"STAY WITH ME"

Disclaimer : Nama-nama yang tercantum dalam cerita sepenuhnya milik mereka. Jungkook milik Taehyung. Taehyung milik saya *eh. I own nothing except the whole story line.

Genre : Romance, Drama-Hurt

Main Casts : Kim Tae Hyung x Jeon Jung Kook

Other Casts : Kim Nam Joon | Kim Seok Jin | Min Yoon Gi | Jung Ho Seok | Park Ji Min | Sooyoung SNSD

Rated : M (Buat Jaga-Jaga)

Warning : Top!Taehyung x Bottom!Jungkook

YAOI, BoyxBoy, Akan ada banyak kisah flashback

Chapter 2

Kim Taehung POV

"Aku tak menyangka kau akan kembali lagi ke korea"

Park Jimin menepuk pundakku pelan sebelum melemparkan eye smilenya itu. Aku bertanya-tanya dalam hati, kenapa diantara banyaknya teman yang ku miliki disini selalu saja dia orang pertama yang ku tuju? Dasar bantet. Sialnya dia adalah sahabatku. Dari zaman aku masih mengenakan popok dan berkeliaran dengan ingus yang menempel di sudut mulutku, dia sudah menjadi temanku. Itulah dia si Park-Bantet-Jimin.

"Aku sendiri juga tak menyangka aku ada disini" aku menyesap wineku. Hingar bingar musik disekelilingku sedikit memutar ingatan di kepalaku. Tempat ini bagaikan telapak tanganku sendiri. Aku sudah mengenal setiap sudut di tempat ini. Bahkan setiap bartender yang menyajikan minuman itupun aku mengetahuinya. Tempat ini banyak berubah. Mulai dari penataan tempat, hiasan, cat tembok, bahkan sajian minumannya sudah banyak yang berubah. Kursi yang biasa kududuki di ujung ruangan itu telah menghilang tergantikan oleh sofa lebar bernuansa gold. Sayang sekali, padahal aku suka aromanya. Mengingatkanku akan kebiasaan burukku di kala sekolah menengah. Ngomong-ngomong sekolah menengah, sebuah nama terlintas di benakku seketika.

"Kau tahu bagaimana kabar kelinciku?"

Bocah itu langsung menyemburkan tequila di hadapanku. Sial, kemejaku sedikit basah terkena cipratan minumannya itu.

"Sial kau Park Jimin. Kenapa nyembur seperti itu?" aku menepuk-nepuk kemeja hitam kesayanganku ini. Akan ku pastikan bantet itu untuk mencucinya dengan bersih sepulang dari sini.

Jimin terbatuk-batuk beberapa saat sebelum menjawab pertanyaanku.

"Aku lupa memberitahumu sesuatu" ia meletakkan gelasnya yang telah kosong itu. "Kau benar-benar akan tercengang mendengarnya, Tae"

Aku meminta Minjae a.k.a bartender yang sudah sangat ku kenal itu untuk mengisikan lagi minuman di gelas kosongku. "Tercengang bagaimana? Dia sudah menikah?"

Jimin memukul kepalaku dengan cukup keras. "Bukan bodoh! Dengarkan aku dulu" Air muka sahabatku itu berubah. Wajahnya menjadi serius dengan kedua matanya menyipit. Hmm, ada apa ini. Ini tandanya dia akan berbicara serius. Aku memusatkan perhatianku padanya.

"Jungkook buta"

Aku terkesiap. Jimin mengatakannya dengan sungguh-sungguh.

"Apa maksudmu Jungkook buta?" tanyaku. Jimin berkacak pinggang dan memandangku dengan sedikit marah.

"Buta, Tae. Buta! Dia tidak bisa melihat lagi!"

Aku bersiap untuk meminta penjelasan lebih lanjut lagi darinya sebelum perkataan selanjutnya sukses membuat jantungku jatuh di dasar sana.

"Dan itu semua karenamu"

Jeon Jungkook POV

"Selamat pagi, Jungkook"

Pagi berikutnya dan pagi berikutnya dia datang lagi. Sudah 3 hari ini dia memaksa untuk bekerja. 3 hari itu aku menolaknya mentah-mentah. Ia hanya menunggu di depan kamarku seharian penuh sebelum akhirnya Ahjumma memintanya untuk pulang. Namun kali ini, rupanya ia berinisiatif. Ia masuk ke kamarku tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Benar-benar orang yang nekat. Tidak peduli sudah berapa kali aku melarangnya untuk bekerja disini, tidak peduli berapa kali aku melarangnya untuk dekat-dekat denganku namun ia tidak menghiraukannya. Aku menyesap teh rosela favoritku sembari duduk menghadap jendela. Setidaknya itulah yang kurasakan.

"Woah.. lihatlah kamar ini. Kenapa begitu suram ya? Kurasa Ahjumma-ahjumma itu salah memilihkan warna untukmu bukan? Warna gorden ini terlihat kusam dan tidak sesuai denganmu" ia mengoceh sembari membuka lebar gorden yang sengaja kubuka sedikit ini. Kemudian ia membuka kedua jendela kamarku. Aku mengernyit merasakan hangatnya cahaya yang menerpa wajahku.

"Apa-apaan kau ini?" ucapku protes. Ia tidak menjawab gerutuanku dan menyambar cangkir yang sedang ku pegang.

"Di luar cuaca sedang cerah. Kenapa tidak berjalan-jalan sebentar? Aku akan menemanimu keluar kalau kau mau"

Aku mendengus. Mau itu cuaca cerah atau hujan badaipun itu tidak berpengaruh padaku. Toh aku tidak dapat menikmatinya sedikitpun.

"Ayo kita keluar! Katakan, kau mau pergi kemana hari ini? Taman kota? Kebun binatang? Taman bermain?"

Aku berdiri dari tempat dudukku seketika. Ia sepertinya kaget dengan sikapku ini, terdengar dari reaksi tertahannya. Dia benar-benar orang yang tidak tahu malu. Tidak sadarkah ia kalau aku tak peduli dengan apapun?

"Keluar. Aku tak ingin pergi kemana-mana" jawabku dengan nada sedingin mungkin.

"Oh ayolah, Jungkook. Kau harus keluar dan jalan-jalan sebentar saja" ia menarik tanganku dan aku menepisnya.

"Berani-beraninya kau!" ucapku. Aku mengambil tongkatku dan memukulinya dengan asal. Ia mengaduh beberapa kali sebelum akhirnya mengambil tongkatku.

"Hentikan okay? Itu sakit." Ia merengek seperti bayi. Astaga, apa-apaan orang ini.

"Kembalikan tongkatku!" teriakku marah. Aku benar-benar benci jika harus berdiam tanpa memegang tongkatku. Benda itu bagaikan nyawa bagiku. Aku terlalu bergantung padanya.

Pemuda itu terkekeh sebentar. "Aku akan mengembalikannya asal kau mau keluar barang sebentar saja"

"Apakah menyenangkan—" aku mengumpulkan suaraku. "Apakah menyenangkan mengerjai orang buta sepertiku? Bagimu itu menyenangkan?"

Dia terdiam seketika. Aku menahan panas yang menerpa kedua mataku. Aku benci terlihat lemah di depan orang lain. Dan kalau ketidaksempurnaanku ini begitu menyenangkan bagi orang lain, maka...

"Bukan begitu" ia mengambil tangan kananku. Tangannya terasa sedikit kasar, sesuai dengan suara huskynya. Aku sedikit kaget sebelum ia meletakan tongkatku diantara jemariku. Aku meremas barang itu dan berbalik memunggunginya.

"Aku hanya mencoba menjadi temanmu, Jungkook. Kau butuh seseorang yang bukan hanya menjadi perawatmu saja melainkan juga menjadi temanmu. Teman berbicara, bermain, melakukan hal yang kau suka. Apapun itu. Aku disini untuk membantumu" suaranya lirih namun terdengar tegas. Sebutir air mata turun begitu saja. Aku mengusapnya kasar menggunakan lengan bajuku.

"Berhentilah membuatku terlihat lemah" aku menggumamkannya.

"Aku tidak membuatmu terlihat lemah! Aku hanya ingin kau berbicara dengan seseorang" ia mencoba meraih tangan kiriku sebelum aku menepisnya.

"Hari ini, aku mendengarnya dari ahjumma, teman satu komunitasmu berulang tahun kan? Mari datang dan membawakannya kado!"

Aku nyaris melupakannya. Hari ini ulang tahun Yoongi hyung. Bagaimana aku bisa lupa? Oh iya. Sudah sebulan ini aku tidak mengunjungi pusat komunitasku. Yoongi hyung benar-benar sudah baik kepadaku selama 10 tahun ini. Bagaimana aku tidak datang? Namun menarik lagi kata-kata yang sudah ku muntahkan lagi, rasanya...

"Ayolah, Jungkook. Aku akan menemanimu mencarikan kado untuknya. Bagaimana? Cool?"

Aku menarik nafas dan menghitung sampai 3 sebelum membalikkan tubuhku.

"Baiklah"

.

.

.

Hallo! Hi! Annyeonghaseo! Summer Plum is here. Gimana ceritanya? Mbosenin? Ngantukin? Ga seru? Uuh, Mianhae... akan Plum perbaiki lagi di chapter chapter yang akan datang. Terima kasih udah ngeluangin waktu buat membaca ya guys. Boleh dong, coret coret di kolom review, hehe. Atau mau tanya-tanya lebih detail? Follow IG Plum ya : Summer_plum (double underscores). Thank You! See You!