Jalanan begitu lengang, hanya segelintir mobil yang melintas. Daun-daun berjatuhan, beberapa tersapu angin ketika sebuah Porsche melaju pelan membelah malam.
"Kau benar-benar ingin pulang? Tidak ingin menginap saja? Kalau kau sakit lagi bagaimana?"
Haechan tertawa. "Kau sudah bertanya itu untuk yang kesepuluh kalinya Dooyoung ahjussi, dan ya, aku tetap ingin pulang. Orangtuaku akan khawatir karena aku menghilang tanpa memberi kabar" Ia meringis, ragu akan ucapannya sendiri.
"Kalau begitu, kami antar sampai rumah. Kami tidak mungkin membiarkanmu pulang naik bis" Taeil –si pengemudi porsche yang sedari tadi diam menyahut.
"Benar… Beritahu alamatmu Haechan –ah. Ini sudah malam, bis terakhir mungkin saja sudah lewat."
Haechan menoleh kesamping, laki-laki seumuran ayahnya sedang menatapnya khawatir. Ada rasa hangat yang menjalar di relung hatinya. Maka ia memutuskan untuk menggenggam tangan kurus yang selalu mengelus rambutnya itu selama di rumah sakit.
"Aku sungguh sudah baik-baik saja. Kalian tidak perlu khawatir, terimakasih karena telah merawatku dan membayar biaya perawatan di rumah sakit…. hehe…" Haechan terkekeh kecil "Tapi aku tidak ingin merepotkan kalian lebih banyak lagi"
Dooyoung tak membalas, ia mengeratkan genggaman tangan mereka, tersenyum sedih karena jarak halte dapat dilihatnya semakin dekat.
"Jaga dirimu baik-baik Haechan –ah" pesan Taeil. Ia mengusak rambut Haechan, memeluk anak itu sekilas lalu melepaskannya.
Mereka berada di halte bis yang dimaksud Haechan. Sebuah bis berwarna hijau berhenti tepat di depan mereka. Orang-orang mulai naik meninggalkan mereka bertiga, namun bis itu tak bergerak –seakan menunggu Haechan untuk naik.
Dooyoung merasa tenggorokannya perih, ia mengerjapkan matanya yang tiba-tiba berkabut. "Ja –Jangan sampai sakit lagi. Hati hati dijalan" ucapnya tersendat. Ia memeluk Haechan erat, menyimpan banyak-banyak aroma manis yang mungkin akan ia rindukan nanti. Karena hatinya sebenarnya telah jatuh, ia telah memimpikan keluarga sederhana yang bertahun-tahun ia nantikan. Bersama anak itu yang melengkapi.
Namun mimpi terkadang tidak semanis yang ia inginkan. Dooyoung sadar bahwa dia hanyalah orang asing bagi Haechan. Ia tidak mempunyai hak apapun terhadapnya. Maka dengan menguatkan hati, Dooyoung melepaskan pelukan itu. Tersenyum pada Haechan untuk yang terakhir kali lalu beranjak pergi.
Haechan mengernyit, rasa sakit yang tak terduga menjalar di dada kirinya. Lima hari selama ia dirawat, Dooyoung dan Taeil benar-benar memperlakukannya dengan baik. Ia bisa merasakan kasih sayang tulus yang diberikan oleh keduanya.
Haechan…. Ia…. Seperti memiliki appa dan eomma.
"Mianhae…." lirihnya.
Haechan menunduk, ia tidak ingin merepotkan orang lain. Ia adalah beban orangtuanya. Dia tidak ingin menjadi beban lagi untuk orang lain. Namun melihat kesedihan di wajah Dooyoung, membuat hatinya juga ikut bersedih.
Netranya berpendar mengamati sosok dua orang yang berjalan semakin jauh. Air mata menggenang di kedua pelupuk, tanpa ia sadari kakinya berlari.
"AHJUSSI…." Teriak Haechan. Ia terengah-engah, nafasnya memburu tak teratur. Ia tersenyum lega melihat langkah kaki itu berhenti.
Ada raut terkejut dari dua pasang netra di depannya, namun Haechan tak kalah terkejut melihat jejak basah di pipi Dooyoung.
"Hae… haechan –ah…." Lirih Dooyoung. Laki-laki itu melepaskan rangkulan Taeil dan berjalan mendekat. Dengan ragu, Dooyung menyentuh pipi Haechan, memastikan bahwa ini bukanlah fatamorgana.
"Dooyoung ahjussi, aku berubah pikiran" Haechan memamerkan gigi kelincinya, tersenyum begitu manis dengan mata menyipit "Aku mau menginap dirumahmu asalkan kau mau membelikanku Ramyeon di depan sana" tambahnya sambil menunjuk sebuah kedai sederhana di seberang jalan.
Setetes air mata mengalir di pipi Dooyoung. Ia cepat-cepat mengangguk, takut Haechan berubah pikiran lagi. "Te- tentu saja… Kau boleh minta apapun" balas Dooyoung. Dihapusnya air mata bahagia yang mengalir di pipi lalu menggandeng tangan dingin Haechan.
Haechan tersenyum, ia menatap Taeil yang masih berdiri dari posisi awalnya. "Taeil ahjussi…. Kau tidak keberatan kan kalau aku menginap?"
Taeil hanya diam sambil tersenyum begitu meneduhkan. Sebuah uluran tangan memberi jawaban.
Haechan menyambut uluran tangan Taeil. Jadilah mereka bertiga berjalan bergandengan tangan. Tertawa bersama untuk yang pertama kali.
Keluarga sederhana ini –bolehkah Dooyoung mengharapkannya?
.
.
HURT ME
.
.
Haechan berdiri tak jauh dari meja dapur. Ia mengamati Dooyoung yang sibuk menata piring diatas meja. Taeil duduk diatas kursi dengan koran di tangan. Ia tersentak kaget saat suara Taeil yang memangil namanya kembali terdengar. Haechan ragu, apakah dia harus bergabung bersama mereka atau tidak. Maka ia memutuskan untuk menyembunyikan diri dibalik pilar.
"Haechan-ah, sedang apa disitu? Kemarilah, ayo sarapan bersama"
Haechan menelan ludah gugup, pelan-pelan ia menyembulkan kepala. Dooyoung yang sudah bergabung dengan Taeil di meja makan segera menyuruhnya untuk duduk. Dengan kikuk, ia berjalan mendekat lalu duduk berhadapan dengan Dooyoung. Taeil memimpin di ujung.
"Kau baru saja sembuh. Makan yang banyak supaya tidak sakit lagi." Ucap Dooyoung. Dengan semangat ia mengambil nasi dan beberapa lauk di piring untuk dua laki-laki kesayangannya. Menambahkan segelas susu putih untuk Haechan dan secangkir kopi untuk sang suami.
"Ayo berdoa lalu makan" kata Taeil.
Haechan meremat kesepuluh jarinya, memandang takut pada Dooyoung dan Taeil yang sedang memejamkan mata dengan tangan terkatup –berdoa. Apakah tidak apa-apa jika ia berada disini. Ia tidak terbiasa. Biasanya ia akan makan setelah keluarganya selesai makan. Ia tidak diperbolehkan untuk bergabung di meja makan. Mereka akan jijik. Dan Haechan tidak mau membuat Dooyoung dan Taeil merasa jijik karena dirinya.
"Apa tidak apa-apa aku makan disini?" tanya Haechan lirih setelah mereka selesai berdoa.
Gerakan tangan Dooyoung yang memegang sendok terhenti. Ia mengernyit "Tentu saja. Aku sangat senang kau mau makan bersama kami. Apa kau tidak suka menunya?" tanyanya bingung.
Haechan cepat-cepat menggelang. "Bukan begitu…. Hanya saja…" anak laki-laki itu menunduk "Aku takut membuat kalian jijik jika aku makan bersama kalian" jawabnya sambil semakin menundukkan kepala.
Taeil melepaskan sendok yang ia pegang. Ia bergeser sedikit kearah Haechan dan mengangkat dagunya. Ia bisa melihat ada banyak ketakutan di dalam mata hitam itu.
"Haechan –ah..." panggil Taeil. Ia tersenyum, mengusap rambut Haechan lembut "Mulai detik ini, rumah ini adalah rumahmu juga. Kau bisa datang kesini kapanpun kau mau. Kau bebas melakukan apa saja dan tidak perlu takut untuk meminta apapun pada kami"
Seulas senyum terukir di bibir Haechan, matanya berkaca-kaca. Ia mengangguk lalu mengucapkan terima kasih dengan tulus. Ia mengambil sendok dan mulai menyuapkan potongan ayam goreng beserta nasi ke dalam mulut. Rasanya sedikit asin, tapi ia tidak keberatan. Sesuatu dalam dadanya menghangat, ini pertama kalinya ia makan bersama dengan orang lain.
Taeil tersenyum pada istrinya. Ia bahagia melihat senyum Dooyoung yang mengembang melihat Haechan yang makan dengan lahap. Senyum itu begitu tulus hingga Taeil hampir menangis karena bisa melihatnya lagi setelah bertahun-tahun.
Hari itu Taeil habiskan dengan membolos bekerja. Toh, perusahaan tempat ia bekerja adalah miliknya sendiri. Mereka bertiga pergi bersama ke pusat perbelanjaan. Membeli beberapa baju untuk Haechan, makan bersama di sebuah restaurant Korea lalu berjalan-jalan di market street.
"Ahjussi… Lihatlah, hamsternya lucu sekali" pekik Haechan. Ia gemas sekali dengan buntalan berbulu beraneka warna yang meringkuk di sudut kotak kaca.
"Kau mau memeliharanya?" tanya Dooyoung
"Eh? Bolehkah?"
Dooyoung mengangguk, mana bisa ia menolak mata yang menatapnya berbinar-binar itu. Ia menoleh pada Taeil, mengedikkan kepalanya meminta izin. Suaminya tersenyum lalu mengangguk.
"Janji kau akan merawatnya dengan ba–" Jantung Dooyoung berdetak cepat saat tubuhnya ditubruk begitu keras oleh Haechan. Kata-katanya menggantung tak selesai, namun sebuah senyum tersungging di bibirnya.
"Ahjussi…. Terimakasih…." Ucap Haechan. Ia memeluk perut Dooyoung begitu erat "Aku pasti akan merawatnya dengan baik" tambahnya seraya melepas pelukannya.
Haechan mulai memilih hamster mana yang akan ia beli. Inginnya dia membeli sepasang. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk Jaemin. Saudara kembarnya pasti akan senang, semoga saja orang tua mereka tidak melarang Jaemin untuk memelihara hewan berbulu itu.
Mata Haechan berbinar melihat seekor hamster putih gembul yang sedang memakan biji jagung. Giginya mengerat lucu, mengingatkannya pada seseorang.
"Ahjussi…. Aku mau yang itu…" tunjuk Haechan. Matanya memilah kembali karena ia belum menemukan hamster yang tepat untuk Jaemin. "Dan itu…." Tunjuknya lagi setelah sekian menit. Jarinya menunjuk seekor hamster orange yang berlari diatas mainan roda berputar, sesekali hewan itu terjungkal hingga membuat Haechan tertawa.
Dooyoung meminta sang penjual untuk menyiapkan rumah hamster dan peralatan hewan tersebut. Setelahnya ia membayar kedua hamster yang diinginkan Haechan dan kembali melanjutkan jalan-jalan mereka yang terhenti.
"Kiyowo~~ Hamster ini mirip sekali seperti Dooyoung ahjussi" kelakar Haechan. Ia memegang kotak hamsternya di depan dada.
Dooyoung merengut. "Kenapa menyamakanku dengan hewan itu, Haechan –ah" katanya sebal.
"Gigi kalian sama persis. Ketika Ahjussi tertawa benar-benar terlihat seperti hamster. Kiyowo~~" jelas Haechan. Ia meminta persetujuan Taeil yang dibalas dengan kekehan geli laki-laki itu.
"Kau tidak sadar ya, kau juga mirip hamster. Gigimu juga besar sama sepertiku" kata Dooyoung.
Kalau Haechan mau sadar diri, ia dan Dooyoung sebenarnya sama-sama memiliki gigi depan yang besar. Otomatis ketika tertawa keduanya akan terlihat seperti hewan berbulu itu.
"Aniyo~ Aku ini manusia tampan ahjussi. Enak saja menyamakanku dengan hamster. Shireo!" tolak Haechan.
"Aish! Kembalikan hamsternya, aku tidak jadi membelikannya untukmu" kata Dooyoung
Haechan mencebik kesal. Ia berhenti berjalan dan menghentak-hentakkan kaki seperti anak kecil. "Shireo! Shireo! Hamster ini milikku, ahjussi tidak bisa memintanya kembali" Kata Haechan sambil memeluk kotak plastik itu semakin kuat.
"Aku bisa mengambilnya nanti saat kau tidur ngomong-ngomong" Dooyoung tersenyum usil, ia semakin bersemangat menggoda bocah itu.
Haechan mendengus, ia menggandeng tangan Taeil, menariknya menjauh dari Dooyoung yang tertawa terpingkal-pingkal di belakang. "Ayo Ahjussi… Tinggalkan saja istri gilamu itu…."
Taeil hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah kekanakan keduanya. Laki-laki itu tidak bisa berhenti tersenyum. Ia memang lebih banyak diam, tapi hatinya dipenuhi kebahagiaan. Senyum istrinya yang telah lama hilang kembali dan Haechan adalah anak yang ceria dibalik semua luka yang ia pendam.
Keluarga sederhana ini –bolehkah Taeil mengharapkannya?
.
.
Haechan terbangun dengan nafas terengah-engah, keringat sebesar biji jagung memenuhi pelipisnya. Tubuhnya bergetar ketakutan, matanya berpendar mengamati kamar. Menarik nafas lega karena semua itu hanyalah mimpi.
Terhuyung, ia turun dari tempat tidur. Kakinya lemas hingga ia tersungkur di atas lantai. Ia bangun dengan susah payah, membuka pintu kamar dan berjalan kearah kamar utama di rumah ini.
Haechan berdiri di depan pintu kamar Dooyoung dan Taeil. Tangan gemetarnya memegang kenop pintu namun urung membukanya. Di dalam sana pasti dua orang tersebut sudah tidur, ia tidak ingin mengganggu.
Lama sekali Haechan berdiri hingga sebuah tarikan kenop yang ia pegang membuat anak laki-laki itu tersentak kaget.
CEKLEK
"Eoh? Haechan –ah… Kau belum….."
BRUK
Dooyoung terhuyung ke belakang saat Haechan menabrakkan tubuhnya. Haechan memeluknya begitu erat. Ia bisa meraasakan tubuh anak itu gemetar hebat.
"Bolehkah aku tidur dengan ahjussi? Aku mimpi buruk dan tidak berani tidur sendirian" gumam Haechan. Tangannya mencengkeram punggung Dooyoung, rasa takut masih menguasainya.
Dooyoung berusaha menstabilkan posisi berdirinya. Ia mengelus kepala Haechan. "Tentu saja, kita bisa tidur bertiga kalau kau mau" jawabnya.
Dooyoung menuntun Haechan untuk berbaring disamping Taeil yang masih terlelap. Ia kemudian membaringkan diri disamping anak itu, menarik selimut hingga menutupi tubuh keduanya. Ia mengelus rambut Haechan lembut, anak itu akan cepat tidur jika ia melakukannya.
Helaan nafas teratur terdengar tak begitu lama. Dooyoung tersenyum menyadari betapa cepatnya anak itu tertidur. Inikah alasan kenapa ia tidak bisa tidur sejak tadi. Karena Haaechan membutuhkannya?
"Selamat tidur Haechan –ah" lirih Dooyoung sembari memejamkan mata.
.
.
HURT ME
.
.
Jaemin memandang kotak makannya tak bernafsu. Beberapa hari ini ia malas melakukan apa-apa. Ia tidak nafsu makan dan tidak bisa tidur dengan baik. Ia sedang menkhawatirkan seseorang.
"Nana… Makanlah bekalmu. Jangan dipandangi saja"
Jaemin tersentak kecil, ia memegang dadanya yang berdetak begitu cepat. Rasa ngilu menyengat hingga membuatnya meringis.
"Jesus…. Apa aku mengagetkanmu? Maafkan aku…."
Jeno –anak laki-laki bermata sipit itu bertanya dengan panik. Ia lupa bahwa teman sekelasnya itu tidak boleh terlalu kaget.
"Tidak apa-apa Jen…." Ucap Jaemin. Ia tersenyum manis pada Jeno. Sakit di dadanya perlahan menghilang walau masih terasa.
"Jangan tersenyum padaku seperti itu. Aku bisa mati karenanya"
Rona merah menyebar di pipi putih Jaemin. Ia mengulum senyum malu-malu karena ucapan Jeno.
"Katakan padaku, apa yang kau pikirkan akhir-akhir ini. Haechan lagi?" tanya Jeno. Ia merebut sendok yang di pegang Jaemin dan mulai mengambil nasi merah beserta lauk pauk yang sudah tersedia di kotak bekal.
Jaemin mengangguk, ia menghela nafas ketika nama saudara kembarnya disebut. Ia merindukan Haechan.
"Apa ayahmu tidak mencarinya?" tanya Jeno sambil menyuapi Jaemin. Yang lebih muda hendak menolak tapi tatapan teduh Jeno membuatnya luluh. Ia membuka mulut dan menerima suapan dari temannya sejak kecil itu.
"Aku tidak berani bertanya…" lirih Jaemin sambil mengunyah.
Satu hal yang paling Jaemin sesali adalah sifat pecundangnya. Ia tidak suka ketika Haechan diperlakukan dengan tidak baik oleh orang tua mereka. Tapi ia tidak berani melakukan apapun untuk membelanya. Padahal Haechan selalu melindunginya, menjaganya, memberikan apapun yang Jaemin inginkan. Kenapa ia tidak bisa melakukan hal yang sama pada Haechan.
"Berhentilah berfikir macam-macam. Haechan baik-baik saja. Aku yakin itu" ucap Jeno sambil kembali menyuapi Jaemin.
Jaemin terdiam lalu mengangguk kecil. Firasatnya juga mengatakan seperti itu. Mereka kembar –ikatan batin keduanya kuat. Ia yakin Haechan baik-baik saja.
.
.
"DOOYOUNGIE…"
Teriakan menggelegar membuat Dooyoung yang sedang menata makanan di atas meja makan terlonjak kaget. Ia mengelus dada melihat tingkah barbar sahabatnya. Dipikirnya rumah ini hutan sampai ia perlu teriak-teriak seperti itu.
"Dooyoungie… Mana anak itu?"
Taeyong berlari menghampiri Dooyoung. Ditatapnya Dooyoung dengan tidak sabar, ia ingin segera melihat anak 'temuan' sahabatnya.
"Ia sedang mandi Tae… Tunggulah disini. Dimana Jaehyun dan Mark?" tanya Dooyoung. Ia tersenyum kecil melihat wajah kecewa Taeyong.
"Mereka masih di belakang. Salah sendiri jalan seperti siput" adu Taeyong. Ia memang sering sebal dengan dua laki-laki kesayangannya itu. Mereka itu bak pinang di belah dua. Sifat mereka sama persis, ia kesal karena sifatnya tidak ada yang menurun pada Mark. Padahal ia dan Jaehyun membuat anak itu berdua.
Taeil yang baru selesai mandi menyambut Jaehyun yang juga baru datang di ruang makan. Keduanya duduk berhadapan dan mulai mengobrol tentang bisnis perusahaan.
"Eoh, Haechan –ah… Kau sudah selesai mandi? Kemarilah….."
Haechan membungkuk gugup saat semua orang melihat ke arahnya. Ia mendekati Dooyoung dan bersembunyi di balik punggungnya.
"Namamu Haechan ya?" Taeyong berdiri dari kursinya dan mendekati anak laki-laki itu. "Manisnya~~~" tambahnya lagi. Ia mencubit pipi Haechan berkali-kali sebelum ditepis oleh Dooyoung.
Haechan menatap Taeyong, mengamati pahatan sempurna di hadapannya. "Ahjussi cantik sekali…." Bisiknya lirih namun masih bisa didengar oleh yang bersangkutan.
"Cantik kepalamu…. Aku laki-laki bocah!"
Semua orang yang ada disitu tertawa, Dooyoung bahkan sampai terbungkuk-bungkuk. Taeyong merengut sebal. Haechan bukan orang pertama yang mengatainya cantik, tapi ia laki-laki tulen. Ia tentu lebih senang dibilang tampan daripada cantik.
Haechan meringis kecil, ia reflex berkata seperti itu. Jika sahabat Dooyoung ahjussi itu seorang idol, mungkin Haechan akan menjadi fans nomor satunya.
"Haechan –ah… Perkenalkan ini sahabat ahjussi…." Dooyoung yang sudah selesai menertawai Taeyong berucap "Ini Taeyong ahjussi…" tunjuknya pada Taeyong "dan ini adalah Jaehyun ahjussi"
"Senang bertemu denganmu Haechan –ah" Jaehyun tersenyum memperlihatkan lesung pipinya.
Haechan mengangguk kikuk. Ia masih tidak terbiasa dengan keberadaan orang baru. Ia selama ini memang jarang berkenalan dengan sahabat-sahabat orang tuanya. Jadi ia tidak tahu harus bersikap bagaimana jika dihadapkan dengan situasi yang seperti ini.
"Yo! Dooyoung Ahjussi….."
Seruan seseorang membuat Dooyoung menoleh. Ia tertawa kecil melihat Mark yang baru datang.
"Kau apakan rambutmu itu, eoh?" tanya Taeil. Seingatnya, seminggu yang lalu rambut Mark masih berwarna pirang, sekarang sudah berganti warna saja.
"This is swag ahjussi~~" balas Mark. Anak laki-laki itu mengernyit saat menyadari ada sosok baru yang tidak dikenalnya.
Ibunya mengajarkan untuk bersikap sopan pada siapapun. Maka Mark mengulurkan tangan pada anak laki-laki itu, bermaksud mengajaknya berkenalan.
"Mark."
Haechan menyambut uluran tangan Mark. "Haechan" balasnya singkat.
Keduanya terdiam sesaat sebelum ucapan anak laki-laki bernama Mark itu seperti menabuh genderang perang bagi Haechan.
"Kulitmu hitam sekali" kata Mark.
Perempatan imajiner muncul di dahi Haechan. "Rambutmu seperti ramyeon kalau kau mau tahu" balas Haechan. Ia menatap Mark tidak suka.
Giliran Mark yang mendengus sebal "Kau mau kubelikan lulur supaya bisa melunturkan warna hitam itu?"
"Rambutmu seperti diberi bubuk cabai… Aku bahkan sekarang berpikir rambutmu seperti bulu kambing. Menggelikan…."
"Boys….." lerai Dooyoung. Ia bingung melihat keduanya yang tiba-tiba saja melontarkan ejekan satu sama lain.
"Kau yang ketinggalan jaman. This is SWAG bocah…." Mark mengabaikan Jaehyun yang kini mencubiti pantatnya. Ia balas mengejek anak bernama Haechan itu.
"Aku bukan bocah. Umurku enam belas kalau kau tidak tahu"
"Cih! Aku tujuh belas. Mau bilang apa kau sekarang?"
"Aku benci padamu"
"Aku lebih membencimu"
Dooyoung menepuk kepalanya frustasi. Taeil dan Jaehyun menghembuskan nafas lelah. Hanya Taeyong yang menatap keduanya penuh binar.
Lucunya~~
.
.
HURT ME
.
.
Menjelang malam, keluarga Jung baru saja pamit untuk pulang. Haechan membantu menata ruang tamu dan ruang makan yang berantakan. Ia senang hari ini, Taeyong dan Jaehyun ahjussi adalah orang yang menyenangkan, terlepas dari anak mereka yang sangat menyebalkan. Haechan berharap bisa bertemu lagi dengan mereka.
"Haechan –ah… Istirahatlah, biarkan aku yang mencuci piring-piring itu"
Haechan menggeleng "Tidak perlu ahjussi. Aku terbiasa mencuci piring jika dirumah." Jawabnya. Ia memasukkan sisa-sisa makanan ke dalam tempat sampah.
Ia mulai menyabun piring-piring kotor, membilasnya dengan air bersih dan menatanya satu persatu diatas rak piring. Satu piring lagi maka pekerjaannya selesai. Haechan mengambil piring tersebut namun sesuatu yang tidak terduga terjadi.
PRANGG
Piring berwarna putih itu pecah berkeping-keping. Tangan yang licin menjadi penyebabnya.
Haechan gemetaran. Rasa takut tiba-tiba menyergap dadanya. Netranya menatap kosong pecahan-pecahan kaca dibawah kakinya. Perlahan ia berjongkok, dengan tangan yang bergetar diraupnya pecahan tajam itu, mengabaikan darah yang mulai menetes dari telapak tangannya.
"Haechan –ah… Ada apa?" tanya Dooyoung. Laki-laki itu berlari tergesa-gesa saat mendengar suara benda pecah dari dapur.
Mata bulat Dooyoung membelalak lebar. "Ya Tuhan… Apa yang kau lakukan Haechan –ah?" tanyanya saat melihat Haechan menggenggam pecahan piring.
Haechan semakin ketakutan. Ia kembali meraup sisa-sisa pecahan yang tertinggal, kembali menggenggamnya erat berusaha untuk menyembunyikannya dari Dooyoung.
"M –maaf….." bibir Haechan bergetar. Air mata perlahan berlomba-lomba untuk keluar dari mata hitam itu.
"Maafkan aku…." Bisiknya lagi.
Dooyoung menangis. Ia meraba dahi Haechan, dokter bilang demam bisa menyebabkan seseorang bertingkah diluar kesadaran. Suhu tubuh Haechan tidaklah panas, namun sangat dingin dengan keringat yang membanjiri keningnya.
"Tidak apa-apa…. Ahjussi tidak akan marah hanya karena kau memecahkan piring" Dooyoung berucap dengan sengguk kecil. Ia berusaha melepaskan genggaman tangan Haechan. Darah sudah membasahi lantai, menggenang begitu banyak.
"Maafkan aku eommonim…"
Lagi-lagi jantung Dooyoung seperti ditikam oleh pisau tak kasat mata. Haechan yang memandangnya penuh luka dan rasa takut adalah hal yang tidak pernah ingin ia lihat.
Luka seperti apa yang diciptakan seseorang yang Haechan panggil dengan eommonim itu hingga ia seringkali ketakutan dan bertingkah diluar kesadaran jika melakukan sebuah kesalahan.
Dooyoung ingin menjadi egois, ia ingin merebut Haechan dari keluarganya. Jika mereka tidak bisa menyayangi anak itu sepenuh hati, maka ia yang akan melakukannya.
"Eomma…." Kata Dooyoung. Ia mengelus pipi Haechan lembut. "Panggil aku eomma Haechan –ah"
"E –eomma…." Bisik Haechan lirih. Ia melepaskan genggamannya dan mengusap air mata yang membasahi wajah Dooyoung. "Maafkan aku karena memecahkan piring ini" tambahnya masih dengan isakan yang melukai hati Dooyoung.
Dooyoung meringis kecil, pecahan kaca yang menancap di telapak tangan Haechan menggores kulitnya ketika anak itu mengusap wajahnya. Ia mengambil kedua telapak tangan Haechan yang telah berubah sempurna menjadi warna merah.
"Eomma tidak marah… Itu hanya piring….." ucap Dooyoung. "Jangan bertindak seperti ini lagi….. Eomma sedih melihatnya"
.
.
HURT ME
.
.
"Sudah kau temukan belum anak sialan itu?"
Ten menendang anak buahnya yang bersujud di bawah kakinya. Ia hampir menendangnya untuk yang kedua kali sebelum Yuta meraih pinggangnya dan membawanya menjauh.
"Tenanglah Ten…. Aku sudah tahu keberadaan anak itu." Ucap Yuta sambil memberi kecupan kupu-kupu di bibir istrinya.
"Kalau sudah tahu kenapa tidak menyeretnya kembali kesini."
Yuta terkekeh melihat Ten yang merajuk. "Biarkan saja dia bersenang-senang sebentar. Kau tahu dia tidak akan bisa merasakannya lagi setelah ini"
Ten mendengus, ia memeluk Yuta dan menyembunyikan wajahnya diceruk sang dominan. "Aku hanya ingin Jaemin segera sembuh" bisiknya lirih.
"Jaemin pasti sembuh. Tapi kau tahu sendiri kan, dokter tidak akan melakukan operasi jika keduanya belum berumur tujuh belas." Yuta mengecupi puncak kepala Ten.
"Tunggulah sebentar lagi sayang"
Bagiku JAEYONG-MARK itu Family Goal Banget
Kalau Haechan masih rada bingung sih enaknya jadi anak siapa. Dia deket sama abah Yuta, tapi deket juga sama Mama Dooyoung. Apalagi foto-foto mereka bertebaran sekarang. Wkwkwkwk
Oh iya, FF ini nggak dibikin buat bikin nangis orang. Maaf kalau banyak yang nangis. Di chap ini kubuat seneng2 dulu Haechannya.
Terimakasih sudah review, follow, dan fav. I love you to the moon and back
BTW jangan panggil aku thor dong. Panggil aja Chan-Chan atau Rima.
Jangan lupa review ya...
See you next chapter :3
