Disclaimer,
Characters belongs to Kishimito-sensei
Story is mine, Hatake Aria
.
.
Oji-chan … Daisuki
.
.
.
Chapter 2
.
.
Konoha High School, Kelas 2-B
Tampak seorang gadis bersurai pirang pucat sedang bersenandung kecil seraya men-scroll daftar lagu yang terdapat pada Ipod Nano miliknya.
"Ino .."
Duu.. duu..
Sang gadis masih terus bersenandung, sepertinya Ia tidak mendengar sesorang yang sedang memanggil namanya.
"Hey, Ino!" kali ini sang pemanggil lebih meninggikan suaranya sembari melambaikan tangannya tepat di hadapan Yamanaka Ino.
"Ah, Iya" sontak sang sulung Yamanaka tersebut terkejut.
Iris aquamarine miliknya bersibobrok dengan iris jade milik sang pemanggil.
"Ternyata kau Gaara, Aku kira tadi sensei yang datang" ujarnya seraya melepas earphone miliknya.
Gaara menarik kursi kosong yang berada disamping Ino, tampaknya sang pemilik kursi belum tiba di sekolah.
"Ino, ada yang ingin aku berikan padamu" ujarnya seraya mengeluarkan sebuah amplop berwarna coklat.
Ino melirik sekilas benda yang dikeluarkan oleh Gaara.
"Apa ini?" ujarnya seraya menaikkan sebelah alisnya saat Gaara meletakkan amplop coklat tersebut dihadapan Ino.
"Itu 25.000 yen" ujar Gaara enteng.
"What?" Ino langsung menyambar amplop yang ada dihadapannya dan membukanya secara kasar, benar yang apa dikatakan lelaki bersurai merah didepannya ini, isinya adalah uang sebesar 25.000 yen.
"Yaah, Gaara, untuk apa ini?"
Gaara menggeser sedikit kursinya dan berdiri hendak meninggalkan Ino.
"Itu untuk mengganti barangmu yang dihilangkan oleh Naruto, Aku kasihan melihatnya sudah seperti zombie selama seminggu ini, jadi Kau tidak perlu menagih padanya lagi"
"Tunggu, kau mau menggantikan Naruto membayar hutangnya? Hey, ini jumlahnya tidak kecil Gaara, lagipula aku meminta ganti pada Naruto karena barang yang dihilangkannya itu bukan milikku sepenuhnya, melainkan itu milik kakak sepupu ku yang kupinjam" ujar Ino yang masih setia memegang amplop yang diberi Gaara.
"Ya.. ya, terserah itu milik siapa Ino, yang penting ini aku bayar, jadi .."
"Ohayo ..!"
Kata-kata Gaara terhenti saat mendengar suara teriakan dari ambang pintu. Refleks Ino dan Gaara menoleh kearah pintu.
"Yaa, Kau sudah terlambat tapi masih berani datang dengan berisik seperti itu Naruto!" bentak Ino kemudian.
Naruto yang dibentak hanya mengeluarkan cengiran andalannya.
"Maaf.. maaf, tadi pagi Oka-san lupa membangunkan ku, makanya Aku jadi terlambat, tapi sepertinya sensei juga belum datang kan? Woah, syukurlah" lanjutnya seraya meletakkan tasnya diatas meja.
Naruto melirik Gaara yang berada dikursinya dalam posisi berdiri.
"Gaara, apa yang Kau lakukan dimeja ku?"
Gaara hanya memalingkan wajahnya, tidak berniat menjawab pertanyaan Naruto.
Naruto memicingkan sedikit matanya melihat reaksi Gaara yang terlihat sedikit mencurigakan dimatanya, tapi 'sudahlah' pikirnya kemudian.
"Ne, Ino, ini" ujar Naruto seraya mengeluarkan sebuah amplop berwarna coklat dan menyerahkannya kepada Ino.
"Apalagi ini?" ujar Ino seraya membuka amplop tersebut.
"Naruto, darimana kau mendapatkan uang sebanyak ini?" teriaknya kemudian.
Refleks kedua tangan Naruto membekap mulut Ino.
"Yaa, jangan berteriak Ino" umpatnya kemudian.
Ino langsung menyingkirkan kedua tangan Naruto yang membekap mulutnya.
"Iya, tapi darimana kau dapat uang sebanyak ini?"
Gaara yang terkejut langsung menyambar amplop milik Naruto yang sedang dipegang oleh Ino, Ia pun mengeluarkan uang yang ada didalamnya, terdapat 2 lembar uang 10.000 yen dan 1 lembar uang 5.000 yen.
"Naruto, darimana kau mendapatkan uang ini?" lanjut Gaara.
"Hey, kenapa kalian mencurigaiku seperti itu, itu uang jajan ku yang ku kumpulkan" jawab Naruto seraya mengendikkan kedua bahunya.
"Dan Kau pikir Aku percaya Naruto? Kalau Kau membayar Ino dengan uang pecahan 1.000 dan 500 yen maka Aku percaya itu sisa dari uang jajan mu" ujar Gaara kemudian.
"Jangan bilang kau mencuri uang ayahmu Naruto" selidik Ino.
"Mou.., kalian berdua ini jahat sekali, tentu saja tidak, Aku tidak mungkin mencuri, baiklah Aku mengaku, Aku mendapatkannya dari kenalanku, puas!" jelas Naruto seraya melipat kedua tangannya didepan dadanya.
Ino kembali memicingkan matanya menatap Naruto, sudah bertahun-tahun berteman dengan Naruto membuatnya paham betul bahwa Naruto tidak pernah berani berbohong.
"Baiklah, Aku percaya kali ini padamu Naruto, dan Gaara, ini Aku kembalikan uangmu" ujar Ino seraya kembali menyerahkan amplop milik Gaara.
"Uang? Uang milik Gaara?" Naruto menatap Gaara penuh tanda tanya.
Bukannya menjawab pertanyaan Naruto, Gaara melah menarik lengan Naruto dan membawanya keluar kelas.
"Yaah, Gaara, tung.." Naruto mencoba memberontak saat lengannya ditarik paksa oleh Gaara.
Ino hanya bisa melongo melihat keduanya yang telah menghilang dari ruang kelas.
"Gaara.., tunggu.., Kau mau membawaku kemana?"
Gaara tidak memperdulikan pertanyaan Naruto, dirinya terus membawa gadis bersurai pirang tersebut sampai ke atap sekolah.
Blam..
Naruto menatap pintu yang ditutup dengan kasar oleh Gaara.
"Naruto, katakan padaku dengan jujur, darimana Kau mendapatkan uang itu?" tanpa basa-basi Gaara langsung bertanya pada Naruto.
"Mou.., Gaara, bukannya tadi sudah kubilang, Aku mendapatkannya dari kenalanku"
Bugh …
Gaara memukul dinding yang menjadi tempat sandaran Naruto.
Naruto menatap horror kepalan tangan Gaara yang hanya berjarak beberapa centi dari wajahnya. Saphire-nya kemudian kembali menatap Gaara.
"Apa kenalan yang kau maksud itu tinggal di daerah Roponggi?"
Kedua sapphire Naruto membulat saat mendengar kata-kata yang baru keluar dari mulut Gaara.
"Kankuro mengatakan, kalau Ia kemarin malam melihatmu berkeliaran di daerah Roponggi, apa yang dilakukan murid SMU seperti mu disana Naruto?" ujar Gaara penuh penekanan.
Baru kali ini Naruto melihat raut wajah Gaara yang yang sudah menjadi sahabatnya selama 2 tahun belakangan seperti ini, raut wajah antara marah dan kecewa bercampur menjadi satu.
"Jangan bilang kau .."
Gaara menghentikan kalimatnya saat tiba-tiba saja Naruto memeluk dirinya. Sontak perlakuan tiba-tiba Naruto memunculkan rona merah diwajahnya.
"Na.."
"Hiks.., maafkan Aku, kupikir dengan bekerja ditempat seperti itu aku bisa mengganti uang Ino secepatnya, karena Aku terlalu takut mengatakannya pada Otou-san ataupun Oka-san"
Naruto semakin mengeratkan pelukannya dan membenamkan wajahnya di dada bidang milik Gaara. Dapat dirasakannya tangan Gaara mengusap lembut surai miliknya.
"Lalu, kata Karin Oba-chan kalau mau mendapat uang yang cepat, bekerja disana adalah pilhannya, makanya Aku diam-diam bekerja disana, hiks.." lanjutnya seraya menangis.
"Lalu dari mana Kau mendapat uang itu? Jangan bilang kalau .."
Naruto refleks mendorong tubuh Gaara, dan tanpa aba-aba kaki jenjangnya menendang kaki kanan Gaara.
"Aww.." refleks Gaara berjongkok memegang kakinya yang ditendang oleh Naruto, tendangan Naruto tepat mengenai tulang keringnya.
"Kau pikir Aku mau menjual diriku hanya untuk 25.000 yen, tentu saja tidak!" ujar Naruto setengah berteriak seraya menghapus sisa airmata di wajahnya.
"Lalu, kau dapat darimana?" tanya Gaara masih sembari mengelus kaki nya yang sakit.
"Itu, kemarin Aku tak sengaja bertemu dengan.., aduh bagaimana menyebutnya yah? Ah, dia itu mantan calon paman ku"
Gaara hanya mengernyit bingung dengan jawaban Naruto.
"Singkatnya, dia itu mantannya Karin Oba-san, dia yang memberikanku uang 25.000 yen itu" jelas Naruto.
"Lalu, bagaimana Kau mengembalikan uang itu padanya?" lanjut Gaara.
"Benar juga"
Naruto kemudian ikut berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Gaara.
"Tapi Dia tidak ada mengatakan kalau Aku harus menggantinya sih" gumamnya kemudian.
"Maksudmu, orang yang memberimu uang itu Sasuke Oji-san Naruto?" ujar Ino yang tiba-tiba telah berdiri diambang pintu.
Refleks Naruto dan Gaara menoleh kearah Ino.
"Ino?"
Ino kemudian berjalan menghampiri Naruto, dan tanpa aba-aba dirinya menarik pipi Naruto hingga sang korban mengaduh kesakitan.
"Aww.., Ino, sakit tahu!" umpat Naruto seraya mengelus pipi nya.
Ino kemudian ikut berjongkok dengan keduanya, iris aquamarine nya menatap lekat-lekat gadis bersurai pirang tersebut.
"Baka, Kau benar-benar Baka!" bentak Ino.
"Bagaimana kalau terjadi apa-apa denganmu? Kau tahu kan Roponggi itu bukan tempat untuk anak seumuran kita Naruto, Aku lebih baik dimarahi oleh kakak sepupuku daripada kehilanganmu" ujar Ino seraya memeluk Naruto, refleks Naruto membalas pelukan Ino. Keduanya terduduk sembari berpelukan dan menangis bersama.
Gaara menatap keduanya sembari tersenyum kecil, Ia pun meluruskan kakinya ikut duduk bersama dengan dua gadis bersurai pirang tersebut. Ia tahu Ino dan Naruto sudah berteman sejak taman kanak-kanak, sedangkan dirinya baru mengenal keduanya saat dibangku SMU.
"Sabaku Gaara, Namikaze Naruto, Yamanaka Ino, diharap untuk segera datang keruang Konseling. Kami ulangi, Sabaku Gaara, .." terdengar suara dari megaphone sekolah yang terpasang di atap.
Refleks Ino dan Naruto melepaskan pelukan mereka, ketiganya saling bertatapan, beberapa detik kemudian ketiganya saling tertawa, mentertawakan nasib mereka nantinya yang akan dihukum oleh Iruka-sensei.
"Ini semua gara-gara Kau Naruto, kita semua pasti akan kena hukum" ujar Ino kemudian.
"Yare yare, Iruka-sensei seperti tidak pernah muda saja. Yosh .., baiklah kita temui sensei tercinta kita itu" ujar Naruto seraya bangkit dan membersihkan debu yang menempel di rok nya.
Gaara dan Ino juga ikut berdiri dan membersihkan debu dari seragam mereka.
"Ayo kita pergi!" ujar Naruto seraya berlari menuju pintu.
Gaara yang melihat Naruto yang sudah menghilang dibalik pintu segera berlari kecil, namun langkahnya terhenti saat dirasakannya seragamnya ditarik oleh Ino. Refleks Ia memalingkan wajahnya, menatap Ino yang berdiri dibelakangnya.
"Ada apa?" lanjutnya seraya menatap Ino.
"Aku tahu kalau sebenarnya Kau menyukai Naruto, iya kan Gaara?" ujar Ino penuh seringai.
"Ap .." sontak wajah Gaara memerah seketika akibat ucapan Ino.
"Ini, kukembalikan uangmu, karena sekarang Aku sudah tahu si Baka itu mendapatkan uangnya darimana" ujar Ino seraya menempelkan sebuah amplop coklat di dada Gaara.
Refleks Gaara memegang amplop yang hampir dilepaskan oleh Ino.
"Dan satu lagi, sebaiknya Kau segera mengatakan padanya bahwa Kau menyukainya Gaara, karena si Baka itu bukan tipe gadis yang sensitive yang bakal sadar bahwa Kau menyukainya" ujar Ino seraya mengedipkan sebelah matanya pada Gaara.
Gaara yang mendengar perkataan Ino hanya membuang wajahnya, terlalu malu untuk menunjukkan wajah merona nya pada Ino.
"Urusai, Ino" ujarnya kemudian.
Dan Ino hanya tertawa geli melihat tingkah malu-malu sang pujaan sekolah tersebut.
.
######
.
Sasuke sedikit mengendurkan dasi yang melingkar dilehernya. Ia kemudian merebahkan kepalanya dikursi miliknya, beberapa detik kemudian Ia pun memejamkan kedua matanya sembari mengingat kembali kejadian diruang rapat setengah jam yang lalu. Ini pertama kalinya Ia merasa gagal, dan untuk pertama kalinya juga Ia melihat raut wajah kecewa Ayahnya.
Beruntung Ia telah menyiapkan ide baru untuk menaikkan penjualan mereka dibulan ini, ternyata benar kata Shikamaru, jika dirinya hanya menyampaikan alasan saja, pasti Ayahnya akan lebih marah lagi padanya didalam rapat Direksi tadi.
Kriet ..
Sasuke sedikit menaikkan alisnya saat mendengar suara pintu ruangannya yang dibuka, hanya saja dirinya terlalu malas untuk sekedar membuka matanya melihat siapa orang yang sudah berani masuk kedalam ruangannya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
'Pasti itu Shikamaru' batinnya.
"Kau tidak berniat menyapa orang yang masuk keruanganmu, Sasuke" ujar sang tamu karena kedatangannya seoalah tidak dihiraukan oleh Sasuke.
Sasuke yang mengenal betul pemilik suara tersebut refleks membuka matanya dan buru-buru bangkit dari kursinya.
"Maaf atas tindakan kurang sopan saya Direktur" ujarnya seraya membungkuk pada sang tamu.
"Aku datang kemari sebagai ayahmu, jadi jangan panggil Aku Direktur" lanjut Fugaku seraya memberi kode kepada Sasuke agar segera berdiri tegap.
"Ha'i Otou-san" ujar Sasuke seraya menegakkan kembali badannya.
"Kenapa dengan penampilanmu? Kau terlihat sangat kacau" ujar Fugaku seraya melirik penampilan Sasuke yang jauh dari kata rapi.
Sasuke yang ditatap oleh sang ayah hanya bisa memalingkan wajahnya, bukannya berusaha merapikan kembali pakaiannya, Ia malah semakin melonggarkan dasi dan kemejanya.
Fugaku hanya bisa menghela nafasnya melihat tingkah putra bungsunya tersebut, Ia paham betul, jika Sasuke memperlakukannya seperti ini itu artinya dia sedang marah kepada sang Ayah. Mungkin penyebabnya adalah saat Ia menyinggung nama 'Itachi' pada rapat tadi, dengan mengatakan Itachi lebih baik dalam mengurus perusahaan mereka yang berada di Osaka. Ia seharusnya sadar kalau sedari dulu putra bungsunya itu tidak suka jika dirinya membanding-bandingkannya dengan Itachi.
"Akhir pekan ini datanglah kerumah, Ibumu sudah sangat merindukanmu, dia ingin kau menginap dirumah akhir pekan ini"
Sasuke akhirnya menatap sang Ayah.
"Ibumu mengatakan kalau sudah lama Kau tidak mengunjunginya" lanjut Fugaku.
"Aku akan pulang akhir pekan ini, dan sampaikan salamku pada Ka-san"
Fugaku hanya tersenyum tipis mendengar jawaban Sasuke.
"Baiklah, kalau begitu Tou-san pamit, jaga kesehatanmu" ujar Fugaku seraya menepuk pelan bahu Sasuke.
Sasuke membungkukkan badannya sebagai tanda penghormatan kepada sang Ayah.
Fugaku hanya mengangguk singkat membalas penghormatan Sasuke, sebelum akhirnya dirinya menghilang dari balik pintu ruangan Sasuke.
Blamm..
Sasuke menatap pintu ruangannya yang telah tertutup rapat. Ia kemudian kembali berjalan menuju kursinya dan langsung merebahkan tubuhnya diatas kursi.
Drrtt .. Drrtt..
Sasuke melirik sekilas smartphone-nya yang bergetar. Dengan malas Ia meraih benda tersebut. Sebuah pesan dengan nama pengirim 'Sakura' terpampang pada layar smartphone-nya. Dengan malas Ia pun membuka pesan dari kekasihnya itu.
'Sayang, sore ini jam 5 jemput Aku di rumah sakit ya, setelah itu kita pergi makan malam bersama'
Sasuke sedikit mengernyitkan dahinya membaca pesan dari Sakura, tak lupa diakhir pesan Sakura menambahkan emoji kissy face sebanyak 5 buah. Oh.., 5 buah emoji itu terlalu berlebihan pikir Sasuke.
Sayang, saat ini Ia terlalu malas menggerakkan jemarinya untuk mengetik pesan balasan kepada Sakura. Ia pun hanya menaruh kembali smartphone-nya diatas meja.
Sementara itu disebuah rumah sakit, terlihat seorang dokter bersurai merah muda sedang bersenandung kecil seraya menatap smartphone-nya.
"Hmm.., makan malam kali apa ya?" gumamnya kecil sambil menjauhkan smartphone miliknya dari wajahnya.
"Hmm.., pasta kedengarannya bagus juga" lanjutnya seraya tersenyum kecil.
Kemudian Ia kembali menatap smartphone-nya, sudah 15 menit berlalu sejak Ia mengirimi Sasuke pesan, namun sampai saat ini Ia belum meneriman balasan pesan dari sang kekasih.
"Astaga, Sasuke kemana sih, kenapa dia lama sekali membalas pesanku" gerutunya yang ternyata menarik atensi Tenten yang duduk disebelahnya.
"Ada apa dengan Sasuke-mu, Sakura?"
Sakura melirik Tenten yang duduk disampingnya.
"Lihat, Sasuke belum membalas pesanku, padahal dia sudah membacanya" keluh Sakura seraya memperlihatkan smartphone-nya pada Tenten.
Tenten menaikkan sebelah alisnya.
"Kemarin waktu Kau menelpon nya Ia malah mematikan handphone-nya, dan kali ini Ia tidak membalas pesanmu padahal Ia membacanya. Hm.., mungkin dia sudah bosan padamu Sakura" ujar Tenten penuh seringai.
Sakura langsung mengenggam erat smartphone-nya.
"Apa maksudmu Tenten?"
Tenten yang ditatap dengan tatapan horror milik Sakura segera menggeser kursinya, Ia kemudian bangkit bersiap pergi meninggalkan Sakura, namun sebelum berjalan menuju pintu, Tenten sedikit membungkukkan tubuhnya dan mendekatkan bibirnya di telinga Sakura.
"Lee mengatakan padaku, kemarin malam Ia melihat Sasuke-mu berada di Roponggi, dan Lee juga mengatakan kalau Ia melihatnya masuk kedalam sebuah klub malam, jadi mungkin saja kan kalau Sasuke-mu sudah merasa bosan denganmu" bisiknya penuh seringai.
Tenten hanya menyeringai jahil saat melihat perubahan raut wajah Sakura.
"Jaa ne Sakura, sepertinya Aku butuh segelas kopi" ujar Tenten seraya pergi meninggalkan Sakura.
"Sasuke.." lirih Sakura seraya mentap layar smartphone-nya.
.
######
.
Sasuke memarkirkan mobilnya didepan sebuah kedai kopi yang berada di dekat taman kota. Ia melirik jam tangannya yang sudah menujukkan pukul 6 sore. Awalnya Ia berpikir untuk membeli espresso namun ketika dilihatnya sebuah vending machine, Ia pun mengganti niatnya, tampaknya Bir kalengan lebih menarik ketimbang espresso, dan pastinya bir lebih bisa memberikan efek menurunkan stress nya, setidaknya itu menurut Sasuke.
Ia kemudian melangkahkan kakinya mendekat ke vending machine tersebut, Sasuke kemudian mengeluarkan selembar uangnya, dan menekan gambar bir yang ingin dibelinya. Taklama kemudian terdengar suara sekaleng bir yang jatuh tertampung di bawah vending machine. Ia segera mengambil bir tersebut dan mengambil uang kembalian yang keluar dari vending machine. Ia menatap bir yang kini telah berada ditangan kirinya, kemudian Ia kembali memasukkan uangnya kedalam vending machine. Sepertinya 1 kaleng masih belum cukup bagi Sasuke.
Sliing..,
Sasuke kemudian mengambil 2 kaleng bir yang baru keluar dari vending machine. Ia kemudian mengapit ketiga kaleng bir tersebut dengan tangan kirinya. Tanpa disadarinya sedari tadi dirinya ditatap oleh seorang pria paruh baya yang juga membeli minuman dari vending machine disebelahnya. Ia menatap penuh heran pada Sasuke, 'Armani three piece suits' nya yang tampak sedikit berantakan ditambah dengan dasinya yang dibiarkan longgar membuat Sasuke terlihat seperti eksekutif muda yang stress karena perusahaannya bangkrut.
Sasuke tersenyum melihat 3 kaleng bir yang ada ditangan kirinya, tanpa pikir panjang Ia pun pergi meninggalkan vending machine tersebut. Tak jauh dari vending machine tersebut terdapat sebuah bangku taman yang kosong, langsung saja Ia berjalan menuju bangku tersebut.
"Haahh.."
Sasuke menghela nafasnya sesaat setelah Ia mendudukkan dirinya dibangku taman tersebut. Ia kemudian melirik 3 kaleng bir yang diletakkannya tepat disebelahnya. Ia mengambil sekaleng bir dan membukanya. Tanpa pikir panjang Ia langsung meneguk cairan tersebut seraya membuka kancing atas kemejanya.
"Ternyata minum bir memang lebih nikmat disaat-saat seperti ini" gumamnya kecil seraya menatap kaleng bir yang digenggamnya.
Sasuke kembali menenggak bir tersebut, sebelum sebuah suara membuatnya menyemburkan minumannya.
"Oji-chan …"
Byurr …
Refleks Sasuke menyemburkan bir yang baru diminumnya.
Naruto menatap pria yang baru saja dipanggilnya dengan tatapan 'Iyuuhh'. Ia sedikit menaikkan alisnya saat dilihatnya paman tampannya dengan pakaiannya yang jauh dari kata rapi tengah menyeka sudut bibirnya dengan punggung tangannya.
"Iyuuhh, Oji-chan, Kau jorok sekali" ujar Naruto seraya berjalan mendekati Sasuke.
Sasuke menatap pelaku yang telah membuat dirinya tersedak, seorang gadis bersurai pirang yang masih menggunakan seragam sekolahnya.
"Yahh, Kau pikir karena siapa Aku menyemburkan minumanku?" tanyanya yang sebenarnya bisa dibillang umpatan pada Naruto.
"Maaf maaf, tapi Oji-chan ada apa dengan penampilanmu?" ujar Naruto seraya ikut duduk disamping Sasuke.
"Bukan urusanmu" jawab Sasuke seraya kembali menenggak bir nya.
Naruto menatap kesal Sasuke yang tidak mau menjawab pertanyaannya.
"Jahatnya, padahal Aku kan ingin membantumu Oji-chan" gumamnya sembari membuka bungkus pocky yang baru diambilnya dari dalam tasnya.
Sasuke melirik Naruto yang tengah memasukkan stick pocky kedalam mulutnya. Naruto yang sadar tengah ditatap Sasuke kemudian memalingkan wajahnya menghadap Sasuke.
"Oji-chan, Kau mau?" tawarnya seraya menyodorkan pocky miliknya pada Sasuke.
"Ck, Kau pikir Aku anak kecil" ujar Sasuke seraya kembali menenggak birnya.
Naruto hanya mendengus pelan mendengar jawaban Sasuke. Ia pun meletakkan pocky tersebut diatas tas sekolahnya yang diletakkan disamping tempat duduknya.
"Ne.. ne, Oji-chan ceritakan padaku Kau ada masalah apa?" rayunya seraya menarik pelan lengan jas milik Sasuke.
"Ayolah.., Aku janji tidak akan cerita pada siapa pun" bujuknya sekali lagi sambil terus menggoyang lengan Sasuke, sepertinya Naruto sedang dalam mode 'kepo' nya.
Sasuke melirik sekilas Naruto yang tengah menarik-narik lengan jasnya sambil menatapnya dengan 'puppy eyes' nya.
Naruto tiba-tiba menghentikan kegiatannya menarik lengan jas milik Sasuke saat disadarinya sepertinya sang paman tidak akan mau cerita padanya.
"Biar ku tebak, pasti Kau sedang dimarahin oleh Tou-san mu, iya kan Oji-chan" ujar Naruto seraya menampilkan cengiran andalannya.
Sasuke kembali tersedak minumannya.
"Bagaimana Kau tahu?" tanya nya polos.
"Yatta, berarti benar kan tebakanku" ujar Naruto kegirangan.
"Terus-terus, apa Tou-san mu memukulmu Oji-chan?"
Sasuke kembali melirik kearah Naruto, kemudian meremukkan kaleng birnya yang telah kosong.
"Tentu saja tidak"
"Lalu kenapa Kau terlihat seperti orang stress, baru juga dimarahi" lanjut Naruto seraya mengubah duduknya jadi menyamping menghadap Sasuke.
"Ne Oji-chan, Aku juga kemarin dimarahi sama Tou-san karena nilai ulangan sejarahku jelek"
Sasuke kemudian ikut mengubah duduknya jadi menyamping menatap Naruto.
"Tapi ini beda, dia juga malah membanding-bandingkan diriku dengan orang lain"
Sepertinya Sasuke mulai terhanyut dalam sesi curhatnya dengan Naruto.
"Benarkah? Itu buruk" ujar Naruto penuh antusias seraya menggelengkan kepalanya.
"Oji-chan, Aku paham betul bagaimana perasaanmu, Tou-san ku juga seperti itu, Dia juga membandingkan diriku dengan dirinya. Dia bilang, dulu waktu Dia duduk dibangku SMU Dia adalah juara kelas, sedangkan Aku .."
Naruto kemudian melipat kedua tangannya didadanya.
"Dia kan tidak boleh seperti itu, kapasitas otak setiap orang kan berbeda-beda"
Naruto terdengar sangat emosional menceritakan keluh kesahnya pada Sasuke.
"Lalu setelah itu apa yang Kau lakukan?"
Naruto melirik sekilas Sasuke yang bertanya pada dirinya.
"Tentu saja setelah itu Aku menelpon Jiraiya Jiji, Aku katakan padanya bahwa Aku dimarahi Tou-san, Lalu Jiji menelpon Tou-san, setelah itu Tou-san dimarahi oleh Jiji" ujarnya seraya tertawa mengingat kembali raut wajah Ayahnya yang sedang dimarahi oleh kakeknya, Jiraiya.
Sasuke menganggukkan kepalanya mendengar jawaban Naruto, tapi kemudian Ia menggelengkan kepalanya. Hampir saja Ia berpikir layaknya Naruto yang masih remaja, kemudian mengadukan ayahnya pada kakeknya, Madara.
"Ck, dasar bocah" gumamnya seraya mengacak surai pirang Naruto dan tertawa kecil. Melihat pola pikir Naruto yang naif, rasanya Ia ingin kembali ke masa-masa remajanya.
"Oi, Oji-chan, jangan mengacak rambutku" protes Naruto seraya menyingkirkan tangan Sasuke dari kepalanya.
"Saat Kau dewasa, jika dimarahi oleh orangtuamu, maka Kau tidak mungkin mengadukannya pada orang lain, melainkan mencari cara bagaimana untuk menebus kesalahanmu dan membuat orangtua mu kembali percaya dan bangga padamu"
Naruto menatap penuh binar pada Sasuke yang berbicara layaknya seorang motivator.
"Hmm" Naruto kemudian menggangguk pelan meng-iya-kan perkataan Sasuke.
Sedangkan Sasuke, Ia sendiri malah tersenyum kecil mengingat kembali ucapan yang baru saja keluar dari bibirnya.
'Kenapa menasehati orang lain itu lebih mudah ketimbang menasehati diri sendiri' batinnya.
"Nah seperti ini, Oji-chan, kau terlihat lebih tampan kalau sedang tersenyum" ujar Naruto seraya menempelkan jari telunjuknya di pipi Sasuke.
"Hey, berhenti memanggilku Oji-chan, Aku belum setua itu"
Naruto hanya mengeluarkan cengiran andalannya sebagai respon dari perkataan Sasuke.
"Oji-chan, ayo kita berfoto, kita sudah lama tidak berfoto bersama" ujar Naruto seraya mengeluarkan smartphone-nya dari dalam tas, dan menggeser tubuhnya lebih merapat dengan Sasuke.
"Oji-chan, senyum yah" perintahnya pada sang paman seraya mengarahkan kamera depan smartphone-nya.
"Yaah, kenapa wajah ku ada muncul telinga kelinci?" protes Sasuke.
Refleks Naruto menarik kembali smartphone-nya, dan menatap Sasuke.
"Oji-chan.., Kau ketinggalan zaman sekali, ini namanya Snapchat"
Sasuke sedikit mengernyitkan dahinya sembari berfikir 'apa lagi itu Snapchat'.
"Ck, sekarang itu lagi tren meng-upload foto seperti ini di Instagram" lanjut Naruto.
Baiklah, setidaknya kali ini Sasuke tahu apa itu Instagram.
"Aku tidak mau, fotonya pakai kamera biasa saja"
Naruto hanya mendengus pelan, Ia kemudian mengganti ke aplikasi kamera biasa pada smartphone-nya.
"Oji-chan, senyum yah, 3.. 2.. 1"
Tampak sebuah foto dimana Naruto tersenyum yang menampilkan deretan gigi putihnya seraya menyenderkan kepalanya di bahu Sasuke, sedangkan Sasuke, Ia hanya menampilkan senyuman segarisnya.
"Heehh, Oji-chan, sudah Aku katakan tersenyum, foto seperti ini tidak bagus untuk di-upload di Instagram" keluh Naruto saat menatap hasil fotonya.
"Ayo ulangi sekali lagi" ujarnya seraya kembali merapatkan tubuhnya pada Sasuke.
"Tidak mau, Kau foto sendiri saja sana" ujar Sasuke seraya mendorong pelan kepala Naruto agar menjauh dari dirinya.
"Oji-chan…, ayolah" rengek Naruto tanpa kenal menyerah.
.
######
.
Omake ..
.
Gaara mengambil smartphone nya yang terletak diatas tempat tidur miliknya. Ia kemudian merebahkan tubuhnya diatas kasurnya yang empuk. Membuka beberapa sosial media miliknya, dan berakhir pada Instagram. Ia kemudian men-scroll postingan pada timeline nya, sampai sebuah postingan menghentikan jemarinya.
Gaara menatap foto yang tertampang pada layar smartphone miliknya, foto seorang gadis bersurai pirang yang sangat dikenalnya bersama seorang pria dengan setelan 'Armani three piece suits' nya tengah tersenyum bersama sang gadis. Ia mengklik foto tersebut, mana tahu Naruto men-tag pria yang tengah berfoto bersamanya tersebut, tetapi sayangnya nihil.
'Siapa pria ini?' batinnya kemudian.
.
TBC
.
.
Holla …
Arigatou buat semuanya, ternyata cukup banyak yang review yah. Seneng saya :D :D
Jujur, terkadang fav, follow, review, itu mempengaruhi mood seorang author dalam melanjutkan ceritanya.
Awalnya mau bikin fic yang fluff dan lebih ke romcom, tapi tiba-tiba tangan bergerak tidak sesuai yang diharapkan, malah ceritanya bergeser ke genre drama. Semoga tidak kecewa yah pembacanya.
Sekali-kali ingin juga buat fic yang seperti drama korea, ringan dan lucu di awal, masuk ke bagian tengah mulai agak berat, terus bikin mewek di bagian akhir. :D
Kalau Daniel Sandra bilang baca fic ini dia ingat drakor Goblin, well … ituh tuh drakor yang udah lama di donlot tapi belum sempet ditonton, baru juga nonton episode 1 (hahaha)
Tapi semoga fic ini sesuai harapan yah. Tapi tenang saja, yang pasti nggak akan ada cerita putri yang tertukar atau tokoh utama yang mengalami sakit keras hampir mati. Tetap sesuai kebanyakan fic aku, aku lebih suka sedikit realistis dalam membuat cerita.
Dan terimakasih untuk yang telah menyempatkan memberi review nya:
leonardoparuntu9, Amelia455, Daniel Sandra, Indra223, Moku-Chan, Kim Kai Jong, The Lazy Girl Naru, kuraublackpearl, fyodult, Sondankh641, celindazifan, TheB1gBoy, askasufa, black campaign, DheKyu, hanazawa kay, mysuga, Aratabanyakbacot, c, Vani
Ditunggu kembali untuk review nya yah para reader semuanya.
Peluk cium, Hatake Aria :3
