Disclaimer : Semua character disini bukan punya saya.
Warning : Alurnya gampang kebaca, flashback dimana-mana, ceritanya aba-abal tapi tetep cerita ini punya saya :P Ratednya mungkin T dulu aja, bisa berubah kapan-kapan tergantung gimana alurnya nanti.
Read and enjoy it ^^
Don't like, don't read!
"Hyuuga-san, apa yang sedang kau lakukan di taman sendirian?" Seorang pria berperawakan tinggi dengan setelan baju formal itu tengah berdiri dihadapan seorang gadis yang tengah menundukan kepalanya lesu.
Dengan gerakan cepat, gadis berambut indigo panjang itu pun mengangkat kepalanya. "A-ah, se-sensei!"
"Ahh… sumimasen, Hyuuga-san. Sepertinya aku malah mengagetkanmu," ucap pria itu penuh penyesalan. Pria itu beranjak ke bangku sebelah kanan Hinata dan duduk disana.
"Tidak! Ti-tidak apa-apa. Sungguh, saya baik-baik saja sensei. Sensei tidak perlu meminta maaf." Hinata menatap sensei itu dengan serius berusaha meyakinkan sensei itu dengan ucapannya.
Pria itu tersenyum kepada Hinata. "Baiklah, saya mengerti." Pria itu akhirnya mengalihkan pandangannya ke depan dan menyandarkan tubuhnya ke punggung kursi. "Bukankah ini terasa canggung, Hinata-hime?"
"Ehh? A-apa maksud ucapan sensei?" Hinata menatap pria itu bingung. Dia baru saja beberapa menit yang lalu dikagetkan oleh kehadiran sensei itu dengan secara tiba-tiba berada dihadapannya. Dan sekarang sensei itu telah membuatnya bingung.
"Sensei. Panggilanmu kepadaku. Bukankah itu membuatmu canggung?" Pria itu memandang Hinata penuh dengan kekhawatiran. "Seharusnya aku menjadi penjagamu dan selalu ada disampingmu tanpa adanya pembatas seperti ini layaknya seorang kakak yang menjaga adiknya. Tapi aku ada disini malah membuatmu harus menghormatiku. Bukankah itu kejam, Hinata-hime?"
"Tidak, itu tidak benar. Aku merasa senang Neji-niisan ada disini."
"Benarkah seperti itu? Syukurlah." Neji tersenyum kepada Hinata dan dibalas oleh Hinata dengan senyuman tipis. "Menyangkut pertanyaan pertamaku tadi, kau nampak terlihat sedang berpikir keras. Aku tahu kau sedang memikirkan sesuatu. Apa itu?" Neji mulai memasang pandangan serius kearah Hinata.
Hinata yang terlihat enggan untuk menjawab hanya diam tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan Neji kepadanya. Entah ia harus mengungkapkan ini kepada Neji atau tidak. Ia merasa hal ini merupakan hal yang tabu untuk diceritakan kepada orang lain, termasuk kepada kakak sepupunya sendiri seperti Neji.
Hinata meremas ujung rok seragamnya dengan kedua tangan gemetarnya. "A-aku merasa takut, Neji-niisan." Mata Hinata terlihat mendung. Hinata kembali menundukan kepalanya.
"Takut dengan apa? Katakanlah. Aku akan mengurusnya," ucap Neji serius.
"Bukan Neji-niisan, bukan itu…" Hinata terlihat sedikit berpikir. "Ini mengenai… Naruto-kun." Hinata memejamkan matanya. Teringat kembali apa yang ia dengar di ruang loker sekolah tadi. Suara Naruto. Suara itu tentu berbeda dengan suara yang dulu pernah ia dengar. Suara itu kini terdengar lebih berat dengan terakhir kali ia ingat. Suara itu, senyuman hangat itu, bahkan hal-hal kecil yang berkaitan dengan sosok itu tidak akan pernah ia lupakan begitu saja.
"Naruto?" terlihat Neji sedikit berpikir. "Benar juga! Tadi pagi aku melihat dia keluar dari ruangan administrasi. Sepertinya dia mengurus beberapa hal. Tentu dia sendirian. Tapi kenapa dia bisa masuk ke sekolah ini?"
Hinata mengerutkan kedua alisnya bingung. "Masuk sekolah ini?" Hinata membeo. "Neji-niisan benar. Dan juga bukankah mengurus administrasi itu minimal harus dengan seorang wali, Neji-niisan?"
Neji memegang dagunya dengan tangan kanan terlihat berpikir kembali. "Hum.. begitulah peraturan sebenarnya." Neji menampilkan senyuman ramahnya kepada Hinata. "Jangan terlalu memikirkannya. Sebentar lagi kelas akan dimulai. Cepatlah kembali ke kelas, Hinata-hime. Aku pergi mengurus beberapa hal penting dulu." Ucap Neji sambil berdiri.
"Ha-ha'i, Neji-niisan. Arigatou." Balas Hinata membungkukan sedikit tubuhnya.
Neji memang berkata untuk tidak memikirkan bagaimana Naruto mengurus administrasinya sendirian disekolah ini, tapi Hinata tetap saja memikirkan hal itu.
Sekolah ini adalah salah satu sekolah yang ketat dalam hal kedisiplinan murid maupun para senseinya, dan ketat dalam hal merahasiakan beberapa hal termasuk data-data siswanya sendiri. Tapi untuk hal administrasi juga setidaknya harus didampingi dengan seorang wali, walaupun wali tersebut bukanlah orang tua atau pun sanak saudara sekalipun. Hanya seorang pengawal? Tak masalah. Seperti inilah sosok sekolah bagi kaum elit. Tapi Naruto bukanlah salah seorang kaum mereka.
Neji yang melihat Hinata berlari-lari kecil kembali ke kelasnya menampakan senyuman ramah, selang beberapa detik kemudian mimiknya berubah serius. Dengan menyipitkan sedikit matanya Neji berlalu ke ruang administrasi.
.
.
.
"Dobe! Aku ingin bertanya sesuatu padamu." Suara Sasuke menggema dikoridor sekolah yang sepi.
Naruto yang merasa tidak perlu menanggapi perkataan Sasuke hanya berlalu dan terus melangkahkan kakinya ke kelas mereka yang memang sudah jam masuk kelas.
Merasa diacuhkan, Sasuke menarik lengan kanan Naruto agar berhadapan dengannya. "Jangan mengacuhkanku, baka!" ucap Sasuke kesal.
"Hn. Apa yang ingin kau tanyakan?" Naruto menyenderkan punggungnya ke tembok dibelakangnya dan menatap Sasuke tak minat.
"Apa kau masih mempermasalahkan Sakura?"
"Cih." Naruto memalingkan wajahnya ke sisi lain untuk tidak berhadapan dengan Sasuke.
"Apa kau masih membenci Sakura?"
"Apa yang sebenarnya Sakura lakukan padamu? Apa ada hubungannya denganku? Katakan!" Sasuke sedikit meninggikan nada suaranya, masih berusaha keras untuk tidak memukul wajah sosok yang tidak peduli sama sekali dengan pertanyaan yang dilontarkannya.
"Aku tahu kau mendengarku." Sasuke menarik nafasnya menahan emosi. "Dengar! Aku merasa kau yang sekarang berbeda dengan kau yang dulu, Dobe. Aku adalah sahabatmu, ingat?" Sasuke berusaha memalingkan wajah Naruto untuk melihat wajahnya dengan kata-katanya, tapi Naruto masih tidak peduli.
"Aku senang kau sudah kembali. Kita bisa bersama-sama lagi seperti dulu, iya kan?" Sasuke tersenyum miris. "Kita bisa memulainya lagi dari awal. Kau, aku dan Sakura. Kita bisa bersama-sama lagi seperti waktu itu."
"Ayolah Dobe, jangan mengacuhkanku. Kau sangat menyukai ramen kan? Kita bertiga bisa pergi ke ramen Teuchi-jiisan setiap hari jika kau mau." Sasuke masih berusaha mengajak Naruto bicara. "Jadi… apapun yang telah Sakura lakukan padamu dulu, maafkanlah dia. Apa kau tidak merasa sakit dihatimu melihat Sakura yang menangis seperti itu? Ingatkan aku dengan janjimu untuk tidak akan membiarkan Sakura menangis apapun alasannya!" ucap Sasuke memerintah.
"Aku tidak ingat. Dan kau…" Naruto akhirnya memandang Sasuke. "Ternyata sekarang banyak bicara, Sasuke. Menyebalkan." Ucap Naruto acuh dan berjalan meninggalkan Sasuke.
Pandangan Sasuke kosong seketika. Dia menundukan kepalanya dan tanpa sadar mengepalkan kedua tangannya erat.
"Tidak ingat? Tidak ingat katamu?" Sasuke menggeram dan menegakkan kepalanya, melihat Naruto yang mulai berjalan menjauhinya. "APAKAH DENGAN SEMUDAH ITU KAU MELUPAKANNYA, BRENGSEK!"
'BRUKK!'
Dengan gerakan cepat Sasuke mengejar Naruto dan mendorong tubuh itu menabrak tembok dengan bunyi yang cukup keras. Sasuke menarik kerah seragam Naruto erat. Sasuke memandang Naruto nyalang penuh dengan emosi yang tidak lagi bisa ia tahan.
"Cih! Seharusnya aku tahu jawaban apa yang akan kau ucapkan, sialan." Sasuke melepaskan pegangannya pada Naruto. "Kau benar-benar sudah berubah. Bahkan umpatan kecil yang dulu sering kau lontarkan padaku, sekarang tidak terdengar lagi dari mulutmu. Membosankan."
Sasuke memalingkan tubuhnya dari Naruto dan mulai beranjak pergi. Tapi ketika Sasuke mulai melangkahkan kakinya, disaat itu juga dia berhenti. Dia melihat seseorang yang mungkin melihat semua yang dilakukannya terhadap Naruto, begitu pula dengan pembicaraan mereka.
"Na.. Naruto-kun." Suara lembut nan lemah itu terdengar dari seorang gadis yang tengah berdiri beberapa meter dari Naruto dan Sasuke sekarang. Gadis yang sebenarnya ingin sekali melihat wajah sosok yang sudah lama tidak ia lihat. Ingin melihat kembali sosok Naruto dengan senyuman lembut dan tatapan hangat kepadanya, seperti dulu. Dan kini dengan tiba-tiba ia sudah berhadapan dengan sosok yang ia rindukan itu.
"Hyuuga, apa yang sedang kau lakukan disini? Bukankah seharusnya kau sudah dikelas sekarang?" Sasuke mengintrupsi.
Naruto menyeringai dibelakang Sasuke. "Dan Sasuke," Naruto berjalan melewati Sasuke dan tanpa aba-aba sudah berada dihadapan gadis yang disebut oleh Sasuke sebagai Hyuuga itu. "Bukankah yang seharusnya bertanya pertanyaan itu adalah dia? Iya kan, Hinata-hime?" Naruto memberikan tatapan menusuk pada gadis Hyuuga yang sebenarnya adalah Hinata.
"Ne, Hinata-hime, aku merindukanmu." Jari jemari Naruto kini sudah berada dipipi kiri Hinata. Mengelusnya pelan dengan jari telunjuk dan jari tengah dengan smirk yang masih setia terlukis dari bibirnya. Hinata bergerak mundur berusaha menghindari apa yang sedang dilakukan Naruto kepadanya.
Kedua jari Naruto bergerak turun dari pipi ke area leher Hinata. Hinata yang semakin terpojok ke belakang antara tembok dan Naruto terlihat gelisah. Tangan Naruto kembali ke pipi Hinata dan menyelipkan rambut Hinata dibelakang telinganya. Kini Hinata terlihat ketakutan, keringat dingin mulai menuruni pelipisnya.
Naruto memajukan kepalanya dan berbisik pelan. "Apa kau juga merindukanku, Hinata-hime?" Ada sedikit penekanan di kata terakhir yang Naruto ucapkan kepada Hinata.
"Sudah cukup, Naruto! Kau membuat Hyuuga itu ketakutan." Sasuke dengan sigap menjauhkan Hinata dari jangkauan Naruto.
"Cih. Itulah tujuanku yang sebenarnya datang kembali kesini." Naruto menatap mata mild violet Hinata lekat. "Anda akan mengingat hal-hal yang menyenangkan dimulai dari sekarang, Hinata-hime. Jadi bersiaplah!"
Naruto berjalan pergi meninggalkan Hinata dan Sasuke yang masih belum beranjak dari tempatnya.
Sasuke memandang wajah pucat dengan tubuh yang gemetaran Hinata dengan sedikit kasihan. Dalam kasus ini Sasuke yang sebenarnya adalah ketua murid tidak bisa berbuat banyak. Penyebabnya tentu saja sahabatnya, Naruto. Entah ini adalah sebuah ketidak-konsistenan Sasuke sebagai ketua murid atau bukan.
Sasuke tidak memikirkan lagi dengan keadaan Hinata yang sekarang. Dia mulai beranjak pergi meninggalkan Hinata seorang diri dikoridor sekolah.
Hinata yang ditinggalkan, tanpa sadar pandangannya mulai mengabur. Pandangan Hinata mengabur karena terhalang oleh air mata yang mulai keluar begitu saja tanpa ia perintah. Perlahan air mata itu menuruni pipi yang sengaja telah disentuh Naruto tadi.
Teringat dengan kata Naruto. Sebenarnya bukan pertemuan seperti ini yang di inginkannya dengan Naruto. Tentu haruslah seperti cerita manis di cerita-cerita dongeng atau cerita-cerita romansa lainnya yang ia inginkan.
Apa yang diucapkan Naruto tadi? 'Hal-hal yang menyenangkan dimulai dari sekarang'? Hinata seakan mendapatkan ancaman dari kalimat itu. Ia merasakan hal yang buruk akan terjadi padanya dalam waktu dekat ini.
Dengan masih bergulat dengan pikiran-pikiran buruknya, Hinata berjalan pelan meninggalkan koridor itu dan pergi tak tau arah mana yang akan ia tuju. Hanya berjalan pergi dan tidak memikirkan hal lain selain perkataan Naruto kepadanya.
.
.
.
Keesokan paginya. Seorang gadis tengah berjalan dengan gontai memasuki gerbang sekolah. Dengan memakai seragam lengkap dan tas selempang yang dipegangnya erat, dia pun mulai berjalan berbelok ke arah kanan setelah melewati lobby sekolah dimana ruangan loker berada.
Seperti disetiap harinya disekolah, rutinitas seperti ini selalu berurutan layaknya sebuah film yang sering dia tonton. Dari perkenalan tokoh, asal muasal cerita, cerita berlanjut ke konflik, konflik menjadi klimaks, dan ending. Selalu seperti itu. Begitu pun dengan kesehariannya.
Bangun dipagi hari, mandi, sarapan, berangkat ke sekolah, mendengarkan penjelasan guru dikelas, istirahat dengan memakan bekal sendirian, masuk kelas mendengarkan lagi penjelasan guru, pulang sekolah, mandi, makan malam, belajar atau pun mengejarkan tugas yang diberikan guru kepadanya tadi dikelas, istirahat, tidur, lalu bangun dipagi hari keesokan harinya. Terus seperti itu.
Sebenarnya dia mulai bosan untuk pergi ke sekolah. Untuk apa dia pergi ke sekolah yang bahkan dengan ia berada disana ia tidak mempunyai seorang teman atau seseorang yang mengajaknya mengobrol sekali pun. Satu hal yang ada dipikirannya adalah mungkin dengan belajar dengan guru private dirumah jauh lebih baik daripada pergi ke sekolah seperti ini.
Pemikiran-pemikiran yang ada dalam otaknya tiba-tiba berhenti ketika dia baru menyadari ada sesuatu yang berbeda pada hari ini di area loker terakhir berada tidak seperti hari-hari biasanya. Yang tentu saja tidak seberisik dan seribut ini pada hari-hari sebelum hari ini.
Di kejauhan dari tempat gadis ini berdiri, ada beberapa atau mungkin segerombol siswi yang sedang berdesak-desakkan dan menjerit-jerit melihat sesuatu. Hari ini agak sedikit berbeda, gumam gadis itu dalam hati.
Menghiraukan apa yang terjadi, gadis itu meneruskan langkah kakinya menuju loker miliknya sendiri yang berada tepat beberapa loker dari loker terakhir itu.
"Ohayou gozaimasu, Hime." Suara mengintimidasi itu berasal dari pusat kerumunan diloker terakhir tersebut. Suara yang tentu gadis itu kenal. Suara Naruto.
Ahh, benar juga! Mungkin hari-harinya akan sedikit berbeda dengan hadirnya kembali Naruto disini. Hari-hari gadis itu pasti akan terasa lebih hidup? Entahlah.
Gadis yang merasa sosok itu menyapa dirinya, akhirnya menghentikan gerakan tangannya untuk membuka loker dihadapannya – miliknya. Menghadapkan tubuhnya ke arah suara itu, dan menatap wajah dengan tatapan menusuk ke arahnya dengan salah satu sudut bibir terangkat tersenyum menyeringai.
Naruto berjalan ke arah gadis itu. Melihat ke arah jam tangannya sebentar dan kembali menatapnya.
"Hm? Aku menunggumu dari tadi Hinata-hime." Ucap Naruto dengan nada merajuk yang dibuat-buat. "Teman-temanmu terus menggangguku dari tadi. Menyebalkan!" Naruto masih memasang wajah merajuknya.
"Hinata bukan teman kami, Naruto-kun. Ayolah… siapa yang mau berteman dengan gadis culun seperti dia?" Ujar salah satu siswi yang berada dikerumunan itu.
"Dan sebaiknya Naruto-kun jangan mendekati gadis yang membosankan itu." Seorang gadis berambut pirang panjang yang diketahui bernama Shion itu berjalan mendekati Naruto dan memeluk tangan kiri Naruto manja, menekan tangan itu ke arah dadanya.
Naruto menghentakkan pelukkan tangan gadis itu dari tanggannya kasar.
"Enyahlah, Shion! Kau menggangguku."Tatapan Naruto nyalang kepada gadis yang dipanggilnya Shion. Shion terhentak kaget melihat ekspresi Naruto kepadanya.
"Ne, Hinata-hime." Naruto kembali berpusat kepada Hinata. Menatap Hinata seperti anak kecil yang seakan-akan meminta sebuah permen kepadanya. "Padahal aku datang pagi-pagi kesini hanya untuk menjadi orang pertama yang menyapamu disekolah, tapi mereka membuatku gerah."
"Hime… haruskah aku membuka seragamku ini untuk mengurangi rasa gerahnya?"
Hinata yang hanya mendengarkan pernyataan Naruto dari tadi, akhirnya membelalakkan matanya horor dengan pertanyaan yang dilontarkan kepadanya.
Naruto yang melihat ekspresi Hinata semakin mengembangkan senyuman liciknya. Naruto semakin merapatkan jarak antara dirinya dengan Hinata.
"Apakah Hinata-hime juga ingin membuka seragammu sepertiku?" Naruto melayangkan tatapan aneh kepada Hinata. "Aku akan senantiasa membukakannya untukmu, Hime." Terlihat senyuman licik itu lagi dari wajah dingin Naruto.
Naruto dengan gerakan pelan mengangkat kedua tangannya dan mengarahkan tangan itu ke arah dasi berbentuk pita milik Hinata. Dengan gerakan pelan pula Naruto membuka dasi itu.
Hinata terlihat sangat risih dengan perilaku Naruto kepadanya. Mata Hinata bergerak gelisah, entah dari sejak kapan keringat dingin terus keluar dari pori-pori kulitnya. Keringat yang menuruni garis pelipis lalu terus turun ke daerah pipinya dan akhirnya terjatuh begitu saja dari daerah sekitar dagunya. Hinata ketakutan.
Setelah membuka dasi itu dengan mulus, gerakan Naruto berikutnya adalah tangan Naruto yang sudah membuka dua buah kancing seragam bagian atas Hinata, yang sukses memperlihatkan bagian bawah leher Hinata yang sedikit terbuka.
Hinata yang diperlakukan tak layak seperti itu oleh Naruto dihadapan banyak orang tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya sekedar menggerakkan tangannya untuk menyingkirkan tangan Naruto saja dia tidak bisa. Hinata terlalu ketakutan. Seluruh tubuhnya gemetar, persendiannya terasa kaku untuk digerakkan, kakinya terasa lemas, mungkin dia akan bersimpuh dihadapan Naruto jika tangan kiri Naruto tidak memegang pinggangnya dengan kuat.
Hinata melirikkan matanya ke sisi lain dari Naruto. Hinata bisa melihat Shion dan teman-temannya melihat ke arah mereka berdua dengan membelalakkan mata dan rasa tidak percaya.
Mata Hinata sudah berkaca-kaca sekarang. Teringat kembali ucapan yang Naruto katakan kepada Sasuke kemarin. Apakah ketakutan seperti ini yang ingin Naruto lakukan kepadanya? Ketakutan akan dipermalukan di hadapan orang banyak seperti ini? Hinata mulai menangis terisak.
"Na… Naruto-kun… aku mohon." Dengan keberanian yang tersisa, Hinata menyeruakan suaranya yang gemetar.
"Hm?" Pandangan dan tangan Naruto masih mengarah pada kancing seragam Hinata tak peduli.
"Naruto-kun, sudah cukup! Tanganmu itu tak layak menyentuh tubuh gadis culun membosankan itu." Shion yang terdiam sejak tadi akhirnya melepaskan tangan Naruto dan mendorong tubuh Hinata menjauh. Hinata yang tidak siap dengan perilaku Shion, akhirnya tersungkur disamping loker miliknya.
"Cih, sialan!" Merasa kesal dengan sikap Shion, Naruto pun pergi meninggalkan Hinata dan orang-orang yang ada disana tak peduli.
"Naruto-kun, Tunggu!" Shion berusaha menghentikan Naruto, tapi nyatanya usahanya tidak berhasil. Shion memandang Hinata yang duduk bersimpuh dihadapannya. "Tsk, gadis culun murahan sialan!"
Selang beberapa saat setelah Shion mengatakan itu, dia pun pergi meninggalkan Hinata di ruangan loker sendirian disusul oleh teman-temannya. Meninggalkan Hinata yang masih terisak diruangan yang sepi.
Dengan lutut yang masih lemas, Hinata berusaha berdiri dengan menumpukan kedua tangannya ke pintu-pintu loker. Berdiri dan berusaha menegakkan tubuhnya dengan sekuat yang ia bisa. Hinata perlahan membuka lokernya sendiri untuk mengambil uwabakinya.
Gerakan tangan Hinata terhenti untuk mengambil uwabakinya itu. Pandangannya tertarik ke arah benda lain didalam sana. Dengan penasaran Hinata mengambil benda itu dengan tangannya. Dan akhirnya Hinata bisa melihat dengan jelas benda itu dari luar sini.
Setangkai bunga mawar merah kini ada digenggaman tangannya. Hinata memandang bunga itu lekat-lekat. Siapa orang yang mengiriminya bunga? Naruto kah? Hinata merasa bukan Narutolah orang yang mengirim ini.
'Tunggu dulu, cairan apa ini?' Hinata bertanya dalam hati. Tangan Hinata terulur untuk meraih kelopak bunga itu dan menyentuhnya. Hinata melihat jari tangannya yang menyentuh kelopak bunga itu.
"Darah?" ujar Hinata kaget dengan apa yang dilihatnya. Hinata melirik sebuah memo yang menempel di tangkai bunga itu.
Aku merindukanmu, Hime.
Itulah tulisan yang tertera di memo itu. Mungkin benar yang mengirim bunga ini adalah Naruto. Kalimat ini sama dengan yang diucapkan Naruto di pertemuan mereka sebelumnya. Tapi maksud dari semua ini apa? Terutama maksud dari darah yang menempel di bunga itu apa?
'Ketakutan seperti apa sebenarnya yang di inginkan Naruto-kun terhadapku?' Hinata bertanya-tanya dalam hatinya.
Tanpa disadari oleh Hinata, dari arah loker lain terlihat seseorang sedang mengawasinya tanpa ingin Hinata mengetahuinya bersembunyi disana. Seseorang itu tersenyum aneh.
"Semua berjalan lancar sesuai skenarioku." Ucap seseorang itu berbisik kepada dirinya sendiri.
.
.
.
To be continued
Arigatou buat 2nd silent reader, Riena Okazaki, engel beitrage, streetfordx, guest, sudah menyempatkan buat review :)
Hallooo~ saya kembali membawa chapter 2 nya nih kawan hehe ^^
Mungkin buat chapter selanjutnya agak lama buat di publish, hampura pisan ka sadaya na ^^")a
Terima kasih udah baca sampe cuap-cuap author ini,
See you in the next chapter, kawan!
by
Rui Akira
Published on : Feb 28th 2015, 18:11 p.m
