All warnings for historical-centric haters. Politics whatsoever. Heavy-theme makes the M-rated necessary. I've warned you.
Rätsel
-II-
.
.
.
"Eren, lihat."
Meja makan mereka dipenuhi dengan kudapan tradisional rakyat Skotlandia. Awal bulan Januari selalu menyisakan hal-hal manis yang berasal dari gabungan dua hari besar sekaligus—Natal dan Tahun Baru. Meski remaja tak beribu dan berbapak ini hanya merayakan kelahiran sang kristus di sebuah rumah kayu di tengah pedesaan Irlandia, suasana yang tercipta tak ada beda dengan perayaan di kota-kota besar lainnya. Sang tuan rumah beranggapan akan lebih baik menghabiskan waktu liburan mereka di lokasi yang jauh dari kegusaran propaganda perang. Dan benar adanya, di saat kanselir Inggris meributkan pertahanan terbaik macam apa yang tepat digunakan untuk melawan kebrutalan Jerman, di saat itu pula kota London dipenuhi dengan tank-tank titanium milik militer.
Suasana hangat seperti pita berwarna-warni tampak menghiasi selasar rumah kayu. Cemara sintetik berbentuk christmast tree berdiri kokoh di tengah ruangan santai dan dikelilingi oleh boks-boks kado. Namun, sang tuan rumah tak sekalipun memerlihatkan batang hidungnya semenjak malam sebelumnya. Sesungguhnya, hal itulah yang menjadi penyebab nomor satu mengapa sedari tadi pemuda bernama Eren itu tampak menekuk wajah.
Erwin Smith tepat berada di sebelah Hanji. Pasangan suami istri itu berbincang-bincang santai dengan Komandan Pixis—seorang kakek botak yang benci dianggap tua. Samar-samar Eren dapat menangkap inti pembicaraan ketiganya yang berhubungan dengan kondisi politik ibukota yang kian memanas. Pemuda itu hanya memutar mata dan beralih pada Conny. Pemuda yang setahun lebih muda darinya ini bersitegang dengan Sasha perihal roti croissant dalam keranjang yang tiba-tiba saja kosong tanpa menyisakan sedikit remahanpun. Lalu, ada pemuda sok keren bernama Jean yang bermimpi menjadi anggota parlementer—untuk yang satu ini Eren tak mau ambil pusing. Marco yang duduk di samping kiri Jean melabuhkan fokusnya pada selembar kertas dan pensil warna. Kedua mata pemuda itu sesekali berpindah pandang ke arah mana saja seolah menjadi kamera hidup di antara mereka. Eren tersenyum.
Mikasa Ackerman. Satu di antara gadis yatim piatu yang hidup bersama sepuluh anak bernasib sama lainnya. Lima di antara mereka—Bertholdt, Reiner, Annie, Ymir dan Christa—memilih hidup mandiri dan mengenyam pendidikan di negeri-negeri kaum pelajar. Gadis enam belas tahun itu menyunggingkan senyum kecil di sudut-sudut bibirnya seraya menunjukkan selembar postcard bertanda tangan ke Eren. Pemuda itu masih sibuk menyesap secangkir oatmeal karamel kesukaannya sebelum terganggu oleh cerita dahsyat Armin yang membising ribut di sebelahnya.
"Ah, itu—"
Pipi si gadis merekah seketika walau wajahnya lebih datar dari alas wajan, "khusus ditandatangani oleh penjelajah kota Machu Pichu pertama yang kutemui saat pendakian di Everest."
"You're the luckiest girl ever, Mikasa." Adalah respon Eren yang paling masuk akal. Di lain sisi, Mikasa tampak tak peduli. Bisa dilihat ada bintang-bintang aneh bersinar dari arah pandangan gadis itu. Tatapan bosan cukup mewakili perasaan hati Eren saat ini, namun tersembunyi secara apik oleh cangkir mika berwarna putih berisi kudapan favoritnya. "Lain kali, aku akan memintamu mencarikan berlian milik suku Inca yang hilang untukku."
"Tentu!" sahut Mikasa spontan. Eren membulatkan mata tak percaya dan nyaris menyemburkan oatmeal dalam mulutnya. "Hei, Eren. Boleh aku bertanya sesuatu?"
Pemuda bermata turquoise itu mengangguk. Mikasa lanjut berbicara, tetapi dengan nada berbisik-bisik, "menurutmu, saat ini pria itu ada di mana?"
Eren tiba-tiba terusik. Kedua alisnya mengkerut kasar, "tidak tahu." Jawabnya sinis.
"Um. Soalnya tidak sengaja aku mencuridengar percakapan antara Mr. dan Mrs. Smith dua hari yang lalu dan kurasa ada hubungannya dengan Ayah kita."
"Hmmm." Eren berdehem panjang seolah tak ingin terlibat lebih jauh dari percakapan satu arah ini. Belum Mikasa selesai dengan sesi bisik-bisiknya, Eren memutuskan mencari alternatif penghilang rasa bosan yang jauh lebih menyenangkan. "I'm done." Detik berikutnya, Mikasa segera dikejutkan dengan perubahan sikap Eren yang begitu tiba-tiba. Karenanya, gadis itu membungkam.
Armin mengamati Eren yang menghilang dari kursinya secara ajaib. Saat pemuda pirang itu berbalik menatap Mikasa, si gadis hanya mengudikkan bahu.
Mikasa bergumam dalam sepi seraya menatap lekat-lekat lembaran foto di balik kartu pos di tangannya. Sebuah foto tua saat tiga dari mereka—Mikasa sendiri, Armin dan tentu saja Eren—masih begitu muda dan lemah. Lalu, ada senyum kecil terpatri di bibir si gadis mengingat ada sosok lain yang kala itu sangat sulit lepas dari Eren. Siapa lagi kalau bukan Levi. Keasyikan Mikasa terusik saat Jean berdehem keras dan menawarkan kepada si gadis sebuah tangan. Semburat merah membentuk garis-garis imajiner di kedua pipi si pemuda.
"W-would you like to dance with me?"
Ah, kebiasaan rakyat Skotlandia. Mikasa mengangguk sekali dan membiarkan meja yang dipenuhi dengan keramaian berubah sepi seketika.
"Sure."
Pohon murbei yang ditanam di antara pelataran kebun anggrek putih menjadi satu-satunya opsi bagi Eren melepaskan penat. Dinginnya suhu yang nyaris menyentuh angka minus dua derajat tidak membuatnya menyerah pada keadaan. Sebaliknya, hanya bermodalkan mantel, syal beserta sarung tangan rajutan pemberian Petra di hari ulang tahunnya, pemuda bermata turquoise bening ini merebahkan diri meski salju sedikit demi sedikit mulai kembali menjatuhi bumi yang putih.
Hembusan nafasnya tampak stabil dengan menyisakan kepulan asap beku. Sesekali pemuda itu akan menggosok-gosokkan telapak tangan agar suhu tubuhnya menjadi lebih hangat. Setelahnya, barulah ia menyibukkan diri bersama sebuah buku lusuh berjudul Le Petite Prince—'Pangeran Kecil' karya Antoine de Saint-Exupéry. Buku cerita yang didapatkannya saat ia masih berada di kamp pengungsian Berlin bersama ratusan anak lainnya. Banyak memori yang tersimpan dalam buku itu, tetapi ia hanya menatap tanpa niat ke arah sampulnya. Di saat ia menghela nafas panjang, jemarinya turut bergerak menyingkap satu per satu lembaran menguning dalam buku.
Gambar seorang anak kecil yang menggenggam bintang jatuh menjadi pembuka di lembar pertama. Ada tanggal beserta inisial nama pemilik di sudut kanan bawah—E.Y untuk Eren Yeagar dan March 12th, 1951. Lembar berikutnya melompat di salah satu halaman berjudul 'Pertemuan'. Eren memastikan tuk membaca chapter yang menurutnya paling menarik di antara semua chapter yang ada dengan baik. Meski bahasa yang digunakan dalam buku bukanlah English melainkan bahasa Ibu-nya yaitu Deutschwell, tidak berarti ia lupa begitu saja. Kosakata dalam bahasa Jerman-nya masih sefasih saat ia melantunkan lagu Do-Re-Mi dalam English.
Chapter Pertemuan seolah mewakili dirinya di masa lalu. Bagaimana ia dipertemukan oleh takdir kepada orang-orang yang kini hidup bersamanya dalam satu atap. Hanji, Erwin, Mike, Petra, Komandan Pixis, kesepuluh anak yatim lainnya, dan juga—Levi. Mengingat nama terakhir, Eren berubah dongkol. Ditutupnya sampul si buku dengan kasar hingga lembaran lain ikut keluar dari dalamnya. Selembar foto usang terjatuh tepat di atas daratan salju. Buru-buru pemuda itu memungut foto tanpa nama tersebut.
Sialnya, ia harus mendapatkan wajah tanpa senyum sang Ayah yang tengah berdiri di belakangnya saat masih begitu kecil. Jika diingat-ingat, hari pengambilan momen tersebut tepat kala ia baru saja tiba di Inggris. Senyum lebar tampak jelas di wajah Eren, namun hal yang kontradiksi melekat di raut Levi.
Rasa frustasi kian meledak seiring banyaknya hal yang harus dijawab dalam pikiran si pemuda. Tangis tak pernah menjadi peredam dari semua bagian masalahnya. Yang diinginkan Eren hanyalah kepastian, meski ia yakin tak ada yang perlu dimintai penjelasan. Obat untuk mematikan perasaan inilah yang benar-benar dibutuhkan Eren.
"Kau sangat bodoh, Eren. Benar-benar bodoh. Totally a foolish." ujar Eren seraya membuat langkah tegas menuruni bukit kecil di bawah pohon murbai. Tanpa diketahuinya, ada sepasang mata lelah yang sedari awal terus memerhatikannya dari balik dinding bata. Dan, kedua obisidian itu tak sekalipun beralih pandang pada hal lain hingga Eren memutuskan kembali ke dalam rumah mereka yang jauh lebih hangat. Entah, mungkin ada sesal dalam hati sang empunya obsidian hingga berkali-kali ia meyakinkan dirinya sendiri bila kepergiannya akan membuat perubahan yang bermakna. Teruntuk dirinya. Ya.
'Eren, this painful feeling really torment me fom the inside.'
Namun, nyeri di dada Levi tak pernah menghilang sekalipun ia berada sejauh mungkin dari Eren.
Malam bersalju menutupi sebagian besar daratan beraspal hingga sungai-sungai besar di ibukota Inggris. Jalanan yang sering dipenuhi oleh masyarakat yang berasal dari kaum borjuis mengalami keterbatasn aktivitas yang sangat signifikan. Klub-klub bersantai milik pelaku bisnis hiburan di sudut mati Southwest Hampshire hanyalah secuil contoh nyata. Meski memiliki aturan yang tegas perihal tamu-tamu yang berhak keluar masuk, hal itu takkan berlaku bagi pria-pria dengan emas di genggaman mereka. Wanita-wanita berpakaian minim tengah menunggu langganan tetap mereka dengan polesan gincu yang terlalu tebal. Aroma parfum mencekik turut menyatu dengan beragam bau alkohol yang memabukkan.
Dua pria berdiri tepat di hadapan seorang lelaki bertubuh raksasa dengan otot-otot yang terasa membuat sesak stelan hitam putih yang dikenakannya. Setelah satu pria berkacamata dan berambut pirang itu memerlihatkan kartu akses pribadi miliknya, hanya dengan satu anggukan dari penjagal berwajah menyeramkan itu keduanya pun dapat melangkahkan kaki dengan ringan hingga sudut terdalam klub bertitel Seven Deadly Sins. Sebuah klub malam terbaik dengan pelayanan yang tidak bisa disepelekan.
Si pria pirang melepas mantel bulu rubah beserta long coat-nya. Ia terdiam sementara menunggu pemain utama dalam gambling mereka menentukan room yang akan direservasi. Wanita muda bergincu hijau dengan rambut menjuntai selutut menjadi penunjuk jalan bagi kedua pria dan tepat berhenti di sebuah pintu yang terbuka sedikit. Aroma menyengat gin bercampur wewangian dari ekstrak mawar putih cukup menusuk hidung dan sangat dibenci oleh pria dengan ketinggian jauh lebih rendah dibanding pria lain di sampingnya. Tetapi, ia memilih maju tanpa mengucapkan terima kasih pada si wanita.
"Thank you."—Erwin Smith, si pria pirang, seolah mewakili bibir Levi.
Tampak si wanita hanya tersenyum aneh. Gerakan jemarinya memberi Erwin pemahaman lain seakan memohon untuk dikecup, "Alice is the name of mine."
Pria itu membalas dengan respon yang menurutnya sangat tepat. Mengakhiri perbincangan singkat keduanya dengan desahan nafas, "Sorry, but I'm married guy."
Bisa dipastikan kerutan di wajah wanita bermaskara tebal itu tampak lima kali lebih jelek. Karenanya, Levi menghina dengan dengusan beserta seringai, "jawaban yang sangat buruk, Erwin. As always." Tepat di koridor remang bercahayakan lampion merah, sosok si wanita terlihat mengecil perlahan-lahan. Tapak-tapak kedua pria dewasa itu menjadi satu-satunya suara yang berbentur dengan lantai marmer putih.
"Setidaknya bukan sepertimu yang hanya memberi harapan tanpa jawaban, Levi. You will kill that boy's heart."
That boy—Levi berdecak penuh sesal. Ia mahfum siapa bocah yang dimaksud Erwin itu. Sontak, rasa nyeri yang mengikuti dentuman jantungnya kembali muncul. Tak peduli jika si empunya tubuh harus menahan sekuat tenaga. Kesadarannya berujung pada kesimpulan paling dasar bahwa semua yang dikatakan pria eks militer itu memiliki kebenaran yang absah. Seperti mengulangi kejadian di petang sebelumnya, Levi hanya mengerutkan kening, berharap mampu menghilangkan sisa kebenciannya tersebutsedikit demi sedikit. Meskipun, itu sama saja dengan menyakiti organ tak bermateri yang disebut hati itu.
"Kita sudah sampai." ujar Levi segera saat keduanya tiba tepat di hadapan pintu baja berornamen naga. Pria bermata obsidian itu mendongak seakan ingin memerlihatkan dua bola kelereng yang terpindai secara otomatis oleh kamera pengintai retina di sisi teratas pintu. Detik berikutnya, si pintu membuka. Bunyi derit kasar memutus kontak personalitas dua sosok yang terikat dalam hubungan kekeluargaan Fuhrer dahulu. Seperti magis, bayangan maupun sisa butiran salju yang ditinggalkan keduanya menghilang tanpa bekas.
Ruangan bawah tanah itu berbentuk seperempat lingkaran dengan sudut-sudut mati berhiaskan buket-buket bunga mawar putih. Sesuai dugaan Levi, kakek tua berjanggut yang setia bertahan dalam kesepian meski usia miliknya akan merapuhkan secepat mungkin tulang-tulangnya itu duduk diam dengan tatapan tanpa minat. Efek pengeroposan kalsium di tubuh rentanya tampak jelas meski terbalut berlapis-lapis mantel keabuan dengan kepala serigala putih menjadi penghias di seputar leher. Cukup aneh namun memberi identitas jelas akan sosok kanselir Jerman ini yang memilih hidup dengan pion-pion catur sebagai teman hingga akhir hayatnya. Entah sudah berapa ribu kali kakek tua itu memainkan sebuah permainan di mana ia tak perlu takut merasakan kekecewaan atas kekalahan.
Menoleh sedikit lalu tersenyum, satu-satunya sosok yang terduduk santai di kursi malas itu mengangguk, memberi tanda agar dua pria yang berdiri sejajar di ujung pintu 'tuk mendekatinya. Levi mengambil posisi nyaman tepat di hadapan si kakek tua sementara Erwin berdiri tepat di belakang seolah mengawasi dengan pengamatan sempurna.
"Ya, ya. Levi, my boy. How are you?" Pertanyaan introduksi penuh keramahan. Yang diberi pertanyaan memejamkan mata selagi memikirkan respon terbaik. Sebelum membuka sepasang obsidiannya, pria tua bermantel kelabu itu hanya tertawa ringan, "aku sudah tahu kenapa kau ke sini. Your eyes told me everything. Sejak awal, bahkan ketika kau masih begitu kanak-kanak, my boy."
Seiring sejalan, ada nada konfesi yang terdengar suram di balik tenggorokan si kakek tua. Levi menganggap perlakuan pria itu padanya hanya sebagai pengingat akan sebuah masa lalu yang dahulu melekat teramat baik di antara keduanya. Selayaknya seorang Ayah pada anaknya, hubungan yang tercipta seketika berubah lebih familiar. Kendati sebuah kenyataan pahit mungkin pernah terlukis dalam buku catatan takdir, buru-buru Levi membersihkan pikirannya. Ia kembali mendengus dan membayar keramahan si kakek tua dengan senyum yang sama meski jauh lebih getir. Ada perasaan nyaman nan hangat yang kian meletup di hati kecil pria tanpa emosi itu.
"Kuharap kau membawa berita baik, Levi. Bukan seperti saat kau memintaku 'tuk membantumu memenangkan kasus yang tentu takkan mungkin kau menangkan hingga kapanpun juga," tutur pria berjanggut Sinterklas itu seraya menurunkan bingkai kacamata yang menggantung di puncak hidungnya. Ia melanjutkan, "siapa nama bocah itu? Ah, Eren. Ya, ya." Dengan saputangan semerah darah yang diletakkannya di samping papan catur, disapukannya bercak noda di punggung tangan yang dipenuhi dengan kerutan kasar itu. Diamnya membuahkan hal yang sama untuk Levi. Ia menghela nafas panjang selagi meyatukan kata-kata dalam benak.
"Kedua matanya, my boy. Mengingatkanku pada dirimu ketika masih begitu cilik. Full of passion. Aku tidak perlu tahu tujuanmu mengambil bocah itu dari tangan sang Fuhrer, tetapi kepastian akan kau apakan dirinya di kemudian hari yang harus kau jelaskan sedetil mungkin. Meski nyaris menjadi santapan hiu-hiu kesayangan Nazi, dia tetaplah aset yang sangat berharga—kalau kau memahami maksud ucapanku ini tentu. Mereka selalu tahu cara terbaik untuk melatih anak-anak yang telah kehilangan masa depannya. Bahkan, kudengar mereka membangun sekolah mata-mata dengan anak-anak di bawah umur sebagai siswa. Hah. Sistem perekrutan untuk menghancurkan kapitalisme dunia Barat. Politik liberalisme, no? Kuharap kecerdasanmu di bidang sosial politik tak terkikis walau profesi yang kini kau geluti sangat bertolak belakang."
Dallis Zachlay. Nama kakek tua serupa Sinterklas namun berhati beku itu. Mantan kanselir sekaligus Chief militer yang selalu tampil sebagai pemberi keputusan akhir di tiap persidangan sipil. Penawaran senyumnya terhadap Levi menimbulkan banyak tanya, terutama jika permainan kata miliknya terlontar bagai ketapel. Ke arah mana saja dan menyerang siapa saja. Levi membalas dengan senyum yang segera hilang.
"No need for that, Sir—" Dallis mengangguk, "—aku kemari untuk alasan yang jauh lebih menarik meski masih berhubungan dengan bocah itu."
Sembari menekuk buku-buku jemarinya sebagai penopang dagu, si kakek tua memandangi Levi dengan tatapan yang berkilat-kilat, "bolehkah kutahu apa itu?"
Selembar surat dalam amplop coklat tersodorkan. Mengubah titik fokus Dallis yang semula berada pada pion-pion caturnya ke arah benda tipis itu. Dibukanya perlahan tanpa merusak perekat di ujung amplop tersebut dan menarik sehelai telegram yang terpatri dengan mesin. Penemuan terbaru di Eropa rupanya. Digantungnya kembali si kacamata bundar dan menggerak-gerakkan secara horizontal untaian kalimat yang tertulis amat jelas di sana. Kedua mata tua Dallis membulat sedikit demi sedikit hingga mencapai kontur maksimal. Dua pria di hadapannya masih berada pada posisi statis dan bergeming hingga akhirnya pria tua itu membuat suara deheman keras untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering.
Periode jeda berlangsung lama. Lampu chandelier di langit-langit ruangan bergerak terkena sapuan angin yang berasal dari jendela kecil yang terbuka. Hanya ada tirai violet yang bergerak bagai aurora kutub. Sejenak, komunikasi terputus. Naas, bimbang terlihat jelas di raut muka yang dipenuhi dengan keriput itu.
Levi memastikan tak ada keraguan yang perlu dikhawatirkan dan membuka mulut untuk berbicara. Namun, tanda yang diberikan Dallis dengan tangannya menyuruh pria itu agar menahan apapun yang akan tersuar dari balik bibirnya. Sembari memijit-mijit keningnya, ada kegusaran yang semakin jelas.
"I see. I see. Itulah mengapa Petra tak sekalipun ingin menengok Ibunya di Munich. Rupanya, Jerman sudah sejauh itu, huh? Katakan padaku, Levi, dan kau juga Erwin, apa yang telah kalian ketahui perihal rencana Fuhrer untuk menjatuhi nuklir di atas kepala kita? Sudah seberapa banyak unit pesawat tanpa awak yang berhasil didesain oleh ilmuwan Rusia untuk Jerman? Dan, apakah ada senjata lain yang akan mereka berikan kepada kita sebagai hadiah Tahun Baru? Lalu—"
Erwin memotong, "Sir, maaf jika kata-kataku terdengar lancang. Sekitar dua minggu lalu, salah satu orang yang kami percaya dari unit eks kesatuan mata-mata, Auruo Bossard, mendapatkan klaim asuransinya secara tiba-tiba. Setelah diselidiki, beberapa dari warga sipil lain yang ikut menabungkan jaminan asuransi mereka di perusahaan yang sama juga mengalami hal yang serupa. Kolegaku yang bekerja di parlementer, Erd Gin, menyebutkan adanya kabar burung yang menyebutkan Jerman akan segera menurunkan pasukan tanpa awak mereka untuk negara-negara sekutu Inggris. Ketakutan yang timbul berdampak luar biasa pada kondisi perekonomian meski sepertinya belum tampak jelas di tengah-tengah masyarakat. Kebenaran gosip ini dibuktikan dengan pesan telegram yang dikirimkan—" Sebelum melanjutkan, pria berambut pirang itu berdehem pendek dan melirik tepat ke arah bawah. Levi terlihat tak peduli, "—oleh tentara Jerman yang kini masih aktif di kesatuan. Kurasa, nama pengirimnya tak perlu kusebutkan."
Wajah penuh ketidakpercayaan melekat sesaat. Dallis semakin mengerutkan keningnya dan menggeleng-geleng tak paham. Erwin membuka suara kembali.
"Menjawab pertanyaan Anda barusan, kuharap Anda bersedia menelannya dengan bijak, Sir. Dari penyidikan yang telah tim kami lakukan sejauh ini, sepertinya Jerman menyiapkan lebih dari duapuluhribu pesawat tanpa awak untuk dikemudikan secara otomatis dengan pengontrol jarak jauh. Semuanya dapat berfungsi dengan baik dan akan segera diterbangkan menuju Inggris. Dan, kemungkinan besar akan ada bom-bom berkapasitas ringan hingga sedang yang juga siap untuk dijatuhkan. Semuanya hanya menunggu persetujuan pelepasan resmi dari pembesar militer Jerman. Kurasa, itu artinya takkan lama lagi mengingat telegram yang terkirim kepada kami bukanlah surat kaleng biasa. Cap kekaisaran Fuhrer tersematkan di sana."
Kebingungan kakek tua itu tak ayal menjadi pening tak berkesudahan bagi Levi. Kesal, pria itu pun mengambil alih kendali.
"Biar kujelaskan dengan bahasa yang lebih singkat, Zachlay. Mau tidak mau ataupun suka tidak suka, Inggris akan hancur sebentar lagi. Kau lah yang paling memiliki kuasa untuk memindahpulangkan bekas pengungsi yang datang secara legal kemari. Karena itu, alasanku kemari untuk menemuimu adalah permintaan hak veto suaka bagi—Eren dan yang lainnya." Nada berat terdengar jelas ketika Levi menyebut sebuah nama yang mengganjal kerongkongannya sejak awal itu. Ia sempat menunduk untuk kembali mendongak dan berbicara dengan intonasi ketegasan. Di sisi lain, Dallis Zachlay menaikkan kedua alis putihnya saat mendengar pengakuan terjujur dari bibir pria bermata obisidian di hadapannya.
Kevakuman mengisi kekosongan di antara ketiganya. Pembicaraan dua arah yang jauh lebih terfokus pada satu sisi saja mengundang kontroversi di pihak Dallis. Ia memutar-mutar jemarinya dan menggerak-gerakkan pion catur berbentuk Raja ke sembarang kotak. Sulit untuknya mengambil keputusan secara cepat dan cermat melihat kenyataan yang seakan menamparnya dari berbagai sudut tak memberi waktu cukup untuknya. Namun, kebimbangan pria tua itu segera sirna tatkala Levi berujar kembali.
"Dan, kau juga bisa menyelamatkan Petra—Vater."
Sisi hitam dari abu-abu identitas pria bermata obsidian itu menghilang tertutupi kabut. Ada harapan yang tersisip di balik kata-katanya namun ada kebenaran yang jauh lebih menyakitkan. Dallis Zachlay tertusuk oleh kesempurnaan perdebatan yang selalu dimenangkan oleh Levi. Bahkan, selama persidangan guna memenangkan Eren di pihaknya, pria itu tampak tak ragu-ragu dalam mengumbar pendapat sekejam apapun itu. Selalu memiliki harga termahal dari yang pernah terbayangkan.
'You can't win this conversation if Levi becomes your opponent.'—pikir Erwin dengan senyum.
Dallis mendengus tajam, "huh, selalu dan selalu. Tidak hanya dari caramu menatapku, caramu mengiris lawan dengan kata-kata sungguh di luar ekspetasi, Levi. Itulah yang membuatku bersedia menyerahkan bocah itu sepenuhnya di tanganmu. Hei, son—bolehkah kutanya satu hal padamu?"
"Apa itu?"
"Apa yang sesungguhnya kau lihat dari Eren? Bagiku, dia sama saja dengan bocah-bocah ingusan yang mengemis akan masa depan yang cerah di luar sana."
Mendung mungkin saja nampak di garis batas anak-anak rambut Levi. Keremangan semu oleh minimnya cahaya dari atas sana tak sekalipun memberi rasa ciut pada dirinya. Ia selalu memenangkan apa yang diinginkannya, bagaimanapun teknik dan metode yang sanggup terpikirkan oleh otak jenius miliknya. Sesulit apapun itu, selalu ada jalan baginya mengasah senjata yang melekat erat di organ tak bertulang itu. Hanya dengan dengusan beserta seringai yang sama, ada jawaban yang terdengar rapuh meski penuh ketegasan.
Levi meyakini apa yang dibutuhkannya. Dan, perasaan memiliki itulah yang menjadi sumber kekuatan.
"Freedom. He earns and deserves for it."
Lalu, kabut mulai tersingkap. Cahaya di wajahnya perlahan memendar.
Karenanya, tak ada alasan lain untuk Dallis Zachlay tidak menyanggupi permohonan pria itu.
"Then let it happend. Tetapi, kuharap kau memahami arti transaksi, Levi. Ada harga yang sangat mahal untuk membayar semua ini."
"Hn." Aku sudah tahu itu, Vater. Bahkan sebelum aku dilahirkan.
.
.
.
To Be Continued
Dictionary :
Rätsel berarti misteri, teka-teki, puzzle. Tepatnya di chapter ini adalah teka-teki.
A/N :
Banyak teka-teki membingungkan dengan tema yang lumayan berat. Haha. Hayo, hayo, yang suka politik dan sejarah. Walau saya bukan anak IPS dan lebih suka bergumul dengan anatomi dan fisiologi tubuh manusia, saya prefer nulis fanfiksi berlatarkan historikal. Jadi, yang bosen maaf ya. Kan udah ada tuh di warning sign. #kedipkedip #nangisdipojokanbarengEren.
Saya gak tau apa klub malam berjudul Seven Deadly Sins itu beneran ada atau enggak. Semuanya fiktif yo. Dan saya juga ngarang soal Southwest Hampshire, lol. Tapi, novel jadul Le Petite Prince karya Antoine de Saint-Exupéry beneran ada kok. Hehe.
Trus, maaf juga kalau saya malah masangin Mikasa sama Jean. Ngebayangin si Dallis Zachlay kayak Presiden Snow di Hunger Games. Suka sama mawar putih. Soal sekolah mata-mata itu sebenarnya saya keinget sama gedung sekolahnya Evelyn Salt di film SALT waktu masih kecil di Rusia. Kan ada tuh akademi mata-mata yang didirikan sama KGB. Wkwkwkwkwk.
Lotsa thanks to the reviewers. Maaf gak bisa saya bales satu-satu di sini. #digibeng
Okeh, sekian dulu curcolnya. Dilanjut di chappie berikut ya. Gak akan lama kok. Oh ya, fanfiksi ini cuma terdiri dari lima (5) chapter saja. (yay)
Until next time we meet,
Leon.
