I'll Walk You Home

.

.

.

Park Chanyeol & Byun Baekhyun

.

.

Park Kyungsoo dalam mode anak tiri tidak pernah jadi hal yang menyenangkan, Baekhyun nyaris merutuk saat anak tirinya itu terserang demam dan ialah satu-satunya orang yang dipercaya Chanyeol untuk menjaga putri manjanya itu. Tapi ternyata, Park Chanyeol dalam mode ayah protektif lebih memusingkan dari polemik antara ibu dan anak tiri yang Baekhyun dan Kyungsoo hadapi.

WARN: Ini GS! GS! GS!

.

.

.

Terjangkit demam di musim semi adalah hal paling aneh yang Baekhyun ketahui. Oh ayolah, musim penuh bunga ini baru saja dimulai beberapa minggu, bagaimana bisa Park Kyungsoo terserang demam begitu mudah?

Ck, anak tirinya ini memang ada-ada saja.

Desah nafas berat dan lenguhan terdengar samar mengisi keheningan, Baekhyun masih setia mengusap keringat yang membasahi pelipis serta surai hitam milik Kyungsoo. Saat Baekhyun ukur tadi demamnya hampir 39 derajat celcius, memang sangat tinggi. Tadinya ia berencana untuk membawa putri manja itu ke rumah sakit saja, tapi rengekan kekanakan yang penuh penolakan membuat Baekhyum membatalkan niatnya kemudian lebih memilih menelpon Chanyeol.

Dan heol, ini sudah hampir satu jam. Kenapa si lelaki tua itu tak kunjung datang?

Baekhyun menggerutu dalam hati, tangannya meletakan handuk basah diatas nampan kemudian bergerak menurunkan selimut untuk mengusap leher Kyungsoo yang basah dengan keringat. Sejenak, Baekhyun lengah dan melewatkan lecet merah basah yang tersebar dipunggung tangan Kyungsoo. Namun saat ia menurunkan selimut yang sepenuhnya menutupi tubuh Kyungsoo, ia terperangah saat melihat sobek dan goresan yang cukup dalam dilutut anak tirinya itu.

Tangan Baekhyun bergetar, tanpa banyak bicara ia menyambar ponselnya menekan speed dial satu.

"Kyungsoo baru saja jatuh!"

.

.

.

Park Chanyeol berlarian sepanjang lorong rumah sakit dengan wajah panik, saat Baekhyun menelponnya untuk segera pulang ia menyesal karena tak buru-buru menurut. Tiga puluh menit lalu Baekhyun kembali menelponnya dan mengatakan Kyungsoo dibawa kerumah sakit. Chanyeol menyesal setengah mati.

"Dimana ruangan Park Kyungsoo?"

Pria dipertengahan tiga puluhan itu berdiri tidak sabar didepan meja receptionist dengan nafas terengah.

"Diruang 614 lorong sebelah kanan, Tuan."

Kaki jenjangnya melangkah gusar dan iris tajamnya bergerak liar menyusuri angka dideretan pintu ruangan VIP kemudian bergerak cepat saat menemukan pintu yang ia cari, samar-samar ia mendengar suara isakan dan tangannya semakin tak sabar untuk membuka pintu dan,

"Hikss.. Baek, jangan beri tahu dad-"

"Soo?"

Kyungsoo yang tadinya sibuk merengek diatas ranjang kini diam dengan wajah pucat yang penuh air mata sedangkan Baekhyun, si ibu tiri yang duduk disamping ranjang beranjak bangun dengan bingung dan memberikan jalan untuk si ayah posesif berinteraksi dengan putrinya.

Chanyeol yang diburu rasa khawatir tak menunggu lama, pria itu menutup pintu kemudian mengambil tempat untuk duduk disamping sang putri,"Apa yang terjadi, Baek?"

Pertanyaannya mengarah pada Baekhyun namun pria bermarga Park itu sibuk meneliti kondisi putrinya tanpa mau peduli dengan reaksi penuh ketakutan dari putri manjanya itu.

Baekhyun menghela nafas saja. Oh yeah, ia sudah mulai hafal sikap Chanyeol pada putrinya.

Protektif.

"Kami tidak pulang bersama karena aku pulang duluan, karena takut kau marah Kyungsoo menyuruhku pulang dengan Pak Kang, jadi Kyungsoo diantar temannya dengan skuter dan mereka jatuh, Chan."

"Sudah aku bilang kalian harus pulang bersama, kenapa tidak dengar?"

Tidak usah menjawab, Baek. Diam saja.

Oh well, mendebat Park Chanyeol yang sedang marah bukan hal yang bagus. Suami tampannya ini memang sabar dan pengertian, tapi kalau sudah berurusan dengan putri kesayangannya, Baekhyun sarankan kalian mundur jauh-jauh.

Mendapati atmosfer yang berubah tidak menyenangkan, Kyungsoo yang duduk diatas ranjang dengan wajah sembabnya menatap Baekhyun dengan mata berkaca-kaca. Merasa bersalah pada si ibu tiri,"D-Dad.. Daddy jangan marahi, Baekhyun."

"Kalau kau tidak mau Daddy marahi Baekhyun maka jangan banyak ulah," Chanyeol mendelik dengan suara huskynya yang dingin dan mengancam. Perlahan ia berbalik menatap Baekhyun masih dengan wajahnya yang berubah datar, gadis yang ditatap hanya menunduk takut.

"Apa kata dokter?"

Demi apa, Baekhyun tidak punya banyak pengalaman menghadapi Chanyeol yang marah, belum lagi suara suaminya itu terdengar dingin dan mengancam. Diam-diam Baekhyun bergetar, ia menunduk dan berusaha menghindar dari tatapan Chanyeol yang pastinya jauh lebih dingin dari ucapannya.

"Kyungsoo tidak apa-apa, lukanya tidak ada yang serius dan dia demam karena terkejut, Chan."

Pria itu beranjak dari duduknya,"Kalian tunggu disini, aku akan menemui dokter Jung."

Pintu ditutup rapat, Baekhyun dan Kyungsoo diam-diam menghela nafas merasa lega terlepas dari atmosfer mengerikan yang diciptakan ayah protektif itu. Kyungsoo yang pertama kali buka suara,

"Maafkan aku, Baek."

Perempuan bermata sipit itu menggeleng tanpa beban,"Sudah, tidak usah menangis. Daddymu tidak akan tahan marah lama-lama denganku. Apa lukanya masih perih?"

Pinguin cantik itu mengangguk dengan bibir mencebik,"Perih, Baek. Hikss.. Sudah perih dimarahi pula, daddy menyebalkan. Tidak pengertian sama sekali."

"Aish.. Dasar gadis cengeng, lain kali kalau mau belajar skuter bilang dulu padaku, kau ini tidak kompak sekali sih anak tiri."

"Habisnya aku takut kau malah mengadu, Baek. Aku sudah lama ingin bisa naik skuter, tapi daddy tidak pernah bolehkan."

"Ck, kau ini-"

Srek!

"Kyung! Apa yang terjadi denganmu?!"

Ucapan Baekhyun terpotong, gadis itu terdiam saat tiba-tiba pintu ruangan kembali terbuka dan suara grasak-grusuk rusuh tak beraturan terdengar. Mata cantiknya yang awalnya menyipit kini membola tak karuan. Sesosok pria dengan pakaian biru dengan penutup kepala khas seragam bedah masuk secara tidak sopan. Baekhyun segera berdiri dari duduknya,

"Apa-apaan ini Kyung? Kenapa dia tiba-tiba masuk dan memelukmu?"

Kyungsoo yang masih dipeluk pria itu melirik kikuk dan mendorong dengan tangannya meminta lepas,"B-Baek.. Perkenalkan ini Kim Jong In, pa-pacarku." suara Kyungsoo merendah diakhir.

"Apa kau bilang barusan?"

Si gadis burung hantu itu gugup,"Pacarku, Baek. J-Jong in, perkenalkan dirimu."

"Byun Baekhyun?!"

Jong In menyela ribut sedangkan Baekhyun bersidekap dan menebar senyum angkuhnya yang biasa,"Heol.. Dokter gila, sudah aku bilang kita akan bertemu lagi. Sekarang aku akan buat perhitungan denganmu,"

Pria berkulit Tan itu mengerang dalam hati. Oh Tidak! Bagaimana pasien galak ini bisa ada dikamar Kyungsooku?

"Seenak jidatmu saja kau pacari Kyungsoo setelah hampir buat kepalaku botak. Bermimpi saja kau aku restui, Dokter gila."

Kyungsoo merengut ditempat,"Kalian saling kenal?"

Si cantik bermata sipit mendelik tajam,"Dokter gila ini melakukan operasi untuk kepalaku yang terbentur, jika ibuku tidak berteriak mungkin dia akan mengunduli rambutku, Kyung."

"O-Operasi? Operasi apa, Baek?"

"Ayolah Byun.. Itu sudah beberapa bulan yang lalu. Kenapa sih kau masih saja bernafsu marah-marah padaku?" Pendendam sekali sih si gadis galak ini.

"Pikir saja sendiri, Dokter gila. Apa kau masih bisa diam saat rambutmu dipangkas habis huh?"

Oh well.. Ternyata si Byun ini masih menaruh marah padanya. Jangan salahkan Jong In, waktu itu ia sangat panik karena korban kecelakaan parah dikilometer 147 sangat banyak. Ia tidak punya waktu banyak dan saat mendapati luka tak wajar dikepala Baekhyun yang penuh darah ia jadi bingung dan hampir menggunting habis rambut gadis itu jika saja seniornya tidak datang dan berteriak mengingatkan jika yang baru saja akan ia gunduli adalah seorang gadis, masih muda pula.

Yah.. Gadis mana sih yang mau rambutnya digunting habis? Jadi Jong In terima saja jika Baekhyun marah padanya. Tapi apa harus selama ini?

"Ish! Jawab aku! Kau operasi apa Baek? Kapan?!" Kyungsoo yang merasa diabaikan mulai sewot lagi.

Duh ampun! Baekhyun menepuk bibirnya gemas dan melempar glare pada Jong In yang juga tengah meliriknya. Kenapa ia tidak bisa jaga mulut sih? Inginnya kan tidak ada orang lain yang tahu tentang kecelakaan besar itu.

Aish.. Mulutnya ini memang!

Baekhyun menggaruk tengkuknya salah tingkah,"A-Aku terlibat kecelakaan besar semester lalu, Kyung. Ada pendarahan kecil dan Dokter gila ini yang mengobatiku."

Kyungsoo melirik Jong In meminta penjelasan dan pria berkulit tan itu menghela nafas seraya membuka penutup kepalanya,"Benar, Kyung. Gadis bodoh ini koma hampir satu bulan dan aku hampir mati dicekik ayahnya. Tapi.. Bagaimana bisa Byun Baekhyun ada disini?"

Oh, ini pertanyaan yang tidak terprediksi.

Baekhyun dan Kyungsoo saling lempar tatap kemudian berdehem salah tingkah. Diam-diam, Baekhyun mengerang dalam hati.

Kenapa harus terbongkar hari ini?!

"Apa jangan-jangan.." mata Jong In menyipit menatap Baekhyun,"Hei, Byun ceroboh Baekhyun, kau yang mencelakai pacarku? Dokter Jung bilang Kyungsoo jatuh dan luka lecetnya sangat banyak. Kau mau aku gunduli heh?"

"Kau mau gunduli kepala istriku, Jong In?"

Sosok yang mulanya menyandar santai dipintu masuk kini melenggang santai dengan kedua tangannya yang terlipat angkuh. Chanyeol menatap Jong In dengan penuh tanya.

"Pa-paman Park? Is-istri?!"

Demi apa, Jong In yakin hasil check up medisnya bulan lalu baik-baik saja. Telinganya tidak mengalami kerusakan apapun, pikirannya masih waras dan ia sehat sangat sehat malah. Tapi apa kata ayah Kyungsoo barusan?

Istri? Byun Baekhyun si bocah labil galak adalah istri Park Chanyeol calon mertuanya?!

Ya ampun.. Apa dosanya sampai harus punya calon mertua macam Byun Baekhyun?

"Ya, Baekhyun ini istriku. Apa ada masalah?"

"Bu-Bukan begitu Paman, aku.. Aku.." Oh bagaimana bisa pria itu berujar dengan begitu santainya? Kalau usianya tidak beda jauh sih bukan masalah. Tapi.. Aish, Jong In pusing memikirkannya.

Tanpa memperdulikan tatapan penuh protes dari manik kelam milik istri dan anaknya, ia mendekat kemudian dengan sengaja memeluk bahu Baekhyun erat-erat."Kau tidak memberi tahu Jong In tentang pernikahan daddy, Soo? Sayang sekali, padahal Daddy pikir kalian sangat dekat."

Duh ayahnya ini. Kyungsoo meringis dalam hati kemudian menekan pelipisnya yang mulai berdenyut tidak menyenangkan,"Baekhyun istri daddyku, Jong In."

"Nah tepat," si Park senior kembali angkat biara dan tatapannya kembali dibuat sok polos,"Dan kau bilang barusan mau mengunduli kepalanya. Apa aku tidak salah dengar?"

"Benar, Chan. Jika saja kau tidak datang mungkin ini akan jadi kali kedua aku digunduli Dokter gila ini." Baekhyun menimpali dengan senyum jahil, ia senang melihat si dokter itu mati kutu.

Sedangkan Jong In, ia sudah belingsatan dengan keringat sebesar biji jagung yang turun dipelipisnya, menghadapi ayah Kyungsoo tidak pernah mudah dan si Byun itu membuat semuanya makin runyam.

Mati aku! Byun bodoh Baekhyun! Bagaimana bisa kau balas dendam disaat yang tidak tepat!

Jong In menjerit dalam hati kemudian ia melirik Kyungsoo dan semakin tersiksa karena gadis itu tak menunjukan tanda-tanda akan membelanya."A-Ah itu! Itu.. Istrimu ini sudah dua kali bolos dari medical check upnya, Paman. Jadi aku sedikit memberinya ancaman agar mau pergi periksa. Y-Ya, begitu kan, Baek? Ya kan ya?"

Yang Jong In butuhkan adalah kata ya dari bibir Baekhyun sebagai pertolongan untuk menyelamatkan diri dari amukan calon papa mertua, namun ternyata si calon mama mertua yang masih seusia gadis labil masih dalam mode balas dendamnya yang menyebalkan dan nyaris membuat Jong In kehilangan kesempatannya untuk menjadi menantu Park Chanyeol.

"Dia sudah hampir menggunduliku, Chan. Mana mau aku datang lagi?"

Oh Byun Baekhyun menyebalkan!

"Anhiyo! Bukan begitu maksudku, Paman Park! Sungguh aku tidak-"

"Yayaya," Chanyeol menatap Jong In tak berminat,"Apapun itu tapi Kyungsoo harus segera dibawa untuk MRI, masih mau melakukan pembelaan atau kau akan ikut mengantarnya Jong In?"

"Aku akan menggendongnya, Paman!"

Mau tak mau, Chanyeol tersenyum tipis saat mendengar seruan penuh semangat dari pria muda didepannya. Sedangkan Kyungsoo yang digendong Jong In untuk duduk di kursi roda merengut kesal kemudian melirik sang ayah yang ikut berjalan disampingnya menuju ruang radiologi. Uh, ia cuma jatuh kok luka lecet dan memarnya hanya perih. Memang harus ya ia mendapat MRI seperti pasien fraktur yang parah?

"Dad, ini berlebihan." Protes Kyungsoo.

Namun Park Chanyeol dengan segala keputusannya bak batu karang diterjang ombak,"Daddy bilang harus ya harus, Soo. Kau juga tetap nakal saat Daddy bilang tidak."

Baekhyun dan Jong In saling melempar tatap kemudian meringis prihatin, selain galak si Park ini menyebalkan juga. Dan Jong In yang pertama kali mengambil peran menghibur kekasihnya,"Paman Park benar, Kyung. Siapa tahu ada luka dalam akibat benturan saat kau jatuh tadi."

"Jatuhnya tidak parah kok, saat aku jatuh kecepatan skuternya juga hanya 30 kilo meter per jam. Memangnya luka dalam macam apa yang bisa disebabkan dari jatuh dengan kecepatan serendah itu?"

"Jangan membantah, Kyungsoo sayang."

Lagi, Baekhyun melirik Kyungsoo sebentar kemudian menghela nafas, ia menyikut Jong In kemudian memberi kode agar mereka bekerja sama. Baekhyun menunjuk ruang pemeriksaan dengan dagunya agar Jong In saja yang membawa masuk Kyungsoo kedalam ruangan dan sebagai gantinya ia akan menangani Chanyeol. Well, ayah protektifnya Park Kyungsoo ini perlu ditenangkan terlebih dahulu.

Bersyukurlah Jong In itu pria yang pandai, jadi segera setelah sampai diruang Radiologi ia menghentikan kursi roda dan bicara pada si calon Papa mertua,

"Paman, boleh aku yang membawa Kyungsoo masuk?"

Chanyeol melirik putrinya sekilas kemudian menghela nafas saat Baekhyun tiba-tiba menyahut penuh semangat dan menggelayuti tangannya seperti anak kucing. Ia tahu perempuan ini sengaja.

"Boleh kok, Dokter gila. Sana bawa Kyungsoo masuk dan pastikan tidak ada hal mengkhawatirkan yang terjadi pada putri kesayanganku."

Kyungsoo yang diatas kursi roda memutar matanya jengah,"Oh, Baek. Sumpah aku mual,"

"Sudah, masuk sana. Jangan banyak protes."

Gadis pinguin itu mencebik namun tak urung saat Jong In membawanya masuk kedalam ruang penuh perlatan medis. Dan sebenarnya yang enggan itu Chanyeol, melihat putrinya dibantu Jong In naik kursi roda saja ia risih. Nanti, pasti dokter itu akan menggendong putrinya lagi. Tapi well, Park Baekhyun bergerak cepat.

Chanyeol menghela nafas saat gadis itu kembali melilitkan tangan rantingnya itu erat-erat,"Jangan bertingkah begitu. Kau ini seperti tidak pernah muda saja,"

Baru 18 saja gayanya seperti perempuan dewasa, jelas Chanyeol berdecak,"Tingkahku begini karena aku pernah muda, Baekhyun."

Gadis itu terkekeh geli seraya menempelkan sebelah pipi tirusnya pada lengan Chanyeol yang ia peluk,"Ucapanmu barusan kedengaran seperti kau sudah tua, suamiku sayang."

"Kau yang selalu bilang aku tua, lupa heh?"

"Kau kan menikahi perempuan muda, jadi bertingkahlah seperti anak muda, Chanyeol-aah.."

"Kau tidak sopan."

"Aish.. Apa salahnya? Kau inikan memang suamiku, Chanyeol-ah.. Chanyeoruu~ Chanyeol sayaaang nananana~~"

"Berhenti beraegyeo atau kucium disini sekarang juga, Bee."

"Kau tidak akan berani, Chanryeoruuku sayang~"

"Aku serius Baekhyun, sekali lagi kau—"

"Nanana.. Nanana.. Chanyeollie~ Chanryeo-"

Chup!

"Nah, akhirnya kau diam juga gadis nakal."

Uhm yeah.. Barusan adalah Park Chanyeol dalam mode agresif mohon dimaklumi jika ia tidak tahu malu.

Meinggalkan pasangan aneh yang gemar bertingkah absurd itu, didalam ruangan Kyungsoo mati-matian menahan kekesalannya yang membuncah, ia lupa jika famor kekasihnya ini cukup tinggi dirumah sakit dan Kyungsoo tak pernah tahu fakta jika mendapati kekasihnya digoda tepat didepan matanya itu bisa memicu emosi hingga rasanya ia ingin memakan orang detik ini juga.

"Ah, dokter Kim. Aku pikir jadwal Operasi anda belum selesai. Omo.. Anda pasti lelah sekali, biarkan aku yang membawa pasien ini."

Ini baru satu, dan yang lainnya,

"Oh Luna, kau tidak sopan sekali! Cepat bawa pasien ini masuk dan biarkan dokter Kim istirahat sebentar."

Ini membuatnya mual namun menurut Kyungsoo ini yang paling memuakan,

"Omo! Kai Sunbae apa Sunbae kemari untuk menemuiku? Ya ampun bagaimana ini, Sulli apa make up ku sudah bagus? Luna-ya, apa lipstick ku tidak luntur? Omo.. Aku akan berkencan dengan Kai sunbae hari ini kalian jangan iri ya!"

Ugh, kantung muntah tolong!

Si objek bualan meringis risih,"Maaf teman-teman, aku kemari karena kekasihku ingin diperiksa. Bisa kalian panggil Dokter Shim?"

"Oh Jong In! Ada keributan apa ini?" sosok pria berkacamata datang denga segela coffee ditangannya.

"Kim Sunbae.. Aku ingin kekasihku diperiksa."

Ketiga perempuan centil bersergam khas perawat itu menjerit histeris"A-Apa?! Anak smp ini kekasihmu?!"

Apa?! Anak smp?!

Wajah Kyungsoo merah padam dengan gigi bergemelatuk menahan amarah,"Jong In kau bisa pergi dan tolong panggil Daddy untuk masuk."

Oh tidak. Mati kau Kim Jong In!

"Ti-Tidak perlu, Kyungsoo sayang. Kita akan masuk sekarang oke? Sunbae bisa kita periksa sekarang?"

Namun Park manja Kyungsoo dalam mode merajuk tidak akan bisa dijinakan dengan mudah jadi,"Daddy!"

Saranku, Jong In. Siapkan jurus andalanmu untuk menenangkan Pinguin kelewat imut yang merajuk parah karena cemburu.

.

.

.

Selepas menjerit kekanakan diruang radiologi dan dinyatakan tidak ada hal yang buruk kecuali memar dan lecet ditangan dan kakinya, Kyungsoo ngotot ingin pulang dan sebagai hasil, ia harus terima saat sang ibu tirilah yang ditugas untuk merawatnya. Ia sempat menolak, namun tatapan dalam sang ayah berhasil buat semua rengekannya ia pendam dalam-dalam, masih kapok menerima ceramahan ayah tampannya itu sepanjang perjalanan pulang.

"Sshh.. Perih, Baek."

Kyungsoo berjengit saat kapas lembut beralkohol itu mengusap lembut luka dilututnya yang memar hal itu kontan membuat Baekhyun yang mengoleskan kapas beralkohol diluka Kyungsoo ikut berjengit, oh.. Dia bisa bayangkan bagaimana perihnya lecet dilutut juga disikut si daddy's girl ini.

Lecet ditambah alkohol? Oh bubar, bubar.

"Maaf, Soo. Sedikit lagi luka dipunggung kakimu, tahan sedikit oke?"

Hasil MRInya tidak menunjukan tanda-tanda cedera, jadi fix Park Chanyeol memang berlebihan. Selepas beri wejangan penuh sindiran juga penuh ancaman pria itu kembali ke kantor untuk urusan penting. Jadilah kini hanya tinggal dua sosok cantik sebaya yang sibuk saling menghibur setelah dapat ceramahan penuh kasih sayang.

Kim Jong In?

Well, Baekhyun senang sekali melihat ekspresi memelasnya saat Kyungsoo dibawa pulang tadi.

"Baek.. Tadi daddy bilang apa?"

Baekhyun membereskan kekacauan diatas ranjang Kyungsoo kemudian meletakan beberapa lembar kasaa diatas bed anak gadisnya itu."Pria tua itu bilang mulai hari ini kita tinggal di mansion saja, Kyung."

Bibir semerah cherrynya mencebik seperti anak bebek dan kening cantiknya mengerut tidak terima,"Tapi jarak mansion dengan kampus jauh, Baek. Kenapa kau tidak protes saja sih?"

"Kau pikir aku tidak protes huh? Anak dan ayah sama saja, kalian sama-sama suka memojokanku. Kau pikir enak disalahkan?! Urus obatmu sendiri anak manja!"

Kyungsoo melongo ditempat, apa ia keterlaluan?

"Oh B-Baek! Hei Byun Baekhyun!"

"Apa yang kau lakukan pada Mommymu, Soo?"

Oh tidak! Kenapa ayahnya ini suka sekali muncul tiba-tiba? Kyungsoo belingsatan mencari alasan,"I-Itu dad.."

"Itu apa?" Chanyeol yang berdiri dipintu masuk perlahan mendekat kemudian memperhatikan satu per satu luka lecet ditubuh putrinya kemudian mengambil kassa setelah mencuci tangannya. Ia menggunting kain putih itu menjadi beberapa bagian kecil kemudian menutupkannya diatas luka Kyungsoo,"Daddy berpapasan dengan Baekhyun didepan dan dia melalui Daddy begitu saja tanpa bicara sedikit pun dan wajahnya juga kusut. Sudah Daddy bilang jangan berulah lagi, sayang."

"Ish! Daddy menyalahkanku lagi. Apa Daddy tidak sadar sejak Daddy marah-marah tadi siang BaekBee kesayangan Daddy itu sudah merajuk parah, ternyata selain menyebalkan Daddy juga tidak peka."

Ayah tampan itu sedikit melonggarkan dasinya kemudian beralih pada luka disikut sang putri kesayangan, memilih menanggapi gerutuan putrinya dengan santai."Memangnya Daddy marah-marah?"

Heol, jawaban macam apa itu?

Kyungsoo memutar bola matanya malas."Kedengaran seperti pembelaan, Dad. Tidak gentle tahu."

Chanyeol yang sibuk dengan kassa terkekeh pelan,"Tahu apa pinguin manja ini tentang pria gentle huh?"

"Yang pasti sih tidak seperti Daddy yang marah-marah kemudian pergi begitu saja. Daddy tahu tidak? Saat Daddy bilang aku dan Baekhyun ceroboh, lebah centil itu hampir saja menangis."

Untuk topik ini, Chanyeol tidak bisa stay cool dan berpura-pura tidak peduli lagi. Ia mendongak menatap putrinya dengan serius,"Apa Baekhyun sangat marah pada Daddy, Soo?"

Bukannya membantu, Kyungsoo malah mengendikan bahunya tidak peduli kemudian menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang."Coba Daddy pikir saja sendiri. Daddy dimarahi, didiamkan lalu ditinggalkan begitu saja. Bagaimana, Daddy marah tidak?"

Mendengar Kyungsoo yang mengatakannya Chanyeol jadi merasa jahat.

"Jadi menurutmu Daddy harus apa?"

Senyum mencurigakan tersunging diwajah bulat si sulung Park itu,"Mudah kok, Dad. Bilang saja pada Baekhyun kita tidak jadi tinggal di Mansion, aku rasa Baekhyun pasti akan sangat senang."

Wajah ayah tampan itu berubah masam,"Itu sih mau mu, Kyungsoo sayang. Minum obatnya dan matikan lampu, malam ini Daddy sita ponselmu."

Malam itu Park Kyungsoo ditinggalkan dengan bibir mencebik dan ekspresi menahan tangis saat ayahnya berlalu dengan benda pipih berwarna putih yang mirip ponselnya. Oh tunggu sebentar.

Ponsel? Tadi Daddynya bilang apa? Ponselnya disita? Ugh,

Di-si-ta.

"Hyaa! Daddy kembalikan ponselku!"

Saat teriakan itu mengudara, Chanyeol belum terlalu jauh dan ia hanya terkekeh geli seraya menimbang ponsel berwarna putih itu ditangannya. Memilih mengabaikan rengekan putri kelewat manjanya, ia berjalan menaiki tangga menuju kamarnya sendiri. Sengaja ia pulangkan Ibu ratu juga putri manja itu ke mansion Park agar lebih banyak orang yang mengawasi. Lagipula terlalu sering meninggalkan Baekhyun dan Kyungsoo berdua membuat ia was-was. Well, anak dan ibu tiri itu kan belum penuh akur sepenuhnya 'kan? Jadi rasanya pilihannya ini sangat tepat.

Kaki jenjangnya melangkah tenang, lokasi mansion Park yang berada nyaris dipinggir kota membawa suasana tenang yang damai hingga langkah Chanyeol terdengar menggema dilorong sunyi. Tubuh tegap pria itu berhenti tepat didepan sebuah pintu ganda diujung lorong.

Ia membuka pintu dengan pelan dan pencahayaan redup menyambut visualnya, Chanyeol tersenyum samar kemudian memelankan langkah kakinya agar tidak menimbulkan suara-takut membangunkan Ibu ratunya ngomong-ngomong. Pria itu berjalan mengendap sebelum akhirnya ikut berbaring disisi kosong yang tersisa kemudian melingkarkan tangannya untuk memeluk Baekhyun erat-erat.

"Malam, sayang."

Tahu siapa pelakunya, gadis mungil itu mengerang kesal,"Kau penganggu. Ngaaah.. Enyah sana,"

Nah, kalau sudah ketus begini artinya istrinya ini sedang ada dalam mode ibu tiri, Chanyeol paham sekarang. Lantas sengaja ia memeluk tubuh gadis itu makin erat dan mengubur wajahnya dalam surai hitam arang yang setengah basah. Oh well, Baekhyunnya ini baru saja mandi. Rambut basah yang berantakan juga aroma after shave miliknya ditubuh gadis itu buat Chanyeol berpikir-pikir yang tidak-tidak. Bagaimana jika ia menghirup wanginya lebih dalam?

Ugh! Park junior! Istrimu ini pasti lelah, jadi jangan berulah. Oke?

"Lepas Chanyeol! Lepaskan aku ish!"

Sementara Chanyeol sibuk dengan menahan fantasi yang tiba-tiba muncul diotaknya, Baekhyun sibuk menggeliat meminta lepas. Bibirnya mencebik maju dan wajahnya ditekuk tiga belas.

Heol, enak saja pria tua ini main memeluknya seolah tanpa dosa. Kemana perginya Park Chanyeol yang menceramahinya seharian tadi? Maaf saja, Baekhyun masih dendam dan ia tidak berencana untuk luluh dengan mudah.

Menjalakan rencananya, Baekhyun terus menggeliat sampai Chanyeol sedikit kewalahan, akhirnya pria itu memutuskan untuk sedikit mengeluarkan tenaganya dengan menyentakan tubuh mungil sang istri hingga kini, gadis itu mengerjap polos dibawahnya.

Senyum miring Chanyeol tersunging penuh kemenangan. Dilihat dari atas sini Byun Baekhyun terlihat menakjubkan, bibir tipisnya yang merekah begitu mengundang, belum lagi tatapan polosnya yang buat Chanyeol bisa lupa diri jika saja dadanya tidak ditahan tangan sekurus ranting.

"Boleh aku mencium mu?"

Park Baekhyun membulatkan matanya, ia hendak buka mulut namun tiba-tiba bibirnya disesap panas tanpa peringatan. Ia berteriak dalam hati saat matanya beradu pandang dengan tatapan Chanyeol yang mengandung magis.

Oh tidak! Aku tidak kuat!

Chanyeol terus menyesap bibir Baekhyun dengan mata terpejam. Ia menaikan intesitas ciumannya dengan melepaskan sesapannya dan berganti dengan pangutan gemas bibir atas sang istri yang ber-shape M, tangan besarnya ia arahkan untuk mengusap rahang Baekhyun guna memberi ketenangan. Well, ia butuh ciuman yang lebih panjang dari sekedar menyesap dan itu tidak akan berjalan dengan baik jika tubuh mungil dalam tindihannya ini bergetar samar.

Merasa Baekhyun tidak menolaknya lagi, Chanyeol bergerak sangat hati-hati, sesekali ia mengeluarkan lidahnya untuk melumat bibir tipis Baekhyun dan kembali ia pangut saat gadis itu benar-benar terbuai. Nafas Baekhyun makin memendek namun Chanyeol masih enggan melepaskan ciumannya, tangan sekurus ranting itu mulai berontak dan akhirnya ia memutuskan memberi sedikit jarak untuk Baekhyun bernafas. Bibir basahnya sengaja ia dekat ditelinga sang istri untuk berbisik panas disana,

"Atur nafasmu sayang. Ini akan jadi sedikit panjang."

Dan itu hanya berlangsung beberapa detik, selang setelah bisikan penuh godaan dari suara huskynya yang panas mengudara, tautan bibir mereka kembali terjadi dan Chanyeol benar-benar memakan habis bibir tipis milik sang istri. Menyesap dan memangutnya seolah tak ada hari esok.

Baekhyun menggeliat resah saat pria jangkung itu terus memangutnya rakus dan memberi jilatan basah penuh godaan. Pria itu terus menciumnya hingga berakhir dengan gigitan penuh feromon hingga Baekhyun merasa lupa diri dan membiarkan Chanyeol menuntun tangannya untuk melingkar dileher jenjangnya.

Saliva mereka bercampur dan bunyi kecipak khas ciuman panas kini mengisi ruangan yang temaram. Tanpa sadar, tubuh Chanyeol makin mendesak kearah Baekhyun dan pria itu mengarahkan tangannya untuk menjamah tubuh sang istri dibalik kaos tipisnya yang kebesaran. Alhasil, pangutan itu makin dalam dan saat Baekhyun secara alami mengerang kegelian, Chanyeol menggeram atas reaksi polos itu. Ia panas bukan main, lantas ia menggerakan kepalanya ke kanan dan kekiri untuk mencari sudut yang pas.

Pangutan panas itu berakhir di menit ke 5 setelah si gadis menjambak rambut si pria karena terdesak kebutuhan oksigen. Meski enggan, Chanyeol melepaskan pangutannya namun sama sekali tidak berniat menjauhkan wajahnya dari wajah Baekhyun yang memerah dan dagu licin penuh saliva. Matanya menatap Baekhyun dengan kilatan penuh bahaya.

Sedangkan Baekhyun, gadis itu masih terlalu fokus mengais udara hingga tidak sadar jika tangan tangan kokoh Chanyeol menyusup dikepala belakang dan punggungnya hingga tubuh mereka menempel erat. Ia baru tersadar saat nafas panas pria itu menyerbu kulit lehernya yang sensitif, matanya bergerak gelisah dan kedua tangannya mendorong minta lepas,

"C-Chanyeol.. A-Apa yang sedang kau lakukan?!"

Chanyeol tahu istrinya panik dan itu terdengar dari suaranya yang terdengar begitu resah,"Sstt.. Tenanglah, Bee. Anggap ini hukuman karena kau sudah memggunakan after shave ku tanpa izin. Kau membuat adikku tersiksa dibawah sana."

"Sshh.. Akh Chanyeol!"

Baekhyun memekik saat merasa perih dan geli saat lehernya dihisap kuat, sensasinya aneh dan ia merasa tidak nyaman karena perutnya mengencang saat Chanyeol menggigit lehernya. Ini benar-benar aneh.

"Menyingkir dari leherku, Chan!"

Gadis itu berseru galak ketika Chanyeol semakin liar. Ia memaksa Chanyeol enyah dari lehernya dengan cara menarik rambut belakang pria hingga itu, saat mereka bertatapan Baekhyun melepas glarenya untuk si suami tampan yang sering ia katai tua.

"Setelah mengomeliku sepanjang siang karena biarkan putrimu pulang sendiri lalu kau kembali ke kantor tanpa bilang apa-apa, sekarang datang-datang langsung memeluk dan main cium saja. Kau pikir apa yang sedang kau lakukan Park?!"

Bukannya menjawab, si telinga peri itu malah mengecup ringan bibir merah Baekhyun kemudian berujar menyebalkan.

"Kau pakai bajuku ya, Bee? Kenapa tidak pakai celana dalamku juga? Eyy.. Kau berani sekali tidak pakai bra."

Baekhyun menjerit dengan wajah merah padam,"Park Chanyeol!"

Katakan Chanyeol jahat karena sementara ia tertawa puas setelah menggoda Baekhyun, istri mungilnya itu malah terisak dalam pelukannya. Well, mungkin kekesalan Baekhyun hari ini sudah tidak bisa ditahan diam-diam Chanyeol menyesal juga tidak bisa menutup mulutnya barang sebentar saja.

Ugh, lihat bibir tipisnya yang bengkak dan dibuat mencebik itu belum lagi mata sipitnya yang ikut bengkak. Park Baekhyunnya ini menggemaskan sekali, bagaimana Chanyeol tahan untuk tidak menggodanya?

Cup!

Cup!

Cup!

"Berhenti menciumku Park Chanyeol!"

Ia melayangkan ciuman ringannya diseluruh wajah Baekhyun hingga tangan gadis mungil itu terangkat dan menahan bibirnya. Tangisnya berhenti dan Chanyeol tersenyum untuk itu, ia sengaja menarik kepalanya kebelakang lalu kembali mencium telapak tangan Baekhyun yang berada tepat dibibirnya. Si empunya kembali menjerit kesal,

Bukannya merasa bersalah, pria jangkung itu malah terkekeh geli kemudian makin mengeratkan dekapannya dan membawa tubuh mungil Baekhyun berbaring diatas dada bidangnya. Tangan besarnya bergerak mengusap sisa air mata diwajah si manja,

"Mana bisa aku berhenti mencium mu, kau kan belum berhenti menangis sayang."

Baekhyun mencebik dengan wajah masam,"Jadi kau juga mencium Kyungsoo agar dia berhenti menangis?"

Gaya merajuknya yang mirip anak sd benar-benar buat Chanyeol gemas setengah mati. Jika saja mood istrinya ini tidak hancur mungkin saja ia akan kembali meluncurkan godaan panasnya untuk melihat apa ia punya kesempatan untuk olahraga ranjang malam ini. Tapi yah, mari kita simpan dulu niatan mesum itu. Baekbeenya yang manja sedang merajuk.

"Kyungsoo yang manja akan berhenti menangis saat dipeluk. Tapi Mommynya ini ternyata lebih manja karena tak bisa berhenti menangis bahkan setelah dicium."

"Heol.. Kau menyamakan aku dengan anakmu lagi, Park. Aku kesal."

Baekhyun menunduk menumpukan keningnya diatas dada Chanyeol yang bidang dan matanya terpejam saat ia merasakan usapan halus dipunggung juga dikepala belakangnya. Oh well, tubuh besar Park Chanyeol memang tempat paling nyaman untuk bergelung dan mencari kehangatan. Suaranya yang berat juga jadi lagu penghantar tidur yang menyenangkan bagi Baekhyun.

"Aku tidak pernah menyamakanmu dengan putriku, Bee. Kenapa kau berpikir seperti itu hm?"

Baekhyun hanya menggeleng diatas dada Chanyeol dan pria itu menghela nafas,"Jangan pernah berpikir begitu lagi ya? Mana bisa aku menyamakan mu dengan Kyungsoo. Maaf karena tingkahku menyebalkan sepanjang hari, aku akan membayarnya lunas besok. Ada tempat yang kau kunjungi?"

Baekhyun mendongak dan mengangguk tiga kali persis seperti seekor puppy yang menggemaskan, Chanyeol terkekeh geli melihatnya,"Kemana?"

"Naik gunung."

"Wow.. Aku tidak tahu hobi istriku ini cukup menantang juga. Naik gunung? Yakin kuat huh?"

Baekhyun mendongak dan melempar glarenya secara gratis pada si Park menyebalkan,"Menikahi dirimu yang tua saja aku sanggup Park apalagi naik gunung," senyum miringnya tersunging saat ide menjahili Chanyeol terlintas begitu saja dibenaknya,"Atau jangan-jangan kau yang tidak sanggup ya, Chanyeol sayang? Aish.. Aku lupa suamiku ini pria tua, lututnya pasti gemetaran saat dibawa mendaki gunung."

Well, jangan panggil ia Park Chanyeol jika tidak bisa membalas sindiran macam ini.

"Jangankan naik gunung, Baek. Menaikimu 23 jam saja aku sanggup kok. Mau coba?"

Oh tidak,

"Ahh-Ahhh.. Ya! Park Mesum Chanyeol! Enyah kau!"

.

.

.

.

To Be Continue

Entahlah ini antara papih loey atau gue yang harus enyah dan dihempas wkwk

Maafkaaan updatenya yang ngaret.. gue tau ini makin aneh tapi gaeess tengkyu berimac buat kalian yang udah menggerakan jempol cantik kalian buat review follow ataupun fav ff gue yang aneh ini.. so guys layak kah ff ini gue terusin? please give me your review~ see yaaa