Naruto © Kishimoto Masashi

Lovely Girl © Haruno Aoi

Setting: AU

Warning: crack, OC, OOC, tema pasaran

Tidak suka? Terserah Anda ^^v

.

.

.

* Lovely Girl *

.

.

.

"Sasuke-kun…." Suara lembut berasal dari seseorang berambut merah sepunggung dan berjas putih khas dokter yang berdiri membelakangi ranjang putih suatu ruang kesehatan.

"Hn?" balas seorang pemuda bernama Sasuke yang berbaring telentang di tempat tidur dengan mata terpejam. Salah satu lengannya bergabung dengan bantal sebagai alas kepalanya yang ditumbuhi rambut hitam kebiruan. Ia mengenakan seragam musim semi warna gelap, lengkap dengan dasi garis-garis berikatan longgar dan blazer yang terbuka kancingnya.

Si perempuan berbicara lagi setelah menduduki kursi hitam yang masih membelakangi lawan bicaranya, "Aku akan segera dimutasi—"

"Ke mana?" sela Sasuke yang seketika membuka matanya. Ia hanya menemukan punggung kursi beroda yang memperlihatkan sedikit surai merah.

"Sebuah sekolah di Sapporo, Hokkaido."

Sasuke mengubah posisi tidurnya menjadi duduk di tepi ranjang, membiarkan kakinya—yang hanya dibungkus kaus kaki putih—menggantung di udara. Ia memandang si merah lekat-lekat dengan perasaan yang mendadak bercampur aduk, hingga mulutnya terbuka, "Karin—"

"Jam istirahat akan segera berakhir," potong pemilik nama Karin tanpa membalikkan badannya.

Hati Sasuke mencelos. "Aku akan ikut bersamamu," ujarnya mantap.

Terdengar kekehan pelan Karin. "Kau baru saja memasuki tahun ketiga di sekolah ini, jangan mempersulit dirimu."

Dalam sekian menit hanya kesunyian yang merajai, hingga dering bel terdengar nyaring.

"Mutasi…," gumam Sasuke seraya tersenyum miring setengah menyeringai. "Keh, itu pasti akal-akalanmu, kan?" Rahangnya mengeras sebelum suaranya kembali diperdengarkan. "Kau…," raut wajahnya tampak terluka ketika lidahnya terasa kelu, "hanya ingin menghindariku, kan?"

"Kembalilah ke kelas, Uchiha-kun."

Sasuke terdiam untuk beberapa saat, sampai ia memakai sepatu pantofelnya dan beranjak meninggalkan ruangan. "Kalau begitu, pergilah…," desisnya tajam sembari membuka pintu yang bercat putih, "pergi sejauh-jauhnya dari hidupku dan jangan pernah kembali lagi."

"Bye bye, Sasuke-kun…."

Kriiiiiing! Kriiiiiiiiing!

Mata Sasuke perlahan terbuka bersamaan dengan suara beker yang semakin nyaring. Sepertinya kemarin ia lupa menonaktifkan alarm yang setiap harinya terjadwal secara otomatis. Masih tengkurap dan setengah terpejam, tangan kanannya menggapai udara hingga meraba pembuat berisik yang ada di atas meja samping tempat tidur.

Pesta pertunangannya semalam benar-benar membuatnya harus beristirahat ekstra dan sementara waktu tidak pergi ke kantor. Lagipula rapat dewan direksi dan komisaris sudah ia tunda sampai besok, sehingga hari ini ia bisa tidur sepuasnya.

Karena tak juga menemukan tombol untuk menghentikan si pemecah kesunyian di pagi hari, ia membanting jam pemberian ibunya itu tanpa ampun.

"Aduh!"

Suara yang berbeda dari dering jam beker memaksa Sasuke untuk membuka matanya lebih lebar. Ia mengerjapkan matanya yang beriris hitam sampai tampak sesosok mungil yang sedang berjongkok. Setelah menyadari siapa bocah berambut merah kehitaman itu, ia mendelik tajam.

"Kenapa kau ada di kamarku?" desisnya.

Yume masih berjongkok dan meringis. Salah satu tangannya mengelus kaki kirinya yang berada paling dekat dengan bangkai jam beker.

"Kau tuli?" Suara Sasuke meninggi. Melihat air bening yang berkumpul di pelupuk mata Yume, ia memalingkan wajahnya ke sisi sebaliknya dan mengibaskan tangan kanannya sebagai tanda usiran. Sayup-sayup ia mendengar suara isakan lirih yang semakin menghilang. Saat ia kembali menolehkan kepalanya, ia hanya menemukan pintu putih kamarnya yang setengah terbuka.

~ooo~

"Kau kelaparan?" Mikoto terkikik geli menghampiri Sasuke yang menyantap sarapan menjelang siang di salah satu kursi meja makan. Putra bungsunya itu mengambil selembar roti tawar lagi dan mengolesinya dengan selai cokelat kacang, setelah menghabiskan yang sebelumnya. "Sebaiknya kau makan nasi…," imbuhnya sembari duduk di sebelah Sasuke.

"Aku sedang tidak ingin makan nasi," ujar Sasuke sebelum menggigit roti selainya.

Mikoto tertawa kecil sambil mengelus punggung Sasuke, seraya menggumam pelan, "Dasar…."

Sementara Sasuke masih menikmati makanannya, Mikoto beranjak ke meja dapur yang berada di ruangan yang sama. Ia menyeduhkan teh tawar untuk Sasuke dan kembali ke meja makan tidak lama kemudian.

"Sepertinya ayahmu sudah menyayangi Yume-chan."

Kegiatan Sasuke terhenti sejenak. Ia hanya melayangkan tatapan tidak suka pada ibunya, lalu melahap potongan terakhir rotinya. Lelaki berambut raven itu tidak habis pikir, bocah perempuan yang sejak semalam mengaku sebagai anaknya begitu mudah merebut hati anggota keluarganya.

Mereka bahkan tidak memedulikan status Yume. Meskipun balita itu bukan putri Sasuke, Mikoto yang sangat menyukai anak-anak telah berujar akan merawat bocah tersebut. Setidaknya sampai menemukan anggota keluarga Yume yang dapat dihubunginya untuk mendapatkan kejelasan.

"Maklumlah, diam-diam ayahmu memang menginginkan anak perempuan." Mikoto duduk di tempat semula setelah meletakkan secangkir teh buatannya di dekat Sasuke. "Sekarang dia sedang menemani ayahmu di gazebo."

"Apa peduliku?" sahut Sasuke sinis.

Mikoto tersenyum maklum. "Bagaimana jika Yume-chan benar-benar putri dari Karin yang kau kenal?"

Tiba-tiba Sasuke merasa tidak nyaman. Jantungnya menciptakan debaran yang berbeda, namun juga terasa perih pada waktu bersamaan. Perempuan yang selama ini ingin dilupakannya, kini kembali menghantuinya sejak kehadiran bocah yang mengaku sebagai putrinya.

Setelah diberondong berbagai pertanyaan oleh anggota keluarga Uchiha layaknya interogasi seorang tersangka, semalam Yume menjawab bahwa ibunya bernama Karin. Betapa terkejutnya Sasuke saat mendengar kembali nama itu meluncur dari mulut seorang balita yang menuduhnya sebagai seorang papa.

Memang ada kemungkinan waktu itu Karin meninggalkannya dalam keadaan berbadan dua. Karena Karin memikirkan masa depannya, maka mungkin saja dokter sekolah itu lebih memilih untuk menghindarinya daripada menghancurkannya yang pada saat itu masih berstatus sebagai seorang siswa.

Tidak, semua itu tidaklah benar. Perempuan itu mengambil keputusan untuk menjauhinya gara-gara perbedaan usia yang terkadang memang meresahkan. Sasuke menyadari kalau Karin sering merasa tertekan karena menjadi pihak yang lebih tua lima tahun darinya. Pasti penyebabnya adalah perbedaan tersebut.

Tetapi, jika benar Yume adalah putrinya yang dilahirkan oleh Karin, mengapa bocah itu baru muncul di malam pertunangannya? Jika Karin berniat mencampakkan buah cintanya, mengapa tidak sejak bayi Yume ditinggalkan di depan pintu rumahnya seperti yang pernah ada pada dorama kesayangan ibunya? Apa mungkin Karin berusaha menghancurkan pertunangannya? Bukankah dulu perempuan berambut merah itu yang memutuskan untuk meninggalkannya? Mungkinkah sekarang Karin merasa menyesal dan ingin kembali menjalin hubungan dengannya?

Sasuke mencoba menolak segala asumsinya. Ia terus saja menyangkal bahwa saat itu Karin berpeluang untuk hamil, mengandung benihnya. Dan juga, apa Karin yang dimaksud oleh Yume memang benar-benar perempuan yang dikenalnya? Sasuke sedang tidak ingin terlalu memikirkannya, apalagi dalam suasana hati yang kurang mendukung.

"Kuperhatikan, Yume-chan memang mirip denganmu," kata Mikoto seraya menyunggingkan senyum lembut, "Andai rambutnya juga hitam, pasti lebih mirip lagi."

Sasuke yang mengelap tangannya menggunakan tissue, mendadak mendengus kesal. Kemudian ia memasang tampang tak acuh sembari menyesap teh panasnya pelan-pelan.

"Oh, iya, kau pasti belum tahu kalau kaki Yume-chan terluka."

Lawan bicara Mikoto hampir tersedak tehnya yang tanpa gula.

"Untung saja tadi pagi sudah diobati Hinata," lanjut Mikoto seraya menghela napas, "Tapi, dia tidak mau memberitahuku tentang penyebab luka di kaki kirinya. Apa karena masih merasa canggung denganku, ya?"

Sasuke tetap bungkam dan menyesap tehnya hingga tandas.

~ooo~

Tak tahu mengapa Sasuke tertarik untuk mengintip gazebo yang didirikan di halaman belakang rumah. Dari balik tirai berserat tipis yang menjadi pemanis pintu kaca menuju ke sana, Sasuke mengamati Yume yang sedang duduk berselonjor kaki. Anak itu terlihat sangat bahagia melemparkan makanan ikan ke kolam koi yang berada di samping gazebo yang teduh.

Kolam itu memiliki semacam kanopi dan heater, jadi ikan-ikan koi keluarga Uchiha tidak melakukan hibernasi pada musim dingin seperti beberapa ikan lainnya. Kolamnya juga memiliki kedalaman yang lebih besar dibandingkan kolam di daerah tropis, jadi air serta ikannya tidak akan beku pada musim ini.

Biasanya sebelum musim dingin tiba, Fugaku memindahkan ikan peliharaannya ke kolam indoor, tapi untuk tahun ini ia belum sempat melaksanakannya. Mungkin juga disebabkan kesibukannya yang ikut serta menyiapkan pesta pertunangan putra bungsunya.

Senyum lebar Yume berubah menjadi tawa lepas kala Fugaku meraup makanan ikan yang mengisi wadah yang dipangkunya. Keduanya sudah seperti pasangan cucu dan kakek yang kompak. Bahkan Fugaku juga merapatkan mantel musim dingin Yume yang terbuka kancingnya karena anak itu terlalu aktif bergerak. Sejauh yang diketahui oleh Sasuke, ayahnya tidak mudah akrab dengan seseorang.

Sasuke menghela napas panjang setelah melihat telapak kaki kiri Yume yang dililit perban dan belum bisa mengenakan alas seperti kaki yang satunya. Jangan-jangan penyebabnya adalah jam beker yang tadi pagi dibantingnya. Tapi, siapa suruh bocah itu masuk ke kamar tidurnya tanpa izin. Dan, memangnya apa tujuan Yume memasuki kamarnya?

Dari celah pintu, ia masih bisa mendengar semilir suara Fugaku dan Yume yang saling bersahutan di sela-sela tawa mereka.

"Yume sudah sekolah?"

Balita cantik itu mengangguk cepat disertai senyum senang. "Kalau Mama kerja, Yume bermain di hoikuen. Setelah liburan nanti, Yume sudah masuk youchien," ujarnya riang dan dibalas tawa pelan Fugaku.

Bersamaan dengan telapak tangan Fugaku yang membelai lembut kepala Yume, Sasuke sedikit terperanjat mendapatkan tepukan pelan di pundaknya. Ia menoleh dan menemukan Mikoto yang tengah memajang senyum.

"Kenapa kau hanya berdiri di sini? Sepertinya akan lebih seru kalau bergabung bersama mereka."

Sasuke melengos dan berlalu meninggalkan ibunya, yang sesaat setelahnya menggeleng pelan melihat tingkahnya.

~ooo~

Sasuke kurang menikmati makan malam pertamanya dengan bertambahnya Yume di meja makan. Tidak biasanya keluarganya sedikit berbincang di kala makan, dan penyebabnya adalah bocah berambut merah kehitaman itu. Sasuke sama sekali tak menyembunyikan rasa tidak sukanya pada Yume yang sedari tadi berusaha mengajaknya bicara, namun tak sekalipun ditanggapinya. Entah apa yang membuat hatinya menjadi sekeras batu, sehingga tega mengabaikan bocah lucu seperti Yume.

"Kapan kau pulang?"

Sasuke mendapatkan delikan tajam dari ayah dan ibunya akibat sahutannya. Itachi dan Hinata yang juga makan di meja yang sama, turut merasakan atmosfer kecanggungan yang secara mendadak menyelimuti ruangan. Layaknya orang yang tak pernah memedulikan sekitarnya, Sasuke memasang tampang cuek dan meneruskan menyantap makan malamnya.

"Yume ingin bersama orang yang disayangi Mama."

Sasuke menelan makanan di mulutnya dengan paksa. Setelah itu, ia merasa seperti ada cengkraman tangan yang mencekik lehernya. Tenggorokannya tercekat, lidahnya kelu bak bertulang. Bahkan anggota keluarga yang lain tak mampu berkata-kata melihat Yume mengatakannya disertai senyuman. Walaupun begitu, para orang dewasa minus Sasuke dapat menemukan guratan kesedihan di wajah Yume yang selalu dihiasi senyum maupun tawa.

~ooo~

Baru pagi ini Sasuke mengalaminya. Ada seorang bocah yang berdiri di dekat mobilnya yang terparkir untuk mengantarkan kepergiannya ke kantor. Tentu saja ia belum menemukan kata-kata untuk mendeskripsikan perasaannya saat ini, karena sebelumnya ia tak pernah berandai-andai memiliki seorang putri lima tahunan di usinya yang ke dua puluh tiga. Bahkan di usinya saat ini, belum sekali pun terlintas keinginan untuk memperoleh keturunan.

Sasuke adalah seorang workaholic yang terkadang lupa daratan. Sebelum bertunangan ia sering diterjang kabar miring yang menyebutkan bahwa ia adalah seorang gay. Pertunangannya dengan Ino menggugurkan segala tuduhan tak masuk akal atas dirinya, yang lebih sering menimbulkan keresahan bagi anggota keluarganya. Entah bagaimana tanggapan tunangannya bila mengetahui tentang Yume. Ia sangsi perempuan berambut pirang itu bersedia menjadi ibu dari Yume. Lagipula, belum tentu Yume adalah darah dagingnya.

"Bye bye, Sasuke-kun!" seru Yume seraya tersenyum lebar dan melambaikan tangannya dengan semangat.

Seperti déjà vu, dan seketika membuat hati Sasuke mencelos. Langkahnya sempat terhenti, tak jauh dari mobil hitamnya yang mengilat. Tanpa membalas pandangan antusias Yume, ia mendecih pelan dan memasuki mobilnya tak lama kemudian.

~ooo~

Dalam rapat yang dihadiri oleh dewan direksi dan komisaris, diputuskan bahwa perusahaan fashion yang dikelola Sasuke menambahkan seorang model lagi yang akan berdampingan dengan sang ikon sebelumnya. Mulai promosi musim semi nanti, Yamanaka Ino akan berpose bersama seorang model yang sedang naik daun, Uzumaki Naruto. Dari profilnya, Naruto diketahui sebagai anak bungsu dari dua bersaudara.

Naruto dianggap eksotis karena kulitnya yang berwarna tan. Ia juga mempunyai image boy next door yang sesuai dengan tema musim panas yang tahun ini diusung oleh perusahaan itu. Dewan direksi dan komisaris sudah memutuskan bahwa Naruto akan sangat cocok merepresentasikan produk dari perusahaan fashion yang merupakan bagian dari Uchiha group tersebut. Bahkan sudah direncanakan untuk melakukan pemotretan di sebuah pantai Los Angeles, padahal sekarang masih musim dingin.

Selama rapat, diam-diam Sasuke memperhatikan Ino yang pandangannya lebih sering terpaku ke bawah. Sasuke tidak tahu kalau tatapan nanar Ino disebabkan sederetan kata-kata yang tampak di layar ponsel dalam genggamannya. Ia juga belum tahu tentang teror yang diterima Ino sejak bertunangan dengannya.

Sudah beberapa kali Ino menerima pesan singkat atau surat elektronik yang berisi teror, tapi ia tak berani memberitahu Sasuke karena ia tak ingin tunangannya itu merasakan kecemasan yang sama dengannya. Apa mungkin semua itu adalah perbuatan fangirls yang tak merestui hubungan Ino dengan Sasuke? Nomor dan alamat email yang masuk ke ponselnya memang berubah-ubah, tapi entah mengapa Ino yakin kalau si pengirim hanya satu orang, ditilik dari gaya bahasa yang digunakan.

Kalau saja Ino lupa jika sedang berada di ruang rapat perusahaan Uchiha, ia tidak perlu membendung tangisannya. Matanya sudah berkaca-kaca. Jemarinya yang gemetaran menekan salah satu tombol ponselnya untuk menutup tampilan berisi rangkaian kata yang buruk tersebut.

"Kau baik-baik saja?" tanya Sasuke ketika keluar dari ruang rapat.

Ino yang berjalan di sampingnya menghela napas putus asa. "Tentu saja…." Senyumnya mengembang namun terlihat paksa, apalagi perkataannya seolah sengaja diputusnya.

"Kau akan langsung pulang?" Sasuke bertanya lagi, "Perlu kuantar?"

Sekali lagi perempuan yang berpenampilan sangat sophisticated itu tersenyum, kali ini disertai gelengan kepala yang samar.

"Kalau begitu, hati-hati."

Sasuke baru kembali ke ruangan pribadinya setelah memastikan bahwa Ino telah masuk ke lift yang menuju lantai dasar. Sesudah menduduki kursinya yang nyaman, ia menyalakan laptop dan membuka sebuah folder di flashdisk yang memuat data desain produk terbaru perusahaannya.

Wajahnya tampak penuh konsentrasi. Ia juga menonton rekaman fashion show terakhir Ino sebelum hari pertunangannya. Ino dan beberapa model lokal lainnya tampak luwes melintasi catwalk untuk memperagakan beragam busana yang diproduksi perusahaan fashion miliknya. Sasuke menghela napas pelan bersamaan dengan gerakan jemarinya yang bergerak mematikan laptop.

Ino memang peragawati profesional. Sebagai seorang direktur utama yang berusaha profesional juga, mulai saat ini Sasuke harus rela melihat Ino berpose dengan seorang pria selain dirinya.

Lama-lama Sasuke merasa bosan hanya duduk berdiam diri di ruangannya. Mungkin sebaiknya ia pulang ke rumah karena tak ada lagi meeting untuk hari ini. Tapi jika ia pulang, ia pasti akan melihat bocah perempuan itu lagi. Bukannya ia membenci Yume, ia hanya merasa belum siap menerima kehadiran balita itu.

Sebelum beranjak, perhatian Sasuke terenggut oleh celah tasnya yang belum menutup sepenuhnya. Ia semakin memicingkan matanya melihat semacam cahaya yang berubah warna muncul dari dalamnya. Karena tadi ia menyuruh sekretarisnya untuk mengeluarkan beberapa dokumen menggantikan dirinya, ia belum tahu apa yang mengisi tasnya setelah terakhir kali mengeceknya kemarin. Tangannya meraih tas hitam itu dan membukanya perlahan.

Mata Sasuke terbelalak menemukan sebuah lampu tidur berbentuk bunga teratai yang mengeluarkan cahaya yang dapat berubah warna setiap sekian detiknya. Jantungnya bergemuruh bising, dan seolah mampu menulikan pendengarannya. Lampu berbentuk indah itu tak lebih besar dari kepalan tangannya, tapi sanggup memunculkan suatu kenangan ke permukaan. Pandangannya mendadak memburam dan tangannya terasa kebas.

"Kau tahu kalau aku suka teratai?" Mata Karin berbinar bahagia setelah melihat isi kotak kecil yang baru saja diberikan oleh Sasuke.

"Aku juga sudah menyukainya."

"Kenapa?" Karin bertanya dengan antusias.

Pemuda berseragam musim dingin lengkap dengan sweater biru gelap itu menunjukkan sebuah buku di tangannya untuk menjawab pertanyaan Karin. The Lotus in the Buddhist Art of India oleh Dr Teoh Eng Soon. Begitulah rangkaian kata yang tertangkap indera penglihatan Karin yang terhalangi kaca mata berbingkai agak tebal.

"Kau membelinya?" tanya Karin.

"Sai meminjamkannya padaku," jawab Sasuke yang selanjutnya membaca ringkasan yang diambil oleh penulisnya, "Setiap bunga yang bersih dan tidak ternoda muncul dari air yang kotor dan hitam mengingatkan bahwa orang kota dan desa yang bagaimanapun suramnya saat ini, selalu ada harapan di masa datang."

Karin tersenyum simpul. "Tidakkah kau merasa aku mirip dengan bunga teratai bila bersamamu?"

Sasuke beranjak dari ranjang putih ruang kesehatan dan meraih sebuah kursi agar bisa duduk di sebelah Karin. Ia ingin lebih menyimak apa yang akan dikatakan oleh perempuan berambut merah itu.

"Aku bisa mempunyai yume karenamu…." Karin mengembangkan senyumnya sebelum menghindari tatapan lamat-lamat Sasuke kepadanya. "Di mataku, kau tampak cuek di permukaan, tapi sebenarnya kau adalah tipe orang yang peduli," ujarnya pelan hampir menyerupai bisikan.

"Kau mengatakannya bukan karena ingin mendapatkan hadiah yang lebih baik, kan?"

Karin menoleh dengan alis sedikit terangkat. "Apa aku tampak seperti seorang penjilat?

Sasuke tersenyum miring. "Perkataanku menyakiti hatimu?"

Perempuan beriris merah itu kembali mengembangkan senyum sambil menggelengkan kepalanya. "Sesering dan sebanyak apapun kau berusaha menyakitiku, aku tak akan pernah merasa tersakiti olehmu…."

Ada saat dimana Sasuke pernah kehilangan harapan, kehilangan mimpi, juga semangat. Ia bahkan hampir menyerah dalam perjuangannya di dunia. Penyebabnya hanya satu, penyebabnya hanya seseorang yang memenuhi hatinya pada saat itu. Tetapi, waktu itu ia sungguh bodoh dan sangat kekanakan. Bukannya menahan kepergiannya, ia malah mengusirnya dengan begitu kejam. Saat itu, ia membiarkan egonya menang, karena seorang Uchiha seperti dirinya tidak akan menurunkan harga dirinya untuk menjilat ludahnya sendiri. Namun, ia harus mengakui bahwa setelahnya ia menyesal, sangat menyesal.

"Karin…," gumamnya pilu mewakili kerinduan mendalam terhadap sosok yang tak berada di sisinya sejak sekitar enam tahun yang lalu.

~ooo~

Tadi Sasuke pulang dari kantor menjelang makan malam. Seusai membersihkan diri, saat ini ia sudah bergabung dengan empat anggota keluarganya yang lain. Tapi ia masih merasa kurang karena Yume tak juga menempati kursi di sebelah Hinata. Jangan-jangan Yume sudah tidur.

Di tengah kegiatan makannya, pandangan Sasuke menjelajah seisi ruangan. Mungkin saja Yume sedang bermain petak umpet dan ia tidak ingin tersedak akibat terkejut jika sewaktu-waktu bocah itu muncul. Sesekali ia melihat ke arah pintu, sedikit berharap seorang balita berjalan mendekat dengan senyuman lebar beserta seekor boneka beruang teddy coklat dalam pelukan.

Sasuke menyapukan pandangan penuh tanya ke anggota keluarganya secara bergantian. Namun mereka tak merasa risih dan terus menikmati santap malamnya dalam diam. Tak biasanya juga ia tidak mendapatkan sapaan ringan dari ibu atau kakaknya sejak menginjakkan kaki di rumahnya.

"Apa kalian tidak merasa ada yang kurang?" Sasuke nekat mengeluarkan suaranya, mengabaikan harga dirinya yang terlalu tinggi.

Dilihatnya, Hinata yang duduk di seberangnya membalas tatapannya untuk sejenak seperti ingin menyampaikan sesuatu, namun tak bisa. Saat kakak iparnya itu kembali menunduk, ia mengalihkan pandangannya ke arah Itachi yang tampak seolah tak pernah mendengarkan pertanyaannya. Karena ibunya yang duduk di sebelahnya juga tak terlihat hendak menyumbangkan suara, ia menuntut jawaban dari ayahnya.

"Yume sudah meninggalkan rumah ini."

Sasuke terperangah mendengar pernyataan ayahnya. Mengapa? Ia ingin melontarkan satu kata tanya itu, tapi lidahnya terasa sulit untuk digerakkan. Tenggorokannya terasa terganjal oleh sesuatu yang membuatnya tak nyaman.

"Itachi dan Hinata sudah berusaha mencarinya, tapi hasilnya nihil," Fugaku menambahkan.

Sasuke sempat membuka tutup mulutnya tanpa suara sebelum ia sanggup melontarkan pertanyaannya dengan suara sedikit meninggi, "Kenapa kalian tidak memberitahuku sejak tadi?" Sekarang ia sungguh merasa seperti orang bodoh. "Kenapa kalian tidak langsung meminta bantuan kepada polisi?" Kali ini ia berdiri dan tangan kokohnya menggebrak meja makan yang berbahan kayu.

"Memangnya kau sudah siap menerima segala konsekuensinya bila status Yume diketahui oleh publik?" sahut Itachi.

Sasuke tersenyum miris dengan tatapan nanar.

"Aku kira Yume-chan bukan urusanmu…," sahut Mikoto.

Sasuke berjalan meninggalkan ruang makan dengan perasaan campur aduk. Ia kembali ke kamarnya di lantai dua dan berusaha sekuat tenaga untuk tidak membanting pintunya. Pandangan sayunya mengarah pada lampu tidur yang menggantikan posisi jam bekernya.

Tak lama kemudian ia menyeret langkah beratnya mendekati pintu kaca menuju balkon. Salju sedang turun dengan cukup lebat. Kemanakah perginya anak seusia Yume di tengah hujan salju seperti malam ini? Bukankah Yume masih berjalan dengan sedikit terpincang karena salah satu kakinya terluka?

Sasuke menerawang keadaan di luar kamarnya dengan lesu. Entah mengapa rasa yang tak asing kembali menelusup ke dalam relung hatinya. Suatu penyesalan, perasaan bersalah sekaligus kerinduan yang mendalam, juga ada kesedihan yang seolah sanggup meremas-remas hatinya. Dulu ia pernah merasakannya setelah Karin pergi meninggalkannya. Sungguh ia tak ingin merasakannya lagi.

.

.

.

Go koui, arigatou gozaimashita:

Melody Valentine, B2UTY, Lollytha-chan, YamanakaemO (Sebenarnya aku juga kurang rela kalau Itachi sama selain Yuugao *crack banget, ya?* ^^), Vipris (Boleh, boleh. Jangan senpai, ya ^^), Mrs. Tweety, Vytachi W. F, OraRi HinaRa (Iya, aku cinta *?* Narimiya Hiroki. Dia multitalenta dan terlihat sangat natural *di mataku* cool banget waktu meranin Kanzaki Jun. Menurutku, dia cocok jadi Naruto versi orang—*stop* takutnya ntar halaman ini penuh tulisan tentang Hiroki, haha ^^), FYLIN, the alchemist

Terima kasih banyak semuanya. Terima kasih juga silent readers….

Note:

Hoikuen = sebelum TK *kalau di Indo mungkin semacam PG, ya?* biasanya menjadi semacam tempat penitipan untuk anak yang ibunya tergolong orang sibuk

Youchien = TK

Kata seorang teman yang mempelajari budaya Jepang dan mendengarkan pengalaman dosennya selama di Jepang *thanks to Miss Japanese* PG atau TK di Jepang beda dengan di Indo. Tidak ada istilah belajar di houkien maupun youchien. Biasanya guru-gurunya tidak pernah mengucapkan kata 'belajar', mereka hanya mengajak anak-anak didik mereka untuk 'bermain'. Katanya, mereka baru belajar macam-macam jika sudah masuk SD.

"Sesering dan sebanyak apapun kau berusaha menyakitiku, aku tak akan pernah merasa tersakiti olehmu."

Tentang kalimat lebay di atas, aku merasa Karin seperti itu di animanganya. Sesering dan sebanyak apapun Sasuke menyakitinya, Karin tidak pernah merasa tersakiti, apalagi membencinya. Pasti Karin masih cinta Sasuke walau hampir mati karenanya. Haha, sok tahu. Tapi boleh kan berpendapat? ^^v

Makin membosankan? Makin gaje? ==a

REVIEW, ya…. ^^