Hello. Lagi. Dari saya, gogeexdobee. Selamat menikmati. By the way, aku pengen bilang lagi sih betapa pentingnya review dari kalian menurut aku. I ALWAYS READ YOUR REVIEWS GUYS SUMPAH DAN MEREKA BIKIN SEMANGAT BANGET REVIEW-REVIEW ITU AKU SENENG BACANYA! Ini aja jadi semangat banget ngetiknya. Hehe. Write reviews, please. Makin banyak reviewsnya aku makin cepet updatenya, janji.
"Anak manis dan penurut. Haha. Baekhyun, saya tau kamu mempunyai ketertarikan seksual yang sangat menyimpang, bukan hanya gay tapi juga Daddy kink. I know that you've got Daddy issues, I mean I love that you've got Daddy issues. Seseorang seperti kamu membutuhkan Daddy yang benar-benar mengerti DDLB – seperti, coughs, saya. I could give you a lot of attention by treating you like a princess in my kingdom, Baekhyun. And when things get a little bit hotter, I could fulfill your sexual needs too. I know you love to play hard. And well, I also do."
Keduanya masih pada posisi mereka masing-masing. Lelaki yang lebih tinggi berdiri tepat di depan yang lebih kecil – yang sedang duduk manis bak perawan dengan kedua pahanya tertutup rapat. Jari-jari besar Chanyeol tidak dipindahkan dari dagu mungil Baekhyun, sama sekali tidak. Ia tetap mengangkat dagu Baekhyun agar tidak ada kesempatan bagi Baekhyun untuk menundukkan kepalanya lagi.
"Mr. Park.. But-"
"Ssh. Little boy, who allowed you to speak? Saya belum mengizinkan kamu berbicara, Baekhyun. I need to taught you about having manners."
"Whoops! I.. I'm sorry. '0'"
"Haha. Kidding. Saya tidak akan menjadi segalak itu. Well, tergantung request dari si manis ini, sih."
"NO! A-aku suka melihat Mr. Park yang.. sedikit garang."
Rona merah muda mulai menghiasi pipi gembul Baekhyun saat ia dengan malu-malu menyampaikan kalimat tersebut. Kakinya terayun-ayun lucu dengan jemari-jemari mungilnya yang ia mainkan pada ujung seragam sekolahnya – malu. Ia malu.
Chanyeol sendiri sedang berkacak pinggang. Ia lalu mengacak rambut hitamnya dengan frustasi; baginya, bagai terkena kutukan yang manis bila harus dihadapkan dengan makhluk semanis Baekhyun. Well, ia tidak masalah berdekatan dengan Baekhyun hanya jika ia benar-benar menerima tawarannya beberapa saat yang lalu.
"I.. I need to tell you about me first, Mr. Park.."
"Apakah itu harus, Baby? Saya punya datamu, bahkan lengkap. Sangat lengkap. Oh- kecuali warna pakaian dalam kamu."
"Hmph. Aku. Serius."
"Haha. Baiklah, go ahead, little. Tell me."
"I could be very clingy and very needy at some specific times. M..maksudku setiap detik. Hihi. Aku bukan seseorang yang suka mendapatkan sedikit perhatian; aku butuh a ton of attention and I always crave for it! Y..you could call me an attention seeker because I am. I am a hardcore fan of the color pink and.. Uhm- glittery stuffs, anything magical; like unicorns.. Anything sparkly and sweet and pink and just just princessy and I also love stuffies or plushies or or dolls or uhm- I also love warm cuddles and my pink fluffy blankie and I.. l..love being spanked or whipped."
"Wow."
Chanyeol berdecak kagum. Ia mendengarkan setiap kata-kata yang terlontarkan dari bibir mungil tersebut dengan seksama. Ia tidak menduga kalimat yang terakhir akan menjadi sefrontal itu, tapi ia sudah menduga bahwa si little boy di hadapannya ini menyukai permainan kasar.
"I get it. You want to be treated like a little princess and then you want me to treat you like Daddy's slut on bed."
Rona merah yang menghiasi pipi Baekhyun bertambah parah. Dengan perlahan tapi pasti, ia menganggukkan kepalanya, mengiyakan kalimat tepat sasaran gurunya – yang akan menjadi Daddy baginya.
"You're acting so innocent while you actually know it all, Baekhyun. Start calling me Daddy."
"D..daddy." Bisikan tersebut sangat pelan namun Chanyeol masih dapat membacanya dari gerakan bibir Baekhyun yang selalu menjadi pusat perhatiannya.
"I can't hear you, puppy."
"Yes, Daddy. I'm sorry."
"Good boy."
Suara ketukan pada pintu ruangan kerja Chanyeol membuyarkan suasana kinky yang telah mereka bangun. "Masuklah," Chanyeol setengah berteriak lalu segera berjalan ke mejanya, menarik kursinya lalu duduk disana sebelum sosok yang akan masuk dapat melihat posisi mereka yang tadinya cukup dekat.
Seorang pria yang tidak semungil Baekhyun – tapi juga tidak bahkan mendekati tinggi Chanyeol masuk ke dalam. Rambutnya yang berwarna golden blonde dan sebuah kacamata bulat tanpa kaca menghiasi wajahnya. Penampilannya tidak seperti guru, tapi Baekhyun cukup peka untuk menyadari itu adalah seorang guru, bukan murid.
Bagi Chanyeol, sosok ini sangat familiar. Namun bagi Baekhyun yang baru beberapa jam berada di sekolah ini, ia tentu saja merasa asing dengan sosok itu.
"Park – oh. Apakah kamu Byun Baekhyun?" Ia bertanya sambil mengakhiri kalimatnya dengan sebuah manis. Ia berjalan mendekati Baekhyun lalu menyambutnya dengan sebuah jabatan tangan. Baekhyun berdiri dari tempat duduknya, mengerjapkan matanya sesekali sampai ia membalas jabatan tangan guru di hadapannya.
"Aku Mr. Lu. Aku adalah wali kelasmu, okay?"
"Luhan, pastikan kamu menjaga yang satu ini. He's too precious."
Baekhyun kembali menundukkan kepalanya, sibuk memainkan jemarinya pada ujung kemejanya sampai ia kembali mendengar suara tegas Chanyeol. "Stop doing your bad habit. Tidak sopan menundukkan kepalamu, princess."
Baekhyun melebarkan mata sipitnya; mendongakkan kepalanya lalu menatap Chanyeol dengan tatapan 'TAPI-AKU-PIKIR-INI-RAHASIA?', sementara Chanyeol membalasnya dengan tatapan, "FUCK-NO-THE-WORLD-NEEDS-TO-KNOW-ABOUT-OUR-RELATIONSHIP."
Luhan yang berada di antara mereka menggaruk-garuk tengkuknya yang dapat diyakini tidak gatal sama sekali. Berada di tengah kedua lovebirds mungkin bukan sesuatu yang menyenangkan. "Park, kau mengencani muridmu? Semakin gila saja semakin hari."
"Sebenarnya saya baru mengenal Baekkie. Baru saja."
"Ha. Kau bangsat."
"'0'? Mr. Lu, bukankah itu kata kasar?"
"It is a bad word, Baby. Daddy won't be happy to hear you say something like that, so just don't say anything like it."
"OKAY DADDY!'0')7" Baekhyun mematuhi perkataan Chanyeol dengan gayanya yang sangat manis. Ia bahkan member salam hormat ke arah Chanyeol; sementara Luhan yang menjadi penonton setia memutar bolamatanya.
"Baiklah, Byun Baekhyun, aku harap kamu tidak akan memakai kata-kata kasar sepertiku tadi karena kata-kata kasar muncul secara natural setiap kali si bangsat Park ini muncul di hadapanku." Luhan berkata sambil mengetuki lantai berkarpet ruangan kerja Park Chanyeol menggunakan sneakers keluaran Adidas miliknya.
Chanyeol turun dari kursinya, berjalan menghampiri Baekhyun si mungil yang disambut Baekhyun dengan senyuman manis. Bahkan belum beberapa jam, Baekhyun sudah sangat clingy terhadapnya. Seperti itulah yang terlintas pada benak Chanyeol.
"Daddy!'0' Uhm- apa Daddy akan mengajar di kelasku?"
"Sepertinya iya. 10B, kan? Hm. Yeah. I'll be teaching Biology."
"BUT- BUT- NO- BAEKKIE HATES BIOLOGY- NO WAAAAY!"
"Calm down, princess. Daddy could make Biology 100 times more interesting than before."
"Ugh, you're so gross, Park Chanyeol. Jika orangtua Baekhyun tau tentang ini, kau digantung."
"No way, guess what? Ibu Baekhyun satu tempat arisan sosialita dengan ibuku."
"Itu tidak akan mengubah apapun, Daddy sungguhannya pasti akan membelahmu menjadi dua, bodoh."
"Itu sih, urusan nanti. Hehe."
"Mh- Mr. Lu- yang mengantarku ke kelas siapa ya?" Baekhyun menghentikan perdebatan singkat mereka dengan pertanyaan pentingnya. Tentu saja penting – tujuan Baekhyun berada disini untuk menuntut ilmu, mendapatkan guru sekaligus Daddy sekaligus teman kencan yang hot bukan main itu bonusnya.
"Oh. Aku, tentu saja. Aku datang kesini untuk menjemputmu tapi sepertinya aku terlambat karena seekor singa telah menyantapmu, Baekhyun. Maafkan aku yang terlambat."
"OH! DADDY ARE YOU A LION? THEN AM I A BABY LION?'0'"
"Baekhyun, you're such a kiddo." Baekhyun hanya terkekeh lucu menanggapi kalimat Daddynya.
Setelah obrolan panjang di ruangan kerja Park Chanyeol, akhirnya Chanyeol membiarkan Luhan membawa si manis Baekhyun pergi dari hadapannya. Si guru cantik yang berada di samping Baekhyun berjalan sambil sesekali menoleh memperhatikan Baekhyun dari ujung rambut sampai ujung kakinya.
"Aku suka warna rambutmu, Baekhyun."
"Mr. Lu menyukainya?'3' Aku juga menyukainya! Bunda mengatakan padaku kalau sekolah melarang menggunakan cat rambut, aku harus melunturkan warna rambutku. Apakah dilarang, Mr. Lu? Aku membaca handbook dan sepertinya tidak ada larangan, dan tadi pagi aku melihat banyak murid-murid dengan rambut berwarna sepertiku!"
"Mhm, tidak ada larangan untuk itu. Bebas saja, pihak sekolah menganggapnya sebagai cara berekspresi."
"OOH! Sekolah ini pasti seru. Aku sangat excited, dari kecil aku selalu homeschooling."
"Beberapa memilih teman lewat kastanya, Baekhyun. Lebih baik kamu tidak mengikuti mereka dan bertemanlah dengan siapapun, alright? By the way sepatumu bagus."
"Alright, Mr. Lu! Mh- hehe- sepatu biasa dari H&M, kok. Ada glitternya jadi aku membelinya."
"…Baekhyun, aku ingin menyarankan sesuatu tapi tolong jangan tersinggung. Apalagi menangis. Park Bangsat bisa memakamkanku hidup-hidup kalau aku membuatmu menangis."
"Mh? A..ada apa, Mr. Lu?"
Mereka berhenti berjalan lalu Luhan menghela nafasnya. Ia berusaha berpikir tentang kata-kata lembut yang tidak akan menyakiti hati Baekhyun yang Luhan yakini masih sangat lembut karena ia terbiasa dimanjakan di rumah, ditambah lagi dia jarang mempunyai teman; ditambah lagi-laginya dengan kelainannya.
"Kalau ada seseorang yang membullymu, jangan membalasnya. Diam saja lalu pergi. Tapi kalau sudah sampai pembullyan fisik, panggil aku atau Park Bangsat yang tadi atau siapapun guru yang kamu lihat. Cowok pinky sepertimu pasti akan menjadi sasaran empuk, mengerti? Di kelasmu hanya akan ada 10 orang, semoga mereka semua dapat menerima kamu dengan baik."
Luhan masuk ke dalam ruangan kelas 10B. Ia menoleh, memastikan Baekhyun berada di belakangnya dan benar; Baekhyun sedang berjalan mengikutinya dengan senyuman riang yang tidak luntur dari wajahnya. Luhan bersyukur tidak ada ucapannya yang menyinggung Baekhyun; sepertinya ia berbakat dalam mengajar anak-anak TK.
"Okay, semua bisa tenang?"
Suasana kelas yang tadinya gaduh bukannya seketika menjadi hening tapi malah menjadi-jadi setelah masuknya Baekhyun dan Luhan. Sembilan murid yang sedang asik berbincang-bincang mengalihkan topik pembicaraan mereka menjadi sosok mungil yang baru saja masuk kelas.
"Woah. Anak baru."
"ITU TAS KIPLING SCHOOL EDITION YANG LIMITED? OMG."
"Rambutnya seperti cotton candy."
"Ya ampun, manis sekali. Itu laki-laki?"
"Oh ini Baekhyun ya? Ibuku cerita, katanya Baekhyun ini anaknya teman arisan sosialitanya gitu, deh."
"Manis banget.."
"Siapa manis, Hun?"
"Itu manis tuh. Mr. Lu."
"Sehun, shut up. Semuanya bisa tenang atau tidak? Saya suruh pulang lagi saja Baekhyunnya kalau kalian yang sudah ricuh menjadi semakin ricuh."
"Bisa-bisa.. Jangan mengambek begitu dong, Mr. Lu."
Luhan memutar bolamatanya, malas menghadapi anak-anak 10B yang ada-ada saja tingkahnya setiap hari. Ia sedikit mengutuk undian yang menunjuknya menjadi wali kelas 10B ini. Ia pun mempersilahkan Baekhyun untuk berdiri di depan kelas dan memperkenalkan diri.
"Em- Mr. Lu, aku harus memperkenalkan diri, kan?"
"Iya, Baekhyun."
"W-whoa!'0' Okay! Selamat.. pagi semuanya! Namaku Byun Baekhyun, aku suka panggilan Baekkie karena panggilan itu sangat lucu – aku juga suka pink dan aku suka pelajaran matematika tapi tidak dengan biology. Aku bukan pindahan dari mana-mana, tadinya aku homeschooling! Semoga dapat berteman baik-"
Suara langkah-langkah terdengar mendekat. Langkah-langkah tersebut digantikan menjadi suara beberapa ketukan; lalu muncul-lah sosok tinggi menjulang – sang hot teacher yang ramai menjadi perbincangan The Parks Exclusive School.
"Selamat pagi anak-anak. Dan – selamat pagi untuk kamu, murid baru yang manis," Chanyeol tidak lupa mengakhiri kalimat genitnya dengan kedipan sebelah mata yang tidak kalah genit juga pada Baekhyun. Baekhyun hanya membalasnya dengan senyuman malu andalannya, sementara para murid yang menyaksikan melebarkan matanya.
"WOAH!'0' HI DADDY! ARE YOU GOING TO START TEACHING NOW, DADDY?!"
Jangan tanya bagaimana reaksi para murid 10B. Ada yang membuka mulutnya dan membentuk huruf O sempurna, ada yang tidak sengaja menjatuhkan barang pada genggamannya dan yang paling parah ada yang tersedak minumannya. "Oh fuck." Itu dari bibir Luhan, tentu saja.
tbc
