Disclaimer:

Chara is their own, but this story is mine! Don't copy anywhere

Cast :

Park Chan Yeol

Byun Baek Hyun

Sub Cast:

Zhang Yi Xing, Kim Jong Dae, Park Xiu Min (ganti marga), Kim Jun Myeon, and other

Genre:

Action, Romance, Marriage Life, Scie-Fie

Author :

Ririn Cross


Chapter 1

Black Rose


Baek Hyun mendesah frustasi ketika melirik jam dinding yang hampir menunjuk pukul sepuluh, lebih tepatnya kurang setengah jam dari waktu yang diharapkan. Saat ini pria berambut hitam yang tengah gelisah itu telah siap dengan jas yang pas di tubuhnya, bunga tersemat di dada, dan dia terlihat tampan sekaligus manis saat itu. Sayangnya, senyum yang seharusnya terpatri di wajahnya tak juga mengembang, justru ekspresi khawatir tergambar jelas. Sedaritadi ia berjalan kesana kemari sambil menggigiti kuku jemari lentiknya tak tenang.

"Baek Hyun-ah, berhenti mondar-mandir seperti itu. Kau seperti setrika berjalan," tegur Xiu Min, pria berpipi chubby bermata sipit itu terlihat mendecak, mengingat calon adik iparnya yang tak bisa tenang di moment sepenting ini.

"Bagaimana aku bisa tenang hyung, acara setengah jam lagi dimulai dan Chan Yeol, belum terlihat sama sekali." Baek Hyun menghempaskan diri di sofa coklat yang nyaman itu. Ia kesal, kemarahannya berada di ubun-ubun kali ini. 'Rasanya aku ingin lepas dari situasi menyedihkan ini,' rutuk Baek Hyun dalam hati. Ia tidak ingin Xiu Min membaca pikirannya untuk kabur dari pernikahan ini jika Chan Yeol benar-benar tidak datang.

"Sebentar, akan ku telepon." Zhang Yi Xing, sahabat Baek Hyun berdiri tepat di samping Xiu Min terlihat mengecek ponsel touch screennya lantas mendial nomor yang ingin dituju.

Baek Hyun hanya mengangguk lemah. Sudah berpuluh kali tadi melakukan hal yang sama seperti Yi Xing, tapi tidak ada balasan yang diharapkan, dan Baek Hyun rasa hal yang sama pun akan terulang.

Xiu Min mencoba memutar otaknya. Ia sebenarnya sedih melihat calon adik iparnya terlihat sangat frustasi, apakah memang benar ini keputusan yang tepat untuk membiarkan hubungan adiknya dengan Baek Hyun ke jenjang yang lebih tinggi? Sementara, pria bermarga Park itu bahkan masih belum menyadari sifat kekanakannya. Bisa terlihat bukan dari terlambatnya datang ke pernikahannya sendiri? "Jika dalam 15 menit lagi dia belum datang, lebih baik batalkan saja."

Yi Xing yang sejak tadi berusaha menghubungi Chan Yeol tampak menautkan alis dengan kalimat yang dilontarkan Xiu Min. Jun Myeon dan Jong Dae yang berada di sisi ruangan lain yang sejak tadi terlihat sibuk dengan rundown acara di tangannya segera menegakkan wajahnya mendengar kalimat Xiu Min.

Hening. Kelima orang di dalam ruangan itu tak bersuara.

"Jangan bercanda." Jong Dae sahabat seperjuangan Baek Hyun selama di akademi sekaligus partner kerjanya di kantor itu menyipitkan matanya, kalimatnya memecah kesunyian sesaat yang tercipta. Ia segera berdiri menghampiri Xiu Min.

"Aku tidak bercanda." Xiu Min kukuh dengan niatnya. Dia mungkin sudah jengah. Kesalahan dan keterlambatan baginya yang seorang dokter tampaknya adalah sebuah bencana. Bisa saja seorang nyawa melayang bukan jika terjadi kelalaian? Apalagi sekarang yang membuat ulah itu adik kandungnya sendiri. Ia tak segan untuk menghukumnya.

"Tenang, hyung. Aku yakin ia akan datang sebentar lagi." Jun Myeon lantas melipat kertasnya. Pria yang merupakan kakak kelas Chan Yeol setingkat lebih tua darinya saat masih SMA, mantan ketua OSIS, dan sejak awal mereka telah menjadi akrab seperti hyung dan dongsaeng itu terlihat tidak percaya. Tidak mungkin pernikahan ini batal. Lalu apa gunanya ia ada di sini mempelajari susunan acara untuk menjadi MC?

"Akan kupertimbangkan," sahut pria mungil itu tiba-tiba. Baek Hyun mungkin gila, tapi lebih gila lagi jika ia meneruskan semuanya di kala ia mulai ragu, apakah Chan Yeol benar-benar mencintainya?

"Kau bicara apa?"

Seseorang tampak berlari dengan nafas terengah-engah saat itu. Surai hitam kemerahannya terlihat acak-acakan.

"Chan Yeol!" Semua memekik tertahan. Objek yang sejak tadi mereka bicarakan kini muncul dihadapan mereka dengan penampilan yang berantakan. Baek Hyun membulatkan matanya, sementara yang lain terlihat bernafas lega.

Sebenarnya lelaki itu cukup menyedihkan sekarang. Ia bahkan belum mengenakan apapun yang seharusnya dipakai sebagai baju pengantin selain kemeja putih dan celana hitam yang sudah tidak teratur dan tampak lusuh.

Chan Yeol lantas menatap Baek Hyun yang masih memberikan pandangan tidak percaya padanya. Ia berjalan perlahan menuju Baek Hyun, menggenggam tangan pria mungil itu lantas berlutut. "Aku terlambat karena mengambil ini."

Chan Yeol membuka telapak tangannya, dan sepasang benda mengkilap itu bersinar dengan indah. Cincin pernikahan mereka.

"Ia hampir membuatnya terlindas truk saking senangnya memandang cincin itu." Sambung Leeteuk, sang manajer yang tampak bersedekap di depan pintu. Perlu diketahui, profesi Chan Yeol adalah seorang aktor ternama. Namanya sering muncul di majalah maupun surat kabar, terlebih layar kaca, drama-drama yang ia perankan pun sudah meraih banyak penghargaan.

"Itu karena aku tidak tahu truk itu akan lewat di samping mobil kita, hyung. Lagipula mengapa kau memarkir mobil sembarangan di jalan raya!" Chan Yeol protes.

"Bukankah setiap aku menjemputmu seperti itu, kau saja yang tidak fokus." Leeteuk mendecak. "Untung saja cincin itu jatuh ke selokan kering, jika ada air, aku tidak tahu bagaimana nasib pernikahan kalian nanti." Leeteuk hanya menggelengkan kepala. Kejadian konyol itu memang benar-benar terjadi beberapa waktu lalu.

"Jangan cerewet, hyung." Chan Yeol mendesis. Kini Baek Hyun tahu mengapa penampilan Chan Yeol seberantakan ini. Sepertinya Tuan Park mengambil cincin dengan penuh perjuangan di dasar selokan.

"Dasar ceroboh." Baek Hyun mendengus, namun sedetik kemudian senyumnya terkembang.

Chan Yeol seketika bernafas lega, ia hendak memeluk kekasihnya yang sebentar lagi resmi menjadi pendampingnya itu namun sayang, ia segera diseret oleh Xiu Min.

"Kau belum mengganti bajumu, bodoh. Jangan dekat-dekat Baek Hyun sebelum kau tampil sempurna." Mulut pedas Xiu Min kembali mengoceh. Ia menyeret si pria jangkung diiringi decakan tak mengerti dari Jun Myeon, Yi Xing, dan Jong Dae yang memperhatikan. Pria bernama Park Chan Yeol itu nampak pasrah diseret dengan tidak elitnya ke kamar ganti oleh sang kakak. Yeah, Xiu Min tak ingin membuang-buang waktu dengan acara yang hampir rusak karena si idiot Park ini.

Baek Hyun, ia tersenyum geli melihat kedekatan Xiu Min dengan Chan Yeol.

"Mereka terlihat akrab." Leeteuk terkekeh. Baek Hyun menggangguk seraya tersenyum.


~XXX~

Acara mulai berlangsung dengan khidmat. Kedua mempelai sudah berdiri di depan altar mulai mengucap janji suci yang sejak tadi telah ditunggu-tunggu. Tidak terlalu ramai, hanya kerabat terdekat yang diundang di gereja kecil pelosok ini. Bahkan jumlahnya tak genap 10 orang. Alasan klasik tentu saja, karena pernikahan ini tersembunyi agar tidak banyak media yang meliput mengingat profesi Chan Yeol sebagai seorang selebritis. Yeah, profesi Baek Hyun juga menuntut hal yang sama.

Pendeta mulai meletakkan tangannya di depan alkitab sambil mengamati dua mempelai pria yang kini berdiri di hadapannya, satunya lebih jangkung, di sisinya lebih pendek. Mereka usianya sebaya hanya saja si pria jangkung –Park Chan Yeol– lebih muda 6 bulan daripada pria pendek itu, Byun Baek Hyun.

Keadaan mulai tegang. Xiu Min terlihat duduk di sebelah Jong Dae yang tampak gembira menatap altar. Jun Myeon dari kursi MC-nya juga tak berkedip menatap dua pasangan yang terlihat serasi itu. Hanya kerabat dari Baek Hyun yang tidak terlihat, ia hanya membawa dua rekannya Kim Jong Dae dan Zhan Yi Xing. Orangtua Baek Hyun sendiri telah meninggal sehingga Baek Hyun tidak punya siapapun selain mereka. Sedangkan Park Jung Soo alias Leeteuk adalah kakak sepupu Chan Yeol yang merangkap menjadi sang manajer 'spesial', dan ada Kim Jong In yang duduk di sisi belakang gereja. Ia adalah rekan Chan Yeol, sekaligus sahabat seperjuangan yang sama-sama telah mempunyai nama di dunia hiburan. Orangtua Chan Yeol nampak duduk manis di barisan paling depan melihat prosesi pernikahan ini. Ibu Chan Yeol bahkan sampai meneteskan air mata bahagia atas pernikahan anaknya dengan orang yang dia cintai, lalu Zhang Yi Xing yang merangkap sebagai wali nikah Baek Hyun tampak duduk di sebelah orangtua Chan Yeol.

Sang pendeta memulai membacakan janji untuk para mempelai. Dimulai dari Chan Yeol.

"Park Chan Yeol, apakah kau bersedia menerima Byun Baek Hyun sebagai suami Anda? Mencintainya, mengasihinya, dan menyanyanginya dalam sakit maupun sehat, dalam kaya ataupun miskin dan akan terus berada di sisinya sampai maut memisahkan kalian?"

Chan Yeol menghela nafas dalam. Ia terlihat gugup, namun ia mempunyai tekad ini tujuan hidupnya. "Saya bersedia menerima Byun Baek Hyun sebagai suami saya. Mencintainya, mengasihinya, dan menyanyanginya dalam sakit maupun sehat, dalam kaya ataupun miskin dan akan terus berada di sisinya sampai maut memisahkan kami." Dengan lantang Chan Yeol mengucapkan ikrar janji itu. Tentu saja karena ia yakin Baek Hyun hanya miliknya.

Senyum terpatri di wajah Baek Hyun ketika mendengar Chan Yeol menyerukan janji suci itu. Benar-benar melegakan. Namun, giliran dia sekarang yang tampak gugup karena pendeta kini menatapnya.

"Byun Baek Hyun, apakah kau bersedia menerima Park Chan Yeol sebagai suami Anda? Mencintainya, mengasihinya, dan menyanyanginya dalam sakit maupun sehat, dalam kaya ataupun miskin dan akan terus berada di sisinya sampai maut memisahkan kalian?" Kalimat yang sama dengan yang ditanyakan kepada Chan Yeol dan tentu saja Baek Hyun akan menjawab dengan tak kalah tegas.

"Saya bersedia menerima Park Chan Yeol sebagai suami saya. Mencintainya, mengasihinya, dan menyanyanginya dalam sakit maupun sehat, dalam kaya ataupun miskin dan akan terus berada di sisinya sampai maut memisahkan kami." Baek Hyun berseru, dan senyuman menghiasi wajah Chan Yeol saat itu juga. Pemuda jangkung itu tak ayal segera menggenggam tangan mungil Baek Hyun membuatnya tersentak dan menatap suaminya yang jangkung.

Kini pendeta yang baru saja melayangkan pandangan pada mempelai langsung mengalihkan pandangan kepada para hadirin sebagai saksi. "Keluarga dan sahabat terkasih, yang telah berkumpul dalam tempat yang indah ini untuk tujuan dari sebuah upacara yang suci dari ikatan pernikahan, apakah Anda dengan tulus bersedia memberikan Byun Baek Hyun kepada Park Chan Yeol dalam kunci pernikahan?"

"Bersedia!" Dengan lantang seluruh kerabat yang ada di sana menyerukannya.

"Aku resmikan kalian berdua menjadi sepasang suami istri. Silahkan bertukar cincin."

Seorang gadis kecil pembawa cincin memberikannya kepada Chan Yeol. Kini mereka berdua berhadap-hadapan. Chan Yeol segera melingkarkan cincin itu di jari lentik Baek Hyun yang telah siap. Baek Hyun menatap Chan Yeol dengan senyuman indahnya. Giliran ia mulai menyematkan cincin di jari manis Chan Yeol.

"Sekarang, silahkan kalian berciuman." Pendeta melanjutkan. Suasana gereja menjadi riuh, tentu saja ini moment yang sangat ditunggu-tunggu!

"Yeah! Kau harus melakukan dengan baik, man!" Jong In berteriak, dan Chan Yeol mendengarnya. Pemuda jangkung itu bersumpah akan menyumpal mulut berisik Jong In setelah acara usai nanti. Sekarang ia harus menyelesaikan ini dan. Chan Yeol gugup menatap mata onyx Baek Hyun yang kini juga menatap lekat hazel miliknya. Sangat indah.

Chan Yeol seraya mendekatkan wajahnya, sedikit menunduk untuk meraih bibir mungil Baek Hyun yang siap menerima ciumannya. Namun, sayang sekali.

DUARRRR

Suara ledakan itu membuat setiap orang yang ada di sana terkejut. Yi Xing dan Jong Dae langsung tanggap dan memeriksa keadaan.

"Tetap di sini! Jangan ada yang keluar!" seru Yi Xing. Semua orang di dalam ruangan itu tampak panik, kecuali Jong In yang terlihat santai, dan sang mempelai pria yang berdiri mematung karena Baek Hyun saat itu segera berlari menuruni altar mengikuti dua rekannya.

Suara ledakan berasal dari arah depan gereja. Asap masih mengepul di sana setelah Jong Dae membuka area itu. Mereka bertiga keluar dan menutup pintunya lagi.

Jong Dae segera menyisir tempat itu dan menemukan beberapa serpihan bubuk mesiu. "Bom kertas," desisnya setelah mencium bau potassium yang tak asing baginya. "Volumenya kecil, sehingga ini tidak terlalu berbahaya. Hanya menjangkau radius 3 meter."

"Tapi tujuannya apa?" Yi Xing menimbang-nimbang, mungkinkah untuk menarik perhatian?

Baek Hyun terdiam. Segala pikirannya berkecamuk di dalam benak namja mungil itu. Pandangannya kemudian terpancang pada sebuah kotak kecil berwarna merah di sudut kanan pintu masuk. Bukan kotak itu yang menarik perhatiannya, namun jelas yang membuat nafasnya terhenti adalah setangkai mawar hitam di atasnya.

"Sial!" umpatnya.


-To Be Continue-


Ini chapter pertama~

BIG Thanks to : AnitaLee, Guest1, meliarisky7, fafifufefoo, PrincePink, followbaek, Guest2, Guest3, bvocalight

Kalau responnya baik akan segera dilanjutkan. Please don't be a silent reader, author sangat menghargai komentmu seperti apapun untuk semangat.

Mind to review?