perhatian mereka bertiga. Walau Sakura hanya beralih beberapa detik sebelum kembali fokus pada pai apelnya.
"Aku hanya ingin bilang, untuk besok dan seterusnya ponsel Sakura tidak boleh lagi berada di tanganmu," lanjut Sasuke, jelas sekali ada nada perintah di kalimatnya. Mendengar namanya disebut, Sakura sedikit mengangkat kepalanya dan melirik lewat ekor matanya.
Sai mengernyit. "Kenapa tiba-tiba?"
"Sakura sudah berumur 15 tahun dan hari ini dia sudah berada di tahun kedua SMA," jawab Sasuke santai.
"Kau masih membahas masalah tadi siang." kata Sai, ucapannya lebih mirip seperti mengklarifikasi suatu fakta dengan cara bicaranya yang kalem.
Sasuke menatap tajam Sai. "Hn. Kukira kau sudah mengerti dengan cepat."
Sai membalas tatapan tajam Sasuke selama beberapa menit sebelum akhirnya mengalah dan berkata, "Terserah."
"Sakura," panggil Sasuke. Yang dipanggil terlihat sedikit terkejut. "Mulai besok, jika kau ingin pergi bersama temanmu, cukup hubungi salah satu dari kami dengan ponselmu. Mengerti?"
Sakura mengangguk.
Lalu Sasuke berdiri dan beranjak pergi dari ruang makan, meninggalkan mereka bertiga. Dengan sepiring pai apel miliknya yang belum tersentuh sama sekali.
.
.
.
Sakura mengerjapkan matanya, membuka perlahan lalu menutup kembali. Membuka lagi saat dia mendengar suara keras yang aneh. "Aniki?" Sakura menggosok matanya, dia masih separuh terbangun sebelum sadar bahwa hari ini dia harus sekolah. Sakura melirik jam di atas meja. Pukul enam pagi.
"Ohayou Sakura-chan!" Kepala Naruto tiba-tiba muncul dari balik pintu kamar mandi. "Ada sedikit masalah pada wastafel milikmu ini, kupikir aku akan membangunkanmu setelah menyelesaikannya. Namun sepertinya kau sudah terbangun duluan, gomen."
Sakura menggeleng dan tersenyum. "Tidak apa-apa." Sakura segera menyambar handuk lalu masuk ke dalam kamar mandi. Membiarkan Naruto sibuk dengan lemari pakaiannya.
.
"Kalian mau kubuatkan susu coklat atau vanila?" tanya Sai di ambang pintu penghubung antara ruang keluarga dan ruang makan.
"Susu coklat!" Naruto menjawab dari arah ruang keluarga. "Tolong beri bubuk coklat di atasnya ya, Sai!"
"Baiklah, kalau Saku-chan?"
"Vanila saja."
"Baiklah, jika kalian sudah selesai tolong panggilkan Sasuke ya." Sai berjalan kembali ke ruang makan.
"Ya, ya, tentu saja," jawab Naruto santai. Hal 'jika sudah selesai' yang dikatakan oleh Sai tadi, tidak lain tidak bukan adalah kebiasaan rutin Naruto yang sekarang akan setiap pagi dilakukannya pada Sakura. Merapikan rambut adik kesayangannya itu.
"Rambutnya dikuncir saja ya?" tanya Naruto, masih terus menyisir rambut panjang Sakura dengan lembut.
Sakura menggeleng. "Digerai saja."
"Baiklah. Tapi ponimu sudah terlalu panjang, aku jepitkan saja ya?" tanya Naruto lagi.
Sakura menggeleng sekali lagi. "Biarkan begitu saja."
Naruto mengernyit. "Sesekali kau harus berani tampil cantik, Sakura-chan."
"Apakah penampilanku sangat buruk?" tanya Sakura lugu, berbalik untuk menatap Naruto.
"Oh, tentu saja tidak. Kau selalu cantik kok, Sakura-chan," sambar Naruto cepat. Dia tidak ingin Sakura salahpaham. "Maksudku, berhubung sekarang kita bersekolah, kurasa tidak ada salahnya kau berpenampilan lebih menarik seperti gadis lainnya."
Sakura tidak merespon apapun. Naruto tahu gadis itu belum bisa mengerti sepenuhnya tentang ini. Tentang sekolah dan hal lain yang masih termasuk dalam lingkaran itu, masih tergolong baru bagi Sakura. Naruto sangat mengerti.
"Baiklah, bagaimana sepulang sekolah nanti kita mampir sebentar ke toko aksesoris untuk membelikanmu beberapa bandana atau sejenisnya?" tawar Naruto. "Kau mau 'kan?
Sakura tidak memberikan jawaban apapun. Dan Naruto menganggap Sakura menerima tawarannya.
"Sekarang ayo kita sarapan!—Oh, ohayou Sasuke!" Naruto tersenyum ramah pada Sasuke yang sedang berdiri di tangga. Sepertinya dia sudah cukup lama berada di situ. "Kami baru saja ingin memanggilmu, kau lama sekali sih!" Naruto terkekeh.
Sakura tidak dapat menyembunyikan ekspresi terkejutnya saat Naruto yang tiba-tiba menatap lurus melewati bahunya dan menyapa seseorang yang tak lain adalah Sasuke. Apakah Sasuke mendengarkan pembicaraan mereka tadi? Sebenarnya hal itu tak perlu dipusingkan, tapi bagi Sakura percakapannya dengan Naruto tadi termasuk hal pribadi yang sangat tidak ingin dia bagi dengan Sasuke. Entah mengapa namun begitulah yang selalu dia rasakan belakangan ini.
"Hn. Kalian cepat sarapan," kata Sasuke sambil berjalan cepat menuruni tangga.
Sakura masih menunduk. Entah mengapa dia merasa malu secara tiba-tiba.
"Ayo Sakura-chan." Suara Naruto membuatnya tersadar lalu segera bangkit mengikuti Naruto ke arah ruang makan.
"Aku akan menunggu kalian di mobil," beritahu Sasuke lalu berjalan pergi dari ruang makan.
"Dia itu..." Sai berdecak. Jengkel terhadap sikap Sasuke yang sangat tidak sopan. Meninggalkan mereka bertiga dengan santainya, padahal dia sendiri belum menghabiskan sarapannya.
"Sudahlah Sai, Sasuke memang seperti itu," ucap Naruto disela-sela kunyahannya.
Setelah menyelesaikan sarapan, mereka bertiga bergegas berjalan ke arah pintu menuju Sasuke yang sudah menunggu di luar rumah. Namun Sai meminta waktu sebentar untuk ke kamar karena ada beberapa buku yang ketinggalan.
Menunggu Sai yang masih berada di kamarnya, Sakura dan Naruto memilih duduk di kursi teras. Membiarkan Sasuke menunggu dengan tidak sabaran di dalam mobilan sendirian.
"Apa kau tahu tentang masalah mereka berdua?" tanya Sakura tiba-tiba.
"Masalah?" Naruto yang baru saja sibuk dengan ponselnya menoleh pada Sakura.
"Masalah yang Sai katakan semalam. Masalah mereka kemarin siang," ulang Sakura. Entah mengapa dia tiba-tiba penasaran dengan itu.
"Oh, itu. Bukan masalah besar kok." Naruto mengibaskan tangannya. "Hanya adu argumen biasa. Kau tahu 'kan mereka selalu berbeda pendapat setiap saat."
"Memangnya mereka berbeda pendapat tentang apa?"
"Tentangmu," jawab Naruto santai sambil memainkan ponselnya. "Tapi tidak perlu dikhawatirkan kok, Sasuke hanya menasihati Sai agar tidak terlalu menjagamu secara berlebihan. Dan Sai akhirnya memilih mengalah—ha! Bukankah sejak dulu dia selalu tidak bisa menang dari Sasuke?—Aku juga sih, tapi setidaknya aku sangat jarang beradu pendapat dengannya. Sasuke juga bukan orang yang suka memperpanjang masalah—kita semua tahu itu. Makanya Sai terpaksa mengalah sekali lagi, kemarin malam. "
Sakura mengernyit. "Dia? Menasihati?"
Naruto terkekeh. "Sangat sulit dipercaya ya? Kupikir kau tahu bahwa dibalik sifat yang Sasuke tunjukkan pada kita, dia juga punya perhatian seperti saudara lelaki lainnya. "
"Aku tidak tahu," balas Sakura tak acuh.
Naruto melirik Sakura dari ekor matanya. Memasukkan ponsel ke sakunya lalu menoleh sepenuhnya pada gadis itu. "Bukankah saat kecil dulu kalian sangat dekat? Bahkan aku mengira kau dan Sasuke tidak bisa terpisahkan."
"Itu dulu," tukas Sakura. "Tapi sekarang aku seperti tidak mengenalnya."
"Yeah, Sasuke kecil dan sekarang memang berbeda," Naruto memandang Sasuke yang sedang duduk sambil memejamkan mata di kursi pengemudi. "Tapi perasaannya pasti masih sama."
"Bagaimana Aniki tahu?"
"Karena dia dan aku sama-sama berperan sebagai seorang kakak," jawab Naruto ringan. "Hanya cara penyampaian kasih sayang saja yang berbeda. Sasuke bukan orang yang blak-blakan dalam hal itu."
Saat Sakura ingin bertanya lagi, Sai sudah muncul di ambang pintu, membuat obrolannya dengan Naruto terputus.
.
Sepanjang perjalanan menuju sekolah, Sakura terus memikirkan perkataan Naruto tadi. Dia juga bingung mengapa harus memikirkan hal ini. Kalau Sasuke perhatian padanya, lalu kenapa? Kalau pun tidak, lalu kenapa? Hal itu sama sekali tidak membuat perubahan berarti bagi Sakura. Lalu kenapa dia memikirkannya?
Mungkin dia teringat percakapan bersama Ino dan Tenten kemarin sore. –Ya, pasti karena itu, Sakura meyakinkan dirinya sendiri.
Mereka menunjukkannya dengan cara yang berbeda-beda.
Hanya cara penyampaiannya saja yang berbeda.
Sakura tahu jelas bahwa sejak kecil Naruto dan Sai sangat menyayanginya. Mereka berdua tidak ragu mengungkapkan itu secara terang-terangan. Ucapan sayang pada Sakura bukan termasuk kalimat langka dari mulut mereka berdua.
Namun Sasuke... –Sakura ragu akan hal itu.
Bagaimana bentuk kasih sayang Sasuke padanya?
Sakura tidak tahu jawabannya.
Ada satu rasa yang tak bisa dijelaskan di dalam hatinya—mendesak dirinya untuk dapat menemukan jawaban dari pertanyaan itu.
Bagaimana bentuknya, Onii-chan?
.
.
.
bersambung.
ABA: BENTUKNYA SEGITIGA LOPE LOPE SAKURA~~~~ /heboh sendiri. /padahalinitulisansendiri.
yosh, akhirnya muncul kembali(?)ehe. maafin ya kalau feelnya nggak dapet, kependekan dan sangat nggak jelas. kan saya udah bilang kalo saya ini newbie yang sangat amatiran. H3H3. tapi tenang aja gaiz, ini belum masuk ke bagian utama kok(?), jadi saya sengaja buat awal chapternya tentang hubungan mereka berempat dulu, tapi nggak lengkap-lengkap amat dong, entar jadi nggak seru xD /plakk.
btw ada yang penasaran nggak sih sama hubungan mereka? kenapa mereka bisa jadi satu keluarga? hayooooo, mari tebak-tebak berhadiah~~~
SaphireOnyx Namiuchimaki: sifat asli Saku sepertinya akan terungkap di chapter depan, depannya lagi, depan depannya lagi. /plakk. aduh kalo ini mah entar saya jawab malah spoiler:( hm, sampai sejauh ini hubungan mereka masih sebatas dekat ala kakak beradik, belum tau deh kedepannya mau dilanjutin ke arah romance atau tetap family, hehe^^
: yak! yak, bisa jadi bisa jadi! /dikeroyok. hmm, sepertinya tebakan kamu bisa menjadi spoiler nih(?) entar chapter penjelasan sifat Saku yang mencurigakan akan terbit kok^^ /dikatamajalah...
fenna: halo fenna-chan! hmm, sepertinya tebakan kamu akan segera terjawab(?) /bingungmaujawabapalagi. wah, dibalik 'kelihatan imut'-nya Saku sebenarnya ada hal menyeramkan loh. /malahspoiler. entar kalo kamu tahu, kamu pasti nggak akan berani cubit pipinya(?) btw arigatou ne^^
Dan terimakasih juga untuk yang lain, yang telah meluangkan waktunya mereview, dan membaca tanpa mereview(?)^^
Terimakasih telah membaca.
Mind to Review?
nopz.06.10.2015
