Tittle: Beauty and The Beast

Author: Dyorit

Genre: Drama, Angst, Family, Romance

Rating: T

Length: Chaptered (Chapter 2)

Cast: Kai—Kyungsoo

Support Cast: Do Yookyung (OC), Do's Family, Kim's Family,

Disclaimer: Seluruh cast milik diri sendiri, orang tua, agensi, fans, dan semua yang menyayanginya. Seluruh typo's, cerita, dan EYD yang ancur punya autumn seorang

Warning: YAOI, Shounen-ai, BL, Boys Love, boy x boy, boys love boys, Official Pair!, EYD berantakan, alur ngebosenin, OOC (Out Of Character), typos beterbaran, cerita pasaran, alur ngebut

Author's Note: notenya di bawah aja kalo di atas kadang pada males baca. Gue tao apa yang kalian pikirin :v

~…~

Ibu Kyungsoo kembali beberapa menit kemudian, hanya untuk terperangah kaget saat melihat putra bungsunya berdansa bersama putra tunggal bangsawan Kim

"Apa-apaan ini?" Ibunya memekik tertahan di antara keterkejutannya. Ia tidak pernah mengira jika putra bungsunya dapat berdansa seindah itu. Padahal seingatnya ia dan seluruh keluarga tidak ada yang pernah mau mengajari Kyungsoo berdansa

"Apa yang kau perbuat pada Kyungsoo?" sang suami berbisik kesal. Nyonya Do terlihat tidak nyaman dengan pemandangan di depannya begitu juga Tuan Do

"Aku hanya meninggalkannya sebentar untuk ke toilet" Nyonya Do membela diri. Tuan Do terlihat tidak terlalu senang dengan jawaban sang istri

"Kau kan tahu kalau anak itu tidak bisa di tinggal begitu saja" ujarnya. Nyonya Do mengangguk sadar, "Bagaimana jika dia mempermalukan kita dengan mengatakan sesuatu yang aneh pada putra tunggal bangsawan Kim?" tambahnya

Nyonya Do mulai panik, kaki berbalut high heelsnya berjalan cepat hendak menghentikan tarian yang di lakukan kedua pemuda itu. Tetapi, sebelum kakinya sampai pada tujuannya musik telah berhenti terlebih dahulu di ikuti bubarnya para pasangan yang tadinya berdansa di tengah ball room

Nyonya Do sontak ikut berhenti, entah kenapa tubuhnya kini menjadi dingin. Kim Jongin bersama putra bungsunya berjalan mendekat, sebuah senyum terpaksa wanita paruh baya itu tampilkan sebagai kamuflase atas rasa gugupnya

"Nyonya Do" panggil Jongin, membuat tubuhnya yang tadi membeku kembali normal. Tetapi, tidak dengan detak jantungnya, jantungnya berpacu di antara rasa cemas akan apa yang hendak di ucapkan pemuda tinggi di hadapannya kini, "Putri anda sungguh mempesona" pujinya

Nyonya Do mencelos dalam ketenangan karena kalimat pujian yang Jongin lontarkan. Kendati bukan putri tercintanya yang di puji, tetapi. Setidaknya Kyungsoo tidak menjatuhkan martabat keluarga Do

"Terima kasih atas pujiannya, Anda terlalu berlebihan" Tuan Do menyahut dari balik punggung sang istri, di sertai sebuah senyum bangga. Tangannya meraih pergelangan tangan Kyungsoo menariknya agar berdiri di antara kedua orang tuanya, "Mungkin Anda tertarik dengan putri kami?"

Kim Jongin menggaruk tengkunya dengan gerakan malu, rona merah menjalar melalui pipinya hingga seluruh wajah dan telinganya memerah. Tak dapat lelaki itu pungkiri jika memang dia tertarik dengan sosok Kyungsoo—atau mungkin Emmeline—yang menurutnya terlihat polos dan manis dalam waktu bersamaan bahkan dalam satu gerak yang sama

"Sebenarnya, saya memang tertarik dengan putri Anda" ujarnya jujur. Tuan dan Nyonya Do tersentak kaget. Tentu keduanya akan merasa teramat tersanjung jika memang yang menarik perhatian putra tunggal keluarga Kim adalah Yookyung, putri tercinta mereka. Bukan putra bungsu mereka yang bahkan untuk berbicara saja sulit

"Ah, begitu ternyata" Tuan Do mencoba menanggapi dengan tawa sungkan mengiringi. Jongin melirik Kyungsoo yang tengah menatap ke luar dengan tatapan menginginkan

"Ehem" mencoba mencairkan suasana dengan sebuah dehaman, "Kalau begitu, Tuan dan Nyonya. Bisakah saya membawa putri Anda yang menawan tersebut untuk berkeliling?"

Tuan dan Nyonya Do tidak memilki alasan yang kuat selain 'Kyungsoo bukanlah Emmeline' untuk menolak permintaan seorang Kim Jongin. Jadi dengan anggukan yang terlihat ragu keduanya mengangguk. Jongin yang melihat anggukan ragu yang berasal dari keduanya memiliki pemikiran yang berbeda

"Tenang saja, Tuan dan Nyonya. Saya akan melindungi putri anda. Jangan khawatir" Nyonya Do tersenyum canggung sementara Tuan Do memilih diam saat melihat Jongin yang mulai menarik lembut tangan Kyungsoo untuk berkeliling

"Ini bukan sesuatu yang bagus, suamiku" ucapan Nyonya Do terdengar pasrah dan lelah. Tuan Do masih diam hingga satu kalimat terucap dari bibirnya:

—"Dia bilang dia tertarik pada putri kita bukan Kyungsoo. Itu tidak masalah, kita akan mengenalkannya pada putri kita tercinta lusa"

Kyungsoo berlari menuruni tangga menuju lantai dasar dengan riang, tetapi sebelum kakinya sempat menginjak lantai dasar sang Ibu telah berdiri di pertengahan tangga. Ibunya berhenti begitu juga Kyungsoo

"Kyungsoo kembali ke atas" titah Ibunya, tetapi Kyungsoo tidak menurutinya. Pemuda itu menggeleng menolak, ia telah berjanji dengan Judith untuk menyiram tanaman hari ini

"Menyiram tanaman" ujarnya. Ibunya dengan langkah tergesa berjalan naik, sementara Kyungsoo mencoba melewati Ibunya untuk menuju lantai dasar. Malang baginya, karena sang Ibu lebih cepat menangkap pergelangan tangannya dan membawa tubuh kurusnya kembali ke lantai dua, "Tidak mau" Kyungsoo memberontak

"Jangan membantah!" Ibunya membentak, tetapi Kyungsoo tidak perduli. Bunga-bunganya bisa kehausan jika ia terlambat menyiram mereka

"Bunga haus" Ibunya berbalik menghadapnya setelah keduanya berada di tangga paling atas. Menatap Kyungsoo dengan mata tajam penuh penakanan

"Bunga tidak akan haus, jadi sekarang turuti Ibu dan kembalilah ke kamarmu. Kami akan menyambut keluarga bangsawan Kim nanti dan kau tidak boleh terlihat" Kyungsoo masih terus meronta ingin pergi ke taman belakang

"Ibu kau mengganguku!" Yookyung berseru dari kamarnya. Ibunya semakin kesal saat mengetahui jika mereka menganggu putri tercintanya dengan pertengkaran tidak masuk akal ini. Dengan segera sang Ibu menyeret Kyungsoo menuju kamarnya, mendorong Kyungsoo ke dalam kamar hingga jatuh tersungkur lalu mengunci kamar putra bungsunya sebelum Kyungsoo sempat berdiri

"Ibu! Bunga! Ibu! Bunga!" Kyungsoo berteriak dari dalam kamar sambil menggedor pintu jati tersebut. Ibunya tidak memperdulikannya, sang ibu lebih memilih masuk ke dalam kamar Yookyung

Yookyung merengut saat sang Ibu memasuki kamarnya, gadis itu melempar sisir yang tadi di gunakannya ke lantai. Ibunya mentap putri tercintanya maklum

"Ibu, si idiot itu mengangguku tadi pagi dengan memberikanku bunga" Yookyung merajuk, sementara ibunya memungut kembali sisir yang tadi di lempar Yookyung dan meletakkannya ke atas kasur berbalut sprei merah muda mencolok milik Yookyung

"Sayang bukan waktunya untuk merajuk, kau masih harus melakukan perawatan sebelum keluarga Kim datang" Yookyung masih merengut, sang ibu mengalah, "Jadi kau ingin bagaimana?"

"Aku ingin si idiot itu tidak ada di rumah selama jamuan makan" Ibunya menggeleng menolak, dia tidak bisa membiarkan Kyungsoo pergi dari mansion. Jika ada yang melihat Kyungsoo berkeliaran akan sangat berbahaya

"Tidak. Itu tidak bisa sayang, adikmu itu tidak bisa keluar dari mansion" Yookyung merajuk, ia membaringkan tubuh kecilnya kembali ke atas kasur, menarik kembali selimut yang tadinya menggantung di ujung kasur untuk membalut tubuhnya. Menghela nafas Ibunya mengalah dan kembali berucap:

"Kalau begitu ibu akan mengurungnya di paviliun"

Yookyung segera bangun dari posisi tidurnya, kemudian segera memeluk Ibunya erat-erat. Sungguh menyenangkan menjadi seorang tuan putri

Jordan, tukang kebun keluarga Do membimbing Kyungsoo untuk masuk ke dalam paviliun yang tempatnya terpisah dari mansion. Putra bungsu keluarga Do itu menurut, memasuki paviliun setelah sebelumnya merajuk pada Jordan untuk mengambilkannya beberapa tangkai bunga Lilac untuk di rangkai dengan beberapa bunga yang sudah tersedia di dalam paviliun

"Kebun" Kyungsoo berucap setelah Jordan berbalik hendak meninggalkan Tuan mudanya. Jordan ahirnya kembali berbalik, menatap Kyungsoo lalu tersenyum iba

"Tidak, Tuan muda tidak bisa pergi ke kebun hari ini" binar mata bulat Kyungsoo yang tadinya berkilat semangat perlahan meredup. Jordan yang mengerti jika Tuan Mudanya bersedih, mengambil setangkai bunga matahari dari vas bunga di sebelahnya kemudian memberikannya pada Kyungsoo yang menerimanya dengan sebuah senyum gembira

"Judith" Kyungsoo kembali berucap. Jordan mengintip ke arah taman bunga mawar dari balik jendela yang telah di teralis rapat

"Judith, sedang sibuk. Tetapi pasti wanita itu akan kesini sebentar lagi" Kyungsoo mengangguk patuh sembari memutar bunga matahari pemberian Jordan, "Tuan Muda akan sabar menunggu Judith, bukan?" Kyungsoo mengangguk kuat

Jordan kembali meneggakan tubuhnya, kemudian berbalik dan meninggalkan Kyungsoo yang mulai fokus pada dunianya sendiri

Entahlah ini hanya perasaanya saja atau sejak dia datang ke kediaman keluarga Do, ia melihat sesuatu yang berbeda dengan Emmeline yang sebelumnya. Entah kenapa ia merasa asing pada gadis yang seharusnya sudah dekat dengannya

Meja makan panjang keluarga Do mulai penuh dengan berbagai sajian makanan yang menggiurkan. Emmelin duduk di sebelahnya, mencoba menepis pemikiran konyolnya ia memberikan sebuket bunga mawar biru yang telah di rangkai bersama beberapa tangkai bunga baby's breath seperti pertemuan pertama mereka

"Hatchii" Yookyung bersih saat hidungnya mendekat hendak mencium aroma dari bunga pemberian Jongin. Melihat itu Jongin menjadi terheran sendiri, "Maaf, tapi aku alergi sebuk bunga" ujarnya

Jongin mengernyitkan dahi bingung, alergi? Padahal kemarin saat pertemuan pertama mereka gadis di depannya sungguh senang saat dirinya memberikannya sebuket bunga dan terus menciumnya sambil berkeliling ball room

"Kau alergi sebuk bunga?" Jongin bertanya, Yookyung mengangguk yakin. Sementara Tuan dan Nyonya Do mulai berkeringat dingin karena melupakan satu fakta jika putri mereka alergi sebuk bunga, "Tapi kemarin kau—"

"Ah, makanan utamanya sudah datang, sebaiknya kita makan dahulu sebelum berbicara lebih lanjut" Tuan Do memotong dengan nada gugup. Beruntung keluarga Kim tidak terlalu memperhatikannya, tapi tidak dengan Jongin. Ia dengan jelas mendengar nada penuh kegugupan kepala keluarga Do tersebut. Dan saat itu dia tahu ada yang salah dengan putri mereka dan seluruh keluarga Do

Karena sudah terlalu larut keluarga Do menawarkan kepada keluarga Kim untuk menginap hingga besok. Tentu saja Tuan Kim sangat menyetujuinya tanpa harus berfikir dua kali, beliau bilang jika hal ini adalah salah satu upaya agar kedua keluarga menjadi semakin dekat sebelum pernikahan

00:08 a.m

Sudah lewat tegah malam tetapi Jongin masih juga belum bisa terlelap, keadaan mansion sudah mulai sepi dan gelap, dan ia berpikir untuk berkeliling sebentar agar ia merasa mengantuk dan ahirnya dapat jatuh tertidur dengan baik

Menuruni tangga menuju lantai dasar, lalu berbelok ke kiri. Aroma tanah yang basah basah di karenakan embun pagi mulai menarik perhatiannya. Dengan perlahan ia mendorong pintu kayu di hadapannya dan menemukan halaman belakang yang amat luas. Masih gelap memang tetapi ia dapat melihat jika halaman belakang mansion di penuhi oleh pohon dan beberapa tanaman bunga

Matanya berputar, berkeliling menatap seluruh penjuru. Dan menemukan sebuah paviliun yang terpisah dari mansion. Lampunya hidup dengan terang, ia tidak terlalu perduli dengan itu tetapi sebuah lagu yang mengalun halus dari paviliun itu mampu membuanya penasaran dengan siapa yang berada di dalamnya

Tale as old as time
True as it can be
Barely even friends
Then somebody bends
Unexpectedly

Jongin sangat tahu lagu apa ini, saat ia masih kecil Ibunya sering menyanyikan lagu ini sebelum ia tidur. Baru sekali selama ia hidup ia merasa mejadi seorang penguntit. Ia mengintip dari jendela depan yang tidak di lapisi tralis besi dan hanya di tutupi oleh selembar gorden tipis

Ada dua siluet yang sedang bergerak lincah mengikuti irama lagu yang mengalun halus, ada satu siluet lagi. Sepertinya seorang wanita, karena dari ketiga siluet itu hanya itu siluet yang terlihat mengenakan rok

Ever just the same
Ever a surprise
Ever as before
Ever just as sure
As the sun will rise

Jongin merasa ada tarikan magis yang membuatnya menjadi sangat terpesona dengan siluet yang masih terus berdansa di iringi lagu klasik tersebut, ada suara ketukan antara lantai dan sepatu bersol tebal. Seakan menjadi musik pengiring bagi kedua siluet yang berdansa dengan halus dan gemulai

Tale as old as time
Tune as old as song
Bittersweet and strange
Finding you can change
Learning you were wrong
Certain as the sun
Rising in the east
Tale as old as time
Song as old as rhyme
Beauty and the Beast

Jongin makin terpesona saat siluet itu bergerak dengan teratur mengikuti alunan lagu, entah kenapa melihat itu ia jadi mengingat saat pertamanya bertemu dengan Emmeline. Memori tentang bagaimana halus dan gembulainya Emmeline saat berdansa terus melekat di otaknya, melupakan hal janggal yang tadi terjadi di dalam jamuan. Jongin mendesah tak rela saat lagu telah berhenti begitu juga siluet yang tadinya berdansa

"Anda sangat hebat saat berdansa, Tuan" terdengar suara berat tengah memuji. Jongin semakin menajamkan telinganya, terdengar suara air yang di tuang ke dalam cangkir, kemudian dentingan antara cangkir poerselen dan sendok alumunium

"Terima kasih" Jongin membatu saat mendengar suara itu, terkesan manis walaupun sedikit terbata. Suara yang berada di dalam paviliun itu benar-benar mengingatkannya pada sosok Emmeline, Emmeline-nya

"Emmeline apa kau yang berada di dalam sana?" bisiknya lebih kepada dirinya sendiri. Sementara dari dalam terdengar suara tawa terbahak dan air yang kembali di tuang ke dalam cangkir

TBC

P.S: asap mamennnn, tapi gue kaga yakin minggu depan bakal update ni cerita lagi kaga. Soalnya ni ff kudunya jatah minggu depan tapi gue kebut jadi buat hari ini. Rencananya sih gue mao panjangin tapi karena mepet gue pangkas sebagian, semoga alurnya di sini kaga kecepetan

P.S.S: gue kaga tao apa dosa gue ama fb ampe tiap gue bikin note tulisan pasti gandeng-gandeng padahal ye sebelom gue pindah ke body note udh gue edit entah dari ataopun di bodynya. Bisa tolong jelaskan pada saya dimana dosa saya?*nyinet dulu* -_-

P.S.S.S: yang hobi nongkrongin kartun (entah lawas ato baru), ato yang udah pernah liat kartunya pasti tao itu lagu asalnya dari mana jadi kaga usah gue kasih tao itu lagu dari mana. Oh iye kalo ada typo gue minta maaf ye