Warning : Romance, Friendship, Hurt/Comfort, Twoshoot, AU, OOC, typo(s), etc.
Lihat aku. Rasakan detak jantungku.
Gone
Naruto (c) Masashi Kishimoto
Gone (c) nianara
Shikamaru Nara and Ino Yamanaka
JIN-GONE
Jarimu bermain di atas tuts-tuts piano. Dentingannya mengalun lembut di telingamu. Sebentar kau memejamkan mata karena terbawa suasana.
Tiba-tiba, dadamu terasa sakit. Kau menghentikan permainanmu dan merintih kesakitan.
Tapi kau bergerak cepat. Tanganmu merogoh saku jaket baseball yang kau kenakan. Mengambil kotak kecil disana, lalu mengeluarkan dua butir isinya. Masih memegangi dadamu yang sakit, kau langsung telan butiran bulat yang ada ditanganmu.
Kau terdiam. Guna meredakan rasa sakitmu tadi. Kau tertunduk. Tanganmu bertumpu pada pahamu. Kau mencoba menstabilkan nafasmu yang masih beradu cepat.
"Kambuh lagi?"
Kau merasakan seseorang disisi kirimu. Kau meliriknya lalu sebelah bibirmu tersungging—bermaksud mengiyakan pertanyaannya.
"Kau pasti keasikkan dengan piano, sehingga lupa untuk minum obat dan… kambuh."
"Cerewet," masih sempat saja kau mengumpat pada Naruto yang tengah menasihatimu.
Sepupumu itu bersandar pada piano hitammu dan melirikmu, "Orang tuamu yang jauh disana tidak menitipkanmu padaku untuk lupa minum obat, Shikamaru," ucapnya hiperbola.
Kau memutar netra gelapmu, "aku tidak perlu dititipkan kepadamu seperti anak kecil."
"Aku hanya menjalankan tugas dari orang tuamu. Kau fikir aku sudi menjadi baby sitter yang memantaumu 24 jam penuh!" Naruto menatapmu tajam dan bibir mengerucut.
"Dari pada itu, aku lebih memilih untuk berkencan seharian dengan Sakura-chan," lanjutnya dengan mata biru yang berbinar-binar.
Lagi-lagi kau memutar mata. Bosan dengan topik yang selalu dibicarakan oleh sepupu jauhmu itu.
Kau kembali mencoba untuk fokus terhadap permainan pianomu. Namun, belum sempat memulainya, matamu justru terfokus keluar jendela. Pada orang asing yang melewati jendela ruanganmu.
Seorang gadis. Pirang. Dan kalau kau tak salah… matanya berwarna biru.
Matamu terfokus padanya sampai gadis itu hilang dibalik pintu. Tanpa kau sadari, sepupumu memperhatikanmu dengan senyum terpampang di wajahnya.
"Seorang Shikamaru tertarik pada seorang perempuan, eh?" Ucap Naruto menggodamu.
"Dia anak sini juga?" tanyamu dengan mengindahkan ledekan sepupumu. Naruto berdehem lalu mengangguk.
Kau tersenyum pelan. Ada perasaan ingin mengenl gadis itu lebih dekat? Hm...
Kau melirik jam dinding. Waktumu sudah selesai. Kau ambil tas punggungmu yang sedari tadi tergeletak di ujung ruangan, lalu melampirkannya ke punggungmu.
Kau bergegas pergi dari ruang pianomu. Naruto bilang, ada seseorang lagi yang menempati ruanganmu, jadi lebih baik kau pergi sekarang.
Kau berjalan menyusuri lorong untuk pergi keluar. Tak terduga, kau melihat seorang gadis yang berjalan berlawanan denganmu. Gadis blondie tadi. Dan ia berjalan ke arahmu sekarang.
Besarnya ketertarikanmu pada gadis itu membuatmu berniat untuk sekedar menyapanya. Dan menanyakan namanya, mungkin?
Niat itu kau urungkan dengan cepat saat tiba-tiba kau merasakan nyeri pada jantungmu. Kambuh lagi… Sial!
Tanganmu mencari obat jantungmu yang biasa kau simpan disaku jaketmu.
Segera saja kau melahap dua butir obat yang telah kau ambil. Bersamaan dengan itu, matamu tidak pernah lepas dari gadis yang telah mengalihkan duniamu itu.
Dalam sekejap, kau terpesona akan mata birunya. Namun, kau menyadari ada yang aneh dari gadis itu. Matanya memang indah, namun seperti tidak ada kehidupan didalamnya. Tatapannya kosong.
Mata hitammu terus mengikutinya sampai ia masuk ke ruangan yang baru saja kau tempati.
Senyummu mengembang. Menyadari bahwa gadis itu adalah teman les pianomu.
Tepukan dibahumu mengembalikanmu dari lamunan panjangmu. Kau menoleh dan mendapati Naruto yang berwajah masam.
"Ayo pulang! Sakura-chan sudah menungguku, tahu?!" ujarnya kesal.
"Kau duluan saja."
"Eh? Kenapa?"
Kau menggaruk tengkukmu, "Ada… sesuatu."
Naruto menaikkan sebelah alisnya. Ia menatapmu curiga.
"Love at the first sight eh, Nara?" Dan kali ini Naruto tersenyum melihatmu mengarahkan atensi kepada ruangan pianomu. Kelihatannya ia mengerti apa yang disebut 'sesuatu' itu.
Kau mendelik Si Kepala Kuning disebelahmu. Melihat seringai dari wajahnya.
Kau memutar matamu. Sebelah tanganmu terangkat untuk mengusap kasar wajah menyebalkan dari sepupumu. Kontan saja ia menggerutu—tak terima diperlakukan seperti itu.
"Kalau begitu sebaiknya aku pergi sekarang, Shika," Ujar Naruto. Kau meresponnya dengan anggukan kepala.
"Kau tidak perlu kujemput, kan?"
"Tidak, terimakasih."
Naruto beranjak pergi. Baru sampai didepan pintu, ia kembali menoleh ke arahmu—mengacungkan jempol kanannya ke udara dan berucap—"Semoga berhasil!"
Kau melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kananmu. Sudah setengah jam lebih kau menunggu gadis pirang tadi keluar dari ruangannya.
Kau memilih untuk menunggu gadis itu selesai latihan daripada menghampirinya. Bukan apa-apa, kau melihat seseorang bersamanya sejak tadi. Kakaknya mungkin—mengingat pemuda yang dilihatnya mirip sekali dengan gadis bermata biru itu.
Disaat kau hampir kebosanan, seorang pria dewasa—yang mirip dengan si pirang—keluar dari ruangan.
Melihat kesempatan yang ada, tentu kau tidak tinggal diam. Sambil mengawasi sekitar, perlahan kau masuk keruangan pianomu—dan si pirang tentunya.
Matamu menangkap si pirang yang baru saja selesai dengan latihannya. Gadis itu bergerak untuk mengambil kotak permen yang ada di atas piano. Tapi ia malah menjatuhkan kotak permen itu ke lantai.
Kau berjalan menghampirinya perlahan. Namun langkahmu terhenti sempurna saat gadis itu meraba karpet yang ada di lantai. Kelihatannya agak sulit untuk gadis itu menemukan permennya.
Kau menyimpulkan—gadis itu buta.
Kau kembali berjalan. Mengambil kotak permennya—dan memberikannya pada si gadis.
Kau menatap si pirang yang sepertinya sedang terkejut.
Kau tak salah. Mata birunya benar-benar indah—dan kedua bola mata indah itu tidak berfungsi.
"Kak Dei?" suara kecilnya membuatmu tersadar. Kau bergerak membantunya duduk di kursi piano. "Kau siapa?" ia berucap lagi.
Kau tersenyum. Tanganmu mengambil kotak permen yang ada di tangan gadis itu dan meletakkannya di atas piano, "Kurasa kita jadi teman les mulai saat ini," ujarmu.
Ting…! Ting…!
Kau menekan tuts-tuts piano—memainkan lagumu sampai selesai.
Gadis disebelahmu bereaksi dengan memberikan tepuk tangan kecil, "Bagaimana bisa kau bermain seindah itu!" ucapnya kagum yang membuatmu tertawa pelan.
"Biasa saja."
"Kurasa aku pernah mendengar musik yang kau mainkan sebelumnya," katanya dengan wajah penasaran. Diam-diam kau meresapi mata biru yang indah itu.
Kau merasa gadis itu mendengar permainannya tadi pagi, "Lagu itu buatan ayahku. Dan aku memainkannya beberapa jam yang lalu. Disini."
Gadis itu menganggukkan kepalanya perlahan.
"Ergh…" kau merintih. Tiba-tiba jantungmu berdegub kencang, nafasmu terasa berat. Sial, sudah berapa kali kau kambuh hari ini?
Kau mencari obatmu dibalik saku, namun kau tidak menemukannya. Dimana obat sialan itu!
Gadis didepanmu kebingungan, ia berucap—entah apa—kau sibuk mencari obatmu.
Sampai pada saat kau mulai mengatur nafasmu setelah menemukan obat dan meminumnya, gadis itu kembali berucap, "k-kau kenapa?"
Kau tersenyum. Ketika kau merasa obatnya telah bekerja dan menghilangkan sakit di jantungmu tadi—kau mengambil permen dari kotaknya lalu mengarahkannya ke depan mulut si pirang, "Buka mulutmu," kau berucap.
Gadis didepanmu membuka mulutnya. Perlahan kau memasukkan permen ditanganmu ke dalam mulutnya, "Aku minta permenmu ya," ujarmu—dan gadis itu tersenyum.
"Aku Shikamaru. Nara Shikamaru."
"Yamanaka Ino," Ia mengangkat tangan kanannya—bermaksud untuk berjabat tangan—ke sembarang arah.
Kau tertawa pelan. Mengarahkan tangannya, lalu meraih tangan kecil itu. Kalian saling berjabatan tangan, "Nama yang bagus," pujimu pada Ino yang tersenyum.
Entah sudah berapa kali bibirmu itu menyunggingkan senyum hari ini. Kau hanya melihat Ino dari balik jendela tadi pagi—dan sekarang kau sudah berbincang banyak dengannya.
Meski tak banyak, namun Ino telah menceritakan sebagian potongan hidupnya. Seperti—suatu kecelakaan yang merenggut penglihatannya.
"Sudah waktunya kau pulang, Ino," kau berucap ketika melihat kakak laki-laki Ino menatapmu setelah keluar dari mobilnya, "Kakakmu sudah menunggu, tuh."
Masih mengenggam tangan Ino—kau membawanya menuju sang kakak.
"Shikamaru!" Ino berujar tiba-tiba.
Kepalamu bergerak untuk melihat Ino di belakangmu, "Ada apa?" Tanyamu kemudian.
Gadis di hadapanmu terlihat ragu untuk berbicara, "Um… apa kita bisa bertemu lagi besok?"
Kau tertegun sebentar, lalu tersenyum lembut, "Aku ada disini besok."
Senyum gadis cantik itu mengembang.
"Kak, ini Shikamaru—teman baruku. Shika, ini kak Dei—kakakku."
Kau dan kakak Ino saling berjabat tangan. Deidara tersenyum ramah kepadamu.
"Masuk ke mobil duluan, Ino," kakak kembar Ino memberi perintah. Ino mengangguk lalu berjalan pelan ke mobilnya.
"Sampai jumpa besok, Ino!" kau berucap demikian tepat pada saat Ino berbalik.
Gadis cantik itu mengangguk mantap lalu melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam mobil.
"Kau punya alasan kenapa mendekati adikku?" Deidara berucap. Sejak tadi matanya menatapmu intens. Kau mengerti wajah khawatir pemuda ini.
Ino sudah bercerita kalau kakaknya selalu bersikap over protective. Dan itu karena Ino yang selalu menangis karena diejek teman sebayanya perihal kebutaannya. Tak ada yang salah dari sikap berlebihan kakaknya, pikirmu
Kau menggeleng pelan, "Saya hanya… tertarik dengan Ino…" Deidara menaikkan sebelah alisnya. Dia memanggil Ino dengan nama kecilnya?
"—dan ingin lebih mengenalnya," kau menambahkan. Deidara tertegun, "Apa salah?"
"Maaf, bukannya aku tidak suka adikku berteman denganmu, tapi—"
"Saya tidak akan menyakitinya," potongmu. Kakaknya benar-benar khawatir pada Ino. Deidara menyayangi Ino.
Mata Deidara membulat. Ino sudah bicara banyak padanya. Well, berarti dia percaya pada pemuda ini.
Pemuda jiplakan Ino itu tersenyum lalu terkekeh pelan.
"Anda bisa mempercayakan Ino pada saya…um, kak…" Terlihat sekali kalau kau sedang gugup berat. Kata-katamu seperti seorang pemuda yang meminta restu kepada mertua untuk menimang putrinya. Dalam hati, kau merutuki mulutmu yang seenaknya berbicara aneh seperti itu.
Deidara tertawa, "Dei saja untukmu," Ia melempar senyum sambil melangkah mendekati mobilnya.
"—dan tidak usah terlalu formal padaku."
Kau terkekeh pelan.
Mobil Deidara dan Ino mulai meninggalkan pekarangan rumah. Kau melihat kepala pirang Ino menyembul dari jendela mobil. Ia melambaikan tangannya. Kau membalas lambaian tangan itu, meski Ino tidak bisa melihatnya.
Lagi-lagi senyummu mengembang. Kau menarik nafas dan menghembuskannya pelan.
Kau berhasil membuat Kakaknya percaya. Permulaan yang bagus, Shikamaru!
Sudah berapa lama kau mengenalnya? Empat hari? Satu minggu? Atau satu bulan? Entahlah, kau tidak tahu. Kau lupa. Semua yang kau lakukan bersama Ino—semua tawa itu, membuatmu lupa akan segalanya. Setiap senyumannya itu membuatmu semakin ingin—ehm… memilikinya?
Kemanapun kau membawanya pergi, tangan kecilnya tak pernah luput dari genggaman hangatmu.
Selesai latihan tadi, kau langsung mengajaknya pergi ke taman belakang tempat les piano kalian. Untuk menenangkan diri selesai latihan kau biasanya ke taman belakang ini sendirian. Ya… kau tidak lagi sendirian sekarang.
Sampai di tempat tujuan, kau membawa Ino untuk duduk di atas rerumputan.
"Kakakmu bilang kau suka bunga," kau memulai pembicaraan. Ino mengangguk mengiyakan pernyataanmu.
"Keluargaku pernah punya toko bunga."
Kau langsung mengeluarkan bunga yang sedari tadi ada di genggamanmu dan memberikannya pada Ino, "Aku bawakan kau mawar ungu," ucapmu.
Ino menerima bunga itu dengan senyum terukir diwajahnya, "Terima kasih, Shika…"
"—dan ungu adalah warna kesukaanku," tambahnya.
Kau terkekeh pelan, "Benarkah? Aku hebat juga ya," ujarmu bangga bisa mengetahui warna kesukaan gadis cantik itu tanpa diberitahu. Kalian berdua tertawa setelahnya.
Detik selanjutnya kau menuntun Ino untuk melakukan kegiatan favoritmu. Kau menyuruh Ino untuk berbaring perlahan. Kalian berdua berbaring memandangi langit. Hanya kau yang memandangi langit—tepatnya.
"Langit sedang indah sekarang, Ino."
"Ya, benar," Lirih Ino. Benar, ia mana tahu keadaan langit seperti apa sekarang.
Kau melirik Ino yang berbaring di sebelah kananmu sebentar, lagi-lagi kau terhipnotis oleh mata birunya.
Kau kembali memberikan pandanganmu terhadap langit yang sedang cerah di atas. Kemudian kau menutup matamu pelan, "Aku sedang menutup mataku saat ini."
"Kau tidak bisa melihat langit jika begitu, Shikamaru," Kau membuka matamu mendengar ucapan Ino, lalu memberikan seluruh pandanganmu terhadap gadis cantik itu. Mendalami netra biru langitnya.
"Tidak masalah. Aku punya langit kedua."
Ino menaikkan sebelah alisnya. Kau tertawa kecil melihatnya kebingungan.
Selang beberapa menit, kalian dikelilingi kesunyian. Kau tidak keberatan. Kau justru keasikkan memandangi paras cantik Ino diam-diam.
"Boleh aku merasakan wajahmu, Shika?"
Sontak saja kau tersenyum pelan setelah mendengar permintaan Ino yang tiba-tiba.
Kau bergerak mengarahkan tangan putihnya agar bisa merasakan wajahmu—seperti yang Ino minta. Tangan Ino menelusuri wajahmu. Dari hidungmu bahkan sampai rambutmu yang diikat keatas.
"Rambutmu panjang?" Ino berucap sambil tertawa. Kau memutar matamu, namun kau tetap tersenyum.
"Maaf kalau kau tidak suka," Kau kembali tertawa.
"Aku suka kok."
Tangan Ino masih sibuk merasakan wajahmu. Dan matamu masih menatap intens mata indah Ino, "Aku suka matamu…" pujimu.
Tanganmu ikut bergerak untuk membelai wajah Ino, "Matamu yang cantik itu—langit keduaku, Ino. Aku lebih suka matamu dibandingkan langit sekarang." Ucapanmu itu membuat Ino merona hebat.
"Wajahmu memerah, Ino," kau berujar menggodanya.
Ino mengerucutkan bibirnya meski dengan wajah yang masih memerah. Itu justru membuatmu tertawa.
"Aku suka suaramu," kata Ino tiba-tiba.
"Terima kasih…"
Tangan besarmu masih menyentuh wajahnya. Entah apa yang membuatmu berani melakukan ini, tapi… kau semakin menghapus jarak diantara kalian.
Sampai pada akhirnya bibir kalian bertemu. Ciuman singkat itu…
Kau benar-benar menginginkannya, eh… Shikamaru?
Setelah kau melepaskan pagutanmu, Ino bangkit dari pembaringannya. Dengan wajah memerah, Ia menutupi wajahnya.
Bagus, kau merasa menyesal sekarang.
"Ino, aku minta maaf…" ucapmu pelan. Kau menyentuh penggung kecilnya.
"Aku tidak bermaksud—"
"Tidak apa-apa, Shika…" Ino berucap gugup. Kau bisa melihat bibir Ino yang tersungging—tersenyum tipis. Mau tak mau, kau juga ikut tersenyum karena melihat senyumannya.
Deg…!
Lagi-lagi jantungmu berdegub kencang. Kambuh. Namun kali ini degupannya lebih kencang dari biasanya.
Tanganmu merogoh saku jaketmu. Mencari pereda sakit jantungmu ini, tapi—Nihil. Kau berpindah ke saku lainnya. Tidak ada juga. Dimana sebenarnya kau menyimpan obatmu?!
Mencengkram dadamu yang nyeri. Tangan yang lainnya masih sibuk mencari dimana obat kambuh itu. Sampai kau menyerah. Mungkin obat itu ada di tas, fikirmu.
"Kita harus kembali Ino, kau harus latihan," Kau masih sempat bicara pada Ino untuk mengajaknya kembali ke ruangan piano—meski kau juga menahan rasa sakit yang makin lama makin menyiksamu.
Kau tidak melihat respon yang diberikan Ino. Langsung saja kau menarik tangannya menuju ruang latihan piano kalian. Kau sudah tidak tahan dengan sakit di dadamu ini.
Kau langsung menyuruh Ino duduk di sofa di sudut ruangan setelah sampai. Sedangkan kau masih sibuk mencari obat pereda nyerimu. Kau bahkan mengeluarkan seluruh isi tas punggungmu. Namun, yang kau cari juga tetap tidak ada.
Matamu menyapu piano hitammu. Kotak obatmu dia atasnya. Kau langsung mengambilnya. Sialnya—kotak obat itu kosong. Obatmu habis. Dan dengan bodohnya, kau lupa.
Menyerah. Kau sudah tidak tahan dengan rasa sakitnya. Kau jatuh tersungkur disamping piano dengan kedua tanganmu yang mencengkram erat dadamu.
Kau melirik Ino yang masih duduk di sofa yang mengenggam bunga mawar pemberianmu. Ia pasti kebingungan sekarang. Dalam hati, kau meminta maaf pada Ino.
Tiba-tiba Naruto memasuki ruangan dan menemukanmu yang sedari tadi meringis kesakitan.
"Na—naruto..."
Naruto sempat melirik kotak obat yang kosong di sebelah kakimu, "Kita ke rumah sakit sekarang, Shika," Sepupumu langsung membawamu keluar dari ruangan.
Meninggalkan Ino yang masih terdiam di sofa.
Saat baru sampai di pintu ruangan, kau melihat kakak Ino yang menatapmu khawatir. Setelah itu Deidara berlari masuk keruangan—mencari Ino, mungkin.
Entahlah. Kau tidak bisa merasakan apapun kecuali rasa nyeri yang sedari tadi semakin menyakitkan di jantungmu ini. Dan pandanganmu menghitam tiba-tiba.
Pandanganmu yang berbayang menyapu sekeliling. Menyapu ruangan bercat putih. Rumah sakit.
Tanganmu memegang kepalamu yang sakit. Apa yang terjadi?
"Yokatta—ttebayo… Kau sudah sadar, Shika?!" Kau melirik cepat Naruto yang berada di sisi ranjangmu.
Kau bergerak perlahan untuk duduk dibantu Naruto. Kau memberikan tatapan tanya pada Naruto.
"Kau tidak sadarkan diri selama satu minggu. Membuatku khawatir saja…!" ucap Naruto.
"Satu minggu…" gumammu.
Naruto mengangguk, "Dan orang tuamu dalam perjalanan kesini."
Kau mencoba menstabilkan sakit dikepalamu. Bukan hanya itu, jantungmu pun masih terasa nyeri. Sama seperti saat kau terakhir kambuh dan kehilangan obatmu di—
—Ino. Kau baru ingat. Naruto bilang kau tidak sadarkan diri selama satu minggu. Selama satu minggu itu juga Ino pasti tidak tahu keadaanmu.
Kau perlahan turun dari ranjangmu yang membuatmu mendapatkan protes dari Naruto, "Kau mau kemana, bodoh? Kau baru saja sadar!"
"Aku harus menemui seseorang," ujarmu jujur.
"Gadis pirang itu?"
"Namanya Ino, Naruto…"
"Tetap saja kau masih belum sehat, Shikamaru," kata Naruto. Sepupumu ini mengkhawatirkanmu.
Kau meringis pelan merasakan jantungmu kembali berdegub kencang. Kau berusaha menutupinya dari Naruto, "Sebentar saja," sekarang kau memohon pada Naruto.
"Untuk kali ini saja kau turuti apa mau ku, Naruto," kau kembali berucap. Naruto terkejut dengan mengangkat sebelah alisnya tinggi-tinggi.
"Apa maksudmu bicara seperti itu, Shika?"
Kau terkekeh lalu menggeleng lemah.
Sepupu jauhmu masih terdiam menatapmu. Tak lama Naruto tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Senyummu mengembang perlahan. Kau mengucapkan terima kasih pada Naruto.
"Aku akan mengantarmu," kata Naruto.
Dan kalian bergerak menuju tujuanmu.
Naruto memapahmu berjalan semenjak keluar dari mobil. Kau dan Naruto masuk ke ruang les pianomu. Sampai di depan pintu, kau melihat pemuda pirang yang diikat satu. Deidara.
"Shikamaru?"
Kau tersenyum, "Apa Ino di dalam?" tanyamu pada Kakak Ino.
Deidara mengangguk dan menengok ke dalam ruangan. Melihat Ino yang sedang duduk di sofa, "Sejak kau pingsan, setiap selesai latihan, Ia selalu bersikeras untuk menunggu kedatanganmu."
Ucapan Deidara membuatmu sedikit terkejut, "Apa ia tahu keadaanku?"
"Tidak. Bukankah kau tidak ingin Ino tahu?"
Kau meringis sesaat. Kau memang tidak pernah cerita pada Ino kalau kau punya kelainan pada jantungmu. Kau tidak ingin Ino tahu. Kau juga meminta pada Deidara untuk merahasiakannya.
Kau tidak mau Ino khawatir pada keadaanmu—sama seperti orang-orang terdekatmu yang selalu begitu. Tapi pada akhirnya, kau malah membuat Ino khawatir sekarang.
"Boleh aku menemuinya?" ujarmu.
Deidara terdiam sejenak. Matanya melirik Naruto yang sedari tadi diam disampingmu. Sepupumu itu mengangkat kedua bahunya. Lalu tatapan Deidara kembali padamu.
"Baiklah, tapi—" Deidara memberi jeda sejenak. Matanya menginterupsimu.
"—kau sudah berjanji untuk tidak menyakitnya. Dan aku akan memukulmu jika Ino sampai menangis."
Naruto dan Deidara memutuskan untuk membiarkanmu masuk ke ruang piano sendiri. Kau melirik Ino yang terdiam sambil menggenggam mawar ungu yang sudah layu. Senyummu mengembang.
Entah sejak kapan kau menyayangi gadis cantik itu. Kau hanya baru menyadarinya.
Kau seret kakimu menuju piano diujung ruangan. Dengan nafas berat dan dada yang tiba-tiba terasa sakit, kau memulai permainanmu.
Ting…! Ting…!
Kau memainkan nadamu. Jari-jarimu dengan lihai menekan tuts piano. Samar-samar kau mendengar suara ceria Ino memanggil namamu dengan tawanya.
Kau terus melanjutkan nada-nada yang sudah berada di luar kepalamu. Kau menikmati setiap alunannya.
Suara pianomu beradu dengan suara hujan yang turun diluar.
Lambat laun suara hujan diluar semakin kencang. Disisi lain, suara pianomu makin melemah.
Kau meringis menahan rasa sakit yang kembali datang. Kali ini, sakitnya bukan main. Tapi kau memaksakan diri untuk terus bermain sampai di nada terakhir.
Sampai di bait terakhir lagumu, jarimu terasa berat. Di luar sana, petir menyambar kencang. Bersamaan dengan itu, kepalamu terjatuh menabrak tuts-tuts piano.
Nafasmu memburu cepat. Penglihatanmu mulai memudar.
Naruto menghampirimu. Kau ingin memanggilnya, namun kau tidak bisa berbicara. Rasanya kata-kata itu tertahan di tenggorokanmu.
Sepupu pirangmu menggendongmu dan membawa keluar ruangan.
Kau melihat Ino yang meneteskan air mata.
Kenapa dia menangis?
"Shikamaru…!" mendengar suara Ino membuatmu mengulum senyum pelan.
Kau melewati Deidara yang masih berdiri diambang pintu. Kau sempat menatap kakak Ino itu dengan maksud minta maaf.
Kau bisa merasakan air hujan yang menetes mengenai kulitmu. Naruto bahkan menerobos hujan untuk membawamu ke mobil.
Ting…!
Samar-samar kau mendengar pianomu mengeluarkan nada terakhir dari lagumu.
Jantungmu yang biasanya berdegub kencang itu mulai melemah. Bahkan sudah waktunya untuk berhenti.
Ino—
Kau tersenyum, lalu kau menutup mata perlahan. Sampai kau tidak merasakan apapun.
—maafkan aku…
Semuanya menghitam sempurna
You are gone, gone
How am I supposed to erase you, alone and live
When I miss you so much
You are gone…
FIN
Parahhh. Twoshoot aja ngaretXD Malu saya malu…
Tapi mohon maklum ya para reader:3 Sebenernya fic ini udah selesai, tapi laptopku keformat/aarrgh. Belum lagi aku sibuk nyari ptn/sibuk galau ptn sih lebih tepatnya. Maaf seribu maaf!
Dan… jujur, aku gak puas sama fic ini huhu/garuktembok.
Ohya, mau sekedar ngasih tahu kalau saya bahagia banget bisa jadi salah satu Shikaino shipper yang tergabung di grup Line Purple Haze. Mereka hacep parah/apaan. Kalo minat gabung, pm saya hehehe.
.
.
.
.
OMAKE
Shikamaru terjatuh diatas pianonya. Tuts-tuts piano itu tertekan secara bersamaan dan menimbulkan suara keras. Deidara dan Naruto yang berada di ambang pintu terkejut hebat.
Naruto menghampiri sepupunya. Deidara melirik Ino yang mulai meneteskan bulir air dari mata birunya.
Naruto membawa Shikamaru keluar dari ruangan. Mata Deidara sempat bertemu dengan netra kelam Shikamaru yang lemah. Pemuda dengan model rambut nanas itu tersenyum tipis.
Deidara mengepalkan tangannya—rahangnya mengeras.
"Shikamaru…!"
Deidara menoleh pada Ino yang bersuara. Adiknya menggenggam erat mawar ungu ditangannya.
Deidara menghela nafas pelan. Ia bergerak menuju piano hitam di ruangan tersebut.
Ia sering mendengar Shikamaru memainkan lagunya—membuatnya sedikit hafal dengan nada khas milik pemuda yang mengisi hati adikknya.
Ting…! Ting…!
Deidara mencoba melanjutkan nada terakhir yang luput dari permainan Shikamaru sebelumnya. Matanya melihat keluar jendela. Mobil Naruto pergi menjauhi pekarangan.
Dibelakangnya Ino tersenyum dan tertawa pelan.
Sampai pada saat Deidara menyelesaikan permainannya—
"Syukurlah Shika, aku fikir terjadi sesuatu…" Ino terkikik pelan.
Deidara menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia menghapus air yang entah kapan sudah turun dari matanya—bahkan sudah membasahi tuts piano dibawahnya.
"Seharusnya aku memukulmu dulu tadi, Nara," gumamnya pelan.
REALLY FIN
.
.
.
.
—review?
