.

"Bring him back. Tomorrow she'll've forgotten she killed him."

King of Heart, Alice in Wonderland by Lewis Carroll

.

...*...

.

K belongs to GoRa and GoHands

Saya tidak mendapatkan keuntungan material apapun dari pembuatan fanfiksi ini.

Warning: BL, AU, OOC, miss-typo(s), implisit lime, etc

Sangat terinspirasi dari Queen of Heart series karya Collen Oakes dan Alice in Wonderland karya Lewis Carroll.

Karena karya yang luar biasa perlu diabadikan dengan cara yang berbeda.

Happy Reading ^^

.

...*...

.

Perpustakaan Istana Wonderland adalah surga bagi mereka yang haus akan ilmu dan kesenian.

Dengan buku-buku berderet di rak-rak yang memenuhi dinding hingga langit-langit, sebuah perapian besar dan beberapa sofa bertengan ditata di satu sisi, sementara di sisi yang lain terdapat meja-meja kayu panjang dan kursi berhias ukiran. Penuh dengan patung-patung marmer dan lukisan-lukisan raja dan ratu di masa lalu, memberikan kesan khidmat bagi siapapun yang berada di dalamnya.

Langit-langitnya yang tinggi dan berbentuk kubah dihiasi dengan lukisan besar mengenai sejarah Kerajaan Wonderland. Di beberapa sisi digambarkan perang besar nan dahsyat dengan tubuh-tubuh bergelimpangan dan api membara, sementara di sisi lain digambarkan ladang dan perumahan penduduk yang begitu damai dengan pria, wanita dan anak-anak yang tersenyum bahagia—sebuah kontradiksiyang menakutkan. Dan di pusatnya, siapapun dapat melihat Raja Pertama, yang memiliki tubuh tinggi dan rambut perak panjang, turun dari sebuah kapal besar. Di sampingnya, empat orang Sahabat berdiri sambil membawa simbol-simbol kerajaan (hati, keriting, wajik dan sekop).

Raja pertama yang dikatakan menguasai seluruh sihir adalah pendiri Kerajaan Wonderland yang berasal dari Tanah Jauh di seberang samudra. Dia membagi kekuatan sihirnya pada empat Sahabat. Sihir api untuk Sahabat Hati, sihir air dan es untuk Sahabat Sekop, sihir tanah untuk Sahabat Wajik dan sihir angin untuk Sahabat Keriting. Masing-masing Sahabat memiliki kemampuan untuk membagi sihirnya dengan orang lain. Mereka yang memiliki sihir dengan jenis yang sama akan masuk dalam satu klan dan beberapa yang terpilih akan memperkuat Wonderland sebagai prajurit kartu.

Raja Pertama memimpin dengan baik. Namun, di tengah masa pemerintahannya, tiba-tiba saja dia menghilang tanpa jejak. Empat Sahabat yang menjadi tonggak utama kerajaan berdebat untuk menentukan siapakah yang akan mengisi posisi raja setelah kepergian Raja Pertama. Melalui pertarungan yang sengit, Sahabat Hati terpilih untuk menjadi Raja Kedua sekaligus menjadi Raja Hati pertama dan memimpin Wonderland hingga saat ini.

Generasi demi generasi berlalu. Raja dan Ratu Hati naik dan mangkat, digantikan putra dan putri mereka yang mewarisi kemampuan Sahabat Hati untuk membagi sihir api mereka. Mereka yang terpilih di masing-masing klan mendapatkan gelar sebagai Ketua Klan.

Dan di masa ini, calon Ketua Klan Hati tengah berbaring di salah satu sofa perpustakaan istana sembari memandangi lukisan di langit-langit. Berpikir betapa anehnya takdir yang membawanya ke tempat ini—dan membuatnya menjadi dirinya yang sekarang.

Anna Kushina namanya. Putri Mahkota Kerajaan Wonderland yang disanjung dan dicintai . Usianya baru menginjak sepuluh, namun dia yakin, dia tahu lebih banyak dibandingkan orang dewasa pada umumnya. Rambutnya putih panjang dan matanya merah darah, dia tahu kondisinya itu disebut 'albino' atau tidak memiliki sel pewarna pada tubuh—entah apa maksudnya itu. Ketidakmiripannya dengan ayahnya, Sang Raja Hati, terkadang menjadi perdebatan serius. Beruntung, Ratu Hati tak pernah menunjukkan wajahnya sehingga semua orang segera berasumsi jika wajah manis gadis itu diwarisi dari ibunya—namun tidak.

Anna baru saja menyelesaikan kelas sejarah Wonderland-nya dan mencoba menghapalkan kisah Perang Sepuluh Hari dalam merebut Danau Kenangan di wilayah selatan melawan suku barbar. Berpikir betapa banyaknya hal yang bisa terjadi dalam sepuluh hari—yang setengahnya dia yakin hanya rekayasa semata (karena seperti kata ibunya, 'Sejarah adalah karya fiksi termengagumkan dunia'), saat tiba-tiba Isana Yashiro, guru pribadinya, mendobrak masuk ruang perpustakaan.

"Kita terlambat!" teriaknya pada Anna. Shiro adalah seorang laki-laki muda dengan rambut berwarna kelabu. Untuk alasan yang tidak Anna mengerti, Shiro selalu menggunakan setelan jas putih dengan dasi yang diikat ketat, dihiasi sebuah bros perak dengan simbol wajik yang menunjukkan posisinya dalam struktur kerajaan. Pemuda itu melihat jam sakunya sekali lagi sebelum berhenti di depan Anna, "Tuan Putri, bukankah sudah kukatakan untuk kembali ke kamarmu dan mandi sejak satu jam lalu, Yang Mulia Raja dan Ratu sudah tiba di gerbang istana!"

"Ayah tidak akan keberatan jika aku melewatkan satu acara mandi sore," Anna membela diri, kembali menenggelamkan diri dalam buku besar yang tak dibacanya, berpura-pura menikmati kisah yang begitu membosankan.

Shiro menggelengkan kepalanya dan tersenyum kecil, menepuk-nepuk rambut putih Anna penuh sayang. "Mungkin tidak bagi Baginda Raja. Namun Ratu pasti tidak akan senang."

"Ibu," Anna mengambil jeda setelah mengucapkannya, seolah-olah asing dengan kata itu, "tidak pernah senang pada apapun. Baginya, aku tidak pernah melakukan apapun dengan cara yang pantas." Tak ada nada merajuk di dalam kata-kata itu, tak ada pula ekspresi sedih di wajahnya. Ketenangan yang ganjil terpatri telah dalam diri gadis itu, menjadikannya salah satu ciri khas dari sang putri muda.

"Ratu Hati memiliki kecemasan-kecemasannya sendiri. Sebagai seorang ratu, dia menekan perasaannya sendiri untuk menciptakan Wonderland yang lebih damai. Termasuk perasaannya padamu, Tuan Putri." Shiro tersenyum pelan, merapikan helai-helai rambut Anna yang kusut seperti sarang laba-laba, menatanya dalam uraian panjang berhiaskan pita biru muda. Melirik nelangsa pada gaun biru Anna yang kusut dibawa berguling di atas sofa. "Tahukah kau jika Yang Mulia Ratu selalu menanyakan padaku mengenai perkembangan pelajaranmu tiap hari?"

"Ini kali pertama kau mengatakannya padaku," Anna bergumam pelan. Tampak memikirkan sesuatu.

Shiro berlutut untuk merapikan gaun biru muda yang dikenakan sang putri. "Yang Mulia Ratu mengalami malam yang buruk kemarin. Kau pasti sudah tahu bukan, Putri Anna?"

Gadis kecil itu mengangguk pelan. Membuka kepalan tangan kanannya tempat sebuah kelereng berwarna merah darah tersembunyi. "Aku melihatnya melalui kelereng ini. Ibu terluka saat mencoba melawan." Kelereng itu berkilau akibat sihir api yang dialirkan sang gadis kecil melalui jari-jarinya. Dengan matanya yang merah terang, gadis itu mengintip. "Tapi aku tak bisa melihat wajah penyerangnya. Ada sihir kuat yang menghalangiku melakukannya."

"Kemampuan sihirmu berkembang dengan sangat pesat, Tuan Putri," Shiro bertepuk tangan bangga melihat pertunjukan sihir kecil yang dilakukan Anna. "Di masa depan, kemampuan istimewamu ini akan menjadi harta yang sangat berharga bagi Wonderland dalam menjadikannya kerajaan dengan keadilan yang absolut."

Anna menghela napas panjang. Menegakkan tubuhnya dan berjalan mendahului Shiro keluar dari ruangan. "Tapi itu tak berguna untuk saat ini. Ayah melarangku untuk pergi ke pengadilan atau mencoba menggunakan sihir yang lebih kuat untuk menemukan penyerang Ibu."

"Itu dilakukannya untuk melindungimu," Shiro menjelaskan, mengikutinya sambil terus mengecek jam sakunya. "Saya yakin masih segar di ingatan Baginda Raja bagaimana kau ambruk setelah memaksakan diri untuk melakukan sihir penyerang tingkat tinggi?"

"Itu sihir yang bisa dilakukan Ayah saat dia masih lebih muda dariku," Anna memprotes, tidak terima. "Aku tahu, dengan kondisiku saat ini, aku tidak akan bisa melakukan apa yang telah dilakukannya di masa lalu. Namun, aku juga ingin membuktikan jika aku pantas menjadi Putri Mahkota Wonderland."

Shiro tak lagi menjawab. Sadar benar jika kata 'pantas' selalu menjadi momok sekaligus motivasi terbesar bagi sang putri muda. Hanya mengikutinya dalam diam—sambil sesekali mengecek jam saku—menuju lobi utama tempat Raja dan Ratu akan masuk.

Anna baru sampai di puncak tangga saat pintu utama dibuka dengan suara berat yang berderit menyakitkan. Empat pasukan Prajurit Kartu berbaris sesuai dengan simbolnya. Prajurit Hati dengan seragam merah berapa di paling depan, Prajurit Keriting dengan seragam hijau di baris berikutnya, diikuti Prajurit Wajik dengan seragam kuning dan yang terakhir Prajurit Sekop dengan seragam birunya.

Beberapa pelayan wanita hilir mudik di belakang sembari membawa berbagai macam peralatan—handuk, baskom kecil dari tembaga, gelas emas berisi madu, obat-obatan, hingga bantal beludru yang begitu lembut. Memasang ekspresi cemas dan panik yang menarik untuk diperhatikan.

Raja Mikoto Suoh masuk dengan langkah kaki berderap yang menggema menakutkan. Kehadirannya membawa aura panas yang terasa menyesakkan. Prajurit yang berdiri segera menegakkan tubuhnya dan menundukkan kepalanya penuh hormat.

Ratu mengikuti di belakangnya dengan langkah yang seringan bulu dan suara berkeletok sepatu yang beradu dengan lantai batu. Gaun merahnya yang berekor panjang terseret di belakang. Seperti biasa, wajahnya tertutup penuh oleh cadar, topi merah bertepi lebar menyembunyikan seluruh rambutnya. Selangkah di belakangnya, Seri mengikuti dalam langkah-langkah tegas khas seorang prajurit.

Iring-iringan berikutnya adalah para pelayan dan prajurit yang berjalan berpasang-pasangan. Para pelayan yang tadi menunggu segera menghampiri Ratu, menawarkan pertolongan untuk membuatnya merasa lebih baik. Sang Ratu mengangkat tangan, membisikkan sesuatu pada Seri. Sang pelayan pribadi mengatakan sesuatu yang membuat para pelayan itu kembali ke tempatnya dengan ekspresi kecewa.

"Anna, putriku," Mikoto berkata lantang. Seluruh mata langsung terarah pada sang putri yang masih berada di puncak tangga. "Turunlah kemari dan sambut orangtuamu."

Anna mengangguk patuh sebelum dengan hati-hati menuruni tangga, memastikan pandangan matanya tetap lurus dan bukannya memandang anak-anak tangga yang seolah siap menjegalnya (seperti yang selalu dilakukan Ratu Hati). Dalam pikirannya, gadis itu terus berbisik, 'Lakukan dengan pantas. Seanggun seorang putri seharusnya.'

Begitu tiba di hadapan orangtuanya, Anna menekuk lututnya dan mengembangkan gaun, memberi hormat. "Selamat datang, Ayah, Ibu. Bagaimana hari kalian?"

Mikoto merengkuh putrinya dalam sebuah pelukan tak formal. Memeluk bahunya Anna dengan sebelah tangannya yang kuat dan panas. "Bukan hari terbaik yang bisa kita dapatkan. Kita tak menemukan apa yang seharusnya kita temukan," katanya. Melepaskan pelukannya pada gadis kecil itu. "Sapalah juga ibumu."

Anna sedikit ragu-ragu saat melakukannya. Berpikir jika memberi hormat adalah hal yang pantas. Namun, dia memutuskan untuk mencoba hal baru—yang membuat hatinya sedikit berdebar-debar. Memeluk pinggang ibunya dengan kaku, gadis itu berkata, "Apakah lengan Ibu sudah terasa lebih baik?"

Sang Ratu membungkuk, membungkus kepala Anna dengan cadarnya sembari membisikkan sesuatu.

Anna melepaskan pelukannya, bergumam, "Terima kasih dan... maaf." Melakukan penghormatan sederhana sebelum berpikir jika harusnya dia menuruti perintah Shiro untuk mandi sebelumnya. Satu lagi hal yang tidak pantas, pikirnya miris.

"Bagaimana harimu hari ini, Anna?" Mikoto bertanya.

"Menyenangkan. Aku mempelajari banyak hal baru hari ini." Jawaban itu terasa seperti jawaban formal yang diputar ulang tiap malam. Anna terdiam sejenak, memikirkan sesuatu. "Aku sudah dapat melacak seseorang dengan kelerengku," tambahnya sedikit antusias.

"Bagaimana dengan Pertempuran Danau Kenangan?"

Anna menghindarisedikit pandangan ayahnya. "Cukup menarik."

Mikoto mengembangkan senyum langkanya dan menepuk kepala Anna. "Saat aku seusiamu, aku pun menganggap sejarah adalah hal yang membosankan dan tidak berguna. Karena, sebesar apapun kita menghargai masa lalu, yang terpenting adalah masa kini." Pria itu memandang wajah putri semata wayangnya dengan tatapan serius. "Namun, saat kau sudah berada di tahtamu, kau akan menyadari jika sebuah kerajaan berdiri di atas sejarahnya. Wonderland yang ada sekarang karena ada karena sejarah yang pernah terjadi."

Anna kurang menyukai sesi ceramah ini. Lebih karena dia tahu ayahnya juga bukan tipe yang senang bicara panjang (satu-satunya alasan mengapa dia melakukannya mungkin karena Ratu berdiri di belakangnya). Jadi gadis itu hanya mengangguk dan berkata, "Aku akan lebih berhati-hati setelah ini."

"Bagus. Sekarang beristirahatlah, sudah larut."

Raja sudah hendak beranjak saat tanpa sadar Anna memotong, "Ayah," panggilnya. Segera menyesali tindakannya di saat itu juga. Mencengkram gaun biru mudanya kuat-kuat saat dia memaksakan diri mengatakan hal berikutnya yang terpikirkan. "Mengapa Ayah tak membiarkanku mencoba mencari tahu di mana lokasi penyerang Ibu?"

Mikoto membeku di tempatnya. Menoleh pada Anna yang memandangnya dengan sorot—yang anehnya—terlihat begitu yakin dan penuh percaya diri. Mikoto menggeleng pelan. "Aku tak bisa melakukannya." Sebelum Anna sempat memberi bantahan apapun, Mikoto melanjutkan, "Karena itu permintaan ibumu."

Anna memandang pada Ratu Hati yang berdiri menjulang di atasnya. Dari sela-sela cadar tebalnya, Anna bisa melihat mata yang menatapnya serius, dingin dan penuh peringatan—dan bukan untuk pertama kalinya, dia merasakan panas dari aura ayahnya menghilang seketika.

.

...*...

.

Untuk waktu yang sudah sangat lama, ini kali pertama Anna kembali menyelinap di tengah kegelapan malam istana. Menggunakan piyama hitam dan tudung untuk menyamarkan rambutnya yang mencolok. Tanpa alas sepatu, Anna berjalan berjinjit tanpa suara di sepanjang lorong, menghindari prajurit yang berjaga dan berkeliling setiap beberapa menit sekali.

Mungkin hanya perasaannya saja, namun penyelinapannya kali ini terasa lebih berat dibandingkan terakhir kali dia melakukannya. Bertahun-tahun lalu, saat tidur sendiri di kamar luas terasa menakutkan, Anna sering menyelinap dan pergi ke kamar ibunya. Jika dia mengingatnya sekarang, dia merasa dirinya di masa kecil begitu lucu. Ketakutan akan kamarnya sendiri dan lebih berani menjelajahi lorong-lorong panjang dengan patung-patung mengerikan seorang diri.

Pertahanan diperketat sejak semalam, tak ingin kecolongan hingga korban berikutnya jatuh. Jumlah prajurit hati yang berjaga di malam hari dilpat-empatkan. Tidak hanya di ruang-ruang penting, ruang-ruang kosong pun ikut diperiksa sebagai bentuk proteksi tambahan. Dan penjaga berjalan berputar-putar di sepanjang istana. Melewati lorong-lorong kosong dan taman yang maha luas. Tempat manapun yang bisa digunakan oleh seorang pembunuh untuk bersembunyi digeledah—dan tak mendapatkan hasil apapun.

Anna menyelinap melewati deretan baju besi yang berkilau ganjil di malam hari dan bersembunyi di balik permadani hiasan di dinding saat dua orang pengawal keriting lewat. Obor api yang menari di sepanjang lorong dipadamkannya tanpa harus menyentuhnya saat dia lewat, kembalidihidupkan saat dia berlalu.

Di lorong yang ditujunya, Anna merasa putus asa. Tidak yakin dia bisa melewati selusin Prajurit Hati yang berjaga kaku di sepanjang lorong. Anna meringkukkan badannya kecil-kecil dan bersembunyi di balik sebuah vas saat mendengar suara langkah menuju ke arahnya. Berdoa semoga dia tak terlihat dan tertangkap—atau lebih buruk, dikira sang penyerang.

"Putri Anna?"

Sapaan bernada ramah dan geli itu terdengar. Anna mendongakkan kepala mendapati Misaki—salah satu Prajurit Hati favoritnya—membungkuk di atasnya sembari tersenyum ramah. Mengulurkan tangan dan membantu Anna berdiri. "Khawatir untuk tidur sendirian malam ini?"

"Tidak," Anna membantahnya dengan suara lirih. Lega karena dia bertemu dengan Misaki, bukan yang lainnya. Sedikit kesal karena prajurit hati itu masih menganggapnya sama anak-anaknya dengan dia empat tahun lalu. "Aku hanya ingin bertemu Ibu."

"Wajar juga kalau kau takut. Peristiwa semalam memang cukup mengerikan," Misaki berkata, setengah mengabaikan bantahan dari sang putri kecil. Tiba-tiba ekspresi aang prajurit berubah serius, tampak memikirkan sesuatu. "Tunggu dulu, bagaimana kau bisa keluar dari kamarmu, Tuan Putri? Bukankah kamarmu juga dijaga sama ketatnya?"

Anna menggigit bibirnya. Dia tahu, menyembunyikan rahasia adalah hal yang mustahil dilakukannya untuk saat ini. Memandang Misaki, Anna berbisik, "Lorong rahasia."

.

...*...

.

Saat pintu sekunder yang menuju kamar pelayan pribadinya diketuk, Reishi sudah meraba pedang yang diselipkannya di kepala ranjang.

Suara dingin Seri berkata dari balik pintu. "Permisi, Yang Mulia. Saya mengantar Putri Anna datang berkunjung."

Reishi hendak bertanya, namun mengurungkan niat dan berkata, "Masuk."

Pintu yang ukurannya lebih kecil dari pintu utama dibuka. Reishi melihat wajah Anna yang mengintip malu-malu di balik gaun tidur Seri, tampak seperti seorang anak yang menunggu untuk dimarahi.

Reishi mengerutkan alisnya. "Apa kau merasa ketakutan untuk tidur sendiri, Anna?"

"Apakah ini tindakan yang tidak pantas bagi seorang putri?" gadis kecil itu menjawabnya dengan sebuah pertanyaan. Melangkah perlahan mendekati pria yang sedang setengah berbaring di atas ranjang. Mengamati dari tubuh bagian atas yang telanjang, perban yang melingkar di lengan Reishi terlihat jelas. "Apakah masih terasa sakit?" tanyanya.

Reishi mengangguk pada Seri, dan pelayan wanita itu masuk kembali ke ruangannya setelah memberi hormat. Reishi memanggil Anna dengan tangannya, menyuruh gadis itu mendekatinya. "Naiklah ke ranjang sebelum kakimu membeku."

"Tapi kakiku kotor, aku berjalan di lorong tanpa menggunakan alas kaki. Dan bajuku penuh debu, juga sarang laba-laba."

"Untuk malam ini, tak masalah. Kau punya pertanyaan—dan tidak memberikan jawaban adalah hal yang tak pantas."

Anna melakukannya, naiik ke atas ranjang dan tidur bergelung di samping Reishi yang tengah mengenakan jubah tidurnya untuk menutupi tubuh bagian atasnya. Mengamati dengan seksama saat perban putih di lengan menghilang tertelan kain sutra. Sadar jika Reishi tak ingin membicarakan lukanya saat ini, Anna mengulang pertanyaan pertama. "Apakah tidak apa-apa aku tidur di sini malam ini?"

"Jika kau ingin tidur denganku, lakukan sekarang. Dalam satu atau dua tahun, ayahmu tidak akan memaafkanmu jika kau melakukannya." Reishi menegakkan tubuhnya, memandang Anna yang dengan sangat perlahan menyingkirkan selimutnya. "Kau tidak perlu menggunakannya jika kau tak mau. Tubuhmu hangat—seperti ayahmu."

"Dan tubuhmu dingin." Anna menyentuhkan tangannya pada tangan besar Reishi, masih saja terkejut saat merasakan betapa jauhnya beda suhu di antara keduanya. Anna bergelung mendekat, merasakan sejuk yang biasanya hanya dia rasakan di musim dingin. "Kurasa itu salah satu alasan mengapa Ayah sangat menyukaimu, Reishi."

"Kurasa juga begitu."

Anna teringat masa-masa saat dia sering melakukan hal seperti ini di masa muda. Meringkuk di samping tubuh Reishi sambil mengobrolkan apapun yang dapat diobrolkan. Saat itu Anna masih bodoh—masih belum mengetahui banyak hal. Dia tak bisa membedakan laki-laki dan perempuan. Dia tak tahu dari mana bayi berasal. Dia tak tahu jika dua orang laki-laki tidak bisa memiliki anak. Dia tak tahu jika dia bukanlah anak dari Mikoto dan Reishi.

Anna adalah putri dari seorang Prajurit Hati yang meninggal di medan perang. Ibu kandungnya yang begitu merasa kehilangan mencoba bunuh diri berkali-kali saat Anna masih dalam kandungan. Begitu Anna dilahirkan dan ibunya meninggal dalam proses persalinan itu, Mikoto segera mengangkat Anna sebagai putrinya dan membalutnya dengan Api Hati. Anna diakui sebagai putri kandung Ratu Hati—dan selama bertahun-tahun percaya jika separuh darahnya adalah darah Reishi.

Dulu dengan lancarnya Anna bisa menyebut Reishi sebagai 'Ibu'. Memeluk dan bermanja-manja padanya selayaknya anak pada orangtuanya. Namun, begitu mengetahui kebenarannya, keintiman itu terasa memudar.

Putri kecil itu merasa lebih dekat pada Mikoto untuk saat ini. Selain karena Mikoto lebih mudah mentolerir kesalahan, mungkin juga karena Sang Raja lah orang yang memberikannya sihir api yang begitu luar biasa ini pada Anna.

"Apa yang ingin kau tanyakan, Anna?"

Tersentak, Anna mendongak memandang Reishi yang duduk di sampingnya. Gadis itu melupakan tujuannya datang ke tempat ini dan nyaris tertidur begitu saja. Dia ingin menanyakan perihal penyerangan dan sidang, namun sepertinya Reishi tak ingin membahas tentang itu. Tanpa sempat berpikir panjang, dia berkata, "Apa benar kau menanyakan perkembangan pelajaranku tiap hari pada Shiro?"

"Apa?" Yang tidak Anna duga adalah reaksi Reishi. Pria itu menaikkan kacamata yang dikenakannya. Gestur yang ditampilkannya saat dia tak tahu harus melakukan apa. "Kupikir itu adalah hal yang wajar untukku lakukan. Bagaimanapun juga, kau adalah pewaris tahta Wonderland. Memonitor pendidikanmu adala kewajibanku."

"Aku senang," Anna berkata. "Kupikir kau tidak peduli..."

"Tidak ada orangtua yang tidak peduli pada anaknya."

"Aku bukan putrimu. Kita—bisa dikatakan—adalah orang asing."

"Aku tidak akan membiarkan orang asing masuk ke kamarku di tengah malam buta dan berbaring di sisiku di ranjang. Kau putriku."

Suara Reishi terdengar lamat-lamat dalam kesadaran Anna yang semakin menghilang. Gadis kecil itu menguap sekali saat kantuk menggelapkan pandangan matanya, bergumam tanpa sadar jika dia bergumam, "Kalau kau menganggapku sebagai putrimu, mengapa kau tidak membiarkanku membantumu, Ibu?"

.

...*...

.

Di antara lorong-lorong panjang istana yang berdebu, tempat sarang laba-laba menumpuk hingga setebal karpet dan tikus-tikus menjadi rajanya, seseorang melangkah.

Tiap langkahnya mengepulkan debu yang bergulung, menempel pada jubah cokelat kumal yang dikenakannya. Namun, seseorang itu tak peduli. Dengan dendang sederhana, dia terus menyusuri lorong sempit tanpa penerangan tersebut.

Dan semua,

semua yang kau miliki,

semua hanya fana semu.

Kecuali lagu ini,

lagu yang kunyanyikan padamu ini.

Dan usia yang tak mengikuti detak waktu.

Karena hanya aku dan lagu ini.

Hanya kami yang abadi.

Suara yang jernih itu, yang seharusnya mampu mendapatkan tempat utama dalam paduan suara kerajaan, hanya menjadi penakut para tikus. Seseorang itu terus bernyanyi, langkah kakinya mengikuti alunan melodi, dan debu yang mengepul menjadi iring-iringan semu.

Sosok berjubah itu tiba-tiba menghentikan langkahnya. Tari dan nyanyinya terhenti seketika. Napasnya tersenggal dan dia memegangi dadanya. Satu tangan diletakkan di tembok batu berlapiskan debu, sosok itu mengerang kesakitan. Kakinya gemetar dan rancauan bersuara berat keluar dari bibirnya.

"Sedikit lagi... tahan sedikit lagi... dan semua akan jadi milikku... milikku!"

Pria itu mendongakkan kepalanya, tertawa terpingkal-pingkal seperti orang gila. Tudung jubahnya tersingkap, menampilkan rambut perak panjang yang kilaunya suram. Serta sebuah topeng rubah berwarna putih dengan hiasan garis-garis merah. Sosok itu tertawa terpingkal-pingkal hingga dia membungkuk dan terjatuh di lantai.

Tiba-tiba saja, tawa yang menggelegar itu digantikan oleh isak tangis yang kuat. Sosok bertopeng itu menutup wajah topengnya dengan kedua tangan. Menangis tersedu-sedu seperti anak kecil yang dibuang ibunya. Seluruh tubuhnya gemetar, sosok itu menempelkan tubuhnya di dinding, berusaha membuatnya terlihat sekecil mungkin.

"Apakah... orang itu mati? Apakah... aku sudah membunuh seseorang?" tanyanya dengan suara lirih. Mengerutkan tubuhnya sekecil mungkin sembari terisak. "Aku sudah membunuh orang... aku berdosa... tanganku berlumuran darah dan begitu hina..."

Sosok itu berdiri dengan kecepatan yang ganjil. Tubuhnya terlihat penuh dengan tekat dan keberanian. "Lalu memangnya kenapa?" dia balas bertanya pada dirinya sendiri. "Orang itu tak berarti bagiku. Dia hanyalah orang asing yang berusaha menghalangi usahaku. Kematian adalah hal yang pantas baginya. Aku telah berbaik hati memberikan kematian yang cepat tanpa ada penyesalan baginya—itu sudah lebih dari pantas untuk sebuah kebaikan hati."

Orang itu terdiam sejenak. Hanya diam dan memandang lurus lorong di hadapannya. Bahunya melorot dan tangannya terkulai lemas di sisi-sisi tubuh. Seekor tikus lewat di hadapannya seolah pria itu bukanlah suatu ancaman.

"Aku ini... siapa?" bisiknya pelan.

"Aku adalah raja. Raja yang sejati!" dia kembali menjawab pertanyaannya sendiri. Kedua tangan diletakkan di pinggang. Tertawa keras sambil mendongak. "Aku adalah Raja Wonderland yang sesungguhnya! Raja yang akan mengubah Wonderland yang bodoh ini! Akulah raja baru yang akan menguasai dunia!"

Dia terkikik pelan, "Dan untuk itu, aku harus menyingkirkan keluarga kerajaan." Kedua tangan digosokkan dengan tidak sabar. "Yang pertama adalah wanita itu—tidak, pria itu—yang menyebut dirinya sebagai Ratu Hati."

Sosok itu kembali meneruskan langkahnya. Berdendang dengan suara seindah burung bul-bul dan menari dengan langkah selembut penari balet kerajaan. Tikus-tikus kembali bersembunyi di liangnya, dan debu yang bergulung-gulung kembali menjadi satu-satunya yang memberi apresiasi. Sosok itu pun berlalu.

Dari dalam lorong gelap tanpa cahaya, terdengar senandung lembut...

Dan semua,

semua yang kau miliki,

semua hanya fana semu.

Kecuali lagu ini,

lagu yang kunyanyikan padamu ini.

Dan usia yang tak mengikuti detak waktu.

Karena hanya aku dan lagu ini.

Hanya kami yang abadi.

.

...*...

.

Mikoto Suoh, dengan piyama hitam bersulam emas dan jubah tidur berwarna merah menyala, duduk di atas tahtanya.

Rambutnya yang biasanya tegak berdiri bagaikan mahkota api kini turun dan menutupi dahinya. Pandangan matanya mnenyorot dengan marah pada prajurit yang berlutut di hadapannya dengan wajah tertunduk.

"Lorong rahasia? Di istanaku?" pria itu bertanya dengan suara yang menggelegar. "Tidak, Misaki Yata. Tidak. Aku lebih mempercayai jika Anna berhasil membuat para penjaga itu tertidur sejenak dengan sihirnya atau dia memang berbakat menyelinap seperti seekor tikus di dapur. Tapi tidak dengan lorong rahasia."

Misaki tidak mengendurkan sikapnya atau gemetar ketakutan. "Para penjaga yang berada di depan kamar Tuan Putri bersumpah mereka tidak melihat Putri Anna keluar. Mereka juga berani memotong lidahnya sendiri jika mereka ternyata lena dan dapat dilumpuhkan dengan sihir."

Mikoto mengangguk pelan. Dia yang melatih para prajurit hati dengan tangannya sendiri. Menjadikan mereka elit di antara para elit. Pasukan terkuat yang tak terkalahkan. Mereka terbiasa menghadapi sihir tingkat tinggi, baik di arena latihan ataupun tidak. Sihir main-main seorang putri kecil yang belum mahir tidak mungkin menjatuhkan mereka dengan begitu mudahnya.

"Lagipula," Misaki melanjutkan dengan nada sedikit cemas. Membungkuk semakin dalam hingga dia terlihat seperti gumpalan kain dan rambut di atas lantai. "Sebelumnya, maafkan saya untuk kelancangan yang telah saya perbuat, Yang Mulia. Saya melanggar segala etika dan tata krama yang telah diajarkan pada saya sejak kecil untuk melakukan hal ini—namun yakinlah, satu-satunya alasan saya melakukannya adalah demi Putri Anna dan Wonderland."

"Kau masuk ke kamar putriku tanpa izinku?" Mikoto bertanya. Biasanya hal semacam itu akan berharga kobaran api, namun Misaki adalah salah satu orang kepercayaannya.

"Saya merasa saya harus membuktikan pernyataan Putri Anna sebelum melapor pada Anda, Yang Mulia." Misaki sedikit mengangkat kepalanya, dan matanya bersinar penuh kepercayaan diri dan kepuasan. "Dan saya menemukannya. Tepat berada di sisi perapian dengan kunci pembuka simbol wajik yang menjadi dekorasi. Putar searah jarum jam sejauh 180 derajat, dan perapian akan tergeser ke kanan selama tiga puluh detik."

Mikoto terlihat tidak percaya mendengar kata-kata sang prajurit. "Dan apa kau sudah melakukan penyusuran di lorong rahasia itu?"

"Itu adalah kewenangan Baginda Raja. Namun saya secara khusus sudah meminta agar jalan akhir lorong rahasia yang dikatakan Putri Anna untuk diamankan." Misaki berkata sambil menegakkan kepalanya. Bangkit dari posisi berlutut dan mundur beberapa langkah sambil memberi hormat. "Untuk tindakan lebih lanjut, kami meminta izin dari Yang Mulia."

Mikoto terdiam mendengarnya. Saat dia masih kecil, dia memang sempat mendengar beberapa pelayan berkisah tentang lorong-lorong rahasia yang dibangun oleh Raja Pertama di istana. Namun, seberapa keras pun dia mencarinya, Mikoto tak pernah menemukan salah satu pintu masuknya. Bertanya pada ayah dan ibunya pun, dia harus puas mendapat jawaban jika itu hanyalah mitos belaka—seperti mitos Raja Pertama yang masih hidup hingga saat ini meski sepuluh ribu tahun telah berlalu sejak hari kehilangannya. Dan pada akhirnya, dia menyerah.

Kini, setelah mimpi masa anak-anaknya terkubur dan terlupakan, Mikoto justru mendapati mimpi itu menjadi kenyataan—dengan cara yang mengerikan. Lorong-lorong yang dulu diimajinasikannya sebagai tempat bermain petak umpet yang sempurna dengan anak-anak pelayan kini mungkin saja menjadi tempat seorang pembunuh bersembunyi.

Sang Raja menarik napas panjang. "Lakukan penjelajahan. Dan aku yang akan memimpinnya."

"Siap, Yang Mulia."

.

...TBC...

.

A/N:

Terima kasih sudah membaca ^^

Hingga chapter 2 ini, kurasa plotnya sudah sangat terbaca ya? Aku sangat menikmati proses menulis kisah ini, terasa begitu tenang dan mengalir. Di sisi lain, aku agak kesulitan soal deskripsi juga. Kurasa masih butuh banyak latihan untuk menulis kisah fantasi ^^

Mungkin itu saja yang bisa kusampaikan, mohon kritik dan sarannya ^^

Yogyakarta, 25 Agustus 2017