Disclaimer: J. K. Rowling

-oOo-

Theo nyaris menggotongku ke kamar mandi pagi ini.

Bukan salahku ia datang pagi-pagi ke rumah—jam enam pagi, bayangkan!—dan langsung menyeruak masuk ke kamarku sebelum dipersilahkan, mengganggu tidurku yang berharga. Dengan brutal dan tanpa perasaan, ia mengguncangku—membuatku nyaris jatuh dari tempat tidur. Masih setengah sadar, samar-samar aku mendengar ia mengoceh tentang 'memperbaiki penampilan' dan 'bangun lebih pagi dari ayam berkokok'. Aku masih berusaha kembali ke tidur nyenyakku sebelum ia setengah-mengangangkat setengah-menyeret kakiku ke arah kamar mandi.

"Theo!" gertakku. "Berhenti menyeret-nyeretku dan biarkan aku kembali tidur!"

"Tidak!" Theo balas menggertak. "Kau harus bangun, Draco! Ingat sekarang hari apa."

Masih mengantuk, aku bergumam, "Memangnya kenapa?"

"Sekarang hari Jumat, idiot!" pekik Theo tidak sabar. "Hari ini kau akan mengikuti Klub Jurnalistik seperti yang kau janjikan pada Hermione Granger!"

Mendengar nama cewek bermata coklat itu disebut, sontak aku langsung membuka mata. Kantukku menguap bersamaan dengan datangnya perasaan gelisah.

"Dan aku tak mau kau memakai kaus The Beatles-mu yang biasa," tambah Theo, melemparkan handuk ke wajahku. "Kau harus membuat Hermione Granger terpesona."

Dengan limbung aku berdiri tegak. Berhadapan dengan Theo yang mengenakan kemeja abu-abu dan jins hitam. Wajahnya sudah terlihat segar, walaupun rambut lurusnya yang tidak jelas warnanya—kadang terlihat hitam, kadang terlihat kecoklatan, kadang malah kemerahan—berantakan di atas dahinya yang berkerut.

"Ku-kurasa aku tidak akan mengikuti klub itu," gumamku lemah.

Dahi Theo berkerut makin dalam. "Dan kenapa itu?"

"Ka-ka-hmmm….." Aku tidak menemukan alasan yang tepat. Theo bukan orang bodoh dan aku bukan pembohong ulung.

Mata hijau-botol Theo menyipit. "Kalau ini tentang artikel itu—"

"Tidak!" pekikku panik. "Maksudku—tidak. Bukan karena itu."

"Kalau begitu kenapa?"

Aku memutar otak mencari alasan. Aku tidak bisa bilang pada Theo kalau satu-satunya alasan masuk akal yang kutemukan adalah karena aku tidak yakin. Apakah Hermione Granger benar-benar mengajakku, atau hanya sekedar lelucon yang diadakan teman-temannya? Sebelum ini aku belum pernah mengikuti klub-klub apa pun di sekolah. Bukan berarti aku tertarik mengikuti salah satu dari kegiatan tersebut. Hanya karena Hermion Granger yang populer mengajakku bergabung ke suatu klub yang tidak begitu sukses, kenapa aku harus menerima ajakannya?

Mata Theo tinggal segaris sekarang. "Kalau ini karena kau merasa tidak nyaman, aku bisa ikut denganmu."

Mendengar itu, sedikit bagian dari diriku rileks.

"Tapi bukan berarti kau ikut karena paksaanku. Kau ikut karena kau memang mau," tambahnya.

"Ta-tapi aku memang ti-tidak ma-mau ikut," dengkingku.

Theo mengangkat satu alis tinggi-tinggi.

"Baiklah," ujarku, menyerah. "Aku akan ikut. Tapi kau harus menemaniku."

Theo menyeringai puas. "Karena aku telah berkorban untukmu, kau harus mengikuti aturanku hari ini."

"At-aturan?" desisku panik. Imajinasiku menampilkan Theo yang sedang melipat tangan di depan dada dengan gaya superior, menyuruhku mengecup pipi Hermione Granger yang halus.

Theo memutar bola mata. "Aku tau apa yang kau pikirkan. Kuakui, aku memang sempat memikirkannya, tapi tenang, aku berubah pikiran. Aku tidak akan menyuruhmu melakukan hal konyol macam itu."

Aku memandangnya dengan gelisah.

"Kau, Draco Malfoy, akan mengubah penampilanmu," vonis Theo, membuka lemari bajuku dan menarik dengan asal salah satu kaus bergambar The Simpson yang warna hitamnya telah pudar. "Dari kaus payah dan tidak berkelas seperti ini—" dengan penuh gaya ia mengacungkan kaus itu di depan wajahku "—menjadi kemeja-kemeja keren seperti ini." Ia menunjuk bajunya sendiri.

Dengan sangsi aku bertanya, "Dari mana aku akan mendapat baju seperti itu?"

Theo mengeluarkan seringai khas yang membelah wajahnya. "Lemari pakaianku."

-oOo-

Semenjak empat hari yang lalu—tepatnya semenjak aku membaca artikel The-Most-Dashing-Boys in Hermione Granger's Opinion—dan semenjak aku membalas senyum cemerlang Hermione Granger—yang sampai saat ini sangat kusesali—aku sama sekali tak berani berhadapan dengan Hermione Granger. Bagaimana kalau Hermione Granger menganggap aku terlalu percaya diri dan freak? Hanya karena aku berada di urutan teratasnya, bukan berarti dia suka padaku kan?

Setauku, cewek-cewek cerdas jaman sekarang memilih pria bukan berdasarkan fisik, tapi otak dan mental. Mungkin nilaiku memang tinggi, tapi bukan berarti otakku oke kan? Bukankah Albert Einstein—yang disebut-sebut sebagai orang paling jenius abad ini—malah dikeluarkan dari sekolah? Bahkan Theo tidak terlalu mementingkan nilainya yang anjlok semenjak ia menjadi Kapten Voli. Nilai tidak mewakali kepintaran otak, begitu kilahnya. Seminggu yang lalu aku pasti menganggapnya tidak waras, tapi sekarang aku lebih dari sekedar setuju dengannya.

Mental? Aku mungkin adalah orang dengan mental paling payah yang pernah sekolah di Hogwarts High School. Aku tipe orang bermental tofu—kau tau kan, empuk dan gampang sekali hancur. Aku penakut, pengecut, gampang gugup, gampang gelisah, gampang terintimidasi dan gagap di waktu yang sangat tidak tepat. Aku bahkan tidak berani masuk sekolah setelah menginjak kaki penjaga sekolah kami yang sangar, Mr Hagrid. Belakangan aku tau kalau ia tidak menyadari kakinya kuinjak dan ternyata—menurut anak-anak lain—ia sangat baik hati. Hatinya sebaik dan selembut ibu peri, begitu kata salah satu anak kelas 10 berambut pirang kusam pada temannya.

Sementara fisik? Aku harus tertawa di depan wajah orang yang menyebutku six-pack. Atau mungkin marah, karena itu seperti penghinaan untukku. Aku lebih kurus dari lidi. Oke, mungkin aku sedikit berlebihan, tapi jelas tubuhku tidak seperti itu. Sama sekali tidak seperti Dean Thomas—Kapten Sepakbola sekolah kami—atau Harry Potter—Kapten Basket—atau bahkan Theo. Satu-satunya olahraga yang kulakukan sampai sekarang adalah berenang. Aku tidak pernah melihat atlet renang dengan tubuh kekar dan besar. Lagi pula, renang adalah olahraga culun. Atau mungkin renang malah bukan termasuk olahraga?

Sementara itu, aku masih tidak habis pikir bagaimana Hermione Granger menyebutku tampan. Maksudku—selain ibuku, orang yang menyebutku tampan adalah Theo. Apakah komentar tampan dari sesama cowok termasuk dalam hitungan? Ditambah dengan kacamata yang senantiasa nongkrong di batang hidungku, tanda yang selalu mengingatkan siapa saja akan cacatnya kornea mataku. Intinya, selam hidupku, hanya ada tiga orang yang menyebutku tampan: ibuku sendiri, Theodore Nott yang sinting dan Bibi Bellatrix yang sedang dalam pengaruh berat alkohol.

Tapi tetap saja, aku tak bisa melawan keinginan Theo yang banyak maunya. Dengan keras kepala ia menyuruhku mandi—mengancam bahwa ia akan masuk kamar mandi dan memastikan aku benar-benar mandi kalau aku tidak keluar dari kamar mandi dalam waktu sepuluh menit dengan rambut basah, wajah segar dan bau sabun yang menguar. Tanpa banyak tanya dan bicara, aku segera menempati kamar mandi dan ber-shower dengan gelisah.

Setelah memakai kaus dan celana seadanya, Theo menggiringku masuk ke kursi penumpang BMW hitamnya—mobil pribadi Theo yang diberikan ayahnya dengan cuma-cuma saat ulang tahunnya yang ke tujuh belas. Theo menyetir dalam diam dengan kecepatan sedang, bibirnya membentuk garis lurus dan wajahnya berkerut penuh konsentrasi. Jam di dasbor menunjukkan pukul setengah tujuh pagi, masih terlalu pagi untuk sekolah kami yang dimulai pukul delapan. Aku diam saja di tempat dudukku, meremas-remas dengan gelisah ujung kaus Superman yang telah memudar warnanya.

Theo membelokkan mobilnya dengan luwes masuk ke komplek prumahannya, Slytherin Resident. Perumahan itu memang tidak jauh dari perumahan rumahku, walaupun rumah-rumah di sini tidak semewah di perumahan rumahku, Slytherin Royal Resident. Walaupun hanya berbeda di kata tengahnya, nyatanya banyak sekali orang-orang yang keliru dengan perumahan kami. Sudah terlalu banyak kejadian ketika pengantar pizza nyasar ke komplek sebelah.

Theo memarkirkan mobilnya dengan tidak sabar di pekarangan rumahnya yang luas. Ia melompat keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Aku mengikuti dari belakang, tidak ingin terburu-buru menjadi orang lain.

Rumah Theo termasuk besar, tapi hanya sekedar 'besar'. Tak ada kehangatan sama sekali, tak ada kesan rumah yang sering ditinggali dan dirawat. Theo hanya tinggal bertiga dengan ayah dan kakak perempuannya. Ibunya sudah meninggal ketika ia masih kecil—jauh sebelum aku mengenalnya. Ayahnya seorang business man yang sibuk luar biasa dan selalu pergi keluar negeri. Kakaknya sudah bekerja di salah satu perusahaan televisi internasional, menjadi seorang reporter cantik yang sering pergi ke luar kota untuk meliput berita. Itulah yang membuat Theo sering kesepian di rumahnya.

Pada dasarnya, Theo bukanlah anak yang pendiam dan tertutup. Ia seorang remaja yang cerdas, berpengetahuan luas dan punya kharisma. Tapi kesendirianlah yang membuatnya menjadi cuek dan acuh tak acuh. Bukan berarti ia tidak bisa bergaul—seperti aku misalnya—tapi ia memang tidak mau bergaul. Entah apa alasannya. Teman ngobrol Theo memang banyak, tapi hanya sekedar 'ngobrol', tak pernah lebih.

Kamar Theo adalah satu-satunya dari bagian di rumah ini yang mempunyai kesan ditinggali dan dirawat. Kamarnya lebih rapi dari kamar cowok pada umumnya. Interiornya berwarna hijau. Bukan hijau muda dan lembut seperti kamarku, tapi hijau yang mentereng. Ranjangnya queen-size, walaupun ayahnya sudah membelikan yang ukuran king-size. Lemari bajunya terlihat rapi, meja belajarnya ditumpuki berbagai buku pelajaran yang hanya sekedar dilihat-lihat. MP3 player berada di pojok ruangan.

Theo membuka lemari pakaiannya, menelitiku sebentar, kemudian kembali sibuk dengan baju-bajunya. Sambil menunggu, aku berbaring di ranjangnya, mencoba menyambung tidurku lagi.

"Draco," panggil Theo. "Kemarilah. Dan tidak usah mencoba tidur lagi. Aku akan menyirammu dengan air sirup kalau aku benar-benar tertidur."

Setengah menggerutu, aku menghampiri Theo yang berdiri di depan lemarinya, mengangkat dua kemeja di kedua tangannya.

"Kau benar-benar harus mengganti semua kaus lusuhmu," kata Theo dengan pandangan menghina ke kaus Superman yang kupakai.

Aku mengangkat bahu. Theo memang sangat memperhatikan penampilan, apalagi di depan seorang gadis.

"Dengar, Draco," tegas Theo, jengkel dengan sikap cuekku. "Aku peduli bukan karena kau akan bertemu Hermione Granger, tapi karena akhirnya ada seorang cewek yang bersedia menawarkan sesuatu pada alien aneh sepertimu. Walaupun sesuatu itu tidak berguna dan tidak penting."

Aku mengangkat alis. "Dia hanya menawarkanku bergabung ke suatu klub."

"Nah, aku tak peduli tentang itu," sahut Theo bandel. "Yang kupedulikan adalah akhirnya. Kau. Akan. Berkencan."

Kata-kata Theo mengahantamku bagai godam raksasa. Theo mengatakannnya secara gamblang dan tanpa sensor. Rasanya aneh mendengar bahwa aku, Draco Malfoy yang culun, akan berkencan. Berkencan dengan seorang gadis cantik dan populer. Aneh dan terdengar sangat, sangat salah.

"Aku ti-tidak ber-berken-can, Theo," bantahku, lidahku bergetar ketika menyebutkan kata 'berkencan'.

"Sekarang memang tidak, tapi aku yakin Hermione Granger sebenarnya ingin sekali berkencan denganmu," balas Theo keras kepala.

"Tidak," sahutku, merasa kepalaku pusing dan lututku lemas. "Dia tidak mungkin mau. Maksudku, itu mustahil, Theo. Sangat tidak mungkin."

"Tidak usah konyol," sergah Theo. "Kau masuk dalam daftar—"

"Bagaimana kalau itu cuma lelucon?" semburku, tidak bisa menahan diri. "Bagaimana kalau Hermione Granger hanya mengada-ada saat diwawancara? Bagaimana kalau itu semua hanya isapan jempol belaka? Bagaimana kalau sebenarnya itu hanya keisengan anak-anak populer?"

Suaraku bergetar. Inilah sumber semua kegelisahanku. Hermione Granger tidak mungkin menganggapku menarik. Tidak mungkin. Tidak ada cara, tidak ada kesempatan. Tidak mungkin.

Tidak mungkin sama sekali.

Theo menatapku dengan mata hijau-botolnya. "Kau tau Hermione Granger bukan pembual—"

"Well, bagaimana kalau wawancara itu sendiri tidak pernah ada? Lihat siapa penulis artikel itu! Dia pasti dengki pada Hermione Granger karena dia populer dan berusaha untuk menghancurkan nama baiknya dengan membuat anak-anak lain percaya Hermione Granger menyukai cowok culun, cowok yang tidak bisa bicara dengan sempurna, cowok sepertiku—"

"Penulis artikel itu Lavender Brown," sela Theo tenang. "Kau tau Brown termasuk teman dekat Hermione Granger."

"Tapi itu tidak mungkin!" teriakku. "Lihatlah aku, Theo! Apa yang dilihat seorang Hermione Granger padaku? Apa yang dilihatnya?" Dadaku sesak, suaraku bergetar. "Aku tidak berguna, Theodore! Aku tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan dia, dengan teman-temannya, denganmu."

Theo diam sebentar. "Draco, aku tau kau mungkin merasa tidak nyaman ketika seseorang yang terkenal sekaligus asing menyebutmu menarik. Kau mungkin merasa semua ini lelucon. Tapi percayalah, kau punya daya tarik—"

"TIDAK!" jeritku lagi, merasakan pita suaraku lecet. "Aku sama sekali tidak menarik, Nott! Aku payah, culun, gagap, tidak bisa bergaul dan sama sekali tidak punya daya tarik! Aku tak pernah bisa memandang wajah orang lebih dari 5 detik! Kau tau itu! KAU YANG PALING TAU ITU SEMUA! Dan kau masih mengatakan semua yang kau katakan karena kau hanya tidak enak padaku—"

"Draco, kau tau itu tidak ben—"

"ITU BENAR!" teriakku lagi. "Ini hanya lelucon! Semuanya hanya lelucon! Dan akulah yang menjadi badutnya. Kau tau ini aneh, salah, tidak masuk akal. Aku tau kau tau, Nott! Kau bukan orang idiot, kau cerdas dan aku yakin bahwa kau yakin ada yang tidak beres dari ini semua. INI. HANYA. LELUCON!"

Diriku mempercayai hal ini. Aku sama sekali tidak menarik. Semua ini hanya lelucon. LELUCON. Dan aku adalah leluconnya. Selalu menjadi lelucon.

"Draco…" ujar Theo pelan, mengulurkan tangannya untuk menyentuh pundakku.

Aku menepisnya. Dengan lutut bergetar, aku menatap Theo dengan pandangan nanar. Mataku panas dan aku ingin sekali menangis.

"Bahkan aku masih ingin menangis sekarang," desisku, merasa kecewa pada diriku sendiri.

Theo tidak berkomentar. Ia terus menatapku dengan pandangan menyelidik lewat matanya yang tidak biasa. Bibirnya membukan dan menutup, tapi tak ada suara yang keluar. Aku tau, Theo pasti sedang bergulat dengan batinnya sendiri, berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk menyampaikan maksudnya tanpa membuatku meledak lagi.

Setelah beberapa detik yang menyiksa, aku berputar menuju pintu—masih dengan lutut gemetar. Aku akan pulang, semuanya akan lebih baik kalau aku menjadi diriku sendiri. Mungkin malah lebih baik kalau aku tidak datang ke klub payah itu. Dan akan jauh lebih baik kalau aku tidak pernah bicara dengan Hermione Granger.

"Aku akan pulang," gumamku pada pintu yang setengah terbuka. "Sampai ketemu di sekolah."

Aku pulang ke rumah dengan langkah tidak mantap dan perasaan kacau, bersamaan dengan tiupan angin musim gugur.

-oOo-

Aku menghindari Theo dan Hermione Granger sekaligus sepanjang hari ini.

Theo tidak berusaha mengajakku bicara. Ia tau kalau aku sedang ingin sendiri dan menghargai keputusanku yang pengecut. Berteriak dan membentaknya di rumahnya sendiri tentang sesuatu yang bahkan bukan salahnya dan menghindarinya seharian karena ia bermaksud baik padaku. Theo hanya mengawasiku dari jauh, menatapku dengan pandangan yang sulit ditebak.

Taoi ternyata itu semua tidak berlaku untuk Hermione Granger.

Dengan semua ketekunan dan keuletannya, ia berhasil mengajakku bicara saat jam makan siang. Di kafetaria, aku duduk di meja paling pojok sendirian, jauh dari perdaban dan meja yang biasa kutempati berdua dengan Theo. Dekat tempat sampah. Benar-benar cocok dengan sikapku yang pengecut.

Aku sedang menyendokkan spaghetti dan mengunyahnya dengan muram saat Hermione Granger menghampiriku, membawa nampan berisi makanan. Ia mengeluarkan senyumnya yang biasa sambil menunduk menatapku.

"Boleh aku duduk di sini?" tanyanya dengan suara jernih yang membuat darahku berdesir. Memori tentang teriakan-teriakanku di kamar Theo tadi pagi menyeruak di kepalaku.

Aku hanya mendongak sebentar dan menaikkan kacamataku dengan gugup, sekilas hanya melihat rambut coklatnya yang terurai. Setelah itu aku menunduk dalam-dalam menatap spaghetti yang tinggal separuh. Lebih tertarik memandang daging cincang daripada wajah cerah Hermione Granger.

"Kupikir kau bersama Nott," ujarnya dengan nada yang dimaksudkan untuk membuka percakapan.

Aku menggumam tidak jelas, berusaha makan tanpa melihat ke arahnya lagi.

Aku bisa merasakan tatapannya pada rambut pirang-pucat di kepalaku ketika ia membuka sandwich tuna. "Kau sedang bertengkar dengannya?" tanyanya, masih dengan nada ramah dan kasual.

Aku mengedikkan bahu, masih sambil tidak menatapnya.

"Dia kelihatan sama muramnya denganmu hari ini," suaranya terdengar melamun. Dari ujung mata aku melihat Hermione Granger memandang Theo yang duduk di meja tengah bersama Dean Thomas, Roger Davies dan beberapa cowok lainnya—meja khusus Kapten.

Aku tidak memberikan komentar.

Hermione Granger belum menyerah. "Aku tidak bermaksud sok tau, tapi apa pun alasan kalian bertengkar, kuharap kalian segera membereskannya dan kembali berdamai."

Sayang sekali, Hermione Granger tidak tau bahwa masalah kami adalah dirinya sendiri.

Tapi aku masih tidak bicara.

Hermione Granger mulai membicarakan topik yang lebih ringan. "Omong-omong, bagaimana harimu?"

Sangat buruk sekali, sahutku. Tentu hanya dalam hati.

Tembok kesabaran Hermione Granger mulai runtuh. Dengan nada yang lebih kecil dan ragu-ragu, ia mencoba lagi, "Cuacanya cerah ya. Kan?"

Aku ingin mendongak dan menatap wajahnya mendengar suaranya yang kecil dan kecewa. Tapi kepengecutanku lebih mendominasi sekarang.

"Malfoy…" gumamnya pelan, suaranya terdengar halus dan menganggu sanubariku. "Kau kenapa?"

Aku ingin menangis. Lihatlah, di usia yang sudah akan menginjak delapan belas, aku masih ingin menangis di depan umum. Di depan seorang gadis malah.

"Kau marah padaku?" tanyanya lagi, masih dengan suara kecil.

Aku tidak menjawab.

"Malfoy…" desahnya, suaranya lembut dan halus di telingaku. "Tatap aku."

Aku tersentak mendengar dua kata terakhirnya. Kata itu membuat hatiku terusik, bimbang antara terus mengacuhkannya atau menatapnya.

Hermione Granger mendesah lagi, membelai gendang telingaku. "Kumohon, Malfoy... Tatap aku…"

Tangannya yang kecil dan mulus menyentuh tanganku yang kuletakkan begitu saja di meja kafetaria. Mengirimkan aliran listrik luar biasa yang belum pernah kurasakan ke sekujur tubuhku, bahkan sampai ujung kaki.

Dengan itu, barulah aku mendongak dan langsung bertatapan dengan mata coklatnya.

Banyak orang mendiskripsikan mata coklat Hermione Granger dengan warna coklat madu. Tapi aku sama sekali tidak setuju. Matanya lebih gelap, lebih kelam dan lebih hangat. Mengingatkanku pada minuman coklat hangat yang biasa kuminum saat badai salju. Efeknya sama, memberikan kehangatan dan ketenangan. Matanya seolah menyimpan rahasia. Bukan hanya satu rahasia, melainkan sejuta rahasia. Coklatnya seakan bisa menembus jiwa dan mengobrak-abriknya dengan daya magisnya yang dahsyat.

Dan sepertinya, jiwaku sedang diobrak-abrik dengan daya magisnya.

Sangat, sangat, sangat tidak biasa.

Parahnya lagi, Hermione Granger sepertinya tidak menyadari bahwa perasaanku sudah dikacaukan olehnya. Ia malah mengulangi pertanyaannya. "Malfoy, kau—ada apa?"

Nadanya yang begitu halus menggelitikku untuk menjawab dengan jujur. Aku membalas tatapannya dan membuka mulut. "Aku—"

Tapi memori tentang artikel itu, tentang teriakan-teriakanku di kamar Theo, tentang senyuman Hermione Granger yang terlalu bersahabat, tentang asumsiku yang sedang kupercayai, kembali menyeruak di pikiranku. Semuanya menempati posisi seperti benteng, menutupi hatiku. Ditambah penyakit pengecutku yang tak pernah sembuh, aku menelan kembali semua yang siap kukeluarkan.

Spontan, aku memandang Theo yang sedang mengamati kami semua dengan tatapan tajam. Aku menatapnya, minta tolong. Theo mungkin mengerti, tapi ia tidak melakukan apa pun. Ia malah memandangku dengan tatapan menantang, seolah berkata, "Coba saja. Ceritakan pada Hermione Granger tentang pendapatmu yang tolol itu."

Diiringi tatapan menantang Theo, tatapan khawatir Hermione Granger, dukungan bagian diriku yang pengecut dan suara hatiku yang memekik-mekik protes, aku menjawab pelan, "Aku—Aku tidak apa-apa, Granger."

Mata coklat Hermione Granger yang tadi mengobrak-abrik jiwaku menyipit. Tanda bahwa ia sama sekali tidak percaya.

"Kau yakin?" tanyanya. "Karena seharian ini kuamati kau jauh dari baik-baik saja."

Aku mengangguk. Berusaha meyakinkan Hermione Granger dan diriku sendiri. Terutama diriku sendiri.

"Aku tidak apa-apa."

Mata Hermione Granger makin menyipit. Jelas sekali ia tidak percaya. Selain karena aku tidak punya bakat sama sekali dalam membual, ia juga bukan orang idiot.

"Sungguh, Granger. Percayalah padaku."

"Sebenarnya, aku tidak percaya padamu, Malfoy. Walaupun aku ingin, tapi aku tidak bisa."

Well, aku tidak bisa menyalahkannya.

-oOo-

Akhirnya! *nari poco-poco*

Terima kasih yang sudah mau review, juga yang mungkin baca tapi ngga review. Senang sekali ternyata kalian suka ide tentang Draco yang culun. Hehehe...

Ummm, review please?

DarkBlueSong