Sesuai janji, Leticia update chap-2 di hari Minggu.

Sebelumnya Leticia ucapkan terima kasih sudah mau membaca dan mereview cerita ini. Leticia gak nyangka lho kalau fic ini bakal banyak yang suka.

Oh iya, terima kasih juga atas support serta saran yang di berikan. Mohon maaf Leticia gak bisa bales Review satu per satu tapi kalau ada pertanyaan Leticia bakal bales 'kok...

Ok, langsung saja..

Happy reading~


.

.

.

.

.

"Aku... mau..."

Brug!

Setelah mengatakan itu Yoongi pingsan dan terjatuh dalam dekapan Jimin.

Jimin hanya menatapnya datar lalu menggendong Yoongi dibelakang punggungnya.

.

.

.


Yoongi tersadar disebuah kamar yang tidak ia kenal. Jam dalam sebuah kamar misterius itu menunjukan pukul lima sore sedangkan jam pulang sekolah adalah jam dua siang sepertinya ia tertidur (pingsan) selama tiga jam.

Yoongi mengingat-ngingat apa yang terjadi padanya dan penyebab kenapa ia bisa berada disini. Tanganya yang kiri memegang kepalanya yang terasa sakit sedangkan tangan kanan ia gunakan sebagai penopang tubuhnya untuk mendapatkan posisi duduk.

Yoongi kembali memperhatikan keadaan sekitar, tempat tidur king size? Dia tidak punya tempat tidur seperti ini apa dia sedang berada di apartemen Taehyung? Tapi seingatnya kamar Taehyung di dominasi dengan warna hijau dan putih bukan warna biru dan hitam. Lalu-

"Kau sudah sadar Pembantu?"

Suara itu mengalihkan perhatian Yoongi dari pertanyaan-pertanyaan dalam pikirannya. Kemudian ia menoleh dan menemukan Jimin sedang berjalan mendekat dari arah pintu masuk kamar.

Ah! Ia ingat. Saat itu Jimin memintanya untuk menjadi pembantu pribadinya lalu tanpa pikir panjang Yoongi meng-iyakanya demi mengetahui lebih jauh tentang Jimin namun tidak lama kemudian pandangannya mulai terasa gelap dan ia tidak tahu apa yang terjadi setelahnya.

Yoongi membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu namun segera ia menutupnya kembali saat merasa ada sesuatu yang aneh. 'Kemana kacamataku?!' Batinnya.

"Kau mencari benda jelek ini?" Jimin duduk di tepi kasur dan menunjukan benda yang Yoongi cari sambil memainkannya tanpa peduli jika benda itu akan jatuh dan pecah. Yoongi panik melihatnya.

"Ku mohon jangan lakukan itu, kacamata itu sangat penting." Yoongi memohon pada Jimin dan berusaha merebutnya namun apa daya tubuh Yoongi masih lemas. Matanya mulai terlihat berkaca-kaca.

"Kenapa? Matamu bahkan baik-baik saja?" Tanya Jimin dengan nada mengejek,

"Lagi pula..." Jimin mendekatkan dirinya pada Yoongi lalu ia mengangkat dagu Yoongi sehingga membuatnya mendongak menatap lurus kedalam matanya. "...kau terlihat manis tanpa memakai benda ini." Jimin melemparkan kacamata Yoongi ke lantai hingga menghasilkan suara pecahan sebuah kaca.

Mata Yoongi membulat kaget pada tindakan Jimin yang merusak kacamatanya belum sempat rasa kaget itu hilang Yoongi tiba-tiba merasakan sesuatu yang lembut dan basah menyapu bibirnya dengan kasar. Yoongi semakin syok. bagaimana tidak, Jimin menciumnya!

Begitu mengetahui apa yang Jimin lakukan padanya, Yoongi mencoba mendorong tubuh Jimin untuk menjauh. Air mata sudah tidak bisa ia bendung lagi. Hatinya benar-benar sakit, itu adalah kacamata peninggalan mendiang ayahnya dan sekarang Jimin dengan seenaknya tengah mengambil ciuman pertamanya.

Jimin tidak peduli dengan apa yang terjadi pada Yoongi satu-satunnya yang ia pikir adalah tangan Yoongi benar-benar mengganggu. Dengan segera ia mengunci pergerakan lengan Yoongi menggunakan satu tangan.

Meskipun kedua tangannya sudah tidak bisa bergerak Yoongi dengan keras kepala masih terus berontak dari ciumannya dengan Jimin. Hal itu membuat Jimin kesal segera Jimin melepaskan ciumannya lalu dengan tangan satunya yang masih bebas ia menarik kasar surai gelap Yoongi membuat teriakan kesakitan meluncur dari mulutnya dengan bibir ranumnya yang kini sedikit memerah.

"Kau, sudah berani melawan 'Tuanmu' ya?!" Bentak Jimin dengan menekankan kata 'Tuan' pada kalimatnya.

"..." Yoongi tidak berkata apa-apa, yang keluar dari mulutnya hanya isak tangis.

"Hey! Jawab aku bodoh apa kau tuli?!" Jimin kembali membentak namun karna rasa kesal benar-benar sudah menguasai dirinya dia menarik rambut Yoongi dengan keras hingga membuat Yoongi terjatuh dari ranjang dengan wajah yang menghantam lantai terlebih dahulu.

Yoongi mengangkat kepalanya mencoba bertahan dari rasa sakit akibat terjatuh tadi dan menemukan kacamata miliknya yang telah rusak. Air mata Yoongi turun semakin deras tangannya yang lemah berusaha menggapai kacamata itu namun belum sempat itu terjadi ada sebuah kaki yang menendang kacamata itu hingga menjauh dari hadapan Yoongi.

Jimin adalah pelaku dari tendangan itu menatap Yoongi dengan tajam lalu ia berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Yoongi, "Bersihkan dirimu dan buatkan aku makan malam." Ujarnya pelan tanpa ada rasa bersalah sedikit pun lalu bangkit dan berjalan keluar dari kamarnya.

Yoongi berusaha duduk dengan benar. Ia menghentikan tangisnya dan mengelap sisa-sisa air mata dengan kedua tangannya.

Ia merangkak menuju tempat kacamata hancur itu tergeletak, dengan segera Yoongi meraihnya lalu mendekapnya di dada, tangannya sedikit gemetar.

"Appa... maafkan Yoongi." Bisiknya lirih.

.


Yoongi telah selesai membersihkan dirinya dan juga telah memakai baju santai miliknya. Ia sendiri heran bagaimana bisa pakaian dan perlengkapan sekolah miliknya ada di apartemen Jimin? Mencoba tidak memikirkan hal itu Yoongi bergegas mencari dapur. Kamar mandi paling mudah ia temukan karena sudah menjadi satu paket dengan kamar Jimin.

Yoongi sedikit kesulitan menemukan dapur mengetahui apartemen ini lumayan luas namun akhirnya ia menemukannya.

Ternyata tidak terlalu jauh dari dapur terdapat ruang makan yang tidak terlalu besar dengan sebuah meja ukuran sedang berbentuk lingkaran dan empat buah kursi yang mengelilinginya, serta perabotan lain seperti lemari kaca berisi peralatan makan antik maupun vas berisi bunga-bunga indah mempermanis ruangan.

'Rapih.' Batin Yoongi sambil tersenyum kecil.

Setelah puas melihat-lihat Yoongi kembali ke dapur menyiapkan peralatan memasak. Samar-samar Yoongi mendengar suara televisi yang berasal dari ruangan lain, Yoongi berpendapat bahwa Jimin sedang berada disana.

Ia memakai celemek dan berjalan menuju lemari es untuk mengecek bahan makanan yang akan ia masak untuk makan malam nanti.

"Hmmm, bahan-bahan seperti ini dibuat yangnyeom tongdak mungkin tidak buruk." Gumamnya mengambil bahan yang dirasa perlu lalu mulai meracik bumbunya.

.

.


Disaat Yoongi masih sibuk dengan masakannya. Jimin masih sibuk dengan pemikirannya, televisi yang ia sengaja kencangkan volumenya pun tidak di gubrisnya.

Matanya yang tajam terus menatap kosong ke arah televisi.

"Persetan!" Teriaknya tiba-tiba. Tangan kedua tangan yang berada di pangkuannya ia kepalkan dengan kuat membuat buku-buku jarinya yang putih pucat menjadi semakin memucat tatkala ia mengeratkan kepalan tangannya menahan rasa kesal,

"Mungkin, aku memang menyukainya." Ia kembali berbicara. Tanganya yang terkepal perlahan mulai mengendur, ia memutuskan untuk meraih remot TV dan menekan satu persatu tombol dengan kasar mencari saluran televisi yang dapat menghibur serta mengalihkan pikirannya dari kejadian beberapa jam yang lalu.

Beberapa saat kemudian hidungnya mencium aroma sedap dari arah dapur yang membuat perutnya berbunyi meminta untuk di isi. Dengan rasa penasaran ia segera bangkit dari sofa dan berjalan menuju dapur.

Setelah sampai pada tempat tujuannya, Jimin melihat Yoongi yang masih sibuk dengan kegiatan memasaknya. Jimin hanya menyenderkan tubuhnya pada dinding dan terus menatap gerak-gerik Yoongi saat memasak yang berhasil membuatnya terhibur dibanding melihat acara televisi tidak jelas itu. Sepertinya Yoongi terlalu asik membuat makanan sampai tidak merasakan kehadiran Jimin di belakangnya.

Yoongi sudah tinggal menata makanannya. Dan bersiap untuk membuat minuman beserta makanan penutup.

Dengan cekatan ia membuat itu semua dalam kurun waktu kurang dari lima belas menit. Jimin berdecak kagum melihatnya.

"Akhirnya selesai." Gumam Yoongi sambil mengelap peluh yang berkumpul di dahinya.

Jimin yang mendengar itu melangkahkan kakinya untuk mendekati Yoongi.

"Masak apa?"

Yoongi berjengit kaget saat tiba-tiba muncul sebuah suara dari belakang. Ia berbalik dan menatap Jimin dengan takut-takut.

"A-aku hanya memasak yangnyeom tondak." Jawab Yoongi pelan.

Jimin melihat masakan Yoongi yang benar-benar membuatnya tidak tahan untuk melahap itu semua. Tangannya ia gerakan untuk mencicipi sedikit masakan Yoongi. Mata Jimin terpejam menikmati rasa makanan itu begitu masuk kedalam mulutnya. Indra pengecap dan pikirannya tidak bisa berbohong, ia menyukai ini. 'Bahkan rasanya lebih enak dibanding makanan di restoran.' Batinnya.

Jimin menghela nafas melihat Yoongi yang terus menunduk.

"Baiklah Pembantu, aku sudah lapar cepat letakan semua makanan itu di meja makan dan ikutlah makan bersamaku." Ujar Jimin membalikan tubuhnya dan segera pergi menuju meja makan.

Yoongi yang mendengar perintah dari Jimin segera melaksanakannya.

.


Yoongi masih menundukan kepalanya merasa gugup saat makan berhadapan dengan Jimin. Bagaimana tidak, hanya ada mereka berdua disini dan itu sudah cukup membuat jantung Yoongi berdegup dengan sangat kencang. Yoongi jujur ia tidak pernah bisa membenci namja dihadapannya meskipun ia sudah menyakitinya beberapa kali untuk hari ini. Bahkan merusak sesuatu yang paling berharga baginya.

Hening, dalam ruangan itu hanya terdengar suara dentingan peralatan makan yang beradu dengan piring.

Jimin berinisiatif memulai percakapan diantara mereka, dia mulai memikirkan topik apa yang ingin ia bicarakan.

Ah, ia masih belum tahu nama pembantunya ini 'kan? Itu sebabnya ia sering memanggilnya pembantu. Yah... salahkan saja pertemuan pertama mereka yang memang bisa dibilang kurang menyenangkan.

Jimin mulai mengeluarkan suaranya. "Aku belum mengetahui namamu."

Yoongi mendongak menatap Jimin yang bertanya padanya, "M-maaf atas kelancanganku! namaku Min Yoongi Tuan." Jawab Yoongi dengan tergesa-gesa.

Jimin mendengus kesal, "Tidak perlu memanggilku dengan Tuan cukup panggil namaku saja."

"Baik... err.. Jimin?" Balas Yoongi dengan nada suara yang tidak yakin.

Jimin hanya tersenyum kecil mendengarnya. Wow, tunggu dulu... kemana sifat kejamnya itu? Sayangnya Yoongi terlalu polos atau mungkin tidak peka untuk menyadari hal itu.

"Um, Jimin?" Yoongi kembali memanggil Jimin. Sepertinya Yoongi sudah merasa sedikit tenang sekarang.

"Hm." Jimin menyahut panggilan Yoongi.

"Kenapa barang-barangku bisa ada di apartemenmu?" Tanya Yoongi menaikan salah satu alisnya.

"Tentu saja karna kau mulai sekarang menjadi pembantu pribadiku artinya kau harus tinggal satu atap denganku." Jelas Jimin.

"Bagaimana kau tahu rumahku?"

"Kakekku pemilik sekolah kita ingat? Jadi aku bisa saja mencuri data-data siswa yang ku inginkan."

Yoongi mengangguk paham, "Lalu, dimana aku tidur?"

"Gez, habiskan saja dulu makananmu!" Kesal Jimin saat acara makannya di ganggu. Dasar, padahal dia yang pertama ingin memulai percakapan.

"Baiklah-baiklah..." Yoongi kembali melanjutkan makannya.

.


Karna besok adalah hari libur Yoongi yang biasanya belajar hari ini menghabiskan waktunya untuk melihat acara TV kesukaannya. Jimin berada di sampingnya ikut menemani padahal biasanya setelah makan ia lebih memilih bergelung dalam selimut hangatnya hingga pagi hari tiba.

Yoongi terlihat gelisah, Jimin yang menyadari hal itu segera bertanya,

"Ada apa?"

"Um.. itu.. jadi, dimana aku tidur?" Yoongi mengulangi pertanyaannya pada saat di ruang makan beberapa waktu yang lalu.

Jimin memalingkan pandangannya dari televisi dan menatap wajah Yoongi. Dengan sengaja jari telunjuknya ia tempelkan pada dahi Yoongi,

"Kau... akan tidur... di..." Jimin menggantungkan kalimatnya membuat Yoongi membesarkan kedua matanya penasaran. Keringat dingin sedikit demi sedikit mulai mengucur di dahinya.

'Ya Tuhan ku mohon jangan sekamar dengannya.'

"Dii..? " Yoongi yang geregetan mencoba memancing Jimin.

'Tolong jangan katakan, tolong jangan katakan!'

"Di..."

'Ya Tuhaaaaannnn..'

"Di... karmarku bersamaku." Ucap Jimin kalem.

'TIDAAAAKKKKK!' Batin Yoongi semakin menjerit-jerit tidak terima dengan keputusan yang diberikan Tuhan untuknya.

Yoongi mendengus kasar, tidak bisakah harinya ada yang lebih buruk dari ini?


Jam sudah menunjukan pukul sembilan malam. Jimin sudah berganti pakaian dengan piyamanya dan bahkan kini sudah membaringkan tubuhnya dibawah selimut tebal.

'Apa benar harus seranjang juga?' Pikir Yoongi yang mulai takut. First kiss Yoongi dicuri oleh Jimin saat di ranjang ini ingat?

"Kenapa masih berdiri disana? Apa perlu ku gendong paksa dan mengikatmu di ranjang ini hah?"

"Huaaa, eh i-itu..tidak perlu." Yoongi gelagapan dengan cepat ia barjalan menuju ranjang dan membaringkan dirinya di atas kasur empuk dan lembut. Dia benar-benar akan menikmati malamnya kali ini, tidur di kasur yang nyaman, makan malam yang enak, kamar mandi yang luas tapi mengingat selalu ada orang yang menyeramkan di dekatnya ia tarik kembali perkataan 'menikmati' tadi.

Suasana kamar gelap temaram dan hanya diterangi oleh sebuah lampu tidur yang di taruh diatas meja samping tempat tidurnya. Perlu diketahui posisi tidur mereka saling membelakangi satu sama lain.

Yoongi masih belum bisa memenjamkan matanya ada satu pertanyaan yang mengganjal di pikirannya ia kemudian membalik tubuhnya dan menusuk punggung Jimin dengan jari telunjuknya sekedar mengecek apakah ia masih hidup atau sudah pergi ke alam mimpi.

Satu kali tusukan Jimin diam.

Dua kali tusukan Jimin masih diam.

Di tusukan ke tiga ada pergerakan sedikit dari tubuh Jimin. Yoongi tersenyum senang.

"Apa yang kau lakukan 'sih?!" Jimin risih membalik tubuhnya sehingga kini mereka saling berhadapan.

"Jimin, kemana orangtuamu?" Tanya Yoongi tanpa memperdulikan Jimin yang menatapnya tajam.

"Kau tidak perlu tahu." Balas Jimin dengan ketus.

"Kenapa?"

"Pergi tidur atau aku akan menggigitmu." Ancam Jimin.

"Tapi aku tidak bisa tidur sebelum kau menjawabnya dengan benar." Keluh Yoongi.

"Baiklah, aku yakin kau bisa tidur setelah ku menggigitmu." Jimin bangkit lalu mulai menindih tubuh Yoongi dan mencengkram tangan Yoongi di atas kedua sisi kepalanya. Mengetahui Jimin akan melakukan hal yang sama seperti pada saat merusak kacamatanya, Yoongi berontak berusaha melepaskan dirinya dari cengkraman Jimin yang sangat kuat.

Jimin yang melihatnya hanya menyeringai kejam, Yoongi benar-benar terlihat tak berdaya di matanya.

Yoongi pasrah, sekuat apapun dia melawan justru pergerakannya semakin terkunci.

Perlahan namun pasti Jimin menunduk mulai mendekatkan kepalanya pada leher jenjang Yoongi. Menghirup aroma tubuhnya sebentar sebelum menjilatnya dengan perlahan.

Yoongi merasa geli. Sensasi ini baru pertamakali ia rasakan.

Jimin mendekatkan bibirnya pada telinga Yoongi dan berbisik dengan nada berkesan gelap dan dalam,

"Aku tidak main-main dengan ancamanku. Min Yoongi."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Nyiahaha reader kecewa Leticia gantungin! XDD *ketawa setan* #Dihajar

Sekedar info Jimin bukan vampir atau sebangsanya lho ya... jadi jangan salah paham lagian genrenya gak akan berubah kok, Um.. kalo rated Leticia gak bakal jamin haha.

Ok, kayaknya cerita ini masih di butuhkan banyak chapter deh. Dan juga cerita ini masih jauh dari kata sempurna...

Jadi, demi menyempurnakan cerita ini serta untuk menambah semangat Leticia dalam menyelesaikannya. Leticia mohon Review-nya dari para reader sekalian~ *PuppyEyes*

Sampai jumpa di chapter berikutnya!

.

.

.

.

.

#Sign Leticia