Chapter 2

Baltic Sea

Setidaknya 5 kapal perang milik Swedia diberangkatkan menuju daratan Jerman. Segala macam persenjataan dibawa, berbagai strategi peperangan pun juga sudah dipersiapkan. Para prajurit hanya tinggal menunggu kapal mereka bersandar di pinggir pantai. Mereka akan bersiap dengan senjata mereka untuk melawan pasukan Prusia yang sudah menanti mereka di daratan. Perintah dari raja mereka adalah mempertahankan wilayah Pomerania sebagai bagian dari Kerajaan Swedia. Siapa pun yang berani mengusik wilayah itu harus disingkirkan.

Berwald memimpin pasukan di kapal terdepan. Layar kapal dengan lambang kerajaan bendera Swedia terbentang lebar. Dia berada di pinggiran dek, membawa teropong panjang di tangan kanannya. Ikut berlayar bersamanya, Lucia dengan pakaian perang khas miliknya. Dia mengenakan gaun tunic berwarna putih dengan rok selutut berwarna biru gelap, sebilah pedang terpasang siaga di pinggangnya, juga pelindung besi terpasang di dada dan perut, serta di pundak dan tangan kanannya. Rambut panjangnya diikat setengah di belakang kepalanya.

"Apakah daratan Jerman sudah terlihat, Kak?" tanya Lucia kemudian menghampiri kakaknya.

"Ya, aku sudah melihatnya. Sedikit lagi kita akan sampai," jawab Berwald. "Persiapkan pasukanmu, Lucia. Periksa kembali persenjataan mereka."

Lucia mengangguk menyetujuinya. Dia lalu berbalik dan berseru kepada semua orang di kapalnya, "Persiapkan diri kalian! Daratan sudah terlihat!"

Para pasukannya pun menjawab perintahnya dengan penuh semangat. Lucia berjalan dan naik ke dek lantai 2. Di sana dia melihat Mathias juga sedang memandang ke laut lepas. Laki-laki dari Denmark itu membawa kapak besar di tangan kirinya. Menyadari kehadiran Lucia di dekatnya, Mathias kemudian menoleh dan menyapanya, "Kemarilah, Lucy."

"Sebentar lagi kita sampai, Matt. Kau harus mempersiapkan dirimu," kata Lucia kemudian mendekati tunangannya itu.

"Aku sudah siap, pasukanku juga sudah siap. Aku harap bantuan yang kubawa dari Denmark sudah cukup untuk melengkapi formasi perang kalian."

Lucia berdiri di samping Mathias. Dia ikut memandang ke laut lepas, mendapati garis pantai di ujung pandangan matanya. Sebentar lagi mereka akan tiba di daratan Jerman. Lucia mengenggam erat gagang pedangnya, memantapkan keyakinan hatinya untuk berperang. "Kami akan memenangkannya," gumam Lucia.

"Kau terlihat sangat tegang, Sayang," kata Mathias kemudian membelai punggung tunangannya. "Aku akan berperang denganmu. Akan kudampingi ke mana pun kau berkuda nanti."

"Matt…"

"Aku janji padamu, Lucy. Setelah peperangan ini berakhir, aku akan langsung menikahimu."

Perempuan berambut panjang itu menoleh kepada Mathias dan berkata, "Aku sudah tahu itu..."

"Setelah kita menikah, aku akan menjauhkanmu dari segala macam peperangan. Kau akan hidup dalam damai bersamaku."

"Jauh dari peperangan, katamu?"

Mathias memegang kedua pundak Lucia dan menatap dalam kedua mata birunya. Dia berkata, "Aku akan melindungimu, Lucy. Sesuai dengan janji suci yang kuucapkan padamu saat kita bertunangan. Kehormatanmu ada di ujung pedangku, tetes darahku adalah bukti kesetiaanku. Aku tidak mungkin mengkhianati janji itu."

"Meski Berwald masih berusaha untuk menghalangimu, Matt, apakah kau akan menepati janjimu?"

Laki-laki Denmark itu tertawa, "Soal Berwald biar aku yang mengatasinya, Sayang. Aku tahu bagaimana mengambil hati kakakmu."

"Kita bertunangan pun sebenarnya hanya sebagai syarat supaya kau mau membantunya berperang kan? Kau tidak tahu betapa kakakku harus menanggung beban itu sendirian, Matt. Andai saja kau tidak-"

"Tidak apa, Lucy? Tidak menjadikan pertunangan ini sebagai syarat? Berwald tidak akan mau kau dinikahi oleh siapa pun, ingat?"

"Apa kau memanfaatkan situasi sulit ini, Matt?" tanya Lucia dengan nada bicara yang dingin.

"Aku sudah berniat menikahimu sejak kita berada di masa sulit itu, Lucy. Apa kau masih meragukanku?"

Lucia menggeleng, dan dia membuang pandangannya ke laut lepas lagi. Dia sedikit pun tidak ragu dengan Mathias. Terlepas dari kondisi saat ini, dia ingin menaruh keyakinannya kepada tunangannya. Dia melakukan semua ini demi kakaknya, demi Berwald, demi keluarganya yang paling disayangi.

"Oh ya, kau melupakan ini, Lucy," kata Mathias kemudian membuyarkan pikiran Lucia. Laki-laki berambut cokelat keemasan itu kemudian menyelipkan dua tangkai kecil bunga daisy di sisi kanan kepala Lucia. Dia melanjutkan, "Bunga daisy ini adalah pelengkapmu, iya kan? Aku pikir kau akan menjadi perempuan paling cantik di dunia ini jika bunga ini menyertaimu, Sayang."

"Te-terima kasih…" jawab Lucia sedikit tersipu.

Mathias mengangkat dagu perempuan itu dan menatap dalam kedua mata birunya sekali lagi. Ibu jarinya bergerak di bawah bibir Lucia, perlahan dia mencondongkan tubuhnya dan menciumnya lembut. Tidak cukup lama, karena mereka berada di ruang terbuka. Berwald bisa saja melayangkan pedangnya tepat ke wajahnya jika dia ketahuan mencium adiknya.

Pomeranian Shore

Suara seorang prajurit dari atas tiang kapal terdengar menyerukan bahwa kapal akan segera bersandar ke bibir pantai. Dia juga menyerukan bahwa prajurit Prusia terlihat menanti kedatangan mereka dengan persenjataan lengkap. Mendengar ini, Berwald langsung berseru lantang memberi perintah kepada prajuritnya, "Begitu kapal bersandar, melompatlah ke daratan dan tunggu perintah dariku untuk menyerang!" Para prajurit itu menjawab penuh keyakinan, mereka bergegas bersiap di pinggir dek dengan senjata masing-masing.

Jangkar kapal diturunkan, kapal mulai merapat ke bibir pantai. Tidak jauh dari mereka bersandar, prajurit Prusia tengah menanti kedatangan mereka. Mereka mengenakan pakaian perang berwarna putih berlambang salib hitam di dada mereka. Formasinya terlihat lengkap. Para pemanah tampak siaga di baris depan. Di belakangnya berjejer pasukan pembawa tombak, pedang, dan sisanya adalah pasukan berkuda. Alat-alat pelontar batu dan meriam laras panjang pun terlihat di antara mereka.

Berwald sama sekali tidak gentar dengan kekuatan pasukan Prusia. Dia yakin dan percaya pada kekuatannya sendiri. Kapal-kapal perangnya sudah mulai merapat, para prajurit juga sudah turun ke pantai. Mereka bergerak maju dan mulai mendekati pasukan Prusia. Belum ada perintah menyerang dari Berwald, pasukan Swedia dan Denmark tetap bersiaga pada posisi masing-masing. Sambil memperhatikan pasukannya bersiap, Berwald kemudian maju seorang diri ke tengah medan perang. Di hadapannya, seorang ksatria Prusia juga maju menghampirinya. Rambutnya perak dan matanya berkilat berwarna merah.

"Kau pemimpin pasukan Swedia dan Denmark? Siapa namamu?" tanya ksatria itu.

"Berwald Oxenstierna," jawab Berwald tegas.

"Rajamu membawa pesan khusus untuk kami, Herr Oxenstierna?"

"Serahkan Pomerania pada Kerajaan Swedia, maka kami akan mengampunimu."

Ksatria Prusia itu tertawa, "Kesesese~! Menyerahkan Pomerania yang kecil ini kepada kerajaanmu? Bah! Jangan buat aku tertawa, Herr Oxenstierna. Kau sedang berdiri di daratan Jerman. Dan daratan ini berada di bawah kekuasaan Kerajaan Prusia. Kau tidak punya hak atas apa pun di wilayah kami!"

"Kami akan menunjukkan kekuasaan kami di sini dengan memenangkan peperangan!" balas Berwald tegas.

"Baiklah, Swedish. Kita akan berperang. Buktikan kekuatanmu pada kami. Aku, Gilbert Beilschmidt, akan dengan senang hati menjadi lawan tandingmu."

Tidak ada kata-kata perpisahan, Berwald langsung bergegas kembali ke pasukannya dan bersiap memberi perintah perang. Dia bertemu Mathias dan Lucia yang sudah siaga dengan senjata mereka. Kedua mata birunya menatap mereka tajam. Dia berkata, "Sekarang, atau kita akan mati di sini sebagai pecundang!"

Mathias mengerti dan langsung menanggapi kata-kata Berwald dengan memberi perintah berperang pada pasukannya. "Serang mereka!" serunya lantang, dan pasukannya langsung bergerak maju ke medan laga.

Peperangan atas wilayah Pomenaria itu pun dimulai. Genderang dan terompet perang mulai dibunyikan, suaranya menggelegar sampai ke angkasa. Langit Jerman seketika menjadi sedikit kelabu. Seruan para prajurit kedua belah pihak pun tak kalah lantangnya, hingga menggetarkan siapa pun yang mendengarnya. Denting suara pedang, tombak, tameng, beradu di medan perang. Pertumpahan darah ini akan membuktikan siapa yang kuat dan yang berhak atas wilayah Pomerania.

Di sisi lain, Lucia dan pasukan berkudanya mengitari medan perang. Perempuan itu kemudian memberi perintah menyerang ketika mereka sudah sampai di barisan belakang prajurit Prusia. Dengan gagah berani, Lucia mengayun pedangnya dan melawan siapa pun yang menghalangi jalannya. Tidak sedikit nyawa melayang di ujung mata pedangnya. Bercak darah terlihat membekas di gaunnya. "Masuk ke barisan perang! Kacaukan formasi pertahanan Prusia!" seru Lucia kepada prajuritnya. Mereka berkuda dan merangsek masuk ke formasi perang milik Prusia. Seketika kekacauan pun terjadi di sana. Segelintir orang yang dipimpin oleh Lucia bisa mengacaukan barisan besar tentara bersalib hitam itu.

"Lucy!" kemudian Lucia mendengar Mathias memanggilnya. Dia menoleh dan mendapati Mathias baru selesai menebas musuhnya dengan kapak besarnya. Dia mendengar Mathias berseru, "Aku akan mendampingimu sebentar lagi! Tetaplah berada di atas kudamu!"

Perempuan itu mengangguk. Dia bergerak agak ke dalam medan perang untuk mencari keberadaan kakaknya. Di tengah kerusuhan ini, pandangan matanya kemudian tertuju pada laki-laki berpakaian tunic warna biru sedang berusaha menghalau musuh dengan pedang dan tamengnya. Tanpa menunggu lagi, Lucia melompat dari kudanya dan ikut berperang dengan kakaknya.

"Kau dikepung, Kak. Kau butuh bantuanku untuk melawan mereka!" kata Lucia sambil menghunus pedang dan bersandar di belakang punggung kakaknya.

"Aku bisa mengatasi semuanya sendiri, Lucia!" balas Berwald kemudian mengayun pedang dan menebas musuhnya. "Aku akan memenangkan peperangan ini! Aku akan mengakhiri semuanya!"

Dengan gigih, Berwald dan pasukannya terus memukul mundur pasukan Prusia. Lucia dengan setia mendampingi kakaknya melawan. Namun ketika mereka hampir berhasil mengacaukan formasi barisan depan dan tengah pertahanan Prusia, seorang prajurit berkuda dari pihak Prusia menancapkan tombak panjangnya ke pundak kiri Berwald. "Aaarrgh!" serunya melawan rasa sakit. Dia ambruk seketika ke tanah, pedang dan tamengnya terlepas dari tangannya. Dia berlutut dan mencengkeram pundaknya yang tertusuk tombak dan mengeluarkan darah. Lucia yang bertarung tidak jauh dari situ, menyadari teriakkan kakaknya dan langsung menghampirinya.

"Berwald! Tidak mungkin!" katanya kemudian ikut berlutut di dekat kakaknya.

"Uurgh…sudah jangan pedulikan aku, Lucia. lawan mereka, cepat…" jawab Berwald lirih.

"Aku tidak mungkin meninggalkanmu seperti ini, Kak!"

"Sudah kubilang jangan pedulikan aku! Waktu kita tidak banyak, Lucia. Pomerania harus jatuh ke tangan Swedia. Aku tidak mau mendengar kata gagal! Ini perintah!"

"Berwald, aku mohon! Kita harus melakukan sesuatu pada lukamu!"

Lucia nyaris berurai air mata melihat keadaan kakaknya yang terluka parah. Dia mencoba menarik lepas tombak yang menancap di pundak kakaknya. Di saat itu juga, Mathias menghampiri mereka. Dia tampak terkejut melihat keadaan Berwald.

"Apa yang terjadi?! Lucy, bagaimana-"

"Matt," potong Lucia tiba-tiba. Perempuan itu kemudian berdiri dan menghunus pedangnya. Sorot matanya terlihat mengerikan. Dia menahan marah karena melihat kakaknya terluka. Genggaman tangannya semakin erat di gagang pedangnya. Dia berkata, "Bawa kakakku keluar dari medan perang. Sekarang."

"Hey, jangan bodoh, Lucy!" balas Mathias. Dia menarik tangan Lucia dan mencegahnya pergi, "Kau juga harus keluar dari medan perang. Biar aku yang meneruskan peperangan ini!"

"Peperangan ini milik kami, bangsa Swedia, Matt! Kau hanya membantu kami! Kau tidak berhak mengambil alih peperangan kami!" balas Lucia lebih lantang.

"Lucy! Dengarkan aku! Pasukan kita sudah terdesak, ruang gerak kita tidak cukup banyak. Baik pasukan kita maupun Prusia mulai kekurangan kekuatan. Tetapi lihatlah, kita tidak cukup kuat melawan mereka!"

"Aku akan melawan mereka! Aku bisa mengatasi semuanya sendirian! Kau pergilah dengan kakakku, Matt. Pastikan dia tetap hidup sampai aku kembali dari peperangan!"

"Lucy-"

"Lucia!" tiba-tiba Berwald berseru padanya. Lucia menatap kakaknya dengan tajam dan bersiap mendengarkan kata-katanya. "Mundur, beri perintah mundur pada pasukanmu."

Lucia menggeleng dan menjawab, "Maafkan aku, Kak. Kali ini aku tidak akan mendengar perintahmu. Kau boleh hukum aku kalau kita sudah menyelesaikan peperangan ini!"

Tidak lagi menghiraukan panggilan kakak dan tunangannya, Lucia melompat ke atas kudanya dan bergerak menyerang prajurit Prusia yang sedang memukul mundur pasukan Swedia dan Denmark. "Hiyaaah!" dia terus mengayun pedangnya, membunuh lawan-lawannya tanpa rasa takut dan ragu. Dia berperang penuh tekad, dia ingin membantu kakaknya memenuhi janjinya.

Memenangkan peperangan ini…

Mengakhiri peperangan ini…

Hidup dalam perdamaian…

"Demi negeriku! Kejayaan rajaku!" Lucia terus maju dengan kudanya. Namun sayangnya dia tidak cukup waspada dengan sekelilingnya. Seorang prajurit Prusia menjatuhkan kudanya dengan sekali tebasan pedang. Prajurit lain menusuk bagian belakang kudanya sampai akhirnya dia terjatuh berguling ke tanah.

"Ugh!" tubuh Lucia telungkup. Pedangnya terpental agak jauh darinya. 2 orang prajurit tadi langsung menyergap tubuhnya. Tetapi Lucia dengan sigap langsung menendang dan meninju keduanya dengan kuat. "Jangan sentuh!" serunya marah. Rambut dan pakaiannya menjadi sangat kotor terkena tanah. Nafasnya tersengal, kedua tangannya mengepal kuat. Ketika 2 orang prajurit itu hendak menyerangnya, Gilbert Beilschmidt datang dan menyuruh keduanya untuk pergi. Ksatria berambut perak itu berlutut dan berbicara pada Lucia, "Mereka yang menyebabkanmu jatuh?"

Lucia hanya menatapnya marah, tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Ksatria itu melanjutkan, "Pulanglah, Nona. Pulanglah ke negerimu karena peperangan akan kami menangkan."

"Tidak akan!" balas Lucia sambil menepis tangan Gilbert. "Peperangan ini belum berakhir! Kami masih bertahan!"

"Mau bertahan sampai seperti apa lagi, hah? Lihatlah pasukanmu, mereka sudah diambang keputusasaan. Kemenangan akan berpihak pada kami."

"Diam kau!" Lucia melayangkan pukulan ke wajah Gilbert, namun pukulannya meleset. Tangannya kemudian ditangkap oleh Gilbert dan tubuhnya ditidurkan ke tanah. Gilbert menekan paha perempuan itu dengan lututnya, mata merahnya menatap Lucia tajam. Dia berkata, "Kau prajurit pemberani. Ikutlah ke negaraku, Sayang. Aku bisa menjamin kehidupan yang lebih baik di sana."

"Lepaskan aku!" berontak Lucia.

"Apa yang bisa kau harapkan dari peperangan ini, hah? Menyerahlah! Pulang ke negerimu atau kau ikut denganku!" bentak Gilbert.

"Aku tidak akan menyerah! Lepaskan aku, sialan!"

"Lucy!" ketika Lucia masih mencoba memberontak dari sergapan Gilbert, Mathias datang menyelamatkannya. Laki-laki berambut cokelat keemasan itu melayangkan kapak besarnya kepada Gilbert. Ksatria Prusia itu melompat menjauh, menghindari serangan Mathias. Pedangnya terhunus dan menangkis kapak besar milik Mathias.

"Jangan sentuh tunanganku!" seru Mathias.

"Wah, perempuan itu tunanganmu ternyata!" balas Gilbert sambil mendengus tertawa. "Baru sekarang aku melihat prajurit perempuan sangat pemberani seperti dia. Kalian sungguh beruntung memilikinya."

"Jangan banyak bicara. Sebutkan namamu!"

"Kau yang menantangku duluan, seharusnya kau duluan yang menyebut namamu!"

Gigi Mathias gemeretak menahan marah. Dia menjawab, "Mathias Kohler, dari Denmark."

"Aku memang melihat pasukan Denmark di antara barisan pasukan Swedia. Kalian diturunkan untuk membantu mereka? Atau karena kau adalah tunangan dari perempuan Swedia itu?"

"Tidak ada hubungannya denganmu, keparat! Kau melukai Lucia sama dengan kau mencari mati!"

"Kesesese~! Romantis sekali bukan? Sepasang kekasih yang sudah bertunangan kini berperang bersama-sama di sebuah pertempuran yang sangat mematikan. Aku iri pada kalian. Maka itu aku ingin mengajak perempuan itu ke negeriku!"

"Tarik kembali ucapanmu! Lucy adalah tunanganku dan dia tidak akan ke mana-mana!"

Gilbert tertawa, "Aku ini ksatria hebat, kau bukan apa-apa di mataku!"

"Apa kau bilang?! Lucy, pergilah ke kapal dan temui kakakmu. Akan kuurus ksatria besar mulut ini!"

Lucia berusaha berdiri dengan kedua kakinya. Dia meraih pedang dan tamengnya. Tubuhnya sudah sangat lelah dan sakit. Tetapi Mathias masih harus berhadapan dengan ksatria Prusia itu. Dia ingin mendampingi Mathias sampai pertarungan berakhir.

Sampai semuanya berakhir…

-to be continue-


Chapter 3 coming up next!