.

Duduk di balkon atas, sebenarnya bukanlah hobi Nesia. Tapi mengingat permintaan dari salah satu penghuni rumah ini padanya. Mau tidak mau, dengan sedikit terpaksa, Nesia mengikuti keinginan pemuda itu. Sesuai dengan intruksinya, setelah makan malam bersama tadi. Nesiapun kini duduk mendengarkan pembicaraan pemuda itu.

Kata-perkata disimaknya dengan cukup baik, hingga pemuda itu akhirnya selesai bercerita. Membiarkan Nesia kini diam, memandang langit yang gelap. Hal yang sama berlaku juga dengan pemuda itu, menuggu reaksi apa yang akan di berikan oleh orang yang mengurusnya selama ia tinggal di sini.

Menghela napas, berusaha menyingkapi semua yang baru saja di katakan oleh pemuda di sampingnya.

Tidak mungkinkan mereka terus diam – diaman sampai besok. "Kau yakin dengan keputusanmu itu, Daniel?" Tanyanya menoleh, menatap pemuda itu yang memperhatikannya. "Yang lain sudah kau beri tahu?"

Perlahan menggeleng, "Aku ingin kau lah orang pertama yang tahu tentang ini." Akunnya jujur.

Suara jangkring di malam hari kembali terdengar. Keheningan kembali tercipta di antara keduanya.

Dan Nesia tampak berkedip bingung.

Pikirannya kembali mencerna setiap perkataan pemuda beriris zamrud di hadapannya ini. Tidak memahami kenapa harus dia yang jadi orang pertama mendengarnya? Bukankah pemuda ini pacar sepupunya. Kenapa bukan Hafidz yang harus tahu lebih dahulu tentang kabar ini.

Seulas senyum terlihat di wajah Daniel, Nesia terlihat begitu lucu dengan wajah bingungnya itu.

Walau sembilan tahun pernah bersama, tidak pernah membuatnya bosan melihat ekspresi yang di tunjukan gadis ini. Ekspresi yang sempat hilang di kala mereka bertemu kembali setelah sekian lama. Membuat ia sempat tidak mengenali sikap gadis di hadapannya.

Itu bukan temannya. Bukan sahabatnya.

Senyum gadis itu jauh lebih tulus, jika di bandingkan saat ini. Yah, walau sekarang jauh lebih baik, dari awal pertemuan mereka. Nesia terlihat menjaga jarak saat itu, membuatnya seperti orang yang benar – benar berbeda dengan dikenalnya.

Perlahan Daniel menghela nafas panjang, memutuskan saatnya ia berbicara terus terang. Mumpung ada kesempatan.

"Da-Daniel.." sedikit ragu Nesia berkata. Heran melihat tingkah pemuda itu.

Dua iris emerald itu, perlahan menatapnya tepat di kedua matanya.

Meneguk ludah dengan susah payah, dilakukan oleh Nesia.

Dari sekian banyak hal yang di bencinya, keadaan sekarang termasuk dalam urutan teratas. Membuatnya ingin berteriak. Berharap tiga penghuni rumah yang lain bisa datang dan ikut meramaikan suasana yang tidak enak ini.


.

Disclaimer- HETALIA © Hidekazu Himaruya

Genre- Romance,

Warning- OOC, Typo(s), gaje,

.

LIES

.

Chapter2


Flash back

.

"Jadi, kau Nesia. Sepupu yang dimaksud oleh Hafidz itu?" Tanya Arthur memperhatikan gadis di hadapannya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Memutar mata bosan.

Tidak kah disadarinya, bahwa perbuataanya itu hampir membuat gadis itu melepas sepatunya dan melemparkannya ke wajahnya. Sayangnya gadis itu masih memegang tata krama yang pernah di ajarkan orangtuanya dengan cukup baik.

"Perkenalkan aku Nesia, Nesia Mekar Pertiwi." Tersenyum ramah, walau dalam hati ingin menghajar.

"Nesia? Nesia Mekar Pertiwi?" ulang pemuda bermata saphire tiba – tiba dari belakang Nesia.

Satu lagi pemuda yang tidak cukup memiliki kesadaran, bahwa tindakannya barusan bisa saja membuat gadis itu mati seketika. Yah, beruntung penyakit mematikan itu tidak dimiliki olehnya. Walau dia sering kaget dan membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Tapi beruntung, Tuhan masih memberikannya jantung yang sehat. Hingga membuatnya masih bisa hidup sampai sekarang.

"Yah?" perlahan Nesia menoleh, mendapati dirinya kembali diperhatikan dari ujung kaki hingga kepala.

Sepertinya jika begini, lebih baik dia kembali menarik keputusannya barusan. Mencari kost termurah yang bisa di jangkaunya, mungkin Eliza bisa membantunya. Gadis itu kan.. tunggu dulu, sepertinya wajah ini tidak asing.

"..Alfred?" tanyanya memastikan.

"Ternyata ini memang kau." Tersenyum ramah, berniat memeluk. Mengernyit heran, melihat Nesia mengambil langkah mundur. "Kenapa kau?"

"Kau itu yang kenapa? Apa maksud dari posisi tanganmu itu?"

"Tanganku?" memperhatikan kedua tangannya yang membentuk gestur memeluk. "Tentu saja, bersiap memeluk –."

"Arthur." Potong Hafidz cepat. Tidak dipedulikannya pemuda yang baru saja ia sembut memandang ke arahnya dengan heran.

Dari tadi pemuda itu hanya bisa diam, melihat percakapaan yang dilakukan oleh Nesia dan Arthur. Ditambah lagi kini Alfred ikut masuk dalam pembicaraan mereka. Sepertinya mereka berdua saling mengenal. Belum lagi tingkah Nesia yang mundur seketika, membuatnya mesti cepat bertindak.

"Yah, aku tahu kau ingin memeluk Arthur, Al. Tapi, apa kalian tidak bisa melakukannya nanti saja." Sambung Hafidz.

Yah, dia tahu kedua pemuda itu kini memperhatikannya dengan sorot bingung dan tidak suka. Tapi untuk kali ini, semoga saja mereka paham dengan isyarat yang diberikannya. Semua penjelasan akan di berikannya nanti.

"Baiklah, maafkan aku." Senyum Alfred perlahan berjalan mendekati Arthur. Dilihatnya Arthur kini mengurut keningnya perlahan. "Jadi kau akan tinggal sini, Nes?"

"Eh, soal itu.. aku." Sedikit gugup gadis itu berkata. Nada yang tadinya terus terlontar dengan penuh keyakinan kini berubah.

"Yah, dia akan tinggal di sini bersama kita." Tanpa meminta kepastian terlebih dahulu, dengan seenaknya Hafidz memutuskan.

Tidakkah dia sadar, mata gadis itu terlihat kaget menatap dirinya. Membuat Arthur dan Alfred saling lirik, sepertinya gadis itu belum memutuskan. Lebih takjub lagi melihat perubahan sikap Nesia yang kembali seperti semula. Tidak lupa, perubahan itu diselingi dengan kakinya yang menginjak kaki Hafidz di sampingnya. Membuat pemuda itu merintih kesakitan karena ulahnya.

"Maaf, aku tidak tahu apa yang Hafidz katakan pada kalian. Tapi, sepertinya –." ucap Nesia berusaha menjelaskan yang sayangnya kalimat itu terpotong.

Terpotong oleh ucapan pemuda beralis tebal yang kini menoleh pada temannya.

"Kalian saling kenal?" tanya Arthur , melirik Alfred yang mengangguk.

"Yah, kami pernah satu sekolah saat High School." Cengir Alfed, menoleh pada Nesia yang mengedipkan matanya bingung. "Bukahkah begitu, Nesia?"

Sepertinya gadis itu bingung memberikan reaksi apa, melihat perubahan topik yang mendadak. Keduanya benar – benar tidak sopan, ia ini tamu. Kenapa jadi dicuekin seperti ini. Belum lagi kini saudaranya ikut nimbrung pembicaraan keduanya. Melupakan peristiwa kakinya yang baru saja kesakitan.

Sepertinya ia ikut menceritakan tentang hubungannya dan Daniel, hubungan yang sama seperti ia dan Alfred. Apa mereka memang tidak memiliki hati, kenapa dia jadi benar – benar tidak di hiraukan. Dia ini kan bukan patung. Merengut kesal dan memilih duduk jauh dari ketiganya.

~0~

"Tunggu dulu. Tadi kau ingin kami apa?" Tanya Alfred memastikan pendengarannya.

Berbeda dengan Daniel, Arthur sendiri lebih memilih berekspresi dengan seuntai kata – kata indah.

"Bloddy Jerk! Kau gila apa! Siapa yang sudi melakukan hal itu!" teriaknya penuh amarah.

Sedangkan Daniel dan Feli hanya bisa saling berpandangan. Kembali melirik ke arah Hafidz yang kini jadi korban pemukulan. Beruntung senjata yang digunakan hanya berupa guling dan bantal. Hingga pemuda itu tidak mengalami lecet apa pun.

"Hafidz, kau tidak serius dengan perkataanmu itukan?" tanya Daniel, memperhatikan Hafidz yang coba bangkit dari aksi kekerasan kedua temannya.

"Tidak, aku serius." Ucapnya, disertai dengan dirinya yang kini duduk bersimpuh. "Aku tahu ini terdengar gila. Tapi akan lebih gila lagi, jika aku membiarkan sepupuku sendiri berada di lingkungan berbahaya seperti itu. Sedangkan aku di sini, duduk tenang dan nyaman. Jauh dari pencopetan dan segala tindak kejahatan." Berusaha menjelaskan alasan dari permintaannya barusan.

"Bukankah itu berarti kita membohongi Nesia, Ve~." Terdengar pemuda itu masih tidak setuju dengan keputusan itu. "Kenapa kita tidak jujur saja, Ve~."

"Yah, dan selanjutnya gadis itu akan mengambil langkah seribu, menjauh dari rumah ini. Hanya ini satu – satunya cara, agar Nesia tetap ada di sini dan aku bisa mengawasinya." Ucapan yang membuat keempat alis temannya berkerut mendengarnya. "Apa yang akan aku katakan pada keluargaku, jika terjadi hal buruk pada Nesia." Memandang Daniel dan Alfred bergantian. "Apa kalian tega, membiarkan teman lama kalian berada di luar sana, dengan segala tindak kejahatan yang sewaktu – waktu bisa mengancamnya."

Berusaha menggunakan hubungan kedua pemuda itu dengan sepupunya. Beruntung Nesia saat ini berada di kos-kosannya. Jika tidak, gadis itu pasti akan membunuhnya. Jika dia tahu, saat ini ia sedang berusaha membujuk teman – temannya untuk membohongi dirinya.

"Yah, seorang hero memang tidak mungkin membiarkan hal itu terjadi. Tapi.." ucapnya terlihat masih berpikir, melirik Daniel yang menghela napas.

"Aku memang masih tidak mengerti, kenapa kita mesti membohonginya." Ucap Daniel memandang Hafidz. "Tapi, mana mungkin aku bisa diam saja membiarkan teman lamaku berada di dalam lingkungan seperti itu." Pasrah, alasan Hafidz memang masuk akal. Apalagi mendengar daerah tempat tinggalnya merupakan tempat yang benar – benar rawan kejahatan.

Kalimat yang membuat Hafidz bersorak dalam hati, dan kini memandang Feli yang terlihat jadi serba salah. Membuatnya terpaksa memasang wajah memelas, sayangnya hal itu malah membuat Daniel dan Alfred eneg seketika.

"Aku tidak setuju!" Pernyataan yang terlontar dari mulut Arthur, selaku pengurus rumah yang ditinggali keempat pemuda itu. "Jika dia tidak ingin tinggal di sini dengan alasan seperti itu, terserah padanya. Aku tidak akan berbohong hanya untuk alasan yang tidak jelas. Bukankah sampai sekarang kau juga tidak tahu alasan dia bertingkah seperti itu kan." Ucapnya berdiri. "Aku tidak ingin terlibat untuk kebohongan bodoh seperti ini."

"Tapi, Arthur.." ucap Hafidz terhenti melihat tatapan pemuda itu.

"Jika dia tidak ingin, tidak ada alasan bagi kita untuk memaksanya!"

Menutup pintu dengan kasar, membiarkan empat pemuda di dalamnya yang hanya bisa diam dan menghela nafas panjang.

End Flash back.


.

"Nesia," tatapnya lekat, menyebut nama gadis itu. "Sebenarnya.." ucapan itu terhenti seketika.

Tap!

Tap!

Tap!

Langkah kaki yang seperti berlari ke arah mereka, membuat keduanya menoleh ke asal suara. Melihat seorang pemuda yang kini semakin mendekat, dan tanpa sempat menghindar memeluk tubuh Nesia. Menimbulkan kepanikan bagi Daniel atas tingkah tidak terpuji temannya itu. Bagaimana bisa terpuji, jika tanpa melihat situasi dan kondisi, pemuda itu datang - datang langsung main peluk. Lebih parahnya, membuat kepala gadis itu hampir menghantam pagar pembantas, jika ia tidak cepat bertindak.

"Feli, hentikan kebiasaan burukmu itu!" geram Daniel, yang dengan cepat menahan tubuh Nesia. Membuat gadis itu terhimpit antara dirinya dan pemuda yang baru saja datang.

"Ah, kau ada disini juga, ve." Senyum Feli terlihat tanpa beban.

"Apa kau berharap aku tidak ada di sini?" terdengar ketus. Merasa sedikit terganggu.

"Eh, tentu saja tidak, ve.." geleng Feli cepat. "Aku tidak bermaksud begitu, Ve. Hanya saja ku kira kau sekarang ada di kamar seperti biasanya.." tersenyum ceria, melihat Daniel yang kini mendengus kesal.

Berbeda dengan keduanya yang masih berbicara, melupakan Nesia kini berada diantara keduanya. Dan mesti ekstra menahan untuk tidak terlalu dekat dengan tubuh keduanya, yang tentu saja mustahil mengingat posisinya sekarang. Membuatnya berusaha bersuara, untuk mengingatkan kedua temannya. Bahwa ia kini terperangkap di tengah – tengah mereka. Shit! Ia salah melakukan permohonan ternyata. Seharusnya ia bukan meminta keadaan diramaikan, tetapi minta dibebaskan.

"Te-Teman – teman.." Berusaha mengingatkan posisi mereka sekarang.

"Aku tidak tahu kalian sedang melakukan permainan apa, tapi bisakah kalian melepaskan Nesia sekarang! Kalian bisa membunuhnya jika seperti itu." Terdengar suara yang tidak asing di telinga ketiganya, menggantikan suara Nesia yang mungkin tidak terdengar oleh keduanya.

Menoleh bersamaan, kecuali tentu saja Nesia yang tidak dapat melihat karena terhalang tubuh Feli. Mendapati Arthur yang bersandar di kusen pintu, menatap kedua pemuda itu dengan tajam.

"Hueeeee, maafkan aku, ve.." dengan cepat Feli melepaskan pelukannya.

Sedikit kelegaan ditunjukan oleh Nesia yang terlepas dari pelukan maut pemuda itu. "Ti-tidak apa – apa." Ucapnya berusaha bangkit dari posisinya, sebelum menyadari sesuatu. "Daniel, lepas." Menoleh pada Daniel yang hanya tertawa garing saja. Perlahan melepaskan tubuh gadis itu.

Kembali melirik pada Arthur yang menatapnya lebih tajam. Membuat Daniel sedikit susah menelan.

"Kau tidak apa – apa, Nes?" perlahan emerald milik Arthur beralih pada Nesia.

Menggeleng perlahan, "Ya. Aku baik – baik saja." Senyumnya.

Menghela nafas sebentar, melirik pada Feli dan Daniel yang terlihat salah tingkah.

Melihat ketiganya seperti itu, Arthur hanya menggelengkan kepalanya saja. Meninggalkan ketiganya kembali, ia tadi hanya numpang lewat saja saat menuju kamarnya. Mendapati Nesia yang terhimpit kedua rekannya. Yah, walau dia tahu itu suatu ketidak sengajaan, mengingat seperti apa sifat Feli. Tetap saja, melihat dari samping wajah Nesia membuatnya merasa sedikit kasihan.

Belum lagi sebuah pikiran aneh terlintas di kepalanya melihat adegan seperti itu. Memilih cepat bertindak untuk mengalihkan pikiran anehnya barusan. Selain itu, kalau tidak, bagaimana dengan sarapan mereka besok.

"Kalian berdua sedang apa tadi, ve~?" Tanya Feli, melihat Arthur pergi meninggalkan mereka.

Iris emerald itu kini beralih pada gadis yang duduk di sebelahnya, begitu mendengar pertanyaan Feli. Melihat sikap tidak peduli Nesia, yang sepertinya sedang sibuk dengan pemikirannya sendiri. Entah apa yang ada dipikiran gadis itu, mungkin berpikir tentang Tuhan yang masih sayang pada dirinya karena permintaanya kini terkabul. Terbebas dari berbagai situasi aneh yang menimpanya. Membuat iris emerald itu kini tersenyum, senyum yang membuat Feli di hadapannya heran.

"Kami sedang kencan." Jawaban tidak terduga keluar dari mulut Daniel. "Dan kau baru saja mengganggu kami Feli."

"Kencan, ve~." Jelas sekali pemuda itu kini membelak kaget. Hal yang sama berlaku juga dengan Nesia, gadis itu kini memandang Daniel.

Dengan cepat satu pukulan kecil mendarat di bahu Daniel, dan mendelik tajam padanya. "Jangan bicara yang tidak – tidak!" Sungut Nesia, tidak peduli kini pemuda itu merintih kesakitan atas ulahnya. "Jangan percaya padanya, Feli." Perlahan berdiri dari duduknya.

Mendekati Feli yang terpaku berdiri di tempatnya, memperhatikan Daniel yang terbaring di lantai. Sepertinya pemuda itu sedikit ngeri melihat kejadian di depannya. Nesia perlahan memutar bola matanya dengan malas, melihat kelakuan Daniel yang terlihat kesakitan. Ayolah, dia tidak sekuat itu hingga bisa membuat pemuda itu kini bertingkah hiperbola seperti ini. Senang sekali dia mengerjai Feli dengan akting murahannya itu.

"Kau benar – benar menyebalkan, Dan." Gerutunya, berjalan ingin keluar dari ruangan.

Tawa kecil keluar dari bibir Daniel, memperhatikan Feli yang kini berkedip bingung. "Nes.." ucap pelan Daniel, menghentikan Nesia berjalan. "Jadi, kau setuju tidak?" tanyanya, teringat akan topik beberapa menit yang lalu.

Nesia hanya mengangkat bahunya pasrah. "Terserah, tapi sebaiknya kau katakan itu pada Feli dan yang lainnya. Terutama Hafidz, dia kan pacarmu."

Mengangkat satu tangannya, memberi gerakan tidak peduli.

"Ah, ya. Kau benar." Terlihat sekali Daniel tidak rela untuk mengingat hal itu.

Lirikan penuh tanda tanya di berikan Nesia pada Daniel, seakan meminta penjelasan dari maksud perkataannya.

"Kalian membicarakan apa, ve~?" Tanya pemuda itu bingung. Menyadari perubahan situasi dan pembicaraan keduanya. Ditambah lagi namanya sempat disebut.

Belum sempat kalimat tanya itu keluar dari bibir Nesia, pertanyaan dari Feli barusan menghentikan niatnya. Menoleh ke arah Daniel yang diam, terlihat ragu untuk menjelaskan. Memilih menatapnya, memberikan isyarat dialah yang harus memberikan penjelasan.

Mendecak kesal melihat sifat Daniel yang seperti itu. "Bukan apa – apa.., nanti saja kita bicarakan dengan yang lainnya." Terdengar sedikit ragu Nesia berkata. "Dan Daniel yang akan menjelaskan semuannya." Lanjutnya.

Tatapan tajam kini diberikannya pada Daniel.

Meneguk ludah dengan susah payah, sebelum menjawab. "Yah, nanti akan ku jelaskan jika semuanya berkumpul."

Melihat dari gelagat Nesia, sepertinya gadis itu sedang dilanda kesal. Lebih baik dia cari amannya saja. Jika tidak, bisa berbahaya bagi kelangsungan hidupnya nanti.

Reaksi yang diberikan oleh keduanya, membuat pemuda Itali itu hanya diam. Terlihat menurut dan tidak ambil peduli. Sebelum akhirnya memegang tangan Nesia. "Alfred ada film baru, bagaimana kalau kita menonton bersama, Ve~." Senyumnya, tidak peduli Nesia kini kaget dengan perbuatannya yang langsung menariknya untuk mengikuti . Membiarkan Daniel sendirian sekarang.

Menghela nafas sesaat, terlihat sedikit bimbang mengambil keputusan. Merutuki kebohongan yang dibuatnya, hingga membuatnya susah seperti ini sekarang. Terlihat sedikit berat dengan keputusan yang akan ia ambil. Bisakah ia melakukannya? Bisakah ia meninggalkan sahabatnya itu bersama ketiga pemuda yang sudah lama hidup bersamanya? Bisakah ia merelakan Nesia pada mereka?

Apalagi mengingat sifat ceroboh Nesia. Gadis itu hanya tahu bahwa ia tinggal satu rumah dengan sekumpulan pemuda yang tidak normal. Karena itulah ia bisa setenang ini dan terlihat masa bodoh. Kembali Daniel menghela nafas panjang, menatap langit tak berbintang.

~IGC~

Alfred perlahan keluar dari kamarnya, dengan sedikit takut – takut ia berjalan menyusuri lorong. Merutuki diri sendiri yang memilih kamar jauh dari tempat Arthur. Film yang ditontonnya tadi bersama Nesia dan Feli, benar – benar membuatnya takut sekarang. Bisikan – bisikan pelan tidak sengaja di dengarnya saat melintasi ruang baca. Mengingatkannya akan film tadi, mengenai sosok hantu yang ditontonnya. Dengan badan bergetar ia mengintip dari celah pintu.

"…Pergi," suara berat seseorang dari dalam membuatnya bergidik ngeri, apalagi melihat bayang – bayang besar bertanduk di dinding. Ditemani cahaya temaram.

Membuatnya segera berlari pergi, diiringi teriakan yang terbilang tidak begitu pelan. Membangunkan beberapa penghuni rumah, menggeleng dan kembali tidur. Seakan hapal sifat penakutnya. Sedangkan sosok yang berada di dalam ruang baca, menoleh ke arah pintu. Memiringkan kepala heran, dan kembali melanjutkan aktivitasnya. Mencabuti kelopak bunga mawar.

"..tidak, ..pergi, ..tidak, ..pergi, ..tidak, ..pergi." Kelopak bunga terakhir yang dicabutinya, membuat pemuda itu menghela nafas.

Sepertinya itu adalah jalan yang memang harus di pilihnya. Ia kini tidak bisa lagi bersama dengan teman – temannya itu. Ia benar – benar membenci surat yang di tujukan kepadanya. Ditambah lagi kesempatannya untuk mengatakannya semuanya pada Nesia, digagalkan oleh Feli. Yang bisa di lakukannya sekarang, hanya meratapi nasib dan berdoa untuk keselamatan sahabatnya itu.


~0~


.

"..Kau harus banyak istirahat, jaga kesehatanmu, jangan tidur terlalu malam, jangan lupa kunci pintu, jangan.."

"Jangan terlalu banyak bicara, Daniel." Sambung Arthur yang merasa pusing sendiri melihat ulah temannya itu.

Ditatapnya Daniel yang kini memegang kedua bahu Nesia, memberikan beberapa nasehat. Serius deh, yang mau pergi ini siapa sih, kenapa yang diberikan nasehat malah gadis itu. Heran Arthur melihat keduanya. Nesia sendiri terlihat pasrah dengan apa yang terjadi. Sepertinya ia cukup bersabar menghadapi teman sejak kecilnya itu, yang menurutnya sedang masa galau tingkat akut, karena harus berpisah dengan Hafidz.

Satu helaan napas panjang dilakukan Nesia, memegang tangan Daniel di pundaknya, berusaha melepaskan tangan itu. "Aku paham Daniel, kau tenang saja. Seharusnya aku yang mengatakan itu padamu." Ucapnya tersenyum manis.

Senyum yang membuat Daniel ingin memeluk sahabatnya itu. Jika saja iris emerald itu tidak menatapnya tajam, seakan ingin mengulitinya. Dan jangan lupakan iris hitam yang kini memegang bahunya dari belakang, seakan mengancam kelangsungan hidupnya jika ia bertindak aneh. Belum lagi iris saphire yang mulai mengepalkan salah satu tangannya, sedangkan tangan satunya di gunakan untuk menekan jari – jari itu hingga berbunyi. Mungkin hanya satu temannya saja yang bersikap normal dan terlihat tidak peduli, ah coret. Sekarang tangan pemuda itu memberikan gestur seakan memegang senjata.

Mengucek matanya perlahan, menyadari bahwa pemuda yang dimaksud terakhir tadi adalah yang paling polos di antara mereka. Ah, pemikiran anehnya ini benar – benar kelewatan.

"Kau tenang saja soal Nesia, Dan. Bukankah ada kami yang akan memperhatikannya." Senyum Alfred ceria memandang Nesia yang kini cemberut.

"Benar, ve~ ." angguk Feli menyetujui ucapan sahabatnya itu.

'Justru kalianlah yang malah membuatku khawatir.' Batinnya menangis mendengar jawaban keduanya. 'Kan kalian berdua yang selama ini malah merepotkannya.'

"Ck, kalian ini. Memangnya kalian pikir, Nesia itu masih anak – anak apa." Dengus Hafidz, melihat reaksi aneh teman – temannya. "Dia bisa menjaga dirinya sendiri tahu."

Ucapan yang malah menambah keraguan di hati Daniel, membuatnya makin berat meninggalkan temannya. Bagaimana bisa ia menjaga dirinya sendiri, yang ada malah makin bertindak ceroboh, tanpa ada yang mengawasi. Haruskah ia mengingatkan pemuda itu, Nesia tidak tahu bahwa ia tinggal dengan para pemuda normal.

Berbeda dengan Nesia, yang mengangguk menyetujui ucapan sepupunya itu. Sekaligus menambah pemikiran anehnya, bahwa Hafidz cemburu pada dirinya yang malah lebih dikhawatirkan Daniel, dibandingkan pacarnya sendiri.

'Hafidz, benar – benar manis.' Batinnya memikirkan sifat cemburu sepupunya itu.

Arthur sendiri, hanya bisa pasrah melihat kelakuan ajaib teman –temannya. Memilih untuk memperhatikan suasana bandara yang mulai ramai. Sepertinya banyak yang memilih untuk berpergian hari ini.

"Ingat Nes, kau harus mengunci kamarmu dengan baik. Tidak semua orang itu kelihatannya manis. Banyak orang berbahaya di luar sana." Ulangnya memberikan nasihat yang malah membuat gadis itu bingung.

Berbeda dengan Nesia yang terlihat bingung. Teman – temannya hanya saling lirik, minus Feli yang terlihat sama bingungnya dengan Nesia. Memikirkan hal yang sama.

'Holly shit! Memangnya ia pikir kami ini orang seperti apa!' batin mereka serentak.

"Hah? Maksudnya?" tanya Nesia menatap Daniel.

"Sudahlah, sebaiknya kau cepat pergi saja sana." Usir Hafidz cepat, kelihatan sekali malas berurusan dengan Daniel yang memasang wajah memelas.

"Hafidz!" Tegur Nesia walau sedikit maklum dengan sikap sepupunya itu. Berpikir Hafidz bertingkah seperti itu karena kesal itu ditinggal Daniel. "Baiklah, Daniel. Aku rasa kalian mesti berbicara berdua dulu sebelum kalian berpisah." Ucapnya tersenyum, tidak di sadarinya kedua pemuda itu memasang ekspresi aneh seketika. Sedangkan senyum simpul tercetak jelas di wajah Alfred. Ah, jangan lupa, itu berlaku juga dengan Arthur dan Feli.

Oke, anggap saja ia bersikap paranoid sekarang. Tapi sungguh entah kenapa Daniel melihat senyum iblis disalah satu temannya, yang kini tersenyum beberapa langkah darinya. Membuat ia benar – benar berpikir sahabat baiknya tidak akan selamat.

Dengan cepat pelukan kuat bagai beruang, diberikan Daniel pada Nesia yang perlahan beranjak dari tempatnya. Terlihat sekali pemuda itu tidak rela meninggalkan sahabatnya. Sedang Nesia, terlihat kepayahan menjauhkan tubuh pemuda itu darinya. Dia benar – benar tidak menyangka Daniel, akan tiba – tiba memeluknya seperti ini.

Hal yang sama berlaku bagi Arthur dan Alfred, kedua pemuda itu hanya bisa diam di tempat. Sedikit shock mungkin, melihat bagaimana Daniel tiba – tiba memeluk Nesia saat mereka lengah sedikit saja. Dan yang terpenting tepat di depan mata. Mengepalkan tangannya erat – erat, ingin menghajar tingkah temannya itu. Satu harapan mereka, jangan sampai karena ini, gadis itu curiga.

Duagh!

Plak!

Bunyi pukulan dan sedikit tamparan menghantam tubuh pemuda itu, hasil ciptaan duo melayu di dekat mereka. Hafidz yang berhasil memisahkan Daniel dan memberinya sebuah pukulan maut. Serta Nesia yang memberinya cap lima jari, atas sikap sopannya barusan. Menghentikan niat tangan pemuda yang terkepal erat itu maju.

Feli sendiri hanya berkedip ngeri melihat kekerasan yang dilakukan kedua bersaudara itu. Melirik ke arah dua temannya yang lain, yang menatap datar pada tingkah ketiganya. Mungkin mensyukuri kejadian tersebut.

"Aduh!" ringis Daniel mengelus pipi dan kepalanya yang terasa nyut – nyutan. "Kalian berdua kasar sekali." Gerutunya. "Apa salahnya aku memeluk untuk terakhir kali. Bukankah kita akan susah untuk bertemu kembali."

"Apa kau bilang? Apa salahnya?" senyum Hafidz, membuat Nesia menyingkir dengan cepat. Memilih mendekati teman – temannya.

Kembali pukulan mengenai diri Daniel, membuat Alfred berdoa untuk keselamatannya sekarang. Sedangkan Arthur lebih memilih untuk berpura – pura tidak mengenal mereka. Memisahkan mereka tidak ada untungnya.

"..Hah, Daniel itu bodoh ya. Sudah tahu Hafidz itu cemburuan, bisa – bisanya dia main peluk semaunya." Geleng Nesia berdiri di dekat ketiga rekannya. "Hafidz juga sama bodohnya, sudah tahu Daniel tidak tertarik dengan wanita. Bisa – bisanya dia cemburu melihatku di peluk Daniel. Bener – bener deh, mereka berdua itu sama bodohnya. Benarkan?"

Melirik ketiga temanya yang kini terlihat salah tingkah dengan ucapannya. Alfred yang tertawa garing seakan menyetujui ucapan gadis itu, dan Arthur yang memilih untuk kembali melihat pemandangan di sekelilingnya. Seakan itu lebih menarik dari perkataan gadis di sampingnya. Walau dalam hati mereka sedikit bersyukur, Nesia masih belum sadar.

"Ve~, sebaiknya kalian berhenti sekarang. Sebentar lagi waktunya berangkat, Ve~." Hal yang di pilih Feli untuk menghindar dari pertanyaan Nesia, memisahkan kedua pasang kekasih bohongan itu.


~o~


Suasana sepi kian terasa saat malam hari, tidak biasanya mengingat seperti apa penghuni rumah ini sebenarnya. Helaan panjang dilakukan oleh Nesia, melihat Hafidz yang langsung masuk ke kamarnya. Bahkan cemilan yang biasanya selalu di habisakannya dengan lahap kini masih tersisa. Perlahan di taruhnya piring terakhir yang di cucinya ke rak. Berjalan keluar dari dapur menuju kamar Hafidz, ketukan pelan kini di lakukannya, tidak ingin menambah mood saudaranya ini kian buruk karena ulahnya.

"Aku baik – baik saja," ucap Hafidz saat dirinya bertanya. Seakan menyuruhnya untuk meninggalkannya sendirian.

Dengan terpaksa gadis itu berjalan menuju ruang keluarga, memperhatikan penghuni rumah lainnya yang sibuk dengan kegiatannya masing – masing. Wajah datar yang di pasangnya saat ia duduk di samping Feli, membuat ketiga temannya saling berpandangan heran.

"Nesia, baik – baik saja, ve~." Terdengar nada khawatir dari pemuda yang biasanya selalu ceria itu.

Anggukan kecil di berikannya sebagai jawaban, kembali matanya menatap televisi. Walau apa yang ditontonnya tidak masuk dalam memorinya sedikitpun. Tanda ia tidak berminat dengan film, yang kini membuat Alfred memeluk erat Arthur di sebelahnya. Sepertinya Arthur dipaksa Alfred untuk menemani menonton film. Melihat bagaimana pemuda itu lebih senang membaca buku yang entah apa isinya.

"Kau tidak suka filmnya, Ve~?" Tanya pemuda itu yang malah memeluknya. Sepertinya, ia bertanya dengan mata tidak lepas dari film yang ditontonya. "Aku juga, ve~. Film ini menakutkan."

"Jika tidak suka, seharusnya dari awal tidak kau tonton." Sambung Arthur yang membalik halaman berikutnya. Kembali matanya memperhatikan isi setiap tulisan yang tertera di dalam bukunya.

"Tapi, aku ingin tahu. Seperti apa ceritanya, ve~." Sahut Feli dengan mimik memelas.

"Argh! Berhentilah berbicara, kalian membuat film ini jadi tidak terdengar!" kesal Alfred yang berada di tengah keduanya.

"Tapi bukan aku yang salah, ve~." Cerocos Feli yang kian memeluk Nesia. Memasang ekspresi takut akan sikap Alfred di sebelahnya, dibandingkan film yang mereka tonton.

Membuat iris berbeda warna di sebelahnya kini melirik pemuda itu. Memutar mata malas akan sikapnya yang memang sudah dapat di tebak.

PIP!

Film itu pun di matikan Arthur dengan cepat, menimbulkan seruan kecewa dari Alfred akan sikap pemuda itu.

"Ck, kenapa dimatikan? Mana sedang seru – serunya lagi." Cemberutnya pada Arthur yang menutup bukunya.

"Aku tidak mau kau menjerit seperti kemarin malam, git." sungutnya menutup bukunya, menaruhnya di meja.

"Ck, itu bukan salahku. Salahkan Daniel yang bersikap mencurigakan." Ucap Alfred membela diri.

"Kau saja yang terlalu penakut."

"A-apa? Aku tidak penakut."

"Kau penakut, Al. Terima saja kenyataan itu."

"Bukan."

"Yeah."

"Tidak."

"Penakut."

"Tidak."

"Benar, ve~. Alfred penakut." Sambung Feli memperhatikan kedua sejoli itu. Melepaskan pelukannya pada Nesia. Sepertinya kali ini ia berpihak pada Arthur.

"Enak saja. Aku bukan penakut. Kau yang penakut Feli."

"Tidak, ve~. Aku bukan penakut, Alfred yang penakut."

"Kau, Feli."

"Tidak, Alfred."

"Kalian berdua sama penakutnya."

"Enak saja. Dia yang penakut bukan aku." Serentak keduanya berkata, memandang Arthur yang melihat ke arah mereka.

"Terima saja kenyataan, kalau kalian sama penakutnya."

"Tidak benar. Aku bukan penakut." Kembali serentak keduanya berkata.

Melihat kedua temannya yang saling membela diri. Tidak terima atas tuduhan Arthur, yang sebenarnya itu kenyataan. Nesia hanya bisa mengedipkan kedua matanya, tersenyum simpul melihat aksi ketiga temannya itu. Menggelengkan kepala perlahan, sepertinya menikmati percakapan itu. Melupakan rasa cemas akan sikap Hafidz, yang menurutnya aneh semenjak ditinggal Daniel.

"Pe – na – kut." Cibir Arthur.

"Bukan, ve~. Alfred yang penakut."

"Apa, enak saja. Kau yang penakut."

"Itu tidak benar, ve~."

"Yeah, itu benar. Kau penakut. Kau lebih parah dariku."

"Ah, berarti kau mengakui kalau kau penakut, Al." Memasang ekspresi kaget kini diberikan Arthur.

"Tentu saja, tidak. Aku hanya bilang Feli itu lebih penakut dibanding aku."

"Tidak, ve~. Itu tidak benar."

"Yeah, kau penakut, Feli. Sangat penakut." Ejek Alfred.

"Tidak, ve~. Nesia katakan sesuatu." Pintanya memandang Nesia yang kaget, tidak menyangka harus masuk dalam pembicaraan ini.

Memandang ke arah Arthur yang memilih berpura – pura tidak melihatnya. Merutuki pemuda itu yang kini memandang langit – langit, menghindari tatapan matanya yang seakan meminta pertolongan.

"Kau tidak boleh melibatkan Nesia, Feli." Ucap Alfred memandang pemuda itu. "Itu tandanya kau penakut."

"Tidak, ve~."

"Yeah."

"Tidak, itu tidak benar, ve~."

"Itu benar."

"Tidak."

"Benar."

"Ti – dak."

"I – ya."

"T – i – d – a – k."

"I – y – a."

Arthur dan Nesia kini hanya bisa saling berpandangan, melihat kedua temannya yang bertengkar di tengah – tengah mereka. Sebelum akhirnya tertawa bersama. Tidak menyangka, kedua temannya sekarang malah seperti anak kecil yang pertama kali belajar membaca saja. Sedangkan Alfred dan Feli, keduanya memandang Arthur dan Nesia gantian. Kembali berpandangan, memperhatikan lawannya bertengkar tadi. Menggaruk kepalanya yang tidak gatal dilakukan Alfred, dan seperti biasa, cengiran khasnya pun keluar. Diikuti Feli yang kini ikut tersenyum. Sepertinya ia cukup menikmati melihat wajah tertawa Nesia.

.

Hafidz yang baru keluar dari kamarnya, karena suara berisik Feli dan Arthur. Kini diam. Memperhatikan keempatnya yang duduk di sofa dari belakang. Ia perlahan mengucek matanya, memastikan penglihatannya tidak salah. Entah mengapa ia seperti melihat keempatnya seperti potret sebuah keluarga. Benar – benar deh. Menggeleng kepala, perlahan ia berjalan menuju dapur mengambil minum.

.

Sikutan pelan dilakukan oleh Alfred, pada Arthur yang berada di sebelahnya. Seakan merutuki pemuda itu yang membuatnya masuk dalam perangkap. Walau Arthur tidak mengatakan apa pun, tapi pemuda itu tahu. Lewat matanya Arthur seakan berkata, 'paling tidak wajahnya tidak datar lagi kan.' Dan yah, ia harus mengakui Arthur benar soal itu.

Kembali Alfred memperhatikan Nesia yang kini tersenyum dan berbicara dengan Feli. Dan sekali lagi memperhatikan Arthur yang perlahan bangkit dari duduknya. Berjalan memutari belakang sofa hanya untuk mengelus kepala Nesia, dalam hal ini memberantaki rambutnya. Membiarkan gadis itu mengamuk karenanya.

"Arthur!" teriaknya.

Hal yang sudah diperkirakan Alfred dan Feli yang menutup kupingnya serentak. Bukannya apa, mereka hanya tidak ingin tuli saja. Mengingat sedekat apa mereka dengan Nesia yang kini berteriak. Sedangkan si pembuat ulah sudah melarikan diri sambil tertawa, menikmati tingkah usilnya barusan. Membiarkan Alfred dan Feli yang kewalahan menenangkan Nesia.

.

.

tbc

.

.


Berhubung saya baru nyadar salah menempatkan sesuatu di fict ini. yah sudahlah. lanjut...dan soal pairingnya saya rasa sudah bisa diterka siapa. ^^ yang jelas satu orang sudah tersingkir.

makasih yang udah baca, nunggu, review, fav dan alert... :DD *tabur bunga*.


Waktunya balas review


Kunikohime Madoka Tanuki

Lemon? tar saya cari di pasar dulu.. sabar.. :D

NuramagoFan

ah iya bener, salah T.T... Tolong di bantu lagi yah, chapter kali ini.. :D

dance in storm

salam kenal :D UKNes? gak ini lies kok *Plak*. Daniel? saya juga bingung siapa. anggap saja itu Australia... hehe

Mokakoshi

Aduh saya gak bisa mutusin. ada pilihan lain gak selain dua itu *kedip2*Plak*

yukishirozakura

hoho, belum dapat yah. kalau gitu ikutin terus yah. semoga aja dapat di chapter berikutnya*Kedip2*


Saya tidak tahu apa ini lebih baik dari sebelumnya, atau makin aneh. Apalagi dengan alur maju mundurnya. -.-' Silahkan kritik, saran dan semua uneg - unegnya lewat kotak review.

RnR. Ptk,2501