Capter 2

Hari ini aku begitu lelah banyak pekerjaan yang harus aku lakukan. Dan yang paling penting, sudah 4 jam aku memegang ponsel berharap Naruto menghubungiku. Oh tidak, aku bisa lupa semuanya jika mengingat pria tampan itu. Setelah tadi sore dia mengantarku aku masih duduk di kamar kosku yang kecil ini dengan memegang ponsel yang tidak ada tanda – tanda Naruto akan menghubungiku.

"Ayolah tampan! Kapan kau akan menghubungiku?! Apa tadi aku memberi dia nomor yang salah? Oh tidaaak.. Bagaimana aku bisa seceroboh itu" teriakku prustasi.

Tiit..tiit.. (ponsel Sakura berbunyi, isyarat pesan masuk).

"Pesan masuk! Pasti itu dari dia!" ucapku kegirangan membuka pesan masuk di ponselku.

"Sakura, Sai mengajakku bertemu! Dia juga bersama Sasuke, kau ikut ya? Aku mohon Sakura" aku membaca pesan dari Ino.

"Ah, sial. Aku kira pesan dari Naruto, ternyata dari Ino. Lalu, aku harus bagaimana?! Ino pasti sanggat senang. Baiklah, mau tidak mau aku harus ikut" gumamku sendiri.

Aku pun bergegas menuju restoran yang dikirimkan Ino kepadaku. Sebetulnya aku sangat malas bertemu dengan Sasuke. Dia angkuh dan sombong sekali tapi, aku tidak tega melihat Ino. Setidaknya aku tidak boleh menggagalkan kencan pertamanya.

Beef & Chicken Resto

"Maaf kalian sudah lama menunggu" aku menghampiri Ino, Sai dan Sasuke.

"Tidak apa Sakura, kau mau pesan apa?" tanya Ino sambil memberikan menu makanan pada Sakura.

"Pesanlah apa saja Sakura-can, aku yang mentraktir kalian" ucap Sai lembut.

"Aku pesan Beef Steak burger dan Lemon tea saja" ucapku.

"Apa kabarmu Sakura?" tanya Sasuke.

"Seperti yang kau lihat Sasuke. Aku baik – baik saja" ucapku santai.

"Baguslah kalau begitu. Kau tahu Sakura, aku bisa menawarkan kau pekerjaan lebih baik" ucap Sasuke.

"Terima kasih Sasuke tapi, aku senang dengan pekerjaanku" jawabku ketus.

"Aku bisa memberimu gaji lebih banyak Sakura, bahkan apa yang kau butuh kan aku bisa memberikannya" tambah Sasuke.

"Cukup Sasuke! Kau sudah keterlaluan! Mau sekaya apa pun kau, aku tidak akan mau bekerja denganmu" geramku sambil melangkah pergi.

Aku tak menghiraukan lagi teriakan Ino di belakangku. Aku sudah cukup marah dengan ucapan Sasuke.

"Tuut..tut..tut.. Suara getaran ponselku, tanpa pikir panjang aku langsung mengangkat telefon itu. Itu pasti Ino.

"Cukup Ino! Jangan memaksaku untuk kembali! Aku tidak mau lagi bertemu mereka. Aku sudah cukup sakit hati dengan penghinaan mereka!" geramku.

"Sakura? Ada apa? Apa kau baik – baik saja? Siapa yang menghinamu" terdengar suara bariton dari seberang sana.

"Apa?! Kau siapa?" aku bertanya singkat.

"Aku Naruto, tadi sore aku meminta nomor telefonmu" ucap penelepon itu yang tak lain adalah Naruto.

Sial, apa yang kulakukan?! Kenapa aku harus marah – marah pada Naruto. "Maafkan aku tuan, aku tidak tahu jika kau yang menelefon".

"Tidak apa Sakura. Ngomong – ngomong kau dari mana pulang semalam ini?" Naruto penasaran.

"Bagaimana Tuan tahu jika aku akan pulang?" aku kebingungan dengan pertanyaan Naruto.

"Tentu saja aku tahu, karena aku berada di belakangmu Sakura" telefon pun terputus.

Aku langsung menoleh ke belakang. Benar saja, aku melihat Naruto berdiri menatapku. Rasanya bumi berhenti berputar ketika aku menatap wajahnya yang selalu menenangkan-Ku. Aku sangat senang melihatnya, ingin sekali aku berlari memeluknya.

"Mau sampai kapan kau berdiam diri di situ Sakura? Ayo ikut aku" Naruto datang menghampiriku dan menarik tanganku untuk masuk ke sebuah kedai Mie Ramen.

"Tuan sedang apa disini?".

"Tadi aku sedang berjalan – jalan saja dan kemudian aku mampir ke kedai ini. Kau tahu Sakura, kedai ini adalah tempat favoritku sewaktu masih bersekolah dulu. Ramen disini sangat lezat" Naruto bercerita sangat bersemangat.

"Kau sendirian saja Tuan?" aku gugup dan bingung harus bertanya apa jika berdekatan dengannya.

"Tentu saja tidak Sakura. Aku bersamamu kan? Dan satu lagi, jangan panggil aku tuan atau yang lainnya. Panggil saja Naruto" Naruto tersenyum melihatku.

"Iya tuan, emmm... Naruto" .

"Baiklah, Sakura. Kau harus makan ramen disini, dan biarkan aku memilih ramen yang spesial untukmu" Naruto terlihat sangat bersemangat memilihkan makananku.

"Pak, tolong berikan 2 mangkuk besar ramen yang spesial" pesan Naruto.

"Baik tuan, tunggulah sebentar lagi" jawab penjual ramen.

"Sakura, siapa yang merendahkanmu? Tadi kau berjalan penuh dengan emosi" .

"Bukan siapa – siapa Naruto. Hanya teman yang hidupnya lebih baik daripada aku".

"Dulu aku juga direndahkan Sakura. Banyak yang tidak menyukaiku" Naruto bercerita dengan sendu.

"Itu tidak mungkin, bukankah kau berkecukupan" Aku berusaha tidak menyinggung Naruto.

"Tak seperti yang kau lihat Sakura. Keluargaku memang kaya tapi, aku tidak mau hidup dalam bayang – bayang keluargaku" Naruto mengatakan itu dengan senyum teduhnya.

Naruto, sungguh aku tidak pernah bermimpi bertemu pria sebaik dan setangguh dirimu. "Kau pria yang baik Naruto".

"Silakan Tuan, Nona, 2 mangkuk besar mie ramen spesial" pelayan menghidangkan mie ramen kepada kami.

"Makanlah Sakura, kau pasti sangat menyukainya" Naruto melahap mie ramen dengan penuh semangat.

Terima kasih untuk kebahagiaan ini Tuhan. Aku sangat menghargai waktuku bersama Naruto. Aku dan Naruto pun menghabiskan mie ramen itu. Bahkan Naruto menambah pesanannya lagi. Melihatnya sedekat ini, dan bersamanya walaupun hanya singkat aku sangat senang. Dan aku mulai menyadari jika aku telah jatuh hati dengan pria ini. Pria yang sederhana dan apa adanya. Hari sudah menunjukkan tengah malam. Naruto merasa bersalah karena membuatku menunggu terlalu lama.

"Sakura, maafkan aku. Gara – gara aku, kau jadi pulang larut malam" .

"Tidak apa Naruto. Lagi pula aku tidak ada aktivitas lain".

"Terima kasih Sakura. Kau tahu Sakura, dari awal aku melihatmu aku sudah menyukaimu, kau berbeda dari wanita – wanita yang kutemui. Jujur saja, aku tidak pernah berpacaran tapi, aku selalu merasa berdebar jika di dekatmu" Naruto menatapku dengan tatapan yang aku sendiri tidak bisa mengartikannya.

"Iya Naruto" aku tak dapat berkata apa – apa. Aku senang mendengarnya berbicara seperti itu tapi, aku menyadari jika aku tidak pantas bersamanya. Aku hanya wanita dari kalangan miskin dan tidak mempunyai apa – apa.

"Bisakah aku mengenalmu lebih jauh Sakura? Aku tidak akan memaksamu jika kau tidak mau sakura" terlihat guratan rasa kecewa pada kalimat terakhir yang Naruto ucapkan.

"Iya Naruto. Aku pun ingin mengenalmu lebih jauh" yah, aku tidak akan melepaskan kesempatan ini. Aku akan berjuang dan menjadi layak untukmu Naruto.

"Benarkah itu Sakura?! Aku sangat senang mendengar jawabanmu ini. Terima kasih Sakura" Naruto tersenyum bahagia kepadaku. Kami pun berjalan menuju tempat kos-ku. Di perjalanan kami berbicara tentang kegemaran kami, hobi dan teman – teman kami. Dan yah Naruto selalu membuatku tertawa. Semoga aku selalu bisa bersamanya, aku tidak mau berpisah darinya meskipun kami belum resmi pacaran.

Kami pun tiba di tempat kosku. Naruto berpamitan pulang setelah mengantarkanku. Aku sengaja tidak langsung masuk karena ingin melihatnya pergi. Akhirnya Naruto hilang dari pandanganku dan aku pun masuk ke kamar kos-ku. Aku duduk di samping cendela dan menatap langit. Beberapa jam lalu aku dibuat sakit hati oleh pria tampan dan kaya yang sombong kemudian beberapa jam selanjutnya aku dibuat bahagia oleh pria tampan yang kaya dan baik hati. Dunia ini sungguh aneh, aku dipertemukan dengan 2 pria yang berbeda. Tapi, aku sangat senang bertemu Naruto.

Tiit..tiit.. Ponselku berbunyi notifikasi pesan masuk.

"Terima kasih untuk hari ini Sakura. Tidurlah yang nyenyak, mimpi indah" pesan dari Naruto.

Aku tersenyum membaca pesan dari Naruto. "Terima kasih kembali Naruto. Semoga kau juga mimpi indah" ketikku membalas pesan Naruto.

23 Januari 2017

Hari ini aku datang terlalu pagi ke tempat kerja, mungkin karena aku terlalu bersemangat untuk melihat Naruto. Naruto selalu berkeliling ke tempat bisnisnya dan dia selalu datang pukul 11 siang sampai pukul 1 siang.

"Selamat pagi Sakura-can. Sakura-can sudah datang lebih dahulu?" Hinata tersenyum menyapaku.

"Salamat pagi juga Hinata-can. Hari ini aku bangun terlalu pagi Hinata jadi begitu selesai bersiap – siap aku langsung datang kemari" .

"Baguslah Sakura-can. Aku jadi mempunyai teman untuk bercerita".

"Selamat pagi. Aku lelah sekali, semalam aku tidak bisa tidur" celoteh Ino memasuki ruang karyawan.

"Apakah ada masalah Ino?" Hinata menepuk pundak Ino.

"Tidak, hanya saja aku sedang membayangkan pria tampan yang kuceritakan padamu Hinata! Kemarin kami bertemu lagi" Ino tersenyum kegirangan.

"Wah, pasti Ino sangat senang" Hinata mendengarkan Ino bercerita hingga bel waktu masuk kerja berbunyi.

"Sakura-can, kenapa kau hanya diam saja?" Hinata menatapku dengan tersenyum.

"Tidak apa Hinata" .

"Sakura, seharusnya kau tidak meninggalkanku kemarin" Ino menatapku tajam.

"Jangan membahas masalah kemarin Ino!" tanpa sengaja aku membentak Ino. "Maafkan aku Ino tapi, kumohon kau bisa mengerti".

"Baiklah Sakura. Maafkan aku" Ino memelukku hangat.

"Sakura-can dan Ino-can sudah baikkan, sekarang kita bisa bekerja dengan tenang" Hinata memeluk-Ku dan Ino.

Hari ini toko kami cukup ramai, sampai – sampai kami tidak punya waktu untuk mengobrol. Aku melihat jam tanganku yang menunjukkan pukul 2 siang tapi, aku tidak melihat kehadiran Naruto.

"Sudah jam 2 tapi, aku tidak melihat Naruto. Apakah hari ini dia tidak akan datang?" gumamku pelan.

"Selamat siang, bisakah kau mencarikan baju untukku nona Sakura?" pinta suara yang tak asing lagi di telingaku.

"Silakan, Tuan..." ucapanku terputus karena yang di hadapanku adalah pria yang sudah merendahkan aku semalam, Sasuke. "Untuk apa kau kesini?!" aku tidak bisa menahan kemarahanku.

"Ini tempat umum Sakura, aku bebas datang dan pergi di tempat ini" Sasuke berjalan melihat baju – baju yang tergantung rapi.

"Sakura-can, bagaimana kabarmu?" lembut suara Sai menyapaku.

"Aku baik Sai, Ino pasti senang melihatmu di sini" aku berusaha mencari keberadaan Ino. "Ino, ada yang mencarimu" .

"Sai, kau datang kemari" Ino mendatangi Sai dan mereka pun berbincang – bincang yang artinya aku harus tinggal di sini bersama pria menyebalkan ini.

"Sakura, aku datang kemari karena ingin meminta maaf kepadamu. Aku menyesal sudah membuatmu sakit hati kemarin" Sasuke mencoba meyakinkan Sakura.

Pria itu lebih terlihat seperti sedang berpidato dari pada meminta maaf dengan tulus batinku.

"Aku sudah melupakan kejadian kemarin" jawabku singkat. Jujur saja, aku tidak mau membahas hal itu karena pasti akan lama dan mungkin aku tidak akan bisa menatap Naruto yang berjalan menuju ruangannya. Kenapa pria ini datang kemari, selalu saja membuat masalah dalam hidupku.

"Baguslah kalau begitu. Apa kita bisa bertemu lagi nanti?".

"Maafkan aku, aku sudah ada janji" dari kejauhan aku melihat Naruto berjalan menuju ruangannya. dia terlihat sangat lelah.

"Benarkah?".

"Iya, baiklah tuan. Kau bisa memilih baju ditemani rekanku. Hinata, tolong bantu tuan Sasuke memilih kemeja" ucapku sambil berjalan meninggalkan Sasuke.

Aku tidak memperdulikan suara Sasuke dibelakang-Ku. Lebih baik aku menghampiri Naruto dari pada harus bersamanya.

Ruang Store Manajer

Tok..tok..tok..

"Masuklah".

"Apa aku tidak mengganggumu Naruto?" tanyaku kepada Naruto yang terlihat sibuk dengan pekerjaannya.

"Sakura, tentu saja tidak. Duduklah." Naruto tersenyum padaku mencoba tidak memperlihatkan rasa lelahnya.

"Kau datang terlambat hari ini Naruto".

"Benar Sakura, aku harus berkeliling dan memeriksa banyak laporan. Oh ya, tadi aku lewat di sebuah toko. Aku melihat kalung ini dan teringat padamu Sakura"

"Kau tidak perlu repot – repot Naruto" jawabku pelan. Kalung berliontin tanda cinta ini sungguh cantik.

"Aku tidak repot Sakura, aku hanya ingin kau selalu mengingatku. Jika kau memakai kalung ini dan bercermin kau akan selalu melihatku berada di dekatmu Sakura. Bolehkah aku memakaikan kalung ini Sakura?".

"Baiklah Naruto. Kau selalu saja membuatku malu" Naruto memasangkan kalung di leherku.

"Kau terlihat cantik Sakura, kau menyukainya?" .

"Kau berlebihan Naruto. Aku menyukainya karena ini darimu" wajahku bersemu merah mendengar pujian Naruto.

Tok..tok..tok..

"Masuk" Naruto duduk di kursinya.

"Kau sedang sibuk sepupuku?" .

"Masuklah Sasuke, sudah lama kita tidak bertemu" Naruto memeluk Sasuke.

"Kau selalu sibuk dalam hal bisnis Naruto bahkan kau tak pernah mengunjungi ibuku" Sasuke duduk di sebelahku. Untuk sesaat aku tidak mengerti jika mereka saling mengenal namun, untuk saat selanjutnya aku mulai sadar jika mereka masih saudara.

"Sampaikan maafku pada bibi, Sasuke. Mungkin akhir pekan aku akan mampir Sasuke. Oh ya, perkenalkan, dia Sakura. Calon Isteriku" Naruto tersenyum menatapku.

Aku tersentak mendengar ucapan Naruto. Bahkan kami belum resmi berpacaran tapi, aku sangat senang mendengarnya.

"Benarkah?! Aku Sasuke sepupu Naruto".

Sasuke mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan denganku tapi, aku merasa janggal kenapa dia pura – pura tidak mengenalku.

"Sakura" membalas jabatan tangan Sasuke.

"Semoga kalian bisa berbahagia" ucap Sasuke menatapku tajam.

Entah kenapa aku merasa tidak enak, seperti sesuatu yang buruk akan terjadi. Tapi, semoga hanya perasaanku saja. Tuhan tolong jaga hubungan kami, jangan biarkan kami terpisah atau mengalami sesuatu hal yang buruk.

To be continued

Terima kasih minna-san sudah membaca cerita saya semoga bisa menghibur. Jika ingin menambahkan referensi buat cerita saya, minna-san bisa mereferensi dikolom reviuw.

Kang Hyura