Touken Ranbu (c) DMM & Nitroplus

Warning(s) : Tsuru x Female!Saniwa (OC). Fanfic senang-senang. Plot ga ada /yha. Eksploitasi hewan (Hah). Ampas. Pelampiasan dari skripsi yang tak kunjung tergarap (malah bikin fanfik. Yha)


Rencana nya mau buat #drabbletober day 8, tapi kayaknya telat huhu. Agak gak nyambung juga sama tema Sleeping in nya :') Karena kayaknya kepanjangan post di fb jadi langsung di ffn aja hehe.

Disatuin sama The Crane karena saya secara gak sadar udah bikin plot sendiri di otak saya. Maafin ya huhu :'')


Day 8 : Sleeping in

Ada bias cahaya terang yang masuk ketika ia membuka mata. Kepalanya berputar hebat, tenggorokannya kering. Matanya? Matanya masih rabun, tentu saja. Apa yang mau diharapkan dengan mata yang baru mulai bertugas di pagi hari ketika tubuhmu masih terpengaruh minuman keras?

Ngomong-ngomong, memangnya sudah pagi?

Saniwa mengerang. Badannya pegal. Pesta penyambutan kepulangan para pedangnya dari misi semalam benar benar melelahkan. Sebagai seorang tuan, kesuksesan misi yang dibawa oleh 'anak-anaknya' tentu saja membuat senang, apalagi berhasil membangkitkan satu pedang baru dengan seratus ribu mutiara yang dikumpulkan. Karena itulah dia berinisiatif untuk membuat pesta semalaman; untuk penyambutan si anak baru, sekalian sebagai penghilang penat anak-anaknya yang telah berjuang mengumpulkan biji di desa harta. Meskipun tentu saja yang membuat senang para anak-anaknya adalah pengumuman dari dirinya yang ingin meliburkan diri seharian.

Tidak ada misi untuk berperang besok pagi, kasarnya.

Saking gembiranya, Jiroutachi langsung mengeluarkan sake simpanan dari balik tatami ruang tengah—astaga jadi koban yang diberikannya berubah jadi minuman keras? Kenapa Hasebe tidak memberitahunya? Kenapa bisa ada kotak rahasia di bawah sana?—memaksa semua pedang yang cukup dewasa— para tantou yang berwujud seperti bocah sekolah dasar dilarang minum—untuk minum-minum semalaman. Si pedang baru, Kotegiri Gou, langsung ditarik oleh para wakizashi untuk menjauh dari arak.

"Aruji, anda juga minuuuum~"

Orang mabuk bicaranya melantur, dan apa yang dipintanya harus dipatuhi.

Saniwa juga tidak mau ada banci ngamuk di rumahnya.

Jadilah semalam, untuk pertama kalinya dia mencoba sake. Sempat dilarang oleh Tsurumaru, sebenarnya. Entah kenapa malam itu si bangau sangat sensian. Mungkin Karena baru pulang dari desa harta langsung disuruh menjaga saniwa oleh Hasebe yang sibuk memasak Bersama Mitsutada, namun si Tuan malah diajak mabuk-mabukan oleh pria jejadian.

si Bangau sempat adu mulut dengan Jirou—bukan arti sebenarnya, tolong jangan aneh-aneh—namun seribu sayang, si Tuan sudah terlanjur menenggak segelas penuh.

Ngomong-ngomong, saniwa juga sudah curiga dari dulu kalau dirinya lemah alkohol. Terakhir kali dia minum alkohol adalah ketika upacara kedewasaan, dan itu berlangsung setahun yang lalu. Semalam setelah minum dua gelas, dia tidak ingat apa-apa. Langsung teler. Gelap. Mengawang-awang.

Dia hanya ingat ada seseorang yang menggendongnya sambil menggerutu. Sempat berontak memang—seingatnya dia sempat menjambak orang yang menggendongnya, lalu dibalas dengan cubitan di hidung dan pipinya—tapi saniwa masih mendengar dengan jelas decakan si pelaku penyubitan yang dilontarkan dengan nada kesal;

"Baka-Aruji."

Bersamaan dengan dekapan hangat yang mengantarnya pada bunga tidur hingga pulas.


Jadi pagi ini, badannya serasa ditimpa lima karung tomat yang dipanen Ookurikara kemarin siang. Berat.

Tunggu, bukannya massa berat ini terlalu nyata?

Dia mencoba menggulingkan badan, tapi ternyata ada sesuatu yang menghalanginya. Apa semalam dia tidur sambil berjalan dan nyasar ke kandang Hanataro?

"Hanataro—berat—"

"Hoo, sudah kangen Hanataro rupanya."

…. Sebentar.

Hanataro bisa ngomong?

"Kalau anda lebih memilih tidur di dada Hanataro, aku akan melempar anda ke kandang kuda dengan senang hati sekarang juga."

"… Nggh. 'Paan, sih." Kepalanya pusing sekali, seperti banyak kunang-kunang menggelayut di pelupuk matanya yang sipit. Dengan malas, saniwa membuka sebelah matanya, melirik si pemilik nada ketus yang mengganggu mood di pagi hari.

Oh. Tsurumaru Kuninaga rupanya. Sedang menatapnya dengan pandangan meremehkan. Wajah menyebalkan minta digampar.

Kenapa wajahnya dekat sekali. Apa yang terjadi.

"Senang tidur di dadaku semalaman, Aruji?"

"….Hah." brain loading : 10 persen.

"ttaku—anda yang mabuk benar-benar menyebalkan, ya,"

Brain loading : 30 persen.

"mengoceh sana-sini, menangis semalaman. Minta peluk terus-terusan. Minta tidur di dada. Anda tidak lihat baju tidurku basah kena iler? Lihat, anda membuat pulau di sini-dan di sini!"

Brain loading : 60 persen.

"Yah, bagaimanapun—" tangan pucat si bangau mengelus pipinya, lembut. "jangan perlihatkan sisi lemah anda pada orang lain," berpindah ke bibirnya, "cukup kepadaku saja."

Brain loading : 100 persen.

"Selamat pagi, Baka-Aruji."

Satu kecupan lembut hinggap di bibir saniwa.

Satu jedotan kencang hinggap di kepala si Bangau.

Adil, bukan?

Lalu adegan jambak-jambakan ronde dua dimulai.


*tabok curut*